..
..
..
..
[Chapter 8] – It's Begin
Disinilah Kyungsoo dibelakang ban setir sebuah mobil bak terbuka dengan pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya. Berkali-kali helaan nafas terdengar meluncur begitu saja dari mulutnya saat mobilnya sudah memasuki kawasan Irish Village.
Mobil yang dikendarainya berhenti disamping sebuah kastil yang terlihat seram dan gelap. Ia memakai jaket tebalnya dan juga masker dan topi sebagai penyamaran. Setelah pria yang tak dikenalnya kemarin mengatakan dimana letak keberadaan Zitao, ia memutuskan akan menyelamatkan pria panda itu dengan tangannya sendiri. Dengan mengorbankan nyawanya sendiri tentu saja.
Kyungsoo berjalan mengendap diantara semak belukar. Ia memincing saat menemukan sebuah pintu kayu reot dengan dua buah obor yang ada disampingnya. Pintu belakang, Kyungsoo hampir saja bersorak kalau saja ia tak ingat dimana ia sedang berada sekarang. Kyungsoo mengambil sebilah pisau dan ia juga mengambil selimut tebal yang ia sembunyikan dibagasi belakang. Ia bahkan masih ingat bagaimana pria itu berkata padanya.
"Jangan lewat pintu belakang, pintu samping lebih aman dan jika kau ingin menyelamatkan adik polos Baekhyun dengan bersih, kau harus membawa selimut dan bubuk peri"
Ia juga meraih sebuah kantung kain dengan ikatan dari sulur yang berisi bubuk peri yang diberi ibu Kai tadi siang. Kyungsoo memulai pekerjaannya, ia mengambil sebuah obor dan berjalan mengendap, sesekali ia menahan nafasnya saat ia melewati persimpangan jalan. Ibu Kai sudah memberi sedikit bubuk peri ketubuh Kyungsoo dan sisanya Kyungsoo bawa untuk Zitao.
Ia sesungguhnya tak tahu benar apa kegunaan bubuk peri ini, tapi yang pasti ia yakin bubuk peri bisa mengaburkan sedikit penciuman supertajam Vampir. Kyungsoo dengan cepat meniup obornya saat ia melihat sebuah bayangan seseorang yang berjalan dari arah timur. Ia bersyukur karena kakinya dan bubuk perinya. Ia tahu kalau dalam jaraknya tadi yang bisa dibilang tak sampai lima meter, aroma tubuhnya bisa tercium. Kyungsoo merapatkan tubuhnya ditembok dan menahan nafas saat sosok pria tegap dengan rambut hitam lewat disampingnya.
Saat siluet tubuh pria itu tak terlihat matanya, Kyungsoo menghela nafas dan berjalan ketimur. Ia menemukan sebuah pintu kayu reot dengan kunci besi besar yang menggantung dilubang kunci. Ia bersyukur lagi, entah sudah berapa kali ia bersyukur malam ini. Ia memutar kunci besi itu dan mendorong pintunya, ia membelalak melihat bagaimana Zitao terlihat; lemas, dan ia telihat seperti tak bernyawa. Kyungsoo berlari kecil dan berusaha melepaskan ikatan rantai perak dipergelangan tangan dan kaki Zitao.
Ia meringis saat melihat bekas kemerahan dipergelangan Zitao dan seolah ia ikut merasakan bagaimana sakit dan sengsaranya Zitao. Ketika rantai perak itu sudah terlepas seluruhnya, tubuh Zitao limbung dan jatuh didadanya, Kyungsoo mendesis dan langsung mengeluarkan selimut yang sendari tadi ia sembunyikan didalam jaketnya. Ia membalut tubuh Zitao dan membawanya bak karung beras. Dengan hati-hati, Kyungsoo menjatuhkan Zitao dibak belakang dan menyalakan mobilnya.
..
..
Kyungsoo masih merasakan detakan jantungnya yang melebihi batas saat ia masih diteritorial Irish Village, ini yang pertama untuknya, dan detakan jantung yang mengganggunya tak pernah mereda sedikitpun.
Kyungsoo harus mengingat-ingat betul mana jalan ia ambil saat ia berangkat, karena faktanya ia tak cukup mengenal daerah Irish. Ia tinggal di Goose Village yang letaknya jauh dari Irish. Kyungsoo sampai diperempatan terakhir dan mengambil kanan, kemudian ia bertemu dengan jalan raya yang dipenuhi dengan lampu jalan yang terang. Setidaknya ia tak merasa sendiri.
XXXXXX
Keesokan paginya, ia terbangun dengan semua sendinya yang kaku dan nyeri. Ia menerka-nerka, apakah ini karena berat badan Zitao yang tak sebanding dengannya. Tapi sebelum ia sempat melakukan peregangan, ketukan pintu menyergapnya. Kyungsoo membuka selimutnya dan membuka pintu kamarnya. Ia merengut melihat Sehun dengan nampan yang terisi sarapan pagi.
"Apa yang kau lakukan?"tanyanya. Sehun mengendikkan bahunya, "Hyung, aku pikir kau butuh pelayanan seperti –yah mengantarkan sarapanmu ke atas, karena aku tahu Zitao tak seringan bantal tidurmu"katanya; dengan alis bertautan dan mengangguk-angguk. Kyungsoo menghela nafas panjang dan menyuruh Sehun masuk kedalam.
Sehun menaruh nampan diatas meja nakasnya, sedangkan Kyungsoo berjalan ke kemar mandi untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Sehun menunggu sambil duduk diatas ranjang Kyungsoo dan menatap sekeliling. Kamar ini memang tak pernah berubah setelah terakhir ia berkunjung.
Tiba-tiba, ingatan tentang Jongin mampir ke kepalanya. Ia tahu kalau ia bahkan tak pernah mengunjungi Jongin sekarang. Meskipun ia ingin, ia tak tahu dimana rumah Jongin.
..
..
Setelah melewati beberapa kegiatan pagi dengan adiknya, Kyungsoo bergegas menyalakan mobilnya dan mengendarainya ke arah rumah Baekhyun. Ia bahkan meninggalkan Zitao setelah menyerahkannya pada Baekhyun. Ia menyesal.
Lagu klasik berputar sedang dari alat pemutar musik mobilnya. Ini bukan mobil mewah, akan tetapi, alat pemutar musiknya masih berfungsi dengan baik. Sampai ditikungan terakhir, Kyungsoo mematikan pemutar musiknya dan memakirkan mobilnya dihalaman rumah Baekhyun.
Setelah mengunci pintu mobilnya, Kyungsoo bisa melihat Tiffany yang sedang meletakkan bunga mawar didalam vas besar yang ada diveranda. Dan itu terlihat cantik dimata Kyungsoo.
"Hai Tiffany, apakah Zitao ada? Aku ingin berbicara dengannya?"tanya Kyungsoo dengan senyuman yang terpatri diwajahnya. Gadis berambut kemerahan itu tersenyum balik, "Dia didalam, dia baru saja menyelesaikan berbagai rangkaian pengobatan"jawabnya. Kyungsoo mengangguk, "Terimakasih" dan ia berjalan masuk kedalam.
Suasana nyaman langsung menyapanya, kala ia masuk diruang tengah, ia menduga-duga apakah Tiffany mengganti sofanya. Karena sebelum ini ia melihat kalau sofanya berwarna marun.
Kyungsoo berjalan melewati anak tangga dengan pelan. Ia sedang menyiapkan hatinya, dan menduga-duga bagaimana sikap Zitao padanya. Kyungsoo berhenti didepan sebuah pintu dan mengetuknya, "Aku Kyungsoo"ucapnya pelan, kemudian ia memutar kenopnya dan masuk kedalam. Aura kesedihan begitu kental hingga Kyungsoo menutup kembali pintunya.
"Zitao kau baik?"tanya Kyungsoo saat ia sudah sampai ditepi ranjang Zitao. Zitao mengulum senyum dan menatap Baekhyun sekilas. "Ya, terimakasih sudah menyelamatkan aku"katanya dengan tulus dan pelan. Kyungsoo menggeleng, "Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih padamu"
XXXXXX
Chanyeol masih berdiri dibalkon rumahnya malam itu, ia menatap dalam ke halaman belakangnya yang luas. Ketukan pintu mengusiknya, akan tetapi alih-alih membukanya, ia lebih memilih tetap berdiam ditempatnya. Seorang wanita dengan rambut coklat panjang bergelombang masuk ke dalam kamarnya, wanita itu memakai pakaian serba hitam. "Chanyeol"ucapnya pelan, dan saat bersamaan pula Chanyeol menutup matanya dan setetes air mata mengalir.
"Chanyeol, dengarkan aku?! Aku kakakmu!"teriak wanita itu geram. Ia tak kuat melihat bagaimana Chanyeol yang terlihat seperti orang yang kurang waras. Chanyeol membalikkan badannya, dan memeluk kakaknya. "Aku mencintainya Noona, apa yang harus kulakukan?"tanyanya diantara isakannya. [Park Sandara] kakaknya mengelus punggungnya. "Hanya coba lindungi dia dan jangan biarkan Chen mengambilnya darimu Channie. Kau harus bisa bertahan"kata Sandara dengan suara pelan, namun sebenarnya ia harus menahan air matanya yang sudah berkumpul dipelupuk matanya.
XXXXXXX
27 April 1990
Masih dikastil Chen. Ia menggeram marah saat menemukan ruangan Zitao kosong tanpa penghuni dan ia sudah bisa menerka siapa yang bisa melepaskan Zitao dengan mudah tanpa terprediksi atau bahkan tercium.
Chen berjalan menaiki anak tangga dengan cepat dan menemukan Minseok sedang bersandar dipojok kamarnya. Wajahnya terlihat tak baik; matanya berkantung dan juga lesu. "Miseokkie! Apa yang kau lakukan dengan Huang Zitao!"teriak Chen dengan emosi diubun-ubun. Mukanya telah semerah api dan matanya menatap tajam Minseok yang terbaring lesu.
Dengan usaha ekstra Minseok harus membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya diranjang. Mulutnya terasa benar-benar pahit dan matanya pedas. "Chen"lirihnya. Chen berjalan dengan cepat hingga langkah kakinya terdengar begitu menyeramkan, ia mencengkram rahang Minseok dan menatapnya penuh emosi. "Apa yang sebenarnya kau lakukan hah! Kau melepaskannya bukan?! Kau melepaskan Zitao?!"teriak Chen dengan amarahnya.
Setetes air mata mengalir dari ujung mata Minseok hingga membentuk sebuah aliran sungai dipipinya. Isakan lirihnya mulai terdengar dan terdengar. "Aku tak melakukan apapun"ucapnya lirih dengan mata yang tertutup. Menahan sakit akibat cengkraman Chen.
Chen menjambak rambutnya sendiri, mukanya kini sudah benar-benar merah. Dan ia sedang berusaha menyadari semuanya yang terjadi yang begitu terlihat abu-abu. Ia hanya butuh seseorang yang bisa membawanya dan melewati semua kabut abu-abu itu dan berjalan dialur yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Kim Jongdae"
XXXXXXX
Malam itu, dengan memakai gaun yang jatuh hingga ketumit berwarna merah darah, sepatu bertumit tinggi dengan rambut panjangnya yang terurai. Krystal berdiri dibelakang jendelanya dengan seekor kucing berbulu hitam ditangannya. Ia mengelusnya. "Aku berjanji akan menghancurkan Do Kyungsoo. Hanya untukmu Taeminnie"ucapnya pelan.
Matanya kini berubah merah dengan taringnya yang mulai nampak dan dengan sekali gerakan ia sudah mengahabisi kucingnya. Ia tak suka mengisap darah manusia, ia lebih menyukai hewan. Dan ia juga tak akan membuka segel Taemin sampai waktu yang ditentukan, setidaknya sampai Do Kyungsoo sengsara.
Seseorang mendorong pintu kayu kamarnya dan berdiri diambang pintu. Wajahnya tak jelas karena lampu kamarnya yang remang-remang. Krystal mengangkat sudut bibirnya. "Apa yang kau lakukan disini? Minho?"tanyanya sambil membuang bangkai kucingnya yang sudah mati.
Minho menutup pintu kayu itu dan berjalan kearahnya. Rambut legamnya bergerak terkena angin yang berhembus kuat dari jendela besar. Ia berhenti dengan jarah satu meter didepan Krystal. "Apa yang akan kau lakukan dengan Kyungsoo?"tanyanya lirih. Krystal terkekeh dan mendesis. "Sadarlah Choi Minho. Apa matamu buta! Apa kau tak melihat Taemin yang begitu mencintaimu?!"teriaknya.
Minho menundukkan kepalanya, ia mendesis dan menghela nafas berat. "Aku…"katanya.
"…. Tidak tahu"
XXXXXXX
Minggu pagi diminggu terakhir bulan April. Kyungsoo mengajak anjing mungil hitamnya berkeliling desa dengan memasang tali leher bewarna putih. Kini, ia tengah duduk disebuah kursi kayu dan memangku anjingnya. Tangannya mengelus kepala anjingnya sesekali tersenyum saat anjingnya melakukan tingkah yang menggemaskan.
"Apa yang lucu? Do Kyungsoo"tanya seorang pria jangkung yang berdiri didepannya. Kyungsoo menatapnya lalu tersenyum dan menggaruk bulu anjingnya.
Ia mengulum senyumnya lagi. "Ia menggemaskan"kata Chanyeol lalu duduk disamping Kyungsoo. Kyungsoo menatapnya, "Ia memang anjing yang menggemaskan"timpalnya.
Chanyeol tersenyum kearahnya dan memegang pipi kirinya, "Tapi kau lebih menggemaskan, siapa namanya?"tanyanya sambil melepaskan tangannya. Kyungsoo tersenyum canggung dan menggaruk leher belakangnya, "Dia, namanya CK"jawab Kyungsoo.
"Apa yang kau lakukan disini? Maksudku, apa yang kau lakukan disini sendirian? Tanpa seseorang yang menemanimu"tanyanya. Kyungsoo menatap anjingnya, "Aku hanya ingin bersama CK"jawabnya. Chanyeol memegang tanganya dan meremasnya pelan. "Aku mohon, jangan keluar sendirian lagi Kyungsoo. Kau bisa meminta Baekhyun atau Luhan menemanimu. Karena aku…"katanya terhenti saat mata Kyungsoo menatapnya.
" –… tak selalu bisa disampingmu."lanjutnya dihati. Mata bening Kyungsoo menatapnya dengan sejuta tanda tanya dan sebuah rasa takut yang mulai menggerogotinya. "Apa yang harus aku lakukan?"tanyanya lirih.
Chanyeol pikir ia akan menangis sebentar lagi, saat ia melihat mata Kyungsoo mulai memerah dan berair. Tidak. "Kau hanya harus berhati-hati, aku akan selalu ada disini dan disisimu. Dimanapun kau berada"jawab Chanyeol tak kalah lirih sambil menujuk dada kiri Kyungsoo.
Sebuah pernyataan yang bisa menjelaskan tentang perasaan masing-masing. Karena cinta tak perlu dikatakan.
XXXXXXXX
To be continue…
Ya saya tau ini bener-bener pendek dan maaf banget okeehhh…
Saya udah ngaret updatenya.
Thanks buat reader yang semangatin saya buat tetep nglanjutin nih epep. Dan ada side epep yang ukenya masih Kyungsoo. Dan semenya duo visual, pacar saya dan bangKAI.
Maaf kalo saya gak sempet jawab semua reviewnya, tapi saya selalu baca kok semua review yang datang.
Makasih buat yang udah review follow favorite di chappie sebelumnya.
And last,
Mind To review?
Channie10
