The Fate
EXO Members and another cast
Romance, supernatural, fantasy
Absolutelly T
..
..
..
[Chapter 1] – Who is He?
Kyungsoo membuka matanya. Rasanya perih dan panas. Pergelangan tangan dan kakinya terasa linu. Ia melebarkan matanya saat menyadari bahwa sedang tak berada didalam kamarnya.
Di sudut ruangan, ia bisa melihat seorang pria yang asing dimatanya. Tangannya terikat rantai perak dan dimasukkan kedalam sebuah jeruji perak.
Kyungsoo merasakan matanya memanas, dan jantungnya berdetak cepat. Nafasnya tercekat saat mendengar rintihan pria didepannya.
"Kyungsoo bertahanlah, jangan mati atau pria yang didepanmu juga akan mati"sebuah suara berbisik ditelinganya selembut angin malam yang biasa menerpa wajahnya. Kyungsoo membuka matanya dan memandang kearah pria itu yang sedang merintih dan menangis saat dua orang pria masuk kedalam ruangan kedap cahaya itu dan mencengkram erat rahangnya.
Dan mulai saat itu Kyungsoo merasa aneh ….
Kyungsoo terbangun. Dahinya berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal. Pikirannya berputar kembali kearah pria yang ada dalam mimpinya. Siapa?
Esoknya…
Sehun mengguncang tubuh Kyungsoo hingga pria mungil itu akan terjatuh dari ranjangnya. Dahinya berkerut dan Kyungsoo hanya menatapnya.
"Sehun-ah, apa yang kau lakukan?"tanya Kyungsoosambil berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. Memijat keningnyayang terasa pening.
"Hyung, kau harus menemaniku kerumah Tao-Hyung siang ini"kata Sehun sambil menghentakkan kakinya. Kyungsoo beralih memijat batang hidungnya, dan dia bisa mendengar Sehun mendengus. "Hyung…"rajuknya. Dan Kyungsoo kini merasa muak hanya bisa berdehem kecil.
Kyungsoo menghela nafas saat mendengar Shun keluar kamarnya dengan sorakan bahagia.
Sebuah celana khaki dan sebuah kaus V-neck putih membungkus tubuh mungil Kyungsoo yang tengah mengemudi. Sehun ada disampingnya sedang mendengarkan lagu melalui earphone-nya. Kyungsoo masih menatap lurus jalan dengan pikirannya yang terbang ke mimpinya.
Kyungsoo mengarahkan mobilnya agar terparkir rapi didepan rumah tua dengan dinding kayu milik keluarga Huang.
Sehun menarik tangannya agar lebih masuk kedalam rumah bercat putih tulang itu. Sehun mengetuk pintu mahoni berwarna biru didepannya hingga seorang wanita membuka pintu itu. "Hai, dengan keluarga Huang. Anda mencari siapa?"tanyanya. Kulitnya seputih salju, bibirnya mungil, dan matanya cantik. Juga dengan rambut hitam pekatnya.
"Hai Tiffany, aku mencari Tao-Hyung. Dia adakan?"tanya Sehun dan Tiffany mengangguk. Tiffany menyuruh Kyungsoo dan Sehun masuk kedalam dengan Sehun yang menarik paksa telapak tangan mungil Kyungsoo.
Dindingnya putih tulang, perabotan kayu hampir mendominasi dengan sofa marun dan meja kayu coklat. Tiffany mempersilahkan duduk, sedangkan dia akan pergi kedapur.
Kyungsoo menundukkan kepalanya, hingga suara gemeltuk lantai tangga menginterupsinya. Zitao duduk disofa single didepan mereka dan Tiffany datang setelah itu membawa tiga gelas the merah dan camilan.
"Hai Sehun, kau datang?"tanya Zitao. Kyungsoo menyeruput tehnya tanpa memperdulikan sepasang pria yang tengah berbincang. "Hai Kyungsoo, kakak sudah menunggumu dikamarnya, dia harap kau mau kekamarnya sebentar"kata Zitao. Kyungsoo hampir melupan sosok kakak Zitao yang sudah merajai hidupnya akhir-akhir ini.
"Baiklah, aku akan keatas"kata Kyungsoo seadanya. Zitao tersenyum kecil. "Kamarnya ada diujung lorong lantai dua"kata Zitao saat kaki mungil Kyungsoo sudah menginjak anak tangga pertama.
Kyungsoo berhenti didepan sebuah pintu biru. Kyungsoo mengetuknya dan masuk saat sebuah suara mempersilahkannya masuk kedalam.
Dinding warna plum menyapa Kyungsoo hangat saat kakinya menginjak kamar kakak Zitao. Diatas ranjang, ada seorang pria yang sedang terbaring lemas dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Kyungsoo berjalan mendekat dan duduk dikursi kecil yang ada disamping ranjang.
Pria itu menggenggam tangannya. Meremasnya pelan. "Aku merindukanmu Kyungsoo"katanya. Kyungsoo berani sumpah bahwa Baekhyun –kakak Zitao- yang didepannya ini bukan seperti Baekhyun yang sering dilihatnya. Kuat. Gagah, dan tatapannya tajam.
Kyungsoo meremas telapak tangan Baekhyun yang terasa dingin saat dinggenggam. "Apa yang terjadi padamu? Bahkan kau baru kembali dari Seoul dan sudah jatuh sakit"kata Kyungsoo pelan dan lembut. Tatapan matanya melembut saat bertatapan dengan mata coklat Baekhyun.
"Aku tak apa"kata Baekhyun dan Kyungsoo tersenyum miris. "Kau were Baekhyun. Harusnya kau bisa lebih kuat dari ini"kata Kyungsoo. Baekhyun menutup matanya pelan lalu tersenyum kecil. "Were juga bisa jatuh sakit Kyungsoo"katanya. Kini Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun dengan kedua telapak tangannya.
"Baiklah kuat, kau butuh sesuatu?"Tanya Kyungsoo. Baekhyun menggeleng. "Tidak aku hanya butuh kau"
XXXXXXXX
Kyungsoo terlihat sedang berkutat dengan sesuatu didapur.
Setelah menemani prianya hingga ia jatuh tertidur kemarin, Kyungsoo benar-benar tak bisa menentukan fokusnya. Bahkan saat dia memasak, pikirannya melayang jauh kepada sosok prianya yang sedang terbaring lemas diranjangnya.
Menit berikutnya, Kyungsoo berlari kecil saat dering telepon mengganggu pendengarannya. "Halo" "…" "Ah baiklah, Tiffany aku akan segera kesana".
Kyungsoo mengembalikkan gagang telepon ketempatnya. Manyambar mantel peraknya yang digantung digantungan. Menyetir dengan ugal-ugalan dan tak memperdulikan semua orang yang menyumpah-serapahi dirinya.
Sampai didepan rumah keluarga Huang. Kyungsoo bahkan tak mengetuk pintunya. Ia bisa mendengar suara Tiffany dan Tao yang menyuruh Baekhyun membuka pintu kamarnya.
Kyungsoo yang panik menaiki anak tangga dua-dua dan sampai diujung lorong dengan nafas yang terengah-engah. "Kyungsoo!"pekik Tiffany dan Tao saat melihat Kyungsoo. Ia tak memperdulikan apapun meraih piring sarapan Baekhyun dari tangan Tiffany. "Baekhyun buka pintunya sayang. Aku Kyungsoo"
Malamnya, Kyungsoo terpaksa menginap karena Baekhyun ingin tidur dipelukannya.
Tangannya terulur untuk mengelus rambut coklat Baekhyun pelan. Dengkuran halus Baekhyun terdengar seperti irama tersendiri bagi Kyungsoo. Secara tiba-tiba, mata Baekhyun terbuka. Kyungsoo tersenyum. "Kau masih disini Kyungsoo?"Tanya Baekhyun seperti berbisik. Kyungsoo beralih mengelus telapak tangan Baekhyun yang mulai menghangat. "Ya sayang"
XXXXXXXX
18 Maret 1989
Kyungsoo terbangun dengan selimut Baekhyun yang menutupi tubuhnya telanjangnya hingga leher. Ia sendiri, dengan korden biru pastel yang terbuka. Membiarkancahaya matahari merajai kamar.
Kyungsoo beranjak dari tempat tidur dan menyibak selimutnya. Tubuhnya benar-benar terasa pegal dan pantatnya terasa ngilu. Setelah melalui usaha keras, akhirnya ia bisa berdiri dan meraih bathrobe putih yang tersampir begitu saja dipunggung sofa.
Kyungsoo mengisi tub dengan air hangat dan menaburkan sedikit garam mandi. Berendam didalam tub dengan aroma yang begitu mirip dengan Baekhyun.
Kyungsoo menarik sebuah memo yang ditempelkan Baekhyun dipintu kulkas.
'Hai, Kyungsoo.
Aku harus perg bertemu ketua saat fajar. Kalau kau masih merasa ngilu dibagian bawahmu, kau bisa meminta Tiffany mengobatinya. Salepnya di meja nakas kamar mandi'
Oh baiklah, jujur Kyungsoo masih merasa ngilu dibagian bawah tubuhnya.
"Hai Tiffany. Bisa kau bantu aku?"tanya Kyungsoo saat dia melihat Tiffany ada diujung tangga lantai dua. "Apa yang harus kubantu Kyungsoo? Atau kau masih merasa ngilu? Baekhyun sudah memberitahuku tentang itu"kata Tiffany.
Setelah selesai dengan urusan oles-mengoles. Tiffany mengajak Kyungsoo duduk di veranda belakang. Memberi Kyungsoo segelas teh lemon dan sepotong kue buatannya. "Tiffany, kau pikir kenapa Baekhyun lebih mempercayaimu untuk melakukan itu dari pada orang lain? Hmmm… Zitao misal"tanya Kyungsoo. Tiffany menyeruput teh lemonnya. "Aku tak tahu mungkin salah satu hal yang dipertimbangkan Baekhyun adalah orientasi seks"
Meminta tolong pada Tiffany untuk mengoleskan salep dibagian pribadinnya adalah opsi terbaik dari segala opsi terburuk yang dimiliki Kyungsoo. Karena pasalnya Tiffany tak terlalu tertarik dengan pria. Yah dia mungkin seorang Lesbian. Ya lesbian.
XXXXXXXX
10 April 1989
Pagi yang cerah dengan awan putih yang melayang dilangit menutupi matahari sehingga sinarnya tak sampai jatuh keatas kelopak mata Kyungsoo yang tertutup.
Telinganya ia sumpali earphone yang memutar lagu klasik favoritnya. Sehun didepannya dengan Luhan disampingnya yang sedang menyetir.
Ia bahkan tak tahu kemana dua pasangan setengah gila yang tadi menculiknya saat dia akan menutup tubuhnya dengan selimut dan terlelap. Kyungsoo berdecak. "Kemana aku akan kau bawa bocah?"
"Sudahlah Kyungsoo-Hyung. Ini tak akan merugikanmu"
"Tapi tetap saja. Ini sudah melewati jam tidur dan sekali lagi Luhan aku bukan makhluk supernatural"kata Kyungsoo. Luhan terkekeh. "Jangan egois Kyungsoo sayang. Kalau kau membiarkan aku pergi berdua dengan adikmu yang seksi ini, aku tak yakin dia pulang masih perjaka"kata Luhan sambil meliriknya dari kaca spion tengah.
Kyungsoo mendengus. "Jika kau berani saja menelanjanginya. Aku bersumpah akan menelanjangimu disiang bolong"ancam Kyungsoo sambil mencopot satu earphone-nya. "Aku tak janji"
Suara dentuman music yang memekakan telinga membauat Kyungsoo mau tak mau harus menutup telingannya dengan jari telunjuknya. Kyungsoo yakin kalau semua manusia yang memenuhi tempat biadab ini adalah makhluk supernatural.
Sehun menarik tangan mungilnya untuk semakin masuk kedalam lautan manusia yang sedang menari mengikuti alunan musik yang diputar DJ. "Hai Eunhyuk"sapa Sehun pada seorang pria berambut perak yang sedang menuangkan sebotol bir pada seorang pelanggan.
"Hei Sehun. Dan… siapa makhluk manis disampingmu?"
Dan Kyungsoo merasa seperti ditelanjangi. "Dia kakak laki-lakiku. Kyungsoo"kata Sehun. Kyungsoo sedikit menundukkan kepalanya. "Lee Hyuk-Jae"katanya dan Kyungsoo mengangguk. "Bisa aku memanggilmu Eunhyuk saja? Itu terdengar lebih akrab"kata Kyungsoo. "Oh Baiklah"
Kyungsoo masih duduk dikursi putar yang ada didepan konter. Didepannya ada sebuah gelas berleher tinggi yang berisi champagne yang diberi Eun-Hyuk tadi. Mata bulatnya menelusuri segala sudut tempat ini. Gelap. Berisik. Dan. Panas.
Seorang pria duduk disampingnya dan memesan sebuah Egg Nog. Kyungsoo menatap kearah pria iu sebentar dan mengalihkan pandangannya saat mata pria itu juga alih menatapnya.
Jantungnya berpacu tak normal dan Kyungsoo bisa merasakan wajah dan seluruh tubuhnya. Matanya memandang pria disampingnya yang tengah meminum Egg Nog-nya. "Hai"sapa Kyungsoo.
Matanya merah darah berbentuk oval hampir bulat dengan rambut mowhak berwarna coklat gelap. Tampan.
"Kyungsoo-Hyung. Ayo kembali. Luhan-Hyung sudah selesai dengan urusannya"teriakkan Sehun yang hampir teredam musik merambat memasuki pendengarannya.
Adiknya berdiri didepannya berjarak tiga meter didepannya. Kyungsoo hampir beranjak saat sebuah tangan menahan lengannya. Pria itu memandangnya penuh harap. "Tinggallah sesaat. Aku akan mengantarmu pulang"kata pria itu.
Kyungsoo ingin menolak, tapi ada sebuah perasaan yang mendorongnya untuk tetap tinggal.
Pikirannya kalah. Kyungsoo menghela nafas. "Baiklah. Tapi izinkan aku untuk berpamitan pada adikku"kata Kyungsoo.
"Jika aku berkata ya. Itu tidak menjadi jaminan kalau kau akan kembali kemari"
Kyungsoo menghela nafas. "Baiklah"katanya. "Sehun-ah. Aku akan pulang sendiri nanti"teriak Kyungsoo. Sehun mengangguk lalu berjalan meninggalkan Kyungsoo dengan lengan Luhan yang tersampir dibahunya.
Kyungsoo duduk ditempatnya lagi. Dan meresapi dengan pasti wajah pria yang duduk disampingnya. Yang sudah mencegahnya pulang dengan adiknya. Dan setelah meresapinya dengan pasti.
Ia baru sadar kalau.
Kalau…
Mereka…
Mirip…
To be continue…
I'm back with Chapter 1 of The Fate
I hope that you will happy 'cause the first chapter is updated.
So Read and Review?
Channie10
