Author Note: Update again :3 *on time* enjoy the snack :P *slap!*
Troublesome Family
Chapter 18
Aku terbangun dan melihat Leon sudah terbangun, menatapi layar HPnya. Karena masih mengantuk, aku kembali memejamkan mata, mencoba tertidur kembali. Sayangnya tidak bisa, karena Leon membangunkanku kembali...
"Sora..." Dia menyentuh kepalaku. "Maaf aku menganggumu, tapi bisakah kau bersiap-siap sekarang?" tanyanya.
"Hm..." Aku mengangguk pelan, masih ngantuk.
Aku bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi Leon setelah menabrak dinding sekali. Aku berjalan dengan mata tertutup.
Aku melepas seluruh pakaianku dan menyalakan kran. Aku mencoba membuka mataku yang berat, jika tidak kupaksakan terbuka, aku bisa tertidur ketika sedang mandi...
Aku bersin setelah tersiram air selama sepuluh menit. Sulit sekali mengusir rasa kantuk ini, meski tubuhku sudah mengigil terkena air, tapi rasa dingin ini bagaikan tidak terasa jika kau mengantuk.
Sekali lagi aku bersin, dan segera keluar pancuran shower. Tubuhku mengigil sangat kuat, sampai aku merasa dunia bergetar karena kakiku ikut mengigil.
Aku keluar setelah mengenakan pakaian. Leon terlihat sedang duduk sambil meminum kopi, tidak memakan apa-apa.
"Kau tidak memiliki roti tawar?" tanyaku heran.
"Tidak, karena aku tidak memiliki pemanggang," jawabnya.
"Kalau begitu, aku akan masakan sesuatu untukmu," kataku sambil berjalan mendekati lemari esnya.
Well, kuputuskan untuk memasak makanan yang mudah saja. Kebetulan terdapat sarden kaleng dan juga kentang potong siap goreng.
Kami makan bersama. Setelah selesai, kucuci seluruh peralatan memasak dan makan. Tidak baik ditinggalkan begitu saja, soalnya Leon tidak akan kembali ke apartment ini dalam waktu dekat. Jadi, tempat ini harus kupastikan bersih sebelum dikunci.
Untungnya, Leon merupakan orang yang bersih. Sudah kupastikan seratus persen tidak ada sampah yang tertinggal. Jadi kami bisa pergi meninggalkan apartment ini selama beberapa hari dengan tenang.
Ketika berada di lobi bawah, aku menghela napas sedih. Sungguh singkat sekali pertemuanku dengan Leon. Sekarang, kami harus berpisah lagi dan tidak bisa bertemu dalam beberapa hari ke depan.
"Aku akan mengantarmu ke sekolah," kata Leon sambil menyentuh kepalaku.
"Thanks," balasku dengan senyum.
Kami berjalan ke parkiran. Astaga, aku baru tahu ternyata Leon mempunyai mobil. Sepertinya sebuah mobil mewah, tapi aku tidak tahu nama mobil ini karena aku tidak terlalu menyukai otomotif.
"Masuklah," kata Leon setelah membuka kunci mobilnya.
Aku mengangguk. Saat masuk, mobil ini mempunyai kursi yang empuk. Terdapat dua buah speker di depan dan di belakang. Ah, bahkan ada TV juga. Mewahnya...
Sesaat setelah menyala, mobil ini melaju dengan kecepatan sedang. Mobil ini berjalan menuju sekolahku dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Hm, sejak kapan Leon tahu lokasi sekolahku? Rasanya aku tidak pernah memberitahukan lokasi sekolahku. Apakah Dad yang memberitahukan lokasi sekolahku?
"See ya, Leon," kataku sebelum keluar dari mobilnya.
Leon mengangguk. Mobilnya melaju menjauhiku. Aku menatapi mobilnya hingga tidak terlihat, lalu menghela napas. Aku berjalan masuk ke wilayah sekolah dan langsung menuju kelas. Saat masuk, aku melihat Roxas sedang duduk di kursinya. Apa aku sedang berhalusinasi? Aku mengucek mataku. Aku tidak berhalusinasi. Roxas terlihat tersenyum saat melihat sosokku. Aku berlari mendekati dengan tidak sabaran.
"Roxas!" teriakku sambil memeluknya. "Ini kau, bukan!" tanyaku masih tidak percaya.
"Well, aku ini hantunya," jawabnya dengan nada bercanda. "Bercanda. Ya, ini memang aku. Siapa lagi yang ada dihadapanmu kalau bukan Roxas?" tanyanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa. "Kau tahu, aku cemas sekali karena kau sudah koma beberapa hari! Aku khawatir kau tidak akan pernah bangun," jelasku dengan sedih.
"Aku masih punya alasan mengapa aku tidak boleh mati. Maka dari itu aku terus berjuang untuk bertahan hidup," balasnya dengan senyum. "Kau tahu, kau salah satunya alasanku."
"Huh?" Aku terkejut mendengarnya. "Aku?"
"Yap. Aku masih belum mengajarkan banyak teknik skate board dan kau belum mentraktirku makan karena aku sudah mengajarmu secara gratis," jelasnya. "Tentunya aku tidak ingin pergi sebelum menagih utangmu," lanjutnya dengan senyum sinis.
Aku hanya tertawa datar mendengarnya. Yah, paling tidak dia masih memiliki alasan untuk hidup.
Saat pulang, Roxas bilang dia ingin mampir ke mansionku. Awalnya, aku langsung waspada dan ragu apakah boleh aku mengajaknya. Tapi setelah dia mengatakan bahwa dia datang karena memang ada urusan dengan Dad—Dad yang memanggilnya tepatnya, kewaspadaanku langsung menghilang. Hum, tumben Dad memanggil pembunuh yang bukan bawahannya?
Ketika sampai di Mansion, aku tidak melihat tanda-tanda mereka sudah pulang. Gerbang mansion masih terkunci.
"Belum ada yang pulang," kataku sambil menghela napas.
Kubuka gembok gerbang dan membuka gerbang mansion. Roxas mengikutiku masuk dari belakang. Saat kubuka pintu mansion, sesuatu mendadak menubrukku hingga jatuh dan membuatku kaget hingga menjerit.
"Sky?" kataku heran saat melihat seekor anjing putih berdiri di atas tubuhku.
Sky menjilatiku berkali-kali, lalu menggong-gong. Dari cara Sky menggong-gong, sepertinya dia meminta makan. Riku pasti lupa memberinya makan...
Roxas menyingkirkan Sky dari tubuhku dan aku bangun.
"Um, Roxas, kau bisa menunggu sambil menonton TV di sana," kataku sambil menunjuk sofa dimana Kadaj biasa berada jika sedang libur. "Aku akan memberi makan Sky dulu sebelum dia memakanku," jelasku.
"Okay," balas Roxas sambil berjalan mendekati sofa dan menyalakan TV.
Wow, dia langsung menganggap mansion ini rumahnya sendiri. Sky kembali menggong-gong sambil menggigit celanaku, berusaha menarikku ke dapur.
"Iya,iya," kataku sambil berjalan ke dapur.
Saat di dapur, kulihat di meja dapur terdapat piring kotor dan juga sampah junk food. Astaga, jika aku tidak ada, kuyakin tidak akan ada yang mau mengurusnya hingga berhari-hari.
Sky terlihat duduk dengan manis di depan mangkoknya yang kosong. Aku pun mengambil makanannya di lemari dan menuangkannya. Dengan lahap, Sky menghabiskan makanannya dalam waktu lima menit. Dia pasti sangat lapar hingga bisa memakan sekantong makanan anjing.
Aku membuka lemari es dan mengambil dua kaleng minuman soda. Sesungguhnya aku kurang terlalu suka soda, soalnya membuatku kembung. Tapi tidak ada minuman lain karena aku belum berbelanja.
Aku berjalan ke ruang tamu dan duduk di samping Roxas.
"Here," kataku sambil menyerahkan minuman soda yang kubawa.
"Thanks," kata Roxas ketika menerimanya.
"Hey, Roxas, kira-kira apa yang membuat Dad memanggilmu?" tanyaku penasaran.
"Mungkin...ada hubungannya dengan Reaper Crown," jawab Roxas sambil menatapku.
Aku terkejut. Reaper Crown katanya? Mereka yang menyerang Leon beberapa hari ini?
"Kau mengenal mereka?" tanya Roxas.
"Tepatnya, beberapa hari lalu aku dan kakakku diserang oleh mereka," jelasku.
"Ah, begitu. Hebat juga kau tidak terluka." Roxas terlihat kagum.
"Err...karena kakakku yang melindungiku," jelasku malu.
Kudengar suara motor melaju masuk ke dalam mansion dengan cepat. Dari suaranya, terdengar dua motor yang menuju kemari. Suaranya terhenti dan beberapa menit kemudian, pintu mansion terbuka. Sky terlihat berlari keluar dan mengelilingi ke duanya.
"Hey Sky, kau sudah makan?" Riku terlihat mengelus kepala Sky.
Rupanya Riku dan Loz yang pulang. Tapi dimana Dad? Bukankah dia yang memanggil Roxas?
Tatapan Roxas dan Riku saling bertemu, suasana mendadak memanas tanpa sebab yang jelas. Apakah Roxas marah gara-gara Riku melukainya hingga koma waktu itu?
"Kita bertemu lagi," kata Riku dengan senyum sinis.
"Yeah. Senang bisa bertemu lagi," balas Roxas dengan senyum sinis.
Ke duanya berjabat tangan. Entah mengapa mereka saling menjabat tangan dengan erat hingga menimbulkan bunyi. Kuyakin pasti sakit sekali...
Loz langsung memisahkan ke duanya. "Kau tidak mengajak temanmu?" tanyanya pada Roxas.
"Dia sibuk. Jadi aku datang memenuhi panggilanku sekaligus mewakilinya," jawab Roxas.
Loz terdiam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat rapi. "Seperti yang kami katakan di telepon, bahwa kami ingin mengajak beberapa anggota kalian untuk bekerja sama melawan Reaper Crown. Ini surat perjanjiannya. Berikan pada atasanmu," katanya sambil menyerahkan surat tersebut.
Roxas menerimanya dan langsung menyimpannya di tas sekolahnya. "Kuyakin kalian memanggil kami bukan hanya karena alasan tadi."
Riku dan Loz tersenyum sinis.
"Menyingkirlah, Sora," perintah Riku.
Aku pun menyingkir dengan penuh tanya. Apa yang akan mereka lakukan?
Loz melemparkan sebuah pisau pada Roxas dan Roxas menangkapnya. Man, tadi aku menegang saat pisau tersebut dilempar. Takutnya menusuk Roxas.
"Ah, kalian menguji kami?" tanya Roxas. "Apakah pertarungan waktu itu tidak cukup?"
"Tepatnya, kami ingin menguji apakah kau sudah sembuh total," jawab Loz sambil menyerang Roxas dengan pistol. Begitu juga Riku.
Mulutku menganga. Mereka memberi Roxas pisau, sedangkan mereka menyerang memakai pistol! Itu tidak adil!
Saat aku hendak protes, Riku langsung menatapku dengan senyum sinis. Seakan-akan tahu aku hendak protes.
"Riku!" Aku tetap protes padanya. "Ini tidak adil!"
"Tidak ada yang namanya keadilan jika kau seorang pembunuh bayaran," balas Riku sambil menembakki Roxas yang berlari menghindar dari tembakkan.
Roxas menangkis tembakkan Riku dan Loz—dan kuyakin aku tidak bisa melakukannya. Entah mengapa, aku merasa Roxas berlari mendekatiku dan mendadak menubrukku. Dia memegangku. Pisau yang diberikan Riku pada di arahkan ke leherku.
"Jika kalian menembak, maka Sora-lah yang kena," ancam Roxas dengan senyum sinis.
Aku menghela napas. "Sayang sekali, Roxas, aku sudah sembuh."
Aku langsung menjatuhkannya dan mengunci posisinya. Aku tersenyum padanya.
"Kau tidak boleh meremehkan kekuatanku."
Roxas menatapku dengan datar. "Well, kau benar," balasnya dengan tertawa. "Ya sudah, cukup main-mainnya."
Aku menyingkir dari Roxas dan dia bangun.
"Kau baru akan diizinkan ikut misi ini jika hasil cek up menunjukkan kondisimu sudah baik, Sora," kata Riku memberitahu.
"Iya."
"Okay, kalian tidak akan mengujiku lagi, kan?" tanya Roxas. "Seperti kalian lihat, kondisiku prima karena bisa menangkis dan menghindari seluruh tembakkan kalian. Aku sudah boleh pergi?"
"Silahkan," jawab Riku cuek.
"Bye Sora," kata Roxas sambil berjalan keluar.
"Bye."
Setelah Roxas pergi, Riku mengajakku cek up di rumah sakit. Sebenarnya aku pinginnya cek up besok, karena belum menyiapkan makan malam. Tapi Riku ngotot memintaku cek up sekarang. Jadi yah...kuturuti saja daripada dia menyeretku ke sana.
"Kami pergi dulu, Loz," kataku sebelum menutup pintu mansion.
Riku menyalakan motor dan aku naik di belakangnya. Kukenakan helm yang Riku berikan sebelum dia melajukan kendaraannya. Aku memegang Riku sangat erat saat kendaraannya melaju cepat—ngebut tepatnya.
Tanpa terasa, sudah sampai di depan rumah sakit. Wow, seperti biasa, rasanya jiwaku masih tertinggal di mansion saking cepatnya motor ini melaju. Jantungku masih berdebar kencang meski sudah berhenti. Seramnya...
Aku masih terduduk di motor selama beberapa menit, sedangkan Riku sudah turun. Dia menatapku dengan senyum sinis.
"You looks so girly," ejeknya.
"Shut up!" jawabku masih lemas.
"Ayo turun," kata Riku sambil menggendongku turun.
"Wah! Ri-Riku! Aku bisa turun sendiri," kataku dengan wajah memerah. Sudah itu dia menggendongku ala bridal style.
"Alright, princess," ejeknya sambil menurunkanku perlahan.
Aku memasang wajah cembetut dan Riku tertawa pelan. Kami pun menemui resepsionis. Mengejutkan, ternyata Riku sudah membuat janji dengan dokter. Tidak heran dia ngotot memintaku cek up sekarang.
"Hey, Riku, kapan kau membuat janji dengan dokter?" tanyaku saat kami berjalan menuju ruang cek up.
"Well, bukan aku yang membuat janji, tapi Dad," jawab Riku. "Dad memintaku mengajakmu hari ini karena tahu kau sudah pulang."
"Oh," kataku masih menatapnya.
Tidak kusangka Dad memperhatikanku. Mungkinkah dia ingin memastikan apakah aku sudah bisa diberi misi atau tidak? Kuyakin pasti misi sedikit menumpuk karena absennya diriku.
Saat masuk, seorang dokter langsung menyuruhku duduk. Dia bertanya beberapa hal padaku, mulai dari kondisi lukaku apakah terasa sakit saat bergerak hingga makanan yang kumakan. Setelah itu, dia mulai memeriksa lukaku.
"Sepertinya sudah sembuh, tapi belum sempurna. Kau sudah bisa melakukan aktivitas berat," jelas Sang Dokter setelah mengecek kondisiku.
Aku tersenyum mendengarnya. Berarti aku sudah bisa mendapatkan misi.
Kami pun pulang setelah Riku membayar biaya cek up. Saat tiba di mansion, aku turun dengan badan lemas. Aku sungguh bertanya-tanya, apa sih asiknya ngebut?
Saat masuk, Dad terlihat berbicara dengan Kadaj, Yazoo, dan Loz. Huh? Mengapa mereka semua berkumpul? Apakah mereka sudah janjian?
"Hay Dad, Kadaj, Yazoo. Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku ketika aku dan Riku mendekat.
"Reaper Crown," jawab ke empatnya.
Huh? Apakah Reaper Crown sudah menjadi masalah serius hingga membuat satu anggota keluarga berkumpul?
"Tadi, Leon menghubungi dan mengatakan, dia kembali diserang," kata Yazoo sambil menatapku.
Leon...diserang?
"Dia telah menyingkirkan lima anggota Reaper Crown yang menyerangnya hari ini. Hari ini juga, aku dan Kadaj di serang empat anggota Reaper Crown," lanjut Yazoo.
"Ah, aku dan Loz juga diserang satu anggota Reaper Crown hari ini," jelas Riku.
"Mengapa mereka menyerang kita juga?" tanyaku heran.
"Bukan menyerang, tapi menganggu, Sora," kata Riku mengoreksi.
"Mengganggu?" tanyaku heran.
"Mereka ingin menjatuhkan reputasi kita sebagai pembunuh bayaran. Jika gagal, tentunya merusak reputasi, bukan?" tanya Kadaj sambil menghela napas.
Aku mengangguk-angguk. Memang benar sih. Selama ini, Dad selalu mengusahakan misi yang kami terima berhasil. Kalau gagal total-bukan dalam arti menunda atau mundur sementara, memang reputasi kami sebagai pembunuh bayaran turun. Soalnya, jika gagal berkali-kali, maka yang menyewa kami tidak akan membayar dan mencari pembunuh lain.
"Reaper Crown mencoba menjatuhkan reputasi kita untuk mendapatkan pelanggan kita. Bukan hanya kita saja, tapi Organization XIII juga," jelas Dad.
"Organization XIII," gumamku sambil mengingat Roxas dan Axel. Di tengah liburanku dengan Leon, aku menyempatkan diri bertanya pada Leon tentang beberapa kelompok pembunuh bayaran yang terkenal. Selain keluarga ini dan anak asuhnya, Organization XIII merupakan salah satu kelompok pembunuh terbaik juga.
"Mereka berusaha mengambil alih seluruh permintaan pembunuh bayaran. Pastikan kalian tidak segan-segan membunuh anggota Reaper Crown. Satu hal lagi, ada alasan besar mengapa kita harus bekerja sama dengan Organization XIII, karena ingin menyingkirkan Reaper Crown untuk selamanya," jelas Dad.
Aku menatap Dad. Jika dua kelompok pembunuh bayaran sampai bekerja sama menyingkirkan satu kelompok pembunuh bayaran lain, berarti kelompok itu sudah benar-benar mengganggu.
"Kapan...misi penyingkiran kelompok Reaper Crown dilakukan?" tanyaku.
"Sebulan dari sekarang. Kita akan menyelidiki terlebih dahulu jumlah anggota Reaper Crown. Meski kita berhasil menyingkirkan pemimpin Reaper Crown, belum tentu kelompok itu akan mati. Selama masih ada bawahannya, ada kemungkinan mereka bangkit kembali dengan pemimpin baru," jelas Dad.
Entah mengapa aku merasa setuju dengan Dad. Seandainya jika Dad meninggal, kuyakin di antara Riku, Kadaj, Yazoo, dan Loz akan menggantikannya. Kurasa aku out of the option karena tidak memiliki hubungan darah.
Pembicaraan berlanjut pada misi-misi yang menumpuk. Dad memberiku tugas yang harus kulaksanakan sendiri. Tugas level B. Tumben aku diberi tugas level tinggi dan diminta bekerja sendirian? Yang lain juga mendapatkan misi masing-masing dan dikerjakan sendirian.
Mungkinkah karena tenggat waktunya sudah terlalu dekat, maka dari itu Dad memberikan misi yang harus kami kerjakan sendirian?
Kuterima sebuah kertas berisi informasi misiku. Di sini tertulis targetku adalah seorang anak kecil yang berumur sembilan tahun. Yang membuat misi ini berada di level tinggi karena penjagaan anak kecil ini yang super ketat. Keahlian penjaga anak kecil ini hampir setara dengan pembunuh bayaran.
Entah mengapa, aku merasa bangga diberi tugas ini sendirian. Berarti, Dad mulai mengakui kemampuanku...
To Be Continued...
Author Note: wew =w=" niatnya misi berikutnya bersama Riku, tapi aku berubah pikiran! XD review?
