Author Note: wew! Update juga :3 jujur, menulis cerita AU(alternate Universe/Cerita yang berbeda dari game/anime aslinya) memang terasa mudah daripada canon(mirip dengan game/anime asli)! Jadi maafkan aku karena hingga kini KH:keyblade war-ku belum di-update TTATT
To a reviewer name Sha-Ra-kun: wkwkwkwwk! Yap2! All x Sora! LOL keroyokan lebih seru :3 *slap!*
To a reviewer name Kitsune Syhufellrs: wkwkwkw! Sorry hiatusnya lama! Soalnya pingin banget main game! Selama modem tertancap, aku ga bias tancap mouse buat main. LOL. Chapter kurang panjang? Well... kali ini lebih panjang, kurasa? *bang* Cloud x Sora? Dunno~ toh pairing di sini ga jelas . :P
Troublesome Family
Chapter 19
Keesokkan malamnya, aku bersiap-siap melaksanakan misiku hari ini. Batas waktu misiku hanya tiga hari. Man, berat juga. Semoga saja hari ini langsung selesai, sehingga aku bisa menerima misi berikutnya.
Lokasi targetku tinggal berada di Traverse Town. Cukup jauh. Berhubung aku tidak memiliki kendaraan-tepatnya tidak mau memiliki, maka aku memilih bus sebagai alat tranportasi. Butuh sekitar satu hingga dua jam untuk tiba Traverse Town. Tergantung kondisi jalanan. Lancar atau macet.
Traverse Town. Begitu tiba di kota ini, entah mengapa tempat ini terasa sangat gelap di malam hari. Pencahayaan kota ini sangat sedikit. Tapi masih tergolong cukup terang sih. Aku masih dapat melihat hingga duapuluh meter ke depan dengan cukup jelas.
Hum... Dia tinggal di Thirth District.
Aku berjalan menuju ke Thirth District. Meski sudah malam, masih banyak orang yang mondar-mandir di malam hari. Sepertinya beberapa orang menatapiku. Mungkin mereka heran mengapa bocah seumurku masih berkeliaran di malam hari.
Aku berhenti di depan sebuah gedung apartment. Aku mengeluarkan kertas yang Dad berikan dan membacanya ulang.
Ya, tidak salah lagi. Inilah tempat tinggal targetku. Apartment ini memiliki sistem pengaman yang canggih. Setiap tempat dilengkapi CCTV. Sehingga siapa pun yang berkunjung akan terrekam.
Man. Sepertinya aku harus merusak CCTV-nya terlebih dahulu-soalnya aku tidak pandai menghindari CCTV. Berbeda dengan Riku, Kadaj, Yazoo, dan Loz. Mereka dapat menghindari CCTV dengan sangat baik.
Hum, berarti aku harus ke ruang keamanan. Dimana penjaga sedang memantau kondisi dari CCTV.
Ketika masuk, aku terpaksa membiarkan wajahku terekam sebagian-aku memakai kerudung jaket untuk menutupi rambutku. Lalu aku menemui resepsionis, sekedar menanyakan alamat, bukan maksud berkunjung.
Lalu, aku meminta izin untuk menggunakan toilet di sini dengan alasan tidak dapat menahan BAK(buang air kecil) lagi. Sang resepsionis pun mengizinkan.
Jika dugaanku tepat. Ruang ke amanan tidak terlalu jauh dari resepsionis. Karena jika butuh bantuan, maka petugas keamanan akan segera datang menolong.
Ketika melihat sebuah ruangan-yang tidak memiliki nama, aku mencoba untuk masuk. Ternyata...bukan ruang keamanan. Hum... Apakah dugaanku salah ya?
Aku mengeluarkan HP-ku dan langsung menghubungi Dad. Beberapa kali terdengar nada sambung hingga akhirnya diangkat.
"Ya?"
"Dad, aku ingin tanya, ruang keamanannya dimana ya?" tanyaku dengan wajah memerah.
Umumnya, pembunuh bayaran tidak sebodoh aku, sampai harus menanyakan pada orang lain dimana ruang keamanan.
"Ah, dari resepsionis, sekitar duapuluh meter di sebelah kanan, kau belok ke kiri dan akan menemukan ruang keamanan lima meter di depan," jawab Dad. "Kau mengalami kesulitan?" Terdapat nada khawatir saat Dad mengatakannya.
"Tidak. Hanya kesulitan menemukan ruang keamanan untuk mematikan CCTV-nya saja," jawabku. Aku tersenyum mendengar Dad merasa khawatir.
"Hati-hati."
"Yeah," jawabku sambil mengangguk.
Kuakhiri panggilan.
Baiklah. Untungnya toilet berada di sebelah kanan resepsionis, sehingga aku hanya perlu berjalan ke kanan lagi hingga menemukan belokan. Terus belok ke kiri.
Begitu menemukan pintu tertulis 'ruang keamanan', aku mengetuk pintu tersebut dan terdiam di depan. Begitu terbuka, seorang penjaga terlihat heran melihatku berdiri di depan pintu.
Aku tersenyum sambil mengintip di dalam. Hanya terdapat satu penjaga di ruangan ini.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" tanya penjaga tersebut.
Aku tersenyum lebar. Tanganku memasukki saku jaketku. Kukeluarkan sebuah pisau dan mendadak menendak penjaga tersebut hingga terjatuh. Kubekap mulutnya, lalu kutusuk salah satu matanya.
Jeritannya tertahan oleh tanganku. Dia berusaha mendorongku, lalu kutusuk matanya yang lain. Perlawanan penjaga tersebut semakin melemah dan akhirnya berhenti. Kututup pintu keamanan dan kukunci. Aku harus menyabotase CCTV terlebih dahulu, baru ke tempat targetku.
Aku tidak terlalu lihai menggunakan komputer, tapi mengerti sedikit cara menghapus permanen hasil rekaman CCTV.
Setelah memastikan semua rekamam hari ini-pagi hingga malam- terhapus, aku mematikan sistem CCTV agar berhenti merekam.
Beres.
Kubuka perlahan pintu keamanan dan mengintip keluar. Tidak ada siapa pun. Jaketku sedikit terkena noda darah, sehingga aku terpaksa memakainya terbalik. Untungnya jaket ini mempunyai dua sisi berbeda. Dimana dalamnya berwarna hitam, luarnya berwarna biru. Kekenakan kerudungku hingga menutupi seluruh wajahku. Kuyakin wajahku terkena cipratan darah.
Ketika keluar, aku mengunci kembali ruang keamanan dan menyimpan kuncinya di sakuku. Kunci ini memang tidak terdapat sidik jariku karena aku memakai sarung tangan. Tapi ada baiknya kunci ini tetap bersamaku agar tidak seorang pun yang dapat masuk ke dalam. Kalau perlu kubawa pulang.
Targetku berada di lantai dua. Aku pun tidak perlu repot-repot menunggu terlalu lama di dalam lift-sehingga orang yang satu lift denganku tidak terlalu mencurigaiku. Dari lantai satu ke lantai dua hanya memerlukan waktu kurang lebih duapuluh detik.
Menurut informasi, targetku tinggal bersama seorang pembantu dan juga dua orang bodyguard profesional.
Mendadak, aku menyenggol seseorang secara tidak sengaja. Aku suka tidak memperhatikan jalan jika sedang berpikir.
"Sora?" kata orang yang kusenggol. Kerudungku sedikit terbuka karena bersenggolan.
Aku langsung mengangkat wajahku-wajahku selalu menunduk jika sedang berpikir.
"Roxas? Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku heran. Dahiku langsung mengkerut ketika melihatnya.
Roxas terlihat memakai jubah hitam. Dia memakai kerudung untuk menutupi wajahnya, sehingga aku sedikit tidak mengenalinya. Untungnya aku sangat hafal dengan suaranya.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu," balasnya sambil tertawa. "Aku ada misi. Kau juga?"
Aku mengangguk. Entah mengapa aku menjadi waspada. Apakah Roxas disini sebagai musuhku atau bukan?
"Kuharap kau disini bukan sebagai musuhku..." Aku melangkah menjauhinya.
"Mungkin ya, mungkin juga tidak," balas Roxas dengan santai. Dia tidak terlihat waspada. "Aku mendapatkan misi untuk membunuh seseorang di sini," lanjutnya.
"Sama. Apakah targetmu di lantai ini?"
"Yeah. By the way, kau tidak menghindari CCTV? Di sini sangat banyak CCTV," katanya memberitahu.
"CCTV-nya sudah mati. Kumatikan dan kuhapus untuk mengaburkan jejakku."
"Ah, berarti sia-sia sudah usahaku menghindari CCTV sejak masuk tadi." Roxas menghela napas.
Aku hanya tersenyum kecil. "Targetku masih beberapa pintu di depan. Aku harus bergegas menyelesaikan misi hari ini. Banyak misi yang menumpuk. See ya!"
Aku berjalan melewati Roxas setelah dia mengangguk mengerti. Kami berjalan ke arah yang berlawanan.
Apartment dengan nomor pintu 22. Tertulis nama pemilik apartment ini, Kuruna Hitsugi, targetku. Seorang gadis. Umurnya baru sekitar sembilan tahun. Hidup terpisah dengan orangtuanya yang super sibuk dan juga kaya raya. Sering sekali diculik untuk dimintai tebusan dalam jumlah yang luar biasa.
Siapa pun yang menyewa kami untuk membunuhnya, kuyakin motifnya mungkin sekedar balas dendam atau mengancam orangtuanya. Well, aku tidak perduli. Tugas adalah tugas. Berhasil atau gagal. Itu saja yang ada di kamusku. Aku tidak boleh mengasihani targetku. Tidak perduli tua atau muda, lelaki atau pun seorang wanita. Mereka semua sama saja.
Aku mengeluarkan silent gun. Aku akan memaksa masuk dengan merusak kunci pintu. Jika menyamar sebagai pegawai atau satpam apartment ini, kuyakin bodyguard-nya tidak akan mengizinkanku masuk apa pun yang terjadi.
Kupastikan peluru silent gun-ku terisi penuh, lalu aku menendang pintu apartment dengan kuat.
BRAK!
Bunyi benturan yang keras membuat penghuni apartment-seorang pembantu dan seorang bodyguard yang sedang menonton TV- terkejut bukan main. Sang pembantu sampai terlompat saking terkejutnya.
Tanpa menyia-nyiakan waktu. Kutembakki sang bodyguard tepat di dahinya. Darah menciprat ke belakang setelah peluruku menembus otaknya. Sang bodyguard langsung tumbang tidak bergerak.
Sebelum sang pembantu berteriak, kutembaki jantungnya dengan cepat. Sang pembantu tumbang dengan wajah shock.
Aku menghela napas. Kuyakin masih ada satu bodyguard lagi yang berjaga di kamar majikannya. Dia pasti sedang menganalisa situasi, makanya tidak bergegas keluar.
Aku harus hati-hati. Bodyguard yang disewa termasuk profesional. Aku tidak boleh bertindak gegabah...
Kumatikan lampu ruang tamu. Dari dua ruangan yang ada, hanya satu kamar yang lampunya menyala. Apakah targetku berada di kamar yang lampunya menyala atau yang tidak menyala?
Jika kuperhatikan, dikamar yang menyala seperti tidak terdapat aktifitas. Mungkinkah...
Aku berjalan mendekati kamar yang lampunya mati. Terdiam sejenak, menunggu pintu terbuka sendiri. Jika dalam waktu lima menit mereka tidak juga keluar, aku terpaksa mengambil tindakkan. Kuyakin mereka telah menelepon polisi.
Lima menit berlalu. Pintu juga masih belum terbuka. Aku terpaksa melakukan tindakkan!
Kutembakki kunci kamar dan langsung menendangnya hingga terbuka. Ketika aku mengacungkan silent gun-ku ke dalam dengan posisi setengah berlutut, aku tidak melihat siapa pun di dalam. Jangan bilang aku salah menganalisa?
Maka aku bergegas menuju kamar yang satu lagi. Kutembak kunci kamar tersebut dan langsung membukanya. Kosong...
"Damn!" teriakku kesal setelah mengetahui bahwa targetku ternyata tidak berada di tempat.
Aku menghela napas dalam. Berusaha menenangkan kekesalanku.
Aku menatap ke arah pintu keluar yang rusak. Aku mungkin dapat memperbaikinya, meski tidak sempurna. Kurasa aku terpaksa menunggu di sini. Tapi maximal jam tungguku hanya setengah jam. Lebih dari itu sangat beresiko.
Setelah memperbaiki sebisaku hingga terlihat 'normal' di mataku, aku pun menutup pintu dan berdiam diri di dalam.
Mayat yang terbaring di lantai sungguh terasa menggangguku. Bukannya aku takut pada mayat. Hanya saja, kebiasaanku menyingkirkan mayat secepat mungkin membuatku ingin membuang mayat tersebut jauh-jauh dari tempat ini. Tapi buat apa aku repot-repot? Kan ini bukan apartmentku...
Lima menit lagi tigapuluh menit berlalu. Aku merasa gelisah. Sepertinya misiku tidak dapat selesai hari ini...
Tigapuluh menit berlalu. Aku menghela napas dalam. Sepertinya memang harus ditunda. Kubuka pintu keluar perlahan, mengintip untuk memperhatikan apakah ada seseorang diluar. Aku tidak boleh terlihat keluar dari tempat ini, meski sudah memakai kerudung.
Entah keberuntungan atau memang kebetulan saja. Tapi kulihat targetku berjalan bersama bodyguard-nya, menuju tempat ini.
Aku tersenyum. Kututup pintu keluar dengan pelan. Aku memasang ancang-ancang menembak ketika pintu terbuka. Kututup mataku. Mencoba mendengar langkah kaki mereka. Semakin dekat...
"Tadi menyenangkan sekali." Terdengar suara gadis dibalik tembok tempatku bersandar.
"Huh? Pintu tidak terkunci," lanjut gadis tersebut.
"Tunggu," perintah seorang lelaki pada gadis tersebut.
Jantungku berdetak cukup kencang. Sepertinya dia memang profesional, hingga mencurigai pintu yang tidak terkunci-karena aku tidak bisa memperbaiki kuncinya.
"Biar kuperiksa."
Pintu terbuka perlahan. Begitu melihat sosoknya, tanpa menyia-nyiakan waktu aku langsung mengarahkan silent gun-ku padanya. Ketika kutekan pelatuk silent gun-ku, dia menghindar di saat kritis. Damn.
Dia langsung mencoba memukulku-karena jarak kami sangat dekat. Tentunya aku langsung melompat mundur sambil mengarahkan senjataku padanya.
Peluruku meleset. Tapi dia lupa, di belakangnya ada targetku.
Targetku berteriak kesakitan ketika peluruku menembus bahu kanannya. Ketika hendak menembaknya lagi, bodyguard-nya langsung mendorong tubuh targetku.
Aku langsung berlari keluar karena sosok keduanya menghilang tertutup tembok.
Nah, entah ini kebetulan atau bagaimana, tapi pas sekali Roxas berada tepat dibelakang targetku. Dan wow... Wajahnya berlumuran darah-meski pakaiannya tidak terlalu terlihat terkena cipratan darah karena dia memakai jubah hitam.
Hum, kurasa Roxas tidak akan membantuku. Tapi kedatangan Roxas memberiku keuntungan. Bodyguard tersebut mengira Roxas adalah rekanku, sehingga dia panik.
Sesekali bodyguard tersebut menatap padaku dan Roxas secara bergantian. Dia memegangi targetku sekuat tenaga. Targetku terlihat hendak pingsan karena kekurangan darah.
Roxas terlihat berjalan mendekati targetku dan bodyguard-nya. Mungkin hanya ingin berjalan melewatinya. Tapi tindakkannya membuat bodyguard tersebut semakin panik.
Aku mengacungkankan silent gun-ku pada sang bodyguard. Kutarik pelatuk silent gun saat dia menoleh ke arah Roxas yang semakin dekat dengannya. Peluru tersebut menembus belakang kepalanya dan... astaga, darahnya menciprat mengenai Roxas. Untungnya cuma jubahnya.
Keduanya terjatuh. Targetku terlihat sangat ketakutan meski kesadarannya telah menurun.
"Selamat tidur," kataku sambil mengacungkan silent gun-ku pada targetku.
BANG!
Targetku tewas seketika.
Selesai.
Mission single pertamaku tidak terlalu buruk juga. Sehari langsung selesai.
Roxas menatapku. "Selesai?"
Aku mengangguk. "Kau juga?"
Roxas mengangguk juga. "Polisi sudah sampai di bawah karena jeritan tadi," katanya memberitahu.
Mukaku memucat. "Damn," kataku sambil menggigit bibir.
Aku langsung mengeluarkan kertas yang berisi misiku. Dad selalu memberi jalan keluar alternatif jika polisi datang sebelum aku berhasil keluar.
Tangga darurat sudah pasti dijaga oleh polisi sejak mereka datang. Jadi mungkin aku akan mencoba menganyun ke gedung sebelah. Sebagai pembunuh bayaran, kami diwajibkan membawa benda-benda yang membantu untuk melarikan diri. Alat ini lebih penting dibandingkan dengan alat penyerangan.
Aku mengeluarkan pengait dan tali tambang. Kuikat tali tambang pada pengait.
"Kau akan menyeberang ke gedung sebelah?" tanya Roxas sambil memperhatikanku.
Aku mengangguk. "Bagaimana denganmu, Roxas?"
"Aku sedang menunggu teman. Dia sedang di bawah. Mungkin berbaur dan menyamar jadi polisi. Dia tahu harus menemuiku dimana agar dapat menyerahkan padaku pakaian untuk menyamar," jawab Roxas dengan senyum.
"Oh..." Kukira dia sendirian. Ternyata dia mempunyai partner. "Ya sudah. Aku pergi dulu, ya?"
Roxas mengangguk dan aku melempar pengait ke gedung sebelah yang berjarak hanya sepuluh meter. Pengait tersebut menyangkut di tangga darurat. Setelah memastikan pengait tersebut terkait dengan kuat, aku menatap Roxas.
"See ya!" kataku dengan senyum. Aku menaiki pagar pembatas yang terbuat dari tembok.
Roxas terlihat membalas senyumku.
Aku melompat turun dan mengayun ke gedung sebelah. Jantungku berdetak kencang saat tubuhku meluncur dengan cepat.
Kubentangkan kakiku kedepan, siap menabrak tembok di depan dengan kedua kakiku. Bagi orang normal, dijamin kakinya akan patah terkena benturan yang cukup kuat. Kalau aku sih, hanya akan sedikit nyeri karena sudah biasa.
Begitu mendarat di gedung sebelah. Aku menaiki tangga darurat hingga ketempat pengaitku terkait. Aku harus melepaskan pengaitku untuk menghilangkan jejak.
Di gedung sebelah, tempat Roxas berdiri tadi, Roxas sudah tidak terlihat lagi. Beberapa polisi terlihat berkeliaran mencari pembunuh-aku dan Roxas.
Aku bergegas turun dari tangga darurat. Tidak ingin keberadaanku di tangga darurat terlihat-meski kuyakin tidak akan terlihat karena di tangga darurat ini tidak memiliki penerang. Lagipula aku juga mengenakan pakaian hitam.
Harus kuakui. Dad memang hebat. Beliau hanya menerima misi yang memiliki jalan pelarian yang baik, jika polisi datang sebelum kami berhasil pergi.
Begitu tiba di bawah, aku masih tetap mengenakan kerudung karena wajahku masih terkena noda darah. Mungkin aku harus mencari toilet yang sepi dan remang-remang. Aku tidak mungkin pulang naik bus dalam keadaan seperti ini...
Di First District terdapat toilet umum yang remang-remang, tapi tidak terlalu sepi. Tidak apa-apa. Aku bisa mencuci mukaku di dalam WC...
Aku keluar dari WC setelah memastikan tidak ada noda darah di wajahku. Segar sekali rasanya setelah mencuci muka. Lumayan buat mengusir ngantuk.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Man, berarti perkiraanku sampai rumah sekitar pukul duabelas malam lebih jika lancar. Belum ditambah waktu menunggu bus.
Aku menyandar di tiang lampu, menungggu bus yang kira-kira datang limabelas menit lagi. Rasa mengantuk mulai menyerangku karena bosan. Man, rasanya ingin sekali meminta Riku atau Kadaj menjemputku. Soalnya, jika keduanya ngebut, dijamin sampai di rumah dalam waktu tigapuluh menit.
Aku memejamkan mata sejenak, tapi berusaha untuk tidak tertidur. Mendadak terdengar klakson mobil dan membuatku terkejut.
"Yo, Sora," sapa seseorang dibalik mobil-entah apa jenisnya aku tidak tahu dan tidak mau tahu-dengan senyum sinis. Axel.
"Axel! Roxas! Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku dengan wajah terkejut.
"Well, kami hendak pulang ke Twilight Town. Kau juga sedang menunggu bus ke Twilight Town, kan?" tanya Axel.
"Ikutlah dengan kami, Sora," ajak Roxas yang duduk di samping Axel.
"Um..." Aku sedang mempertimbangkan untuk ikut atau tidak.
Jika ikut, aku bisa hemat biaya perjalanan dan waktu. Lagipula tidak ada yang perlu kuwaspadai dari mereka berdua. Memangnya mereka berniat menculikku? Untuk apa pula mereka menculikku?
Okay. Berpikir semenit saja cukup. "Aku ikut!" jawabku dengan senyum, lalu berjalan masuk ke mobil-entah milik Axel atau Roxas. Tapi sepertinya milik Axel karena dia yang menyetir. "By the way, kau punya SIM, Axel?" Aku iseng bertanya.
"Well... yes. SIM palsu," kata Axel sambil menunjukkan SIMnya dengan bangga.
"Wow. Sudah berapa lama kau bisa menyetir?"
"Hampir...tiga tahun," jawab Axel dengan bangga.
Mulutku menganga. Dia belum resmi boleh memiliki SIM, tapi sudah pernah menyetir selama tiga tahun? Padahal umurnya sama dengan Riku-bedanya, Riku genius sehingga diterima masuk universitas di usia muda.
Well, karena mengantuk, aku tidak bertanya lagi. Kuputuskan untuk tidur selama perjalanan. Man, aku mengantuk sekali...
To Be Continued...
Author Note: wew :3 apa yang terjadi selanjutnya blank di otakku. Tapi jika mulai memikirkan cerita selanjutnya, ada saja yang bisa kutulis! Lol! Review guys!
