Author Note: yay! Thanks da review guys! X3 maaf lama update untuk yang satu ini! Hehehhehehe… soalnya focus ke YOL sih…

Troublesome Family

Chapter 20

Aku merasa seseorang menggendongku. Karena sangat mengantuk, aku tidak memperdulikannya. Bahkan aku terus mengacuhkan orang yang mencoba membangunkanku. Man, biarkan aku tidur. Aku ngantuk banget...

Orang tersebut terdengar menggerutu karena aku tidak mau bangun. Akhirnya dia meletakkan disebuah tempat yang sangat empuk. Nyamannya...

Dering HP sungguh menggangu tidurku yang nyaman. Aku pun bangun dengan kesal sambil mencari HP yang berbunyi dengan mata setengah terpejam. Kumatikan dering HP tersebut dengan kasar dan kembali berbaring dikasur.

"Geez, kau tidak mau sekolah, Sora."

Mataku langsung terbuka lebar. Terkejut mendengar kata-katanya. Dia benar! Sekolah!

"Astaga!" kataku sambil bangun. "Ah..."

Kusadari aku berada di tempat yang tidak kukenal...

"Morning, sleepy head," kata Axel sambil tertawa. Rambutnya terlihat basah. Mungkin habis keramas.

"Dimana aku?"

Axel tersenyum sinis. "Ceritanya panjang. Mandilah dulu dan pinjam seragam Roxas. Kau tidak ingin terlambat sekolah, kan?" tanya Axel sambil melempar handuk bersih padaku.

Aku menangkapnya, lalu menatapi jam di HP. Mataku melebar. Aku terlambat.

"Damn!" jeritku sambil melompat turun dari kasur.

Aku berlari masuk ke kamar mandi— sepertinya habis Axel gunakan. Kamar mandinya berada di kamar ini juga. Aku dapat mencium aroma sabun yang habis digunakannya. Wangi yang manis.

Selesai mandi, kulihat Roxas berada di kamar ini. Apakah dia tinggal satu rumah dengan Axel?

"Morning, Sora," sapa Roxas dengan senyum. "Catch," katanya sambil melempar baju seragam.

"Thanks, Roxas!" balasku dengan senyum ketika menangkapnya.

Aku kembali masuk ke kamar mandi dan mengenakan seragam Roxas. Cukup mengejutkan. Ukuran kami ternyata sama. Aku berjalan keluar.

"Ayo kita berangkat," ajakku.

Keduanya hanya membalas anggukkan.

Saat keluar, aku baru sadar bahwa tempat ini merupakan apartment kecil. Meski begitu masih tergolong elit di mataku.

"Ngomong-ngomong, tadi itu apartment siapa?" tanyaku sambil menatap kedua temanku. Kami sedang menunggu lift.

"Axel. Apartmentku tidak memiliki ruang kosong untuk tamu," jawab Roxas.

Begitu pintu lift terbuka, kami masuk dan turun ke lantai satu. Kami berlari menuju sekolah—Axel dan Roxas memang selalu terlihat berjalan kaki menuju sekolah sepertiku. Ternyata jarak sekolah dengan apartment mereka tidak sejauh jarak mansionku—tidak sepenuhnya milikku sih— dengan sekolah. Tidak heran tadi Axel masih sempat-sempatnya bersantai.

Kami bertiga tiba di sekolah tepat waktu sekali. Kami pun berpisah dan menuju kelas masing-masing.

Astaga! Aku melihat guru berada di depanku! Sudah itu Mr. Cloud.

Mr. Cloud terlihat menyadari kehadiranku melalui suara lariku. Dia menoleh dan membuatku canggung. Apa yang harus kukatakan? Mr. Cloud menatapku sejenak.

"Masuklah lebih dulu."

Aku sedikit terkejut mendengarnya. "Te-terima kasih." Aku menunduk hormat saat melewatinya. Mr. Cloud memang selalu baik.

Aku berjalan masuk ke kelas dan langsung duduk. Beberapa menit kemudian, Mr. Cloud baru masuk.

Pelajaran pun dimulai...

Ketika istirahat siang, aku, Axel, dan Roxas duduk di satu meja.

"Jadi, bagaimana aku bisa tidur di apartmentmu, Axel?" tanyaku sambil mengaduk-aduk susu strawberry-ku.

"Well, kami mengantarmu sampai di mansionmu. Tapi setelah kami memencet bell berkali-kali, tidak ada satu pun yang membukakan gerbang mansion. Berhubung kau sangat susah di bangunkan—you sleep like a log— dan kami tidak tahu harus membawamu kemana lagi, jadi diputuskan kau menumpang di apartmentku." Axel tersenyum sinis.

"Kemana seluruh penghuni disana?" tanya Roxas heran.

"Sepertinya mereka sibuk. Tugas kami menumpuk, sehingga semuanya ikut lembur. Kecuali aku. Masih sekolah sih," jelasku sambil menghela napas.

Aku menghisap seluruh susuku melalui sedotan, lalu kulahap roti bungkus isi keju dengan lahap. Perutku berbunyi ditengah pelajaran saat guru sedang menjelaskan. Soalnya aku tidak sarapan pagi sih. Parahnya lagi, aku sempat ditertawakan teman-teman sekelasku gara-gara ini. Aku sampai menunduk malu dan tidak berani mengangkat kepala saking malunya. Untungnya Mr. Cloud menenangkan kelas, sehingga mereka berhenti menertawakanku.

"Sora," panggil seseorang dan aku menoleh ke sumber suara berasal. Mr. Cloud. "Ini." Dia menyerahkanku sekotak nasi yang berisi sayur-mayur dan irisan daging ikan goreng. Sepertinya ini salah satu menu di kantin.

"Untukku?" tanyaku sambil menerimanya.

Mr. Cloud mengangguk dan berjalan pergi. Axel dan Roxas menatapiku.

"Baiknya," komentar Axel.

Aku hanya mengangguk pelan. Sepertinya Mr. Cloud mencemaskanku. Aku pun memakannya. Sudah lama aku tidak makan bekal dari kantin—umumnya roti kubeli sebagai jajanan.

"Kau ada misi nanti malam?" tanya Roxas.

Aku menelan makananku sebelum menjawab. "Aku tidak tahu. Dad belum memberiku misi."

"Oh..."

Jam sekolah berakhir. Ketika tengah membereskan buku—kupinjam dari Roxas karena bukuku berada di mansion, HP-ku berdering. Panggilan dari Riku.

"Ya?"

"Hey Sora. Aku berada di depan gerbang sekolahmu. Segeralah kemari."

Aku melihat ke arah jendela. Riku berada di depan gerbang sekolah sambil menduduki motornya. Dia melambaikan tangan padaku saat melihatku di jendela.

"Iya." Aku tersenyum melihatnya.

Riku mengakhiri panggilannya.

Aku bergegas turun setelah memasukkan seluruh bukuku kedalam tas—milik Roxas juga.

"Hey."

"Hey, Riku! Kemarin kau tidak pulang?"

"Nope. Lembur. Tadi pagi baru sempat istirahat dan malam ini kita berdua ada misi yang harus kita kerjakan." Mendadak, Riku terdiam sejenak setelah menjelaskan. Dia menatapi tasku. "Kau membeli tas baru?"

"Ah, tidak. Aku meminjamnya dari Roxas. Kemarin malam aku menginap di apartment Axel," jelasku sambil menatap tas Roxas. "Aku akan mengembalikannya besok."

"Kau menginap?" Riku menatapku dengan heran.

"Um, iya. Saat melakukan misi, aku tidak sengaja ketemu Roxas. Saat hendak pulang, kebetulan mereka menemukanku di terminal bus dan mengajakku pulang. Aku terima tawaran mereka," jelasku dengan ragu-ragu.

Riku menghela napas. "Mereka tidak berbuat macam-macam padamu?"

Aku menggelengkan kepala dengan pelan.

"Bagus. Naiklah. Kita akan menuju Hollow Bastion sekarang. Sebenarnya Dad tidak memberi kita misi. Kita hanya akan mengambil beberapa perlengkapan senjata. Penyelundupan," jelas Riku dengan senyum sinis.

"Dengan motor?" tanyaku dengan heran.

Senyum sinis Riku melebar. "Mobil truk."

Mulutku menganga. "Siapa yang menyetir?"

"Orang di depanmu."

"Kau!?"

"Siapa lagi yang ada di depanmu? Motor?"

Ejekkan Riku langsung membuatku cembetut. Aku kan hanya mau memastikan bahwa dia yang menyetir.

"Memangnya kau bisa?"

"Lihat saja nanti. Ayo naik. Sampai kapan kau akan terus berdiri?"

Aku menghela napas. Aku naik ke atas motor Riku dan dia memberiku helm. Aku segera memakainya dan memeluk Riku dengan erat. Sudah kuduga dia ngebut dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa menjerit dalam hati saking takutnya. Aku juga berharap kalau Riku tidak menabrak sesuatu di depan. Jika dia menabrak, bisa-bisa kami terpental.

Aku pun tidak tahu sudah dimana aku saat ini. Apakah sudah di tengah jalan ataukah masih jauh. Yang kutahu, Riku berhenti mendadak dan membuatku takut. Bunyi rem motornya terdengar sangat mengerikan! Seperti hendak terjadi tabrakkan saja...

Aku menarik napas berkali-kali. Tanganku yang memeluk Riku dengan erat terasa gemetaran. Jujur, ini lebih menakutkan daripada terjun dari gedung. Kurasakan tangan Riku yang hangat—atau tangaku saja yang mendingin akibat rasa takut?—menyentuh tanganku.

"Kau takut?" tanya Riku setelah melepas helmnya. Kurasa dia sedang tersenyum sinis.

"Sa-sangat."

Aku melepaskan genggamanku dan turun, lalu berjongkok sambil menunduk. Daratan. Senangnya masih bisa menginjakkan kaki di daratan!

Riku terkekeh melihatku berjongkok selama beberapa menit. "Sudah baikkan?"

"Ya," jawabku sambil mencoba berdiri. Man, masih sedikit gemetaran.

"Ikut aku."

Kami berjalan ke suatu tempat, meninggalkan motor Riku di sebuah parkiran di mall. Kami tidak memasuki mall, tapi menuju ke sebuah gudang...

Tunggu dulu! Aku kenal tempat ini! Inikan perusahaan Dad! Jadi kami masih di Twilight Town? Kukira sudah keluar dari Twilight Town.

Penjaga gedung langsung mengizinkan kami masuk karena sudah hafal dengan wajah kami. Kami berjalan menuju ruang parkir yang berisi puluhan truk dengan bak tertutup.

"Ngomong-ngomong, Riku, memangnya persediaan senjata sudah habis?" tanyaku dengan heran.

Seingatku, stok senjataku masih cukup untuk sebulan. Aku juga jarang menembakkan puluru lebih dari duapuluh. Satu peluru harganya mahal! Aku tidak bisa membayangkan berapa besar dana yang Dad siapkan untuk membeli seluruh senjata dan asesorisnya. Seperti peluru, peredam suara, dan lain-lainnya.

"Well, sebenarnya yang paling banyak menghabiskan persediaan senjata itu Kadaj dan Yazoo. Stok senjata kita menipis gara-gara mereka bedua." Riku terlihat menghela napas dalam.

Aku pun ikut menghela napas. Untuk urusan kedua orang itu, aku memang angkat tangan. Mereka berdua termasuk boros dalam menggunakan senjata. Orang yang tidak ada hubungannya dengan misi pun dia tembak mati tanpa ragu-ragu. Kadang mereka berdua menggunakan bom asap, gas tidur, bom dengan daya ledak kecil, dan lain-lainnya untuk memudahkan misi mereka. Meski itu membuat kekacauan dan menghebohkan wartawan, polisi, mau pun masyarakat.

"Lalu, mengapa Dad menyuruh kita mengambil senjata? Biasanya Yazoo dan Kadaj yang disuruh."

"Well, Dad belajar dari kejadian-kejadian yang keduanya lakukan saat mengambil senjata. Pertama, hampir sebagian senjata rusak dalam perjalanan akibat peletakan senjata yang sembarangan. Kau tahukan mereka berdua itu malas. Kedua, mereka berdua pasti akan mencoba senjata baru di tempat. Biasanya Dad selalu memesan beberapa senjata baru. Cara keduanya mencoba cukup mengerikan. Nyaris mengenai sang penjual dan membuat mereka menjadi ragu menjual senjata pada kita. Ketiga, sudah enam kali nyaris tertangkap polisi. Untungnya Kadaj pintar berkelit sehingga mereka lolos dari polisi."

Aku hanya tertawa kaku mendengarnya. Untuk bagian yang ketiga, memang sangat mengkhawatirkan. Enam kali nyaris tertangkap polisi. Aku yang mendengarnya saja pasti merasa khawatir.

Riku naik ke kursi pengemudi dan aku duduk di sebelahnya. Baru pertama kali aku melihat Riku mengemudikan truk. Kalau mobil-mobil biasa—yang mewah dan pastinya harganya juga mahal— aku pernah melihatnya mengemudikannya. Jantungku berdebar kencang melihat truk mulai berjalan. Pertanyaaku hanya satu. Apakah dia bisa mengemudikannya dengan aman?

"Oh ya, Riku. Kau membawa SIM?"

Riku langsung menunjukkan SIM palsunya dengan senyum sinis. "SIM adalah sebuah kewajiban. Sama seperti kau menggunakan helm. Kenakan sabuk pengamanmu."

Aku mengenakan sabuk pengaman. Riku mengeluarkan truk ini dengan kecepatan sedang. Harus kuakui, dia terlihat mahir mengemudikan truk yang cukup besar ini.

Okay. Dia berhasil keluar ke jalanan dengan aman. Dia meningkatkan kecepatan truk perlahan-lahan ketika jalanan sepi dan menurunkannya ketika terlihat kendaraan di depan. Caranya menyalip juga bagus. Berirama tenang.

Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan...mungkin?

To Be Continued...

Author Note: weeeeeeew~ maaf kuputus disini XD malas nulis panjang-panjang~