A/N: HAPPY CHRISTMAS! Feels like forever, huh? I'm sorry. That's it. Enjoy
WARNING: There is adult contents in this chap.
I own nothing, JK. Rowling has!
Chapter 3: Damn it
Pertama, aku bertemu dengan orang yang kukenal. Kedua, orang yang kukenal ini adalah orang yang paling mustahil untuk aku temukan disini dan sangat kuhindari dimanapun aku berada. Ketiga, orang dengan keterangan tersebut adalah klienku saat ini. Keempat, orang ini memiliki anak. Kelima, aku menyukai anak ini – bukan menyukai seperti yang kalian pikirkan. Keenam, aku memikirkan bagaimana cara mati yang cepat agar masalah ini terselesaikan.
Kuhela napas sejenak dan kembali menarik bedcover yang sedari tadi menguburku. Helaian rambut terasa menutupi mataku. Waktu masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Bahkan terpejam sejenak saja belum. Terkadang aku ingin menuruti nasihat Bree untuk mendatangi psikiater dan meminta saran bagaimana cara mengenyahkan pikiran-pikiran gila di kepalaku. Sangat tak sehat bila sampai sekarang aku masih memikirkan semuanya. Seharusnya aku sekarang tidur. Seharusnya semesta membantuku untuk terlelap. Tetapi, hal itu hanya seharusnya. Dan terkadang hal yang menjadi seharusnya tak pernah sejalan dengan kenyataan.
Kuputuskan untuk bangkit dan mengambil kaus besar yang tersampir di samping tempat tidurku. Aku berjalan menuju dapur sambil berharap segelas whiskey dapat menolongku terlelap nantinya. Kuambil es dan kemudian menuangkan whiskey itu ke dalam gelas. Wajah anak kecil berambut pirang gelap itu kembali terbayang di benakku. Mata kelabunya. Dan bagaiamana cara ia berinteraksi dengan ayahnya di bakery tadi.
Mataku langsung tertuju pada pria yang ia sapa dengan ayah dan dengan ringannya memanggilku 'Miss Granger' itu. Sontak Scorpius langsung menatapku dengan sebelah alis terangkat. Nama bocah itu Scorpius – yaa setidaknya seperti itulah Malfoy memperkenalkan dirinya padaku. Wajah Malfoy yang kuyakini hanya memiliki ekspresi terbatas, kini terbantahkan. Aku tak pernah melihat ia begitu sangat tersenyum saat melihat sesuatu. Dan senyum langka itulah yang kusaksikan saat ia menghampiri anaknya. Senyum takzim bak orang alim saat menginjakan kaki di tanah kelahiran Tuhannya. Bila hal ini keluar dari mulut Sam, aku yakin ia pasti membual. Tetapi, aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri bagaimana Malfoy menghampiri anaknya dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya. Saat itu juga pandangannya beralih padaku.
"Miss Granger, kau sudah bertemu dengan putraku?" dan senyum itu menghilang saat memandangku.
Dengan sangat jujur aku mengatakan bahwa aku sama sekali tak tahu bahwa anak dihadapanku adalah anaknya. Dan tatapan Scorpius kembali teralih padaku. "Kau mengenal ayahku?"
Aku mengangguk. "Ayahmu, klien perusahaanku," jawabku cepat.
Namun, anak itu masih menatapku dan meminta lebih dari sekadar jawabanku tadi. "Aku dan timku yang mendesain apartemen baru kalian," tambahku.
Anak itu mengangguk. "Hanya itu?" Draco Malfoy akhirnya ikut berbicara di dalam percakapan ini.
"Apakah masih ada yang ingin kau katakan lagi?" anak itu menatapku lagi.
Aku mengedikkan bahu. "Bagaimana bila kau bertanya pada ayahmu?" ujarku dengan senyum sarkasme ke arah Malfoy.
Dan tatapan Scorpius teralih pada Malfoy meminta jawaban lebih. "Kami bersekolah di sekolah yang sama."
"Ah yaa, dia penyihir."
Seperti tak lagi memedulikan kami, Scorpius tenggelam larut bersama es krim cokelat di hadapannya. Sesekali ia menjilat bibir mungilnya dan kembali menyedokkan es krim itu ke mulutnya. Dan Draco Malfoy yang telah duduk di hadapanku kembali membuka suara. "Lalu kebetulan macam apa yang membuat kita duduk bersama seperti ini, Miss Granger?"
Kujelaskan padanya apa yang terjadi sambil berusaha untuk tak terlihat tertarik. Dan aku juga mengatakan bahwa Magnolia adalah salah satu bakery kesukaannku dan aku sangat sering datang kesini. Entah apa yang ada dipikiranku. Rasaku ia bahkan tak mau tahu bagaimana aku bisa disana tadi sore. Tak beberapa lama kemudian pesananku telah siap dan namaku telah dipanggil. Aku pamit dengan sopan dari hadapan mereka. Dari jarakku berjalan aku dapat mendengar Scorpius menanyakan kapan mereka akan pulang.
"Joe akan menjemputku kita sebentar lagi, kecuali jika kau ingin kita ber-Apparate sekarang juga?"
"Aku benci menggunakan cara itu," kata-kata itu yang keluar dari mulut putranya yang berumur lima tahun itu.
Aku dapat merasakan Draco Malfoy kembali tersenyum.
Dan sekarang aku masih duduk di kitchen island dengan whiskey di tangan. Berpikir tentang semua kejadian itu. Draco. Scorpius. Nama-nama mereka terkesan sangat mencengkam. Kutenggak lagi whiskey di tanganku.
Tunggu.
Bila aku benar, nama-nama mereka diambil dari nama rasi-rasi bintang. Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk kamar anak nanti.
000
Hedonisme.
Kata yang selalu tepat untuk menggambarkan timku bila proyek kami telah rampung. Benar. Proyek penthouse Malfoy telah rampung dan tinggal menunggu perabot yang telah kami pesan untuk ditata sesuai dengan rencana. Kembali ke makna hedonisme yang tadi telah kusebutkan. Kami sudah berada di Iridium sejak sejam yang lalu dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. botol-botol minuman sudah bersama kami sejak tadi di lantai dansa. Suara musik yang menghentak membuat rambutku seakan naik turun mengikuti irama. Baru kali ini aku sangat ingin merayakan berakhirnya sebuah proyek. Dengan berakhirnya proyek ini, berakhir pula masa-masa pertemuanku dengan Malfoy.
"Untuk Emma!" tiba-tiba Sam berteriak di tengah kerumunan lantai dansa.
"Emma!"
Aku ikut berteriak "Yeay!"
Hidupku akan terasa ringan kembali.
Praise for God. For Merlin. And for universe. Karena berkat kerjasama mereka aku akhirnya menyadari apa yang akan kulakukan untuk kamar putra Malfoy itu. Dan Malfoy serta anaknya tampak sangat menyukainya. Walaupun aku sadar sekali bahwa Draco Malfoy tak mau menunjukkan kepuasannya secara langsung di hadapanku.
Musik semakin menghentak. Aku bergerak di lantai dansa sesukaku. Mengikuti semua partner yang ikut bergoyang di dekatku. Sesekali kutenggak bir di tanganku dan kembali mengikuti irama. Tubuhku terasa sangat bersemangat ingin menghabiskan malam disini. Aku yakin bukan hanya diriku yang tengah berkeringat sekarang. Tetapi, siapa yang peduli. Aku merasakan sebuah tangan melingkar di perutku. "Hey," ujarnya.
Aku membalikkan tubuhku dan mendapatkan Alex tengah berdiri dengan lengan kemeja yang telah digulung namun masih menggunakan kacamatanya. "Alex!" seruku kemudian mengalungkan tanganku di lehernya dan terus mengikuti musik yang menghentak.
"Ayo kita pulang," ucapnya sedikit berteriak kepadaku.
Aku menggeleng sambil mencebik. "Malam baru saja dimulai."
"Kau mabuk."
"Tidak."
Ia menatapku dari balik bingkai kacamatanya. Aku tahu tatapan ini. Alex adalah salah satu sahabatku dengan tingkat proteksi tertinggi. Harry dan Ron menyusul di belakangnya. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. "Kau tunggu aku di lounge, sebentar lagi kita pulang."
Lantas ia meninggalkanku. Dan seketika teman-teman wanitaku mengerumun. "Kalian benar-benar bersahabat?"
Aku mengangguk. "Kau benar-benar tak pernah tidur dengannya?"
Kembali aku mengangguk. "Itu adalah fakta dengan tingkat bullshit tertinggi yang pernah kudengar," Tina tertawa.
"Benar, aku tak akan tahan hidup serumah dengan pria setampan dan seseksi dirinya," sahut temanku yang lain.
Teman-temanku mulai lagi dengan rutinitas mengagung-agungkan Alex dan menyumpah serapahi karena terikat hubungan persahabatan dengannya. Lagi-lagi aku hanya tertawa dan mengatakan aku sudah gila bila kelak berakhir bersamanya. Setelah berpamitan dengan mereka aku datang menghampiri Alex yang tengah menungguku di lounge dengan botol bir di tangannya.
"Kau minum?" tanyaku menghempaskan tubuh di sampingnya.
Ia menaik-naikkan alisnya memberikan jawaban 'ya' padaku. "Bagaimana kau bisa mengemudi?"
"Aku tak akan menabrak orang dan berakhir di tangan NYPD hanya karena sebotol bir," kekehnya.
Aku ikut terkekeh. "Jangan katakan Bree kau menjemputku."
Keningnya berekerut. "Ia akan menyangka bahwa kita bersenang-senang tanpa melibatkannya."
Ia menatapaku kemudian kami tertawa. Bree tak pernah sedewasa penampilannya. Kami bangkit dan meninggalkan Iridium.
000
Pagi hari setelah berhedonisme di Iridium memang tak pernah menjadi hariku. Kepalaku terasa seperti ditimpa batu besar. Aku tahu akan semua dampak ini, namun tetap melakukannya dan akan terus melakukannya. Alex dan Bree adalah pengaruh terbesar dari semua ini. Mereka selalu mengatakan bahwa kita hanya hidup sekali. Jalani, rasakan, dan nikmati dengan segenap kemampuan yang kau punya. Dan aku mengamini perkataan itu.
Aku bangkit dari tumpukan selimut. Perlahan kuturuni tangga penthouse kami dan berakhir di ruang tengah. Bree tengah duduk dengan rambut terbungkus handuk dengan gelas yang mengepul dengan harum kopi yang semerbak. "Pagi, Ems," sapanya saat menatapku lalu kembali menatap televisi di hadapannya.
"Pagi," jawabku dengan nada parau.
Aku memilih duduk di pantri yang tepat berada di dekat ruang tengah penthouse kami. "Jangan langsung minum teh, ada tisane yang telah diseduh Alex tadi," ujar Bree.
"How cute," ujarku dan dengan perlahan menyeruput tisane yang masih terasa hangat itu.
"Kemana Alex?" tanyaku setelah yakin kesadaranku sudah kembali menyatu. Aku berjalan ke arah Bree untuk ikut duduk bersamanya di sofa.
Dia sedikit menggeser duduknya agar aku dapat duduk di sampingnya. "Dia kembali ke klub tenis."
Alisku mengerut. "Anak magang di kantornya adalah salah satu member klub itu ternyata," jawab Bree atas pertanyaan tersiratku tadi.
Sontak aku tertawa. Begitupula dengan Bree. Kebiasaan Alex tak akan pernah berubah. Mencoba berbagai cara agar wanita yang ia targetkan jatuh kepelukannya. Dan secara perlahan meninggalkannya bila dianggap tak lagi mengasyikan. Bree dan aku masih tertawa. Perlahan aku menyeruput Earl Grey Tea yang tadi kuseduh. "Lalu kau mau pergi kemana?" tanyaku padanya kemudian meletakkan cangkir itu di meja tepat di hadapan kami.
"Ada seorang pelukis yang harus kutemui nanti siang. Galeriku sangat menginginkannya."
Aku mengannguk. "Padahal aku ingin mengajakmu makan siang."
"Aku juga akan memillihmu bila pelukis ini mudah untuk ditemui. Oh Merlin! Aku bahkan telah membuat janji dengannya sejak sebulan yang lalu dan dia baru bisa sekarang dan di akhir pekan pula," jelasnya panjang lebar.
Aku menggigit muffin cokelat yang telah berada di nakas samping sofa kami. "Kenapa harus kau?" tanyaku.
Bree mengela napas. "Makhluk ini berasal dari Perancis dan aku adalah satu-satunya pegawai yang dapat berbicara dengan bahasa itu selancar saat menggunakan bahasa Inggris."
Aku tertawa. "Makan malam?" tanyanya Bree.
"Makan malam terdengar menyenangkan. Aku akan memberitahu Alex."
"Yeay," ucap Bree girang sambil memelukku.
Ia kemudian bergegas naik ke kamarnya. Another lonely Saturday noon.
000
Seharian ini aku memutuskan di rumah mendengarkan suara khas John Meyer sambil membaca buku dan sesekali menyuapkan makanan ke mulutku. Aku berpikir bahwa Alex akan pulang siang ini, tapi aku salah. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan 'teman-teman' klub tenis itu. Tetiba saja aku merindukan ketiga sahabatku di London. Apa kabar Harry dan Ginny serta Ron? Terakhir kali aku menyapa mereka adalah bulan lalu saat Ginny memberitahuku bahwa ia tengah mengandung anak keduanya. Dan Ron yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya dengan Luna. Aku kadang berpikir bagaimana kehidupanku bila aku masih bertahan disana? Mungkinkah aku sekarang bekerja di Kementerian? Atau menjadi ibu rumah tangga dengan suara tangisan anak-anak yang akan mengganggu malam-malamku? Entahlah. Mungkin bila hal itu terjadi, kegiatan bersenang-senang di Iridium-ku seperti tadi malam hanya khayalan belaka. Namun, terkadang aku juga berpikir bahwa mau sampai kapan aku akan hidup sendirian seperti ini. Baiklah, aku tidak sendirian. Aku memiliki Bree dan Alex serta Ginny, Ron, dan Harry. Aku juga memiliki pekerjaan yang sangat mapan. Aku juga bisa dengan bebas menunjuk teman kencanku. Tapi, apakah itu cukup? Aku menggeleng berusaha mengenyahkan pikiran itu.
Kuputuskan untuk mengambil perkamen dan menyurati mereka. Aku memang tinggal di New York dan jauh dari segala macam kegiatan penyihir namun aku masih memilliki bergulung-gulung perkamen dan tentunya burung hantu. Hal ini juga diperlukan bagi Bree dan Alex yang sesekali akan menyurati orang tua mereka. Aku mulai menanyakan kabar mereka. Dan secepatnya meminta foto-foto mereka, tentunya Harry dan Ginny serta James kecil mereka. Ron dan Lunna lengkap dengan perut buncitnya. Akhirnya, aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Draco Malfoy. Aku menceritakan semuanya secara mendetil. Tentunya surat ini khusus kutuliskan bagi Ginny. Aku tak tahu bagaiamana reaksi Ron dan Harry bila tahu aku bekerja untuk Draco Malfoy. Bisa saja mereka akan menggunakan portkey atau ber-Apparate menyeberangi benua untuk menemuiku.
000
Fifth Avenue tampak dilalu lalangi para pejalan kaki. Tetapi, hal yang kusuka dari akhir pekan adalah tak ada suara-suara klakson taksi yang memekakkan telingan karena kemacetan yang ada. Akhir pekan adalah saat dimana semua warga bersantai. Entah bersama keluarga, kekasih, atau temannya. Namun, sepertinya aku harus meralat pernyataan barusan. Karena disini para pekerja sedang sibuk mengangkut perabot dan mulai memasangnya sesuai dengan blue print yang ada. Seperti mengejar terget, para pekerja kami bayar lebih untuk menyelesaikan semuanya hari ini. Karena jika aku tak salah mendengar Ramirez, Draco Malfoy dan keluarganya ingin segera menempati penthouse mereka. Dan disinilah aku sekarang. Di penthouse Malfoy mengamati para pekerja yang sibuk hilir mudik mengangkut dan meletakkan perabot dan segala pernak-perniknya. Hal ini tak termasuk dalam lemburku, karena sesungguhnya aku dengan suka rela berada disini. Aku merasa sangat tak produktif bila harus duduk di rumah tanpa melakukan hal apapun. Makan malam bersana Alex dan Bree juga masih beberapa jam lagi. Jadi, aku berkahir disini. Mengamati dan sesekali membenarkan apa yang semestinya harus dibenarkan.
Sekitar pukul enam sore para pekerja mulai meninggalkan tempat ini. Masih ada satu jam lagi sebelum aku harus bertemu dengan mereka. Aku mulai memperhatikan satu persatu ruangan dan mulai memperbaiki bila ada tata barang yang kurang sempurna dan tak sesuai dengan desain pada awalnya. Kini aku telah berada di kamar utama bangunan ini. Aku akhirnya berhasil mendesainnya dan mendapat persetujuan dari Malfoy tentunya melewati sekretaris pirangnya. Ruangan ini bernuansa gelap. Perpaduan antara biru tua dengan indigo dan ornamen-ornamen putih berbahan kayu. Lantainya bewarna cokelat asli dari kayu mahoghany yang telah di oven agar tahan dari segala cauaca dan hama. Ranjang berukuran king size berada di tengah dengan seprai putih dan bedcover serta bantal-bantai bewarna biru metalik. Terdapat kursi malas di sudut ruangan yang bewarna senada dengan ornamen lainnya. Pada sisi lainnya jendela besar terlihat sangat menonjol dengan tirai putih yang menerawang dan gorden yang bewarna emas seperti mencolok di antara unsur lainnya. Tepat di hadapan ranjang terdapat sebuah perapian dengan televisi di atasnya. Dan pada sisi lainnya sebuah pintu geser berada untuk menghubungkan kamar ini dengan mini walk-in closet Malfoy. Aku tepat berdiri di tengah. Di antara perapian dan ranjang dengan karpet berbahan beludru di kakiku. Rasa puas terpancar seketika padaku. Tetapi, ada sesuatu yang menganjal, aku dapat melihat bahwa lukisan yang berada tepat di atas ranjang terlihat tidak seimbang dan sedikit miring. Terlalu sayang untuk menginjak ranjang ini, kuputuskan untuk menggunakan tongkat sihirku. Ide itu akhirnya muncul, kurapalkan sedikit mantra keseluruh ruangan ini untuk memfiksasi semuanya. Perlahan barang-barang itu sedikit bergerak dan mencapai bentuk yang kuinginkan. Senyumku kembali terkembang. Sempurna.
"Jadi, ini rahasiamu agar semua karyamu menjadi sempurna?"
Aku terlonjak kaget saat melihat sosok Draco Malfoy tengah berdiri di ambang pintu kamar ini. Seperti kepergok sedang mencuri cokelat di supermarket , terburu-buru aku menyimpan tongkatku di balik tubuh.
"Kau selalu membuatku terkejut," ucapku ketus.
Ia menatapku dari posisinya tanpa terlihat akan bergerak ke arahku. "Kau selalu muncul secara tiba-tiba," tambahku lagi.
Ia menyeringai dan berjalan ke arahku. "Bila aku tak salah, penthouse ini adalah milikku dan aku berhak muncul kapanpun aku mau."
Aku menghela napas. Percayalah aku sedang tak ingin bertengkar dengan siapapun. "Baiklah, berhubung sang pemilik sudah datang, aku harus pergi dari sini secepatnya."
"Kau tak pernah berubah," ucapnya menatap lurus ke arah jendela besar itu.
Refleks aku membalikkan tubuhku yang sudah sampai di ambang pintu. "Kau tetap sensitif dan cepat terpancing emosi," ia mengatakannya tanpa menatapku sama sekali.
"Dan kau juga tak pernah berubah," kini ia yang membalikkan tubuh untuk menatapku. "Selalu suka memancing emosiku," tambahku.
Ia tersenyum tipis. Siluetnya terlihat sangat sempurna dari jendela itu. Tubuhnya terlihat sempurna saat bermandikan cahaya matahari yang segera terbenam itu. "Jangan lupa untuk datang ke pesta rumah ini, aku akan mengirimkan undangannya segera ke kantor kalian," ujarnya
Aku hanya terpaku. "Kukira kau ingin segera meninggalkan ruangan ini," tambahnya.
Senyum tipis itu telah kembali menjadi sebuah serigaian. Dan aku tahu bahwa sosok sempurna yang tadi kulihat hanya ilusi. Malfoy akan tetap menjadi Malfoy. Dan tanpa harus berpamitan padanya aku angkat kaki dari ruangan itu.
000
Selama satu pekan ini para rekan kerjaku sibuk dengan undangan pesta dari Malfoy untuk penthouse barunya. Mereka sibuk membicarakan busana apa yang akan mereka gunakan atau siapa saja yang akan diundang atau chef mana yang akan membuat hidangannya. Sejujurnya aku muak mendengarnya. Bahkan aku tak tahu apakah akan menghadiri acara itu. Bukan karena aku bukanlah seorang party person yang akan menjadi pendiam dan menunggu seseorang untuk mengajak berbicara. Percayalah aku dapat berpesta semalam suntuk. Tetapi, lihat siapa tuan rumah kali ini. Aku tak sanggup membayangkan berada bersamanya di dalam satu ruangan lebih dari satu jam. Sam memohon padaku untuk datang. Ia mengatakan bahwa ia tak peduli tentang masa lalu apa yang pernah kami jalani semasa di asrama dulu, ia hanya mau tahu bahwa aku akan datang bersamanya. Ramirez juga menginginkan hal yang sama. Tetapi, aku kenal benar siapa Ramirez. Ia pasti ingin mengenalkanku pada semua koleganya. Memperkenalkan aset tepenting dari firma arsitektur kami. Dan hal ini juga bagaikan prospek yang cerah bagiku. Mungkin saja aku bertemu dengan pemilik firma desain lainnya dan menawarkanku gaji dan segala fasilitas di atas kantorku sekarang. Setelah sibuk berkonsultasi dengan Bree, aku memutuskan untuk datang. Setengah jam dan pulang.
Pesta itu baru akan diadakan pukul 9 malam dan aku sudah selesai mandi disaat waktu masih menunjukkan pukul 6 petang. Masih menggunakan jubah mandi aku sibuk mengobrak-abrik lemariku. Rasanya aku memiliki ratusan dress dan gaun, tapi mengapa mereka sekarang tampak tak ada satupun yang cocok melekat di tubuhku. Sedikit menghela napas, aku duduk di tepi ranjangku dan memandang kosong ke lemari itu. Lima belas menit berlalu dan aku masih belum menentukan baju mana yang akan kupakai. Kusesap Earl Grey Tea-ku yang tak lagi mengepul. Kuputuskan untuk menggunakan long sleeve dress hitamku dipadukan dengan Manolo yang bewarna sama dan mengikat ponytail rambutku. Rasaku sudah cukup.
Aku terdiam di depan meja riasku. Apa yang salah denganku? Kenapa aku harus terlalu memikirkan tampilanku di pesta nanti? Apa mungkin aku masih menyukainya?
"Arrgh."
Bahkan aku tak tahu jawabannya. Seharusnya aku tak lagi menyukainya. Perasaan itu sudah lama hilang. Sudah hampir lima belas tahun yang lalu. Semua itu seharusnya kutinggalkan bersama semua kenanganku di Hogwarts. Mendadak aku mual dengan pikiranku sendiri. "Damn you, Malfoy!"
Kucoba untuk meyakinkan diri bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Atau bisa saja aku datang dan menghindarinya. Semudah itu, bukan?
000
Pesta telah ramai saat aku datang. Penthouse ini terlihat menjadi sangat elegan di malam hari seperti ini. Aku datang satu jam terlambat dari seharusnya. Tak ada maksud apapun, hanya ingin terlambat saja. Aku melihat kolega-kolega dari firmaku sudah berkumpul disatu titik dengan Ramirez yang ikut bersamanya. Setelah memberikan mantelku kepada pelayan aku berjalan menghampiri mereka.
"Emma!"seru beberapa kolegaku
Aku tersenyum pada mereka "Hey," sapaku kemudian mengambil segelas champagne yang dari nampan seorang pelayan.
"Kau sangat terlambat," ujar Tina "Mr. Malfoy telah mengucapkan sambutan dan berterima kasih pada kita," tambahnya lagi
Kuhela napas lega. "Syukurlah."
"Apa?"
Aku menggeleng cepat dan mereka kembali terlibat dalam percakapan. Entahlah apa yang mereka katakan. Sam terlihat sedang bersama seorang pria di sudut ruang tengah ini. Mataku tertuju pada lukisan Malfoy dan putranya yang terletak tepat di atas perapian. Wajah mereka terlihat mirip sekali. Dan senyum mengembang dari bibirku. Langsung saja aku menggeleng dan pergi dari tempat itu. Aku membawa gelas champagne baru kemudian menuju tangga untuk menuju beranda atas penthouse ini. Terlihat tidak sopan memang, tapi aku butuh udara segar. Lagipula aku tak melihat batang hidung Malfoy sejak tadi.
Cuaca malam ini sangat cerah, namun hawa dingin bulan Maret masih sangat terasa. Aku memperhatikan landscape kota New York dari sini. Begitu indah dengan lampu disemua sudut jalan. Sesekali aku menyesap minuman di tanganku. Aku duduk di sebuah bangku kayu di beranda ini. Masih menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. "Apakah pestaku sangat membosankan?"
Aku terlonjak saat mendengarnya. "Damn you, Malfoy!"
Dia hanya mengedikkan bahu dan berjalan ke beranda. Ada segelas wine di tangannya kemudian ia berbalik dan menghadapku. Aku baru saja ingin bangkit saat ia kembali membuka suara. "Apakah kita bisa sedikit saja melakukan gencatan senjata?"
Aku menatap bingung terhadapnya. Apa yang sebenarnya ia rencanakan? "Kau mabuk?" tanyaku serius.
Ia terkesan seperti tersenyum padaku. "Aku serius ingin melakukan gencatan senjata denganmu, Emma," jawabnya.
Aku kembali tertegun. "Haruskan aku memanggilmu Hermione atau kau lebih senang dipanggil seperti semua orang memanggilmu sekarang."
"Terserah padamu."
Dia menyandarkan diri di beranda tepat di hadapanku. Sosoknya terlihat begitu menjulang. "Kenapa kau berada disini?" kini aku yang berbicara.
"Entahlah, aku hanya berjalan dan menemukan kau disini," ucapnya datar.
Diam kembali menyelubungi kami. Ingin rasanya aku lari dari tempat ini, namun bagian lain dari tubuhku seakan tak rela bila harus pergi dari hadapannya. "Jadi apa yang membuat kau merubah nama panggilanmu?"
Aku menghela napas. "Curious Malfoy," ucapku.
"Hermione terdengar lebih indah dari Emma."
"Dan terdengar lebih aneh di kota ini," sambarku.
Ia terkekeh kemudian tersenyum padaku. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum padaku. Senyum ini hanya pernah kulihat saat ia sedang bersama putranya. Kami kembali terdiam dan sebuah pertanyaan keluar dari mulutku. "Dimana anakmu?"
"Bersama ibunya," hanya kata itu yang keluar dan sepertinya aku paham bahwa hal ini bukanlah hal yang digunakan pada awal sebuah gencatan senjata.
Dia kembali menatap lurus ke arah gemerlap kota. "Terima kasih sudah mendesain rumah ini dengan cantik, terutama untuk kamar Scorpius."
Malfoy mengucapkan terima kasih. Haruskah aku merekam ini dan menyebarkannya di Inggris? "Itu sudah tugasku. Apakah ia menyukainya?"
Malfoy mengangguk. "Yaa, dia memandangi ruangan itu dengan takjub. Ia menyukai konstelasi bintang di langit kamarnya."
"Syukurlah."
"Aku jarang sekali melihat ia takjub akan sesuatu," ujarnya.
Rasanya aneh sekali bisa berbicara seperti ini dengan Malfoy. Seperti mengalami perjalanan spiritual yang tak dapat didefinisikan. Mataku teralih pada jam yang terlingkar di pergelanganku. "Aku harus pergi," ujarku.
"Yaa rasaku para tamu juga sudah meninggalkan pesta ini."
Aku tersenyum saat mendengarnya dan mengikutinya dari belakang untuk turun menuju ke dalam. Benar saja, ruangan itu benar-benar kosong. Hanya ada beberapa pelayan yang berkeliaran di sana untuk membereskan segalanya. Bahkan semua kolegaku telah menghilang. Aku seperti berada di adegan film yang tertidur di kamar mandi dan saat sadar pesta sudah selesai. "Seperti dugaanku," ujar Malfoy yang terdengar seperti gumaman. "Sebaiknya aku juga pulang."
Tetiba saja ia memegang pergelangan tanganku dan aku merasa bahwa jarak di antara kami sangatlah minim. Ia menunduk dan mendaratkan kecupan di pipiku. "Terima kasih," ucapnya dengan posisi bibir yang hanya berjarak beberapa centi dari pipiku.
Rasa panas menjalar keseluruh tubuhku. Aku memalingkan wajahku untuk menatapnya. Ia menatapku sangat dalam. Napasku langsung memburu. Aku dapat merasakan perlahan ia mendekat kepadaku dan tanpa sadar akan prosesnya, aku merasakan bibirnya telah berada di bibirku. Rasanya begitu lembut dan manis. Seperti menjilat wine dengan umur puluhan tahun. Memabukan. Perlahan ia melumat bibirku. Aku masih terpaku dan berusaha mengatur pernapasanku yang seketika berantakan tak karuan. Aku tak tahu apakah ini nyata atau tidak, tapi saat aku merasakan tangannya telah berada di pinggangku, aku tahu ini nyata. Dengan perlahan pula aku membalas ciumannya, membiarkanku terhanyut dan masuk ke dalam ritme permainannya. Dia melepaskan ciuman kami. "Maaf," ucapnya pelan dengan dahi kami yang saling bersentuhan.
Aku masih merasakan tangannya yang besar menangkup pipiku. "Apakah ini salah satu dari gencatan senjata kita?" tanyaku yang disambut dengan senyuman darinya.
"Aku rasa begitu."
Lantas aku kembali merendahkan posisiku untuk membiarkan ia menciumku kembali. Ia menciumku dengan sangat lembut. Secara perlahan ia meminta izin untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulutku yang kusambut dengan suka cita. Aku merasakan bahwa kami perlahan bergerak. Ia sedikit mendorongku ke dinding. Wangi lem dan wallpaper tercium seketika olehku, tapi orang gila mana yang peduli akan hal itu saat tengah bercumbu dengan Malfoy. Aku memiringkan kepalaku untuk memberikannya akses pada leherku. Bibirnya terasa sangat lembut. Helaian napasnya yang menyentuh kulitku membuatku semakin tak karuan. Satu kakiku sudah melingkarinya. "Lepaskan sepatumu," bisiknya padaku yang langsung kuturuti.
Kami berjalan sambil berpangutan. Aku tak tahu kemana ia akan membawaku. Saat merasakan beludru di kakiku, aku tahu kami berada di kamarnya. Tangannya berada di rambutku sesekali turun dan meremaskan bokongku, sedangkan tanganku sedari tadi melingkar di tanganya. Mulutku sesekali mengeluarkan lenguhan saat ia mencium leherku. Aku tahu ia mencari riseleting dari bajuku dan aku membiarkannya untuk melakukannya sendiri. Ia terus menciumku sambil terus berusaha menanggalkan bajuku. Saat tujuannya berhasil ia membimbingku ke ranjangnya. Aku dapat merasakan udara dingin menerpa kulitku yang kini telah terekspos di hadapnnya. Dengan canggung aku menutupinya saat ia membaringkanku di ranjangnya. "Aku ingin melihatnya," ucapnya berbisik saat berada di atasku.
Dengan terseyum aku membiarkannya untuk memandangku. Saat ia kembali menciumku di semua tempat, tanganku ikut sibuk untuk membuka kancing kemejanya. Dan dalam sekejap aku mendapatkan tubuh Malfoy yang atletis sedang berada di atasku. Ada beberapa luka parut di punggungnya, namun aku terlalu sibuk mendesah saat bibirnya telah berada di dadaku. Setelah itu, aku segera berusaha membuka celananya. Aku dapat merasakan ia menyeringai dan membantuku untuk membuka celana lengkap dengan sabuknya. Dan kini ia sama terseksposnya denganku. "See something you like?" ia menyeringai saat aku sedikit tertegun melihat keseluruhan tubuhnya.
"I have to feel it before I can claim that I like it or not," ujarku yang ikut menyeringai padanya.
Dia tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menggenggam rambutnya saat aku merasakan ia sedikit menggigitku. Kami berdua mendesah. Dan aku bersyukur bahwa putranya tak harus mendengar semua ini. Namun, pikiranku tertuju pada pelayan-pelayan pesta tadi. Apakah mereka telah meninggalkan penthouse ini atau justru sadar bahwa ada aktivitas lain disini.
"Ready?" bisiknya
Bahkan satu kata dari mulutnya terdengar sangat sensual di telingaku. Aku mengangguk dan aku merasakan ia perlahan turun dan mendengar suara kertas tersobek. Aku melihatnya tengah mengambil pengaman bagi kami. "I'm on birth control."
"Just prepared for the worst," ujarnya dan saat itu juga aku merasakan ia memasukiku
"Ehhmm."
Aku sedikit terlonjak. Ia tak bergerak dan menungguku untuk beradaptasi. Saat aku menggerakan sedikit pinggulku, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Aku merasakan gerakan maju mundurnya. Kulingkarkan kakiku di pinggulnya. Kugenggam semua benda yang sanggup keugenggam. Aku merasa berbeda. Tak pernah aku merasakan hal seperti ini dengan orang lain. Ia begitu lembut. Saat aku merasakan akan menuju klimaks, aku berbisik padanya "Harder," ia tersenyum dan mengikutiku. Beberapa saat kemudian ia menindihku dengan napas yang memburu. Ia menatapku dan kembali mencium bibirku lembut kemudian tersenyum.
000
Badanku terasa rontok. Ingin sekali aku kembali masuk ke alam mimpi, namun sinar matahari perlahan menerobos masuk ke dalam kelopak mataku. Aku meraba ranjang ini. Terasa sangat besar dan asing bagiku. Kusampirkan helaian rambut dari wajahku dan membuka mata. Aku melihat ke kiri dan ke kanan.
"Shit!" umpatku.
Aku bangkit dari tidurku dan menarik semua selimut yang ada untuk menutupi tubuhku. Aku mencium wangi sabun dan mendengar suara keran air yang baru saja dimatikan. Saat itu juga Malfoy keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang terlilit di pinggangnya.
"Pagi," ujarnya tanpa melihat ke arahku dan berjalan menuju walk-in closet-nya.
Bunuh aku sekarang.
000
to be continued
Saya mohon maaf apabila mencampurkan bahasa Indonesia dengan English, ada beberapa kata yang tak pas rasanya bila saya menggunakan bahasa indonesai. Terima kasih karena telah read and review. And please leave ur review. You Rock Guys:))
