Author Note: Update, readers! Sepertinya pembaca Troublesome Family sedikit sekali yah karena reviewernya juga sedikit sekali jika kuperhatikan. Sedih juga melihatnya. Oh well! Hope you enjoy this story!
Troublesome Family
Chapter 25
Kuseka keringat yang membasahi dahiku. Akhirnya lantainya bersih dari noda darah. Seorang lelaki datang sambil membawa kasur dorong. Keringat dingin kurasakan. Dia melihatku memegang kain dengan noda darah. Bagaimana ini? Haruskah kubunuh dia?
"Apakah Anda adalah Sora?" tanyanya sebelum aku sempat bertindak apa pun.
Rambutnya yang berwarna silver seperti Riku diikat rapi dibelakang. Matanya berwarna biru dan terasa sedikit keramahan di matanya.
"Y-ya."
"Nama saya Yenzo. Riku meminta saya membantu Anda menyingkirkan mayat pembunuh yang menyerang Riku."
"O-oh," kataku sedikit lega. Kuyakin wajahku sangat pucat karena tidak tahu harus berbuat apa seandainya dia orang normal.
Aku mendesah lega, lalu berdiri. "Mayatnya ada di kamar mandi."
Yenzo mengangguk dan dan membawa kasur dorongnya ke dalam kamar Riku. Rupanya dia telah menyiapkan kantong mayat, sehingga dia tidak akan dicurigai saat membawa mayat ini keluar dari kamar Riku. Dengan sigap Yenzo memasukkan mayat di kamar mandi tanpa mengotori bajunya. Dia pun membawa mayat tersebut keluar dari kamar Riku.
"Akan diapakah mayat tadi?" tanyaku pada Riku.
"Pertama, dimasukkan kedalam ruangan mayat. Kedua, setelah dibiarkan di sana beberapa hari, mayat tersebut akan di bawa ke tempat pemakaman umum dan dibuatkan makam palsu baginya. Untuk menghindari kecurigaan."
"Mengapa tidak dibuang ke sungai saja?"
"Ada kemungkinan ditemukan polisi. Biaya pemakaman palsu memang lebih mahal dibandingkan dengan membuangnya ke sungai, tapi bisa menghapus jejak dengan baik."
"Oh..."
Saat pergi menuju food court—berhubung tadi tidak sempat membeli apa-apa, beberapa petugas polisi datang dan mengintrogasi beberapa orang, termasuk aku. Menurut laporan yang mereka terima, ada yang mendengar suara tembakkan di sini dan beberapa suster tentu membenarkannya dan aku juga. Polisi pun memulai penyelidikan tanpa adanya garis polisi. Karena tidak ada yang tahu persis di manakah bunyi berasal—dan aku juga pura-pura tidak tahu, maka para polisi berkeliling rumah sakit. Semoga saja Riku tidak mengalami masalah.
Junk food yang kubeli kali ini adalah burger dengan fried potato. Tadi Riku memintaku membelikan kripik kentang, tapi saat kubilang akan membeli makan malam yang ada kentangnya juga, maka dia membatalkannya.
Kubeli air mineral dan juga kopi—sebenarnya Riku tidak boleh meminum kopi, soalnya akan mengganggu jam tidurnya dan itu tidak baik untuk pemulihannya, tapi Riku tetap ingin meminumnya karena dia bosan tidur terus.
Dering HP-ku berbunyi saat dalam perjalanan kembali. Karena tangan penuh dengan belanjaan, aku pun tidak bisa mengangkatnya dan baru melihat siapa yang menelepon saat tiba di kamar Riku.
Dari Loz. SMS masuk. Dari dia juga.
"Besok pagi aku akan menggantikanmu menjaga Riku," begitulah isi SMS darinya.
Kusimpan kembali HP-ku, lalu kutatapi Riku. "Neh Riku, apakah tadi ada polisi yang datang menanyai keterangan padamu?"
"Ada."
"Apa yang kau katakan pada mereka?"
"Ya apa adanya."
Alisku terangkat sebelah. Apa adanya, berarti dia menjawab dengan jujur?
"Tidak," kata Riku, seakan-akan bisa membaca pikiranku. "Aku tidak mengatakan bahwa aku membunuh mereka. Aku cuma mengatakan aku tertidur dan terbangun saat mendengar suara ledakkan."
"O-oh..."
Riku meminum kopi setelah makan. Melihatnya minum dengan cepat dalam beberapa teguk, apakah ini berarti dia tidak berniat tidur malam ini?
"Kau bisa tidur, Sora. Malam ini aku tidak akan tidur karena tidak mengantuk."
Aku pun heran. "Lalu, mengapa kau memintaku membeli kopi?"
"Memastikan aku bisa terus terjaga hingga flim yang ingin kutonton selesai," balasnya dengan senyum sinis.
"Oh..." Kuyakin flim yang akan Riku tonton bergenre action atau crime. "Kalau begitu, aku akan tidur sekarang," lanjutku sambil merenggangkan badanku. "Malam."
"Sora," panggilnya saat aku mendekati sofa.
"Apa?" Aku menoleh.
"Mana good night kiss-nya?" Riku tersenyum sinis.
Mukaku memerah mendengarnya. "Haruskah? Biasanya kau tidak pernah memintanya."
Riku terkekeh. "Tapi kali ini lain. Kau sekamar denganku."
Mendengar kata sekamar, khayalanku malahan berpikir yang aneh-aneh hingga mukaku merah padam. Aku pun menghiraukan Riku dan langsung membaringkan badanku di atas sofa tanpa menatapinya. Herannya, mata ini tidak ingin terpejam karena aku merasa gelisah. Aku merasa Riku seperti menatapiku. Benar atau tidaknya, aku tidak berani memastikannya.
Ayolah mata, tertutuplah agar aku bisa pergi ke alam mimpi sesegera mungkin. Tidurlah... Tidurlah... Tidur...
(-_-)
"Sora... Sora..."
Mataku terasa sangat berat saat seseorang membangunkanku. Saat mata terbuka, ruangan ini begitu gelap. Meski begitu, samar-samar aku masih dapat melihat.
"Hm?" gumamku sambil menggosok mataku.
"Bagus, akhirnya kau bangun." Ternyata Riku.
"Ada apa sih, Riku?" tanyaku dengan heran.
"Terjadi penyerangan," jelasnya.
"Darimana kau tahu? Aku tidak mendengar suara letusan senjata api."
"Listrik padam. Hanya rumah sakit ini saja yang padam."
Kumiringkan kepalaku. "Mungkin saja terjadi korsleting atau pihak rumah sakit mematikan listrik?"
"Kalau korsleting, pasti mereka akan mengungsikan seluruh pasien karena takut terjadi kebakaran. Jika pihak rumah sakit mematikan listrik juga tidak mungkin, karena aku sudah berpesan agar listrik di kamarku tidak dimatikan karena aku akan menonton tv hingga pagi."
"Memangnya mereka mengizinkanmu?" Keheranan menyerangku.
"Apa pun bisa jika kau membayar lebih," jawab Riku dengan senyum sinis.
Okay, untuk yang satu itu aku tidak ingin berdebat. Uang memang bisa memberimu hal-hal spesial dan aku tidak bisa membantahnya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.
"Well, hal pertama adalah persiapan bertarung. Kedua..."
"Sebentar, Riku, kau sudah bisa bergerak?" Aku heran melihatnya berdiri di sampingku. Kukira dia masih belum bisa bergerak, soalnya dia selalu mengeluh sakit saat bergerak sedikit.
"Oh well, sebenarnya aku lagi ingin bermalas-malasan saja. Normalnya, besok seharusnya aku sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tapi berhubung Dad bilang aku harus istirahat karena lukaku lebih buruk dari normalnya, jadinya aku dapat extra libur 2 hari ke depan."
Alisku terangkat sebelah. "Wow, kuyakin aku sudah mengeluh kesakitan jika bergerak dalam kondisi seperti itu."
"Oh jangan salah. Sebenarnya badanku sakit sekali saat ini, tapi aku harus bergerak karena aku tidak yakin kau bisa menangani mereka sendiri."
"Apakah ada kemungkinan penyerangnya sama?"
"Ya. Kembali ke topik. Kedua, kita akan langsung menyerang, bukan menunggu mereka. Sangat beresiko menunggu mereka. Ketiga, segera tembak apa pun yang mencurigakan."
"Biar pun itu perawat?"
"Ya. Jangan pernah ragu. Ini antara dibunuh atau terbunuh."
Aku mengangguk dengan setitik keringat di wajah. Riku sangat serius terhadap kata-katanya tadi. Dia memberikanku silent gun. Kami pun mulai bergerak.
Riku membuka pintu kamarnya dengan perlahan, lalu mengintip apakah ada orang di luar.
"Sora, coba kau dengar apakah di sekitar sini ada orang yang bersembunyi," bisiknya.
Aku mengangguk. Jarang sekali aku bisa menggunakan kemampuanku dalam tugas. Percaya atau tidak, pendengaranku sangat tajam jika aku berkonsentrasi. Jarak pendengaranku sangat mengagumkan, begitulah kata Dad. Ketika mencoba menguji seberapa baik pendengaranku, hasil yang didapatkan adalah, jarak maximal telingaku mendengar di tempat sunyi kurang lebih 100 meter.
Mataku terpejam selama beberapa puluh detik. Tidak ada suara napas mau pun detak jantung yang kudengar.
"Aman," kataku dengan yakin.
Riku mengangguk.
Kami berjalan mengitari lorong rumah sakit dengan hati-hati. Telingaku menangkap bunyi langkah kaki yang jauh dari kami. Arahnya seperti mendekati kami, karena suaranya semakin keras.
Kami bersiaga menembak. Riku berbaring di lantai, memasang posisi menembak. Sedangkan aku, masih fokus mendengar suara. Sayangnya, musuh kami tidak menuju lorong kami berada, tapi ke lorong lain.
"Riku, mereka bukan kemari," bisikku.
Riku bangun dan membersihkan pakaiannya. "Kita akan mengejarnya nanti. Berapa banyak langkah kaki yang kau dengar?" Riku berbisik juga.
"Sementara ini baru tiga orang dan mereka bergerak bersama."
Riku terdiam. "Aku berubah pikiran, kita kejar mereka. Akan lebih rumit lagi jika jumlah mereka lebih dari tiga. Ayo."
Kami mengendap-endap mengikuti musuh kami. Mereka berbicara bagaimana mereka melakukan serangan dadakan di kamar Riku. Ada yang bertugas masuk duluan, duanya menyusul untuk melakukan serangan kejutan.
"Sora." Mendadak Riku memelukku dan membuatku kaget.
"A-apa?" tanyaku dengan muka memerah.
"Kau mau menabrak dinding?"
"Huh?"
Aku baru sadar bahwa ada dinding di depanku. Karena fokus mendengar, aku jadi tidak memperhatikan langkahku.
"Thanks..." kataku dengan malu. Riku memelukku cukup erat dan aku merasa ini posisi yang berbahaya.
Dapat kurasakan napasnya yang hangat mengenai leherku. Aku langsung melepaskan pelukannya ketika dia mencoba merabaku.
"Me-mereka semakin jauh," kataku mengingatkan.
Riku mendesis kesal dan aku bersyukur dia tidak berniat melanjutkannya.
Akhirnya kami baru bisa menyusul mereka saat mereka sedang berdiskusi di depan kamar Riku. Karena mereka tidak bergerak, ini memudahkan kami mengunci posisi mereka sebelum menembak. Yang paling cepat menembak tentu Riku. Aku baru menembak satu, dia suda menembak dua.
Nah, masalah berikutnya adalah ceceran darahnya.
"Apakah kau mendengar ada orang disekitar sini?"
Aku menggeleng.
"Bagus."
Riku langsung menelpon Yenzo. Memintanya membersihkan mayat-mayat ini satu jam ke depan.
"Kita lanjut patroli mencari pembunuh lain—jika ada."
Aku mengangguk.
(VwV)
Aku menguap dengan mulut terbuka lebar saat tiba di kelas. Semenjak penyerangan itu, aku tidak tidur lagi hingga pagi hari. Loz mengantarku ke sekolah saat datang ke rumah sakit, soalnya aku terlalu mengantuk. Aku pun tiba di sekolah 30 menit lebih awal dan mencoba tidur di kelas.
Man, ternyata patroli kami percuma. Tidak ada pembunuh lain yang berkeliaran, hanya tiga orang yang kami bunuh itu. Rasanya capek sekali. Ketegangan menguras seluruh energiku hingga pagi datang. Aku baru merasa lega tadi saat Loz datang.
Dering bell berbunyi dan membangunkanku yang baru saja terlelap beberapa menit. Aku pun bangun sambil menggerutu kesal. Oh man, let me sleep, please!
"Pagi."
Kutengok sapaan berasal.
"Pa-pagi, Roxas," jawabku dengan kaku. Nah lo! Sekarang aku merasa canggung! Bagaimana ini, aku lupa memikirkan apa yang harus kukatakan pada Roxas setelah...ciumannya kemarin. Aku memalingkan muka darinya. Kutatapi mejaku sambil mengepalkan tanganku. Apa yang harus kukatakan padanya?
"Neh, Sora, maaf atas sikapku kemarin. Aku memang sedikit lepas kendali kemarin, tapi aku benar-benar menyukaimu."
Kami berdua langsung menjadi pusat perhatian. Aku pun panik mendengar Roxas menyatakan perasaannya padaku di depan umum. Di depan umum! Astaga! Rasanya aku ingin menggali lubang dan masuk ke dalam lubang saking malunya! Apa yang akan teman-temanku pikirkan jika mengetahui bahwa aku gay?
Aku kehilangan kata-kata dengan mulut menganga. Ini situasi yang sangat membingungkanku. Bagaimana ini!? Bagaimana ini!? Oh man, kepalaku terasa pusing dan pandanganku berputar-putar sekarang! Tunggu sebentar. Mengapa pusingnya bertambah kuat? Apakah ini bukan pengaruh kata-kata Roxas? Sepertinya bukan.
Ketika semua pandanganku menggelap, kudengar seluruh kelas berteriak khawatir sambil memanggil namaku. Suara mereka semakin kecil dan kecil, hingga akhirnya sunyi senyap.
(v.v)
Saat sadar, aku berada di dalam puskesmas.
"Kau sudah sadar."
Seorang dokter mendekatiku.
"Apa yang terjadi?" Aku bertanya dengan bingung. Kepalaku masih terasa pusing.
"Kau kurang tidur, sehingga pingsan karena kelelahan."
"Oh..." Kurasa wajar saja jika aku kurang tidur. Sudah beberapa hari ini tidurku kurang dan di tambah hari ini.
Aku pun kembali tidur hingga jam sekolah berakhir. Roxas mengunjungiku sambil membawa tas sekolahku.
"Hei, bagaimana kabarmu?"
"Sudah lebih baik," jawabku dengan senyum.
"Dokter bilang kau kurang tidur, sehingga kelelahan. Apa yang membuatmu sampai kurang tidur?"
"Kurasa karena misi, kabar buruk, dan juga serangan saat malam. Tidurku tidak lebih dari 4 jam, sepertinya."
"Kau...tidak pingsan karena perkataanku, kan?" Roxas menatapiku dengan sedih.
"Tidak." Kugelengkan kepalaku, lalu menatapinya. "Roxas, soal pernyataanmu... Maaf, bukannya aku tidak bisa membalas perasaanmu. Hanya saja, aku...hanya ingin sendiri."
"Apakah itu berarti aku masih memiliki kesempatan?" Roxas sangat berharap.
"Bisa dikatakan..." Aku hening sejenak. "Roxas, aku harap kau tidak terlalu mengharapkan balasan dariku. Kukatakan iya, tapi aku tidak janji akan membalas perasaanmu."
"Ya," balas Roxas dengan senyum. "Meski kecil, aku tetap akan berjuang."
Aku terdiam. Apakah seharusnya tadi aku tidak memberi Roxas harapan? Aku tidak ingin menyakitinya jika seandainya bukan dia yang kupilih. Bagaimana ini...
"Oh ya, tadi, HP-mu berdering dua kali saat jam pelajaran kedua. Tidak ada seorang pun yang mengangkatnya karena berada di tasmu."
"Huh?"
Aku langsung mengobrak-abrik tasku. Begitu kutemukan HP-ku, kulihat siapa yang meneleponku. Sudah kuduga, Dad! Aku langsung menelepon balik. Tidak sampai 10 detik menunggu, panggilan dijawab.
"Ya."
"Um, Dad menelepon, tadi?" tanyaku.
"Ya. Guru sekolahmu meneleponku dan mengatakan kau pingsan di sekolah. Kau baik-baik saja?"
"Ya. Mungkin karena belakangan ini istirahatku kurang. Tapi aku baik-baik saja, Dad, tidak perlu khawatir." Kucoba meyakinkannya.
"Jika seandainya kondisimu sedang tidak baik, kau bisa menolak misi kapan pun kau mau. Jangan paksakan dirimu."
"Ya."
Panggilan diputus.
"Ayahmu?"
Aku mengangguk.
Dering SMS masuk berbunyi. Dari Dad.
"Istirahatlah di Mansion. Kadaj akan menggantikan Loz menjaga Riku," begitulah isi SMS darinya.
Sebenarnya, aku sudah merasa bugar sih karena tidur cukup lama. Rasa kantuk yang menyerangku tadi pagi sudah hilang. Kini, rasanya aku begitu semangat melakukan apa pun! Karena tidak ada tugas dan tidak ada siapa pun di Mansion, mungkin aku ingin main skate board bersama Roxas. Sudah lama tidak bermain bersamanya.
"Hei, Roxas, ayo kita main skate board!" ajakku dengan senyum.
Ajakkanku tentunya di sambut dengan senyuman. "Ayo!"
(OvO)
Seluruh badanku basah oleh keringat! Uh, bajuku terasa sangat lengket, bagaikan dilem saja. Aku dan Roxas bermain skate board seharian hingga sore menjelang. Berhubung rumahku lebih dekat dari rumahnya, dia ingin menumpang mandi dan meminjam bajuku sebelum pulang ke rumahnya. Sama sepertiku, dia tidak tahan dengan bajunya yang lengket oleh keringat.
Perasaanku saja atau memang kenyataannya bahwa matahari semakin panas saja ya? Biasanya kami memang selalu berkeringat banyak saat main, tapi tidak sampai baju sebasah ini dan terasa begitu lengket. Yang pasti, ada kemungkinan terik matahari terasa lebih panas dari biasanya disebabkan oleh global warming. Oh well, begitulah manusia. Tidak perduli akan alam, sebenarnya aku juga sih.
Roxas mandi terlebih dahulu. Sedangkan aku, mengademkan diri di depan kulkas sambil mengambil minuman dingin. Haus sekali rasanya. Dua gelas air dingin habis dengan cepat karena haus yang menyerangku. Aku mendesah pelan.
Mungkin Roxas juga ingin minum. Kuletakkan segelas air di atas meja ruang tamu. Begitu Roxas selesai mandi, aku langsung menuju kamar mandi.
"Ada air di meja ruang tamu. Jika kurang, ambil saja di lemari es," kataku sebelum masuk.
Roxas mengangguk dengan senyum. Pakaianku ternyata seukuran dengan pakaiannya. Bajuku terlihat pas sekali dengan tubuhnya. Terutama ukuran celana juga. Ah, jika dipikir-pikir, tinggi badan kami sama saat pengecekkan kesehatan. Begitu juga berat badan kami, kurang lebih sama. Kebetulan yang luar biasa.
Dinginnya air membuatku merasa lebih hidup. Rasanya ingin berlama-lama berada di bawah pancuran air, tapi aku tidak mungkin membiarkan Roxas sendirian terus di ruang tamu. Mana ada penghuni rumah yang membiarkan tamunya berdiam diri di rumahnya.
Dengan handuk yang menggantung di leher, aku keluar dan mendekati Roxas yang duduk di sofa sambil memainkan HP-nya. Sepertinya dia benar-benar haus sampai mengeluarkan botol air dingin dan meletakkannya di atas meja ruang tamu. Setengah isi botol air minum berisi 2 liter habis olehnya.
"Hei," sapa Roxas saat melihatku. Dia segera menyimpan HP-nya.
"Hari ini panas ya," kataku. Aku duduk di sampingnya.
"Yup. Dan rasanya aku tidak ingin pulang sebelum matahari terbenam. Di luar masih panas." Roxas mendesah.
"Kalau begitu, mainlah di sini dulu. Tidak ada siapa pun di rumah ini. Semua penghuninya lagi pergi, jadi aku sendirian di sini."
"Jadi, kita hanya berdua saja?"
"Secara tidak langsung, ya, kecuali kau menghitung Sky, tidak."
"Sky?" Alis Roxas terangkat sebelah.
"Anjing kesayangan Riku," balasku dengan senyum lebar. "Sky!" seruku memanggil Sky. "Sini!"
Tidak butuh waktu lama, Sky berlari masuk dari pintu depan—soalnya pintu belakang masih kututup—dengan semangat dan langsung melompat kepadaku. Dijilati wajahku berkali-kali hingga aku merasa geli.
"Sky, kenalkan, ini Roxas, teman sekolahku," jelasku dan aku tidak begitu yakin Sky mengerti kata-kataku.
Sky menggong-gong pada Roxas, lalu tersenyum dengan lidah menjulur keluar.
"Bulunya bagus," komentar Roxas.
"Tentu saja! Aku kan selalu mengurusnya dengan baik!" balasku dengan bangga.
Akhirnya Roxas menanyakan banyak hal tentang caraku mengurus Sky. Rupanya Roxas juga ingin mempunyai hewan peliharaan, tapi dia khawatir tidak dapat mengurusnya. Memang tidak baik memelihara hewan jika kau tidak sempat mengurusnya, soalnya itu sama saja kau menyiksa mereka.
Sky berlari ke dapur, lalu menggong-gong di sana. Sudah jelas minta makan.
"Sebentar, Roxas, aku mau memberinya makan dulu."
Roxas mengangguk.
Sky makan dengan lahap saat kuberikan semangkok makanan anjing padanya. Dia sangat kelaparan, kurasa. Wajar saja, dari pagi hingga sekarang tidak ada yang memberinya makan. Kemarin malam aku memang sempat memberinya makanan lebih banyak dari normalnya, karena aku khawatir tidak ada yang memberinya makan di pagi hari. Hebatnya, dugaanku tepat. Tidak ada satu pun orang yang pulang hari ini. Dapur tetap bersih. Tidak ada sampah junk food. Bahkan ruang tamu masih rapi.
"Kasian. Maaf ya, Sky. Tapi kau memang penjaga rumah yang sangat baik dan setia menunggu jika salah satu di antara kami pulang." Kuelus kepala Sky dengan lembut.
Sky hanya menggong-gong. Sepertinya dia mengerti, kurasa?
Aku kembali ke ruang tamu saat Sky berlari keluar rumah. Roxas memainkan HP-nya, dan kembali menyimpannya saat aku duduk di sampingnya.
"Kurasa sudah cukup gelap untuk pulang." Roxas melirik keluar jendela. Langit sudah gelap dan matahari sudah tidak menampakkan dirinya lagi.
"Ya. Sampai jumpa besok, Roxas."
"Ya." Roxas bangun, tapi terdiam sesaat. "Sora."
"Ya?" Kutatapi dia dengan bingung.
"Bisakah kau berdiri?"
Aku berdiri dengan bingung. Mengapa dia memintaku berdiri.
Chu.
Mataku melebar. Aku terkejut bukan main saat dia menciumku.
"Bye," katanya sambil berjalan menuju pintu keluar.
"B-bye," balasku dengan muka memerah. Kupegangi bibirku. Meski hanya sedetik, jantungku masih berdebar-debar ketika memikirkannya.
Ada baiknya, aku tidak memberitahukan Riku soal ini. Bisa-bisa, dia membunuh Roxas dengan pasti...
To Be Continued...
Author Note: well, that enough for this chapter :D
hohohoho… karena di review ada request yang kebetulan sedang sehati denganku, maka kukabulkan permintaannya karena cerita ini tidak ada kerangka cerita, alias just flow into my mind. Whatever I want or whatever happen, that's depend on the review and my mood. Alur cerita ini memang rata-rata tergantung moodku, tapi kadang aku juga melihat review juga dan mempertimbangkannya apakah kukabulkan atau tidak. So! Don't forget to review, readers!
To a review name Scoppio d'Ira: wkwkwkw, dokter dan susternya ga ada mungkin karena sibuk? LOL
To a review name AkuRia-Gemini: wkwkwkwk ternyata masih banyak misstype yah? ada saja misstype yang terlewatkan oleh mataku. LOL
Sora kan memang childist (langsung ditembak), makanya mulutnya berlepotan dengan saus keju.
To a review name kirikacchi: wkwkwkwk pairingnya masih belum bisa kutentukan. kadang pingin Riku, kadang Roxas, kadang Kadaj, dan lain-lainnya saking imutnya Sora dan bisa dicocokkan kesiapa aja! (Langsung ditabok sama Sora)
