Author Note: update! Hehehehe... Habis update-an ini, aku akan hiatus seminggu seperti biasa :3 sudah satu bulan berlalu dan paket internetku habis. Jadi istirahat seminggu dulu deh. Balasan review ada di paling bawah!
Troublesome Family
Chapter 22
Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Man, lelah sekali. Kami berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak. Riku membuang motor yang dicurinya di lokasi yang cukup jauh dari mansion ini. Kami pulang dengan berjalan kaki. Tentunya setelah membakar habis jubah yang kami gunakan. Kami tidak mungkin berjalan menggunakan jaket itu. Jika dipakai terus, nanti menjadi petunjuk bagi polisi untuk menangkap kami jika ada orang yang melihat kami berjalan pulang menggunakannya.
Meski kami berjalan kaki hingga tengah jalan dan melanjutkan perjalan dengan kendaraan umum, kakiku masih merasa lemas gara-gara Riku melajukan motor di kecepatan di atas 100 kilometer per jam. Semua yang kulihat bagaikan kilat saja.
Aku memeluk bantalku erat-erat. Aku tidak tahu jam berapa saat ini. Yang pasti, aku ngantuk.
(-_-)Zzzzzz
In you and I, there's a new land...
Dering yang berasal dari HP membuatku terbangun dengan perasaan kesal. Ini dering panggilan telepon, bukan alarm. Man, aku baru saja tertidur beberapa menit. Biarkan aku tidur...
Angel flight...
Wonk ouy neht noitceffe deen I.
Kuraba-raba kasurku dan mencari posisi HP-ku berada. Mataku terasa berat untuk dibuka.
My santuary...
My santuary...
Where fears and lies, melt away...
Begitu menemukan HP-ku, aku langsung menekan tombol jawab.
"Hm...?" Aku hanya bertanya dengan gumaman.
"Sorry membangunkanmu, Sora, tapi ini urgent."
Mataku langsung terbuka lebar. Dad yang menelepon.
"A-ada apa?" Rasa kantukku hilang seketika. Kini, berganti dengan keringat dingin. Kata 'urgent' sangat jarang keluar dari mulut Dad.
"Riku, dia tertembak dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Twilight Hospital. Aku ingin kau menemaninya karena Kadaj harus melanjutkan misi yang gagal. Dia berada di kamar nomor 358," jelas Dad.
Wajahku memucat mendengarnya. Aku tahu Riku langsung pergi lagi setelah mengantarku pulang, karena masih ada misi lain. Tapi aku tidak menyangka dia lengah hingga tertembak. Mungkinkah dia kelelahan sama sepertiku? Aku menggigit memegangi jariku. Dahiku mengkerut ketika aku cemas memikirkan kondisi Riku.
"Sora?" Dad sepertinya khawatir karena aku terdiam cukup lama.
"Ah, y-ya. A-aku… akan segera ke sana," balasku dengan terbata-bata.
"Hati-hati. Dan jangan terlalu khawatir, meski kondisi Riku cukup parah, dia baik-baik saja."
"Y-ya."
Kuakhiri panggilan dengan tangan lemas. Luka Riku cukup parah. Aku segera bangun dan membawa beberapa baju ganti. Kuyakin aku akan menginap di rumah sakit selama beberapa hari ini. Kutelepon taksi langganan keluarga ini dan meminta mereka segera mengirim taksi ke mansion secepatnya.
Aku menunggu taksi tersebut dalam kegelisahan. Saking gelisahnya, aku tidak bisa duduk tenang sehingga memutuskan mondar-mandir bagaikan setrika. Setiap beberapa menit, aku melirik jam di dinding dengan perasaan yang terus bertambah gelisah.
Ketika mendengar klakson mobil, aku langsung bergegas keluar dari mansion. Aku mengunci pintu dan berlari keluar pagar. Begitu masuk, sang sopir bertanya padaku apakah aku akan langsung ke Twilight Hospital. Aku hanya mengangguk saja tanpa menjawab.
Setibanya di rumah sakit, aku bergegas masuk ke dalam. Aku berlari tanpa memperdulikan teguran suster yang kulewati. Kamar nomor 358. Ini merupakan kamar VVIP. Aku berhenti berlari tepat di depan pintu. Napasku tersengal-sengal setelah berlari. Tanganku terlihat gemetaran saat hendak memegang gagang pintu. Pintu terbuka sebelum gagang pintu kusentuh. Sosok Kadaj terlihat di balik pintu. Ekspresinyanya terlihat marah, seakan-akan ingin membunuh siapa saja yang ditemuinya.
"Jaga Riku baik-baik," kata Kadaj ketika berjalan melewatiku.
Dapat kurasakan keinginan membunuh yang sangat kuat saat Kadaj mengatakannya. Tubuhku sampai gemetaran akibat kata-katanya.
Aku berjalan masuk dan melihat Riku menggunakan masker oksigen. Tangan Riku ditusuk sejenis selang infuse yang tersambung pada kantong darah. Sepertinya dia kehilangan banyak darah, sehingga membutuhkan donor darah.
Kututup pintu kamar Riku dengan perlahan, lalu berjalan mendekatinya dengan pelan. Aku merasa sedih melihat kondisinya. Aku tidak tahu di bagian mana yang tertembak karena tubuhnya ditutupi oleh selimut. Aku tidak sanggup melihatnya. Kusentuh tangannya yang sedikit dingin.
"Riku. Semoga kau cepat sembuh," bisikku dengan nada gemetaran.
(I just can't let you go!)
"...ra...Sora..."
Terdengar suara familier yang membangunkanku. Aku menggumam dan mencoba bangun. Tubuhku terasa pegal-pegal karena tidur dalam posisi setengah terduduk. Tubuhku mengigil karena tidak menggunakan selimut.
Ketika bangun, aku menggosok mataku terlebih dahulu sebelum mencari orang yang memanggilku.
Mataku tidak menangkap siapa pun di ruangan ini. Hanya ada aku dan Riku saja.
"Sora."
Aku menoleh ke arah Riku. Mataku melebar. Riku sudah sadar!
"Riku!" seru dengan senang melihat Riku sadar. "Kukira kau tidak akan bangun selama beberapa hari," kataku dengan cemas.
Riku tersenyum lemah. "Aku tidak koma, hanya tertidur akibat obat bius. Meski lukaku cukup parah, aku masih sadar hingga masuk rumah sakit."
"Oh... Apa yang membuatmu lengah, Riku? Jangan bilang kau kelelahan?" tanyaku dengan cemas.
"Aku tidak kelelahan. Hanya saja, saat itu jumlah musuh terlalu banyak sehingga kami kesulitan. Ini diluar dugaan," jelasnya sambil menghela napas. "Ugh!" Riku terlihat kesakitan ketika mencoba bergerak.
"Ada baiknya kau tidak bergerak dulu. Kau ingin ambil apa? Air?" Aku segera bangun dari kursi.
"Tidak. Aku ingin ke toilet."
Hening...
(._.")
Dad mengunjungi Riku ketika siang hari. Hari ini, aku meminta izin untuk tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Aku tidak tahu harus izin sampai kapan, tapi aku merasa tidak tenang jika meninggalkan Riku sendirian—meski dia bilang bahwa tidak masalah jika dia sendirian di rumah sakit.
Dad sudah membayar tagihan rumah sakit dan biaya rawat inap untuk beberapa hari ke depan.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Dad pada Riku.
"Seperti yang terlihat."
Well, itu jawaban yang membingungkan. Jadi Riku merasa baik atau buruk?
Dad tidak berkomentar soal jawaban Riku. "Dokter mengatakan, butuh waktu agar seluruh lukamu sembuh."
"Aku tahu," balas Riku sambil menghela napas.
"Ngomong-ngomong, siapa yang melukaimu, Riku?" tanyaku sambil menatapnya.
"Anggota Reaper Crown. Perkiraan Kadaj meleset saat menghitung jumlah mereka. Perhitunganku juga meleset. Kami tidak menyangka bahwa jumlah mereka bertambah ketika kami tengah bertarung."
Aku terdiam mendengarnya. Tidak heran Kadaj terlihat sangat marah. Mereka menyerang keroyokkan. Tindakkan pengecut.
"Semalam, Kadaj berhasil menuntaskan misi bersama Yazoo dan Loz," jelas Dad.
"Apakah mereka baik-baik saja?" tanyaku cemas.
"Ya. Hanya luka kecil."
Luka kecil. Jika mereka bertiga sampai terluka, meski hanya sedikit saja, berarti anggota Reaper Crown bukan musuh yang dapat diremehkan.
Dad pun pergi setelah berkunjung selama 30 menit. Dia tidak banyak waktu luang, sehingga harus segera kembali kerja. Tapi aku senang Dad menyediakan waktu untuk mengunjungi Riku. Dad sangat sibuk, tapi dia sangat memperdulikan kami.
"By the way, kau bolos?" tanya Riku setelah Dad pergi.
"Enak saja! Aku minta izin tidak masuk beberapa hari untuk menjagamu, tahu!" jawabku dengan wajah cembetut.
Riku terlihat tersenyum. "Thanks."
Entah mengapa, aku mendadak tersipu melihatnya tersenyum padaku. Aku duduk di sampingnya, tidak tahu hendak berbuat apa.
"Bagaimana kalau kau tidur di sampingku? Kasur ini cukup muat untuk kita berdua," kata Riku sambil menepuk kasurnya.
"Huh!?" Aku langsung salah tingkah mendengarnya.
"Aku tahu tidurmu tidak lelap semalam. Tidurlah lagi."
Aku terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, aku duduk di kasur Riku dan berbaring di sampingnya. Aku tertawa pelan. Sudah lama tidak tidur bareng Riku. Dulu, saat aku pertama kali menjadi anggota keluarga ini, aku tidur sekamar dengan Riku. Riku yang menawarkan untuk tidur sekamar dengannya. Alasannya, well, mungkin diminta oleh Dad. Saat itu, aku memang selalu merasa sendirian sebelum Dad menemukanku. Aku selalu menjauhi keramaian karena aku hanyalah anak jalanan yang kotor dan tidak berguna.
"Sudah lama tidak tidur sekasur denganmu, Riku," kataku sambil menatapnya.
Riku tertawa mendengarnya. "Bukankah dulu kau suka marah jika aku menyelinap tidur di kasurmu saat kau tidur?"
"Hey! Itu karena kau suka menggangguku saat tidur!" balasku dengan wajah cembetut.
"Mengganggu?" tanya Riku dengan senyum sinis dan aku mempunyai firasat buruk. "Seperti...ini?"
Riku mendadak menciumku dengan lembut. Tangannya menyelinap masuk ke dalam bajuku dan membuatku mendesah.
"Ouch!" Riku merintih kesakitan ketika dia mencoba menggerakkan badannya. Hendak mendempetkan tubuhnya dengan tubuhku.
Aku tertawa melihatnya merintih. "Sebaiknya kau jangan macam-macam dulu hingga lukamu sembuh."
"Ya, ya, ya. Saya akan mendengar saran Anda, Dokter Sora," balas Riku dengan senyum.
"Bagus. Kau sebaiknya tidur dan jangan ganggu aku tidur juga." Aku menguap dengan mulut terbuka lebar. "Selamat tidur," kataku sambil memejamkan mata.
"Ya."
(-_-)Zzzz
Aku mendengar suara tawa yang cukup keras hingga membangunkanku.
"Kau tertawa terlalu keras, Yazoo."
"Ah, sorry, Riku. Kalian lucu sekali."
"Well, sepertinya aku juga bertambah relex dengan adanya Sora di sampingmu."
"Mungkin juga, Kadaj."
Aku mendengar Riku terkekeh pelan. Aku menggumam pelan sebelum membuka mataku.
"Ah, hay, Kadaj, Yazoo, dan Loz," kataku sambil menggosok mataku yang masih mengantuk.
Kulihat terdapat perban yang cukup banyak di lengan kanan Yazoo. Sedangkan kadaj dan Loz terlihat baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
"Kata Dad, kalian semua terluka ringan. Tapi mengapa hanya Yazoo yang mengenakan perban?" tanyaku penasaran.
"Ah, kalau Loz ada beberapa tulangnya yang remuk ringan. Sedangkan Kadaj, tangan kiri terkilir ketika bertarung jarak dekat," jelas Yazoo.
"Huh?" Aku tercengang mendengarnya. "Tapi kalian sungguh baik-baik saja?"
"Untuk tanganku, butuh beberapa hari untuk sembuh. Tapi ini tidak akan menghambatku dalam melakukan misi," jelas Kadaj sambil mengibas-ngibas tangan kirinya.
"Kalau kau, Loz?" Aku menatap Loz dengan cemas.
"Tulang remuk merupakan hal yang biasa terjadi padaku," balas Loz dengan mudah.
Mulutku menganga setelah mendengarnya. Aku menatapi Yazoo.
"Cuma tergores," kata Yazoo sambil menatapi lengan kanannya.
"Um, kalian tidak ada misi malam ini?"
"Ada," jawab Loz.
"Aku dibebas tugaskan dan akan menggantikanmu menjaga Riku," jawab Kadaj.
"Huh!? Aku diberi misi?" Aku menatapnya dengan heran. Setahuku, Riku bilang hari ini aku dibebas tugaskan oleh Dad. Apa Dad berubah pikiran berhubung aku izin dari sekolah?
"Yup. Kau, aku, dan Loz," jawab Yazoo dengan senyum sinis.
"Dimana?" Kumiringkan kepalaku.
"Di Traverse Town. Kita akan berangkat melakukan misi setelah makan malam. Come one, Sora," ajak Yazoo sambil berjalan keluar dari kamar ini.
Loz ikut keluar dan aku menyusulnya. Yazoo dan Loz berjalan menuju parkiran. Rupanya mereka membawa sebuah mobil mewah—dan seperti biasa, aku tidak tahu ini mobil jenis apa.
"Omong-omong, sejak kapan kau mempunyai mobil ini, Yazoo?" tanyaku dengan heran.
Aku tahu ini milik Yazoo karena dia yang menyetir. Jika Loz yang menyetir, berarti ini milik Loz. Mereka berempat selalu mempunyai kendaraan sendiri dan mereka jarang meminjamkan pada saudaranya yang lain.
"Well, sudah lama. Hanya saja jarang kugunakan karena aku lebih senang menggunakan motor. Dad menyarankanku membawa mobil karena kau ikut," jawabnya.
"Oh. Tapi mengapa menggunakan mobilmu?" Aku semakin heran.
"Well, tadinya Dad meminta salah satu dari kami untuk menggantikanmu menjaga Riku. Kami melempar koin, tebakkan yang salah akan menggantikanmu menjaga Riku."
"Dan Kadaj yang salah tebak?"
"Yup. Aku dan Loz mengundi menggunakan koin lagi siapa yang akan membawa mobil."
"Dan kau yang menang?" tanya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Seperti yang kau lihat," jawab Yazoo dengan senyum sinis.
Begitu mobil dinyalakan, raungan halus mobil terdengar. Mobil berjalan pelan keluar dari parkiran rumah sakit dan memasuki jalan raya yang relatif ramai. Cara Yazoo menyetir sama baiknya dengan Riku. Hanya saja, ketika jalanan mulai sepi, Yazoo langsung meningkatkan kecepatan mobilnya hingga di atas 80 kilometer per jam! Padahal rambu di jalan ini menyarankan kecepatan kendaraan antara 50 hingga 70 kilometer per jam untuk menjaga keselamatan antara pengendara.
"Kita akan makan malam di mana?"
"Di restoran Wing Blade," jawab Loz.
Wing Blade? Nama restoran yang unik. Seperti tempat penjualan senjata saja karena ada kata blade, yang berarti pedang bermata dua.
Begitu tiba di parkiran restoran, kami turun setelah mesin mobil telah mati. Restoran ini ramai juga. Banyak sekali kendaraan mobil yang terparkir di sini. Dari mobil berukuran kecil yang hanya memuat lima penumpang, hingga mobil yang panjangnya melebihi ukuran mobil pada umumnya. Panjang mobil ini sekitar 4 meter lebih. Padahal mobil biasa cuma sekitar 3 meteran.
"Wow! Mobil amerika," komentar Yazoo saat melihat mobil sepanjang 4 meter yang menarik perhatianku juga.
"Sepertinya orang yang memiliki mobil ini sangat kaya," komentar Loz.
"Huh? Bagaimana kau bisa tahu, Loz?" tanyaku sambil menatapnya.
"Karena harga mobil ini sekitar 2 miliar," jelasnya.
Mulutku menganga ketika mendengarnya. 2 miliar!? 2 miliar untuk satu mobil saja!? Yang benar saja! Mengapa mobil ini bisa semahal itu!? Apakah karena mobil tersebut memiliki teknologi yang paling terbaru!? Sulit dipercaya.
Setelah Yazoo dan Loz puas mengamati mobil mahal tersebut, kami berjalan masuk ke dalam restoran. Restoran ini sangat ramai dan sepertinya tidak ada tempat lagi untuk kami.
"Sepertinya penuh," komentarku.
"Tidak apa-apa, aku sudah mem-booking satu meja untuk kita bertiga. Ayo," kata Yazoo sambil berjalan masuk.
Aku mengangkat sebelah alis, baru mengikutinya. Kami berjalan kesebuah meja yang berada di pingir kanan. Terdapat kaca raksasa di dinding kanan. Aku sempat tertipu karena efek kaca raksasa ini membuat restoran ini seakan-akan sangat luas. Ternyata tempat ini tidak sebesar yang kukira.
Dari kejauhan, aku melihat sosok seseorang yang sangat kukenal. Dia duduk sendirian di sebuah meja sambil meminum secangkir kopi. Aku tahu itu kopi karena yang dipesannya pasti kopi mahal. Aroma kopinya sangat kuat! Bahkan tercium olehku yang berada lima meter darinya.
"Hay, Dad," kata Yazoo yang duduk di hadapannya.
Aku mengambil kursi di sebelah kanan Dad dan Loz di sebelah kirinya. Aku menatapi Dad. Tumben Dad ada di sini?
"Pesanlah makanan dulu. Aku akan menjelaskan misi kalian setelah kalian selesai," kata Dad sambil menatap kami.
"Dad akan menjelaskannya di sini?" tanyaku heran.
Di sini terlalu ramai. Terlalu berbahaya menjelaskan misi kami di tempat umum seperti ini.
"Tidak. Kita akan pindah ruangan setelah kalian selesai makan," jelas Dad sambil mendorong menu makanan yang berada di tengah meja padaku.
Aku membaca menu makanan selama beberapa menit. Dari segi harga, semua makanan yang dijual di sini termasuk mahal. Aku baru tahu kalau tempat ini ternyata tempat elite. Dahiku mengkerut melihat semua makanan yang dijual. Aku tahu semuanya enak, tapi aku jadi kebingungan mau memilih yang mana. Rasanya aku akan memesan semua makanan yang ada jika saja perutku elastis seperti karet. Sayangnya, perutku tidak seperti itu. Daripada mubazir, lebih baik kupilih satu dari sekian banyak makanan.
"Neh, Yazoo, Loz, dari semua menu yang ada, mana yang paling enak?" tanyaku sambil menatap mereka berdua.
"Well, kau tahu kan bahwa seenak apapun makanan yang direkomendasi oleh orang-orang, apapun yang terjadi aku tetap memilih steak, Sora," jawab Yazoo.
Aku menatapi Loz.
"Bagiku, semua makanan sama saja."
Aku menghela napas. Kukerutkan dahiku dan memikirkan menu yang harus kupilih.
"Cobalah sushi," saran Dad.
Aku menatap Dad sejenak. "Okay!" balasku dengan senyum.
Aku memesan sushi sesuai kata Dad. Yazoo memesan steak dan Loz memesan spageti. Kami terdiam selama menunggu makanan. Sesekali Yazoo memainkan HP-nya dan Loz memperhatikan sekitarnya. Yang mengherankan, kusadari Yazoo, Loz, dan Dad terlihat waspada. Ada apa? Ini bukan sesuatu yang wajar. Ada musuh di sini.
Kusipitkan mataku. Dahiku mengkerut dan mencoba menatapi sekitarku. Aku memperhatikan orang-orang di sini tanpa masalah berarti—karena bangkuku menghadap kaca dan aku melihat dari kaca tanpa dicurigai oleh siapa pun. Aku melihat dua orang menatapi kami. Aku tidak mengenal mereka, tapi aku yakin mereka adalah pembunuh bayaran juga.
Makanan kami datang dan kami masih makan dengan perasaan waspada. Gara-gara terlalu waspada, aku sampai tidak dapat merasakan rasa makananku. Ada rasa, tapi entah mengapa otakku meresponnya sebagai rasa hambar. Aku bahkan tidak tahu makanan yang Dad rekomendasikan padaku ini enak atau tidak.
Ketika kami selesai makan, Dad membayar makanan yang kami pesan dan kami segera pindah ke ruangan lain. Begitu pindah ruangan, Yazoo dan Loz langsung memasang mode bertarung. Yazoo langsung mengeluarkan dua pistol yang selalu menjadi andalannya. Loz hanya mengeluarkan satu pistol. Biasanya dia mengkombinasi tembakkan dengan serangan tangan kosong. Sialnya, aku tidak membawa apapun. Sehingga Dad memberikan pistol cadangan miliknya padaku.
"Bersiaplah," kata Dad dengan wajah waspada.
To be Continued...
Author Note: Wow!? What happen!? I also don't know! Lol! Review?
To a reviewer name Vaqne: Eks! Kau benar! Thanks buat reviewnya meme :3
