..
..
..
..
[Chapter 4] – He Has Gone
Kyungsoo sedang menungging didalam tub dengan Luhan yang ada dibelakangnya dan membawa sebuah salep. "Kyungsoo, bila aku menyakitimu katakan oke"kata Luhan dan Kyungsoo mengangguk.
Luhan benar-benar tak tahu harus melakukan apa selain memandang pantat seksi Kyungsoo dan mengoleskan salep di manhole-nya. Kalau saja ia bisa merasakannya sekali saja. Kalau saja…
Kyungsoo memejamkan matanya dan melengguh keenakan saat salep itu mengenai kulit hole-nya. Dingin. "Shhh… Luhan-Hyung, pelan oke?"kata Kyungsoo dan Luhan masih mengoles dan merasakan bagaimana guratan-guratan rapat itu bersinggungan dengan kulitnya. Menggairahkan.
"Bagaimana Kyungsoo?"tanya Luhan. Kyungsoo tak menjawab alih-alih membalikkan badannya dan membawa Luhan kedalam sebuah ciuman panjang yang panas.
Tangan Luhan meraba punggung Kyungsoo dan mulai merayap ke bagian pantatnya, sedang Kyungsoo mengalungkan kedua tangannya dileher Luhan dan menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.
Hingga Kyungsoo melepaskan tautan mereka untuk mengambil oksigen masing-masing. Wajah Luhan sama memerahnya dengan wajah Kyungsoo. Luhan tersenyum lembut dan disambut dengan senyuman hangat oleh Kyungsoo. "Kau cantik Kyungsoo"kata Luhan sambil mengelus bibir bawah Kyungsoo.
Kyungsoo menundukkan kepalanya malu dan Luhan terkekeh. Ia baru sadar bila Kyungsoo masih setengah telanjang dengan penisnya yang menegak. Luhan tersenyum jahil, "Apa aku harus menyelesaikan ini?"
XXXXXXX
Tak ada yang pernah tahu tentang hal –yang bisa dibilang perselingkuhan- yang kemarin dilakukannya dengan Luhan. Hanya ia dan Luhan yang tahu. Dan selama seminggu ini juga mereka membohongi Baekhyun dan Sehun hingga hari ini datang. Dan mengakhiri segalanya.
Kyungsoo mengajak Luhan untuk membeli bunga mawar di florist yang ada didekat kafe milik Suho. Mereka tertawa bersama hingga seseorang menghentikan langkah mereka dan memberi Luhan sebuah bogem mentah dipipi. "Baekhyun!"
Kyungsoo memekik dan menimbulkan semua orang yang berlalu-lalang memperhatikan mereka. Luhan terbaring dijalan yang beraspal dengan Baekhyun diatasnya masih memukuli tubuhnya. Hingga Luhan memutar balikkan keadaan. "Hentikan kalian berdua!"teriakan Kyungsoo yang kedua kalinya membuahkan hasil, Baekhyun dan Luhan menghentikan pertengkaran mereka dan Kyungsoo jatuh pingsan.
XXXXXXXX
Kyungsoo terbaring lemah diatas ranjangnya. Lay ada disampingnya sedang memberinya sedikit sihir untuk memulihkan sakitnya. Luhan dan Baekhyun sedang berdiam diri diluar kamar Kyungsoo setelah Lay meneriaki mereka berdua untuk berhenti mengganggu Kyungsoo.
Sehun datang, dengan rambut blond-nya yang berantakan dan matanya yang sembab karena air mata. Tangan kurus albino-nya ia gunakan untuk mengusap kasar mata sipitnya dan berhenti didepan Luhan. "Hyung, aku benar-benar –Ya Tuhan aku kecewa padamu"kata Sehun dan pergi setelah memberi Luhan sebuah tamparan dipipinya.
Lay keluar dari kamar Kyungsoo dan Baekhyun dan Luhan menghampirinya dengan wajah khawatir dan rasa lega yang seakan-akan ingin meledak. "Lay, bagaimana keadaannya?"tanya Luhan dan Baekhyun bersamaan. Lay menghela nafasnya, "Kalian boleh melihatnya, tapi jangan menganggunya terlebih dahulu. Ia sedang sedikit frustasi"
Baekhyun dan Luhan membuka pintu kamar Kyungsoo dan berjalan kedalam hampir dalam waktu yang bersamaan.
Kyungsoo diatas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga leher. Mereka sama-sama berada dipinggiran ranjang Kyungsoo dengan Baekhyun yang memegang kedua tangan Kyungsoo. Luhan mengalah, ia merasa Baekhyun lebih berhak untuk mengklaim Kyungsoo sebagai miliknya. Karena sebuah alasan, Kyungsoo masih kekasih Baekhyun.
XXXXXXX
Keesokan harinya, Kyungsoo bangun dan secara tiba-tiba menangis, membuat Sehun kebingungan setengah mati. "Hyung, jangan menangis. Tidak apa-apa Hyung, aku memaafkanmu"kata Sehun sambil memeluk dan mengelus punggung Kyungsoo.
Kyungsoo terus saja menggumamkan kata maaf padanya dan membuat kupingnya panas.
Baekhyun datang saat Kyungsoo masih menangis dan Sehun menyerahkannya pada Baekhyun. Ia duduk dipinggiran ranjang Kyungsoo, sedang Kyungsoo menekuk lututnya dan menyembunyika wajahnya diantara kakinya.
"Sayang, apa yang terjadi padamu hmm? Jangan menangis oke?"bujuk Baekhyun sambil mengelus kepala Kyungsoo. Ia memeluk Baekhyun dan menangis diantara leher pria itu. "Baekhyun, maafkan aku. Sungguh maafkan aku"kata Kyungsoo dengan isakan yang tak kunjung mereda.
Baekhyun menghela nafasnya dan mengangguk didalam pelukan mereka. Hingga ia bisa merasakan kalau bibir Kyungsoo sudah ada diatas bibirnya dan menari disana.
XXXXXXXXX
Tak ada kelanjutan lagi dari hubungan Sehun dan Luhan saat ini. Bahkan saat Kyungsoo mengatakan kalau ia dan Luhan tak melakukan apapun selain mengoles-berciuman-dan penyelesaian sebuah masalah kecil Sehun tetap berada dalam keputusannya.
Sehun menyadari bahwa mungkin Luhan memang tidak pernah ditakdirkan untuknya.
Sore itu, dengan langit jingga yang masih menjadi lukisan yang sesaat abadi, Sehun berjalan keluar dari kafe milik Suho.
Menghabiskan secangkir kopi dan sepotong lemon pie yang tak akan pernah membuat tubuhnya sedikit berisi. Ia mengeratkan jaketnya dan membenarkan syal yang ada dilehernya. Sehun memakai topi terbaik dan terus saja menundukkan kepalanya, hingga sesuatu menghentikan langkahnya.
Sehun berhenti dan mengangkat kepalanya, menatap sosok pria yang berwajah familiar didepannya. Tak ada yang berkata sampai pria itu secara tiba-tiba menarik pergelangan tangan Sehun dan membawanya terbang dilangit sore.
"A-apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku, bodoh!"protes Sehun sambil berusaha melepaskan genggaman pria itu pada pergelangan tangannya. "Menurutlah Sehun, atau kau akan jatuh dari ketinggia yang tak pernah kau bayangkah sebelumnya"
XXXXXXXX
Mereka berhenti disebuah kastil cantik dengan dinding putih bersih dan mengilap. Ada dua penjaga bertubuh besar dengan tongkat yang berujung tajam yang menjaga pintu masuk.
Pria itu menanjakkan kakinya ditanah hijau berumput itu dan mengajak Sehun masuk kedalam kastil. Sehun tak berkata, hanya diam dan membiarkan pria yang sama sekali tak dikenalnya ini membawanya kemana saja.
Sehun membulatkan mulutnya saat kakinya menjejakkan lantai keramik kasti itu. Dindingnya bercat putih dan keramik coklat lembut yang melapisi lantainya, dengan aroma lavender yang menguar dari berbagai sudut. "Kai, kau kah itu sayang?"seorang wanita dengan gaun putih yang jatuh hingga ketumit dan rambut coklatnya yang ia urai dan jatuh dengan bagus dipunggungnya.
Pria yang dipanggil Kai itu membalikkan badannya. "Ya, ibu. Aku membawa calon istriku"katanya dan membuat Sehun membulatkan mata dan mulutnya. Tak terima dengan perlakuan pria disampingnya. "Apa yang kau lakukan?"bisik Sehun protes karena wanita yang dilihatnya dilantai dua itu mulai berjalan menuju kebawah dengan suara sepatu bertumit tingginya yang bersinggungan dengan lantai menimbulkan gema hingga kesudut ruangan.
Sehun mulai merasa takut dan meremas tangan pria disampingnya yang masih setia menggenggam tangannya. Wanita itu berdiri tegap didepannya, "Kau Sehun? Adiknya Do Kyungsoo?"tanya wanita itu. Dan Sehun menganggukkan kepalanya.
"Kau tak perlu takut denganku Sehun-ah, karena dimasa depan kau akan tinggal disini sebagai istri anakku"
XXXXXXXX
Kyungsoo tak mengerti kemana perginya semua orang. Ini sudah malam, tapi Luhan ataupun Baekhyun tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, ditambah lagi Sehun yang belum kembali sejak ia berpamitan ingin makan kue dikafe Suho.
Seseorang mengetuk pintu rumahnya dan ternyata sosok Chanyeol yang mengetuknya. Pria jangkung itu menatap tubuh Kyungsoo saat pria mungil itu membukakan pintu untuknya. Kedua belah bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah lengkungan. Dan Kyungsoo membalasnya dengan senyuman tulus.
"Kyungsoo, boleh aku masuk?"
Kyungsoo menyerongkan badannya dan memberi Chanyeol jalan lebih untuk memasuki rumahnya. "Aku baru saja berpikir kemana perginya Baekhyun, Luhan, dan Sehun, mereka bahkan tak menunjukkan batang hidung mereka dan Sehun tak kunjung pulang"
Kyungsoo berjalan kearah dapur dengan Chanyeol yang sedang mencari posisi semanyaman mungkin disofanya. Ia kembali dengan kopi dan potongan buah naga merah.
"Wow, Kyungsoo. Buahnya terlihat menggiurkan"ucap Chanyeol saat matanya menangkap warna merah darah pada buah naga itu. Kyungsoo terkikik, "Kau kekanakan, bukankah kau sudah mendapat jatahmu untuk minggu ini?"tanya Kyungsoo.
Chanyeol mencomot satu kubus buah naga dengan tusuk gigi dan mengunyahnya pelan. "Well, sebenarnya aku tak berburu manusia. Aku hanya meminum darah binatang"
XXXXXXXXX
Pria itu duduk disebuah kursi putar yang ada diruangan gelap. Bukan Taemin ataupun Minho. Seorang pria tegap dengan rambut mowhak coklat.
Tangannya ia gunakan untuk mengelus dagu bawahnya dengan matanya yang masih menatap kertas-kertas didepannya dengan benci. "Dasar tak tahu diri. Aku benar-benar harus membunuh manusia itu!"teriaknya hingga menggema.
Seorang pria lagi memasuki ruangan itu dengan jeans sobek-sobek dan jaket kulitnya. Tubuhnya pendek dengan rambut karamel.
"Chen… jangan terus saja memikirkan anak ingusan itu"
Pria yang bernama Chen itu berdiri dari duduknya menatap pria mungil didepannya. "Kenapa Xiumin? Aku benar-benar akan membunuh manusia itu secepatnya"
XXXXXXX
Kyungsoo berjalan sendiri dihutan pinus yang ada didekat rumahnya malam itu. Tak ada yang ia takuti karena memang tak ada apapun disini selain dia dan angin malam yang berhembus dan menganai wajahnya halus.
Kyungsoo berhenti sejenak karena ia merasa mendengar sesuatu yang bergerak dari balik semak belukar didepannya. Kaki-kaki mungilnya berjalan pelan menuju ke semak belukar itu hingga seseorang muncul disana.
Ia tak bisa meyakinkan dengan pasti bagaimana bentuk wajahnya dan tubuhnya karena hampir semuanya tertutupi oleh bulu dan tak lama kemudian terdengar suara lolongan yang ia percayai berasal dari makhluk didepannya.
Bulu kuduk Kyungsoo semakin meremang saat makhluk itu membalikkan tubuhnya dan menatap Kyungsoo dengan mata merahnya. Tak lama kemudian makhluk itu menerjang Kyungsoo dan menancapkan taringnya diperpotongan leher Kyungsoo.
Kyungsoo merasakan seperti aliran listrik yang tiba-tiba menyengatnya saat taring makhluk itu menancap sepenuhnya diperpotongan lehernya. Tidak, makhluk itu tak menghisap darahnya, ia hanya memutuskan aorta-nya dan saraf-saraf tubuhnya.
Hingga tiba saatnya, segalanya terasa hanya putih dan buram dimata Kyungsoo dan ia seperti tak bernyawa.
XXXXXXXXX
Sehun terbangun dari tidurnya. Firasatnya buruk dan nalarnya berpikir tentang Kyungsoo. Ia memperhatikan sekeliling dan menyadari kalau ini bukan kamarnya.
Dindingnya berwarna pastel dengan korden merah muda dan perabotan kayu. Seseorang yang bernama Kai ada disampingnya dan ia sedang tidur seranjang dengan Sehun. Seranjang.
"Kya! Menyingkir kau!"teriak Sehun sambil menutupi tubuhnya dengan selimut dan menangis. Ia tak kecewa karena menemukan dirinya sedang tidur seranjang dengan pria ini. Ia sedih karena berfirasat buruk tentang Kyungsoo sekarang.
Kai membuka matanya dan menemukan Sehun sedang menangis dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia beranjak dan memeluk Sehun erat dengan Sehun yang sedang menangis didadanya. "Shhh… Sehun-ah, jangan menangis ne? Apa yang kau inginkan sayang?"
Sehun mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Kai. Garis wajahnya tegas dengan mata yang indah. Sehun mulai menyukai ini. Tapi mood-nya berubah saat ia kembali berpikir tentang Kyungsoo. "Kyungsoo-Hyung, Kai tolong antar aku ke rumah ne?"
XXXXXXXX
Kai hanya menuruti kemauan Sehun agar ia terbang saja dari pada naik mobil dan Sehun ingin pulang lewat hutan pinus yang ada dibelakang rumahnya.
Kai menghentikan terbangnya dan menjejakkan kakinya disebuah dahan pohon. Sehun yang ada digendongannya menatapnya aneh dengan alisnya yang berkerut. "Kai. Ada apa?"tanya Sehun sambil memegang pipi kiri Kai.
"Ini seperti darah"kata Kai dan tanpa sadar mereka terbang bukan kearah rumah melainkan kearah dimana Kyungsoo berada.
..
..
..
Sehun menjerit dan Kai hanya memasang wajah khawatir pada sosok pria mungil yang bersandar disebuah pohon pinus yang tinggi. Sehun berlari kearah dimana jasad Kyungsoo berada dan mengangkat kepala Kyungsoo keatas pahanya. "Kyungsoo-Hyung –hiks- a-apa yang terjadi padamu? Hyung! Ayolah jangan bercanda! Aku tahu kau hanya bercanda, Hyung!" Kai meringis saat melihat Sehun menangis sambil berteriak.
Mata hitamnya tak sengaja melihat sesuatu yang aneh pada leher Kyungsoo. "Sebentar, Sehun-ah. Coba lihat apa yang ada dilehernya"kata Kai dan Sehun memiringkan kepala Kyungsoo. Ada dua buah lubang disana yang Sehun percayai adalah bekas taring vampir.
"A-apakah mungkin? Vampir?"
XXXXXXX
Pagi itu, tak seperti biasanya rumah Kyungsoo terlihat begitu ramai dengan banyaknya mobil-mobil yang terparkir dihalaman depan rumahnya.
"Hiks… Kyungsoo-Hyung… Hikss… Hikss"
Kai hanya bisa mengelus pelan punggung Sehun saat pria itu terus saja menangis didepan peti mati Kyungsoo. Rambut perak Sehun sudah tak tertata rapi dengan jas dan kemeja hitamnya. Tak lama kemudian, Kris datang bersamaan dengan datangnya Baekhyun.
Kris dan Baekhyun mencoba untuk memberikan penghormatan terakhir pada Kyungsoo dan mengucapkan kata maaf padanya. Entah kenapa Kai merasa bahwa jasad didalam peti mati itu tak sungguh-sungguh mati. Di nalarnya, Kyungsoo hanya mati suri.
XXXXXXXX
Malamnya, setelah petang hari Kyungsoo sudah dimakamkan. Ada seorang pria yang berdiri didepan kuburan Kyungsoo dan tersenyum licik.
"Kau percaya reinkarnasi?"tanyanya. Pria disampingnya terkekeh pelan. "Tidak akan terjadi reinkarnasi untuk seorang manusia"katanya sakratis. Pria itu menggeram lagi, "Kita hanya harus menunggu sampai ada seorang yang akan membangunkannya"
Pria yang itupun terkekeh dan menginjak tanah pekuburan Kyungsoo dengan kakinya. "Aku harap si Vampir tak melupakan pasangannya"katanya dengan seringaian. Pria pendek disampingnya juga terkekeh. "Kau juga tak akan melupakan kalau takdir bocah ini begitu rumit"
XXXXXXXXX
Luhan berdiri dibalkon kamarnya. Matanya tertutup dan merasakan angin yang serasa berbicara dengannya. Ia bahkan masih tak mempercayai kalau Kyungsoo sudah tewas karena Vampir.
Matanya tiba-tiba terbuka dan pupilnya berubah semerah darah saat matanya melihat sosok pria tinggi yang tengah melihatnya dari sebuah dahan pohon yang tak jauh dari rumahnya. Bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah senyuman mematikan dan kepalan tangannya semakin mengerat saat pria itu terbang mendekat kearahnya.
Mata pria didepannya sama merahnya dengannya. "Kau membunuh Kyungsoo!"kata pria didepannya tiba-tiba. Luhan membuang ludahnya dan terbang ke halaman belakangnya. "Apa yang kau katakan bodoh! Aku tahu bahkan tak ada dari kita berdua yang membunuh Kyungsoo. Bukan, bukan Vampir yang biasa Chanyeol. Ia mengetahui, mengetahui segalanya"
Chanyeol memutar matanya, "Apa yang kau katakan? Segalanya apa yang ia ketahui?"tanyanya dengan lantang. Luhan menghela nafas. "Chanyeol, Kyungsoo bukan hanya pria mungil yang manis dan seksi. Ia, ia adalah legendanya"
XXXXXXXX
22 April 1990
Seminggu setelah kematian Kyungsoo. Baekhyun membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Ia sudah cukup dapat melupakan Kyungsoo. Akan tetapi, ia merasa kosong dihatinya.
Baekhyun menyibak selimutnya dan beranjak dari ranjang. Berdiri didepan kaca besar yang ada dilemari pakaiannya. Lingkaran hitam samar terlihat melingkari mata sipitnya. Ia berjalan untuk membuka korden putihnya dan membiarkan cahanya matahari pagi memasuki kamarnya. Setidaknya, ia butuh pergantian udara setelah tiga hari ia bahkan tak membuka jendela kamarnya.
Sejenak, Baekhyun merasa kalau ia benar-benar merasa asing sekaligus rindu dengan cahaya matahari hangat yang menerpa kulitnya, begitu juga dengan angin pagi yang melewatinya halus. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya setelah kematian Kyungsoo.
Baekhyun membersihkan tubuhnya setelah itu, mengguyur kepalanya dengan shower dan ia juga mencuci rambutnya. Ia memakai setelan biasa dengan sneaker hijau-kuning yang membalut kakinya. Ia sudah menyusun beberapa rencana untuk hari barunya, tanpa Kyungsoo.
Baekhyun duduk dikursi makan dan mengagetkan Tiffany yang sedang mengoles roti bakar dengan selai nanas dan coklat. "Baekhyun!"pekiknya. Tangannya masih memegang pisau selai dan roti panggang. Baekhyun menutupi lubang telinganya. "Tiffany, tolong jangan histeris. Kau merusak mood-ku pagi ini"
Tak lama, Tao bergabung dengan piyama panda yang masih membalut tubuhnya dengan rambut blond-nya yang masih acak-acakan. "Hei Tao. Setidaknya beritahu aku kalau kau sudah memilik kekasih"kata Baekhyun yang menyebabkan Tao tersedak setelahnya.
Mata pandanya menatap Baekhyun lalu terkekeh. "Maaf Baekhyun-Hyung, kau terlalu sibuk mengurus Kyungsoo waktu itu. Hingga kau bahkan tak menyadari kalau adikmu sedang berkencan dengan naga mesum"
XXXXXXXX
Baekhyun menyetir mobil kesuatu tempat siang ini. Ia tak tahu harus kemana dan ternyata mobil tuanya membawanya kesebuah tempat. Pemakaman Kyungsoo.
Baekhyun membuka pintu mobilnya dan membanting pelan saat menutupnya. Ada perasaan sesak didadanya saat mengingat ia kemari bukan untuk menjenguk orangtuanya tetapi untuk menjenguk Kyungsoo.
Baekhyun berjalan menuju kesudut dimana jasad Kyungsoo terbaring. Mata coklatnya masih menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berjongkok dan mengelus nisan Kyungsoo. "Kyungsoo-ya. Aku datang padamu. Maaf jika saat itu aku tak ada disampingmu untuk melindungimu…"
"…. Kau tahu, aku merasa begitu brengsek dan jahat saat aku sadar kalau aku lalai menjagamu. Dan juga, aku tak mengindahkan peringatan yang Kris katakan padaku"
Nalar Baekhyun berakar dan berakhir pada seseorang. Kris.
Pria jangkung itu sempat memperingatkannya untuk menjaga Kyungsoo.
XXXXXXXX
Dan disinilah Baekhyun, duduk dikursi besi empuk yang berhadapan dengan Kris yang duduk dikursi putarnya. "Aku merasa seperti pegawaimu Kris. Jangan menatapku seolah-olah aku pegawai baru yang membuat kesalahan dihari pertamanya bekerja"
Kris terkekeh, "Maaf Baekhyun. Tapi, apa yang kau lakukan kemari?"tanyanya dan Baekhyun memulai dengan menghela nafasnya terlebih dulu. "Kau pernah memperingatkanku Kris, memperingatkanku agar menjaga Kyungsoo. Apa maksudmu? Kenapa Kau memintaku melakukannya?"
Kris menghela nafasnya dan menyamankan duduknya. Tangannya ia tumpu diatas meja sedang Baekhyun didepannya tengah meminta penjelasan darinya.
"Baekhyun, kau pernah dengar legenda amaranth?"tanya Kris. Baekhyun menganguk, "Legenda tentang seorang manusia yang memilik takdir rumit dengan banyak sekali makhluk supernatural yang menjamah takdirnya…"Kris menjeda kalimatnya dan menghela nafas lagi.
"…. Maaf bila sebelumnya aku terlambat mengatakan ini padamu. Kyungsoo-lah legenda itu Baekhyun, ia adalah manusia itu"kata Kris pelan sambil memperhatikan perubahanraut muka Baekhyun.
Baekhyun menghela nafasnya, "Tak apa, lagipula semua itu sudah terjadi dan bukankah kita hanya harus menunggu untuk yang paling benar akan membangunkannya"
XXXXXXXX
24 April 1990
Pagi ini, Baekhyun menemukan dirinya tertidur dibalkon setelah ia mengingat-ingat kalau semalam ia tidur diranjangnya. Tangannya meraba sebuah luka gores yang ada digaris rahangnya dan membentuk tiga buah garis yang berbeda panjang.
Ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi padanya, hanya saja, ia merasa kalau kemarin malam, ia seperti tertarik oleh sesuatu dan sesuatu itu menyakitinya.
"Akhhh…"
Baekhyun mengerang saat alkohol menyentuh lukanya dan berganti dengan obat merah. Ia meringis sekali lagi sebelum menutup lukanya dengan plester dan mulai mempersihkan dirinya.
"Baekhyun, apa yang terjadi dengan rahangmu?"tanya Tiffany saat mereka sarapan bersama. Tangannya mengelus plester lukanya dan tersenyum, "Tidak, ini tak apa. Aku hanya terluka kecil"jawabnya dan Tiffany mengangguk. "Dimana Tao?"
"Aku tak tahu, ia tak kembali sejak kemarin malam"
XXXXXXXX
Baekhyun mendobrak paksa kantor Kris karena ia sudah tak bisa bersabar lagi karena ini menyangkut adiknya. Adik bungsunya.
Baekhyun berjalan dengan nafas berat dan menatap mata pria itu tajam. "Hei Baekhyun ada a –" "Jangan berlagak Kris Wu, dimana Tao?"
Kris yang mendengar nama Tao terlontar lantas berdiri dan menatap Baekhyun. "Apa yang terjadi padanya?"tanya Kris. Baekhyun masih berusaha menstabilkan deru nafasnya, "Ia tak kembali sejak kemarin malam, ia hilang Kris"
XXXXXXXXXX
To be continue….
Hai hai hai,
Maaf kemarin buat chapter 3nya gak bisa update kilat dan ini chapter 4 apa sudah cukup menjelaskan segala konflik di chapter-chapter berikutnya. Ini bukan puncak ketegangan, ini masih titik permulaan datang konflik saat Kyungsoo udah meninggal yang readers…
Tak lupa saya juga mau ngucapin makasih sebesar-besarnya buat yang sudah review, foll, fave ff ini.
So Mind to Review?
Channie10
