..
..
..
..
[Chapter 5] – The Reality
Baekhyun masih memutar otak memikirkan kemana kemungkinan adik bungsunya itu pergi. Kris juga sedang mencari Tao, dan sekarang dengan perlahan, pikiran Baekhyun mulai beralih.
XXXXXXXX
26 Maret 1990
Pagi ini lagi, Baekhyun menemukan dirinya tergeletak dibalkon kamarnya dengan luka dilengannya dan sudut bibirnya yang sobek. Baekhyun bangun dan sekilas ia bisa melihat seorang pria yang berdiri didahan pohon tak jauh dari rumahnya.
Tak memperdulikan itu, Baekhyun memutar tubuhnya dan pergi ke kamar mandi.
Ia membersihkan lukanya dan menutupnya dengan plester. Tak lama ia turun kelantai bawah dan menemukan Luhan sedang duduk disofa ruang tengahnya. "Luhan?"
Luhan berdiri dan membalikkan badannya. Tersenyum kecil pada Baekhyun, "Apa yang kau lakukan disini?"tanyanya, Luhan menghela nafas, "Aku tahu benar kalau kau dua hari lalu tergeletak dibalkon kamarmu"katanya dan Baekhyun merasa tertegun.
"Bagaimana kau tahu?"
"Tidak, tidak disini Baekhyun. Kita hanya butuh, privasi"
XXXXXXXX
Disinilah mereka, duduk berhadapan diruang bawah tanah yang ada dirumah Luhan dan menyalakan sebuah lilin. "Kris memberitahuku kalau kau sudah mengetahui tentang Kyungsoo dan Amaranth, aku hanya akan memberitahumu sebuah petunjuk dimana adikmu berada Baekhyun, maafkan aku bila aku tak memberitahukan segalanya. Ini begitu berbahaya"
Baekhyun menundukkan kepalanya dan menelan ludahnya, "Baiklah"jawabnya singkat. Luhan mengawalinya dengan menghela nafas berat, "Adikmu ada di kastil Chen, kau kenal Chen bukan?"tanya Luhan dan Baekhyun mengangguk sambil memegang dagunya.
"Tapi bagaimana bisa?"tanyanya lagi. Luhan terkekeh kecil, "Ini simpel, kau adalah pacar Kyungsoo dan Zitao adalah adikmu, mereka akan melakukan apapun untuk menghancurkan orang yang pernah ada dikehidupan Kyungsoo. Termasuk aku dan … Sehun"
XXXXXXXX
28 Maret 1990
Pagi ini ia masih ada dikastil Kai, ia tak punya banyak nyali untuk pulang dan tinggal sendiri dirumahnya. Dan alasan sebenarnya adalah sebuah alasan sederhana, terlalu banyak kenangan.
Sehun berdiri dibalkon kamarnya, fajar sudah datang tapi Kai masih saja bergelut dengan selimutnya dan Sehun membenci itu. "Kai, -aishh… kenapa kau sulit sekali bangun!"kesal Sehun dan menendang Kai dari ranjang.
"Hei, hei sayang. Jangan mendorongku oke? Sekarang apa yang kau inginkan?"
Sehun diam sambil menatap Kai. Kai dan Kyungsoo sama, mereka sulit sekali bangun ketika tidur. Dan itu membuat Sehun mau tak mau mengingat Kyungsoo, mengingat satu-satunya keluarga yang ia punya sekarang.
Secara tak terduga, Sehun terisak karena sebuah perasaan lagi-lagi seakan mencokol dari hatinya. Ia bernar-benar merindukan Kyungsoo. Sosoknya dan apapun yang ada didirinya.
"Sehun-ah, kau tak apa? Kenapa kau menangis?"
Pertanyaan Kai tak didengarkannya alih-alih tetap menangis dan sesekali menghapus jejak air matanya dengan ibu jarinya. Kai menghela nafas, ia merangkak keatas kasur dan mengambil tempat didepan Sehun. Memeluknya. "Jangan sedih. Jangan menangis"katanya pelan sambil mengelus leher belakang Sehun.
Isakannya tak berhenti, Sehun malah membenamkan wajahnya diperpotongan leher Kai dan menangis disana. "Hiks… Kyungsoo-Hyung… Hiks"
Kai mengendorkan pelukannya, menatap Sehun dalam dan mengapus jejak air mata yang ada dipipi putih Sehun. "Tidak Sehun. Jangan menangis, ini menyakitkan"
XXXXXXXX
Baekhyun berkali-kali menghela nafasnya hingga ia tak sabar dan memukul ban setirnya. Ia berhenti ditepi jalan. Nafasnya terdengar begitu berat. "Kenapa? Kenapa!"geramnya marah. Nalarnya tak bisa berpikir hal yang lebih rasional dari berteriak dan meratapi segalanya. Semua masalah ini terlalu seperti kabut abu-abu yang memudarkan pikirannya.
Baekhyun menggenggam ban setir hingga kukunya tertancap dilapisan karetnya dan menimbulkan bekas yang begitu terlihat. Ia masih berusaha membenarkan nafasnya. "Hah!"teriaknya lagi. Ia benar-benar tak bisa menahan sesuatu yang sudah lama begitu ingin ia keluarkan hingga rasanya dadanya akan meledak seperti bom waktu.
Ia mencintai Kyungsoo, ia menyayangi Zitao dan kenapa kedua hal yang paling ia kasihi di renggut oleh sesuatu makhluk pengisap darah brengsek bernama Chen. Lagi-lagi pikirannya berteriak dan bertubrukan satu sama lain. Satu sisi ia ingin berlari dan menghajar si brengsek Chen dan satu sisi yang lain ia harus memikirkan berapa orang yang akan mati bila ia melakukan itu.
Tanpa menunggu emosinya mereda, Baekhyun menginjak gas dan melajukan mobilnya kesuatu tempat.
..
..
..
Baekhyun sudah duduk dikursi bar milik Kris dengan segelas moonshine ditangan. Kris sedang mengurus beberapa berkas dan ia bisa melihat siluet namja penyembuh kekasih Suho bernama Lay. Pria itu berjalan kearahnya dengan membawa segelas cocktail ditangan dan memberikannya ke seorang pelanggan disamping Baekhyun. "Aku suka rambut barumu"
Lay tersenyum sekilas, "Terimakasih, dan aku turut sedih atas kematian Kyungsoo. Ini terlalu mendadak"katanya sambil menuang anggur kedalam gelas berleher tinggi. "Baekhyun, mau kuberitahu sebuah rahasia?"tanyanya dan Baekhyun menatapnya dengan tatapan bingung.
Lay beranjak memberikan anggur pada seorang wanita dengan bibir merah dipojok ruangan dan kembali duduk ditempatnya. "Tanda terakhir yang aku lihat. Kyungsoo telah meminum darah vampir"katanya, Baekhyun membulatkan matanya, "Apa yang kau katakan? Hanya ada dua Vampir yang dekat dengannya, hanya Chanyeol dan –Luhan"jawab Baekhyun dengan suara yang makin mengecil saat akan mencapai akhir.
"Apa yang kau ragukan? Kau bisa mencurigai satu dari mereka"kata Lay. Baekhyun beranjak dan …..
–Luhan.
XXXXXXXXX
Hari berikutya, Baekhyun menerima sebuah surat tanpa nama yang ditulis diatas secarik kertas lama. Dengan warna yang agak kekuningan dan bau yang aneh. Berisi kalau Baekhyun menginginkan Huang Zitao kembali, ia harus membunuh Luhan dan Sehun.
"Apa?! Apa mereka bercanda?"pekik Baekhyun tak percaya saat membaca surat tanpa nama itu dengan seksama. Tak ada petunjuk apapun yang bisa membawa Baekhyun mengetahui pengirimnya secara langsung. Akan tetapi, saat ia membaca kata 'Zitao' ia mulai berpikir tentang si brengsek.
Baekhyun menggeram sambil meremas kertas itu hingga tak benar-benar rusak dan akhirnya jatuh kelantai kayu rumahnya. Tiffany menatap Baekhyun dengan khawatir, "Baekhyun, kau tak apa? Kau terlihat tak baik?"tanyanya dan Baekhyun menghela nafas berat. "Tidak, Tiffany mulai sekarang jangan buka pintu sembarangan kalau orang itu tak mengeluarkan suaranya dan jangan bersuara. Selalu hidupkan lampu dan tutup korden"kata Baekhyun.
Tiffany mengerutkan keningnya, ini terlalu tiba-tiba hingga ia merasa hilang pikiran untuk beberapa saat. "Kenapa?"tanyanya. Baekhyun menggeleng sambil memijat keningnya, "Tidak, ini tak ada hubungannya denganmu. Hanya dengarkan aku dan tutup mulutmu"kata Baekhyun lalu beranjak dan mengambil mantel.
Ia menyetir mobil menuju bar Kris untuk membicarakan surat aneh yang diterimanya dan Kris adalah pemimpin kawanan. Mungkin ia bisa membantu Baekhyun walau hanya mencari informasi.
Baekhyun memakirkan mobilnya disamping mobil bak terbuka milik Kris yang terparkir dibelakang bar yang gelap. Ia mendorong pintu pegawai dan berjalan melalui lorong-lorong untuk mencapai kantor Kris. Ia bertemu Suho dilorong sempit antara dapur dan kamar mandi. "Hai Baekhyun. Senang melihatmu melewati area pegawai"katanya.
Baekhyun merasa seperti tersindir. "Maaf, Kris akan mentolelir kejadian ini"katanya lalu melajutkan langkahnya menuju ruangan sang pemimpin kawanan.
Baekhyun mengetuk pintunya dua kali dan membuka pintunya paksa. Ia mematung diambang pintu saat melihat bagaimana hancurnya Kris. Pria jangkung itu duduk dengan memandang jendela luar tak menentu apa yang dilihatnya. Baekhyun masuk kedalam dan menutup pintu pelan dengan tangannya. Ia berdiri didepan meja persegi panjang coklat Kris yang terlihat berantakan dengan beberapa dokumen yang tak menentu.
Baekhyun menyentuh bahu Kris dan pria itu membalikkan badannya. "Hai Baekhyun. Kenapa kau tak tahu kau datang?"tanyanya dengan wajah menyebalkan yang garang. Baekhyun menelan ludahnya, "Kau terlalu fokus. Kenapa kau melamun?"tanyanya.
Kris berdiri dan merapikan kemejanya juga menekuk sikunya, lalu kembali duduk. "Well, ini mungkin mirip saat dirimu tahu kalau Kyungsoo meninggal"jawabnya enteng yang membuat Baekhyun terasa terhempas dari langit teratas. Wajah Kyungsoo dengan pelan merambat lagi ke pikirannya dan akhirnya Baekhyun jatuh kedalam kebimbangan.
Kris tertawa, "Baiklah, katakan apa yang ingin kau bicarakan"kata Kris. Baekhyun menarik sebuah kursi empuk dan duduk disana. "Kris…"ia memulainya. Menyamankan duduknya, "…. Aku menerima sebuah surat dari Chen"katanya. Kris berhenti sejenak saat mendengar kata 'Chen'. Ia mendongak dan menatap Baekhyun.
"Aku menerima sebuah surat, sungguh"kata Baekhyun meyakinkan. Kris mengusap wajahnya, "Akh, ini semakin membingungkan"katanya. Baekhyun menghempaskan punggungnya kesandarang empuk dibelakangnya, "Aku tak tahu dari mana kita harus memulai Kris, aku tak ingin melibatkan orang lain"kata Baekhyun.
Secara tiba-tiba, Kris berdiri dan memukul meje kerjanya keras. "Hei, Kris. Ada apa denganmu?"tanya Baekhyun. Kris menatapnya dengan mata merahnya. "Siapa yang kau sebut orang lain Huang Baekhyun! Aku kekasih Zitao!"bentaknya dan seketika Baekhyun menyadari akan kesalahan ucapannya. Hanya sebuah kata 'orang lain'.
XXXXXXXXX
Dengan pakaian serba putih dan rambutnya yang sudah berubah warna menjadi putih juga, Sehun berjalan di lorong lantai atas dari kastil ini. Ia menyerah setelah mencari Kai ke aegala sudut kastil dan hasilnya nihil. Sehun berhenti dan duduk disebuah jendela besar yang terbuka, menampilkan halaman belakang kastil yang begitu luas dan indah.
Sehun menutup matanya, dan angin serasa menyapanya. Saat ia berada dalam keadaan relaks, secara tak terduga ingatan tentang Kyungsoo merangkak cepat ke pikirannya. Ia mengingat bagaimana Kyungsoo membangun lagi keluarga Do. Ia mengingat bagaimana Kyungsoo menguatkannya saat ia rapuh. Dan ia ingat bagaimana Kyungsoo berpura-pura tegar saat ia menangis. Hanya untuknya.
Segala ingatan entah indah maupun buruk merangkak ke pikirannya. Hingga secara mendadak, air matanya mengalir dan jatuh melewati pipi putihnya. Isakannya dapat terbendung, namun tidak dengan air matanya. Terus mengalir deras hingga hidung dan matanya memerah.
Sehun terpenjat saat sebuah tangan meraup pinggangnya. Cepat-cepat, ia mengusap air matanya dengan telapak tangannya kasar. "Apa yang kau lakukan?"tanya Kai. Sehun tak menjawab alih-alih menatap hamparan hijau halaman belakang. "Aku mencarimu Kai. Kemana saja?"tanya Sehun sambil memainkan jarinya di lengan kekar Kai.
Kai terkekeh pelan, "Jangan mengkhawatirkanku. Aku hanya pergi ke kota untuk membeli sesuatu"katanya melegakan. Sehun menghela nafasnya. Beban dan rasa sakitnya terasa terhempas begitu saja saat telinganya menangkap suara tawa renyah milik Kim Jongin. Pria yang ia sayangi, yang juga menyayanginya.
"Jongin?"panggil Sehun. Jongin berdehem dalam. "Apa kau menyayangiku?"tanyanya diiringi dengan munculnya semburat merah muda kentara dipipinya. "Ya, tentu saja. Aku bahkan tak hanya menyayangimu. Aku mencintaimu dengan segalanya yang ada pada dirimu"jawabnya.
XXXXXXXXXX
Hujan deras mengguyur kota malam itu. Sehun masih bergelung dibawah selimut putih tebalnya dengan selapis pakaian hangat dan celana panjang. Ia terbangun dari tidurnya dan tak menemukan kekasihnya dimanapun sejauh ia melihat.
Sehun beranjak memakai alas kakinya dan berjalan keluar kamar. Ia menuruni tangga dengan pelan tanpa menimbulkan suara.
"Ibu aku mohon jelaskan padaku tentang Do Kyungsoo"
Sebuah suara masuk ke pendengaran Sehun dan itu adalah suara Jongin. Sehun terhenyak dan melanjutkan jalannya tanpa bermaksud untuk menimbulkan suara.
"Jongin, Kyungsoo hanya manusia tak beruntung yang menjadi legenda amaranth"
Sebuah suara lagi dan Sehun mengetahui bahwa telah terjadi percakapan panjang atara Jongin dan ibunya. Sehun akan beranjak pergi tapi diurungkannya saat ia mendengar sesuatu yang tentu saja juga menyangkut dengannya.
"Jongin, kau tak tahu bagaimana kejamnya pria bernama Chen itu. Dan menurut ramalan, adik bungsu Huang sedang disekapnya. Bukan hanya Kyungsoo Jongin, tapi semua orang! Semua orang yang dekat dan memiliki hubungan dengan Kyungsoo!"
Sehun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kenyataan ini seperti memukulnya telak di ulu hati dan sekarang, ia merasakan rasa nyeri yang nyata.
"Lalu apa yang harus kulakukan saat melihat Sehun terus saja menangis karena Kyungsoo?"
Dalam nalarnya, Jongin adalah pria yang baik dan perhatian dengannya. Mungkin ia memang pantas dicintai.
"Untuk sekarang Jongin, hanya jaga Sehun. Chen sedang mengincarnya. Dan untuk Kyungsoo, pria itu akan kembali. Takdir tak akan membiarkannya mati untuk waktu yang lama. Ia akan kembali, setidaknya tak lama lagi"
Dan Sehun akhirnya memutuskan meninggalkan percakapan Jongin dan ibunya tentang takdir Kyungsoo yang mereka ketahui. Ia berlari menuju dapur dan mengambil segelas air.
Kedua telapak tangannya masih mengepal, dan bibirnya masih bergetar. Ia merasa takut akan segalanya, walaupun kebenarannya, ini bukan takdirnya, ini takdir menyedihkan kakaknya.
..
..
..
Sehun sudah kembali kekamarnya dan masuk kedalam selimutnya lagi. Ingatannya masih terbang ke takdir aneh bernama amaranth.
Sekali dua kali dalam hidupnya, ia pernah mendengar kata itu. Saat kecil, ayahnya pernah berbicara tentang amaranth dan berkata kalau takdir itu mematikan. Dan ia tebak, semua orang mengetahui tentang ini, kecuali dirinya.
Ia merasa bodoh menjadi seorang adik. Ia bahkan tak bisa melakukan apapun untuk kakaknya. Ia hanya seorang pangeran polos yang baru saja mengetahui bagaimana rupa dunia. Begitu polos dan tolol.
Dan akhirnya Sehun terlelap saat Jongin memasuki kamar.
XXXXXXXXX
Kastil itu terlihat menyeramkan. Dengan dua penjaga berpakaian hitam dengan tombak yang menjaga gerbang besar kastil itu. Tanpa ditanya pun semua orang sudah mengenal siapa yang memilik kastil ini.
Si makhluk pengisap darah brengsek yang dibenci semua orang yang terlibat dalam legenda amaranth. Terkecuali bagi Kyungsoo, pasalnya ia bahkan tak mengetahui tentang adanya takdir itu yang menyelubungi hidupnya seperti kabut abu-abu yang tak kasat mata.
"Kim Jongdae! Lepaskan aku! Bodoh!"teriakannya menggema dipenjuru ruangan tak berpenerangan itu. Tangannya diborgol dengan rantai dan kakinya dipasung. Terlihat seperti tahanan rumah yang gila.
Tak lama, seseorang datang dan masuk kedalam ruangan. Dengan nampan dan segelas air. Ia menaruhnya didepan pria itu dan terkekeh.
"Begitu disayangkan hidupmu. Kau melakukan ini hanya untuk melindungi Kyungsoo. Zitao bodoh"katanya mengejek. Zitao memandangnya rendah dengan sudut matanya yang tergores dan dagunya yang tergores. Zitao cukup meringis akibat rasa perih yang menjalar diwajahnya kala ia bergerak melebih batas. Ini sihir.
"Kau yang bodoh Chen. Setidaknya aku memiliki hati nurani dan cinta yang berharga. Sedangkan dirimu, hanya seonggok daging tak berguna yang hidup tanpa hati nurani dan cinta. Apa makna hidupmu!"teriak Zitao tepat didepan Chen. Pria itu meringis, dan sekali gerakan ia menampar keras pipi kanan Zitao hingga menimbulkan goresan baru disudut matanya.
"Jangan berbicara sesuatu yang akan membuatmu lebih sakit Zitao! Aku memperingatkanmu!"teriaknya lalu keluar dan menutup pintu kayu ruangan itu hingga ruangan itu kembali gelap.
Zitao menundukkan kepalanya. Tak ada secuil rasa menyesal yang menjalar dihatinya setelah mengatai pria itu dan menyelamatkan seseorang yang disayanginya. Setidaknya ia bisa berkorban untuk semua orang dikehidupan Kyungsoo.
Dan setelah ia berulang kali menghela nafas, ia menangis. Tanpa suara, dan hanya air mata yang mengalir. Air matanya menyapu luka disudut matanya, tetapi ia tak memperdulikan itu. Ia hanya ingin menangis dan meluapkan bagaimana sekarang hatinya terasa. Ia marah dan kesal. Ia membenci Chen, begitu membenci pria itu.
..
..
..
Keadaan diluar ruangan tak kalah menyeramkannya. Terdapat sebuah tangga yang membentuk kurfa lengkung yang berujung dilantai atas dengan lampu gantung yang megah dengan artistektur eropa yang begitu kental.
Chen membuka sebuah pintu dilantai atas dan mengagetkan sosok pria lain diatas. "Apa yang dilakukannya lagi kali ini?"tanyanya. Chen mengambil duduk disampingnya, "Ia mengataiku dan aku bersumpah akan membunuhnya"jawab Chen dengan nafas yang memburu.
Minseok, sosok pria mungil yang menjadi teman hidup Chen selama ini. Minseok merasa Chen sudah kelewatan kali ini, ia sudah benar-benar kelewatan. "Kau harus menghentikan ini Chen"katanya dan Chen menatapnya kaget. "Apa menghentikannya? Bahkan ini belum dimulai Minseok. Sang pembenar belum membangunkan Kyungsoo dari tidur panjangnya begitu juga dengan werewolf dan vampir temannya"katanya
Minseok beranjak. "Ini sudah terlalu jauh, kau melangkah terlalu jauh dari teritorialmu Chen"katanya lalu ia pergi meninggalkan sosok Chen didalam ruangan sendiri.
XXXXXXXX
To Be Continue…
Maaf kalau saya updatenya ngaret. Soalnya banyak tugas dan saya abis sakit. Ini chapter 5 apa terlalu membingungkan?
Banyak yang bilang alurnya kecepetan. Mianhae ne, saya juga sadar kalau ini kecepetan tapi saya males editnya. Perempatannya udah keliatan dan saya bingung.
Makasih buat review, foll, fav dari para readers.
Last, Mind to review?
Channie10
