Chap 2: That Day When You Found Me
Ini HIMURO POV! Maaf jika pengubahan POV membuat bingung, tapi Sora gak kuat nulis POV Mukkun, susah! Lagipula ceritanya gak akan jalan kalo gak ada POV Himuro. POV Himuro akan menjelaskan segalanya~ Yah, kemarin ada satu review yang mengejutkan. Sora syok bacanya. Jadi, yang ngerasa nulis review itu, jawabannya akan kau temukan di chap ini!
Namaku Himuro Tatsuya, umurku 19 tahun. Tiba-tiba aku mendapat kejadian tak terduga. Entah bagaimana aku terbangun di tempat yang tidak kukenal. Dengan orang yang tak kukenal.
Namanya Atsushi, 19 tahun. Dia tinggal sendirian, suka snak, benci wortel. Bekerja di restoran bernama Kiseki Restaurant. Dia begitu serius memperkenalkan dirinya sampai-sampai aku hafal. Fufu, Atsushi orang baik.
Aku senang sih tinggal dengannya. Dan dia memang orang baik, walaupun terlihat jelas dia takut dan curiga padaku.
Sayang sekali, kalungku hilang, mungkin jatuh. Banyak yang terjadi, mungkin kalungku jatuh saat sedang lari kemarin. Lagipula, aku tidak akan membutuhkan kalung itu lagi.
Toh, aku tak akan kembali.
Atsushi orang yang egois, tapi dia lembut. Dia memang egois, sih, membiarkan orang terluka tidur di sofa. Bukannya aku ingin lebih diperhatikan Atsushi. Lagipula dia pemilik kamar ini, sudahlah. Mana aku sudah sembarangan memakai mantelnya sebagai selimut. Hahaha..
Pagi pagi Atsushi pergi bekerja sampai sore. Pada waktu itu entah kenapa aku mengurus apartemen Atsushi. Yah.. Aku hanya memasak dan mencuci bajunya kok.. Kadang-kadang aku mengepel lantai yang berdebu, menyapu, mengelap kaca. Yah. Bukan 'hanya' namanya. Ini sih aku betulan mengurus rumah… lagipula, kadang aku ingin bertanya kapan terakhir kali Atsushi membersihkan rumahnya.
Ya.. Aku ragu sih dia sempat, atau berniat, membersihkan rumah. Biasanya dia pulang malam, dan langsung tepar di kasur. Kalau sudah begitu, aku membangunkannya dan menyuruhnya makan. Lalu besoknya dia bangun telat, karena aku tidak sanggup membangunkannya (susah tau!) kubiarkan saja.
Kalau sudah begitu, dia akan buru-buru keluar rumah ke restoran sambil bilang, "Murochin tidak membangunkanku?"
Haha, 'Murochin' panggilan yang unik kan? Kenapa aku begitu saja memberitahu Atsushi namaku? Jujur, aku juga bingung. Kenapa aku memberitahu namaku pada orang asing ya?
Saat itu aku berniat memasakkan makan malam untuk Atsushi. Kuambil beras. Kucuci beras itu di wastafel. Lalu telpon rumah Atsushi berdering. Akupun mengangkatnya, bukannya tidak sopan, tapi kukira itu hanya sales, selama ini mereka juga sering menelpon ke tempatku dulu kok. Oh iya, kalau kalian penasaran kenapa aku tidak kembali ke rumahku, karena aku tidak mau. Tidak mau, dan tidak bisa. Setelah keributan yang kubuat, masa aku kembali kesana? Aku berniat meninggalkan rumah itu selamanya, mungkin aku akan mencari apartemen nanti. Aku juga tidak mau terus merepotkan Atsushi.
Baiklah, kembali ke telpon tadi. Kuangkat karena kukira itu hanya sales. Tapi ternyata suara yang menyapaku bukan suara ceria biasanya dari sales. Suara berat yang bertanya pelan.
"Tatsuya?"
Aku kenal suara itu. Suara yang biasanya kuedengar tiap hari. Sebelum aku meninggalkan rumahku.
".. Maaf, ini kediaman Murasakibara Atsushi," jawabku begitu saja setelah menghela napas.
Aku menjawab asal tanpa berpikir jawabanku itu akan membawa bahaya bagi Atsushi.
"Ini kau kan, Tatsuya? Ini aku!" seru suara diseberang sana dengan girang. Yah, harusnya aku tidak bicara pada orang yang begitu mengenal suaraku. Tapi akan mencurigakan kalau langsung kututup. Jika mereka curiga, dalam sekejap akan terjadi bahaya.
Mereka rupanya tidak percaya saat kubilang aku tidak akan kembali. Jika sekarang mereka tahu aku ada dimana.., aku harus pergi kan? Meninggalkan Atsushi…
"Tatsuya?" Tanya orang di seberang sana lagi.
"Hentikan, Taiga. Sudah kubilang aku tidak akan kembali," jawabku, berusaha menegaskan kalau aku serius.
"Tapi, Tatsuya!" seru Taiga lagi, tapi terputus karena telponnya kututup.
Sambil menghela napas pelan, aku duduk bersandar di tembok dapur. Dengan telepon tadi, mereka pasti sudah mengetahui lokasiku. Tapi aku.. masih ingin tinggal disini. Dengan Atsushi.
Orang bilang aku baik, tapi aku egois, sungguh. Aku tetap tinggal di rumah Atsushi walaupun aku tahu hal itu akan membahayakan nyawa Atsushi.
Hari ketiga, lagi-lagi, saat Atsushi pergi bekerja. Ada telepon. Aku tahu itu siapa. Aku tahu. Tapi entah kenapa aku tetap bertindak bodoh dan mengangkat telepon itu.
"Berhenti menelponku, Taiga," ujarku langsung begitu telpon itu kuangkat.
"Jangan begitu.. Hei, Tatsuya.. Kau tahu kami dimana?" Tanya Taiga dengan sedikit nada yang.. menantang? Berusaha mengerjaiku? Tidak pernah ada hal baik terjadi jika Taiga bicara dengan nada begitu. Dan aku yakin, saat ini juga sama.
"Mana kutahu,"
"Kau tahu.. Kiseki Restaurant, kan?"
Deg. Atsushi!
"Taiga, brengsek! Kalau kau berani menyentuh Atsushi-!" bentakku begitu saja.
"Hei, Tatsuya.. Tidak baik membentak orang di telepon.." potong suara seorang perempuan.
"Alexandra, kau juga..?"
"Tatsuya, kau tahu harus apa kan~?"
Aku bisa merasakan tubuhku gemetar. Bahuku menegang. Tubuh dan hatiku menolak perintah dari otakku.
"Baiklah,"
"Sampai ketemu 15 menit lagi, Tatsuya~"
Dan teleponnya ditutup begitu saja. Yah.. Aku harus pergi. Bagaimanapun juga, ini semua salahku. Aku yang tetap tinggal. Aku yang bodoh sehingga terluka dan ditolong Atsushi. Aku yang bodoh karena tidak ingin pergi. Aku yang egois. Atsushi tidak salah. Tidak ada salahnya menjadi orang baik yang memungut orang asing yang terluka di gang. Aku ceroboh sehingga terluka begitu.
Dan kini, keegoisanku akan membahayakan Atsushi.
Dulu, aku tidak peduli jika keegoisanku membahayakan orang di sekitarku. Tapi sekarang..
Maaf Atsushi.
Aku berlari menelusuri kota, mencari papan nama Kiseki Restarurant. Akhirnya kutemukan papan nama norak dengan tulisan warna-warni 'Kiseki Restaurant'. Entah siapa yang mendesainnya. Seleranya luar biasa. Luar biasa buruk. Hahaha, sudahlah, bukan saatnya bercanda. Dimana Taiga dan Alex, ya?
Aku mencari kesana kemari di sekitar restoran. Samping restoran. Belakang restoran. Tidak kulihat rambut merah-coklat dan pirang yang harusnya mencolok itu. Hanya satu tempat yang belum kuperiksa. Yah, resikonya pantas lah. Kupakai tudung jaketku, dan kubuka pintu restoran itu sambil berharap Atsushi sedang tidak ada disana.
Ternyata restoran ini cukup ramai, dan luas. Dan dari percakapan di sekitarku, restoran ini terkenal. Hei, bukannya aku menguping, mereka bicara keras sekali. Ternyata walaupun makanannya di rumah hanya snack, Atsushi pandai memasak yah?
Kutelusuri restoran itu, tapi tak juga kutemukan Alex maupun Taiga. Atsushi juga sama sekali tak terlihat, atau terdengar. Kuputuskan untuk duduk menunggu disana.
##SKIP TIME;15 Menit lewat##
Mana mereka? 15 menit lewat dan aku sama sekali tidak melihat keberadaan mereka berdua. Atsushi juga tidak terlihat, walaupun posisiku bisa melihat dapur restoran ini dengan jelas. Cangkir kopi di mejaku sudah kosong. Dimana mereka?
"Permisi, pak,"
Suara salah seorang pelayan mengejutkanku, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kearah pelayan tersebut, pemuda berambut biru muda dan kulit pucat.
"Ah, iya?" jawab—tanyaku pada pemuda itu, kubaca kartu nama di dadanya.
Kuroko Tetsuya
Ah.. Kurasa dia teman SMP yang pernah Atsushi ceritakan.
"Apa ada yang mengganggu pikiran anda? Anda terkejut saat saya sapa tadi," Tanya pelayan itu—Kuroko.
Kalau aku boleh jujur, aku kaget karena tak merasa ada yang mendekat, tapi tiba-tiba ada yang menyapa. Siapa yang tidak kaget kalau ada kejadian begitu?
"Bukan.., bukan apa-apa… Maaf.." jawabku sambil mengambil cangkirku dan mendekatkannya ke mulut. Ah, sudah habis.. Aku lupa.
"Biar saya bawakan lagi, kalau anda mau," tawar Kuroko.
Aku menggeleng, lalu teringat sesuatu. Didorong rasa penasaran dan cemas, aku menanyakannya.
"Apa Atsushi ada? Murasakibara Atsushi?"
Ekspresi Kuroko sama sekali tidak berubah. Aku bingung bicara dengannya. Dia sulit dibaca.
"Murasakibara-kun? Dia pulang cepat hari ini,"
Ehh? Atsushi? Lalu Alex dan Taiga bagaimana?
"Begitu ya? Terima kasih," balasku sambil berdiri, hendak pulang. Mungkin Alex dan Taiga hanya mengerjaiku saja.
"Anda temannya Murasakibara-kun?" Tanya Kuroko.
Aku ragu sebentar lalu mengangguk, Kuroko terdiam sejenak, lalu kembali berkata.
"Tadi ada pengunjung juga yang mengaku begitu. Saat kuberitahu Murasakibara-kun sudah pulang, mereka langsung pergi," jelas Kuroko.
Aku terdiam, rasa takut mulai memenuhi dadaku. Berbagai kemungkinan sudah tersusun di kepalaku, dan tak satupun yang bagus.
"… Seperti apa mereka?" tanyaku, takut akan kemungkinan yang kupikirkan. Kuroko ragu sejenak, lalu menjawab.
"Pemuda tinggi berambut merah-coklat dan wanita pirang," jawab Kuroko.
Jelas sudah, Atsushi dalam bahaya.
Aku langsung berlari keluar restoran, mengabaikan seruan Kuroko yang memperingatkan kalau diluar hujan deras.
Alex dan Taiga.
Atsushi.
Pikiran akan mereka bertiga terus melintasi pikiranku.
Harus pulang, harus pulang
Kalimat itulah yang terus berbisik di pikiranku.
Mereka tahu rumah Atsushi dimana.
Mereka tidak menemukan Atsushi di restoran.
Mereka langsung keluar saat tahu Atsushi tidak ada.
Jawabannya sudah pasti kan?
Jalanan yang licin dan ramai membuatku nyaris terjatuh saat berlari.
"Sampai ketemu 15 menit lagi, Tatsuya~"
Alex bilang 'Sampai ketemu 15 menit lagi'.
Bukan 'Sampai ketemu di restoran'.
Aku merasa jatuh ke lubang gelap yang dalam.
Aku bodoh, harusnya aku bisa menebak ini! Sudah berapa menit lewat sejak mereka datang? Mereka mengejar Atsushi, jadi harusnya aku mengikuti Atsushi, bukannya menjauh agar dia aman!
Mungkin aku terlalu sombong, sampai berpikir kalau akulah incaran mereka. Nyawa Atsushi sedang terncam dan ini salahku! Seandainya aku tidak meninggalkan rumahku. Seandainya aku langsung pergi dari rumah Atsushi. Seandainya aku cukup kuat untuk menyelamatkan Atsushi..
Aku bodoh. Aku lemah. Aku egois.
"Sial!" makiku pelan.
Ayo, kakiku, berlarilah lebih cepat, apartemen Atsushi sudah dekat. Kulirik jam di pinggir jalan, sudah 30 menit lewat. Aku tidak boleh membuang waktu lagi. Kumohon, Atsushi, tetaplah selamat. Aku sedang berlari kesana untuk menolongmu, jadi kuharap kau baik-baik saja!
Ayo.. Tinggal menyebrang jalan dan aku akan sampai!
"Hei, nak, awas!"
Suara asing berseru padaku dan sebuah tangan menarik lenganku. Tepat saat dia menarikku ke belakang, sebuah truk yang cukup besar melintas di jalan yang tadi hendak kusebrangi.
"Bodoh! Tunggu sepi baru menyebrang!" hardik suara tadi padaku, aku tidak menoleh, tidak pula menjawab. Tudungku tersingkap saat dia menarikku, kalau tidak hati-hati wajahku bisa terlihat, aku tidak berani mengambil resiko dan menoleh.
"Hei, nak?" orang tersebut menunduk dan menoleh kepadaku. Masih menunduk, aku melirik sedikit padanya.
Oh, satpam di apartemen. Aku langsung memakai tudungku lagi dan berdiri. Tanpa ucapan terima kasih sedikitpun-aku tak punya waktu-aku langsung menyebrang ke apartemen.
"Himuro Tatsuya?"
Terdengar suara serak dan pelan di belakangku, aku menoleh sedikit, kulihat dia sedang bicara di ponselnya. Lawan bicaranyalah yang menyebut namaku. Dan, sambil menoleh padaku, satpam tadi menjawab.
"Ya, aku sudah menemukannya, kirimkan bantuan segera. Jangan lupa siarkan peringatan. Ya, di apartemen Yosen,"
Rasa dingin menjalari tubuhku bagaikan tersiram air es, membuatku terdiam dan membeku di tempat.
"Sial!" makiku pelan sambil kembali berlari.
"Hei!" seru satpam tadi, berusaha mencegahku.
Atsushi dalam bahaya,Taiga dan Alex datang, dan sekarang aku akan dikejar lagi? Sial. Sial banget. Entah sudah berapa kali aku memaki hari ini. Apa dosaku segitu banyaknya, ya Tuhan? Aku memang bukan orang baik dan tak berdosa, sih… Tapi untuk apa Atsushi kena cipratan karma yang harusnya untukku?!
Aku menyusuri tangga, terus, terus naik, sesekali bersembunyi di toilet atau tangga darurat karena ada orang. Akhirnya aku melihat kamar Atsushi. Kamar nomor 39. Lantai 3 nomor 9. Aku membuka pintu, hanya untuk mendapati apartemen tersebut kosong. Atsushi tidak ada dimanapun. Dapur kosong. Kamar tidur kosong. Kamar mandi kosong. Atsushi dimana?
Remote TV ada di sofa, karena penasaran, aku menyalakan TV kecil di ruang tengah itu. Ada siaran ulang peringatan waspada.
".. Pimpinan teroris dilaporkan terlihat di kota, pada warga diharapkan berhati-hati, berikut ciri-ciri dan sketsa wajah yang kami miliki."
Kumatikan TV itu.
Atsushi pasti ke kota. Karena aku tidak ada di rumah saat dia pulang, dia pergi mencariku ke kota. Begitulah yang kupikirkan, kuharap aku tidak terlalu sombong lagi. Aku hendak keluar kamar mencari Atsushi di kota. Aku harus menemukannya! Diluar hujan, dan Atsushi mungkin masih diikuti Alex dan Taiga. Aku harus segera menemukannya.
Tunggu, apa Atsushi betul-betul pergi? Maksudku.. Sudah berapa jam lewat? 1 setengah jam! Apa Alex dan Taiga
mau menunggu selama itu? Apa Atsushi..
Tidak. Atsushi pasti masih baik-baik saja. Alex dan Taiga pasti masih ingin menggunakannya sebagai umpan untuk memancingku. Dia pasti masih hidup, walau aku tidak yakin dia mencariku ke kota, atau ditipu Alex untuk ikut mereka, atau malah diculik paksa. Tidak semua kemungkinannya bagus, tapi semuanya punya persamaan;
Atsushi pasti masih hidup.
Aku harus mencarinya. Kuambil payung dan kupakai tudung jaketku lagi, lewat mana aku harus keluar? Di bawah pasti sudah dikelilingi polisi karena aku bisa mendengar sirene mobil mereka dan derap langkah yang ramai di tangga. Aku hendak bersembunyi di balkon, lalu..
Kri~ng~! Kri~ng~!
Telepon rumah Atsushi berbunyi lagi. Setengah berharap Taiga yang menelponku, aku mengangkatnya.
"Ta~Tsu~ya saya~ng!" sapa suara di seberang.
Alex!
"Alex! Atsushi—"
"Dia aman kok~"
Refleks, aku bernapas lega. Atsushi aman, setidaknya saat ini dia aman.
"Atsushi dimana?" tanyaku, walaupun menurutku dia tak akan menjawab.
"Mungkin masih berkeliaran di kota mencarimu, aku dan Taiga sudah tidak mengikutinya,"
Wow, Alex menjawab. Kukira dia akan mengerjaiku lagi.
"Sudah tidak mengikutinya? Tahu darimana kalian kalau dia aman?"
Terlalu banyak pertanyaan didalam kepalaku. Dan tak cukup banyak waktu untuk menanyakan semuanya.
"Tenanglah kami tidak akan membunuhnya.."
Aku tidak menjawab.
"Kau tahu kenapa kan? Kau kan yang paling tahu soal kami~"
Aku terdiam, lalu, dibarengi dengan senyuman galau (Oke itu agak berlebihan) tepatnya senyum pasrah, aku menjawabnya.
"Karena umpan berharga tak boleh dibunuh kan?"
Terdengar suara kekehan Alex.
"Tepat sekali, kau memang masih Tatsuya,"
"Kenapa kau menelponku?" tanyaku.
Terdengar suara tawa Alex lagi, disertai tawa pelan Taiga.
"Kau ingin tahu, Tatsuya? Keluarlah dari kamar itu," Kali ini Taiga yang menjawab.
Firasatku jadi buruk… kubawa telepon wireless itu dan kuintip keluar kamar.
Tebak apa yang menantiku? Polisi. Polisi bersenjata, lengkap dengan pelindungnya dan helm.
Hari ini aku sial sekali.
Apa yang harus kulakukan? Kabur? Kabur dengan cara apa? Memangnya ada jalan lari? Di bawah kan sudah menanti mobil polisi?
"DEAD END, Tatsuya, percuma. Sepertinya kau mulai payah. Kau yang dulu pasti sadar kalau kami hanya mengulur waktu agar para polisi itu mengepungmu," kata Taiga lagi.
Ya, dia benar, ini jalan buntu. Dan aku payah. Harusnya aku tahu. Taiga benar.
Dan kenyataan membuatku muak.
Aku tak bisa lari, aku tak bisa sembunyi. Dan aku tak bisa menyerah.
Apa yang bisa kulakukan?
"Ini hukumanmu, Tatsuya. Mana mungkin organisasi bisa bergerak jika pemimpinnya seperti kau," Terdengar kembali suara Alex.
"Hukuman karena meninggalkan kalian?" tanyaku, memastikan.
"Karena segala yang sudah kau lakukan, membentuk organisasi ini. Membunuh. Mengganggu ketertiban umum. Dan ya, karena meninggalkan kami, ini hukuman dariku pribadi. Oh ya, Aku sudah memastikan hukuman eksekusi untukmu, jadi kau tidak akan menderita lebih jauh lagi. Nikmatilah penderitaan terakhirmu baik-baik ya, Tatsuya~!"
TUUT TUUT
Teleponnya diputus. Jika tertangkap aku akan mati. Aku harus kabur.
Tapi anehnya, walaupun tahu aku akan mati, aku tidak terkejut. Aku tidak kaget, tidak tertekan. Bahkan walaupun aku tahu harus kabur. Pikiran untuk benar-benar melakukannya sama sekali tidak terbesit di kepalaku. Kenapa?
Karena Alex benar, ini hukumanku.
Aku tidak bisa lari dari hukumanku, tapi, apakah aku harus lari?
Aku sekalipun tahu soal negosiasi. Tapi, yah.. Aku harus tertangkap dulu kan?
Maaf Atsushi, aku pergi sebentar. Aku akan segera kembali, tunggu ya.
Dengan mengumpulkan segala kesiapan hati yang tersisa di diriku, kubuka pintu itu. Polisi bersenjata lengkap langsung menyerbuku. Satu memegangi tanganku, yang lain mendorongku, menjatuhkan dan menahanku di lantai. Aku tidak melawan, toh, aku siap menghadapi kekerasan macam ini. Aku sudah sering menghadapinya.
Seorang inspektur, aku tahu karena sering melihatnya, dialah yang selalu mengejarku, maju dan bicara.
"Tidak ada perlawanan? Tidak seperti biasanya. Ya sudah, itu mempermudah pekerjaan kami. Himuro Tatsuya, kau ditangkap atas kejahatan terorisme, pembunuhan, dan pengrusakan!"
TBC
Hohoho~ akhirnya selesai juga ini chap! Padahal aslinya fic ini Sora rencanain 2 chap aja, kenapa masih bersambung? Entahlah, fic ini asik ditulis, Sora jadi seneng.. Dan, makasih yang udah review! Yang udah baca, Fav, Follow juga makasih! Walaupun Sora jauh lebih seneng kalau kalian review~!
