Author Note: update again :) wew, bentar lagi internetku mati lagi (tgl 9 mati dan hari ini adalah hari terakhir). Aku mau cuti (hiatus) ffn dulu hingga akhir tahun. Maaf cuti kelamaan, lagi stresssssssss...
By the way…
There's no reviewer at all in the last chapter! TTATT aww man… that's sad…
Troublesome Family
Chapter 23
Pintu terbuka perlahan. Loz dan Yazoo menurunkan senjatanya. Mengejutkan, ternyata di balik pintu hanyalah orang biasa, yaitu pelayan restoran ini.
"Ada apa?" Pelayan tersebut heran ketika kami semua menatapinya.
"Tidak," jawab Yazoo.
Mendadak, pelayan tersebut tertembak tepat di kepala. Dia terjatuh dan tidak bergerak. Aku dapat mendengar jeritan di dalam restoran ketika mendengar bunyi letusan senjata.
Yazoo bersandar di dinding samping pintu. Seseorang mendadak berlari masuk ke ruangan ini sebelum Yazoo menembaknya! Kami langsung berpencar menghindari tembakkan yang ditembakkan olehnya.
Karena masih berada di dalam ruangan, aku memakai meja sebagai tempat berlindung dari peluru. Ketika hendak membalas tembakkan, kulihat musuh lain hendak menembak Loz. Aku pun menembaknya dan mengacuhkan musuh pertama yang sedang fokus pada Dad dan Yazoo. Karena menembak dalam kondisi terburu-buru—khawatir dia menembak terlebih dahulu sebelum tembakkanku, tembakkanku hanya mengenai lengannya. Padahal niatku menembakki bagian tubuhnya, seperti jantung.
Tapi Loz menyadari bahwa musuh yang kutembak mengincarnya dirinya. Karena jarak Loz tidak terlalu jauh dari musuh tersebut, sebuah pukulan melayang ke wajah musuh tersebut setelah Loz mengindari tembakkan—dan aku terkagum-kagum melihat dia bisa menghindar. Begitu musuh jatuh, Loz langsung menembaknya.
Datang dua musuh lagi. Padahal kami baru menjatuhkan satu. Aku langsung membantu Yazoo ketika Dad dan Loz menghadang dua musuh baru. Sebenarnya tadi aku bingung harus membantu siapa—karena jumlah musuh lebih dikit dari jumlah kami. Tapi berhubung Dad langsung mengambil alih musuh baru, maka menurutku menjatuhkan musuh pertama harus segera dilakukan.
Aku menghela napas lega setelah semua musuh tewas. Lenganku tertembak, tapi sudah kuikat kuat dengan kain agar darah berhenti mengalir. Yazoo dan Loz hanya terkena besatan peluru saja.
Sayangnya, kekhawatiran kami tidak terlihat berkurang. Dengan sigap, Dad, Yazoo, dan Loz langsung memeriksa mayat musuh kami. Sepertinya mencoba mencari identitas mereka.
"Tidak ada petunjuk," kata Loz sambil melempar mayat yang dipegangnya. Dilemparnya mayat tadi kembali ke lantai. "Kau menemukan sesuatu, Yazoo?" Loz menatapi Yazoo.
"Tidak. Kau Sora?" Yazoo dan Loz menatapiku.
Aku menggeleng. Aku tidak menemukan petunjuk apa pun juga.
"Sebaiknya kita segera," kata Dad sambil berjalan keluar.
"Bagaimana dengan CCTV di sini?" tanyaku dengan cemas.
"CCTV di sini sudah dimatikan oleh mereka sebelum Dad kemari," jawab Yazoo yang menyusul Dad keluar.
Aku dan Loz segera menyusul mereka berdua.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku dengan wajah penasaran.
"Biasanya, di bawah kamera terdapat lampu yang menandakan kamera tersebut menyala. Lampu tersebut adalah inframerah. Jika seseorang mengenai inframerah, maka kamera akan otomatis merekam. Jika tidak ada seorang pun yang mengenai inframerah lagi dalam beberapa puluh menit, maka kamera akan berhenti merekam," jawab Loz. Mendahului Yazoo.
Saat kami keluar dari restoran yang telah sepi gara-gara insiden tadi, kami dapat mendengar suara sirine mobil polisi. Kami semua bergegas menuju mobil. Hanya Dad yang tidak ikut bersama kami karena memiliki mobil sendiri.
Begitu masuk, dengan sigap Yazoo menyalakan mobil. Aku baru saja menutup pintu, tapi Yazoo sudah menjalankan mobilnya. Aku sempat oleng ke samping karena mobil mendadak jalan. Luka di lenganku terasa sakit ketika aku menahan beban tubuhku agar tidak membentur kursi. Aku meringis kesakitan, tapi dengan suara kecil agar konsentrasi Yazoo tidak terganggu.
Man, aku sudah terluka sebelum melakukan misi. Tapi ini hanyalah luka kecil—meski sesungguhnya dibilang luka berat oleh dokter, kurasa aku dapat bertahan jika melakukan misi nanti. Tapi jika diizinkan. Dering HP mendadak berbunyi. Aku kaget bukan main karena saat ini suasana sedang tegang. Kucari HP-ku yang berada di saku. Di layar, terlihat nama Dad. Dad meneleponku selagi menyetir?
"Ya?" jawabku ketika menerima panggilan.
"Bagaimana kondisi lenganmu?"
"Baik." Tentu saja kata-kataku bohong. Tapi Dad pasti tahu sih jika aku berbohong. Luka mana sih yang tidak sakit.
"Apakah pelurunya tertinggal di dalam?"
"Ya..."
Aku dapat mendengar Dad menghela napas. "Minta Yazoo berhenti di kilometer 120."
Aku langsung menjauhkan HP-ku. "Yazoo, Dad minta kita berhenti di kilometer 120," kataku memberitahu.
"Got it."
Dad menyarankanku untuk meminum obat pereda rasa sakit sebelum dia mengakhiri panggilan.
Aku dapat merasakan suhu tubuhku meningkat karena tubuh ini mendeteksi benda asing—peluru—di dalam tubuhku. Mungkin besok aku akan demam jika peluru ini tidak segera dikeluarkan. Aku mencari obat di kotak P3K. Seharusnya terdapat obat pereda rasa sakit di dalam, karena Dad selalu menyaran untuk menyimpan obat tersebut di P3K. Loz terlihat menyodorkan sebotol air padaku.
"Thanks," kataku ketika meraihnya.
Begitu memasukkan obat pereda rasa sakit ke dalam mulutku, aku langsung meneguk air dalam jumlah banyak.
"Eww!" Aku menjulurkan lidah. Pahitnya obat masih terasa pada lidahku. Mengapa ya semua obat terasa pahit dan bau?
"Ada permen di dalam kotak P3K," kata Yazoo tanpa menoleh.
"Bagaimana bisa ada permen di dalam sana?" tanyaku heran.
"Untuk mencegah kantuk," jawab Yazoo. "Lagipula, hanya permen kopi saja yang tersedia di sana."
Aku mengacak-acak sedikit isi kotak P3K. Terdapat sekantong permen di dalam. Jika kuperhatikan, memang semua jenis permen yang ada di sini memang hanya rasa kopi saja. Hebatnya lagi, bukan hanya satu merek permen saja, tapi ada sepuluh.
"Pahit?" tanyaku sambil memilih permen.
"Tidak sepahit obat."
Aku pun mengangkat bahu lalu mengambil secara acak. Kugigit pembungkus permen untuk membuka bungkusnya. Rasanya memang tidak sepahit obat, tapi tetap saja pahit!
Yazoo menghentikan kendaraannya di kilometer 120. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di belakang mobil ini. Dad terlihat keluar sambil membawa tas berisi peralatan...dokter? Aku tahu itu peralatan dokter karena terdapat tabung suntikkan yang tersimpan di kantong luar tas.
Tapi, sejak kapan Dad mempunyai alat-alat dokter? Dan mau apa Dad dengan alat-alat tersebut?
Dad masuk dan langsung memeriksa lenganku. Aku menatapinya dengan bingung dan juga cemas. Aku mau di apakan yah?
Dad terlihat mengeluarkan alat suntik. Dia mengisinya dengan cairan 'entah apa aku tidak tahu'. Setelah memastikan suntikkan dapat bekerja dengan baik, Dad menyuntikkan ke lenganku. Setelah itu Dad terdiam, tidak melakukan apa-apa lagi. Yazoo dan Loz terlihat seperti menunggu sesuatu, begitu juga Dad.
Beberapa menit berlalu. Mataku mendadak terasa berat. Memang sudah memasuki jam tidur sih, tapi biasanya aku tidak merasa ngantuk sekali. Ugh, mataku sudah tidak kuat. Bahkan rasa sakit pun tidak dapat kurasakan akibat rasa kantuk ini. Aku pun menggosok mataku.
"Aku tidak kuat lagi. Aku minta izin tidur, Dad."
Dad hanya mengangguk. Hebatnya, sekali memejamkan mata, aku langsung terlelap. Samar-samar, aku merasa seseorang memegangi lenganku yang terluka. Ada benda dingin yang terasa menembus kulitku, tapi tidak sakit. Rasa dingin itu perlahan-lahan menghilang karena pikiranku sudah terbang ke alam mimpi yang indah.
Ketika tersadar, kusadari tubuhku berbaring di kursi mobil—sandaran kursi diturunkan, sehingga seperti kasur—dengan selimut yang menyelimuti tubuhku. Hari masih gelap, tapi aku sendirian di dalam mobil. Kemana yang lain?
Setelah menengok ke kiri dan ke kanan, terdapat sebuah kertas di sampingku. Tulisan Yazoo...
Jika kau bangun dan membaca surat ini, berarti kami masih dalam misi. Jika merasa sanggup untuk ikut, kau bisa menyusul kami. Tapi SMS dulu untuk mengetahui lokasi kami.
PS: jika memang tidak bisa, jangan paksakan ikut.
Huh? Jadi saat ini mereka masih melakukan misi? Kuraih HP-ku dengan tangan yang tidak terluka. Hum, jika dipikir-pikir, baru kusadari tanganku sudah diperban. Tapi pelurunya kan belum dikeluarkan. Rasa sakit di lenganku sudah tidak sesakit sebelumnya, tapi tetap saja sakit saat kugerakkan.
Butuh beberapa menit bagiku menulis SMS dengan satu tangan saja. Balasan kuterima beberapa puluh detik kemudian. Cepatnya…
Tidak jauh dari parkiran. Pergilah ke selatan. Berjalanlah sekitar 200 meter, maka kau akan mendengar suara benturan peluru dari silent gun.
Mulutku menganga membaca SMS tersebut. Jadi dia membalas SMS-ku ketika sedang bertarung? Man...
Meski tangan sebelahku tidak bisa pakai untuk menembak, tapi ketepatan menembakku tidak menurun. Hanya saja kecepatan menembakku menurun.
Aku keluar dari mobil setelah mengambil senjata yang berada di kursi pengemudi—sepertinya ada yang sengaja meninggalkannya di sana. Entah siapa. Ketika sudah berjalan 100 meter, aku dapat mendengar benturan peluru beberapa kali dengan samar-samar. Aku pun berhati-hati melangkah, takut ada tembakkan yang mengenaiku. Jantungku berdetak semakin kencang ketika aku sudah berjalan 150 meter. Peluru-peluru yang terlihat meluncur dari berbagai arah. Aku pun mencari tempat berlindung sekaligus mencari jalan aman. Lokasi yang berada di depan gedung-gedung yang telah tutup.
Tunggu! Bagaimana mungkin Yazoo bisa memarkirkan mobilnya di dalam parkiran gedung, sementara gerbangnya saja ditutup? Apakah mereka merobohkan gerbangnya? Atau merusak kuncinya? Meski penasaran, tapi aku tidak bisa menanyakannya sekarang karena Yazoo, Loz, dan Dad tidak bersamaku...
Ketika aku mengintip lokasi penembakkan dari balik gedung, aku dapat melihat musuh kami. Sedangkan Yazoo, Loz, dan Dad, aku tidak bisa melihat keberadaan ketiganya.
Dengan tangan yang tidak terluka, aku mengarahkan silent gun-ku pada salah satu musuh kami. Jumlah mereka ada... satu, dua, tiga... enam! Dengan kondisiku, kurasa tembakkanku hanya akan mengenai satu saja. Beruntung jika tembakkan keduaku kena.
Aku mencoba konsentrasi penuh, membidik kepala target terdekat. Meski aku merasa ragu akan akuransiku, tapi hatiku berkata bahwa tembakkanku ini akan mengenainya. Tapi aku tidak tahu apakah langsung membunuhnya.
Aku menghela napas dalam sebelum menekan pelatuk silent gun. Ketika hendak menekan, seseorang mendadak membekak mulutku. Mataku melebar karena terkejut terdapat orang di belakangku. Celaka!
"Shh... Jangan tembak mereka dulu, Sora."
Aku pun melirik ke belakang. Melihat orang yang membekap mulutku dengan tangannya. Yazoo.
Meski Yazoo sudah melepaskan bekapannya, tapi jantungku masih berdebar-debar kencang saking kagetnya aku mengetahui ada seseorang di belakangku dan tanpa kusadari.
Setelah merasa tenang, aku pun bertanya, "bagaimana kau bisa tahu keberadaanku, Yazoo?" Aku terheran-heran. Keringat dingin kurasakan di sekujur tubuhku. Tanganku masih terasa gemetaran sedikit.
"Aku tahu kau akan melewati jalan ini karena ini memang satu-satunya jalan aman yang terhindar dari tembakkan peluru."
"Oh. Mengapa aku tidak boleh menembakki mereka?"
"Soalnya kita sedang menunggu mereka kehabisan peluru."
Aku langsung mengintip lagi ke arah musuh kami yang terus menembak. Jika kuperhatikan, mereka memang lebih banyak menembak dan jarang terdapat balasan. Entah mengapa kesannya kami memang terdesak, tapi sesungguhnya ini jebakkan.
"Tapi sampai kapan kita harus menunggu?" tanyaku sambil menatap Yazoo dengan ekspresi heran.
"Sebentar lagi. Cadangan peluru yang mereka miliki seharusnya sudah mulai menipis." Yazoo terlihat mengintai musuh kami yang terus menembak.
Mendadak, Yazoo langsung mengeluarkan dua silent gun-nya dengan cepat dan langsung menembak ketika musuh kami kehabisan peluru. Aku langsung memberi nilai 100 pada tembakkan Yazoo yang langsung tepat sasaran. Dua orang tumbang bersamaan. Aku pun tidak mau ketinggalan. Tembakkan pertamaku berhasil membunuh satu orang. Tembakkan kedua hanya melukai karena mereka mulai bergerak. Tapi sebelum mereka berhasil bersembunyi di tempat yang lebih aman, terdapat dua tembakkan dari arah lain. Satu tembakkan dari dua tembakkan tadi meleset. Sedangkan yang satu lagi, berhasil membunuh satu dari tiga orang yang tersisa. Aku dan Yazoo langsung berlari mendekati mereka. Dengan sigap Yazoo langsung menembak mati salah satu dari orang yang tersisa. Tersisa satu orang yang terluka terkena tembakkanku tadi.
Yazoo langsung memegang baju musuh kami dan menariknya berdiri—musuh kami terjatuh saat lari. Sepertinya dia jatuh karena luka di kakinya.
"Katakan, apakah kalian anggota Reaper Crown?"
Yazoo mendadak marah. Cengkramannya terlihat begitu kuat. Tatapan matanya dingin menusuk sehingga membuatku merinding ketakutan. Aku sudah pernah melihat ekspresi seperti itu beberapa kali, tapi tetap saja merinding jika melihatnya lagi.
Musuh kami, seorang lelaki yang kira-kira seumuran dengan Yazoo, terlihat diam. Dia memalingkan wajahnya, tidak menjawab. Yazoo mengangkatnya lebih tinggi lagi. Kali ini, wajahnya lebih dekat pada musuh kami.
"Sepertinya nyawamu ini tidak berharga bagimu, ya?" Senyuman sinis yang terkesan kejam muncul di wajah Yazoo.
Aku langsung membalikkan badan ketika Yazoo menusuknya menggunakan pisau. Dia bermaksud menyiksanya hingga dia bicara. Yazoo akan terus menyiksanya hingga mati meski informasi yang kita inginkan tidak dapat. Jeritan kesakitan terdengar beberapa kali. Kuyakin setiap kali dia menjerit, berarti Yazoo menusuknya sekali lagi.
Aku menghela napas. Untungnya aku membawa HP-ku. Kupasang colokan ear phone ke HP-ku—dan tanganku sakit ketika mencoba mencoloknya. Soalnya aku kesulitan mencoloknya dengan satu tangan—dan kupakai di telingaku. Kuputar musik dengan volume sedang. Aku tidak suka mendengar teriakkan ketika penyiksaan. Rasanya aku seperti ikut merasakan sakitnya ditusuk. Loz dan Dad terlihat kemari beberapa detik setelah aku memutarkan musik di HP-ku.
Karena aku tidak bisa mendengar dengan jelas, aku mencoba membaca gerakan bibir Dad dan Loz. Sepertinya mereka menanyakan sesuatu pada Yazoo, soalnya kata 'informasi' keluar dari mulut mereka berdua.
Dad terlihat menghela napas pelan, lalu berbalik dan hendak pergi. Loz memberi isyarat agar aku ikut dengannya dan Dad. Yazoo masih terlihat sibuk (menyiksa) dan sepertinya baru akan menyusul setelah selesai.
Aku mengangkat bahu dan mengikuti Loz yang berjalan menyusul Dad. Begitu merasa cukup jauh, kulepaskan sebelah Ear Phone yang kumasukkan dalam kupingku dan kukecilkan volume-nya. Meski sudah jauh, aku masih dapat mendengar teriakkannya. Meski kecil sih.
"Ngomong-ngomong, kita ada misi apa di sini? Apakah misi kita batal karena diganggu oleh anggota Reaper Crown?" tanyaku sambil menatap Loz.
"Tidak. Setelah misi berhasil, mereka datang menghadang," jawab Loz sambil menatapku.
"Oh. Misi apa?"
"Pencurian data," jawab Loz sambil menunjukkan sebuah flash disk 10GB.
Sepertinya data yang dicuri cukup besar. Biasanya hanya membutuhkan flash disk 2GB saja ketika mencuri data. Oh ya! Aku baru sadar! Tidak biasanya Dad ikut melaksanakan misi! Apalagi jumlah orang yang ikut misi sampai empat orang! Jika memang sampai empat orang, berarti misi ini...
"Sepertinya kau baru menyadari tingkat kesulitan misi ini," kata Loz dengan senyum sinis.
"Tingkat S," balasku sambil mengigit bibir.
Sial, ini misi tingkat S dan aku justru baru ikut membantu setelah misi selesai? Sungguh asem sekali. Ini sama saja aku tidak ikut misi. Kukepalkan tanganku dengan kuat saking kesalnya. Seandainya saja tadi aku tidak terluka...
Loz mengusap kepalaku. Kekesalanku terasa berkurang sedikit.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya Dad bilang misi ini cukup dikerjakan tiga orang saja. Dad sengaja mengajakmu untuk menambah pengalamanmu saja. Masih ada misi tingkat S yang lain." Loz mencoba menghiburku.
Aku menghela napas. Antara lega dan sedih. Leganya karena sesungguhnya bantuanku memang tidak diperlukan. Sedihnya karena aku tidak mendapatkan pengalaman misi kali ini.
Begitu tiba di parkiran mobil, Dad memeriksa lagi kondisi lukaku sekaligus mengganti perban. Ketika perban dibuka, terdapat jahitan di luka tembakku. Seperti habis dioperasi. Tapi siapa yang mengoperasiku?
"Suhu tubuhmu masih agak di atas normal," kata Dad sambil memegangi dahiku.
Tangannya memang terasa dingin sih. Rasanya nyaman. "Omong-omong, siapa yang mengoperasi tanganku?"
"Ah, kau tidak kalau Dad dulunya seorang dokter?" Loz bertanya balik.
Aku langsung membeku mendengarnya. Dad...seorang dokter?
"What!?" Seruku kaget bukan main.
To Be Continued...
Author Note: Apa!? Sephiroth seorang dokter!? (Sama terkejutnya dengan Sora.) Wah... Tidak bisa dibayangkan bukan jika Sephiroth jadi dokter? X3 review please?
