Author Note: update again! Man! Aku baru sadar bahwa udah lewat 20 chapter! Tidak terasa sama sekali (terharu). Thanks banget yang da review! Balasan review berada di bawah! Thanks for visiting!


Troublesome Family

Chapter 21

Aku menguap selama dalam truk. Aku merasa bosan selama dalam perjalanan. Riku mengatakan, butuh tiga jam menuju tempat pembelian senjata ilegal. Aku membaca buku pelajaran untuk mencegah ngantuk. Tapi dugaanku salah. Aku justru tidak bisa konsentrasi dan menjadi pusing. Setiap kali Riku membelokkan truk ini, rasanya kepalaku serasa berputar ketika membaca buku pelajaran.

Maka kuputuskan untuk kembali menyimpan buku pelajaranku dan memperhatikan jalan saja. Jalan tidak terlalu ramai, tapi tidak terlalu sepi juga. Kecepatan Riku stabil. Antara 40 hingga 50 kilometer.

Sudah satu setengah jam kami berjalan dan Riku memutuskan untuk berhenti. Dia mampir di sebuah restoran kecil di pinggir jalan.

"Mengapa kita berhenti?" tanyaku heran.

"Tempat ini wajib didatangi sebelum kita ke sana."

"Mengapa?" Kepalaku memiring.

"Kau akan tahu nanti." Riku tersenyum sinis.

Aku menaikkan sebelah alis. Masih merasa bingung. Aku membuntuti Riku yang berjalan masuk ke restoran. Dia menuju ke sebuah meja yang berada paling pinggir. Terdapat seorang lelaki berambut hitam onyx yang duduk di meja tersebut. Sesekali dia melirik jam di tangannya. Dia terlihat bosan.

"Maaf menunggu lama," sapa Riku pada lelaki tersebut.

"Ah, akhirnya. Kau sudah membawanya?" tanyanya.

"Sudah." Riku terlihat mengeluar sebuah cek tunai dan menyerahkannya.

Orang tersebut menerimanya dan langsung menyimpannya di saku bajunya. "Dan dia adalah?" Dia menatapku.

"Sora," jawab Riku. Mendahuluiku. "Dia adalah saudaraku."

"Saudara? Kalian berdua terlihat sangat berbeda."

Riku hanya terdiam. "Sora, dia adalah Mr. Toni. Mr. Toni yang selama ini memasok 'barang' yang kita butuhkan."

Barang yang Riku maksud adalah senjata. Aku hanya mengangguk.

"Jadi, Mr. Toni, apakah semua barang yang kami pesan lengkap?" tanya Riku sambil menatapnya.

"Lengkap."

"Baiklah. Kami akan mengambilnya hari ini. Jika seandainya barangnya tidak lengkap, kami akan membakar gudang Anda," ancam Riku dengan nada kecil tapi tatapan tajam. Entah mengapa aku merasa tatapannya sama seperti ketika dia hendak membunuh seseorang.

"Y-ya." Mr. Toni terlihat ketakutan.

Dia berjalan meninggalkan kami dengan wajah menunduk. Riku duduk di salah satu kursi. Aku pun duduk berhadapan dengannya.

"Kita tidak langsung berangkat lagi?" tanyaku sambil melihat menu makanan yang terletak di meja. Meski restoran ini kecil, menu makanan di sini tergolong cukup banyak.

"Masih banyak waktu, sehingga kita bisa bersantai. Lagipula ada baiknya memberi waktu pada Mr. Toni untuk memastikan semua pesanan kita lengkap." Riku mengambil menu yang kupengang, lalu memanggil seorang pelayan. "Dua hot chocolate dan pancake."

"Pancake-nya mau pakai saus apa? Kami mempunyai beberapa saus. Ada selai strawberry, nanas, red cherry, grape, dan apel. Ada juga madu, mentega atau margarin yang rendah lemak, chocolate, dan Vanilla," balas Sang pelayan.

"Aku mau chocolate dicampur vanilla!" seruku dengan senyum.

"Anda?" Sang pelayan menatapi Riku.

"Madu."

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar."

Sang pelayan terlihat pergi mengantarkan pesanan.

"Neh, Riku, apakah setelah ini, masih ada tugas lagi dari Dad?" tanyaku dengan suara kecil.

Riku mengangguk. "Kau masih ada misi denganku besok malam. Kau baru bebas tugas lusa."

"Huh? Mengapa?" tanyaku heran.

Riku menyandar wajahnya pada telapak tangannya. "Karena jika kau ikut tiga hari berturut-turut, yang ada kau tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Kata Dad, dia menanyakan nilaimu minggu-minggu ini pada kepala sekolahmu."

Mulutku menganga. Aku hanya terdiam menanti lanjutan kata-kata Riku.

"Kepala sekolahmu mengatakan, minggu-minggu ini nilaimu diambang kehancuran," kata Riku sambil tertawa.

Mukaku memerah. Aku menunduk malu mendengarnya. Memang belakangan ini aku sulit konsentrasi jika mengantuk.

Pelayan tadi datang membawakan dua hot chocolate dan dua pancake. Dia menyerahkan pancake madu pada Riku dan pancake chocolate plus vanilla padaku.

"Terima kasih," kataku ketika pancake-ku diletakan di depanku.

Ketika Sang pelayan berbalik dan hendak pergi, aku langsung meraih pisau dan garpu. Siap mengoyak-ngoyak -err, maksudnya, siap memotong dan menyantap pancake yang masih hangat ini. Kurasa kebanyakan membunuh membuatku suka lupa diri ketika memegang pisau.

Man, tinggal bersama pembunuh selama bertahun-tahun membuatku sedikit lupa pada kehidupan yang dikatakan 'normal' oleh orang-orang normal.

Aku berusaha menyantap seluruh makanan dengan pelan. Riku belum menyentuh pancake-nya sejak tadi. Dia mendapatkan telepon saat pelayan tadi mengantarkan pesanan kami. Aku mencoba menyimak pembicaraannya...

"...sehingga misi tertunda?" Riku terdiam sejenak. "Ya. Ya. Hm..." Riku terdiam lagi.

Aku menatapinya dengan penasaran. Dia terlihat sangat serius sekali mendengar pembicaraan di telepon.

"Baiklah. Kuusahakan bisa menerima misi yang tertunda itu. Focuslah pada misi lain, Kadaj."

Riku mengakhiri telepon.

"Ada apa?"

"Misi Kadaj tertunda karena targetnya mengganti jadwalnya. Kadaj memintaku menggantikannya membunuh targetnya. Malam ini."

Mulutku menganga. "Malam ini? Bagaimana dengan sen-maksudku, barang yang akan kita ambil?" Nyaris saja aku mengatakan senjata di tempat umum.

"Well, maka dari itu kita harus bergegas sekarang." Riku langsung berdiri. Dia benar-benar tidak menyentuh pancake-nya sedikit pun. Bahkan minumannya juga tidak disentuh.

Riku memanggil pelayan dan langsung membayar tagihan pesanan kami. Sebenarnya sih sangat di sayangkan membiarkan makanan yang tidak disentuh terbuang sia-sia. Tapi tidak ada waktu untuk menunggu pancake ini dibungkus.

Kami berlari menuju truk. Begitu masuk, dengan sigap Riku menyalakan mesin dan langsung jalan sebelum aku selesai memasang sabuk pengaman. Kecepatan truk ini sekitar 70 kilometer per jam. Kecepatan truk menurun saat Riku mencoba menyalip mobil di depannya.

Terkadang aku merasa ngeri saat Riku menyalip. Dia suka menaikkan kecepatan truk mendadak dan aku jantungan karena khawatir dia menabrak mobil yang disalipnya...

(-lllllll-)

Hari sudah gelap saat kami tiba ditempat penjualan senjata ilegal. Orang tadi, Mr. Toni, terlihat menunggu kedatangan kami. Riku memarkirkan truk ke dalam gudang Mr. Toni. Gudang ini merupakan gudang kamuflase. Untuk menipu polisi, gudang ini di isi dengan berbagai macam barang. Mulai dari makanan ringan yang diimpor, barang-barang yang terbuat plastik seperti piring dan gelas, tumpukan rim kertas yang jumlahnya ratusan, minuman kaleng dan botol, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya aku cukup penasaran. Di mana yah senjata ilegalnya dia simpan? Jumlah yang kami pesan cukup banyak. Pastinya tidak mudah untuk menyembunyikannya.

"Kalian, geser kardus-kardus minuman botol itu!" perintah Mr. Toni pada anak buahnya.

Dengan hati-hati, anak buah Mr. Toni menggeser kardus minuman botol satu per satu. Tumpukkan kardus tersebut ada tujuh tingkat. Sehingga membutuhkan waktu 15 menit untuk menggesernya. Begitu semuanya digeser, terpal yang digunakan sebagai alas kardus digeser. Dibalik terpal tersebut, terdapat pintu besi yang rata dengan lantai. Ketika dibuka, terdapat sebuah tangga menuju ke bawah tanah.

Wow! Ide yang briliant. Memang benar jika ditutupi terpal dan ditimpa oleh kardus yang berisi botol minuman yang terbuat dari kaca, polisi pasti tidak akan mencurigainya. Ditambah ruang rahasia di bawah tanah. Tidak ada seorang pun yang akan mengiranya. Bahkan aku saja tidak percaya terdapat ruang bawah tanah di sini.

Aku, Riku, dan Mr. Toni turun ke bawah bersama-sama. Tidak ada penerang sedikitpun di bawah sana. Sehingga penerang yang kami gunakan hanyalah senter. Aku melangkah dengan hati-hati ke bawah.

Begitu tiba dibawah, aku mengibas-ngibaskan tanganku ke arah wajahku karena merasa panas. Udara dibawah sini sangatlah pengap. Tidak ada sirkulasi udara. Satu-satunya sirkulasi udara di sini hanyalah jalan keluar saja.

Riku mengecek senjata-senjata yang ada di sini. Kulihat terdapat beberapa jenis senjata baru yang tidak pernah kulihat. Aku menyentuhnya dan melihat-lihat senjata tersebut.

30 menit berlalu. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhku. Pakaian Riku dan Mr. Toni juga terlihat basah. Man, aku ingin segera keluar.

"Baiklah. Semua kondisi senjata sudah kucek. Secara fisik semua senjata ini baik-baik saja. Tapi saya harap, tidak terdapat masalah saat kami menggunakannya," kata Riku sambil menatap Mr. Toni.

"Penyedia senjata ini menjamin tidak ada yang cacat karena sudah mereka tes," balas Mr. Toni.

"Semoga."

Kami berjalan keluar dan Mr. Toni meminta anak buahnya untuk mengeluarkan seluruh senjata yang berada di bawah tanah. Seluruh senjata tersebut masuk ke dalam truk kami setelah 30 menit berlalu. Aku dan Riku menyusun dengan hati-hati senjata yang kami masukkan. Begitu selesai, Riku meminta beberapa puluh kardus makanan ringan yang ada di gudang ini. Ancang-ancang jika ada polisi yang mengecek ke dalam truk kami.

Seluruh kardus makanan ringan menutupi ratusan senjata di dalamnya. Terdapat tiga tumpukkan kardus yang berfungsi sebagai lapisan pertahanan. Umumnya, polisi di jalan yang akan kami lalui pernah menurunkan satu kardus yang berada di dalam truk kami, begitu kata Riku. Mereka mau memastikan bahwa muatan kami benar-benar berisi makanan ringan.

Riku juga telah menyiapkan surat jalan sebagai bukti pengiriman barang yang berada di truk. Untuk memperkuat bukti bahwa kami ini memang kurir pengantar barang saja.

Well, semua sudah dipersiapkan dengan baik. Yang paling mengkhawatirkan adalah saat perjalanan nanti. Aku tidak tahu apakah kami sukses membawa semua senjata ini ataukah tidak. Semoga saja sukses.

"Terima kasih banyak Mr. Toni. Jika memang senjata yang Anda jual tidak mengalami masalah seperti biasa, maka kami akan memesannya lagi," kata Riku sebelum menutup pintu truk.

"Sama-sama."

Riku menyalakan mesin truk begitu dia menutup pintu. Dia langsung menjalankan truk ini dengan cepat. Dia tidak menurunkan kecepatannya ketika memasuki jalan besar. Sekarang aku lebih khawatir kami ditangkap karena berjalan melebihi kecepatan daripada tertangkap karena menyelumdupkan senjata api.

"Riku, ada baiknya kau menurunkan kecepatan truk ini," saranku.

"Don't worry Sora, jika seandainya ada polisi yang melihat kita, maka aku akan langsung berhenti," balas Riku sambil senyum sinis. Dia tidak terlihat khawatir sedikitpun.

"Lalu?" tanyaku.

"Aku akan..."

Terdengar sirine polisi sebelum Riku selesai menjelaskan. Riku pun langsung berhenti.

"Pura-puralah kesakitan!" perintah Riku.

"Apa!? Bagaimana!?" Aku panik bukan main.

"Meringis saja sudah cukup!" balas Riku sambil melirik polisi yang turun melalui kaca truk.

"Me-meringis?" Aku pun langsung mencoba mengingat bagaimana aku meringis saat terluka. Kepegangi dadaku, pura-pura kesakitan di bagian jantung.

Riku langsung turun menemui polisi ketika aku berpura-pura kesakitan. Riku menjelaskan bahwa dia melanggar kecepatan berkendara karena hendak ke rumah sakit untuk menolongku yang mendapatkan serangan jantung ringan.

Herannya, polisi tersebut percaya. Entah apa yang membuat mereka percaya. Selain caraku meringis kesakitan, sepertinya ada hal lain yang membuat mereka semakin percaya.

"...kami tahu Anda terburu-buru karena ingin menolong teman Anda. Tapi kecepatan kendaraan Anda juga dapat membahayakan keselamatan kalian berdua."

Riku bernegosiasi dengan polisi agar dia tidak diberikan surat tilang. Polisi tersebut berbaik hati dan tidak memberi kami surat tilang asalkan tidak mengulanginya lagi.

"Terima kasih! Maaf sekali, tapi saya harus segera mengantarkannya ke rumah sakit terdekat," kata Riku sambil menaiki truk.

"Perlu kami antar?" polisi tersebut menawarkan bantuan.

"Terima kasih, tapi tidak. Kuyakin ada yang lebih membutuhkan Anda, Polisi, dibandingkan kami," balas Riku dengan senyum.

Riku kembali menjalankan truk. Aku pun berhenti meringis kesakitan dan menghela napas.

"Man, kukira mereka tidak percaya."

"Well, mereka sepertinya sangat percaya karena sekujur tubuhmu berkeringat hingga membuat bajumu basah," jelasnya.

"Ah..." Aku menatapi bajuku yang basah oleh keringat. Bajuku basah ketika berada di ruang bawah tanah tadi. "Tapi bajumu juga basah," kataku memberitahu.

"Well, mereka tidak terlalu memperhatikanku."

"Oh..."

"Sora."

"Hm?"

"Kurasa kita akan melakukan misi terlebih dahulu sebelum membawa senjata ini pulang."

"Huh? Misi di mana?"

"Masih di sekitar sini. Kita harus melakukannya dengan cepat. Karena target kita sudah berada di sebuah gedung, tempat dia rapat, 30 menit lalu. 15 menit lagi dia akan pergi dan kita hanya mempunyai waktu 10 menit untuk membunuhnya."

"Apa!? Singkat sekali! Apakah tidak bisa ditunda?" tanyaku dengan wajah terkejut.

"Misi ini adalah misi operan dari Kadaj. Dead line-nya hari ini. Mau tidak mau, kita sudah tidak bisa menundanya lagi. Bersiaplah," kata Riku dengan senyum sinis.

Aku menghela napas. "Aku sudah siap dari tadi. Hanya saja aku tidak membawa apa-apa selain pisau."

"Well, aku ada cadangan pistol untukmu." Riku mengeluarkan sebuah pistol dari jaketnya. Sebuah mini pistol diserahkan padaku. "Pistol itu tidak memiliki peredam suara. Maka dari itu, begitu menembak, kita harus segera pergi secepatnya. Pastikan tembakkanmu tidak ada yang meleset."

"Mengapa kau tidak menembaknya sendiri saja?"

"Ah, aku tetap menembakki target kita. Maksudku, kau tembakki orang-orang di sekitarnya untuk mengaburkan bukti bahwa seakan-akan kita hanya menembakki orang secara asal untuk meneror saja."

Aku langsung menggangguk mengerti.

Riku memarkirkan truk ini di parkiran umum, lalu mengeluarkan dua buah jubah dan sarung tangan dari kantong plastik.

"Gunakan ini dan jangan sampai ada orang yang melihat wajahmu," kata Riku sambil menyerahkan jubah tersebut.

"Apakah kita akan melakukan penyerangan di dalam ruangan?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku dan Riku mengangguk dengan senyum sinis.

Kami turun setelah mengenakan jubah dan menuju ke sebuah gedung. Kami harus berlari karena tidak ada waktu bersantai. Tanpa segan-segan, Riku langsung menghajar penjaga di pintu belakang hingga dia pingsan. Kami berlari masuk menyelusuri lorong.

"Kau tahu dimana posisi target kita saat ini?" Kutatapi Riku dengan wajah bingung. Tapi dia tidak bisa melihat ekspresiku karena wajahku tertutup kerudung.

"Tidak."

Mulutku menganga.

"Tapi menurut Kadaj," tambah Riku dengan cepat, "target kita akan terlihat berjalan keluar melalui lobby depan. Sehingga kita tidak perlu mencarinya."

"Tapi bagaimana jika dia sudah keluar sebelum kita di lobby?"

"Well, misi gagal," jawab Riku dengan ringan.

Aku langsung merasa sedih saat Riku mengatakannya. Misi gagal. Itu adalah kata-kata yang paling takut kudengar. Aku takut kegagalan tersebut berefek pada nasibku meski aku tahu mereka tidak akan pernah membuangku. Kukepalkan tanganku dengan kuat. Apapun yang terjadi, misi ini harus berhasil.

Ketika tiba di lobby, Riku menggumamkan kata 'damn' sambil melihat ke arah pintu keluar. Apakah orang-orang yang telah keluar adalah target kami? Tapi yang mana? Ada begitu banyak orang...

'Tembakki orang-orang di sekitarnya untuk mengaburkan bukti bahwa seakan-akan kita hanyalah menembakki orang secara asal untuk meneror saja."

Kata-kata Riku mendadak teringat olehku. Kukeluarkan pistol mini dari sakuku. Kuarahkan senjataku pada orang-orang yang telah keluar.

Dor!

Dor!

Dor!

Dor!

Dor!

Lima tembakkan kuarahkan secara random pada orang-orang yang berada di luar sana. Aku tidak tahu yang mana target kami. Tapi semoga saja salah satu dari lima orang yang terkena tembakkanku adalah target kami.

Histeris terdengar ketika darah bercipratan. Mereka pun berlarian ketakutan.

"Kau tidak mengenai target kita, Sora," jelas Riku dan wajahku memucat.

Tubuhku terasa lemas saat mendengarnya. Kami gagal. Aku terduduk dan menunduk sedih.

"Hey, maksudku, kita belum gagal. Kau hanya salah tembak saja," balas Riku dengan cepat. Berusaha menghiburku.

"Benarkah!?" Aku langsung menatap Riku.

Dia menarikku bangun sebelum menjawab, "ya. Target kita justru di sana."

Riku mengarahkan pistolnya pada lift yang hendak terbuka. Begitu terbuka, pelatuk pistol ditekan dan peluru meluncur masuk dan mengenai penumpang lift. Seorang wanita dengan rambut merah terkena peluru tersebut. Tubuhnya terjatuh ke lantai lift setelah membentur dinding lift. Orang-orang yang satu lift dengannya berteriak histeris.

"Mision complete," kata Riku dengan nada bangga. "Ayo kita pergi!"

Riku langsung menggenggam tanganku dan menarikku berlari keluar. Ketika di luar, Riku langsung menyerang seseorang yang baru saja mematikan mesin motornya. Dia terjatuh dan Riku menaiki motornya.

"Kupinjam dulu," kata Riku. Kuyakin dia tersenyum sinis.

Ketika aku naik, Riku langsung menjalankan motor curian tersebut dengan kecepatan tinggi.

"Bagaimana dengan truk kita, Riku!? Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa target kita belum keluar!?" tanyaku sedikit berteriak karena suaraku ditelan angin.

"Nanti Kadaj akan mengambilnya! Aku menyelipkan kunci mobil tersebut di sela-sela bawah mobil! Di tempat yang hanya diketahui anggota kita saja! Soal target kita, aku tahu dia belum keluar karena Kadaj mengatakan, bahwa target kita mempunyai kebiasaan mengobrol cukup lama di lobby!"

"Tapi tadi kau berkata 'damn' saat kita tiba di lobby!"

"Itu karena kukira kita datang tepat waktu! Ternyata dugaanku salah, justru kita kecepatan!"

Astaga! Dia berkata 'damn' hanya karena kami kecepatan!? Bukan terlambat? Dasar.

Aku tidak membalas lagi. Man! Riku membawa motor ini terlalu kencang! Aku takut! Lebih takut dibandingkan dikejar oleh polisi! Kupeluk Riku lebih erat lagi dan berharap motor ini segera berhenti. Rasanya seperti kau jatuh ke jurang dalam kecepatan tinggi. Yang paling kutakutkan, dia kehilangan kendali karena motor ini terlalu cepat.

To be Continued...


Author Note: wew! Penyelesaian chapter kali ini mepet! XD thanks for reading! Don't forget to review my story!

To a reviewer name Kitsune Syhufellrs: hahahaha… Cloud memang selalu keren. XD