Chapter 3: That Day When We Lost Each Other (FINAL)
Akhirnya tugas dari guru gak tahu diri itu selesai! Sora kembali! XD Terima kasih sudah menunggu Sora~
By the way, ini bakal jadi final chapter, jadi POVnya berubah-ubah, PERHATIKAN BAIK-BAIK ya.
Dan Sora abis baca ulang chap 1 dan 2, dan Sora sadar kalau Sora membuat sebuah KESALAHAN FATAL. Ya, fatal banget.
Ampuni Sora…! Mungkin ada yang sadar, maaf yah. Tapi kalo kalian gak sadar, ya udah, gak usah dicari-cari! Yah kapan-kapan bakal Sora ubah kok, tapi gak tau kapan. ('^_^)
.
Murasakibara POV
Kulirik jam dinding di kamarku, jam 11 malam. Sudah berapa jam sejak Murochin menghilang? Entahlah, aku mulai capek menunggunya. Aku capek, ngantuk! Tadi restoran ramai sekali, aku capek..! Sudah berapa kali saluran TV kuganti karena bosan? Sudah berapa plastik sampah snack yang kumakan selagi menunggu?
Murochin kemana sih! Kalau pergi bilang dong! Kalau kau menghilang begini kan merepotkan!
Tapi bukannya aku tidak peduli pada Murochin, sih... Aku hanya berharap dia setidaknya memberitahuku, atau meninggalkan kertas pesan di rumah? Aku tidak yakin akan membacanya bahkan jika dia memang meninggalkannya, tapi, jangan menghilang begini dong! Merepotkan tau!
Capek menunggu, lelah, dan ngantuk, aku akhirnya menyerah menunggu Murochin. Sudahlah, aku mau mandi lalu tidur!
"Menyebalkan," makiku sambil melepas kaus yang kupakai dan melemparnya ke keranjang cucian.
Aku menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. Aku terlalu lelah untuk merenungkan alasan Murochin menghilang. Aku terlalu lelah untuk mencari Murochin lagi.
Tapi anehnya, dan untungnya, aku masih belum cukup lelah untuk mencemaskan Murochin.
Author POV
Murasakibara melangkah keluar kamar mandi kecil apartemennya menuju ranjangnya di pojok ruangan. Langkahnya terhenti untuk mematikan televisi yang masih menyala di ruang tengah. Saat dia mengambil remot di meja, Murasakibara menyadari sesuatu. Layar ponselnya yang menyala, menampilkan tulisan besar "1 Missed Call" dengan pilihan di bawahnya, 'View' dan 'Ignore'.
Murasakibara memilih 'View' untuk menampilkan Missed Call tadi. Walaupun malas, tapi dia bisa mati kelaparan kalau itu telepon dari Akashi yang akhirnya marah karena tak dijawab dan memotong gaji Murasakibara. Bisa mati kelaparan nanti dia.
Murasakibara menghela napas sementara jarinya terus menelusuri layar ponsel itu. Dari nomor tak dikenal.
'Call Back'
Jari Murasakibara menyentuh pilihan tersebut dan nada deringpun terdengar saat Murasakibara mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
Setelah nada dering kedua, sudah ada yang mengangkat.
"Halo? Atsushi?"
Suara yang amat dikenal Murasakibara.
"Murochin..!" seru Murasakibara.
Di seberang terdengar suara Himuro menghela napas.
"Syukurlah kau selamat, Atsushi…"
"Murochin! Kau—!"
"Maaf Atsushi, aku tidak bisa menjelaskan. Tapi apa kau mau mendengarku..?"
"Kau bicara apa? Kalau mau ngomong datang kesini! Jangan menghabiskan pulsa orang ya!" seru Murasakibara kesal.
[A/N: Oke, sejujurnya Sora ngakak pas nulis ini]
"Atsushi, kumohon, dengarkan aku.., ya?" Himuro memohon.
Murasakibara menggeram pelan. Dia tidak pernah bisa menolak perkataan Himuro. Nada Himuro mengucapkan sesuatu membuat Murasakibara 'tertarik' untuk menurutinya. Tertarik secara harafiah.
Murasakibara menghela napas, lalu menjawab, "Baiklah, tapi cepat,"
Dari seberang terdengar suara Himuro yang menghela napas lega, "Terima kasih Atsushi,"
"Lanjutkan,"
"Pertama, aku ingin kau berhati-hati,"
Murasakibara mengernyit, "Hah? Hati-hati terhadap apa?" tanyanya sedikit jengkel.
"Yah.. Kalau-kalau kau suatu saat bertemu pemuda berambut merah-coklat besar dan wanita pirang yang tidak tahu malu, panggillah polisi.. ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Lakukan saja. Kau mau kan, Atsushi?" pinta Himuro dari seberang sana.
Murasakibara terdiam. Mendengar seluruh perkataan Himuro tadi, rasanya aneh..
Kenapa ini? Kenapa sesak sekali mendengar Himuro memohon? Kenapa sesak sekali rasanya mendengar suaranya, tapi tak bisa melihat wujudnya? Kenapa sesak sekali mendengar ucapan-ucapannya?
Perasaan apa ini? Rasanya seperti anjing yang terbuang.
Perasaan ditinggalkan…
".. Murochin, besok kau mau makan apa?" Tanya Murasakibara tiba-tiba.
Kali ini Himuro diam. Dia tahu Murasakibara bukanlah seorang pemikir. Dia melakukan apa yang instingnya perintahkan. Dia tidak berpikir, tapi tindakannya bermakna dalam.
Atsushi… Maaf…!
"Murochin?" Murasakibara masih teguh pada pertanyaannya yang terbilang tidak sesuai topic pembicaraan itu.
"…Besok aku tidak makan di tempatmu, makan sendiri saja ya, jangan makan snack terus," jawab Himuro, suaranya makin lama makin lirih.
"Kenapa, Murochin?! Murochin memang mau makan apa? Akan kubuatkan apapun! Aku janji!" seru Murasakibara sambil memegang ponselnya dengan erat. Berharap dia juga bisa memegang erat Himuro yang sedang bicara dengannya di ponsel.
"Tidak usah, Atsushi, maaf merepotkan.." Himuro kembali menjawab dengan suara yang lirih.
"… Murochin.. kau menangis ya?"
Himuro terdiam.
".. Kau bicara apa sih?" jawab Himuro dari seberang sana, diikuti tawanya.
Murasakibara menggigit bibir sedikit, lalu bertanya dengan cepat pada Himuro, "Murochin, kau bisa datang ke restoran besok? Setelah restoran tutup? Jam 6 sore?"
"Eh? Maaf, aku tidak—"
"Ta-tapi kalungmu masih ada padaku!"
"Tidak usah dikembalikan, aku sudah tidak—"
"Pokoknya kutunggu besok!" bentak Murasakibara, dan dia langsung memutuskan sambungan telpon.
Murasakibara menarik napas panjang berkali-kali, menenangkan diri.
"Apa-apaan sih Murochin!?" hardiknya sambil melempar ponsel di tangannya ke ranjang di pojok ruangan.
##Meanwhile##
Himuro menghela napas dari bibirnya yang pucat dan sobek. Darah yang asin kembali mengaliri dagunya—bekas kena hajar di apartemen. Air mata yang panas mengaliri pipinya, sebelah tangannya menutupi wajah. Persetan dengan harga diri, toh pria berseragam di hadapannya tak peduli soal itu. Mungkin yang mereka pedulikan hanyalah hidup atau tidaknya Himuro. Jika Himuro mati, maka segala urusan diantara mereka seleai.
"Wow, Himuro Tatsuya, aku tidak menyangka kau bisa sampai menangis karena ini?" ujar si pemilik ponsel, seorang opsir polisi yang kini sedang duduk di hadapan Himuro, di ruangan kecil yang di dalamnya hanya ada meja dan sepasang kursi.
"Berisik, " balas Himuro sambil memberikan seringaian buas yang jarang-jarang ditunjukkannya.
Ini dia sisi buas dari si serigala hitam bermata abu-abu. Kebuasan yang muncul saat dirinya terpojok.
Opsir tadi balas menyeringai,"Jadi, bagaimana dengan janjimu dan 'Teman'mu?" tanyanya.
"Entahlah, bagaimana ya?" balas Himuro.
"Kau punya waktu 24 jam, kenapa tidak?" tawar opsir tersebut sambil menyalakan rokok.
"Apa boleh kau melepaskan penjahat berbahaya?" Tanya Himuro.
Opsir di depannya meniupkan asap rokok ke wajah Himuro, "Di bawah pengawasan kami, tentunya," ujarnya.
Sambil terbatuk karena asap rokok, Himuro membalas, "Kalian baik juga," ujarnya sambil tersenyum sarkastik. Rupanya usaha Himuro untuk bernegosiasi hanya berhasil memberinya 24 jam. Ataukah itu sebenarnya hal yang harus disyukuri? Setidaknya usahanya membuahkan hasil, setelah beberapa kali kena hajar oleh para polisi bawahan Aomine.
"Bersyukurlah kami masih punya rasa kemanusiaan untuk penjahat berbahaya sepertimu," balas polisi berambut biru tua tersebut.
Rasa kemanusiaan, katanya!
Tapi Himuro tersenyum, senyuman tulus, bagaimanapun juga, pemuda di hadapannya inilah yang sudah membantunya mendapat penangguhan selama 24 jam.
"Terima kasih, Aomine-san, akan kupertimbangkan," ujar Himuro, tangannya yang memang tidak diborgol menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Aomine mendecak, "Sudah, aku mau melapor ke Komisaris," ujarnya lalu pergi keluar ruangan.
Belum sempat Himuro menghela napas lega, pintunya dibuka kembali oleh Aomine.
"Nih, ponselmu, ada pesan suaranya," ujar Aomine sambil melemparkan benda hitam kecil pada Himuro yang langsung menangkapnya dengan satu tangan.
Setelah Aomine keluar, dan terdengar bunyi kunci pintu, Himuro membuka ponselnya.
"You have 18 missed calls"
Barulah Himuro menghela napas. Hampir seluruhnya berasal oleh orang yang sama. Ada satu yang berbeda.
"Unknown Number"
Himuro sudah yakin nomor siapa itu. Nomor yang harusnya sudah terhapus dari ponselnya, mengingat dia sudah membuang ponsel lamanya. Walaupun mengganti ponsel adalah salah satu cara Himuro untuk menjauhi masa lalunya, ternyata dia malah dikejar.
Ya, benar kata Aomine, ada pesan suara dari Unknown Number tadi.
"Tatsuya~ Terima kasih sudah menyerahkan diri pada polisi~! Aku yang memanggil polisi untukmu! Kurasa kau tidak ingin mati jadi sarang peluru sebagai buronan saat kejar-kejaran dengan polisi. Berterima kasihlah, berkat usaha keras kami kau bisa mati sebagai orang baik… Teroris yang tumbuh dalam kegelapan setidaknya bisa mati dalam cahaya. Aku dan Taiga akan pergi dari Jepang—kau tahu kemana kan? Jadi, kami minta maaf. Kuakui semua yang terjadi selama ini semuanya salah kami. Tapi tentu saja kami tidak berniat ditangkap. Maka dari itu, Good Bye, Tatsuya,"
Di akhir rekaman, suara Alex berubah serius. Seperti mengucapkan selamat tinggal pada teman seperjuangan yang sedang menuju perang yang mustahil dimenangkan. Ucapan selamat tinggal yang terdengar seperti, 'Semoga Beruntung, rekanku.'
Himuro terdiam mendengarnya..
'Mati dalam cahaya'
Himuro tidak yakin itu merupakan penggambaran yang tepat. Saat ini, 'Mati dalam cahaya' hanyalah angan-angan Himuro. Tapi kalau tidak bertemu Murasakibara, pasti Himuro tidak akan berangan-angan begini.
Sejak dia melarikan diri dan dikejar polisi, sebenarnya Himuro bertekad untuk mati dalam pelarian. Karena dengan begitu, dia bisa mati sebagai dirinya sendiri. Sebagai Himuro Tatsuya, teroris yang membela kepentingan rakyatnya di tempat asalnya dulu.
Himuro Tatsuya, pemuda yang keluarganya dibunuh karena tuduhan pembunuhan. Pemuda yang menyimpan dendam kesumat pada polisi yang membunuh orang tuanya.
Himuro Tatsuya, pemuda yang mengumpulkan orang-orang dan membuat pemberontakan.
Himuro Tatsuya, sosok penjahat yang dicintai masyarakat.
Himuro tidak ingin tertangkap, karena dia ingin tetap menjadi sosok tersebut. Kalau pada akhirnya dia mati, dia ingin mati sebagai Himuro Tatsuya yang dikenal semua orang.
Keinginan itulah yang menjadi pegangan Himuro dalam hidup. Keinginan yang seumur hidup dia genggam erat-erat, agar dia tidak lupa bahwa itulah tujuannya. Keinginan untuk mati sebagai Himuro Tatsuya, hal kecil yang sulit digapai itu adalah tujuan hidup Himuro.
Dan hanya butuh beberapa hari untuk mengubah keinginan itu. Beberapa hari di apartemen Yosen, kamar nomor 39, bersama pemuda jangkung berambut ungu, pecinta makanan ringan yang benci sayuran dan bekerja sebagai koki di restoran terkenal dengan papan nama yang norak.
Beberapa hari itu mengubah 'Death Wish' Himuro menjadi, 'Mati sebagai Murochin'.
Sedikit sedih, mengetahui kalau keinginannya seumur hidup dapat berubah dalam beberapa hari, tapi sedikit menenangkan. Rasanya menenangkan, mengetahui kalau di dunia ini ada seseorang yang bisa mengubah hidupnya.
Rasanya seperti ada yang menyalakan lampu untuknya dalam kegelapan.
"Terima kasih, Atsushi,"
##Kiseki Restaurant; setelah tutup##
"Murasakibara-kun, tidak pulang?" Tanya Kuroko melihat rekan kerjanya melamun di salah satu meja.
Murasakibara memang melamun, butuh waktu 4 detik sampai dia menjawab, "… Kurochin duluan saja," itupun hanya 3 kata saja.
Karena merasa temannya itu sedang tak bisa diganggu, Kuroko tidak mendebat lebih jauh dan berjalan ke pintu restoran.
"Aku duluan, Murasakibara-kun, jangan lupa kunci pintunya nanti Akashi-kun marah," ujar Kuroko sambil berjalan keluar restoran.
Murasakibara hanya mengangguk, pandangannya tetap menerawang entah kemana.
Kuharap Murochin datang..
##Jam 7:00##
Murochin kemana…
Satu jam lewat dari waktu yang dijanjikan. Atau lebih tepatnya waktu janjian yang dipaksakan Murasakibara untuk Himuro ikuti.
Murasakibara mengangkat tangan kirinya menutupi wajah, sementara tangan kanannya memainkan sebuah cincin yang ditemukannya di apartemen. Sebuah kalung dengan cincin sebagai liontinnya. Kalung milik Himuro.
Murasakibara ingat Himuro pernah menanyakannya, dan dia yakin inilah kalung yang dimaksud Himuro. Murasakibara baru menemukannya saat hendak pergi ke restoran hari ini. Ternyata kalung yang dicari Himuro ini masuk ke kantung mantelnya. Tentu saja Murasakibara tidak sadar karena kalung ini kecil dan ringan.
Untung saja koin di tangan Murasakibara jatuh ke lantai, membuat si jangkung harus berjongkok memungutnya. Kalau tidak begitu, pasti dia tidak akan menyadari bunyi kerincing yang berasal dari kantung mantelnya.
Cukup flashbacknya, Murasakibara kelelahan. Dari awal Murasakibara adalah orang yang pulang kerja tepat waktu, bukan orang yang suka berlama-lama di restoran, apalagi setelah restoran ditutup. Sekarang, disini dia, satu jam setelah toko tutup, duduk sendirian dalam restoran. Ternyata hanya butuh satu orang untuk mengubah kebiasaannya yang pulang cepat tiap hari. Hanya butuh satu orang dan beberapa hari, malah mungkin hanya beberapa jam.
Setelah beberapa saat, Murasakibara menurunkan tangan dan menghela napas. Bukannya Murasakibara sangat mengenal Himuro, tapi rasanya terlambat ke tempat perjanjian itu nggak banget buat Himuro.
Murochin, kalau kau memang tidak akan datang, aku menyerah
Tepat saat pikiran itu melintas di kepala Murasakibara, terdengar bunyi lonceng dari pintu restoran yang dibuka. Murasakibara langsung menengok cepat kearah pintu, berharap.
Yang muncul dari pintu adalah seorang pemuda berambut hitam yang sedaritadi dinanti-nanti oleh Murasakibara. Muncul dengan senyuman tipis dan melangkah perlahan kearah Murasakibara.
"Atsushi," ujarnya sambil tersenyum kearah Murasakibara.
Tanpa membiarkan Himuro berjalan sampai kehadapannya, Murasakibara berdiri dan berlari menerjang Himuro, kedua lengannya yang panjang terbentang utnuk merengkuh tubuh Himuro yang terlihat kecil jika dibandingkan dengan dirinya sendiri.
"Murochin, kenapa baru datang…?" Tanya Murasakibara pelan sambil melengkungkan punggung dan membenamkan wajah di bahu Himuro yang balas memeluk punggung Murasakibara yang lebar.
Himuro sempat membuka mulut, hendak bicara, lalu kembali terdiam.
"Maaf, Atsushi.." bisiknya, "Maaf".
Ada banyak sekali yang ingin dia katakan pada Murasakibara, banyak, banyak sekali. Yang ingin dia katakan dan yang harus dia katakan. Tapi saat ini bibirnya hanya mampu mengucap kata 'maaf' berulang-ulang.
Mengulang satu kata berkali-kali sambil mati-matian menahan tangis. Terlalu banyak hal yang harus dia tebus. Terlalu banyak permintaan maaf yang harus dia sampaikan pada banyak sekali orang. Terlalu banyak utang budi yang belum dia balas selama dia hidup.
Jadi setidaknya, dia ingin meminta maaf pada Murasakibara. Setidaknya, walau hanya satu orang, dia ingin meminta maaf atas segala yang terjadi. Atas segala hal yang menimpa Murasakibara. Entah sudah berapa banyak Himuro merepotkan Murasakibara. Dia ingin berterima kasih, dan meminta maaf. Setidaknya pada pemuda yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Yang sudah percaya pada Himuro. Yang memberi Himuro tempat tinggal walaupun hanya beberapa hari.
Apa kalau dia tahu Himuro adalah penjahat buron, dia akan mengusirnya? Apa Himuro akan kehilangan orang yang sudah menemukannya? Pertanyaan seperti itulah yang mengusik pikiran Himuro.
Tapi itu tidak penting lagi. Setidaknya sebelum pergi, Himuro harus menceritakan segalanya. Berterima kasih atas segalanya. Dan meminta maaf atas segalanya.
Walaupun hanya kesalahan-kesalahan kecil, walaupun hanya pada satu orang..
"Jangan minta maaf!" hardik Murasakibara sambil mendorong bahu Himuro, "Kau ini.." lanjut Murasakibara sambil menggeram marah.
Himuro menatap pemuda di depannya, sedikit menunduk, terbebani rasa bersalah karena keinginan minta maafnya malah membuat Murasakibara menghadiahinya bentakan dan mendorongnya. Himuro menggigit bibir, menahan diri untuk tidak pergi keluar restoran dan menghilangkan kesempatan terakhir untuk membicarakan segalanya dengan Murasakibara.
Himuro membuka mulut, tapi tidak sanggup mengatakan apapun.
Murasakibara mendecak, "Aku sudah lelah menunggu, kalau ada yang ingin kau katakan, langsung katakan saja," ujarnya sambil melepaskan cengkramannya di bahu Himuro.
Murasakibara melingkarkan lengannya di leher Himuro, "Kukembalikan kalungmu," ujar Murasakibara lalu mundur selangkah dan tersenyum, memandangi kombinasi antara kalung sederhana itu dan leher Himuro.
Himuro masih belum sanggup bicara, tapi dia perlahan-lahan memegang cincin di kalungnya, lalu menggenggamnya erat.
Akhirnya, pemuda berambut hitam ini mengangkat wajah dan tersenyum.
"Terima kasih, Atsushi," ujarnya, mengucapkan tiap kata dengan perlahan-lahan dan lembut, memastikan Murasakibara menangkap seluruh perasaan di dalam 3 kata itu.
Murasakibara menarik Himuro untuk duduk di salah satu meja di restoran, sebelum Himuro menepis tangannya.
"… Murochin?" ujar Murasakibara sambil menatap Himuro lekat-lekat, bingung.
Himuro menghela napas dan tersenyum, "Atsushi, kau akan baik-baik saja kan?"
Murasakibara mengernyit tapi tidak menjawab.
"Kau akan baik-baik saja tanpa aku kan?"
"Tentu," jawab Murasakibara yakin, matanya menatap malas kearah Himuro.
Jawabannya membuat Himuro lega, sekaligus membatu di tempat.
Mungkin sebenarnya dia ingin Murasakibara menahannya, ingin Murasakibara mencegahnya pergi.
Himuro ingin Murasakibara membutuhkannya. Bukan 'seseorang', harus Murasakibara. Harus Murasakibara yang membutuhkannya. Setelah merepotkan, rasanya pasti melegakan jika Murasakibara membutuhkan Himuro.
Tapi, Himuro tersenyum penuh rasa lega dan berkata, "Syukurlah kalau begitu,"
"Aku duluan ya, Atsushi," ujar Himuro sambil tersenyum dan berbalik menuju pintu dengan kepala tertunduk.
Melihat tingkah Himuro yang jelas-jelas mencurigakan, Murasakibara langsung memanas. Sebelum Himuro sempat menarik kenop pintu, sebuah kekuatan yang besar menarik bahunya dan memutar tubuhnya, memaksanya menatap permuda berambut ungu yang marah di depannya. Yap, Murasakibara sepertinya sedang sangat marah, didorongnya kembali bahu Himuro ke dinding yang dicat putih itu. Tindakan yang tentunya membuat si pemuda yang didorong mengerang kesakitan.
"Atsushi..?!"
"Jangan bicara seperti kau akan pergi!" hardik Murasakibara frustasi, "tentu aku akan baik-baik saja tanpamu, tapi aku tidak mau Murochin pergi!"
Himuro, tentu saja, refleks menunduk saat wajah Murasakibara yang jelas terlihat murka mendekatinya. Murasakibara kalau marah, jadi seram. Sementara pundaknya terjepit antara dinding beton bercat putih dan tangan Murasakibara dengan super powernya.
"H-hei, Atsushi.. Pundakku.." Himuro setengah menggeram menahan sakit.
Tapi Murasakibara membungkam segala protes yang mungkin keluar dari bibir Himuro dengan mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi kiri Himuro.
"E-Eh.. A-a-a… Atsushi!?" seru Himuro kaget sambil mendorong Murasakibara menjauh. Di hadapan kekuatan sebesar Murasakibara, tentu saja perlawanan Himuro tidak berarti. Walaupun tangan Himuro mendorongnya menjauh, Murasakibara masih bisa lebih dekat lagi.
"Akachin yang memberitahuku," ujar Murasakibara sambil mengecup sebelah pipi Himuro lagi.
Karena sia-sia melawan tenaga Murasakibara, Himuro membiarkannya, toh dia sudah mulai terbiasa dengan tindakan-tindakan Murasakibara yang agak tidak wajar.
"Memberitahu apa?" Tanya Himuro, biarlah wajahnya sudah lebih merah dari rambut seorang pemuda yang telah memberi Murasakibara informasi gak mutu ini.
".. Ciuman di pipi artinya sayang.." bisik Murasakibara sambil menjauhkan bibirnya dari pipi Himuro, dan pindah ke kelopak mata Himuro.
Bibir Himuro terbuka hendak bicara, tapi tidak satu katapun yang keluar, hanya nafas berat dan panjang, yang diikuti air mata panas mengaliri pipinya. Himuro mengangkat sebelah tangan untuk menutupi wajahnya.
Dari sudut pandang Himuro, Murasakibara keterlaluan, sungguh keterlaluan.
Dia sudah percaya pada Himuro, memberi Himuro tempat tinggal, mengubah tujuan hidup Himuro, menyayangi Himuro, dan sekarang Murasakibara membuat Himuro sadar betapa dia tidak ingin pergi.
Murasakibara tersenyum tipis melihat Himuro menangis. Dan bibir Murasakibara berpindah tempat menuju kelopak mata Himuro, mengecupnya.
Sungguh keterlaluan. Tanpa kata-kata, dia menenangkan perasaan Himuro dan mengentikan tangisannya.
".. Di mata artinya tidak ingin berpisah," lanjut Murasakibara sambil mencium kedua mata Himuro.
Himuro refleks menutup mata dan menahan napas karena kaget.
Setelah beberapa saat, Murasakibara kembali menjauh, kali ini kedua tangannya melepaskan bahu Himuro dan berpindah ke pipi pucatnya yang memerah.
"Ada satu lagi yang diberitahu Akachin, yang terakhir.." ujar Murasakibara sambil menarik wajah Himuro mendekat.
Setelah 'hal-hal' yang terjadi sebelum ini, Himuro sudah memperkirakan menuju ke 'arah' mana adegan ini. Tapi tetap saja, dia diam.
Himuro tetap diam sementara Murasakibara mendekat perlahan dan melahap bibir tipisnya.
"A.. tsushi!" protes Himuro, refleks menahan napas karena gugup.
".. Ini. Tapi yang ini…," bisik Murasakibara di telinga Himuro, "Harus Murochin cari tahu sendiri artinya," lanjut Murasakibara. Napas panasnya berhembus menyentuh kulit Himuro yang pucat.
Dan akhirnya, sambil menghela napas, Murasakibara membungkuk sedikit dan menyandarkan kepalanya di bahu Himuro.
"… Jangan pergi, Murochin,"
Tubuh Himuro seperti kesetrum.
"Atsushi.. Aku.." gumam Himuro.
Di saat yang sama, ponsel Himuro berdering.
.
.
Timingnya tidak bisa lebih buruk lagi.
Tidak mungkin ada yang menelponnya selain polisi, jadi..
"Maaf Atsushi, aku ada urusan," ujar Himuro sambil membuka ponsel flipnya dan berbalik untuk membuka pintu restoran.
"Murochin mau kemana?"
Tangan Himuro yang hendak memutar kenop pintu terhenti.
"Aku tidak mau Murochin pergi," ujar Murasakibara lagi.
Himuro terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia adalah pemimpin teroris dan sekarang dia akan pergi menuju tempat eksekusinya. Tidak mungkin dia bilang begitu. Tidak pada Murasakibara. Hanya Murasakibara yang tidak akan dia biarkan mengetahui kenyataan.
Himuro akhirnya menghela napas, "Baiklah, Atsushi. Anggap saja aku akan pulang ke kampung halamanku. Dan aku tidak akan kembali kesini, ya?" ujarnya sambil memegang kedua pipi Murasakibara.
Ucapan Himuro tidak sepenuhnya salah. Kampung halamannya, adalah tempat seluruh jiwa manusia berpulang.
Akhirat yang sekali dimasuki tak bisa keluar lagi.
Murasakibara memegang sebelah tangan Himuro di pipinya.
"Kenapa Murochin tidak mau kembali? Murochin marah padaku ya?" tanyanya pelan, wajahnya tertunduk karena sedih.
".. Aku tidak marah, Atsushi… Dan kau jangan sedih, suatu hari kau juga akan datang ke 'kampung halaman'ku!" ujar Himuro sambil tersenyum lebar.
"Dimana itu?"
"… Itu rahasia, tapi suatu hari kau pasti datang kesana. Dan jika saat itu tiba, aku akan ada disana menyambutmu," ujar Himuro lagi.
"… Baiklah,"
Himuro mengangkat tangan meraih ke wajah Murasakibara, menariknya perlahan sebagai isyarat agar Murasakibara menunduk.
Murasakibara untungnya berhasil menangkap sinyal Himuro dan menunduk.
Sementara Himuro, setelah mengumpulkan keberanian, dia mendaratkan ciuman lembut di dahi Murasakibara.
Saat Murasakibara termangu, Himuro melepaskan tangannya dan berkata, "Tahu artinya tidak, Atsushi?" tanyanya sambil tersenyum, "Ciuman di dahi adalah jimat keberuntungan. Agar kau baik-baik saja tanpaku, kuberikan 'jimat' ini,"
"Murochin—" ucapan Murasakibara terputus karena Himuro menempalkan telunjuknya ke bibir Murasakibara.
Himuro tersenyum lagi, lalu berbalik dan berjalan perlahan keluar restoran, meninggalkan Murasakibara yang mematung di tempat.
"Aomine-san," panggil Himuro pada seorang pemuda—polisi—yang duduk di bangku taman sambil merokok.
"Kau lama sekali. Hampir saja bawahanku mendobrak masuk restoran," keluh Aomine sambil melambai, menyuruh Himuro duduk di sebelahnya.
"… Kenapa?" Tanya Himuro setelah dia duduk di sebelah Aomine.
"Apanya?"
"Kenapa kau mau repot-repot membiarkanku menemui Atsushi?"
"… Kau tidak mau menemuinya?"
"Tentu saja aku mau..!" seru Himuro, lalu menarik napas untuk menenangkan diri, "Tapi, kenapa kau repot-repot untuk seorang tahanan? Yah, karena aku akan mati, kurasa tidak ada ruginya bertanya..?" lanjut Himuro.
Aomine terdiam sejenak. Lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Dulu, aku juga pernah punya pemuda yang sangat kucintai, Kise Ryouta namanya, seorang pilot," ujarnya, memulai cerita singkat.
Untuk sejenak, Himuro melupakan masalah ke-homo-an Aomine dan mendengarkan ceritanya.
"Walapun—karena pekerjaannya—Kise jarang pulang, kami tinggal bersama. Saling membantu mengurus rumah, membangunkan satu sama lain tiap paginya. Kehidupan yang sama dengan yang kau rasakan selama hari-harimu di apartemen itu," lanjutnya, lalu wajahnya berubah sedih, dan untuk beberapa saat, dia terdiam.
"Dan suatu hari, akhirnya dia pulang dengan gembira, sambil berseru-seru pamer bagaimana dia diangkat jadi pilot sungguhan, bagaimana dia akan menjalani penerbangan pertamanya,"
Himuro ikut terdiam.
"Tapi, penerbangan pertamanya malah gagal, pesawatnya jatuh ke laut dan menghilang. Setelah beberapa bulan, kejadian itu dianggap kecelakaan dan pencarian korban dihentikan tanpa ada satupun jasad yang ditemukan," Aomine menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Saat kecelakaan itu terjadi, aku sedang tugas di luar kota, dan baru mendengar beritanya saat Tetsu menelponku. Tentu, saat itu juga aku langsung kembali ke Tokyo,"
"… Aomine-san..,"
"… Jujur, waktu itu aku merasa hancur. Dia pergi tanpa peringatan, dan masih banyak yang ingin kukatakan dengannya, yang ingin kulakukan dengannya. Sementara jangankan bicara dengannya, mayatnya pun tidak ditemukan, aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya lagi. Masih banyak yang kusesali saat dia tewas," lanjut Aomine sambil bertopang dagu.
"Aku tahu rasanya ditinggalkan, aku tahu rasa penyesalan. Aku tahu betapa sepinya saat kau pulang ke rumah yang kosong dan gelap, tanpa ada orang yang menyambutmu disana," ujarnya lagi, "Dan aku tidak mau ada orang lain yang mengalami hal itu. Aku bertahan, dan—pada akhirnya—pulih. Tapi Murasakibara cengeng. Dia bisa terpuruk dan ingatan tentangmu akan menghantuinya seumur hidup,"
Himuro terdiam. Aomine benar. Kalau Murasakibara tahu. Dia akan terjatuh dan tidak pernah bangkit lagi.
"..Kau beruntung. Kau tahu kapan kalian akan berpisah, dan dengan begitu, kau memiliki kesempatan untuk mengatakan hal yang ingin kau katakan,"
Aomine menghela napas, "Kalau ada Kise, pasti dia bilang aku sok bijak," gumamnya.
"… Maaf sudah membangkitkan kenangan buruk," bisik Himuro.
"Kau penjahat, tapi aku malah iri padamu," ujar Aomine sambil berdiri, "Nah, ayo kita kembali, aku bisa diomeli kalau kau tidak kembali,"
Aomine berjalan pelan meninggalkan taman tersebut, Himuro mengikuti di belakangnya.
Aomine selalu mengeluh lelah saat berurusan dengan Himuro.
Tiap kali Aomine tinggal selangkah lebih dekat untuk menangkap Himuro, dia selalu lolos.
Seperti menangkap ikan, semakin Aomine mendekat, semakin cepat dia berenang menjauh dan lolos dari jaring yang Aomine tebarkan.
Tapi saat ini, pemuda yang selalu diburunya itu menyerah dengan mudahnya dan menurut begitu diberi izin menemui temannya.
Di saat terakhirnya, sang serigala ingin menemui pemuda yang menyelamatkannya dari kejaran pemburu.
Dan itu saja cukup. Dia tidak butuh apa-apa lagi.
Kebebasan tidak artinya kalau dia tidak bisa kembali pada Murasakibara.
Sang serigala, bisa saja dia pergi ke gunung lain dan melolong kencang untuk mengumpulkan teman sejenisnya. Tapi, serigala ini sudah bukan makhluk liar, dia sudah menjadi serigala yang jinak dan selalu ada di sisi penyelamatnya.
Daripada pergi dan mengumpulkan teman, dia memilih tetap disini.
Karena disini, ada Murasakibara. Disini ada seorang pemuda jangkung berambut ungu yang sangat disayangi Himuro.
Karena disini, ada kebahagiaan untuknya.
Hanya itu yang dia butuhkan.
Dia hanya ingin menemui penyelamatnya, tempat dia berhutang setelah keinginan itu tercapai, dia tidak lagi butuh kebebasan, atau bahkan nyawanya.
Hanya ini, hanya permintaan kecil ini yang Himuro butuhkan sebelum dia menebus dosanya.
Hanya ini.
END.
Chap berikutnya Epilogue!
Kisah Singkat Author : Sora butuh berhari-hari buat nulis adegan MuraHimu di restoran! Gak kuat! Mental Sora gak kuat! Baru nulis beberapa kata Sora udah guling-guling di kasur sambil ngerajuk gak jelas (TAT)
Dan omg, Aomine bijak banget!
Oh ya, Sora harus minta maaf karena entah kenapa ada AoKise yang nyasar ke fic ini.
Dan tentunya, berterima kasih pada yang sudah mau mengikuti fic gaje ini. Fic ini kayaknya alurnya agak sedikit banyak maksa banget. Dan banyak yang tidak terjelaskan.
