A/N: It's been like forever? I'm sorry. I'm really busy. Trust me working and come back to college are really bad news. So, please enjoy my story and leave your review:D
I just own some unknown character, JK. Rowling has!
Chapter 2: Kelor Leaves
Kepulan asap dari teh dihadapanku masih menghiasi meja salah satu restoran yang kudatangi pagi ini. Delapan dari selusin cronut sudah menjadi kenangan dan berakhir dengan nyaman di lambungku. Menggila. Hal yang selalu kulakukan terhadap makanan bila menghadapi sesuatu yang berada di luar nalar manuasiaku. Kembali aku menyeruput gelas kedua dari Earl GreyTea yang tadi kupesan. Bahkan aku sudah melupakan English Muffin yang tadi menjadi sarapan pembukaku pagi ini. Jangan bertanya mengapa aku dapat melahap semua makanan yang tadi kusebutkan. Karena mungkin menurutku makanan dapat membuat suasana dan keadaan di dunia ini menjadi lebih baik.
Seseorang pernah mengatakan bahwa dunia ini sangat kecil bahkan tak lebih lebar dari daun kelor. Daun kelor. Dapatkah kalian membayangkan daun kelor itu? Sangat kecil bahkan lebih kecil dari ruas ibu jari manusia kebanyakan. Namun bagiku hal ini sangat nyata dan aku sangat ingin tahu siapa orang pertama yang mengucapkan hal itu. Mungkin saja ia bernasib mirip sepertiku. Mungkin ia juga memiliki masa lalu yang kurang mengenakan lalu pergi sejauh mungkin dari zona nyamannya dan tetap bertemu orang yang tak ingin ia temui. Atau bertemu orang yang tak seharusnya ia temui namun tak sengaja bertemu. Baiklah, kembali lagi menurut omongan yang pernah kudengar bahwa semua yang berada di dunia ini sudah ditakdirkan bahkan sebelum hal itu berada di dunia. Lalu sekarang aku sedang duduk di sebuah restoran bakery and pastry pada akhir pekan hanya untuk memikirkan mengapa takdir aneh ini selalu mengelilingi diriku. Aku sudah menyeberang benua sejauh beribu-ribu mil hanya untuk memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang normal. Tanpa adanya adu mantra dan jatuhnya korban serta tanpa adanya penyihir di sekelilingku. Namun apa hal yang aku dapati saat pertama kali menginjakan kaki di kota ini? Aku bertemu dengan The LeClaire yang notabene adalah penyihir. Lupakan fakta pertama. Setelah aku merasa hidupku mulai nyaman dengan segala ke-Muggle-an ini, perusahaanku mendapati klien. Klien besar yang akan memberikan kami ribuan dollar dan mendapukku sebagai penanggung jawabnya. Tak ada masalah sampai aku mengetahui bahwa sosok klien besar yang dipuja oleh Ramirez itu adalah Malfoy. Draco Malfoy. Manusia yang kukenal selama bertahun-tahun di Hogwarts dulu. Manusia yang sama yang selalu membuat lelucon tetang rambut dan gigiku. Manusia yang sama yang sangat suka memanggilku Mudblood. Manusia yang sama yang sempat membuat jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya cukup dengan melihat dirinya berlalu di hadapanku dulu. Dan manusia yang sama yang kemarin berdiri tepat dihadapanku dengan wajah datar dan kemudian dilanjutkan dengan senyuman simpul lalu pamit pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi padaku.
Dan semua kegilaan akan segera dimulai. Diawali dengan pagi ini. Pagi yang kuhabiskan terduduk bodoh dengan selusin cronut yang kini hanya menyisahkan dua buah yang aku yakin akan segera menghilang dari kotaknya juga untuk bersemayam nyaman di perutku. Kuhela napas sejenak. Perhatianku tertuju pada jalanan yang terlihat lenggang di akhir pekan. Wajah Malfoy kembali menyeruak di pikiranku. Segera aku menggelengkan kepala untuk membuyarkannya. Aku bangkit dari sofa nyaman yang sedari tadi kududuki lalu melenggang menuju etalase yang terisi makanan indah yang sangat lezat itu. Pilihanku tertuju pada Hazelnut Muffin, Peanut Butter Cookie, dan sepotong Green Tea Cheesecake. Aku yakin setelah ini aku akan sangat merasa berdosa pada kalori yang telah kumakan. Dan sangat merasa berdosa kerena kembali memikirkannya. Malfoy. Duda. Beranak satu. Dan hubungannya dengan sekretaris pirang itu. Screw you, Malfoy!
000
"Kau yakin tak mau keluar untuk makan siang?" Sam bertanya dari ambang pintu ruanganku.
Aku menggelengkan kepala dan setengah tersenyum padanya. "Masih harus menyelesaikan lanskap ini," aku menunjuk kertas kalkir di hadapanku kemudian merenggangkan badan seadanya di kursiku.
Ia mencebik padaku yang kusambut dengan tawa. "Kau mau kubawakan taco di ujung jalan?"
"Tak perlu, aku tidak lapar."
"Ah yaa, baiklah."
Sam menghilang dari ambang pintuku dan pintu kaca itu secara otomatis tertutup. Aku masih menatap lanskap yang berada di hadapanku. Ide seakan menguap dari setiap sudut otakku. Bagaimana aku bisa mengerjakan kamar utama bila Katy belum memberitahukan padaku apa keinginan dari bos-nya itu. Hanya menebak. Hal itu yang selalu kulakukan sejak pagi tadi. Dan hal paling utama adalah bagaiamana aku dapat mengerjakan kamar utama dari Draco Malfoy?
Pintuku terketuk saat aku sedang menarik garis lurus. "Masuklah," ucapku tanpa harus melihat siapa yang datang.
"Cepat sekali kau kembali. Aku menyesal karena menolak dibelikan taco olehmu karena kini aku sangat kela..."
Ucapanku terputus saat aku menengadah dan menyadari siapa sosok yang berdiri di hadapanku. Aku mengira Sam telah kembali, tapi aku salah. "Ada yang bisa kubantu, Mecca?" tanyaku padanya.
"Miss Granger ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," jawabnya.
Alisku sedikit terangkat. "Seseorang dari Malfoy Enterprise," Mecca menjawab pertanyaan tersiratku.
Bukan lagi alisku yang mengerutku, tapi mataku hampir melotot sekarang. "Siapa?" tanyaku waspada sambil terus berharap bahwa bukan orang itu yang datang. Namun secara logika yang ada, dia tak akan mungkin sudi datang kesini.
"Mr. Joe Karpov, asisten dari Mr. Draco Malfoy."
Perasaan lega karena harapanku terkabul seketika melandaku. Aku menyuruh Mecca untuk mengantarkan asisten dari Malfoy itu untuk menemuiku. Dan beberapa saat kemudian sosok pria tinggi dengan rambut hitam legam yang memiliki wajah cukup tampan menurutku berdiri tepat di hadapanku.
"Selamat siang, Miss Granger," ia menjabat tanganku tanpa tersenyum.
Mungkin hal ini menjadi salah satu syarat untuk diterima di Malfoy Enterprise : tidak banyak tersenyum. Ia langsung memperkenalkan diri dan lagi-lagi tanpa tersenyum lalu tanpa basa-basi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Mr. Malfoy tengah menunggu di The Plaza untuk berbicara denganmu sekarang. Dan aku ditugaskan untuk mengantarmu sekarang, Miss Granger."
Mataku seakan-akan lepas dari kelopaknya. Keningku mengerut. "Tak ada yang dapat menyuruhku dengan seenaknya seperti ini, Mr. Karpov," jawabku dingin.
"Lagipula aku sibuk saat ini."
"Mr. Ramirez telah memberikan izinnya padaku tadi.
Tanpa perlu melihatnya lagi aku menekan tombol di pesawat teleponku ke Ramirez. Sejak kapan ia menjadi sangat mendikteku seperti ini. Dan aku menjadi sangat lemas saat mendengar bahwa Ramirez dengan bahagianya mengutusku untuk bertemu dengan Malfoy sekarang.
"Shall we?" tanya pria di hadapanku setelah melihat aku mengakhiri percakapan dengan Ramirez.
Kuambil mantelku dan berjalan mengikutinya. Sebuah SUV Bentley hitam sudah menunggu kami di lobi. Hanya ada dua tipe orang yang memilki mobil semewah ini di New York. Selebritis papan atas dan pengusaha kaya raya. Dan Malfoy akan selalu menjadi salah satu dari dua tipe itu. Setelah membukakan pintu padaku, Joe Karpov langsung duduk di kemudi dan meluncur di jalan kota ini.
"Apa yang sebenarnya ingin Mr. Malfoy bicarakan?" tanyaku sedikit tak nyaman dengan keadaan ini.
Tanpa harus melihatku ia menjawab dengan tenang. "Aku hanya ditugaskan untuk menjemput Anda, Miss Granger."
Aku menghela napas. Asistennya saja sudah cukup membuatku frustrasi, tak terbayangkan nanti saat aku bertemu dengan atasannya. Mobil ini sudah sampai di salah satu hotel termewah di New York dan seorang doormen telah membukakan pintu padaku. Kembali Joe Karpov memimpin jalan menuju restoran. Dan aku sadar bahwa percakapan ini akan berlangsung disela makan siangnya. Saat ini aku bersyukur karena tengah mengenakan terusan bewarna biru metalik yang cukup tepat dipakai untuk makan siang semewah ini. Pikiranku langsung buyar dan jantungku kembali mencelos saat melihat sosok yang tengah duduk di salah satu meja dengan sebelah tangan menggoyang gelas wine-nya dan smartphone di salah satunya.
"Mr. Malfoy."
"Kau bisa kembali ke nanti lagi, Joe."
Pria itu hanya mengangguk dan langsung meninggalkanku dengan pria yang masih berambut pirang di hadapanku dan seorang pelayan yang tengah menarikkan kursi padaku.
"Pinot giorgio," ujarku pada pelayan itu saat menayakan minuman apa yang akan kupesan.
Tepat disaat minumanku datang, Malfoy memulai percakapan ini. "Jadi, aku ingin meminta maaf padamu karena kejadian malam itu," ucapnya datar dengan sedikit senyum tipis di wajahnya.
"Hanya itu?"
"Apa yang kau ekspektasikan?"
Aku hanya mengedikkan bahu lalu menyesap minuman yang tadi kupesan. Perasaanku berkecamuk. Aku bahkan tak sanggup untuk menatap matanya. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya perasaan ini telah kubuang dan dalam sekejap mata hal ini kembali dan membuatku merasa kembali sangat menyedihkan.
"Apakah kau berekspektasi bahwa kita akan melakukan reuni kecil disini?" suara datar dan sedikit meremehkan kembali terdengar dari mulutnya.
Dan saat itu juga aku sadar bahwa Malfoy akan tetap menjadi Malfoy meski sejauh apapun kau bertemu dengannya. Aku tersenyum sinis padanya. "Bahkan tak ada yang sanggup kuharapkan dari pertemuan ini, Mr. Malfoy."
Dia kembali tersenyum tipis padaku. "Aku berusaha untuk memercayainya," sebelah alisnya terangkat dan ia kembali menyesap wine merah di tangannya. "Kau sudah siap memesan?"
Seporsi fillet mignon dengan saus cranberry milikku dan pork chop dengan saus barbeque datang dan kami makan dalam diam. Pikiranku seakan menari tak tentu arah. Nalarku tetap tak sampai pada situasi ini. Aku dan Malfoy duduk semeja tanpa adanya sumpah serapah dan adu mantra.
"Aku ingin mendiskusikan desain untuk kamar utama di penthouse-ku," ia kembali membuka percakapan saat makanan penutup kami datang.
Dan saat itu juga ia mengutarakan apa saja yang ia inginkan untuk kamar pribadinya itu.
"Jadi, kurasa semua informasi ini sudah cukup membantuku dan terima kasih untuk makan siangnya," ujarku saat kami berada di dalam lift untuk menuju lobi.
"Aah yaa, lain kali kau tak perlu mengajakku untuk makan siang seperti ini lagi hanya untuk mmembicarakan pekerjaan," tambahku.
Terdengar ia sedikit menghelas napasnya. "Sebenarnya aku hanya sedikit ingin memastikan bahwa kau adalah Granger yang sama kutahu bertahun-tahun lalu."
Kini aku menatapnya seketika dan kembali menatapa pintu dari lift ini. Keheningan melingkupi kami. Hanya ada aku dan Malfoy di dalam sini.
"Apakah kau sudah memastikannya?"
"Tak ada yang berubah, tetap angkuh," jawabnya.
"Jangan memulai, Malfoy."
"Mungkin perubahan hanya terjadi pada namamu, Emma Granger. Apakan Hermione Granger terlalu aneh sampai kau harus merubahnya menjadi sedikit lebih manusiawi?" ujarnya tanpa melihatku.
"Dan apakah Draco Malfoy juga terlalu sulit diucapkan manusia normal sampai aku harus memanggilmu dengan sebutan Drake seperti sekertarismu?"
"Semua tergantung padamu, Emma," jawabnya tanpa melihatku namun aku tahu ada sedikit nada mengejek di dalamnya.
Hening kembali menyelebung. Aku mengutuk lift ini yang terlalu lambat untuk ukuran hotel bintang lima seperti The Plaza. Apa yang ada di pikiranku sampai berkata seperti itu? Aku terdengar seperti penguntit yang menguping pembicaraan sekretaris pirang itu dengannya.
Pria yang ia panggil Joe, telah kembali seperti menunggu kami di lobi sedari tadi. Malfoy berdiri di hadapanku kemudian menjabat tanganku. "Senang bekerja sama denganmu. Aku harap tak ada adu mantra di antara kita setidaknya sampai kau selesai mendesain penthouse-ku."
"Aku berharap pekerjaanku akan segera rampung."
"Dan kuharap kau menikmati pekerjaanmu."
Dia menyeringai. Seringaian yang terlalu lama sudah kulupakan.
"Antarkan kembali Miss Granger ke kantornya dan temui aku di kantor," ujar Malfoy pada Joe Karpov.
Ia hanya mengangguk dan memberi gestur untuk menemaniku keluar. Setelah satu anggukan aku mengikuti Joe dan duduk nyaman di kursi belakang SUV ini.
"Kau tak mengantar Mr. Malfoy?" tanyaku saat kami sedikit terkena macet.
"Mr. Malfoy akan lebih memilih ber-Apparate langsung ke ruangannya dijam macet seperti ini."
Dan aku setuju akan hal itu. Aku juga akan melakukan hal sama. Tapi, tunggu... Ber-Apparate? Berarti..
"Kau seorang juga seorang penyihir?"
"Benar, Miss Granger."
"Dan kau juga tahu bahwa aku juga penyihir."
"Sekali lagi Anda benar, Miss Granger."
Lagi-lagi aku menemui seseorang yang tak kuharapkan untuk kutemui di kota ini. Kota ini terlalu besar dan negara ini terlalu jauh untuk dapat kembali bertemu dengan semua orang ini.
"Aku juga akan ber-Apparate dari sini saja," ujarku .
"Kau tak dapat melakukan hal itu, mobil ini dilengkapi mantera penghalang dan Mr. Malfoy menugaskanku untuk mengantarmu yang artinya aku harus mengantarkanmu."
Dan kami kembali diam hingga kami sampai di kantorku.
000
Sam mengintrogasiku habis-habisan sepulangnya aku dari makan siang tadi. Aku mengutuk Ramirez karena dengan semena-menanya mengatakan bahwa aku berteman baik dengan Malfoy hanya karena aku dan dia berada di satu sekolah yang sama selama tujuh tahun. Dan aku juga mengutuk kelakuan Malfoy yang aku tak tahu motif apa dibalik semua ini sampai ia harus mengatakan bahwa kami adalah teman di boarding school yang sama dulu. Demi Merlin!
Tak hanya itu, berita ini bukan hanya milik Sam semata. Hampir semua teman kantorku mengetahuinya dan memuji-muji betapa mereka mengangumi ketampanan dan betapa ruginya mantan istri yang menggugat cerai dirinya. Dan betapa beruntungnya aku karena bisa satu sekolah dan menikamati makan siang bersama pria itu. Dan berbicara tentang mantan istrinya, akhirnya aku mencari tahu siapa mantan istri dari Draco Malfoy itu.
Astoria Greengrass. Aku tahu nama itu, ia adalah adik dari Daphne Greengras yang berada satu tahun lebih muda dari kami. Dunia benar-benar sesempit daun kelor.
000
"You just need to get laid, Ems."
Kata-kata yang terucap dari Alex semalam terngiang kembali di pikiranku. Sudah berapa lama aku tak bercinta? Dua atau tiga bulan ini? Bahkan aku sendiri lupa. Alex mengatakan bahwa aku terlalu tegang dan butuh merasakan relaksasi. Dan saat ia mengatakan hal itu, wajah yang muncul pertama kali di pikiranku adalah Draco Malfoy. Mungkin sudah saatnya aku pergi mengunjungi psikiater. Atau mungkin dokter saraf guna memeriksa otakku. Mungkin saja ada beberapa kerusakan parah disana. Atau juga ada alien yang terselip disana seperti film yang baru kemarin kutonton dengan Bree.
Sudah hampir dua minggu setelah pertemuanku dengan Malfoy. Dan apa progress yang telah kubuat untuk kamar pribadinya? Tak ada. Aku bahkan tak habis pikir dengan apa yang terjadi padaku. Aku tak dapat berhenti memikirkan bagaimana cara ia menatap mataku saat kami berada di lift itu. Aku gila. Tetapi, mungkin Bree lebih gila karena ia menyuruhku untuk menghubungi si pirang itu dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Dan dengan mentah-mentah kutolak. Aku mungkin menyukainya, tapi itu dulu. Dan perasaanku sekarang padanya tak lebih dari rasa penasaran saja. Dan aku akan selalu terbawa suasana akan semua perasaan yang sedang kurasakan sekarang.
Rasaku saran Alex patut dicoba.
Get laid and everything will be better. I wish.
000
Terbangun dengan orang asing di sampingku adalah hal tabu yang tak pernah kulakukan. Pagi ini, aku memecahkan rekor itu. Jangankan tahu siapa dirinya, bahkan namanya saja aku tak tahu. Perlahan aku mengendap keluar dari kamar hotel itu dan ber-Apparate meninggalkan pria itu.
Aku sudah melakukan saran Alex untuk bersenang-senang dan lepas kontrol untuk sesaat, tapi hasil yang kudapatkan masih nihil. Proyek kamar utama milik Malfoy masih berada di awang-awang. Entahlah apa yang harus kulakukan dan kukatakan pada Ramirez. Tenggat waktu dari proyek ini tinggal dua minggu lagi dan aku yakin ia akan membunuhku. Aku mencoba mencari cara lain dengan meminta tolong Sam untuk merencanakan dan mendesain kamar utama dan kamar anak di penthouse itu dan hal yang mengejutkan datang menyapa. Malfoy dengan mudahnya meminta Ramirez untuk memastikan bahwa aku yang menangani hal itu. Ia tak mau siapapun menangani kamar utama dan kamar anak itu selain aku. Malfoy berengsek.
Mungkin ia sangat menikmati betapa tersiksanya diriku saat bersamanya. Aku yakin akan hal itu. Bukannya ia tahu bahwa aku sempat menyukainya saat remaja dulu, melainkan karena ia beranggapan karena aku begitu membencinya sampai aku dapat dengan mudahnya melempar dirinya ke Danau Hitam di Hogwarts. Bila mengingat tatapan menyeringai dan senyum ketusnya saat bersamaku membuatku seakan ingin mendorongnya dari gedung Empire State. Pernahkah kalian merasa sangat penasaran sekaligus membenci seseorang sekaligus dalam satu waktu? Karena aku merasakan hal itu saat ini. Hal ini dapat membunuhku secara perlahan. Percayalah.
000
Selama seminggu ini aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk dua kamar ini. Memikirkan dengan matang konsep desain dan material apa yang kugunakan. Semua informasi yang kudapatkan saat bertemu Malfoy menjadi sebuah pegangan utamaku. Tak ada nuansa gelap namun bukan juga menggunankan warna-warna pastel. Petunjuk tergila yang pernah kudengar. Beberapa hari ini aku turun langsung dalam pemilihan material setelah berjam-jam mendesain bentuk apik dari kamar utama itu. Dan mulai minggu depan kamar itu siap dieksekusi. Dan aku sekarang aku kembali duduk di sebuah bakery shop di kota ini.
Magnolia merupakan tempat favoritku untuk menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk duduk sambil membaca buku dan tentunya menghabiskan kue-kue yang terasa bagai buatan surga itu. Tokonya tak begitu besar namun karena berlokasi di Rockefeller Center membuat bakery ini menjadi sangat sibuk melayani banyak pengunjung.
Duduk di bakery dan membaui roti-roti segar yang baru saja dipanggang menjadi semacam relaksasi tersendiri bagiku. Tak hanya itu, tujuan lain aku datang kesini adalah untuk mengamati bagaimana cara anak-anak berinteraksi satu sama lain. Apa yang mereka sukai dan apa saja kebiasaan mereka. Semacam riset kecil sebelum mendesain kamar anak di penthouse Malfoy. Tak ada informasi yang kudapatkan dari Malfoy atau Katy mengenai ruangan ini. Katy hanya mengatakan bahwa ia tahu kalau ia dapat mengandalkan instingku. Another shit thing from this project. Just follow my insticnt? Oh come on, I'm an animal!
Mataku tertuju pada seorang anak lelaki yang duduk tepat di hadapanku. Perawakannya sangat menawan. Jangan salah sangka terlebih dahulu. Maksudku menawan untuk ukuran anak yang kutaksir masih berusia lima atau enam tahun ini. Rambutnya tidak terlalu pirang ada aksen cokelat yang tak dapat kujelaskan. Kulitnya terlihat sangat putih mendekati pucat yang entah mengapa membuatnya terlihat begitu bersifat aristokrat. Dan hal yang menyita perhatianku saat ini adalah hal yang tengah ia lakukan saat ini. Anak di hadapanku adalah seorang penyihir.
Damn! Apa yang dipikirkan oleh orang tuanya sampai membiarkan anaknya yang masih kecil itu sendirian tanpa pengawasan apapun. Dan terlebih lagi ia adalah seorang penyihir. Dan lihat apa yang tengah ia lakukan sekarang. Anak itu dengan tenangnya membuat sendok dan garpu menari-menari di hadapannya. Dengan perlahan aku bangkit dan mendekati anak itu.
"Hey," sapaku.
Sendok dan garpu itu langsung terjatuh dan anak itu menatapku dengan datar namun ada kesan terganggu di dalamnya. Aku tahu bahwa ia merasa terganggu akan keberadaanku. Tetapi, menggunakan sihir di bawah umur apalagi di tempat seperti ini akan melanggar peraturan. Dengan canggung aku menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya.
"Kau seorang penyihir?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling pada seorang anak asing yang bahkan aku tak tahu ia siapa.
Anakku itu melirikku dengan sebelah alis yang terangkat. "Kau juga?" tanyanya dengan sikap hati-hati.
Terdengar sangat dewasa. Aku merasa sedang berahadapan dengan seorang yang berumur sama denganku namun terjebak dalam tubuh anak kecil ini. Kemudian aku mengangguk padanya dan tersenyum. "Kau tahu bahwa tidak boleh melakukan sihir di tempat umum seperti ini apalagi kau masih di bawah umur," kuusahakan untuk mengatur gaya berbicaraku agar pas dengan anak ini.
Lagi-lagi ia melirikku dengan tatapan yang seakan-akan aku adalah musuhnya. Dingin dan tajam. Aku tak tahu bahwa anak kecil dapat menunjukkan ekspresi seperti ini.
"Aku hanya ingin mengambil garpu itu, tapi aku tak dapat mengendalikannya," ujarnya masih dengan nada was-was.
Aku kembali mengangguk. "Berapa umurmu?"
"Lima."
Hanya kata itu yang terlontar darinya. Aku semakin yakin bahwa ada jiwa seorang dewasa atau lebih tepatnya tua yang terperangkap di dalam tubuh anak ini. Ia begitu tenang dan datar. Bila dibandingkan dengan anak-anak kecil yang selalu ribut dan tak bisa diam, anak ini seperti mengidap kelainan. Terlepas dari semua hal itu, aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang tuanya. Aku mencari sosok yang pas sebagai orang tua anak ini. Mulai dari kasir sampai etalase, tapi tak ada satupun yang berperawakan seperti anak ini.
"Kau tak akan menemukan orang tuaku."
Aku kembali menoleh kearahnya. Selain dingin dan datar, bocah di hadapanku juga memiliki kemampuan membaca pikiran aku rasa. Sesaat kemudian ia tersenyum padaku. Bukan senyum sumeringah, hanya senyum seadanya. Tetapi, itu adalah senyum termanis yang pernah kulihat seumur hidupku. Dan aku seakan jatuh cinta padanya.
"Ayah," ujar anakku tetiba lalu menjulurkan kepalanya untuk melihat sosok yang berada di belakangku.
Aku menoleh untuk melihat orang tuanya. "Miss Granger."
"Draco Malfoy."
Another shit moment. Damn!
000
to be continued
Thank u for all review. You mean so much for me. Keep read and review guys. Stay rock and stay awesome:))
