..
..
..
..
[Chapter 2] – The Incident
Sebuah perasaan seperti mencokol ingin keluar saat Kyungsoo menyadari bahwa ia adalah satu-satunya manusia disini.
Tangan pria itu masih memegang lengannya. "Ah, bisa kau lepaskan ini? Ini terasa sakit"kata Kyungsoo dan pria itu dengan pelan mulai melonggarkan pegangannya.
"Do Kyungsoo"
Pria itu tak bergeming masih diam sambil memandang uluran tangan Kyungsoo alih-alih menjabatnya. Dengan jantung yang berdetak kencang Kyungsoo menarik kembali uluran tangannya dan beralih pada champagne-nya.
XXXXXXXX
Baekhyun sudah mengetuk pintu rumahnya saat jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Matanya merah dan nafasnya memburu. Kyungsoo menjerit saat tubuh Baekhyun limbung ditubuhnya.
.
.
.
Kyungsoo melirik kalender pribadinya. Dan benar saja, ini malam bulan purnama. Dan Baekhyun sudah menunjukkan sisinya yang lain.
Kyungsoo masih mengompres luka-luka goresan yang ada diwajah dan lengan pria itu. Setelah seminggu yang lalu meninggalkan Kyungsoo dengan pantat yang ngilu sekaran dia datang kembali dengan tubuh penuh goresan.
"Hyung. Tidakkah kita harus memanggil dokter? Atau Lay-Hyung saja?"tanya Sehun sambil duduk ditepi ranjang Kyungsoo.
Ia meraih gagang telepon yang ada dimeja nakasnya dan segera menelepon Lay.
.
,
,
"Hyung, apa yang terjadi padanya?"tanya Kyungsoo risau. Jantungnya bahkan tak mau berhenti berdetak dari tadi dan dia hanya bisa meremas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih sebagai pelampiasannya.
"Dia tak apa. Suho-Hyung juga pulang penuh luka Kyungsoo. Hanya saja dia tak terlalu parah"kata Lay. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ingin menangis sekarang. "Apa Kris-Hyung juga terluka?"
"Dia bahkan lebih parah"
..
..
..
..
Sore itu. Dengan ditemani hambusan angin musim gugur yang hangat dan langit jingga yang menghangatkan jiwa. Kyungsoo berdiri dibalkon kamarnya. Ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari sore yang menerpa kulitnya. Berhenti dari kegiatannya saat sebuah lengan melingkar dipinggangnya.
"Sayang, masuklah. Ini sudah hampir malam"kata pria dibelakangnya. Kyungsoo menumpukan kedua telapak tangannya diatas lengan pria itu. "Baekhyunnie. Ini malam bulan purnama"kata Kyungsoo. Baekhyun tak menjawab, hanya makin mengeratkan lengannya dipinggang Kyungsoo.
"Tidakkah insting berburumu rasanya menggebu-gebu?". Baekhyun menggeleng lalu mengecup perpotongan leher Kyungsoo. "Tidak. Ketua memintaku menghadap"
"Kau tak mau berburu Baekhyunnie? Kau tak harus menjalankan tugasmu kalau kau tak mau"
"Tidak Kyungsoo, kau tak mengerti. Kris harus dihormati karena dia berdarah were asli"jelas Baekhyun. "Kau tak merasa lelah?"tanya Kyungsoo. Langit jingga sudah mulai pudar tergantikan dengan langit malam yang gelap.
Dari atas balkonnya. Kyungsoo bisa melihat hutan pinus yang ada dihalaman belakang rumahnya.
"Tidak"
"Tapi kau baru saja kembali tadi pagi dengan tubuh penuh luka"kata Kyungsoo sambil menyenderkan tubuhnya didada Baekhyun. "Percayalah aku tak apa. Aku siap untuk malam ini"
XXXXXXXX
Kyungsoo duduk diatas sofa zamrud ruang tengahnya. Lagu klasik lagi-lagi menggema dan merajai rumahnya hingga kesudut-sudut ruangan.
Perasaan kalut membuat Kyungsoo merasa seperti ingin muntah setiap saat. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Baekhyun yang sedang ditempat yang tak Kyungsoo ketahui.
Baginya, berpacaran dengan seorang werewolf berarti sudah masuk terlalu dalam kedunia supernatural.
"Hyung"panggil Sehun dari lantai dua. Celana selutut dan pakaian lengan panjang.
"Luhan akan datang?"
"Ya, dan dia mengajakku untuk menginap dirumahnya"kata Sehun sambil berjalan turun menghampiri Kyungsoo. Pria mungil itu menghela nafas berat lalu menepuk sofa kosong disebelahnya.
"Hyung kau baik?"
"Ya. Aku rasa ya"jawabnya. Sehun memenjarakan telapak tangan mungilnya. Kyungsoo meletakkan kepalanya diatas bahu lebar Sehun. Dia tak baik. Ya tak baik.
XXXXXXX
Setelah kemarin Sehun dijemput Luhan untuk menginap dirumahnya. Kyungsoo langsung mentup tubuhnya dengan selimut kusut wangi peninggalan ibunya. Ia selalu merasa lebih baik saat menhirup aroma ibunya.
Paginya Kyungsoo membuka korden merah mudanya dan membiarkan cahaya matahari perlahan menerangi kamarnya. Ia selalu menyibukkan dirinya dengan segala pekerjaan rumahnya untukmengalihkan pikirannya tentang apa yang sedang dilakukan pria werewolf-nya.
Saat Kyungsoo akan menyantap makaroninya sebuah ketukan pintu mengganggu pendengarannya. Kyungsoo memekik pelan saat menyadari bahwa Baekhyun-lah yang mengetuk pintu rumahnya.
Kyungsoo memeluk Baekhyun. Begitu erat. Sampai Baekhyun terbatuk-batuk. Kyungsoo manangis dipelukannya setelah semalaman menahan rasa khawatir yang seakan-akan membuatnya mual.
Kyungsoo memberi Baekhyun makaroninya dan memberinya juga segela coke. "Kyungsoo, kau baik? Kenapa kau begitu aneh pagi ini?"tanya Baekhyun.
"Aku baik saat melihatmu kembali tanpa tubuh penuh goresan sepertu kemarin"
Baekhyun terkekeh. "Kau berlebihan tentang diriku"katanya. Kyungsoo mengaduk-aduk makaroninya. Mood-nya berubah hanya karena perkataan Baekhyun barusan.
"Apa aku tak boleh mengkhawatirkan kekasihku sendiri?"
Baekhyun berdecak. Begitu bingung dengan perasaan Kyungsoo yang sangat sensitif. "Bukan begitu sayang. Hanya saja, jangan membuat dirimu sendiri kalut oke? Aku tak mau melihatmu sakit hanya karena rasa khawatirmu terhadapku"katanya dengan pelan dan lembut.
Kyungsoo menghela nafasnya. Apakah dia terlalu protektif?
XXXXXXXX
Kyungsoo mengangkut sebuket bunga mawar merah yang besar dan menaruhnya dikeranjang sepedanya. Kaki-kaki mungilnya dengan pelan mengayuh pedal sepeda dan membawanya kesebuah tempat.
Makam orang tuanya.
Sejujurnya, Kyungsoo tak tahu dengan pasti apa penyebab orang tuanya meninggal. Dan pada saat itupun hanya tinggal Sehun kecil dan dirinya yang berusia tiga belas tahun. Menyedihkan.
Kyungsoo merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan saat melihat jasad orang tuanya yang sudah tewas diatas ranjang mereka.
Pada saat itu Sehun kecil benar-benar kalut begitu juga Kyungsoo. Tapi tak ada waktu lagi untuk menangisi kepergian orang tuannya. Kyungsoo harus membangun kehidupannya lagi dan membuat Sehun melupakan tentang masa lalu yang bahkan tak mau Kyungsoo ingat.
Tapi saat dia merasa sedih, entah kenapa dia selalu ingat wajah ibunya dan secara reflek, dia akan memeluk erat selimut kusut peninggalan ibunya.
XXXXXXX
Saat Kyungsoo kembali dan memarkirkan sepedanya digarasi. Kyungsoo mendengar suara mobil mendekat, Kyungsoo tahu itu bukan Luhan. Karena dia vampir dan tak mungkin dia hadir dipetang hari.
Kyungsoo melirik mobil merah jib yang terparkir dihalaman rumahnya. Kyungsoo tak tahu pasti, tapi wajahnya tak asing.
Setelah bertarung dengan ketukan pintu membuyarkan pikirannya.
Kyungsoo membuka pintunya dan melihat sosok pria tinggi dengan rambut keemasan.
"Hai Kyungsoo"
Kyungsoo mengangkat setengah bibirnya. Ia benar-benar merasa familiar dengan wajah western pria disampingnya.
"Kau masih ingat aku?"
Kyungsoo tersenyum kecil. "Uhm… well sebenarnya tidak"katanya canggung lalu mempersilahkan pria tinggi didepannya untuk masuk.
"Aku menyesal bahwa kau benar-benar tak mengenalku sekarang"katanya dengan nada yang penuh penyesalan. Sedangkan Kyungsoo tak cukup peka untuk mendengar suara penyesalan pria didepannya, ia masih memutar otak untuk benar-benar mengingat-ingat pria didepannya.
"Aku Kris"
Dan saat itu juga Kyungsoo membulatkan mulutnya.
XXXXXXXX
22 Juni 1989
Kemarin setelah sosok teman lamanya datang berkunjung kerumahnya. Kyungsoo tak henti-hentinya meruntuki dirinya karena tak mengingat wajah pemimpin werewolf yang sudah dikenalnya saat dia masih berumur lima tahun.
Luhan mengantar Sehun pulang tepat saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Sehun pulang dengan keadaan loyo dan dia mengaku bahwa pantat dan punggungnya sakit dan linu. Dan pada saat itu juga, Kyungsoo menghadiahi Luhan sebuah glare yang mematikan.
"Sehun-ah, kau bisa turun sendiri bukan? Ya Tuhan, berapa ronde dia menghajarmu?"teriak Kyungsoo frustasi. Sehun mengaku masih merasa sakit dan linu dibagian pribadinya yang habis dijebol dan dihajar Luhan. Kyungsoo bersumpah akan menceramahi vampir mesum yang sudah menggagahi adiknya yang polos.
Kyungsoo memapah Sehun untuk menuruni anak tangga satu persatu. Bahkan Kyungsoo juga sudah mengolesi salep disana.
Kyungsoo memberi Sehun bacon dan telur mata sapi untuk menu sarapannya. "Hyung, kenapa rasanya begitu sakit?"keluh Sehun sambil memegangi punggungnya dan memejamkan matanya.
Kyungsoo berdecih. "Jangan terlalu polos Sehun-ah! Apa kau juga akan menanyakannya ada semua uke yang kau kenal?!"teriak Kyungsoo frustasi sambil meremas rambut coklat kemerahannya.
Sumpah, sudah berkali-kali Sehun mengatakan itu dan Kyungsoo lelah terus menjawab seadannya. Demi apapun, mereka sedang sarapan sekarang. Dan apakah Kyungsoo terlalu egois menginginkan sarapan yang tenang dan tentram?
XXXXXXXX
Setelah sarapan selesai, Kyungsoo memutuskan untuk mengantar adiknya kekamarnya dan menyuruhnya tidur. Kyungsoo berencana akan kerumah Baekhyun petang nanti.
Ia sungguh tak tahan degan ocehan Sehun yang terus saja keluar dari bibir tipisnya.
Kyungsoo memakai baju sweater tebal rajut yang diberikan Suho –werewolf kekasih Lay- pada saat malam tahun baru.
..
..
..
Kyungsoo mengetuk pintu mahoni biru keluarga Huang. Kyungsoo memberikan Tiffany tiga tangkai mawar saat wanita cantik itu membuka pintunya dan memberikan Kyungsoo sebuah senyuman.
"Hai, Kyungsoo. Kau datang! Hei kau cocok dengan sweater-mu itu"
Kyungsoo memberikan senyuman terbaiknya. "Terimakasih atas pujianmu. Bisa bertemu dengan Baekhyun? Dia adakan?"tanya Kyungsoo saat Tiffany mempersilahkannya masuk.
"Ya dia ada. Naiklah keatas, aku akan mengantarkan minum dan camilannya keatas"kata Tiffany dan melangkahkan kakinya ke dapur.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan berjalan melewati lorong lantai dua yang hanya diterangi dua lampu bohlam yang meremang. Kyungsoo mengetuk pintu mahoni biru dan mendengar suara pria'nya' yang menyuruhnya masuk.
Baekhyun sedang berdiri dibalkon kamarnya saat Kyungsoo melangkah masuk kedalam kamarnya yang berdinding plum itu. Aroma pinus menguar dan menyambar indra penciuman Kyungsoo. Baekhyun membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis kepadanya.
"Hei, ada apa?"
Kyungsoo tak mengindahkannya malah memeluknya erat dan membenamkan wajahnya didada bidang kekasihnya. "Kau tak tahu apa yang terjadi hari ini"
"Apa yang terjadi? Katakan padaku. Apa ada seseorang yang menyakitimu?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya yang ada didekapan Baekhyun. Baekhyun mengangkat dagunya dan menatap dalam mata bulat Kyungsoo. Dan hampir mencium bibir tebal milik kekasihnya kalau saja ketukan pintu kamarnya tak menyadarkannya.
Tiffany masuk dengan membawa dua gelas jus jeruk dan mangga serta sepiring brownies cokelat yang berlapis strawberry. Kyungsoo menebak kalau itu adalah makanan favorit Baekhyun.
Tiffany meninggalkan kamar Baekhyun dengan aroma mawar yang kuat. Kyungsoo hanya berdiri dibalkon sedang Baekhyun mengambil brownie dan membawanya dengan tisu serta menyeruput jusnya.
Dari balkon Kyungsoo bahkan bisa mencium bau buah musim panas yang sangat menggiurkan tenggorokannya. "Sayang, kau mau jusnya? Atau brownies?"
"Kau bisa ambilkan apapun. Jika itu jus, tolong kurangi jumlah es batunya"
Meskipun suasana seakan benar-benar akan membakar tubuh Kyungsoo. Ia tak pernah sekalipun berpikir untuk mengkonsumsi es batu dalam jumlah besar –pengecualian untuk es krim yang melimpah dikulkasnya-.
Baekhyun kembali dengan dua gelas jus dan dua buah brownies diatas tisu. Ia memasukkan dua kubus es batu kedalam jus Kyungsoo.
"Terimakasih"
"Sama-sama". Baekhyun mengambil tempat diatas kursi kayu panjang dengan kanopi putih. Kyungsoo masih mempertahankan tempatnya didekat pagar besi hitam dan membiarkan tubuhnya terhujani oleh sinar matahari.
"Kau akan hitam Kyungsoo. Cepat kemari atau jus-mu akan terasa hambar"
"Itu yang aku inginkan kalau kau tahu. Aku tak mau menjadi pria mungil yang gendut"kata Kyungsoo lalu berjalan pelan kebawah kanopi dan duduk disamping Baekhyun. Meraih brownies-nya dan menyeruput kecil jusnya.
"Kau suka rasa musim panas?"
"Hm… tidak terlalu, aku lebih menyukai rasa cokelat panas yang mengaliri tenggorokanku yang dingin dimusim dingin"kata Kyungsoo. Baekhyun terkekeh pelan. "Kau harusnya memanggilku saat kau merasa kedinginan. Aku akan selalu siap untuk menghangatkanmu"
..
..
..
Kyungsoo pulang saat jam menunjukkan pukul setengah enam petang. Ia yakin Sehun sudah menelepon Luhan untuk mengurusnya barang sebentar saat Kyungsoo sedang pergi.
Kyungsoo melihat mobil bak terbuka milik Luhan yang terparkir dihalaman rumahnya. Kyungsoo mengunci mobilnya dan merapatkan jaketnya. Membuka pintu coklat rumahnya dan mencium bau sup miso panas yang menyergap penciumannya.
XXXXXXXX
Kyungsoo berdiri didepan sebuah gereja tua yang letaknya tak berjarak dua blok dari rumahnya. Ia berencana untuk sembahyang hari ini walaupun itu hal yang sudah jarang karena. Well, banyaknya makhluk supernatural.
Kyungsoo mengambil tempat dibarisan tengah dan mendengarkan dengan seksama lagu rohani yang membuatnya tenang. Ini benar-benar terdengar seperti lagu klasik yang memenuhi mp3 miliknya.
Kyungsoo menelungkupkan telapak tangannya menjadi satu. Memejamkan matanya dan mememulai membuat sebuah do'a.
Saat matanya terpejam. Kyungsoo membayangkan dirinya dan Baekhyun berdiri didepan altar dengan seorang pendeta. Dan itulah do'a Kyungsoo.
Menjadi salah satu dari keluarga Huang dan mengadopsi beberapa anak dan menjadi ibu yang baik. Bukankah itu tak terlalu berlebihan?
XXXXXXXX
24 September 1989
Kyungsoo bahkan tak tahu bagaimana bisa ia duduk dikursi tingga bar dengan segelas bir didepannya. Sehun lagi-lagi menyeretnya kesebuah pertemuan gila yang pastinya juga dihadiri oleh Luhan.
Kyungsoo merasa seperti seorang bodyguard yang harus menjaga Sehun kapanpun dan dimanapun. Itu mulai terdengar gila.
Seseorang meraih bahunya dan Kyungsoo membalikkan badannya. Pria yang ditemuinya saat Sehun pertama kali mengajaknya untuk datang ke pertemuan vampir.
"Hai Kyungsoo"
Kyungsoo mengangkat bibirnya dan membentuk sebuah garis senyum yang manis. Ia bahagia karena pria didepannya mengingatnya dan sudah mulai mau berinteraksi dengannya.
"Kau datang?"tanya Kyungsoo. Pria itu meraih kursi tinggi kosong disamping Kyungsoo dan memesan segelas rum dengan tambahan ceri.
"Kau tahu aku vampir Kyungsoo. Dan perkenalkan namaku Park Chanyeol"
Kyungsoo lagi-lagi tersenyum dan tak bisa mengalihkan pandangannya kecuali pada wajah putih yang bersinar tertimpa lambu disko didepannya. Ia benar-benar tampan.
Dan familiar.
..
..
..
Kyungsoo memutuskan untuk bergabung dilantai dansa saat melihat Sehun dan Luhan yang tengah berdansa disana. Ia mengambil tempat disamping Luhan, dan memastikan bahwa vampir mesum itu tak mencumbui adiknya.
Mata bulatnya menajam saat Kyungsoo menyadari bahwa tak hanya dirinya dan Sehun yang seorang manusia disini sekarang.
Pris berambut hitam pekat dengan garis wajah yang tegas menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan dimata Kyungsoo. Dan saat pria itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam jaketnya…
"Luhan-Hyung! Awas!"
Ia bisa merasakan bagaimana darah keluar dari pipinya yang tergores sebuah pisau silet yang dibawa pria itu. Luhan menggeram disampingnya, "Kau melukainya"
Kyungsoo masih menyeka darah yang mengalir dipipiny. Ia membulatkan matanya saat menyadari kalau pria itu akan membunuh Luhan.
"Luhan-Hyung! Awas pasak!"
Teriakan Kyungsoo menggema dan rintihannyapun juga masih terdengar. Pasak kayu yang dibawa pria itu bersarang diperut bawahnya.
Dan detik itu juga Kyungsoo tak tahu apa yang terjadi.
XXXXXXX
Suasana musim gugur menemaninya. Daun-daun yang berubah warna dan gugurnya daun-daun itu menjadi pemandangan indah bagi Kyungsoo.
Sebuah garis indah melintang diwajahnya dan sekejap menghilang saat ia menyadari bahwa langit petang yang dilihatnya tadi sudah tergantikan oleh langit hitam dan angin dingin yang terasa seperti menantangnya dan menusuknya.
Seorang pria berambut hitam dan bergaris wajah tegas mendekat padanya. Membawa sebilah pisau dengan seringaian yang tak kunjung menghilang dari wajahnya.
Ia bisa merasakan kalau tubuhnya menggigil. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya hingga ia membuat luka yang menguak disana.
Pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan Kyungsoo dan menyeka darah yang ada dibibirnya. Kyungsoo masih menggingil saat tangan dingin itu mengusap bibir bawahnya.
"Kau cantik, tapi sayang sekali aku tak terlalu peduli dan aku harus membunuhmu"
Dan sebilah pedang seperti akan menghunusnya berada diatas kepalanya.
Dan ….
Kyungsoo membuka matanya. Peluh benar-benar membanjiri keningnya. Ia merasakan nyeri dibagian perut bawahnya.
"Akh"
Teriaknya dan dengan sekejap Kyungsoo bisa mendengar suara beberapa orang berlari. Dan
Brak…
Baekhyun membuka pintu kamarnya dengan segenap perasaan khawatir yang memenuhi perasaannya.
"Sayang, kau baik?"Tanya Baekhyun sambil duduk disamping ranjang Kyungsoo. Wajah prianya benar-benar kacau dan Kyungsoo menyesal bahwa itu karena dirinya.
"Apa yang terjadi padaku?"
Baekhyun menggenggam erat telapak tangannya. "Kau pulang dengan luka akibat pasak yang tertancap disana"
Kyungsoo menelan ludahnya kasar. "Jangan lakukan apapun"
Baekhyun mengerutkan alisnya. Tak begitu mengerti dengan apa yang dimaksud Kyungsoo.
"Aku tahu kau akan menyakiti atau bahkan akan membunuh orang yang melakukannya"
Baekhyun menghela nafas, garis khawatir dan takut dimuka Kyungsoo membuat emosinya menyusut. "Aku tak akan melakukan apapun kalau kau berjanji akan baik"
"Aku janji"
To be continue…
Annyeong!
Saya kembali dengan chapter 2 The Fate
Meskipun reaksinya gak terlalu banyak tapi saya masih berterimakasih sama semuanya yang udah follow and favorite ff abal saya
Mind to review?
Channie10
