..
..
..
[Chapter 6] – He's Back
Minseok menekuk kakinya dan menempelkan pantatnya di rerumputan hijau lapang itu. Helaan nafas terdengar begitu berat saat ia melakukannya. Mata sipitnya menatap bulan penuh dengan do'a yang berbisik keluar dari hatinya. Ia hanya meminta agar segalanya akan berhenti, dan ia bisa mengatakan yang sejujurnya. Mengatakan sejujurnya pada Chen.
XXXXXXXX
Pyarrr!
Suara keramik yang menghantam lantai menjadi sebuah suara yang ada diruangan sunyi itu. Sang pria terengah-engah dengan telapak tangannya yang bersimbah darah. Ia marah, begitu marah hingga ia melampiaskannya pada sebuah keramik.
"Minho-Hyung! Jangan lukai dirimu"teriak seorang pria sambil memasuki ruangan itu. Taemin; dengan kaus lengan pendek dan jeans hitam. Ia meraih pergelangan tangan Minho dan menariknya menuju kamarnya. Ia berlari mengambil kotak P3K dan mendudukan Minho disampingnya.
Ia mengeluarkan alkohol dan menyapukannya pada luka sayat Minho, dengan sebuah kapas. "Akh"Minho meringis saat rasa dingin itu menjalar dan terasa perih ditubuhnya. Taemin dengan telaten terus menyapukannya sambil sesekali meniupnya.
Bodoh. Minho menatap Taemin, tajam. Ia tak mengerti; kenapa Taemin begitu bodoh tak menghiraukan penolakannya. Sebuah perasaan menyesal seperti naik dan mengapung dihatinya. Ia membenci bagaimana jantungnya berpacu lebih cepat saat matanya menatap kedalam mata kelam Taemin. Ia seperti melihat sebuah kehidupan menyedihkannya. Ia membencinya karena ia menyukainya.
"Selesai, Minho-Hyung. Jangan lukai tubuhmu. Aku tak menyukainya, sangat"katanya sambil menatap ke mata Minho. Ia menyukai pria ini, begitu tampan dengan garis wajah yang tegas. Ia tak bisa menolak saat jantungnya berdetak seperti bom waktu. Secara tiba-tiba, Minho mengalihkan pandangnya. "T-terimakasih Taemin. Kau boleh kembali"katanya dan Taemin beranjak kemudian meninggalkannya.
..
..
..
Taemin menuruni tangga, satu per satu hingga kakinya menapak dilantai dasar. Ia berhenti dan memegang dada kirinya, ada jantungnya yang berdetak cepat dan ia menyukai efeknya. Efeknya terasa seperti ada puluhan kupu-kupu terbang diperutnya dan setelah itu ia akan merasa panas menjalar keseluruh tubuhnya.
Seseorang tertawa dan ternyata adalah Krystal; kakaknya. Taemin tersenyum lalu berlari dan masuk kepelukan kakak perempuannya. Satu-satunya wanita yang berharga baginya, setelah ibunya pergi. Meninggalkannya.
"Apa kau bahagia Taeminnie?"tanyanya sambil mengelus rambut Taemin. Rambut keduanya bahkan sama hitamnya, dan mereka juga memiliki kehidupan yang sama kelamnya, dan Krystal bersumpah tak akan membiarkan adiknya meneteskan air mata lagi. Cukup ia yang merasa sakit, cukup ia melihat Taemin menangis saat orang tua mereka dibunuh keluarga Do.
Taemin menganggukkan kepalanya. "Ya, aku bahagia Krys. Ia tersenyum padaku dan aku bahagia karenanya"jawabnya. Krystal akan melakukan apapun untuk membuat Taemin kecilnya tersenyum. Ia dan Jongdae. "Aku dan Jongdae akan menjagamu Taeminnie. Sana, pergilah tidur"katanya dan Taemin berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Kim Jongdae, Kim Soojung, dan Kim Taemin.
XXXXXXXX
Tubuhnya melemas dan ia limbung seketika. Tak ada apapun yang masuk ketubuhnya sejak kemarin, dan ia merasa akan mati sebentar lagi.
Seseorang membuka pintu dan ia terpaksa harus membuka matanya. Chen masuk, dengan nampan yang sama dan isi yang sama. Zitao terlihat lemah; matanya sayu, nafasnya rendah dan pelan. Ia benar-benar akan mati. "Hei, cepat bangun. Makan ini bodoh, kalau kau tak ingin mati sebelum kakakmu itu menyelamatkanmu dan akhirnya mati bersamamu"katanya sengit. Zitao menarik sudut bibirnya, dengan matanya yang masih sayu dan terbatuk-batuk.
"Baekhyun akan datang. Menyelamatkan aku dan membakarmu hidup-hidup Kim Jongdae"katanya pelan dan rendah. Chen tertawa keras, "Tidak akan, tak akan ada yang mati sebelum dia bangkit"katanya kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.
Zitao terlampau lelah bahkan hanya untuk menangis. Lantas ia dengan cepat meraih piring yang diisi makanan seadanya. Dan setelah menghabiskan makanan, dan ia mendapatkan kembali tenaganya. Ia kembali menangis.
Tak ada yang harus disalahkan dalam nalarnya. Tak ada yang pernah ingin terlibat dalam takdir kejam amaranth. Ia tak menginginkannya, begitu juga dengan semua orang dan si polos Kyungsoo.
XXXXXXXXX
Minseok masih dalam posisinya. Tak bergerak bahkan hingga bulan sudah meninggi. Mata coklatnya menutup perlahan, dan sedetik kemudian, air mata mulai mengalir. Ia terisak dan terisak, sampai pada titik tertentu, ia akhirnya berteriak. Melepaskan segala rasa kesal yang mencokol seperti batu besar dihatinya.
Sampai sejam kemudian, Minseok berhenti menangis dan kembali pada posisinya; menekuk kakinya dan menengadah menatap langit. Saat perasaannya lebih tenang, Minseok akan terdiam dan perlahan tenggelam dalam lamunannya.
22 Januari 1978
Malam itu. Dengan langit yang bersih tanpa bintang dan angin malam yang sejuk, Minseok berdiri diatas tebing. Dengan sepasang pedang dan baju besi yang menyelimutinya. Ia akan melakukan sebuah misi balas dendam. Untuk Kim Jongwoon. Ayah Kim Jongdae.
Minseok dengan lincah melompati dari dahan ke dahan sampai akhirnya berhenti disebuah dahan pohon yang menghadap langsung disebuah balkon dengan lampu kamar yang remang. Ia mengangkat sebelah bibirnya, dan tanpa niat menimbulkan suara yang lebih keras daripada angin, ia berjalan memasuki kamar itu.
Ia berharap bisa tertawa saat ia melihat Tuan dan Nyonya Do yang tengah terlelap. Berenang dilautan impian mereka, setidaknya Minseok akan memberikan kesempatan terakhir bagi mereka untuk bermimpi, sebelum akhirnya ia akan membunuh mereka dan memaksa mereka melepaskan impian mereka.
Sejam sudah berlalu, dengan helaan nafas pelan dan kontrol tubuh yang stabil, Minseok menarik dua pedang andalannya dari belakang punggungnya. Ia menghadapkan ujung runcing pedangnya pada tubuh dua orang didepannya dan dengan helaan nafas pelan…
Clebbb…
Minseok menanamkan kedua pedangnya bersamaan kedalam tubuh ringkih si tua Do dan membuat Tuan Do mati perlahan tanpa jeritan rasa sakit yang memekakan telinga. Ia bahagia, dan akhirnya tubuhnya berputar pada sisi Nyonya Do dan melakukan yang sama.
Sebenarnya, mendengarkan jeritan rasa sakit orang yang dibunuhnya akan membuatnya lebih bahagia dan kenyang. Hanya saja, ia tak harus melakukannya jika yang dibunuhnya itu Tuan Do. Ia hanya harus membunuhnya, tak perlu melakukan apapun selain itu.
Dengan hentaan tubuh pelan, Minseok membuka matanya. Dahinya sudah terbanjiri keringat. Ia bermimpi, tentang masa lalu kelamnya. Ketika ia berusia enambelas tahun ia sudah menjadi pengawal kepercayaan Tuan Kim, dan saat tuan Kim mati dibunuh Keluarga Do, ia bersumpah akan membalaskan dendam kesumat keluarga Kim pada Do.
Dan yang dilakukannya adalah membunuh mereka, dan menghancurkan masa depan cerah kedua pangeran polos yang tak tahu dunia. Menyedihkan.
Dan saat Krystal dan Taemin memakai nama 'Lee'. ia tahu, bahwa itu adalah keputusan terbaik karena ia akan menanggung dosanya, bersama Chen yang masa kini tengah berusaha untuk membalaskan dendamnya pada pemilik takdir amaranth. Do Kyungsoo.
Pembalasan setimpal dengan jalan berbeda.
XXXXXXX
Saat Sehun sendiri. Ia akan mengingat keluarganya, namun saat ia bersama Jongin. Secara tiba-tiba ingatan masa lalunya yang kelam terbang entah kemana. Mungkin terbang bersama dengan senyum Jongin yang mengembang. Ia tak pernah berpikir secepat ini bisa melupakan sosok Luhan yang begitu ia cintai.
Mendengar kenyataan bahwa Kyungsoo akan kembali hidup dan menyelesaikan segalanya. Ia hanya dapat menghela nafas sambil berharap-harap cemas dengan segalanya. Apapun dapat terjadi tanpa diketahuinya, karena saat ini pun ia merasa seperti pangeran polos yang dilarang mengetahui bagaimana kejamnya dunia. Bagaikan dirinya sepenting emas yang dijaga keasliannya. Secuil perasaan kecewa muncul dan membuat kepalanya terasa berputar dan mual.
Ia hanya ingin bisa mengetahui segala kebenarannya, tanpa ada rahasia dan saling tutup menutupi dihidupnya. Ia hanya ingin melihat dengan kedua matanya bagaimana kakaknya akan hidup dengan takdir yang bahkan tak ingin ia ingat lagi bagaimana jalan ceritanya.
Satu hal yang diingat Sehun. Hanya sekali takdir itu pernah terjadi, dan sekarang untuk kedua kalinya pada kakaknya yang malang. Rasa empatinya benar-benar habis terkuras hanya untuk mengasihani dirinya, betapa ia begitu brengsek menjadi seorang adik yang tak dapat menjaga kakaknya. Ia tak kesal. Ia hanya merasa. Brengsek.
"Apa yang kau pikirkan?"tanya seseorang sambil masuk kedalam kamar. Jongin; dengan aroma kas yang membuat Sehun harus menahan sesuatu yang terasa akan terbang diperutnya. Sehun tersentak sambil menatap Jongin diambang pintu.
Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku mohon Jongin. Hanya lakukan ini untukku, jelaskan segalanya tentang …. amaranth"katanya dan Jongin melebarkan matanya. Tangannya tergerak untuk menutup pintu dan kakinya melangkah ke ranjang.
Ia menatap Sehun bingung, dengan sebuah tanda tanya raksasa yang ada diatas ubun-ubunnya. Segala hal negatif datang dipikirannya seperti semut yang mengerubungi gula. Ia merasa sedetik lagi akan gila.
Sehun mendudukkan dirinya dan menempelkan punggungnya dikepala ranjang. Jongin duduk dipinggiran ranjang dengan matanya yang masih menatap Sehun. "Apa yang kau bicarakan? Dan –apa yang kau ketahui tentang amaranth"katanya dengan suara pelan dan rendah. Membuat bulu kuduk Sehun meremang, ia tak pernah memikirkan bagaimana ekspresi Jongin saat mendengarnya berbicara tentang amaranth.
Sehun menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. "Kumohon Jongin, hanya beritahu aku tentang kenyataan yang ada. Tentang kakakku"jawabnya pelan. Sebuah tangan berada dibahu Sehun dan ia tahu bahwa Jongin melarangnya. Melarangnya mengetahui tentang amaranth lebih jauh. "Jika aku jawab tidak. Aku harap kau tak akan kecewa. Aku hanya ingin kau seperti ini, tak mengetahui apapun. Percayalah Sehun, aku akan membantu kakakmu"katanya.
Sehun mengangkat wajahnya, dan mata sipitnya yang berkaca-kaca. Ia tak mengerti tentang apa yang dibicarakan Jongin. "Apa maksudmu?"tanya Sehun. Jongin tersenyum kecil, membentuk sebuah kurfa kesukaan Sehun. "Aku akan menjagamu. Sehun, kakakmu tak akan mati semudah itu, ada banyak makhluk yang melindunginya. Dia tak akan bisa dengan mudah membunuh kakakmu dan mematahkan akhir dari takdir amaranth"katanya panjang lebar.
Sehun tersenyum dan memeluk Jongin, membenamkan wajahnya didada pria itu dan mengatakan 'Terimakasih' berulang kali.
XXXXXXXXX
Baekhyun tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berdiam diri dikamar tanpa melakukan apapun. Ia tahu Zitao tak baik-baik bila bersama Chen. Dan bila ia memiliki kesempatan, ia ingin membuat strategi untuk memerangi Chen. Karena Kyungsoo dan Zitao, dua unsur penting yang ada dihidupnya.
Baekhyun turun kelantai dasar saat ketukan pintu terasa memanggilnya dan sosok Luhan-lah yang ada dibalik pintu tersebut. Ia memberi Luhan sebuah senyuman dan memberinya akses masuk lebih dalam. "Hai Baekhyun, bagaimana harimu?"tanya Luhan saat ia sudah duduk tenang diatas sofa. Baekhyun duduk didepannya, hanya diam. "Apa yang terjadi p –"
"Aku mendapat surat dari Chen, ia memintaku membunuhmu dan Sehun. Bagaimana menurutmu?"tanyanya dingin. Luhan menatapnya, pikirannya berteriak dan berkecamuk seperti begitu kaget dengan apa yang diucapkan Baekhyun. "Apa? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menghindar? Tidak Baekhyun, semua jawaban dan akhir cerita ada ditanganmu. Bila kau membunuhku dan Sehun, -"ia memulai dengan sekali tarikan nafas. " – viola, kau berhasil menjerumuskan Kyungsoo dalam kungkungan Chen dan membuat sang pembenar tak dapat melakukan apapun"katanya melanjutkan.
Baekhyun tak bereaksi, ia hanya diam sambil menatap lantai kayu rumahnya. "Siapa itu sang pembenar?"tanyanya lirih. Luhan terkekeh kecil, seakan tak percaya dengan apa yang ditanyakan Baekhyun. "Dia bukan tuhan Baekhyun, tuhan menciptakan takdir ini dengan seorang pembenar yang akan menyelesaikan segalanya. Tapi dalam takdir amaranth, sang pembenar dan Kyungsoo adalah pemilik takdir sebenarnya"jelasnya.
Baekhyun mengangkat wajahnya. Terperanga dengan penjelasan Luhan. "Jadi, dia dan Kyungsoo adalah –"katanya menyimpulkan. Luhan mengangguk. "Yep, mereka berjodoh"
XXXXXXXXX
Minseok meraih gagang pintu dan mendorongnya. Ia berjalan memasuki kamarnya yang remang-remang dengan sebuah ranjang dipojok. Ia tak terlalu menyukai keramaian, ia lebih suka ketenangan dan kedamaian. Tapi yang disukainya begitu bertolak belakang dengan kenyataan, ia merasa seolah ia adalah orang yang menyiramkan bensin kedalam kobaran api.
Minseok manjatuhkan tubuhnya diatas kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimutnya. Ia terlalu lelah bahkan hanya untuk membuka mata dan mengisi perutnya. Ia hanya perlu tidur dan esoknya ia akan kembali baik.
XXXXXXXXX
Chanyeol berjalan pelan malam itu, tepat tengah malam. Dengan pakaian serba hitam dan topi ia berjalan sendiri di kompleks pemakaman. Hingga kaki-kaki panjangnya berhenti disamping sebuah nisan. Ia berjongkok dan mengelus tepat diukiran nama di nisan itu. "Kyungsoo…"gumamnya lemah.
Chanyeol mengecup pelan batu itu dan secara tak terkontrol air matanya mengalir pelan dan jatuh dirumput. Ia merasa hancur dan kosong secara bersamaan. "Kau tahu, aku merasa hancur dan kosong"gumamnya lagi dan tak lebih keras dari sebelumnya. Ia menatap nisan Kyungsoo lesu, seakan tak ada kekuatan lagi dalam tubuhnya karena sumber kekuatannya telah padam.
Tapi dalam sedetik sebuah senyum terpatri diwajahnya, hanya lengkungan garis yang indah. "Tapi kau tahu kejutannya, aku akan membangunkanmu. Ini terlalu panjang, kau tidur terlalu panjang"katanya dan setelah itu Chanyeol menggali makam Kyungsoo dengan cangkul yang sejak tadi dibawanya.
Hingga terlihat peti mati Kyungsoo, dan dengan senyuman lebar Chanyeol membukanya. Terlihat jasad Kyungsoo yang masih utuh memakai setelan jas hitam. Dan dengan sekali hentaan badan, Chanyeol menancapkan taringnya diperpotongan leher Kyungsoo.
..
..
..
Perlahan, sosoknya membuka mata dan memandang sekelilingnya. Ia hanya merasa asing dan bodoh. Ia tak mengenal apapun yang ia lihat, bahkan – "Siapa aku?" –namanya. Chanyeol tersentak dan bangun dari tidurnya. Kyungsoo duduk dengan memandangnya bingung. "Kyungsoo, kau sudah bangun"katanya sambil mengelus rambut coklat tua Kyungsoo. "Aku? Kyungsoo? Kau mengenalku tuan?"tanyanya beruntut.
Chanyeol tersenyum dan mengangguk. "Kau Kyungsoo, Do Kyungsoo. Kau punya adik bernama Do Sehun dan aku Chanyeol, Park Chanyeol"katanya pelan sambil masih mengelus kepala Kyungsoo. Ia berdusta, ia menyembunyikan sebuah kebenaran yang tak diinginkannya untuk Kyungsoo tahu. Baekhyun.
XXXXXXXXX
Kyungsoo membuka matanya pelan. Ia berada disebuah kamar yang asing diingatannya, akan tetapi ada sebongkah perasaan rindu akan apa yang dilihatnya sekarang. Korden biru pastel dan ranjang yang berwarna putih. Ia juga merasa rindu dengan apa yang dilihatnya saat matanya melihat kearah balkon kamar itu. Entah dorongan dari mana, ia meyakini bahwa ia pernah hidup dikedaan ini, pernah melihat hamparan hutan pinus itu, dan pernah merasakan hangatnya ranjang itu.
Ia tersentak saat mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki memasuki rumah itu. Kyungsoo berjalan pelan dan mengendap-endap melewati lorong lantai dua. Ia hanya ingin melihat siapa yang berkunjung. "Kyaaaa…..!"jeritan dari seorang pria membuat Kyungsoo terpaksa menutup telinganya dengan telunjuknya dan mencegah suara melengking pria itu memasuki lubang telinganya lebih jauh.
"Siapa kau?"tanya Kyungsoo saat ia melihat pria didepannya mulai menatapnya dengan matanya yang berkaca-kaca. Secara tiba-tiba pria itu memeluknya dan menangis. Kyungsoo merasa dunianya berputar dan akhirnya ia mengingat secuil kehidupannya. Adiknya. "Kau Do Sehun?"tanyanya tergagap dan pria yang memeluknya mengangguk. Kyungsoo menghela nafas, dan mengangkat tangannya untuk mengelus kepala adiknya.
Perasaannya membuncah dan terasa seperti gunung berapi yang akan meletus. Ia bahagia dan bahagia, dan kenyataannya ia tak tahu kenapa ia merasa bahagia. Sehun melepaskan pelukannya, menatap Kyungsoo yang jauh lebih pendek darinya, "Aku percaya bahwa kau akan kembali Kyungsoo-Hyung"katanya dan Kyungsoo hanya bisa tersenyum. Untuk saat ini.
..
..
..
Hal yang tak pernah Kyungsoo duga sebelumnya, Sehun mengajaknya berkunjung kebeberapa tempat yang asing diingatannya tetapi familiar dihatinya. Ia merasa pernah melewati segalanya yang baru saja dilakukannya dengan Sehun tapi, sebesar apapun ia mencoba, ia tak akan mengingat apapun.
"Kyungsoo-Hyung, lihat aku membawakanmu bunga mawar. Kau menyukainya?"kata Sehun sambil memberikan Kyungsoo sebuket bunga mawar merah. Kyungsoo mengangkat alisnya, ini terasa lebih familiar dan familiar disetiap kegiatan ataupun benda yang diberikan Sehun padanya. Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. "Ya, terimakasih"
XXXXXXXXX
Suara tawanya menggema diseluruh ruangan, hingga sosok pria yang tadinya tertidur terbangun dari tidurnya. "Apa yang kau ketawakan? Kau lapar Chen? Ini masih pertengahan bulan"kata Minseok dengan mengucek matanya dan merenggangkan badannya. "Ia sudah bangkit, si polos Kyungsoo sudah terbangun dari mimpi manisnya dan satu hal yang harus kulakukan adalah memancing ingatannya dan membunuhnya"katanya.
Minseok menghela nafas, "Kau terlalu gegabah. Melawan dua orang vampir dan werewolf. Kau gila Chen! Bahkan kau hanya sendiri"teriaknya. Chen menatapnya diam, "Aku tak sendiri. Karena aku akan membawamu menuju neraka dan pergi ke surga bersama-sama. Karena aku menyukaimu"
Minseok membulatkan matanya. "A-apa yang kau katakan?"tanyanya terperangah. Chen tersenyum lembut, berjalan mendekat kearah Minseok dan memenjarakannya diantara tangannya. "Aku menyukaimu Minseok. Aku mencintaimu"katanya dan dengan itu ia menancapkan taringnya diperpotongan leher Minseok. Mengisap darahnya dan membuat darah Minseok mengalir di pembuluh darahnya, dan begitu pula sebaliknya. Cara menyatakan cinta terbaik sepanjang masa. Dengan menukarkan darah masing-masing.
Chen tersenyum saat menyudahi urusannya. Wajah Minseok sudah terlihat seperti bunga sakura yang mekar. Begitu merah muda dan manis. Chen mengangkat tangannya, mengusap pipi dan bibir bawah Minseok dan membuat bibirnya menari dengan indah diatas bibir Minseok.
XXXXXXXX
10 April 1990
Malam ini, Sehun mengajaknya untuk pergi kesebuah bar dan ia berkata bahwa Kyungsoo akan menemukan teman-teman lamanya, dan Kyungsoo menyetujuinya.
Anehnya, jantung Kyungsoo seperti akan meledak saat matanya melihat sosok pria dengan rambut; coklat dan tubuh sedikit pendek. Ia menahan nafasnya sesaat dan melanjutkan langkahnya, ia mengambil duduk disamping pria itu dan memesan segelas limun.
Yixing yang menjadi bartender tersentak saat wajah Kyungsoo ada didepannya. "Kyungsoo! Kau sudah kembali!"pekiknya dan anehnya pria disamping Kyungsoo sontak menolehkan kepalanya dan membuka mulutnya. Pria itu; Baekhyun. "Kyungsoo, kau kembali"katanya dan setelah itu ia membawa Kyungsoo kedalam rengkuhannya.
..
..
Diruang kerja Kris. Sehun, Baekhyun, Kyungsoo sudah berkumpul dan duduk diatas kursi empuk masing-masing. Dengan wajah kaget Kris dan Baekhyun, sedang Kyungsoo hanya memasang wajah bodoh tak tau apa-apa. "Jadi, Sehun kapan Kyungsoo kembali hidup –ah, maksudku kapan ia kembali?"katanya dan Sehun menatapnya miris. Ia masih dianggap pangeran polos yang tak pernah tahu dunia. "Ia kembali lima hari lalu, aku menemukannya dikamarnya"jawab Sehun.
Kyungsoo menundukkan kepalanya. "Saat aku membuka mataku, orang yang pertama aku lihat adalah Park Chanyeol"cicitnya yang menimbulkan pekikan ketiga orang didepannya. "Chanyeol!"pekiknya tak percaya. Kyungsoo mengangguk. "Ia berkata namaku Do Kyungsoo dan aku memilik adik bernama Do Sehun"katanya lagi dan dengan perkataan terakhirnya Baekhyun hanya menghela nafas dan memasang senyum miris.
XXXXXXXXXX
To be continue…
Hai, hai, hai. Saya kembali dengan Chapter 6. Disini Kyungsoo udah idup lagi dan kalo ada yang review di Chapter ini alurnya cepet banget. Itu karena waktu ketemunya Kyungsoo ama Chen bakal segera datang dan bakal tahu deh akhir dari takdir amaranth.
Ada juga reader yang bilang Sehun karakternya kaya yeoja. Itu sengaja seih, sebenernya. Kan dia disini uke tuh, ama Luhan aja uke. Ntar kalo kaga dikasih yang jinjay-jinjay gitu Sehunnya. Manly dong dia. Kaga ikhlas ahhh..
Chansoo, nya udah mulai keliatan ya? Ada yang bisa tebak gimana akhir pairingnya? Bingung gak sih?
Soal takdir amaranth itu namanya saya ambil dari salah satu albumnya davichi. Entah kenapa, akhir-akhir ini reviewnya menurun… tapi saya tetep mau ngucapin makasih sebanyak banyaknya sama yang masih review dan fol fav. Meskipun penurunan review itu bikin saya dikit down, tapi gak papa. Saya bakal terus apdet nih ff ampe kelar, ampe tuntas.
Udah, segitu aja cuap-cuapnya. Maaf kalo saya gak bisa bales reviewnya atu-atu. Tapi percaya aja, saya selalu baca review kalian.
Last, Mind to Review?
Channie10
