Author Note: yaaaaay~ update! Hehehehehehe! Man! It's been a long time since I updated this story =x=" enjoy!
Troublesome Family
Chapter 14
Hari ini, Roxas juga tidak masuk. Apakah luka yang Riku berikan sangat parah sehingga dia masuk rumah sakit? Hum, jika iya, dimana ya dia dirawat? Apakah aku bisa menjenguknya?
Aku menabrak seseorang ketika berjalan sambil melamun...
"Ouch, maaf...," kataku sambil memegangi mukaku yang membentur tubuhnya dengan keras.
"Geez, kau ini aneh. Sudah berkali-kali kau kupanggil dan kau tidak sadar hingga menabrakku?" Tanya seorang pemuda berambut merah spike dengan mata emerald, terdapat dua tato seperti air mata di bawah ke dua matanya.
"Sorry, Axel," kataku meminta maaf sekali lagi.
Dia adalah Axel, seniorku, yang pernah kukalahkan sekali dalam pertandingan karate di sekolah.
"Sora, mengapa kau tidak pernah ikut karate lagi?" Tanya Axel dengan senyum sinis. "Jangan bilang kau takut kukalahkan?" Ejeknya.
Aku menghela napas. "Aku malas pergi kesana jika tidak ada Roxas," jelasku sambil menatapnya.
"Speaking of Roxas..." Axel terlihat menghela napas juga. "He was coma," katanya memberitahu.
"He was...what! Kau bercanda, bukan, Axel!" Tanyaku dengan wajah terkejut.
"Aku juga ingin sekali mengatakan bahwa aku sedang bercanda," jawab Axel dengan senyum sedih.
"Dimana...dia dirawat?" Tanyaku dengan wajah sedih.
"Rumah sakit Twilight, di kamar nomor 13. Tidak sembarangan orang dapat mengunjunginya," jawab Axel dengan sedih.
"Bisakah aku mengunjunginya!" Tanyaku sambil memegang seragam Axel. "Kumohon, Axel..." Aku menatap matanya.
"Kau yakin ingin mengunjunginya, Sora?" Tanya Axel dengan heran.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Aku pun ikut heran.
"Because, you are our enemy," jawabnya dengan wajah serius. "Mungkin saja aku menjebakmu saat kau menjenguk Roxas," katanya mengingatkan.
Aku terdiam sejenak. Axel benar, dia juga musuhku. Tapi...
"Jika kau ingin menjebakku, mengapa harus menunggu aku menjenguk Roxas? Bisa saja kau menyerangku di sekolah, justru lebih banyak celah di sekolah, bukan?" Tanyaku heran.
Axel terlihat terkejut, lalu dia tertawa. "Astaga! Kau tidak menanggapi peringatanku dengan serius!" Tanyanya sambil tertawa.
"Aku serius, Axel!" Jawabku dengan kesal karena dikira bercanda. "Habisnya! Pertanyaanmu itu aneh! Jika kau memang ingin membunuhku, seharusnya kau membunuhku dari dulu!"
"Nah..." Dia terlihat tersenyum normal. "Jika ada rekan yang tewas atau pun terluka, kami jarang sekali balas dendam pada yang membunuh atau yang melukai. Ini merupakan resiko dari pekerjaan," jelasnya sambil menghela napas.
"Kau benar," kataku dengan sedih. "Jadi, aku boleh mengunjungi Roxas?"
"Tentu."
Setelah jam sekolah berakhir, Axel mengajakku ke Rumah Sakit Twilight. Sebuah Rumah Sakit cukup besr, bisa dikatakan paling besar ke empat di kota ini. Tetapi ada yang aneh, aku merasa mengenal beberapa orang yang dirawat di Rumah Sakit ini, tapi siapa mereka? Aku tidak ingat...
"Man, pasien di sini semakin banyak saja," kata Axel memecah kesunyian.
"Rasanya aku mengenal beberapa orang yang dirawat di sini," kataku sambil melihat setiap kamar pasien yang kami lewati.
"Wajar kau merasa mengenal mereka, karena sebagian besar pasien yang dirawat disini adalah seorang pembunuh, dan juga satu sekolah dengan kita," jelas Axel dengan suara kecil.
"Wh-!" Aku terkejut bukan main. "Benarkah?"
Axel hanya mengangguk sambil tersenyum sinis. Kami berdua memasuki ruangan ICU, terlihat seorang pemuda blond yang berbaring di atas kasur, memakai masker oksigen dan infus. Aku berjalan mendekatinya dengan ragu-ragu, dia terlihat sangat pucat. Sudah...berapa hari dia tertidur seperti ini? Dua hari? Apakah besok dia akan bangun ataukah tetap tertidur seperti sekarang?
Seandainya saja, Roxas hanyalah orang biasa, mungkin, dia tidak akan terbaring di sini. Dia pasti sedang bermain denganku, bermain skate board di taman dan berlomba dengan pemain lain...
Axel lalu menyentuh kepalaku. "It's okay, he will wake up."
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku dengan nada sedih.
"Dia sudah duabelas kali koma, dan ini merupakan yang ke tigabelas kalinya," jawabnya.
Aku terdiam mendengarnya. Aku mendekati Roxas dan menyentuh tangannya yang pucat. "Roxas, cepatlah sadar. Aku tidak punya teman main skate board selain kamu..."
Roxas hanya terdiam, aku dan Axel menunggu selama beberapa puluh menit, berharap dia sadar. Aku dan Axel berbincang-bincang tentang banyak hal karena tidak ada hal yang yang bisa kami lakukan di dalam sini. Aku mencoba mengorek sedikit informasi tentang Roxas darinya.
Nasib Roxas mirip denganku, yaitu ditelantarkan oleh orang tuanya dan hendak dijual. Bedanya, Roxas membunuh kedua orang tuanya dengan tangannya sendiri.
Axel adalah orang yang menemukan Roxas dan mengajaknya menjadi seorang pembunuh. Roxas memiliki bakat menjadi pembunuh sejak kecil. Dulu, kata Axel, dia sering membunuh anak-anak sebayanya yang mengejeknya.
Satu hal lagi yang sedikit mengejutkan. Ternyata Roxas mempunyai seorang kembaran. Dia seorang perempuan, wajah gadis itu sangat mirip dengan Roxas. Axel mengatakan, kembaran Roxas sangat lemah karena dia penyakitan, sehingga dia tidak pernah keluar rumah untuk bersekolah. Saat ini, kembaran Roxas sangat cemas dengan keadaan Roxas yang koma, dia ingin sekali menjaganya di sini, tapi kondisinya tidak mendukung...
Hari mendekati sore, sudah saatnya aku pulang.
"Bye Axel, bye Roxas," kataku sambil menatap Roxas yang berbaring di kasur.
Begitu kembali ke Mansion, aku langsung menyiapkan makan malam untuk semuanya, setelah itu aku berencana menginap di apartment Leon.
"What are you cooking, chef?" Tanya Riku ketika memasuki dapur.
"Pasta," jawabku sambil mengangkat rebusan pasta. "Oh ya, hari ini, aku akan menginap di rumah Leon!" Kataku dengan senyum.
"Kau sudah menemuinya?" Tanya Riku sambil mencicipi saus pasta yang kubuat, dia sempat berkata 'hm...' Saat mencicipinya.
Kurasa dia sangat kelaparan saat ini? Makanya masuk kedapur...
"Yeah, dia sangat ramah!" Jawabku dengan senyum "Here ya," kataku sambil menyerahkan dua piring pasta pada Riku dan dia mengambilnya. "Kau sedang senggang, kan? Tolong bantu aku bawa pastanya, sementara aku mengambil minuman," kataku sambil mengambil gelas.
Riku membawa pastanya dan kami makan malam bersama. Hari ini, Dad dan yang lainnya pulang lebih malam, jadi makanan mereka kumasukkan dalam lemari es, sehingga tinggal dipanaskan saat mereka hendak makan.
Selesai makan, aku menuju kamarku, mandi dan bersiap-siap untuk menginap. Aku membawa sepasang piyama, baju sekolah, dan tas sekolahku. Ditengah persiapan, Riku datang memasuki kamarku.
"Here," katanya sambil memberikanku sesuatu.
Kuterima benda yang diberikannya, sebuah pistol mini. Aku langsung menatapnya dengan heran.
"Aku lupa memperingatimu, untungnya kau tidak diserang saat mengunjunginya," kata Riku sambil menghela napas. "Saat ini, Leon sedang diincar. Well, bisa dikatakan karena tugas yang Dad berikan padanya. Waspadalah terhadap sniper." Riku terlihat sangat serius.
Aku hanya bisa menatapinya dengan wajah terkejut. Astaga, tidak heran Leon sangat waspada ketika aku menatapinya terlalu lama saat mencoba mengunjunginya. Dia merasa sangat waspada jika ada yang mengawasinya. Semua pembunuh dilatih menajamkan instingnya, agar mereka menyadari seseorang mengawasinya.
Sayangnya, instingku sangat kurang peka, aku merupakan orang yang paling sering ditolong ketika seseorang sedang mengawasiku...
"Sora? Sora? Earth to Sora? Kau masih disana?"
Aku tersadar dari lamunanku saat Riku memanggilku.
"Y-ya?" Jawabku.
"Careful," katanya sambil menciumku dan aku langsung memundurkan badanku karena terkejut. "Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu," katanya dengan sungguh-sungguh.
"O-okay..." Baru pertama kali ini aku melihat Riku berkata dengan sungguh-sungguh, biasanya dia selalu bercanda...
Aku pergi menaiki bus, menuju ke tempat Leon. Pistol kecil pemberian Riku kusimpan di dalam saku jaketku, agar mudah kuraih saat aku diserang.
Aku pun meningkatkan waspada, memperhatikan orang-orang yang ada disekitarku. Tapi, kurasa aku tidak akan diserang sekarang, karena saat ini, jarakku dengan tempat tinggal Leon masih jauh.
Semoga...tidak terjadi apa-apa...
To Be Continued...
Author Note: wew =w=" I am so dilemma... Pingin pair Riku n Sora lagi... Tapi aku juga pingin pair Sora x Sephiroth/Kadaj/Yazoo/Leon/Roxas/Axel/Vanitas(dia masih belum dapat peran )/Cloud(niatnya jadiin Cloud kakak kelas, tapi berubah pikiran melulu, jadi perannya blum kutentukan OxO"). And Loz is out of option! =x="
