A/N: Is it too late to say Happy New Year? I don't think so. So, Happy New Year pals:) I'm sorry for the typos and maybe u'll find another typos in this chap. But, I hope u like it and enjoy!

JK. Rowling has! unless several unknown characters

Chapter 4. Jet Coaster

Apakah kalian pernah menaiki wahaha jet coaster? Apa yang kalian rasakan saat kereta tersebut menungkik turun di jalur curam? Mual, pusing, dan terkadang ingin berteriak namun tak bisa saking histeris dan bercampur aduk seluruh rasa dalam tubuh. Aku tengah mengalaminya sekarang. Tidak. Aku tidak sedang menaiki wahana itu, namun rasanya hampir sama persis saat aku baru saja selesai menaiki wahana itu. Ada rasa tak karuan di dalam perutku dan aku tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku.

Malfoy baru saja berlalu sambil mengucapkan selamat pagi untukku dengan hanya menggunakan handuk dan rambut yang setengah basah. Ia sekarang berada di walk- in closet miliknya dengan entah apa yang ada di pikirannya. Sedangkan aku masih duduk bodoh di ranjangnya dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Demi apapun! Mengapa aku sangat ceroboh dengan tidur denganny? Dan hal yang paling tak dapat kupahami adalah aku sadar. Aku akan seratus persen memakluminya bila kami sama-sama mabuk, tapi aku rasa tidak. Gila. Aku mengingat kembali apa yang kami lakukan semalam. Saat bibirnya berada di seluruh tubuhku. Saat aku meminta lebih. Dan saat kami melakukannya berulang kali sampai aku tak sanggup lagi untuk menggerakan tubuh. Dan disaat aku menikmati semua itu.

"Shit!" makiku pada diri sendiri.

Apakah ia segitu menggiurkannya? Kuhela napas sejenak. Kujulurkan sedikit kepalaku memastikan bahwa ia masih lama di dalam ruangan itu. Aku tak melihat ada gerak-gerik bahwa ia akan keluar dari walk -in closet itu. Kuedarkan pandanganku mencari pakaianku. Long sleeve dress-ku berada di sofa di sudut kamar ini. Perlahan aku keluar dari ranjang ini dengan selimut yang kulilit di tubuh. Sedikit berjinjit aku mengambil baju itu. Mataku menangkap jam duduk yang berada di atas drawer Malfoy. Pukul 8. Another shit in the morning. Aku lupa bahwa hari adalah Senin. Dan aku tak memiliki waktu lagi bila harus pulang. Ada meeting mingguan yang akan kami lakukan.

"Bila kau mau mandi semua perlengkapanmu sudah siap."

Aku terlonjak saat Malfoy keluar dari ruangan itu. "Shit, Malfoy! Berhenti mengagetkanku."

Dia menyeringai. "Periksakan jantungmu, Granger. Kau selalu terkejut dengan apapun," ia berjalan menuju drawer tepat disampingku untuk menggunakan jam tangannya. Mataku tertuju padanya. "Tunggu. Apa maksudmu perlengkapanku sudah siap di sana?" tanyaku sambil menunjuk kamar mandi.

Ia masih sibuk menggonta-ganti jam tangannya. "Pakaian dalammu. Kau tak mungkin memakai pakaian dalammu semalam, kan?"

Sontak aku melotot ke arahnya. "Pakaian dalamku?" suaraku tetiba meninggi. "Malfoy! Bagaiamana.." aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

Bagaiamana mungkin ada pakaian dalamku disini?

"Aku menyuruh Joe membelikanmu sepasang pakaian dalam dengan brand dan ukuran yang sama dengan yang kau gunakan semalam," ucapnya sambil mengaitkan jam tangannya.

Aku masih syok mendengarnya. "Kau menyuruh Joe? Kau gila atau apa?"

"Aku menunggumu di ruang makan," tanpa melihatku dia keluar dan meninggalkanku yang masih terkejut hebat.

Malfoy dengan entengnya menyuruh Joe Karpov membeli sepasang pakaian dalam untukku. Apa yang akan ada di pikiran pegawainya itu? Sebulan yang lalu ia menjemputku di kantor sebagai designer yang bekerja sama dengan atasannya, sekarang ia membelikan designer itu sepasang pakaian dalam karena designer itu telah tidur bersama atasannya. This's totally mental!

000

Setelah mandi dan menggunakan pakaian dalam 'baruku' aku segera turun dan mendapati Malfoy yang sudah duduk di meja makan dengan koran di tangannya. Saat aku sudah berada di dekatnya seorang wanita paruh baya menghampiriku. "Anda ingin sarapan apa, Miss Granger?"

Aku melihat sekeliling dan meja. Mendapati muffin, roti isi, dan scone, serta beberapa macam minuman. Malfoy masih sibuk dengan surat kabarnya. "Apa yang biasa dimakan Mr. Malfoy?"

Mendengar namanya disebut ia langsung melipat korannya dan memandangku. "Mr. Malfoy biasa sarapan dengan muffin atau scone dan scramble egg," jawabya.

"Aku mau yang sama," ujarku dengan tersenyum padanya.

Ia mengangguk. "Terima kasih," tambahku lagi dan ia kembali mengangguk.

Aku duduk tepat di sampingnya dan ia tetap tak menatapku. Padangannya masih sibuk dengan surat kabarnya dan sesekali memeriksa layar ponselnya. Tatapanku tertuju pada jus labu yang berada di hadapannya. Aku tersenyum. "Ada apa?"

Aku mencebik. "Tak ada."

"Aku masih penyihir dan aku masih menyukai jus labu, walaupun tak ada yang menyaingi kelezatan milik Hogwarts."

Aku terkekeh mendengarnya. "Rasanya sudah berabad-abad aku tak meminumnya."

"Kau harus sering bermalam disini," ujarnya sambil menyeringai kepadaku.

"Teruslah berharap."

"Kita lihat nanti saja, Granger."

000

Malfoy berusaha kerasa atau lebih tepatnya memaksaku untuk bersedia diantar oleh Joe ke kantor. Tentu aku menolaknya mentah-mentah pada awalnya. Aku bukanlah tipe wanita yang tidak mandiri dan harus diantar kemanapun. Aku memiliki tongkat sihir. Aku dapat ber-Apparate sesuka hatiku kemanapun aku mau. Tetapi, aku tengah berhadapan dengan Draco Malfoy. Tatapannya terhadapku seakan-akan mengandung hipnotis dan aku mengiyakan permintaannya.

Sekarang aku berada di kursi belakang SUV Bentley hitam milik Malfoy seorang diri. Jangan tanyakan dimana Malfoy. Dia memilih mengendarai mobil sedannya sendiri. Tanpa perlu menjelaskan apa maksudnya ia meninggalkanku di lobi penthouse-nya. Pukul 10 kurang aku sampai di gedung kantorku. Setelah mengucapkan terima kasih pada Joe aku bergegas menaiki lift menuju kantorku. Baru saja aku sampai di ruanganku, Sam sudah duduk disana dengan dua gelas kertas di tangannya.

"Earl Grey Tea," ujarnya sambil menyodorkan gelasnya padaku.

Aku senang bukan kepalang. Ia seperti tahu bahwa pagi ini aku belum menyentuh teh sama sekali. "Terima kasih," jawabku setengah berjinjit untuk mengecup pipinya.

Aku lalu duduk di belakang mejaku setelah menggantungkan mantel di tempatnya. Ada beberap e-mail yang masuk dan belum sempat kubaca di jalan tadi. Sam duduk tepat di hadapanku. Aku tahu ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Manik wajahnya sangat mudah dibaca. "Jadi, apa sebenarnya hubunganmu dengan duda tampan kaya raya itu?'

Baru saja aku ingin menyesap tehku dan pertanyaan itu membuatku terkejut. Apa yang Sam ketahui? Aku menggigit bibirku sebelum dapat menjawabnya. "Ems," Sam masih menungguku untuk menjawabnya.

"Well, seperti yang semua orang tahu aku dan dia adalah teman semasa kami masih di Inggris," aku berusaha untuk tenang saat menjawabnya.

Tak ada kebohongan dalam kalimatku, bukan? Aku benar-benar bersekolah di sekolah yang sama dengannya selama enam tahun.

"Teman semasa sekolah mana yang diantar secara pribadi oleh supirnya pagi in?" Sam langsung mengenai sasaran dan aku harus berpikir seratus kali bagaiamana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Aku menghela napas. "Aku tak sengaja bertemu dengan supirnya dan ia berinisiatif mengantarku," kusesap buru-buru teh yang masih lumayan mengepul itu.

"Jangan mencoba untuk berbohong, Ems," kekehnya.

"Jadi, apa yang terjadi?"

"Sam!"

Dia tertawa. Dan aku masih memelototinya. "Ayolah, Ems. Kau tak dapat menyangkalnya lagi. Pertama, aku melihatmu turun dari SUV hitam milik Mr. Malfoy pagi ini. Kedua, kau masih mengenakan baju yang sama yang kau gunakan saat pesta semalam. Ketiga, wangi tubuhmu sangat tidak biasa, aku menduga menggunakan parfum atau sabun Channel yang dibuat secara terbatas yang hanya segelintir orang saja yang menggunakannya dan kau terpaksa mandi dengan sabun itu karena kau tak membawa perlengkapanmu sendiri. Dan yang terakhir, kau menghilang di tengah pesta dan tak kembali sampai pesta itu usai."

Akhirnya ia menyelesaikan semua analisisnya. Seharusnya ia bekerja sebagai detektif swasta atau analisis tren keuangan atau apa sajalah, bukannya seorang interior designer. Aku hanya sanggup mengehela napas.

"Jadi kau tidur dengannya tadi malam?"

Dengan lemas aku mengangguk. "What a news!"

Aku memelototinya. "Sam Phelps!"

Dia hanya tertawa dan berjalan meninggalkanku. Sebelum ia keluar dari kantorku ia berbalik menatapku. "What a news, Ems," kekehnya.

"Shut up!" aku berteriak sementara ia masih terkekeh dan melenggang keluar dari ruanganku dengan santai.

Kuhela napasku panjang. Dan menyesap kembali tehku. Apakah aku melakukan hal yang salah? Aku menggeleng. Tidak pernah dalam sejarah hidup ini bahwa aku menyesali apa yang kulakukan. Kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Ponselku bergetar dan melihat nomor yang tak ku kenal. "Halo."

"Jam berapa kau keluar dari kantor?"

Aku mengernyitkan dahi. "Darimana kau mendapatkan nomorku?"

Aku berani bersumpah bahwa ia pasti sedang menyeringai di seberang sana meski aku tak dapat melihatnya. "Kau menanyakan hal itu disaat aku sudah tahu berapa ukuran pakaian dalammu?"

"Damn you, Malfoy."

Dia tertawa kali ini. "Jadi, jam berapa kau keluar?"

"Lima jika tak ada yang penting kukerjakan," jawabku.

"Baiklah, aku akan menjemputmu. Sampai nanti."

Belum sempat aku menjawab dan mengiyakan permintaannya dengan seenak hatinya ia telah menutup sambungan kami. Mengapa aku harus terlibat dengan orang semacam ini? Baru satu kali aku tidur dengannya dan sudah entah ratusan kali aku menghela napas pagi ini. Namun, senyumku merekah saat mengingat semua tingkahnya padaku. Betapa segalanya telah berubah. Lima belas tahun yang lalu, saat kami masih menggunakan seragam Hogwarts, saat kami masih saling menyumpah serapahi satu sama lain, dan lihat apa yang terjadi sekarang. Bahkan senyumku kembali merekah saat menyium wangi tubuhnya yang kini juga melekat di tubuhku.

Suara teleponlah yang membuyarkan pikiranku. "Emma, rapat akan segera dimulai," ujar Mecca dari seberang sana.

"Baiklah."

Aku melenggang keluar masih dengan tersenyum. Ini gila.

000

Tepat pukul lima sore aku melihat SUV hitam tadi pagi mengantarku sudah terparkir tepat di depan kantorku. Baru saja aku mau menghampirinya, Joe sudah turun dan membukakan pintu belakang untukku.

"Selamat sore, Joe."

Ia tersenyum padaku. "Selamat sore, Miss Granger."

Dan aku mendapati Malfoy yang duduk di dalamnya dengan ponsel di tangan tanpa melihat padaku. This arrogant bastard! Aku telah duduk di sampingnya dan ia masih mengacuhkanku. Setelah beberapa saat ia baru mengeluarkan suara. "Kita ke tempat biasa," mengintruksikan pada Joe.

Tanpa menjawab apapun, Joe menjalankan mobilnya dan kami melaju di jalanan kota New York. "Mau sampai kapan kau mengacuhkanku seperti ini, Malfoy?"

Barulah ia menatapku dan melepaskan pandangan dari ponsel di tangannya. "Berceritalah, Granger. Aku akan mendengarkanmu," kekehnya.

"Bastard."

Dia hanya tertawa. Kemudian ia melepaskan sabuk pengamannya dan mencondongkan wajahnya kepadaku. Aku dapat merasakan helaan demi helaan napasnya di wajahku. Wangi tubuh kami benar-benar sama kali ini. Jantungku berdetak tak karuan. Kupejamkan mataku saat ia semakin mendekatkan wajahnya padaku. Kemudian aku merasakan helaan napasnya di telingaku. "Apa yang kau pikirkan, Hermione? Save the best for the last, huh?" ia tersenyum dan mengecup lembut pipiku. Aku tampak seperti wanita mesum yang berharap mendapat kecupan panjang di bibirku. Totally bastard.

Kami makan malam di salah satu restaurant and lounge di sekitaran SoHo. Seperti biasa, Joe selalu membukakan pintu untukku disusul dengan Malfoy yang ikut keluar di belakangku. Aku ingin membedah kepalanya dan mencari tahu apa yang ada di dalamnya. Kenapa ia bisa sediam dan setenang ini? Dan keadaan sunyi ini berlanjut di tengah makan malam kami. Kukira kami akan langsung pulang saat makan malam usai, tapi ia menggiringku ke meja bar di restoran ini. Aku hanya memesan cocktail begitupula dengannya. "Apa kau memang sesunyi ini atau memang kau berlagak sesunyi ini di hadapanku?"

Ia tersenyum. "Menurutmu bagaimana?"

Aku mengedikkan bahu. "Aku sudah lama tidak berkencan," ujarnya menyesap minumannya saat bartender baru saja menaruhnya.

Aku tersenyum sarkastik padanya. "Tidak mungkin."

Ia menyusul tertawa. "Aku serius. Aku sudah lama tak berkencan secara resmi seperti ini."

Ada perasaan bahagia di diriku saat mendengarnya. Rasanya begitu hangat. Aku langsung meminum pesananku untuk menyamarkan semburat di wajahku. "Tapi kau pasti tidur dengan seseorang, kan?"

"Tidur tak sama dengan kencan, Hermione. Hal itu semacam kebutuhan biologis," kekehnya.

Entahlah. Mungkin aku yang terbawa suasana dan emosi, tapi caranya menyebutkan namaku secara lengkap membuatku sangat senang. Setelah sekian lama aku di kota ini dengan semua orang yang memanggilku Emma atau Ems, panggilan Hermione menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.

"Jadi, apakah semua ini adalah kesengajaan atau memang murni takdir?" aku kembali menyesap coktail yang tadi kupesan. Aku akan mengingat tempat ini, rasa makanan dan minumannya benar-benar juara.

Ia menatapku dengan senyuman tipis di bibirnya. "Jika ini kesengajaan aku tak akan terkejut setengah mati saat mendapatimu di penthouse-ku waktu itu."

Aku mengingat kejadian itu. Kejadian saat ia terperangah dan tanpa berpamitan langsung pergi meninggalkanku. "Ah yaa, aku ingat hal itu."

Suara lantunan musik membuatku sangat mengantuk. Sudah lebih dari satu jam kami berada di meja bar. Ada beberapa topik yang kami bicarakan. Mulai dari kapan aku pindah ke New York, aku kuliah dimana, sampai firma tempat kubekerja. Dan aku baru sadar bahwa kami tak membicarakan dirinya sama sekali. Aku menguap untuk kesekian kalinya. "Ayo kita pulang," ujarnya.

Kulirik jam yang berada di pergelangan tanganku. Waktu masih menunjukkan pukul 9 malam dan ia sudah mengajak pulang. Aku hanya mengernyit padanya. Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang membuat aku semakin ingin mengecup bibirnya. "Kau pasti lelah," jawabnya.

Dan tanpa perlu persetujuan dariku. Ia bangkit dan menggenggam tanganku. Ia meninggalkan beberapa lembar dollar di meja itu dan mengangguk pada bartender tersebut dan menggiringku keluar. Ia masih diam sampai kami sampai di mobil. "Penthouse Miss Granger," ujarnya saat kami masuk ke dalam mobilnya pada Joe.

Aku kembali melotot padanya. "Kau..."

"Masih ingin mempertanyakannya?"

Aku menghela napas. "Penguntit," dan ia tersenyum.

Mobil melaju di jalanan New York. Alunan musik klasik memenuhi mobil ini. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya yang lagi-lagi pandangannya hanya tertuju pada ponsel di tangannya. "Apa ada yang salah dengan wajahku, Hermione?"

Aku langsung membuang muka. Dan saat itu juga ia melepaskan sabuk pengamannya dan milikku kemudian menarikku ke pangkuannya. Aku tak tahu apa yang ia tekan, tapi seketika ada sekat gelap antara kursi kami dengan Joe. Ia langsung menciumku. Ada sensasi yang beda kali ini dalam ciuman. Terkesan lapar. Aku tersenyum dan menerima segala serangan dari bibirnya. Aku sedikit memiringkan leherku agar ia dapat menjangkaunya. Tanganku sudah mengalung di lehernya. Sesekali aku mendesah saat ia mengenai titik sensitifku. Dan setiap aku melakukan hal itu ia akan tersenyum dan tetap membenamkan dirinya padaku. Dia melepaskanku saat kami tersengah-engah dan aku sadar mobil ini sudah berhenti. "Kita sampai," ujarnya dengan suara yang seperti berbisik padaku.

Aku masih tak mau bergerak dari pangkuannya. Ia menatapku kemudian tersenyum. "I want you," bisikku padanya.

Ia mengecup lembut bibirku. "Percayalah aku lebih menginginkanmu, tapi kau harus pulang dan beristirahat."

Aku mengehela napas. Dan merapikan diriku sejenak. Ia juga mengancingkan beberapa kancingnya yang lepas karena aktivitas kami tadi. Saat Joe membukakan pintu untukku, aku tak berekspektasi bahwa Draco akan turun, tapi ia turun. Ia turun dan mengantarkanku sampai tepat di lobi penthouse-ku. Aku berdiri menatapnya. "Sampai jumpa besok, Hermione."

Kemudian ia menunduk dan menciumku. Lama. Kemudian ia kembali ke mobilnya. Aku tersenyum.

000

"Jadi, kau darimana saja sampai tak pulang dan tak mengabari kami, Ems?"

Alex langsung menyerocos saat aku baru saja keluar dari lift penthouse kami.

"Aku menginap di rumah teman." Bree yang baru turun dari kamarnya mengernyit padaku. "Sam?"

Aku gugup dan tak tahu harus berkata apa? Kuhempaskan tubuhku di samping Alex dan melepasakan sepatuku. "Aku berkencan dengan Draco Malfoy."

"Dan kau tidur dengannya?" Alex bertanya.

"Tepat sekali."

Bree melotot padaku. "Shut up, Ems," ia ikut duduk bersama kami.

Kuambil jus jeruk dari tangannya dan menenggaknya hingga separuh. "Aku kira kau tak lagi menyukainya."

"Aku kira juga begitu," jawabku.

"Lalu?"

"Semua itu terjadi begitu saja," jawabku dengan tersenyum.

Alex tertawa saat melihatku. "Baru sehari dan Malfoy telah membawa pengaruh sangat besar padamu."

Aku bangkit dan membenarkan posisiku. "Kau tampak lebih hidup, Ems," sambung Bree.

"Dan itu pertanda bagus," tambah Alex lagi.

Kami tertawa. "Lalu bagaimana dengan anak magang itu?" tanyaku pada Alex.

Dan malam ini kami habiskan dengan bercerita tentang Aku dan Draco, Alex dan anak magangnya, serta Bree dengan pelukis sombong itu. Kami tertawa dan tertawa. Rasanya seperti kembali ke asrama lagi. Ah aku cinta kedua orang ini.

000

Draco Malfoy adalah makhluk paling membingungkan yang kukenal di sepanjang hidupku. Dia bisa sangat hangat dan membuatmu sama sekali tak ingin melepaskannya dan bisa langsung berubah menjadi sangat dingin dan kaku. Ia mengatakan semua sikapnya dipengaruhi laju perusahaannya. Ingin sekali aku melemparnya ke jalanan dan ditabrak oleh kendaraan bila ia mulai berulah seperti itu. Hubunganku dengannya berjalan dengan lancar sejauh ini. Aku mulai mengetahui kehidupanya. Scorpius terutama. Sekali lagi aku akan mengatakan, entah apa penyebabnya tapi aku benar-benar menyukai anak itu. Mungkin saja karena aku memang menyukai ayahnya. Atau mungkin karena aku benar-benar menyukainya.

Sampai sekarang aku belum memberitahu hubunganku dengan Draco pada Harry, Ron, dan Ginny. Aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu. Bukannya aku tak percaya padanya. Tetapi, aku tahu kami memiliki sejarah yang buruk sebelumnya. Aku juga tahu bahwa latar belakang kami berberda. Terkadang terlintas di pikiranku bahwa semua ini adalah lelucon. Bahwa Draco tak benar-benar ingin menjalin hubungan denganku. Bahwa ia hanya menginginkan hubungan yang kasual bersamaku. Tetapi, aku akan mengutuknya bila benar ia beranggapan seperti itu. Kami sudah bersama selama tiga minggu. Dan ini adalah tiga minggu terbaik dalam hidupku. Kami pergi makan malam, makan siang, aku terbangun di penthouse-nya. Dan banyak kegiatan lainnya. Ia datang ke kantorku untuk sekadar menemuiku dan kami bercinta. Dan bila ternyata hal ini tak ada artinya bagi Draco, aku bisa gila.

Hampir semua temanku di kantor mengetahui bahwa aku tengah berkencan dengan Draco. Bagaimana tidak? Joe hampir setiap pagi mengantarku dan hampir setiap sore Draco akan menjemputku dengan atau tanpa Joe. Terkadang ia juga datang ke kantorku secara tiba-tiba. Dan semua itu membuatku menjadi perbincangan hangat bagi seluruh karyawan, khususnya para designer yang satu divisi denganku. Bahkan aku mendengar ada yang membandingkan diriku dengan Astoria. Hal itu membuatku mual. Ada yang memuji ketampanan Draco dan betapa beruntungnya diriku bisa berkencan dengannya. Namun, tak sedikit pula yang menggunjingkan bahwa aku hanya menginginkan harta Draco atau ketenaran saja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Draco hanya ingin bermain-main denganku. Khusus untuk pernyataan terakhir aku tak dapat membantahnya. Toh, aku juga tak tahu apakah ia akan serius menjalaninya denganku. Hal yang kutahu sekarang adalah aku cukup bahagia.

Terlepas dari itu semua, aku tetap harus menghadapi pekerjaan yang mengharuskanku untuk terbang kemanapun tugas itu mewajibkanku berada. Kali ini, aku harus mendesign interior dari sebuah resort di Aspen, Colorado. Pekerjaan ini memaksaku untuk berada disana selama seminggu. Dan hal ini sangat mendadak. Aku telah mencoba menghubungi Draco, namun sama sekali tak bisa. Akhirnya aku meninggalkan pesan di ponselnya dan berharap ia mendengarnya.

Kesialan menimpaku selama disana. Kartu telepon ponselku mengalami masalah. Tak ada satupun yang dapat menghubungiku begitupula denganku. Daerah resort itu berada masuk di sekitar padalaman. Akses dan fasilitas masih sangat terbatas. Jadi, aku hanya dapat menghubungi Bree dan Alex serta Draco beberapa kali dengan menggunakan telepon yang berada di hotel tempat aku menginap. Pekerjaanku ternyata dapat rampung lebih cepat dari dugaanku. Sesuai dengan jadwal yang ada, aku diperkirakan akan pulang pada hari Minggu pagi dan keesokan harinya harus melapor ke kantor tentang progres yang ada, namun segalanya di luar rencana. Aku memesan tiket pesawat pada Sabtu sore dan berencana langsung kembali ke New York.

Penthouse-ku sepi. Karena hari ini adalah Sabtu aku yakin Alex dan Bree tengah berkencan atau bersenang-senang. Setelah mandi dan membenahi diri, aku teringat akan Draco. Aku merindukannya. Yaa, aku merindukannya. Kuambil mantelku dan bergegas ke penthouse-nya. Aku masih memiliki key card untuk penthouse-nya. Dan memberikan sedikit kejutan padanya terdengar seperti hal yang menyenangkan untuk Sabtu malam ini. Aku melihat Joe ada di bawah dan ia tampak seperti bingung saat melihatku namun tetap menyapaku dengan ramah. Setelah itu aku langsung naik menuju lantai dimana penthouse Draco berada. Senyumku langsung terkembang saat mendapati Draco tengah duduk di ruang tengahnya. Ia memakai tuxedo lengkap. Keningku sedikit mengernyit. Mau kemana ia?

Tatapannya jatuh kepadaku saat aku berjalan menghampirinya. "Hey," sapaku.

Ia langsung bangkit dari duduknya manik wajahnya tak dapat kutebak. Dan saat itupula seorang perempuan keluar dari kamar mandi yang berada di dekat bar stool kediaman ini. Ia tampak begitu cantik. Rambutnya yang pirang, rahangnya yang tegas, wajahnya yang sangat cantik, dan tubuhnya yang semampai membuatku sangat terpana. Ia berjalan ke arah Draco sambil merapihkan gaun maroon panjangnya. "Kita harus pergi sekarang sebelum terlambat," ujar perempuan itu.

"Pergi?" tanyaku dengan menaikan sebelah alisku.

"Hermione," ucapnya.

Aku seakan mendapat serangan jantung. Perempuan itu telah mengapit lengan Draco dan aku tak melihat ada sedikitpun penolakan darinya. "Oh hey. Kau ada tamu, Drake?"

Damn it! Apakah semua perempuan pirang di lingkungannya akan memanggilnya Drake? Pertama Katy sekarang wanita ini. Aku dengan cepat menggeleng. "Oh aku bukan tamu. Firmaku sempat berurusan dengan Mr. Malfoy, tapi aku rasa semua urusan sudah selesai."

Wanita itu hanya mengangguk. Dan aku menunggu reaksi Draco. Ia sama sekali tak bereaksi apapun. Hanya mematung di tempatnya dengan seorang perempuan yang mengapit lengannya dengan manja. "Kita bisa pergi sekarang, Drake," ucap perempuan itu lagi.

"Ah yaa, kau memang harus pergi sekarang Mr. Malfoy. Kalau begitu aku pergi dulu," dan sebelum ia menjawabnya aku langsung berbalik dan setengah berlari menuju lift.

Damn you, Malfoy!

000

to be continued

Thanks for read, favorites, and alerts. You rock guys. I'll try to reply all the PM, but if I'm still missing something I'm so sorry (again). And (again) keep read and review guys. LOVE U!