Author Note: updaaaate! *screaming like crazy* oh man! I miss this fic =w=" fic ini menunjukkan diriku yang sesungguhnya~ *dasar pervent* enjoy~
Disclaimed! I DON'T OWN Kingdom Hearts and Square Enix. Kingdom Hearts and Square Enix born at japan, and the creator was Tetsuya Nomura. I am admire him so much...couse he created Sora! ^^
To a reviewer name Sha-Ra-kun: wkwkwkwkwkw! Yah, Roxas memang cocoknya number 13! XP
To a reviewer name Kairi Sakuraba: wkwkwkwwk! Thanks udah mendukung beberapa pair dengan Sora! Lol! XD
Troublesome Family
Chapter 15
Gara-gara meningkatkan waspada, aku jadi waspada secara berlebihan...
Geez, kurasa aku harus menurunkan kewaspadaanku atau aku akan menjadi paranoid karena mencurigai orang secara berlebihan.
Meski malam, lampu kota yang terang benderang membuatku merasa bahwa sekarang masih seperti siang saja.
"Sora?" Seseorang memanggilku dan aku segera menoleh, seorang pemuda blond yang lebih tua dariku terlihat berjalan mendekatiku. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah, Mr. Cloud," kataku sedikit terkejut melihatnya di sini. Dia adalah guru sekolahku, . Dia mengajarkan beberapa mata pelajaran di kelasku dan dia adalah wali kelasku yang sangat disiplin."Aku sedang...mengunjungi saudaraku," jawabku.
"Saudaramu? Aku baru tahu bahwa saudaramu tinggal di sini. Bukankah kalian tinggal bersama?" Tanyanya.
"Ah, ya. Terkadang mereka tinggal di tempat lain," jawabku dan itu kenyataan. Jika mereka tidak bisa pulang, mereka mempunyai rumah, mansion atau apartment ditiap kota, sehingga tidak perlu menginap di hotel.
"Oh, aku lupa bahwa keluargamu sangat kaya." Mr. Cloud terlihat menghela napas. "Pastikan kau tidak keluar malam-malam, sungguh berbahaya," katanya mengingatkan.
"Yes, Mr. Cloud," kataku mengangguk. "Mr. Cloud tinggal sekitar di sini juga?"
"Yeah, aku baru pindah kemari beberapa minggu lalu."
"Oh..."
Kami berdua terdiam. "Um, kalau begitu, saya ingin menuju ke tempat saudara saya dulu."
"Dimana dia tinggal?" Tanyanya.
"Di sana," kataku sambil menunjuk apartment Leon.
"Kebetulan saya juga tinggal di sana, bagaimana kalau kita kesana bersama?" Ajaknya.
Aku hanya mengangguk karena tidak punya pilihan lain.
Mr. Cloud tinggal di lantai tiga, sehingga kami berpisah di lift. Tadi, Mr. Cloud sempat bertanya beberapa hal padaku, tidak terlalu penting sih...
Aku langsung menuju ke apartment Leon. Ketika tiba di depan pintu apartmentnya, aku langsung mengetuk pintunya.
Beberapa kali mengetuk dan aku berdiam diri, menunggu jawaban. Tidak ada jawaban? Apakah dia pergi? Aku mengetuk sekali lagi, menunggu beberapa saat, dan tidak ada jawaban lagi...
Apa dia sedang pergi? Aku duduk di depan pintu dan menyandar di pintunya sambil memainkan hp, berharap Leon datang atau membukakan pintu jika dia memang berada di dalam.
Sebuah sms masuk saat aku memainkan HPku.
"Hey, Sora, besok mansion kosong. Dad dan aku akan melakukan misi, jadi kau langsung ke tempat Leon saja, tidak perlu pulang."
Begitulah isi sms tersebut, berasal dari Riku.
Aku lalu membalasnya.
"Berapa hari kalian pergi?"
Lalu balasan datang.
"Mungkin cuma sehari saja? Semoga saja lusa sudah bisa pulang..."
Jawaban Riku terlihat kurang begitu yakin. Saat aku hendak membalas sms Riku karena tidak ada kerjaan, mendadak pintu apartment Leon terbuka dan membuatku terjatuh, kehilangan keseimbangan karena sandaranku menghilang.
"Waaaah!" Teriakku kaget.
Aku terjatuh dan terbaring di lantai. Di atasku, terlihat Leon yang menatapiku dengan expresi datar.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," katanya sambil mengulurkan tangan.
Kuraih tangannya, tangannya terasa dingin. Mungkin dia habis mandi? Rambutnya terlihat basah dan ada handuk di bahunya...
"Kau habis mandi?" Tanyaku ketika bangun.
Aku dapat mencium tubuhnya yang wangi, wangi sabun mandi yang tidak kukenal. Mungkinkah sabun mandi mahal? Mungkin juga, karena rata-rata yang tinggal di sini kaya...
Leon hanya mengangguk, lalu mengunci pintu ketika aku masuk.
"Kau ingin mandi juga?" Tanyanya.
"Um, boleh," jawabku dan dia langsung memberikankunya. Handuknya wangi...
Aku berjalan memasuki kamar mandinya. Harus kuakui, kamar mandi di sini memang mewah, hampir sama mewahnya seperti di mansion. Kamar mandinya masih tercium aroma sabun mandi...
Selesai mandi, Leon terlihat duduk di sofa sambil menonton tv, kebiasaannya mirip sekali dengan Kadaj...
Aku duduk di sampingnya. "Neh, Leon, benarkah kau sedang dimata-matai?" Tanyaku sambil menatapnya.
"...Yeah. Yang memata-mataku sepertinya tinggal di sini juga, tapi aku tidak bisa memastikan tempat tinggalnya," jelasnya tanpa menatapku.
"Apakah kau sudah pernah melihat sosoknya?" Tanyaku.
"Belum."
"Huh? Jadi, bagaimana kau bisa tahu dia tinggal di sini?" Tanyaku heran.
"Karena aku selalu merasa diintai di dalam gedung ini, bukan di luar. Pengintaiku sangat profesional, dia sangat berhati-hati dalam mengawasiku," jelasnya.
Aku terdiam sejenak. Kira-kira, siapa ya yang mengintai Leon? Kami berdua terus terdiam sambil menonton tv, hingga tanpa sadar aku tertidur di sampingnya...
PRAANG!
Aku terkejut dan terbangun mendengar suara benda pecah, seperti kaca pecah! Kulihat aku berada di ruang kamar, mungkin kamar Leon?
Aku mencari pistol kecilku...
Aw man! Dimana aku meletakannya! Aku sangat yakin aku menyimpannya di... jaketku! Dimana jaketku! Mungkinkah Leon melepaskannya saat aku tertidur dan meninggalkannya di sofa!
Man, bagaimana ini...
Aku berjalan mendekati pinti dengan tubuh berkeringat dingin. Mencoba membuka dengan pelan pintu kamar, mengintip bagaimana kondisi di luar...
Aku tidak bisa melihat terlalu jelas karena gelap, tapi aku melihat seseorang berdiri di tengah-tengah ruangan, memegang...pistol!
Siapa dia? Dan dimana Leon? Apakah dia baik-baik saja! Samar-samar, aku merasa seperti melihat seseorang berbaring di lantai, mungkinkah dia tewas tertembak!
Si-siapa yang terbaring di lantai? A-apakah Leon! Oh god, semoga bukan dia...
Orang yang memegang pistol tersebut menyerat mayat tersebut keluar. Aku memutuskan untuk keluar, mencari jaketku yang mungkin terletak di sofa...
Tidak sengaja, aku tersandung sesuatu yang tidak terlihat dan jatuh...
BRAAAK!
Oh shit!
"Sora?" Aku mendengar suara Leon. "Kaukah itu?" Dia bertanya sambil menyalakan lampu.
"Le-Leon?" Aku terkejut dan juga senang mengetahui dia masih hidup. "Apa yang terjadi? Mengapa terdengar suara benda pecah?" Tanyaku.
"Ada mata-mata yang masuk, sehingga kubereskan," jelasnya.
"Ah! Kau baik-baik saja?" Tanyaku begitu menyadari bahwa dia terluka.
"Ya, hanya luka tergores," jawabnya sambil menatap lengannya yang berdarah.
"Aku akan ambilkan perban!" Kataku dengan panik.
"Perban ada di kamarku," katanya memberitahu.
Aku segera berlari ke kamar. Leon meletakkan perban di tempat yang mudah kutemui, di dalam lemari di samping kasurnya. Mungkin dia sengaja meletakannya di sana karena praktis diambil saat gawat darurat?
Aku langsung memperban lengannya. Hasil perbanku cukup buruk, tapi paling tidak bisa menghentikan pendarahan...
"Maaf sudah membangunkanmu," kata Leon sambil menyentuh kepalaku.
"It's okay," balasku sambil menggelengkan kepala. "Maaf aku tidak membantumu tadi, aku tidak sadar bahwa terjadi penyerangan..." Aku sedih sekali, baru pertama kali ini aku super lengah.
Leon terdiam, tetapi terlihat tersenyum lembut. "Ayo kita kembali tidur," ajaknya.
"Oh ya! Bagaimana dengan mayat tadi!" Tanyaku panik.
"Sudah kuurus. Besok, mayat itu akan terbakar bersama sampah-sampah," jawabnya.
"Oh..." Aku tercengang. Cepat sekali dia menyingkirkan mayat itu? Atau memang akunya yang lambat dari dulu, jika mengurus pembuangan mayat?
Jika dipikir-pikir, sejak dulu Riku, Kadaj, Yazoo, dan Loz selalu menemukan berbagai cara menyingkir mayat dalam waktu singkat, dan cuma aku yang lamban...
Geez! Kurasa aku memang payah...
To Be Continued...
Author Note: yay~ two chapter left! Don't go yet! ^^
