..
..
..
..
[Chapter 9] – Kidnapped
..
Secara tak kasat mata segala yang dikatakan dan dilakukan Chanyeol terasa begitu menenangkan hatinya. Senyum lebar pria jangkung didepannya tak pernah sirna dari wajahnya, ia hanya ingin membuat Kyungsoo merasa tak sendirian dan sedih. "Terimakasih"ucap Kyungsoo.
Tangan Chanyeol mengambil alih CK dan menggaruk bulu hitam anjing itu. Sesekali ia terkekeh pelan karena tingkah menggemaskan anjing yang tak kalah dari sang pemilik. Kyungsoo hanya mengulum senyum karena CK dan Chanyeol bisa akrab dengan CK dalam satu tahap pertemuan. "Aku bahagia kau bisa akrab dengan CK"ucap Kyungsoo lagi kini dengan menatap mereka.
Chanyeol tertawa lalu mengangkat tubuh mungil CK. "Hallo CK. Perkenalkan namaku Park Chanyeol"
XXXXXXX
Minseok tak tahu berapa lama ia sudah berbaring dikasurnya, hanya saja setiap ia akan bangun walau hanya duduk dan bersandar dikepala ranjang, rasa pening akan menyergapnya.
Kini, ia berusaha dan berhasil. Tangannya ia gunakan untuk memegang keningnya sendiri dan rasa panas menjalar. Ia tahu ia sakit, bahkan sejak kemarin, tapi ia tak tahu kalau ia akan sakit selama ini.
Kaki-kakinya turun dari ranjang dan berjalan dengan alas sandal. Minseok memutar kenop dengan sekuat tenaga, begitu juga saat ia berusaha menuruni belasan anak tangga yang terasa begitu menyakitkan. Saat matanya menyapu sekeliling, ia tak dapat menemukan siapapun. Hanya beberapa pelayan dan ia juga tak bisa menemukan dimana Chen berada.
"Oh Minseok, apa kau baik?"tanya seorang wanita paruh baya saat Minseok duduk dikursi. Minseok mengulum senyum dan mengangguk, "Aku akan baik setelah meminum sebutir obat. Tolong"ucapnya.
Wanita paruh baya itu kembali dengan segelas air dan beberapa butir kapsul. Minseok meraih obatnya dan meminumnya, wanita itu masih memandangnya iba. "Tanggal berapa ini? Ini memang masih akhir bulan tapi Minseok-ah, aku rasa kau harus mempercepat jadual berburumu"ucap wanita itu.
Minseok tersenyum kearahnya. Wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Panggil saja ia; Bibi Hong. Ia memang selalu mengurus Minseok dan juga rumah luas Chen dengan baik selama hampir lima tahun. "Bibi Hong, aku akan melakukannya. Mungkin malam ini, bila Chen kembali. Katakan aku akan pulang dalam kurun waktu tiga hari"
XXXXXXX
Sehun masih tak tahu dimana Jongin berada. Pria berkulit tan dan bergaris wajah tegas itu telah menghilang selama hampir lima hari, dan itu membuat Sehun mau tak mau harus berusaha untuk membunuh segala pemikiran buruk dikepalanya.
Seperti malam ini. Minggu malam yang seharusnya ia bisa tidur didalam dekapan hangat Jongin, harus kandas. Ia masih duduk bersila diatas ranjangnya, sebuah buku ada dipangkuannya juga dengan sepiring jeruk kupas.
Sehun mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba angin bertiup kencang hingga korden putihnya terbang tak karuan. Ia memincing saat melihat silut seorang pria berdiri dibalkon kamarnya. "Jongin!"Sehun memekik lalu beranjak dari ranjangnya. Berlari keluar dan memeluk tubuh jangkung Jongin.
Semuanya terasa memuncak dan akan meledak ditubuhnya. Rasa rindu, rasa cinta, dan rasa khawatir dihatinya mulai mencair. Ia bisa merasakan air matanya menetes. "Jangan menangis Sehun, kau merindukanku bukan?"tanya Jongin dengan suaranya yang rendah.
Sehun mengangkat wajahnya, mempertemukan matanya dengan mata kelam Jongin. Dan ia merasa bahwa dirinya terhipnotis olehnya.
XXXXXXX
Chen bertengger disebuah dahan pohon yang letaknya tak jauh dari balkon kamar Kyungsoo. Ia masih mengeratkan genggaman tangannya.
Letak balkon Kyungsoo memang strategis. Balkonnya tak menghadap depan dan bertolak dengan kamar Sehun.
Ia menarik satu sudut bibirnya saat ia melihat Kyungsoo keluar dari kamar dan berdiri dibalkon, dengan sebuah jaket putih tipis yang melindunginya. Ini semakin menarik saat ia melihat bahwa tak ada siapapun dari Jongin, Baekhyun, ataupun Luhan yang menjaga Kyungsoo.
Tapi Chanyeol akan selalu ada disisinya.
Dengan cepat ia berpindah tempat dan telah berada didepan pria mungil itu. Mata bulatnya membulat dan juga mulutnya. "A-apa y-yang k-kau lak-lakukan disini?"tanya tergagap. Kaki-kaki mngilnya reflek berjalan mundur dan semakin ia bergerak Chen akan semakin berjalan maju mendekatinya.
"Aku hanya ingin menyapamu wahai tuan penggila penis"ujar Chen dengan suaranya yang rendah dan menusuk. Kyungsoo menutkan alisnya bingung, "Siapa yang kau maksud penggila penis?"tanya Kyungsoo lagi. Kaki-kakinya mulai berhenti berjalan mundur dan sekarang ia berdiri berani didepan Chen.
Chen menyeringai dan tertawa datar. "Apa kau mencoba untuk menjadi pria yang kuat? Apa kau bisa!"geramnya. Ia sungguh ingin segera melenyapkan pria yang 'sok' didepannya itu.
Kyungsoo menutup matanya sekejap. "Aku –"
" –tidak tahu"
XXXXXXXX
Kyungsoo tak tahu sejak kapan ia sudah diikat rantai perak dan kakinya yang dipasung. Ia hanya ingat kalau ia bertemu Chen dan ia jatuh pingsan.
Kyungsoo meringis saat rasa perih menjalar dimatanya saat ia mencoba mengedipkan matanya beberapa kali. "Aku dimana ini?"tanyanya dengan dirinya sendiri. Punggungnya menempel dengan tembok karena ia benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga.
Ruangan ini benar-benar gelap dan ia tak tahu lagi bagaimana rupanya. Saat seseorang masuk dengan membawa obor dan sepiring makanan, Kyungsoo sadar kalau ia sedang disandera.
XXXXXXX
Paginya, Sehun memekik saat tak menemukan Kyungsoo dimanapun. Ia berusaha untuk bertanya dengan Luhan dan Baekhyun saat sosok Chanyeol muncul dari balik pintu rumahnya.
Sehun tak tahu apa yang bisa ia lakukan selain menggigit jempolnya dan menstabilkan jantungnya. Jongin, Luhan, Baekhyun, dan Chanyeol telah berkumpul diruang tengah rumahnya. Chanyeol terlihat sebagai pria yang paling sabar sekarang. Dan Sehun mungkin jadi pria yang paling khawatir akan kakaknya.
"Sebenarnya apa yang kalian pikirkan?! Kyungsoo-Hyung sedang ada bersama Chen, dan you're still silent like that"ujar Sehun tak percaya. Keringat sudah membanjiri tubuhnya dan jantungnya lebih berpacu lagi.
Ketiga pria lainnya kecuali Chanyeol menatapnya dan memberinya sedikit perhatian. "Sehun-ah, tenanglah. Kita sedang memikirkan Kyungsoo oke? Jadi jangan hilang kendali"ucap Jongin menenangkan pacarnya. Chanyeol beranjak dari duduknya dan semua pria disana melihat Chanyeol dengan bingung.
"Kalian. Kalian tak perlu melakukan apapun untuk saat ini, biarkan takdir berjalan sesuai alurnya"
Luhan berdiri dan menunjuknya dengan telunjuk. "Apa yang kau pikirkan sebenarnya! Kyungsoo disana bodoh! Dengan Chen yang –kau itu sebenarnya peduli tidak dengannya?"
Chanyeol menghembuskan nafasnya, hingga menimbulkan asap putih. "Kau hanya tak tahu. Chen tak akan membunuh Kyungsoo, ia hanya sedang berusaha memenuhi hastarnya untuk melihat Kyungsoo menderita"ucapnya sambil menatap lantai kayu rumah Kyungsoo.
"Ia tak akan membunuh Kyungsoo. Hanya itu kebenaran yang kutahu"
XXXXXXX
Disalah satu sisi hutan pinus yang lebat, terlihatlah sosok Minseok yang tengah menyantap hidangannya.
Rupanya mungkin tak separah bagaimana saat Baekhyun taupun Kris berubah. Tapi ia akan berubah menjadi srigala berbulu abu-abu dengan mata biru yang jernih. Cantik.
Suara lolongannya terasa meremangkan bulu roma siapapun. Dan dengan hitungan mundur pelan. Perlahan ia muli berubah menjadi sosoknya; bulu ditubuhnya mulai menghilang dan mata birunya mulai berubah menjadi semula.
Minseok menyeka sedikit darah yang masih tersisa ditepi mulutnya. Dan dengan itu, ia mulai berjalan menjauhi korbannya.
..
..
Kakinya berhenti dan membawanya kesebuah padang rumput hijau kesukaannya. Kepalanya mendongak, menatap bulan penuh yang memancarkan cahaya. I menyukainya. Ia menyukai saat bulan membuatnya tak merasa sendiri saat ia terpuruk.
Minseok masih berdiri diposisinya. Ia tak yakin akan kembali ke kastil hari ini. Ia belum siap untuk memulai berbagai percekcokan yang mungkin akan terjadi bila ia kembali malam ini. Instingnya berkata bahwa Chen akan kembali malam ini.
Dan saat setetes air mata mengalir dari matanya, sebuah pengharapan berbisik pelan.
"Maafkan aku Chen. Aku terpaksa, dan aku mencintaimu"
XXXXXXXX
Kyungsoo terpaksa membuka matanya saat tiba-tiba sebuah titik cahaya membuat tidurnya terganggu. Semua persendiannya terasa kaku. Terutama pergelangan tangannya dan matanya yang terasa perih dan panas.
Kyungsoo tak tahu harus merasa bagaimana saat sosok Chen-lah memasuki ruangan tanpa penerangan dan kedap udara itu. Tapi, alih-alih berpikir dan menatap hatinya, Kyungsoo memilih menangis dan membuat matanya semakin panas.
"Bagaimana kabarmu pangeran manis?"tanyanya dengan tangannya yang memegang erat rahang Kyungsoo membuatnya harus mendesis kesakitan.
"Lep-lepaskan aku. Aku –aku mohon"ujarnya dengan suara serak dan tatapan matanya yang sayu. Segala tenaga dan penataan hatinya terbukti hancur dan tergantikan dengan rasa takut yang menutupi pemikiran jernihnya.
"Apa? Kau pikir aku akan membiarkanmu hanya menderita sebatas ini?"tanya Chen dengan tangannya yang masih memegang rahang Kyungsoo dan ia mendesis pada akhir kalimatnya. "Aku tak tahu dimana jalan pikiranmu Chen"
..
..
Kyungsoo menghela nafas saat ia sudah dapat keluar dari tempat kedap udara yang begitu dibencinya. Hanya saja, ia sudah duduk disebuah kursi tua dengan tubuhnya yang dililit tambang yang jika Kyungsoo bergerak sedikit ia akan merasa semua sendinya seperti terkilir.
Ia tak menyukai bagaimana efek rantai perak pada tubuhnya. Ia bukan seorang vampir yang takluk dengan rantai ataupun jaring perak. Hanya saja, ia melupakan sebuah fakta kalau didarahnya telah mengalir darah vampir yang akan bertengger ditubuhnya hingga beberapa waktu kedepan.
"Apa kau pernah semenderita aku sebelumnya? Apa kau pernah duduk ditepi jalan dan memberi adikmu makanan sisa tempat sampah? Apa kau pernah?!"geramnya. Kyungsoo menutup matanya saat teriakan Chen begitu membuat bulu romanya berdiri.
"Apa kau pernah menangis setiap malam dan terus tersenyum hanya untuk membahagiakan adik-adikmu? Kau hanya memiliki masa lalu bahagia Do Kyungsoo, kau terlalu memilik masa lalu bahagia"ujarnya dengan suara rendah dan menusuk.
22 Mei 1980
Dua tahun sudah orang tuanya meninggal dan meninggalkan sosok Kyungsoo kecil hanya bersama Sehun adiknya.
Malam itu, badai benar-benar menerjang Goose. Dan saat sosok Sehun kecil yang begitu takut dengan badai. Kyungsoo hanya dapat memeluk adik kecilnya yang menangis karena beberapa kali suara petir dan angin kencang menyergap pendengarannya. Dan Kyungsoo juga berkali-kali mengelus punggung sempit adiknya sambil menggumamkan kata 'tidak apa-apa' untuk membuat adiknya tenang barang sebentar.
"Ibu… hiks …. Ibu…hiksss"ujar Sehun disela kegiatan tangisnya. Kyungsoo masih berusaha menahan air matanya yang akan berlinang kalau saja ia tak ingat bahwa ia harus menjadi sosok yang bisa membuat Sehun tetap kuat.
"Ssst… Sehun-ah. Ada Hyung disini, jangan menangis oke? Badai akan segera berakhir, ssst… jangan menangis sayang"lirih Kyungsoo ditelinga Sehun. Pria mungilnya masih tak dapat tenang dan terus saja memanggil nama ibunya, yang membuat hati Kyungsoo terasa seperti tercabik.
"Apa yang kau tahu tentang kehidupanku?"tanya Kyungsoo pelan. Kepalanya tertunduk. Chen menatapnya dengan senyum tak percaya dan kemarahan yang mengapung dikepalanya.
"Apa yang aku tahu? Aku selalu tahu tentang dirimu, ap –"ucapan Chen terhenti oleh suara teriakan Kyungsoo yang menggema bahkan hingga kedalam gendang telinganya. "Apa yang pernah kau ketahui tentangku! Kita bahkan sama-sama memiliki masa-masa suram setelah kedua orang tua kita meninggal. Namun, apa kau pernah mengetahui tentang sebenarnya! Tentang air mata itu! Tentang isakan yang bahkan masih menggema dikepalaku! Tentang segala bisikan Sehun yang membisikkan ibuku. Apa kau pernah tahu tentang itu!"
Kyungsoo berhenti dengan nafas yang tak beraturan. Tubuhnya memang sakit karena efek rantai perak ditubuhnya, tapi alih-alih meringis dan menangis, ia lebih memilih berteriak dan mengeluarkan semua pemikirannya.
"Aku memang tahu kalau orang tuaku membunuh orang tuamu. Tapi tak bisakah kita memulai segalanya dengan saling senyum dan jabat tangan? Kenapa kau selalu berkata seolah-olah aku yang paling bersalah. Kenapa?!"teriaknya dengan segala kekuatan yang ada. Air matanya sudah membuat jalur dipipinya.
Chen masih mematung menatapnya, dengan segala pemikirannya yang terasa tiba-tiba menghilang dan kepalanya terasa kosong.
XXXXXXX
Chanyeol masih memandang kaleng birnya dengan seksama. Ia duduk diatas dahan pohon dengan pikirannya yang seratus persen ada pada Kyungsoo.
Firasatnya berkata sekarang bukan waktunya untuk bergerak. Ia akan membiarkan beberapa minggu untuk Chen dan Kyungsoo agar mereka bisa sekedar berbicara tentang memori masa lalu.
Chanyeol tak mengerti. Sejam lalu ia merasa kalau hatinya seperti tercabik dan seolah ia bisa merasakan bagaimana perihnya saat sisi-sisi rantai perak itu menggores kulitnya. Ia tahu Kyungsoo tak akan menjerit, ia tahu kalau Kyungsoo tak akan menyerah. Karena ia tahu kalau Kyungsoo adalah pria yang kuat.
Bukan berarti ia tak mengkhawatirkan Kyungsoo. Perasaan khawatirnya bahkan hampir membuatnya resah seharian ini. Ia tak pernah bisa melepaskan pemikiran dan instingnya. Kyungsoo jodohnya, tentu saja secara tak kasat mata kekuatan batin yang membantunya.
Ia bisa merasakan debaran jantungnya, merasakan saat air mata jatuh dari matanya, saat rasa bahagia meluap dihatinya, saat ia marah, saat ia kesal, dan bahkan saat Kyungsoo merasa kesakitan karena rantai perak sialan itu. Sejujurnya ia bisa merasakan segalanya.
Ia terlalu peka untuk tidak merasakannya. Ia akan selalu berusaha untuk juga merasakan apa yang dirasakan Kyungsoo. Entah hari ini, besok, ataupun selamanya. Meskipun ia akan mati karena rasa sakitnya, asalkan ia juga merasakan apa yang dirasakan Kyungsoo disana. Ia rela, sungguh ia tak apa.
Hari ini, besok, atapun selamanya.
Aku mencintaimu Do Kyungsoo.
XXXXXXX
Chen masih mematung ditempatnya. Ucapan Kyungsoo berbuah telak padanya, dan ia bisa merasakan rasa nyeri di ulu hatinya. Ini terlalu membingungkan. Bukankah takdir ini terlihat seperti kabut abu tak kasat mata? Chen tak bisa melakukan apapun selain terdiam dan mendengarkan isakan Kyungsoo yang seakan membuatnya semakin terpuruk dan terpuruk.
"Sesungguhnya, aku tak tahu perasaan apa yang mendorongku melakukan ini. Aku hanya merasakan rasa haus yang selalu membuatku akan dehidrasi dan mati. Dan ketika aku melihatmu menderita, rasa itu seolah hilang dan terbayar dengan segala jeritan rasa sakit yang kau rasakan"ujarnya pelan tanpa menatap Kyungsoo.
Secara tak terduga, Kyungsoo mengangkat kepalanya. Menatap Chen dengan jejak air mata dipipinya. "Kau hanya perlu berusaha memaafkan aku. Maafkan aku dan segala akan berakhir. Aku tahu kau bukannya membenciku, kau hanya, hanya tak bisa memaafkan aku"
Chen menggelengkan kepalanya. Entah kemana perginya segala emosinya yang tadinya menggebu-gebu. "Aku tidak – aku tak tahu"
XXXXXXX
Wanita berambut panjang itu menatap bulan penuh diatas langit. Ia mengepalkan erat tangannya, seolah melupakan fakta tentang kuku panjangnya. Matanya berubah memerah dan kukunya seolah hidup dan memanjang dengan sendirinya.
"Aku akan membunuhnya kalau kau tak bisa melakukannya. Kyungsoo hanya setitik noda dikehidupan Taemin"ucapnya miris, dan setelah itu ia terbang dengan membawa segenap amarahnya yang seakan akan meledak saat itu juga.
Dan seketika Krystal mengambang dan terbang kesebuah tempat yang ia datangi.
..
..
Kyungsoo masih ditempat yang sama saat Krystal mendobrak pintu kayu rumah Chen. Kyungsoo terbangun dan merasakan jantungnya berdetak cepat hingga membuatnya begitu ketakutan. Ia hanya merasakan bahwa siapapun yang datang itu, ia membawa sebuah amarah besar yang menakutkan.
XXXXXXX
To be continue…
Maaf kalo chappie kemaren bener-bener pendek. Dan ini udah lumayan panjangkan?.
Reviewnya bener-bener ilang dan saya down sumpah.
Tapi untung ada seorang reader yang selalu dukung saya. Thanks buat yang ngerasa selalu dukung saya buat ngalunjutin nih ff abal.
Last,
Mind to review?
Channie10
