A/N: It takes too long to update and so many typo? I just can say I'm sorry. I'm reckless yeah hehe. So enjoy it!:)

I own nothing, unless the LeClaire and Joe Karpov

Chapter5: Holiday and Age

(Draco)

Manhattan, New York

"Cari semua informasi mengenainya. Lacak semua penerbangan dan aktivitas dari tongkat sihirnya."

Joe tampak mengangguk. "Baik," ujarnya padaku.

"Ada lagi yang dapat saya lakukan, Sir?"

"Kau bisa pergi sekarang," jawabku.

Baru saja ia ingin berbalik dari hadapanku, aku kembali memanggilnya. "Joe."

"Yaa, Sir."

"Kau tahu aku tak suka menunggu."

Ia kembali mengangguk. "Baik, Sir."

Tanpa banyak bicara lagi, Joe menghilang dari hadapanku. Kutuangkan kembali scotch ke dalam gelas yang sedari tadi berada di meja kerjaku. Kucoba untuk kembali fokus pada semua pekerjaan ini, tapi hasil yang kudapatkan hanya nihil belaka. Pikiranku terus menerus memikirkan wanita itu. Inilah yang membuatku bingung akan wanita. Otak mereka lebih sulit untuk dibaca dibanding dengan tren pasar saham negara ini. Semakin besar aku mencoba untuk mengenyahkan wajahnya dari pikiranku semakin ia merasuki sampai ke inti sel terdalamnya. Bahkan aku tak tahu keberadaan ia sekarang. Semua nomor teleponnya tak dapat di hubungi. Baru semalam ia bertemu denganku, keesokan harinnya ia telah menghilang. Dan sudah empat hari aku tak mendapatkan satupun kabar darinya. Hanya ada berita dari kantornya yang mengatakan bahwa ia mengambil cuti secara mendadak. Dan saat Joe mendatangi kediamannya, seoarang penjaga mengatakan bahwa mereka pergi dan tak memberitahukan tujuannya. Joe mencoba untuk masuk ke penthouse-nya, tapi mantra pelindungnya terlalu kuat. Aku tak tahu apa yang ia takutkan dengan memasang mantra perlindungan seketat itu. Kutuangkan kembali scotch tadi dan kembali lagi dengan semua pekerjaan ini.

000

Ursula sudah tampak sibuk di dapur pagi ini. Aku sudah duduk di meja makan dengan kopi yang mengepul di hadapanku. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi dan aku sudah siap untuk terbang ke Atlanta guna menghadiri rapat dengan branch company yang rutin di lakukan. Katy sudah beberapa kali menghubungiku pagi ini untuk memberitahukan jadwal hari ini dan kapan jet pribadiku siap digunakan. Bersyukur tak ada perbedaan waktu antara New York dengan Atlanta. Aku benci perbedaan waktu dan jetlag yang selalu melengkapinya.

"Apakah kau ingin menambah jus labu lagi, Mr. Malfoy?"

"Tidak perlu."

Ursula mengangguk dan kembali ke dapur meninggalkanku. Ursula adalah wanita penyihir paruh baya yang telah menjadi pelayan keluarga Malfoy sejak aku masih memakai popok dan sepertinya ia akan tetap menjadi pelayan keluargaku sampai maut menjemputnya. Scorpius sangat menyukai semua masakannya. Meskipun sekarang ada banyak pelayan lain yang membantunya, tapi untuk masalah makasan untuk Scorpius tetap berada di bawah kendalinya.

"Mr. Malfoy."

Kini Joe yang berada di hadapanku. Joseph Karpov adalah seorang penyihir berdarah Rusia yang telah bekerja denganku hampir sembilan tahun belakangan ini. Astoria sempat mengatakan bahwa Joe seperti istri kedua bagiku. Ia lebih tahu diriku akan segalanya dibanding dengan orang tuaku bahkan Astoria sendiri.

"Pesawat Anda sudah siap, kita bisa berangkat sekarang," ujarnya.

"Baiklah," aku bangkit dan berjalan menuju kamar untuk mengambil jas dan beberapa barang. "Kau sudah sarapan?" tanyaku pada Joe saat kembali ke ruang tadi.

"Sudah, Sir."

"Kau bisa meminta Ursula atau pelayan lain untuk membuatkanmu makanan jika kau mau."

Ia mengangguk. "Terima kasih, ."

"Mr. Malfoy."

Langkahku terhenti dan berbalik untuk menghadapnya. "Ada penerbangan menuju Palm Spring atas nama Miss Granger dan dua orang temannnya, Alexandro dan Bridget LeClaire."

"Kau tahu mereka akan kemana?"

"Aku mendapat semua salinan daftar tamu seluruh hotel disana dan ada reservasi atas nama Alex LeClaire di salah satu resort di Coachella Valey, Indio.

Aku tersenyum saat mendengarnya. "Periksa jadwalku untuk besok dan siapkan kembali jet untuk terbang kesana."

Kembali ia mengguk padaku. Kemudian aku berjalan mendahuluinya. Sampai bertemu Granger.

000

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore saat pesawat ini kembali mendarat di New York. Cuaca tampak tak terlalu bersahabat. Rintik hujan membasahi sepanjang runway airport ini. Dan aku dikejutkan dengan Scorpius yang melambai padaku dari sedan hitam yang baru saja menghampiriku.

"Hey," sapaku saat melihat ia menjulurkan kepalanya dari balik jendela di kursi belakang mobil ini.

"Ayah," sapanya padaku dan langsung membuka pintu kemudian menghambur keluar.

Ia menengadah kepadaku dan senyumku terpulas untuk kemudian menunduk dan menggendongnya. "Bukankah kau ada jadwal les piano sore ini?"

"Ia meminta libur sore ini dan memintaku untuk menemaninya untuk bertemu denganmu."

Astoria keluar dari mobil itu dan bergabung bersama kami. "Hey," sapaku.

"Kita harus kembali ke dalam mobil sebelum kalian terserang flu nanti," Astoria berujar dengan senyum khas miliknya. Senyum khas yang membuatku jatuh cinta berulang kali padanya.

Kami berakhir di kediaman Astoria. Scorpius bersikeras mengajakku untuk makan malam bersama. Terkadang aku berpikir apakah aku dulu secerdas dan sekeras kepala seperti dirinya dulu. Melihatnya terus tumbuh dan bekembang dengan segudang pertanyaan yang terkadang aku dan ibunya tak dapat menjawab. Scorpius adalah sosok yang membuatku takjub akan setiap tingkahnya. Saat langkah pertamanya. Saat kata pertama yang ia ucapkan. Seperti sekarang, saat ia sedang sangat takzim menghabiskan makan malamnya. Aku ingat saat ia berumur tiga tahun Astoria pernah mengatakan bahwa ia tak boleh menyia-nyiakan makanan, oleh karena itu ia harus menghabiskan setiap makanan yang diberikan padanya. Astoria menjelaskan bahwa ada jutaan orang kelaparan diluar sana. Sampai sekarang, Scorp tak pernah menyisakan makanan di piringnya dan selalu tenang berada di meja makan. Astoria pernah menyatakan kecemasannya akan perilaku putra kami. Apakah normal bila ia bertingkah seperti ini? Aku menjawab padanya bahwa sesungguhnya Scorp memang tidak dilahirkan sebagai anak normal karena dia sempurna dan istimewa.

"Apa aku boleh makan makanan penutupku sekarang?" Scorp mengutarakan keinginannya pada Astoria yang juga baru saja menyelesaikan makan malamnya.

Ibunya tersenyum. "Cheescake atau es krim?"

Terjadi perubahan manik wajah padanya. Scorp tampak berpikir. Hal sesederhana ini dapat membuatku melupakan semua permasalahanku. "Diluar sedang hujan dan aku tak mau menghabiskan malam dengan hidung tersumbat, jadi cheescake saja," ia memberi penjelasan pada ibunya.

"Baiklah," Astoria bangkit dari tempatnya. "Kau mau juga?" ia berhenti sejenak untuk menanyakannku.

Aku menggeleng. "Makan malam ini sudah cukup."

Ia kembali tersenyum dan berjalan menuju dapur lemari pendingin. Ia kembali lagi dengan sepotong kue kegemaran Scorp di tangannya. "Jadi, apakah kita pergi lagi makan es krim di Magnolia?" Scorpius bertanya padaku.

Aku menatapnya dengan mengubah posisi dudukku. "Ada kepentingan mendadak besok. Ayah harus terbang ke Palm Springs besok."

Ia tak menjawab. Hanya mengangguk seperti sedang memikirkan sesuatu. Kerutan kecil tampak seketika menghiasi keningnya. Aku sadar bahwa ia kecewa dengan berita ini. "Jadi, apakah kau mau menemani Ayah kesana besok?"

Mataku mencari persetujuan pada Astoria. Scorp mengikuti tatapanku dan menatap ibunya seperti ikut meminta izin. "Sure," ujarnya.

"Berapa lama kau akan disana?"

"Minggu sore kami akan kembali."

Manik wajah Scorp berubah menjadi bercahaya. Aku tahu bahwa ia menyukai jalan-jalan. Bahkan ketika ia masih berumur satu tahun. Ia akan sangat bahagia meskipun hanya dibawa berbelanja makanan oleh Astoria. "Selamat bersenang-senang, sweetheart," ucap Astoria yang tersenyum pada Scorp. Ia membalasnya dengan tertawa bahagia. Setelah makan malam selesai, waktu menujukan pukul sembilan malam dan sudah saatnya Scorp untuk berada di ranjangnya. Setelah Astoria mengganti baju yang ia gunakan dengan piyama, aku menemaninya sebelum ia tertidur.

"Ayah."

Aku menatapnya dan ia melanjutkan kalimatnya. "Apakah aku boleh berhenti les piano?"

"Kau tak menyukainya?"

Ia menggeleng. "Bukan seperti itu," ia seperti mencari kata di kepalanya. Aku melihat keningnya mengerut-ngerut kembali dan aku kembali tersenyum.

"Aku hanya sedikit bosan," jawabnya melanjutkan kembali.

Aku mengangguk-angguk padanya. "Lalu kau ingin melakukan apa untuk mengganti jadwal les piano itu?"

"Memanah atau berkuda."

Aku sedkit terkejut dibuatnya. Pasti ia melihat sesuatu hal yang membuatnya memikirkan hal ini. "Kau masih lima tahun, Scorp," jawabku.

"Dan lebih muda lebih baik," jawabnya.

Saat ini aku kehilangan semua kata-kata. "Kita dapat diskusikan ini dengan ibu nanti. Sekarang waktunya kau tidur."

Ia menggangguk kemudian aku mencium puncak kepalanya. "Aku harap kau membelaku di depan ibu nanti."

"Akan kupertimbangkan. Sebaiknya kau sekarang tidur, Joe akan menjemputmu besok. Selamat malam, Scorp."

"Selamat malam, Yah."

Saat aku hendak keluar dari kamarnya, Astoria tengah berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang sedikit menyandar dan tangannya yang bersedekap. "Percakapan pengantar tidur yang menarik sekali," ujarnya.

Aku sedikit mengedikkan bahu. "Chardonay?" ia menawarkanku.

Aku mengangguk dan mengikutinya. "Jadi, bagaimana kau dan Scorp bisa berada di airport tepat saat pesawatku mendarat?" tanyaku padanya saat kami telah duduk di ruang tengah rumah ini.

Untuk kesekian kalinya ia tersenyum. Sesaat kemudian ia menyelipkan anak rambutnya ke telinga. "Joe dan Katy."

Aku tahu Astoria pasti mengandalkan mereka. Saat kami masih bersama, Astoria pernah mengatakan bahwa ia lebih sering berbicara dengan Joe dan Katy dibanding dengan diriku.

Ia kembali menyesap minumannya. "Scorp benar-benar menunjukkan gelagat bahwa ia tak mau lagi berada di kelas piano itu."

"Apakah kau tahu alasannya?"

Ia mengedikkan bahu. "Entahlah, tapi bila ia ingin mengganti kelasnya dengan memanah atau berkuda kau tahu aku tak akan menyetujuinya."

"Dia anak laki-laki, As."

"Dan dia lima tahun, Draco."

Kami kembali diam. Alunan nada yang keluar dari pemutar musik dan angin bulan April yang berhembus dari teras ruangan ini seakan membuatku terhanyut. Kualihkan padanganku pada jam tangan dan menyadari mengapa tubuhku tak dapat lagi diajak untuk berkompromi. "Aku harus pergi sekarang," ujarku.

Ia mengantarku sampai di ambang pintu rumahnya dan Joe sudah berada disana. "Apa pesawat sudah siap untuk besok?" tanyaku padanya.

"Sudah. Tapi kau harus menghadiri rapat direksi pukul 8 pagi dilanjutkan bermain golf terlebih dahulu," jawabnya

Aku mengagguk. Rapat direksi pukul 8 pagi di akhir pekan? Tak ada yang lebih menyenangkan lagi dibanding dengan hidupuku. "Katakan pada Katy untuk membatalkan jadwal bermain golf," perintahku. "Dan tunggu aku di mobil," tambahku lagi padanya yang disambut dengan anggukan.

Astoria menatapku. "Palm Spring, huh?"

Aku mengangguk. "What a busy business man," kekehnya.

Aku ikut tersenyum bersamanya. "Ada beberapa masalah yang harus diselesaikan," jawabku. Masalah yang aku tak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Hermione Granger terlalu sulit untuk diselesaikan.

Kali ini ia yang mengangguk. "Selamat malam, As."

"Selamat malam, Draco," ia memeluk sejenak dan kembali tersenyum.

Tiga tahun berpisah dan perasaan canggung selalu ada di antara kami.

000

(Hermione)

Coachella Valley, California

Udara pedesaan, suara gemericik air dari sungai yang mengalir, serta kicauan burung-burung yang menghinggapi dahan pepohonan menjadi semacam terapi tersendiri bagiku. Satu jam lebih aku menikmati pagi ini. Just me, myself and I dan secangkir teh. Suasana yang tak akan kudapat di New York. Prahara cinta antara diriku dengan Draco membuat ide gila Alex datang secara tiba-tiba. Tepat saat aku kembali dari penthouse Draco, Alex dan Bree sudah menampakkan batang hidungnya di ruang tengah kami. Tatapan mereka langsung jatuh padaku dan menyadari betul bahwa ada sesuatu yang terjadi dan aku mulai menceritakan semuanya. Dan seperti yang kukatakan tadi, tetiba saja ide untuk melarikan diri dari sini muncul di otak Alex. Ia mengajak aku dan Bree untuk kesini. Ia mengatakan sudah sangat lama sekali kami tak menghabiskan waktu bersama untuk berlibur. Dan aku menangkap hal ini sebagai cara Alex untuk membuatku sesaat dapat melupakan the crazy bastard itu. Aku langsung menyetujuinya. Dan tanpa tedeng aling-aling lagi melapor ke kantor dan memohon untuk menggunakan jatah cutiku. Masalah berawal terjadi pada Bree yang tak dapat mengajukan izin cutinya, tapi masalah itu terselesaikan pada pagi harinya saat ia memantrai pihak HRD galeri tempat ia mencari nafkah. Kami masih seorang penyihir, bukan? Hal yang menakjubkan adalah Bree mengajak serta Olivier. Pelukis yang bekerja sama dengan galerinya dan berkahir menjadi 'teman dekatnya'. Aku mensyukuri pilihan Alex jatuh pada tempat ini. Kerandoman dalam hidupnya yang membuatku terperangah. Aku mengira kami akan bermain ski di Aspen seperti biasa atau menghabiskan liburan di Hampton, tapi lagi-lagi kukatakan kerandoman otak Alex membawa kami disini. Coachella Valley adalah tempat yang dulu sering kami datangi tiap tahunnya selama menjadi mahasiswa. Kami akan mengumpulkan uang setahun penuh untuk biaya penginapan dan tiket kemudian ber-Apparate kesini. Bukan rahasia lagi bila kami adalah pecinta musik dan acara ini benar-benar seperti habitat kami berada.

"Kau bisa flu, Ems. Ini masih pukul setengah tujuh pagi," suara parau Alex membuyarkan pikiranku.

Aku menengadah dan ia tepat berdiri di belakangku. Aku bangkit dan menatapnya. "Kau harus mencobanya," ujarku.

Ia menggeleng. "Duduk di beranda dengan bertiup sedingin ini? Terima kasih."

Setelah membersihkan dirinya, Alex bergabung denganku di ruang tengah penthouse hotel ini. Dan kegilaan Alex jugalah yang menyewa penthouse hotel ini dan menghabiskan hampir separuh gajinya selama setahun. Aroma kopi merebak saat ia duduk bersamaku di sofa. "Rasanya sudah lama sekali kita tidak kesini," ucapku.

"Dan aku mulai menyesalinya sekarang," jawab Alex sesaat setelah menyesap kopinya.

Aku memandang bingung padanya. "Apakah kita terlalu tua untuk acara musik seperti ini?" ia bertanya balik padaku dari balik kacamatanya.

Aku terkekeh. "Sejak kapan Alexandro LeClaire mempermasalahkan umur, huh?"

` "Shut up, Ems."

"Kau yang memilki ide ini, Lex. Nikmati!" kekehku. "Lagipula kita sudah lama sekali tak kesini, terakhir kali adalah saat kita berada di tahun akhir saat di NYU dulu."

"Dan saat itu kita masih berumur 22 tahun. Itu sekitar sepuluh tahun yang lalu, Emma."

"Tak akan ada yang menyangka bahwa kau berumur 31 tahun, Lex."

Dia hanya terlekeh. Secangkir teh dan obrolan bodoh dengan Alex menjadi pembuka hari yang baik bagiku.

000

Coachella Valley tampak ramai dilalu lalangi penonton konser. Udara yang cerah dengan semilir angin yang bertiup membuat semuanya menjadi sempura. Setelah sarapan tadi aku dan Alex berjalan-jalan sebentar dan kembali saat makan siang untuk bertemu dengan Bree dan Olivier. Walaupun tak seenak food truck di Manhattan, tapi kami tetap memilih untuk memesan taco dan memakannya di bawah pohon. Bree sempat menghilang bersama Olivier yang menyisakan Alex dan aku. Sambil menunggu pertunjukkan dari Ida Maria, aku mengeluarkan buku dari saku celana pendekku yang telah kuperbesar dengan mantra dan membacanya sedangkan Alex telah menyumbat telinganya dengan earphone dari iPod dan memejamkan matanya. Dengan hanya bermodal hamparan rumput dan semilir angin ia terlelap tidur.

Sekitaran panggung telah dipadati penonton. Beruntungnya kami mendapatkan tempat yang strategis untuk menonton. Pertunjukkan musik yang tersebar di empat lokasi panggung yang berbeda membuat pengunjung memiliki banyak pilihan untuk menikmati musik. Pertujukkan dari Ida Maria berakhir sekitar pukul setengah tiga sore. Dan aku merasa terlalu lelah bila harus berada disini.

"Sepertinya aku akan kembali ke hotel. Mandi dan sedikit tidur."

"Kau baik-baik saja, Ems?" tanya Bree yang aku tahu mencemaskan kejiwaanku.

Aku terkekeh padanya. "Tentu aku baik-baik saja. Aku hanya ingin meluruskan kaki."

Bree mengangguk-angguk dengan Olivier yang tak pernah lepas dari rangkulannya. "Sekitar petang aku akan kembali kesini. Tak ada yang mau melewatkan penampilan James Morrison, bukan?"

"Dan The Killers tentunya," sambar Alex.

Kami tertawa. "Aku juga akan kembali ke kamar dan merebahkan badan saja sepertinya," tambah Alex.

"Lalu kita akan kemana?" tanya Bree pada kekasihnya.

Olivier hanya mengedikkan bahu dan tersenyum. "Terserah padamu," jawabnya dengan aksen Perancis yang sangat kental.

Kami bertiga kembali tertawa sedangkan Olivier hanya memandang bingung. Hal ini seperti lelucon lama kami. Saat berada di kuliah dulu, Alex yakin sejauh apapun Bree pergi dari daratan tanah kelahirannya, sebanyak apapun pria yang ia kencani, ia pasti akan berakhir dengan pria Perancis seperti titah dari orang tua mereka. Dan aku yakin sekarang kami berada di frekuensi yang sama. Kami tertawa lagi setelah bertukar pandang kembali.

000

Penampilan dari James Morrison menjadi semacam energy recharge bagiku. Entah sejak kapan aku mulai menyukai penyanyi ini. Penampilannya dimulai sekitar petang dari kini matahari benar-benar telah menghilang dari pandangan. Berdiri selama hampir 45 menit membuat kakiku lumayan pegal. Padahal aku terbiasa mengunakan sepatu berhak tinggi dan berlari kesana kemari apalagi saat mengejar subway di pagi hari atau berebuta taksi di New York. Aku merebahkan kepala di pundak Alex. "Kau lelah, Ems?"

"Haus," jawabku.

"Kita cari minum," ujarnya lalu melepaskan tangannya dari pinggangku.

Baru saja kami berempat akan pergi mencari minuman dan pastinya cemilan yang akan menambah energi kami sampai nanti malam, sosok itu membuatku kami terdiam. Atau lebih tepatnya membuatku terdiam. Aku tak berekspektasi dia akan muncul di hadapanku. Sudah hampir satu minggu dan dia akhirnya memunculkan dirinya di hadapanku. Memunculkan dirinya disaat aku baru saja bersenang-senang dan melupakan sosok pirang menawan yang bergelayut manja di lengannya malam itu.

"Hermione," ujarnya saat menghampiriku.

Seketika suasana di antara kami menjadi sangat tegang dan kaku. Alex masih menggenggam tanganku karena kami harus bersusah payah menerobos kerumunan para penonton. Aku mengalihkan pandangan pada kedua sahabatku dan Olivier. "Kami akan membawakanmu minuman," ujar Alex yang melepaskan tanganku.

"Malfoy," ujarnnya dan pergi mendahuluinya sebelum Draco membalasnya.

Kini Bree yang berjalan ke sisiku. "Aku akan kembali, Ems," aku mengangguk menanggapinya.

"Meskipun aku tahu kau penyihir yang kuat dan pandai dan menawan, tapi bila terjadi sedikit saja perubahan mood dan ada setitik air matapun di wajah Emma aku akan memastikan kau tak akan utuh saat kembali ke New York nanti," ujar Bree yang terdengar seperti mendesis padanya.

"Terima kasih atas peringatannya, Miss LeClaire."

Ia menepuk tanganku dan pergi disusul oleh Olivier.

"Jadi, apa lagi yang kau inginkan, Mr. Malfoy?"

"Pertama, bisakah kita tak berada di tengah kerumunan orang seperti ini?"

Dan tanpa menjawab aku mendahuluinya untuk menembus kerumunan. Bila tadi aku membutuhkan Alex untuk melindungiku, kini aku merasa seperti dirasuki sesuatu yang membuatku merasa tak perlu ada seorangpun yang melindungiku hanya untuk menembus kerumunan penonton seperti ini. Aku tak tahu harus menggambarkan perasaan ini seperti apa. Perasaanku bercampur aduk. Marah, kesal, bingung, namun terselip bahagia di dalamnya saat melihat sosok Draco berada di hadapanku.

"Kita sudah jauh dari kerumunan, jadi katakan apa yang ingin kau katakan karena aku harus kembali pada teman-temanku," ujarku dingin padanya.

Ia berdiri tepat di hadapanku. "Kenapa kau menghilang tanpa memberitahuku dan apa yang kau lakukan disini?"

Kuhela napas sesaat dan menatapnya. "Pertama, aku tak menghilang. Aku hanya pergi untuk berlibur dengan sahabatku. Dan kedua, aku tak memiliki kewajiban untuk memberitahumu."

"Hermione," ujarnya kemudian maju selangkah di hadapanku.

Aku refleks bergerak mundur. "Aku tak tahu apa yang kau pikirkan tentang kita sebelumnya, tapi aku sudah menemukannya sekarang."

"Lalu apa yang kau temukan?"

Aku diam saat ia mengatakan hal itu. Ingin rasanya aku lari dari tempat ini. Perutku terasa mulas dan aku tak tahu harus melakukan apa. Kenapa dia harus datang dan menghancurkan liburanku? Alex mengatur liburan mendadak kami ini karena aku pulang dengan linangan air mata dan perasaan marah yang tak karuan malam itu. Dan kini aku merasa telah menghancurkan usaha dari Alex. Apa yang dipikirkan Draco sampai harus datang dan berdiri di hadapanku dan membuatku terasa ingin menumpahkan semua emosiku padanya.

"Apa yang kau temukan, Hermione?"

"Aku tak yakin dengan apa yang kutemukan. Aku tak yakin dengan apa yang kau pikirkan tentang kita. Kita bertemu beberapa kali sebagai klien dan berakhir di ranjangmu, sejak saat itu kau memperlakukanku bak seorang putri, Draco. Kau menyuruh Joe untuk mengantarku dan kau selalu meluangkan waktumu di malam hari untukku. Kau membuatku melihat harapan. Dan aku mengharap lebih dari hubungan kita. Dan satu malam saat aku ingin memberikanmu kejutan, justru aku yang mendapatkan kejutan. Kau disana dengan seorang wanita yang bergelayut manja di lenganmu dan saat aku pergi bahkan kau tak mengejarku. Dan sekarang rasanya ingin sekali aku memukul dan memantraimu sampai kau memohon padaku untuk menghentikannya," akhirnya aku berhasil mengeluarkan semua yang ada di hatiku. Rasanya sangat lega. Terlalu lega sampai aku ingin menangis sejadi-jadinya sekarang. Bukan karena kesedihan, tapi kemarahan setiap mengingat perempuan pirang itu memanggil mesra dirinya.

Draco tampak terkesima mendengarku. "Kau ingin aku mengejarmu?"

Bloody hell! Dari semua kalimat tadi, ia hanya mendengar bahwa aku ingin ia mengejarku. Otaknya tekena virus rasaku. "Shit, Malfoy!"

"Kau berpikir terlalu berlebihan."

Aku tersenyum sarkastik padanya. "Aku? Berlebihan?" tanyaku dengan nada sarkas padanya. "Kau salah bila bersamaku hanya untuk hubungan kasual semata. Kita bukan lagi remaja dan bisa tidur dengan siapa saja lalu lupa keesokannya. Bahkan kau sudah memiliki anak, Draco. Jadi, lebih baik kau pergi sekarang bila hanya ingin menganggapku berpikir berlebihan."

"Dengarkan aku, Hermione," kali ini aku tak dapat mengelak lagi saat ia maju dan memegang kedua pundakku. "Bukan hanya dirimu yang melihat harapan dalam hubungan kita, aku juga melihatnya. Aku tak akan menghabiskan waktuku dengan orang yang tak penting. Percayalah, aku juga melihat harapan itu."

Aku menunduk. Terlalu kesal dan terlalu tak sanggup menafsirkan perasaanku untuk menatapnya. Kalimatnya tadi seakan meruntuhkan benteng yang kubangun selama seminggu ini. Hanya dengan kata-katanya aku merasa bahwa memang mungkin aku yang terlalu berlebihan.

Perlahan aku kembali menatapnya. Kedua tangannya masih berada di pundakku. Holy shit! Harum tubuhnya kini menyeruak di penciumanku. Aku ingin sekali menariknya ke dalam pelukanku dan menciuminya habis-habisan. Tetapi, perasaan gengsi berada di atas segalanya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan wanita pirang malam itu?"

"Aku dan Paige akan menghadiri gala dinner yang diselenggarakan almamater kampus kami."

Aku mengangguk perlahan. "Dia teman saat kami berada di London Universty.." nada suaranya terasa menggantung di pendengaranku.

"Dan?" aku menunggunya untuk melanjutkan.

"Dan dia adalah mantan kekasihku," jawabnya tenang.

"Damn you, Malfoy!"

Ia dapat mengucapkan itu dengan tenang, tapi tidak denganku. Mengetahui ia bersama dengan wanita lain saja sudah membuatku marah dan fakta yang baru saja muncul bahwa wanita pirang bernama Paige itu adalah mantannya membuatku benar-benar ingin membunuh pria ini.

"Dan kau tidur dengannya?"

Ia menggeleng. "Semuanya tak seperti yang ada di pikiranmu."

Aku menatapnya dengan menantang. "Undangan gala dinner itu datang tepat saat kau pergi ke Aspen. Dan ponsel sialanmu itu tak dapat kuhubungi. Kemudian Paige menghubungiku dan mengajakku datang bersamanya karena ia sedang berkunjung ke Amerika. Aku menyetujuinya karena aku tak berpikir bahwa kau akan datang dan bereaksi seperti itu."

"Jadi aku yang salah karena datang dan bereaksi seperti itu?" tanyaku tak percaya padanya.

"Bloody hell, Granger," ujarnya dengan nada yang tenang.

Bisa-bisanya ia mengumpat dengan nada sedatar itu. Ada yang bermasalah dengan saraf emosinya barangkali.

"Aku hanya pergi beberapa hari dan kau dengan mudahnya pergi dengan mantan kekasihmu? Silahkan tanya ke wanita lain apa reaksi mereka bila berada di posisiku."

Ia tak lagi membantah. "Aku terbang bermil-mil untuk datang ke negara bagian yang berbeda dan melewati timezone yang berbeda untuk berdamai denganmu, Hermione Granger."

Aku terkekeh sinis padanya. "Aku tak memintamu untuk terbang bermil-mil kesini. Jadi, aku rasa percakapan kita sudah cukup. Aku harus kembali bersama teman-temanku," jawabku melepaskan diri darinya.

"Enjoy the crowd, Malfoy."

"Pikirkan semua perkataanku, Miss Granger," ujarnya.

Aku berbalik tanpa menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam kerumunan. Aku tahu dimana mereka akan menungguku. Bree dan Alex langsung bangkit dari rumput tempat mereka duduk saat melihat aku menghampirinya. Tanpa perlu basa-basi lagi aku langsung menyambar gelas plastik di tangan Alex dan menenggaknya sampai habis. Rasa pahit dari bir itu seperti tertinggal di kerongkonganku. Napasku terengah-engah. Aku benci perasaan ini. Alex datang menghampiriku dan menatap dalam padaku. "Kau baik-baik saja, Ems?"

Kujatuhkan gelas kertas itu dan menarik Alex untuk memelukku. "Yaa, aku baik-baik saja," jawabku saat membenamkan wajah di pundaknya.

"Kau harus baik-baik saja," ujarnya masih memelukku. "The Killers menanti kita," tambahnya lagi.

Ia melepaskan pelukannya dariku kemudian mengusap air mataku. "The Killers, baby. The Killers," kini Bree yang menceriakan suasana.

Aku tertawa. Wajah Draco kembali terlintas di pikiranku. Bastard!

000

to be continued

I really like to write about Alex, how about u guys? Let me know what u think. And u guys rock. I don't know what to say this, but thanks for favorites, alerts, and reviews. U're fantaboulous (is that a word? oh I don't care hehe) Keep read and review guys. Love u!