Author Note: update again! Lol! One chapyer left before hiatus! XD

Disclaimed! I DON'T OWN Kingdom Hearts and Square Enix. Both of it belong to Tetsuya Nomura, the creator.

Troublesome Family

Chapter 16

Aku terbangun ketika mendengar alarm HPku berbunyi. Tunggu, kenapa nada alarmku berbeda dari biasanya?

"Ya?" Aku mendengar suara Leon.

Oh, ternyata telepon...

"...ya." Leon terdengar lebih banyak mendengar daripada membalas.

Aku menguap sambil merenggangkan badanku ketika bangun. Rasanya aku mengantuk sekali, kurasa aku akan tidur beberapa menit lagi, soalnya ini hari minggu...

Aku merasakan Leon menyentuh kepalaku, membelaiku dengan lembut. Dia terdengar masih menelepon. Kira-kira, siapa yang meneleponnya ya?

"Land of Departure?" Kata Leon dan aku langsung menatapnya.

Land of Departure berada cukup jauh dari Hollow Bastion. Apakah dia mendapatkan misi di sana? Berarti, dia akan pergi beberapa hari?

Leon kembali terdiam ketika aku menatapinya. Dia menatapku sejenak, lalu memfocuskan pada HPnya kembali.

"Ya," katanya sambil mengakhiri panggilan.

"Kau dapat tugas?" Tanyaku sambil menatapnya.

"Yeah," dia mengangguk pelan. "Tapi besok baru berangkat."

Aku lega mendengarnya. Berarti aku tidak akan sendirian hari ini, karena Riku dan yang lainnya baru akan pulang besok. Ah! Tapi siapa yang memberi makan Sky hari ini ya? Semoga dia tidak kelaparan ketika aku pulang besok...

"Jika kau masih mengantuk, tidurlah lagi."

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku sudah terbiasa bangun pagi!" Balasku dengan senyum. "Biasanya kau masak atau makan di luar, Leon?"

"Makan di luar. Aku tidak sempat membeli bahan makanan, sehingga lebih sering mengandalkan makanan kaleng mau pun junk food," jawabnya datar.

"Oh..." Aku sedih mendengarnya. "Um, kalau begitu, bagaimana aku yang masak untukmu?"

"...Boleh. Tapi kita harus membeli bahan-bahan terlebih dahulu," katanya memberitahu.

Aku mengangguk.

Kami keluar dari apartment, menuju supermarket yang menjual sayur-mayur segar dan juga daging segar. Aku merasa, Leon memperhatikanku saat aku memilih bahan-bahan. Apakah ada yang salah dengan tingkahku?

Di tengah kesibukan memilih, kami bertemu dengan Mr. Cloud. Hum, sungguh kebetulan kami bertemu lagi...

"Good morning, Mr. Cloud," sapaku ketika melihatnya.

"Ah, morning, Sora. Kita bertemu lagi...," kata Mr. Cloud dengan datar, dia tidak terlihat terkejut melihatku. Tatapannya lalu tertuju pada Leon di sampingku. "Dia adalah?" Tanyanya.

"Dia adalah Leon, kakak kandungku," jelasku padanya. "Leon, Mr. Cloud adalah guru dan juga wali kelasku," jelasku pada Leon.

"Senang berkenalan dengan anda," kata Mr. Cloud sambil menyalami Leon.

Leon hanya mengangguk sambil menyalaminya. Entah mengapa dia terlihat waspada, ada apa ya?

"Saya baru tahu kalau kau mempunyai kakak kandung, Sora," kata Mr. Cloud dengan tenang, tidak terlalu terkejut.

"Yeah, saya baru mengetahui bahwa saya masih memiliki kakak kandung kemarin," jelasku.

Kami sedikit berbasa-basi. Mr. Cloud sempat bertanya, apakah aku mengerjakan pr. Ketika dia mengatakannya, aku baru ingat bahwa aku belum mengerjakan prku yang mulai menumpuk...

Geez, besok aku akan lembur mengerjakan pr di saat istirahat siang...

Setelah berpisah dengan Mr. Cloud, Leon masih terlihat waspada. Aku hanya bisa menatapnya dengan bingung, apakah dia mewaspadai Mr. Cloud? Tapi setelah Mr. Cloud pergi, dia masih terlihat waspada...

Saat menatap Leon, aku melihat sebuah titik merah di tubuhnya. Wajahku memucat melihatnya...

"Look out!" Teriakku sambil mendorong Leon.

Sebuah peluru melesat dan mengenai orang lain karena aku mendorong Leon. Aku dan Leon terjatuh menabrak rak sayuran. Leon segera bangun dan menarikku, berlari menghindari tembakkan yang datang bertubi-tubi. Aku dapat mendengar jeritan histeris, kaget dan panik melihat beberapa orang terkena tembakkan.

Leon terus menarikku berlari, hingga kami berbelok di balik sebuah gedung, berlindung dari tembakkan. Jantungku berdetak tidak karuan, tidak kusangka ada yang berani menyerang di siang bolong seperti ini. Mungkinkah mereka pembunuh pro, makanya mereka berani menembak di siang hari?

Kulihat Leon menyimpan sebuah pistol di jaketnya, mungkin dia memang selalu antisipasi? Aku mengeluarkan pistol kecil pemberian Riku, aku tidak membawa cadangan peluru, sehingga harus berhemat saat menembak...

"Leon, apakah kau membawa cadangan peluru?" Tanyaku sambil menatapnya.

"Aku hanya membawa tiga cadangan peluru," jawabnya sambil mengintai.

Leon lalu keluar dan menembak setelah memastikan posisi musuh. Dia menembak sebanyak tiga kali saja, karena dalam satu pistol hanya berisi enam peluru.

Dia lalu kembali berlindung, sepertinya tembakkannya gagal mengenai musuh, karena posisi musuh sangat jauh, begitulah analisaku. Senjata yang digunakan oleh musuh kami adalah senjata khusus untuk jarak jauh, dengan bantuan alat teropong, sehingga membuat akuransi tembakkan meningkat.

"Leon, bagaimana kalau kita mundur dulu? Tidak mungkin kita dapat melumpuhkan musuh jika posisinya sangat jauh...," kataku menyarankan.

"..." Leon terdiam sejenak. "Baiklah," katanya setuju. "Tetaplah waspada, Sora, jika dugaanku benar, kita sudah dikepung."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku dan Leon berjalan ke arah yang aman, tetapi tetap waspada. Dari kejauhan, aku dapat mendengar sirine polisi. Cepat juga polisi sampai...

Sebuah tembakkan meleset melesat melewatiku. Reflex kami mencari tempat berlindung agar tidak terkena tembakkan berikutnya. Arah tembakkannya berasal dari atas, sekitar tigapuluh derajat dari pandanganku.

Di depanku tidak terlihat apa pun, sedangkan di sebelah kiri dan kananku adalah gedung apartment mewah.

Dimanakah penembak itu...

Beberapa menit aku memperhatikan sekitarku, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di lantai tiga gedung apartment sebelah kiri, terlihat sebuah jendela terbuka. Jendela itu ditutupi oleh gorden mewah, terdapat seseorang yang bersembunyi di balik gorden sambil mengawasi kami...

Aku mengarahkan pistolku kepadanya, menutup mataku sejenak, menanyakan pada hatiku apakah posisi pistolku berada tepat padanya. Aku menembak sebanyak dua kali setelah merasa posisi pistolku tepat.

Ke dua embakkanku tepat mengenai penembak itu, penembak itu jatuh dan aku tidak dapat melihat keberadaannya.

Leon dan aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlari mendekat. Aku menginjak jemari Leon yang lipatnya menjadi pijakan, dia melemparku ke atas dan aku langsung memegang kusen jendela. Aku masuk dan bersiap untuk menembak, tetapi tidak ada siapa pun selain orang yang kutembak tadi...

Aku mengangkat bahuku, heran karena kukira masih ada orang. Aku berjalan mendekati jendela dan turun.

"Tidak ada siapa-siapa selain yang kutembak tadi di atas," jelasku pada Leon ketika turun.

Beberapa detik setelah aku turun, apartment yang kumasuki tadi meledak, tapi tidak mengenai bawah sini. Leon langsung melindungiku dari benda-benda yang jatuh di atas, syukurlah tidak ada kaca yang mengenainya...

"Mereka berusaha menghilangkan jejak," kata Leon sambil menatap apartment yang terbakar karena ledakan tadi. "Sebaiknya kita segera kembali ke apartmentku."

Aku hanya mengangguk. Selama perjalanan pulang, kami tidak diserang lagi, mungkin mereka mundur sementara karena polisi datang?

Begitu memasuki apartment Leon, Leon segera membuka tv dan mencari siaran berita...

Mengejutkan, apartment yang meledak tadi langsung dijadikan siaran langsung di berita. Perkiraan korban terkena tembakkan ada enam orang, dan korban tewas ada tiga orang...

"And I try walk away but I keep telling myself, he(she)'s the one for me..."

Aku terkejut mendengar HPku berbunyi saat serius melihat berita. Panggillan dari Kadaj...

"Hey, kau baik-baik saja?" Tanya Kadaj dengan tenang.

"Ah ya. Kau melihat berita? Bukannya kau lagi dalam tugas, Kadaj?" Tanyaku heran.

"Well, aku memang sedang dalam tugas. Aku menonton berita dari HPku," jawabnya.

"Oh..." Aku sedikit tercengang, bisa-bisanya dia bersantai saat sedang menjalankan tugas?

"Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan nada serius.

"Well..." Aku menjelaskan semuanya pada Kadaj, bahwa ada beberapa orang yang mengincar nyawa Leon dan juga aku yang berada di dekatnya.

Ditengah penjelasan, Leon meminta untuk meminjam HPku, dia ingin bicara dengan Kadaj...

Apa yang ingin dia bicarakan, ya?

To Be Continued...

Author Note: one chapter left! Don't go yet! XD