..

..

..

..

[Chapter 7] – The First Meet

Pernyataan Kyungsoo tempo hari mau tak mau harus membuat Baekhyun terasa jatuh dari langit teratas. Segalanya menjadi ringan saat ia melihat Kyungsoo kembali, dan seketika terasa seperti ada sebuah batu besar yang jatuh dikepalanya. Kyungsoo tak mengingatnya, bahkan juga tak mengingat rasa cintanya.

Baekhyun tak ingin larut dalam kesedihannya, ia hanya mampu memaklumi segala yang ada. Konsekwensi dari penghidupan jasad mati adalah hilangnya ingatan jasad itu.

Ia hanya berharap, dengan berjalannya waktu, secara perlahan Kyungsoo akan kembali mendapatkan ingatannya dan mengingatnya. Meskipun pada akhirnya, bukan ia jodoh Kyungsoo, ia hanya cinta pertama Kyungsoo. Ia bahagia dengan kenyataan bahwa ia masih begitu mencintainya.

Baekhyun menggeser korden kamarnya dan menatap hamparan lapang luas dengan rumput hijau. Samar, ia melihat seorang pria yang tengah berdiri didekat pohon besar yang berjarak tak jauh dari kamarnya. Pria itu menatapnya dan berakhir dengan sebuah seringaian licik dan secara tiba-tiba Baekhyun mengingat pria itu. Ia mendorong kaca pembatas kamarnya dan melompat dari lantai dua, ia berlari kearah pria itu.

Baekhyun menatapnya penuh kemarahan hingga sebuah bogem mentah hendak ia layangkan pada muka si pria itu, dengan sigap pria itu menahan tangannya dan meremas kepalan tangannya. Baekhyun meringis, "Lepaskan! Chen, kau pria terbodoh yang pernah kutemui"kata Baekhyun saat tangan Chen melepaskannya. Ia tertawa, dan menatap Baekhyun licik. "Kau yang bodoh Huang Baekhyun, kau melindungi seorang pembunuh macam Kyungsoo! Kau brengsek"katanya tajam dan Baekhyun masih membiasakan nafasnya yang mulai memburu.

Chen mengangkat satu sudut bibirnya, "Bukan Kyungsoo pembunuhnya, tapi orang tuanya yang melakukannya"kata Baekhyun saat emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Ia berbicara seperti berbisik, tak ingin sesuatu yang buruk terjadi apabila ia tak mengontrol amarahnya. "Kau tau Huang Baekhyun, darah Do brengsek mengalir dipembuluh darahnya dan juga adiknya. Aku harus memusnahkan semua orang yang didarahnya mengalir darah Do brengsek. Terutama Kyungsoo"katanya tajam dan ia seperti sudah menahan amarahnya. Hingga membuat wajahnya memerah.

Baekhyun melayangkan sebuah bogem mentah padanya, dan anehnya berhasil. Chen mengusap darah yang ada disudut bibirnya. "Kau tak perlu mengabiskan tenagamu untuk membunuhku sekarang Huang Baekhyun. Hanya lindungi Kyungsoo dan katakan pada si Kai anak Taeyeon itu untuk menjaga pangeran polosnya"dan dengan ucapan itu, Chen menghilang.

XXXXXXXXX

Kyungsoo mengangkat panci sedangnya yang berisi sup labu dan meletakkannya diatas meja. Ia mengambil sendok dan sedikit menyendokkan sup labunya kedalam mulutnya. "Hmmm… sempurna. Aku akan berkunjung kerumah Chanyeol hari ini, dan Sehun! Cepatlah supnya sudah mendingin"teriaknya dari dapur dan setelahnya terdengar suara gemeletuk dari suara Sehun yang berlari menuruni anak tangga. "Hyung, kau membuat sup labu? Banyak sekali, kau membuatnya untuk Chanyeol?"tanyanya saat ia melihat Kyungsoo memasukkan sup labu manis itu kedalam sebuah mangkuk besar.

"Aku akan memberikan ini padanya. Dan tolong –" ucapan Kyungsoo terhenti dengan ketukan keras dari pintu. Sehun berlari kecil dan terhentak saat sosok Luhan dan Baekhyun ada didepannya. Sebuah perasaan khawatir merambat dan akhirnya membuatnya gemetar tak karuan. Sehun menyerongkan badannya dan memberi jalan untuk Luhan dan Baekhyun memasuki rumahnya. "Kyungsoo, kau mau kemana?"tanya mereka bersamaan.

Kyungsoo menatap Luhan dan Baekhyun bingung dengan sendok sayur yang masih dipegangnya. "A-aku akan kerumah Chanyeol"katanya tergagap. "Kami akan mengantarmu"kata mereka lagi-lagi bersamaan.

..

..

Perasaan aneh timbul saat Kyungsoo duduk dikursi penumpang mobil Baekhyun. Ia tahu itu pasalnya, ia pernah menaiki mobil bak terbuka Luhan sekali. Baekhyun memasang wajah was-was sedang Luhan menyetir dengan alis yang bertautan. Kyungsoo berdehem pelan, "Apa yang terjadi dengan kalian?"katanya tergagap. Ia merasa menjadi unsure yang terpositif disini, pasalnya ia merasakan sesuatu yang negatif meguar dari tubuh keduanya.

"Tidak apa-apa, kami tak apa-apa"jawab Luhan saat mobil itu sudah memasuki pekarangan rumah Chanyeol. Rumahnya lebih terlihat seperti kastil tua berlantai dua. Dengan cat putih yang sudah menguning dan beberapa bagian tembok hilang hingga terlihat bagaimana susunan batu-batanya. Kyungsoo membuka pintu dan mengangkut mangkuk besarnya. Ia mengerutkan alisnya saat ia melihat Luhan dan Baekhyun lagi-lagi bersikap aneh. Mereka selalu memperhatikan sisi-sisi yang tak terlihat dan gelap disekitar rumah Chanyeol. "Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tak mau masuk?"tanya Kyungsoo saat ia sudah berada di veranda rumah Chanyeol.

Luhan dan Baekhyun menoleh bersamaan lalu menggeleng. "Tidak, masuk saja. Kami akan menunggumu disini"kata Luhan dengan senyuman yang terukir diwajahnya. Tampan. Kyungsoo tersenyum manis lalu masuk kedalam rumah Chanyeol.

Kyungsoo masuk dan meletakkan mangkuknya diatas meja kaca. Ia melangkah lebih jauh dan melihat siluet Chanyeol didalam kamarnya. Kyungsoo memutar kenop dan mendorong pintu itu. "Hai Chan, aku datang berkunjung. Kau –"perkataan Kyungsoo terhenti saat ia melihat Chanyeol didalam ruangan itu. Dengan mata merah dan sepasang taring tajam. Ia tersenyum pada Kyungsoo dan dengan pelan, berjalan kearahnya. Kyungsoo terdiam, secara tiba-tiba tubuhnya membeku. Ia tak bisa bergerak walaupun ia berusaha sekuat tenaga.

Tatapan mata Chanyeol seperti magnet yang terus menariknya mendekat. Dan secara tak sadar Kyungsoo juga berjalan mendekat. Mereka berhenti disatu titik, menatap satu sama lain, dan Kyungsoo bisa melihat sebuah kobaran api dimata Chanyeol. Pelan tapi pasti, Chanyeol mengarahkan wajahnya keceruk leher Kyungsoo. Ia menghirup aromanya pelan, dan menjilat sebelum menancapkan taringnya.

Kyungsoo membulatkan matanya, ia bisa merasakan bagaimana bagian lehernya berkedut-kedut saat Chanyeol mengisap darahnya. Terasa menggairahkan dan ia merasa ada puluhan kupu-kupu terbang diperutnya dan panas menjalar diseluruh tubuhnya. "Akh" ia merintih pelan saat ia merasa isapan Chanyeol mulai menyakitinya dan mendadak Chanyeol sadar dari perbuatannya. Ia menatap Kyungsoo yang terlihat lesu.

Chanyeol mengusap permukaan bibirnya dan juga luka diceruk leher Kyungsoo. "Kyungsoo, maafkan aku"katanya pelan dan Kyungsoo tak menjawab alih-alih mengalungkan lengannya dileher Chanyeol. Ia merasa bergairah dan panas. Dan dengan itu ia membuat bibirnya ada diatas bibir Chanyeol.

XXXXXXXX

Luhan dan Baekhyun masih ada diluar rumah Chanyeol. Mereka merasa dalam level awas tentang ancaman Chen. Luhan tak takut, begitu juga Baekhyun. Mereka hanya ingin memastikan Kyungsoo pergi dan kembali dengan selamat. Tanpa sadar terdapat seorang pria yang berdiri disisi tak terlihat dan menyeringai, saat melihat kelengahan keduanya.

"Tidak Do Kyungsoo, Do Sehun"

XXXXXXXXXX

Entah sadar atau tidak, Sehun masih duduk di veranda luar rumahnya. Udara cukup dingin malam ini, dan ia hanya memakai selapis baju hangat tanpa jaket ataupun mantel. Ia mengernyit saat melihat seorang pria berjalan dari pagar pekarangan rumahnya dan berjalan kearahnya. Rasa takut mulai merayapi hatinya dan dalam hitungan detik, ia sudah dalam pelukan seorang pria. Jongin.

Sehun mendongakkan kepalanya, "J-jong-in"katanya tergagap. Jongin mendesis dan menginsyaratkannya untuk diam. Dan setelah itu, hanya asap abu yang dilihat Sehun sebelum ia benar-benar pingsan. Jongin meletakkan Sehun diatas kursi panjang dan memandang Chen yang tersenyum kearahnya. Senyum licik yang memuakkan. "Apa yang kau lakukan disini, makhluk brengsek?"tanya Jongin lirih.

Emosinya seperti tersulut saat ia melihat senyum licik Chen yang memuakkan. "Aku, well. Aku hanya ingin menengok pangeran polos Sehun dan tiba-tiba kau datang"jawabnya enteng. Dan Jongin semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Jangan menyentuh Sehun, seujung jaripun. Atau aku akan mematahkan lehermu"kata Jongin dengan geraman.

Chen berjalan mundur dan mundur. Semakin menjauhi Jongin. "Aku tak janji Kim Jongin. Kyungsoo atau Sehun"katanya dan kejadian selanjutnya adalah ia menghilang.

XXXXXXXXX

Malam ini, Kyungsoo berkunjung ke bar Kris dan bertemu dengan Lay yang ada dibalik meja bar. Ia dengan lihai menyampur beberapa macam alkohol dan memberikan sebuah ceri sebagai sentuhan akhirnya. Kyungsoo duduk dipojok meja dan mendapat perhatian Lay. Ia menghampiri Kyungsoo dan menanyakan pesanannya. "Aku hanya ingin moonshine"katanya, kemudian Lay pergi setelah berkata 'tunggu'.

Seseorang duduk disamping Kyungsoo. Kyungsoo melirik sekilas, dan setelahnya ia tak mau melihat wajah pria disampingnya. "Do Kyungsoo"katanya pelan. Kyungsoo menoleh dan ia merasa seperti tersihir.

"Kau adalah pemilik takdir amaranth, kau yang menyebabkan Zitao adik Baekhyun hampir mati. Kau bajingan Kyungsoo, kau membunuhnya. Dan setelah kau kembali, kau menyakiti Baekhyun dengan bersatu dengan Chanyeol. Kau bajingan, semua orang membencimu Kyungsoo. Kau harus tahu itu"katanya, terdengan seperti mantra bagi Kyungsoo dan setelahnya ia merasa kepalanya sakit dan berputar.

Lay datang dengan gelas tinggi dan memekik. "Kyungsoo! Apa yang terjadi padamu!". Lay berputar dan keluar dari belakang meja bar. Ia menangkap bahu Kyungsoo dan menepuk pipinya, sebelum Kyungsoo jatuh pingsan, ia sempat melihat kearah pria itu dan pria itu, menghilang.

..

..

..

Kyungsoo menemukan dirinya disebuah kamar yang asing. Ia tak ingat tapi kamar ini sungguh familiar. Seseorang memutar kenop dan membuka pintunya. Baekhyun, dengan nampan yang terisi makanan.

Kyungsoo memandang Baekhyun, saat ia melihatnya, ada perasaan ngilu diulu hatinya. Dan ia sadar bahwa ia sudah mengingat segalanya. Ia mengingat bagaimana Baekhyun mencintainya, ia ingat bagaimana pria itu membunuhnya, dan dia ingat bagaimana semua orang merenggang nyawa untuknya….

Saat Baekhyun sudah mencapai pinggiran ranjang, secara spontan Kyungsoo memeluknya dan Baekhyun hanya membulatkan matanya. "Hiks… Baekhyun… Maafkan aku… Maafkan aku… A-aku mengingat segalanya, … Hiks…. Maafkan aku…"isaknya keras. Baekhyun mengangkat sebelah tangannya dan ia gunakan untuk mengelus punggung Kyungsoo. Ia merindukan Kyungsoo. Sangat. Sampai ia merasa bahwa ia akan mati kalau Kyungsoo tak kunjung mengingatnya.

Baekhyun mendesis dan mengecup keningnya. "Kau tak bersalah Kyungsoo. Jangan menangis. Takdir yang mempermainkanmu"katanya pelan. Kyungsoo masih menangis dibahunya dan ia merasa hatinya kembali menghangat hanya mendengar isakan Kyungsoo dibahunya. Ia menyukai bagaimana ia begitu intim dengan Kyungsoo saat ia menangis.

Ia begitu menyukainya.

XXXXXXXXX

Kyungsoo masih duduk bersila dibalkon kamar Baekhyun. Pria itu bahkan tak mengijinkannya pulang untuk menengok Sehun, tapi perasaan membuncah itu datang lagi saat Baekhyun begitu (sangat) perhatian dengannya. Ia tak bisa melakukan apapun, selain menatap jalinan bintang dilangit gelap dengan bulan yang terang. Ini sungguh menangkan, tapi saat Kyungsoo akan menutup matanya dan terjatuh dalam ketenangannya, sepasang lengan melingkar dipinggangnya.

Seorang pria yang Kyungsoo yakini adalah Baekhyun itu meletakkan dagunya diatas bahu Kyungsoo. Dan bernapas tenang diceruk lehernya, ini sedikit panas. Dan dengan sebuah gerakan, Baekhyun memutar tubuh Kyungsoo. Menatap bagaimana mata Kyungsoo terang dan jernih, ia seperti tersihir dan perlahan ia mempertipis jarak antara bibirnya dengan bibir tebal nan manis milik Kyungsoo.

"Ungh~"lenguhan Kyungsoo terdengar dan itu terdengar seperti bisikan mantra ditelinga Baekhyun. Ciuman itu tak lagi lembut dan penuh perasaan, melainkan ciuman panas yang penuh dengan gigitan dan pertukaran saliva.

Satu gerakan lagi dan Baekhyun menggendong Kyungsoo bridal, membawanya masuk dan membaringkannya diatas ranjang berbalut kain sutra berwarna biru langit. Mereka melepaskan pagutannya dan saling memandang satu sama lain. Semburat merah muda menghiasi pipi Kyungsoo dan itu terlihat benar-benar secantik bunga sakura.

Baekhyun mengangkat tangannya, mengelus pipi bulat Kyungsoo. "Apa aku dapat melakukannya lagi Kyungsoo?"tanyanya pelan. Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. "Ini yang terakhir kali, aku berjanji"katanya yang bahkan tak lebih keras dari sebelumnya.

Dan kejadian selanjutnya adalah mereka menghabiskan malam bersama dengan penuh peristiwa persinggungan antara kulit, erangan, dan klimaks.

XXXXXXXXX

Kastil Chen masih terlihat sama, malam ini. Bahkan, terlihat lebih gelap dan seram.

Minseok berdiri dibelakang jendela besar dengan sehelai pakaian dan kain yang ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dari terpaan angin malam. Seseorang berdiri disampingnya dan menggenggam tangannya. Minseok menolehkan kepalanya dan ia bisa melihat Chen tersenyum dengan rambut hitamnya yang bergerak terkena angin. Pria ini terlalu sempurna dan tampan.

Minseok memeluknya, menyembunyikan wajahnya didada Chen dan mengingat-ingat tentang pria Kim didepannya.

Menurutnya, Chen memiliki dua sisi yang bertolak belakang, begitu berbeda. Satu sisi gelap Chen, ia seperti pria berdarah dingin yang tak segan-segan membunuh siapapun yang mengahancurkan hidupnya, dan satu sisi lainnya. Sisi dimana ia terlihat begitu berkilau dan mahal. Saat rasa sayang dan perhatiannya hanya tercurah untuk Minseok dan waktu dimana mereka sedang berdua dan berbagi kasih sayang satu sama lain. Ini membuat Minseok sedih dan setetes air mata menetes dan mengalir dipipinya.

Chen tersentak, mengangkat wajah Minseok dan menatap wajah sembab pria mungilnya. Ia menghapus jejak air mata dipipi Minseok dengan ibu jarinya. "Apa yang kau pikirkan Minseokkie?"tanyanya dan Minseok merasa menghangat hanya karena sebuah kata simpel 'Minseokkie', itu terlalu lucu dan membahagiakan.

"Apa jika aku mengatakannya, kau akan menuruti permintaanku?"tanyanya. Chen tersenyum, "Jika aku dapat melakukannya, kenapa tidak"jawabnya dengan enteng dan tak terpikirkan. Minseok menghela nafasnya memulai, "Chen… tolong hentikan segalanya…. Kau tak akan bisa mengalahkan takdir yang bahkan sudah tertulis sebelum kau menyadarinya…"Minseok berhenti sejenak dan melihat bagaimana ekspresi Chen.

"…. Lupakan dendammu pada Do Kyungsoo dan adiknya…. Bukan Kyungsoo yang membunuh orangtua mu, tapi orangtuanya….. bahkan aku sudah membunuh Tuan Do dan istrinya…. Jadi to –"ucapan Minseok terhenti dengan ucapan Chen yang secara tiba-tiba ia lontarkan dan itu terasa jatuh tepat diulu hatinya. "Tidak Minseok, aku tak yakin bisa mengabulkan itu. Itu terlalu sulit".

Minseok menundukkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangannya kearah bulan yang mulai meninggi. Dan dengan hitungan detik akhirnya ia meninggalkan Chen saat pria itu mulai menangis dan larut dalam penyesalannya.

XXXXXXXXX

Pagi ini, Chen masih duduk diatas kursi putar empuknya dan menopang wajahnya dengan tangannya.

Saat ia mengingat tentang bagaimana Minseok benar-benar setia dengan keluarganya, bahkan ia membunuh Tuan Do untuk membalaskan dendamnya. Dan disaat Minseok menginginkan segalanya berakhir, ia hanya mampu menghela nafas dan berkata tidak.

Sesuatu yang selalu ia simpan sendirian dihatinya dan tak ingin ia perlihatkan pada orang lain. Air mata dan penyesalan. Dua hal yang selalu menganggunya.

Ia hanya menginginkan Kyungsoo menderita didepan matanya. Merasakan bagaiman hidup didunia yang kejam tanpa kedua orangtuanya, yang sesungguhnya juga pernah dirasakan Kyungsoo. Dan bahkan lebih.

XXXXXXXXXXX

Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Kyungsoo berlari kecil dan membuka pintu rumahnya. Baekhyun mengijinkannya pulang untuk melihat Sehun dan memasak untuknya.

Kyungsoo membulatkan matanya saat melihat tamu yang mencarinya. "S-siapa k-kau?"tanya Kyungsoo. Pria itu tersenyum, "Halo Do Kyungsoo"

..

..

..

Pria itu duduk didepannya, dengan Kyungsoo yang masih menutup kakinya dan menundukkan kepalanya."Apa yang kau inginkan?"tanya Kyungsoo pelan. Pria itu terkekeh pelan dengan suara nafasnya yang kentara. "Aku hanya ingin kau menyadari sesuatu…"mulainya. Kyungsoo menghela nafas dan mengangkat kepalanya. "…. Kau adalah pemilik takdir amaranth. Dan aku berani bertaruh kalau kau sudah mengetahui tentang itu"katanya pelan. Kyungsoo merasa nafasnya tercekat dan tenggorokannya terasa deperti tersedak. "Jangan kaget. Ini bahkan belum dimulai olehnya. Aku sarankan selamatkan Huang Zitao dan pergi sejauh mungkin darinya"katanya lagi pelan.

Kyungsoo menautkan alisnya. "Siapa…"ia memberikan jeda pada kalimatnya "Dia…?"

XXXXXXXXX

To be continue…

Ff ini masih berlanjut

Saya harap gak ada yang lupa sama ff ini karena udah lama banget gak update.

Choisonghamnida, saya bener-bener kepepet tugas

Maaf kalo chapter ini gak cukup memuaskan, ini yang terbaik.

Last, mind to review?

Channie10