A/N: Still take too long to update. I have a tons of activities. Sorry. So, enjoy:)
J.K Rowling has, unless Alex, Bree and some unknown characters
Chapter 6: Love On Top
Coachella Valley, California
Setelah James Morrison dan beberapa penampilan lainnya, kami memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Bree bersikeras untuk menemaniku, tapi aku menolaknya. Aku tak mau ia menghabiskan liburan singkat ini hanya untuk bersamaku sementara ada Olivier disisinya. Lagipula aku tak pernah melihat ia begitu terlihat bercahaya, terlihat sangat jatuh cinta pada seorang pria seperti sekarang. Jadi, aku menyuruh mereka pergi menjauh dariku. Tidak dengan Alex. Walaupun ia kurang membantu dalam penyelesaian masalahku dengan Draco, setidaknya ia membantu saat aku butuh seseorang untuk membopong bila aku terlalu mabuk.
Hari ini adalah hari terakhir kami berada disini. Hari terakhir sebelum aku harus kembali berhadapan dengan hiruk pikuk New York. Hari terakhir aku mendengar dengan jelas kicauan burung di pagi hari. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat aku sudah bersiap-siap untuk berolahraga. Semalam aku memutuskan hanya meminum bergelas-gelas bir yang akan menjauhkanku dari keadaan mabuk dan muntah setelahnya. Namun konsekuensi yang harus kutanggung adalah meningkatnya kalori. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membakarnya pagi ini. Alex masih terlalu nyaman di dalam tidurnya dan aku yakin ia akan merapalkan kutukan bila aku membangunkannya sekarang. Sementara Bree dan Olivier? Hanya Tuhan dan diri mereka sendiri yang tahu sedang dalam keadaan apa mereka sekarang.
Rencanaku adalah untuk jogging di track yang disediakan di hotel ini untuk kemudian berenang. Setidaknya sampai mereka semua bangun dan kami siap untuk sarapan. Ada beberapa orang yang juga jogging sepertiku disini. Suara merdu John Meyer yang membawakan lagu I'm Gonna Find Another You membuatku berhenti sejenak dan kemudian menggantinya. The damn playlist. Tak terasa sudah hampir 30 menit aku berlari di track ini. Keringatku yang sebesar-besar biji jagung mengucur dengan dahsyat. Sejenak aku duduk di bangku taman dan membiarkan angin segar menyapu kulitku. Rasanya begitu hidup. Tak perlu membuang waktu lagi, setelah merasa pendinginan tadi sudah cukup aku berjalan ke ruang ganti kolam renang hotel ini dan mengganti celana dan tanktop tadi dengan baju renang biru tuaku. Ketika kurasa sudah cukup membakar semua kalori yang dihasilkan oleh bir-bir yang kutenggak tadi malam aku keluar dari kolam renang itu dan duduk di kursi malas yang tersedia. Matahari mulai meninggi dan aku berharap mereka semua sudah sadar dari tidurnya. Saat aku bangkit setelah memakai jubah handuk pandanganku menatap sosok mungil yang tak asing lagi bagiku. Scorpius.
Tubuh mungilnya tampak sangat pucat di bawah sinar matahari. Dengan hanya menggunakan celana pendek bewarna kuning muda ia berjalan-jalan di pinggiran kolam renang tepat di seberangku. Wajahnya tampak serius melihat air yang terbentang luas di hadapannya. Aku memerhatikannya dengan tersenyum dan penasaran. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya? Ia kemudian duduk di tepi kolam renang itu dengan satu kaki yang masuk ke dalamnya. Aku melihat gelagat bahwa ia akan menyeburkan dirinya ke dalamnya dan aku yakin hal itu bukanlah ide yang bagus. Kolam itu memiliki kedalaman sekitar 150 meter dan aku tahu ia akan tenggelam. Bahkan bila ia dapat berenang sekalipun. Bergegas kurapatkan jubah handuk ini dan berjalan cepat ke arahnya.
"Hai," sapaku saat aku sudah berada di sampingnya.
Ia seperti terkejut dan menarik sebelah kakinya yang sudah basah tadi. Ia menengadah. "Miss Granger."
Aku berlutut di sampingnya. "Kau mau berenang?"
Ia tak menjawabnya. Aku melihat keningnyanya sedikit berkerut-kerut. "Scorp?" tanyaku lagi.
"Yeah," sahutnya.
"Kau mau berenang?" aku mengulang kembali pertanyaanku.
Ia mengangguk, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku tahu ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan, tapi entah kenapa tak terucapkan olehnya. "Tapi?" aku mencoba memancingnya.
Scorpius menatap ke dalam kolam renang itu. "Tapi aku takut tenggelam karena terlihat sangat dalam."
Aku menatapnya. "Kau bisa berenang?"
Ia menggeleng padaku. "Aku tak tahu. Aku pernah mencobanya, tapi entahlah," ia menjawab dengan begitu polosnya.
Mata kelabu yang serupa dengan milik ayahnya menatapku kemudian kembali menatap ke dalam kolam renang di hadapan kami. Aku tersenyum melihatnya. Entah apa yang ada di kepalaku, tapi aku benar-benar merasakan sesuatu saat melihat bocah lima tahun ini. Setiap gerak dan kata yang keluar dari mulutnya terlihat begitu menggemaskan.
"Kau mau aku mengajarimu berenang?"
Ia sontak menatapku. "Kau serius, Miss Granger?"
Aku mengangguk. "Tapi tidak disini, disana," aku menunjuk kolam renang yang di peruntukan untuk para tamu anak-anak di hotel ini.
"Terima kasih, Miss Granger," aku melihat binar bahagia di matanya.
Senyumku benar-benar merekah saat melihat kebahagian itu. Ia terlihat sangat bahagia hanya dengan tawaran mengajarinya berenang. "Panggil aku Emma."
"Emma."
Scorpius benar-benar pintar. Ia cepat dan tanggap dengan apa yang aku ajarkan. Awalnya aku menyuruhnya untuk berpegangan pada tepi kolam renang anak sementara aku membantunya untuk meluruskan kaki dan menggerakan kakinya. Saat aku yakin kakinya sudah lurus dan ia dapat menggeraknnya dengan baik aku membantu memegang tangannya sambil menyusuri kolam renang ini. Saat aku melepaskannya, ia benar-benar sudah dapat berenang dengan sendirinya. Hanya membutuhkan waktu setengah jam. Walaupun ia terkadang kewalahan karena tak dapat mengambil napas dengan baik dan terkadang hilang keseimbangan di tengah-tengah. Tapi hal ini tetap menakjubkan bagiku. Saat berumur lima tahun, aku membutuhkan waktu seharian penuh saat Dad bersikeras mengajariku berenang.
Saat kuedarkan pandanganku ke arah sekitar ada beberapa keluarga yang juga berenang bersama. Sebuah keluarga kecil berada tepat di seberangku. Seorang ayah, ibu, dan balita perempuannya. Ada juga seorang ibu yang berteriak pada anak-anaknya agar tak berlarian di tepi kolam renang. Mereka tampak bahagia. Apakah aku akan mengalami tahap seperti itu? Aku dan keluarga kecilku pergi berlibur dengan semua kehebohan dan keributan yang pasti terjadi di dalamnya. Aku menggeleng. Berusaha menetralisirkan pikiran dari khayalan aneh tadi. Bahkan diumur yang telah menginjak kepala tiga seperti ini, aku masih sendiri. Bisa-bisanya aku berpikir tentang membentuk keluarga. Lagipula aku tak yakin ingin memiliki anak. Bagaimana bila mereka akan menyusahkanku? Menangis di tengah malam, merengek, dan sebagainya. Semua itu adalah faktor penghambat karier, bukan?
Pikiranku kembali pada realita sekarang. Scorp masih asik dengan kemampuan barunya. Tepat di tengah kolam renang anak ini ia melambai padaku dan refleks aku melambai padanya. "Jangan terlalu jauh," aku setengah berteriak padanya.
Scorp hanya kembali melambai dan mengangguk. "Berapa umurnya?" aku sontak terkejut dengan suara yang muncul tepat di sampingku. Seorang wanita yang terlihat seumuran denganku baru saja bertanya padaku.
"Lima tahun," jawabku canggung pada wanita yang tak kukenal itu.
Ia mengangguk dan aku kembali mengawasi Scorp yang perlahan kembali ke arahku. "Ia sangat menggemaskan," ujar wanita itu lagi.
"Yaa, sangat."
Wanita itu menatap Scorpius dengan senyum di wajahnya. "Dia tak mirip denganmu pasti ia mirip dengan ayahnya, bukan?"
Aku langsung menatap wanita di sampingku. Pernyataan macam apa tadi? Apakah aku tampak seperti wanita yang telah memiliki anak? "Kau ibu yang beruntung memiliki anak yang begitu tampan dan menggemaskan seperti ia."
Mataku melotot mendengarnya. Dia gila. Baru saja aku akan menglarifikasinya, wanita itu keluar dari dari kolam dengan melambai pada seorang pria dengan seorang bocah kecil di tangannya yang kuasumsikan sebagai anak dan suaminya. "Have a good day," ujarnya sebelum benar-benar meninggalkanku.
"You too," balasku.
Aku kembali menggeleng mencoba mengembalikanku ke alam nyata. Keluar dari semua keterkejutan atas pernyataannya tadi. "Emma," ujar Scorp yang benar-benar membawaku lepas dari keterkejutan tadi.
"Scorp, ayo kembali ke hotel. Matahari sudah semakin meninggi," ujarku.
Ia mengangguk dan aku membantunya keluar dari kolam. Aku membantunya untuk membilas diri mengeringkan diri. Dia benar-benar datang ke kolam ini tanpa persiapan sama sekali. Aku bertanya-tanya dimana Draco. "Kau disini bersama ayahmu?"
Ia mengangguk dengan tanganku yang berusaha mengeringkan rambutnya. "Lalu dimana ia sekarang?"
"Saat aku kemari ia sedang tak berada di kamar."
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Aku menyelinap keluar tanpa sepengetahuannya dan Ursula."
Pemberontak kecil. Aku tak tahu apa motifnya sampai ia harus pergi tanpa sepengetahuan ayahnya. Demi Merlin! Ia masih lima tahun. Lalu dimana Ursula. Apakah ia tak merasa tuan kecilnya ini menghilang selama beberapa waktu ini? "Kau harus kembali sebelum ayahmu mencemaskanmu, Scorp."
Lagi-lagi ia hanya mengangguk. "Apakah kau dan ayahmu melakukan liburan singkat disini?"
Ia menggeleng. "Ayah mengatakan bahwa ia harus bertemu seseorang disini dan sangat penting, jadi aku ikut bersamanya."
"Aku tahu ia sangat penting sampai Ayah harus membatalkan janji akhir pekan kami di New York," tambahnhya lagi.
Aku sedikit terkejut dengan jawabannya. "Kau selalu menghabiskan akhir pekan bersamanya?"
Untuk kesekian kalinya ia mengangguk. "Ayah berjanji akan mengajakku ke Magnolia lagi dan mungkin berkendara ke Hampton, tapi karena orang penting ini ia harus membatalkannya dan membawaku ikut bersamanya."
Untuk kesekian kalinya bocah ini mengejutkanku dengan jawabannya. Aku tahu Draco sangat mencintai anaknya. Dan sepengetahuanku pula sebisa mungkin ia tak akan mengecewakan putra kecilnya ini. Namun, ia datang kesini. Diakhir pekan. Akhir pekan yang seharusnya ia habiskan bersama putra semata wayangnya. Ia kesini untuk menemuiku. Fakta yang cukup membuatku tak sanggup lagi berkata-kata lagi di pagi ini.
Setelah kurasa ia cukup kering, aku meminta jubah handuk anak untuknya. Seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat familiar bagiku datang dengan sedikit terburu-buru ke arah kami saat aku baru saja mengikat simpul jubah ini. "Mr. Scorpius," ujarnya. "Akhinya aku menemukanmu," tambahnya lagi.
"Ia bersamaku sedari tadi, Ursula."
Ursula terkejut melihatku kemudian tersenyum. "Miss Granger."
"Kita harus kembali ke kamar, ayahmu telah kembali dan ia mencemaskanmu, Mr. Scorpius."
"Ayo," ujar bocah ini.
Saat ia sudah berjalan beberapa langkah ia berbalik untuk menatapku. "Emma."
"Yaa," sahutku.
Ia kembali berjalan padaku. Menghampiri diriku yang sudah kembali duduk di kursi malas kolam renang ini. "Terima kasih," ujarnya tersenyum lalu berjinjit untuk mencium pipiku.
"Kembali, Scorpie."
Aku kembali tersenyum padanya bahkan saat ia tak lagi tampak oleh penglihatanku.
000
Dari kejauhan aku melihat rambut hitam milik Alex dan Bree di teras restoran hotel ini. Hanya mereka berdua minus Olivier. Aku menghampiri mereka segera. Setelah meletakkan tas yang berisi perlengkapan berolahragaku tadi, aku bergegas menuju meja panjang buffet dan mengambil beberapa pancake dengan bacon dan sosis serta teh yang tersedia. Aku langsung datang kemari karena Alex mengatakan di pesan singkatnya bahwa mereka telah terlanjur lapar. Mereka mengatakan aku bagai berabad-abad menghilang saat berolahraga. Olivier tak mau meninggalkan kamar kami. Aku tak tahu apa yang ia lakukan denga Bree sampai tak sanggup keluar dari tempat tidurnya. Bree tampak semakin bercahaya pagi ini. Rambut hitam lurus sebahunya dan mata biru kelamnya membuat ia semakin cantik.
"Kau berhasil membakar berapa banyak lemak?" Alex melemparkan lelucon padaku. Mata biru kelamnya yang serupa dengan Bree tampak semakin besarsaat ia menggodaku.
Kupukul lengannya yang semakin lama semakin keras dan padat berkat kegiatan olahraganya setiap akhir pekan di sport club tempat ia bergabung. "Aku bertemu dengan Scorpius."
"Putra Malfoy?" Bree menaruh jus jeruk yang tadi ia pegang.
Aku mulai menceritakan tentang semuanya. Pertemuanku, pelajaran renang singkat, sampai pengakuan lugu dari anak itu tentang ayahnya yang rela membatalkan janjinya dan membawanya kesini demi berbaikan denganku. "Apa yang aku harus lakukan sekarang?"
"Pilihan ada di tanganmu, babe," jawab Bree yang kembali memulai sarapan tahap duanya.
Aku menghela napas. "Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan?" lanjut Bree yang aku lihat masih sibuk dengan waffle dengan cokelat dan almond di atasnya.
Kini Alex ikut mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalian berdua adalah manusia paling plin-plan sedunia."
Mereka hanya terkekeh. "Apakah kalian lupa siapa yang bersikap dingin saat ia datang menghampiri kita?"
"Aku lupa," kekeh Alex sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Alex!" aku benar-benar kesal padanya.
Untuk kesekian kali aku mengatakan bahwa Alex tak pernah pantas untuk menjadi tempat curahan hati bagi siapapun. "Aku serius," jawabku putus asa pada dua sahabat di hadapanku ini.
"Kau menyukainya, aku tahu itu, Ems," ucap Bree. "Bila ia adalah kebahagiaanmu maka dapatkan," lanjutnya.
Kembali aku menghela napas. "Dan bila ia kembali menyakitimu, itu adalah tugas kami untuk menghabisinya. Bila perlu aku akan memberitahu Harry dan Ron untuk datang membantuku," ucap Alex sambil memeriksa ponselnya dengan satu tangan lain memegang cangkir yang terisi kopi dengan wangi semerbak. Wajah tampannya tak pernah diikuti dengan kecerdasannya dalam berpikir.
Aku terkekeh bercampur ngeri mendengarnya. "Lagipula semua pria memang pernah melakukan kesalahan," ia menatapku dengan senyuman culas yang ia miliki.
"Shut up, Alex!" kini Bree yang memukulnya.
Kami bertiga tertawa dan aku siap berbaikan dengannya.
000
Penerbangan kami dijadwalkan siang ini pukul dua siang. Dari Palm Springs transit satu jam di LAX lalu di lanjutkan ke JFK. Jangan tanyakan mengapa kami perlu repot-repot mengejar pesawat. Melakukan check-in, menunggu boarding, sampai menunggu barang-barang kami berjalan di conveyor. Semua hal itu adalah hal yang sangat lazim dilakukan oleh para muggle dan kami juga menyukai semua kegiatan itu. Rasanya benar-benar hidup. Menikmati setiap proses yang ada. Bukan berarti aku tak lagi suka ber-Apparate. Aku tetap menyukainya. Hal itu dapat meringankan semuanya, tentunya aku lakukan bila benar-benar mendesak.
Sesampainya di New York, tubuhku terasa ambruk sekali. Aku tahu mengapa orang-orang tak suka dengan perbedaan timezone. Benar-benar tak baik bagi tubuh. Saat tubuhku menyentuh ranjang, penglihatanku meredup dan tidur adalah teman terbaik saat ini.
000
Manhattan, New York City
Pagi hari New York. Semua hiruk pikuk yang ada kembali menyapaku. Alex sudah menghilang dari kamarnya. Ada secarik kertas yang mengatakan bahwa ia sudah terbang ke Chicago untuk bertemu dengan nasabah barunya. Los Angeles, New York, dan kini Chicago. Alex si pria gila. Setelah menyesap teh pagiku, aku juga bergegas menuju kantor. Aku rasa Bree masih tidur, lagipula ia bukanlah morning person dan gallery-nya baru buka pukul 10 nanti. Alex juga mengatakan bahwa aku dapat menggunakan mobilnya dan hari ini dengan senang hati aku akan menggunakannya. Aku akan memilih menghabiskan sedikit waktu terjebak macet dibandingkan dengan mengejar subway dan beradu badan di dalamnya dengan New Yorker lainnya. Aku mampir di sebuah food truck langganan yang menjual roti panggang dengan tiga rasa keju berbeda di dalamnya yang berjarak beberapa blok dari gedung kantorku. Sarapan yang selalu dapat diandalkan saat kami benar-benar kehabisan stok apapun di penthouse seperti hari ini.
Gelas kertas berisi teh yang masih mengepul dan sepotong roti di tanganku menemani perjalananku ke kantor pagi ini. "Pagi, Miss Granger," sapa Mecca.
"Pagi," jawabku.
"Bagaimana liburanmu?" tanyanya dari balik mejanya.
"Never been better," jawabku lalu masuk ke dalam ruangan.
Seharian ini aku disibukkan dengan klien baru kami. Setelah separuh hari ini aku meeting bersama Ramirez dan Sam, siang harinya aku langsung bertemu dengan klien baru kami. Aku hanya meninggalkan kantor selama seminggu dan semua kerjaan ini datang seperti air bah. Beruntung sekali aku membawa mobil Alex. Mobilitasku benar-benar tertolong berkatnya. Sekitar pukul delapan malam semua pekerjaanku untuk hari ini telah terasa cukup. Pikiranku sekarang tertuju pada Draco Malfoy. Apakah ia sudah kembali ke penthouse-nya? Kuulur waktu satu jam lagi sebelum aku memacu sedan hitam metalik milik Alex ke penthouse-nya.
Bree mempertanyakan mengapa aku tak langsung menemuinya saat kami berada di Coachella. Aku membutuhkan satu hari lagi untuk memastikan keinginanku. Lagipula harga diriku terlalu mahal sepertinya. Baru saja aku menolaknya semalam, aku tak mungkin tiba-tiba datang dan mengajak gencatan senjata untuk berbaikan. Tidak ada dalam kamusku. Jadilah aku sekarang berdiam diri di balik kemudi, suara merdu John Meyer lagi-lagi menemaniku dalam keheningan ini. Ada rasa takut dan khawatir dalam diriku. Bagaimana bila ada wanita lainnya di penthouse-nya nanti? Atau bagaiamana bila ia telah berubah pikiran mengenaiku? Bahwa ia tak lagi menginginkanku seperti kemarin. Aku menghela napas. Kuperiksa wajahku di cermin kemudian merapihkan ikatan rambutku. Setelah meneguk air mineral botol yang tadi sempat kubeli, aku turun dengan sejuta perasaan yang ada.
Ding
Dengan satu bunyi yang sangat familiar itu, aku keluar dari lift dan melangkah masuk ke hall penthouse Draco. Suasananya tampak seperti biasa. Penerangan yang remang dengan keheningan yang ada. Aku melangkah menuju ruang tengah dan menemukan Draco duduk di sofa tepat di depan perapian. Ia masih mengenakan setelan kantor minus jas dengan dasi yang telah ia sampirrkan dan lengan panjang yang telah ia gulung. Di hadapannya ada beberapa berkas dan MacBook yang berada nyaman di pangkuannya. Anak rambutnya jatuh dan segera ia menyelipkannya lagi. Aku tersenyum melihatnya. Perlahan aku berjalan dengan stilleto yang sengaja sedikit kuhentakkan. Perhatiannya sontak tertuju padaku. Aku tak pernah melihat ia begitu terkejut. Bahkan bila kubandingkan dengan ekspresi pada malam aku memergokinya bersama wanita pirang yang ia panggil Paigeitu, ekspresinya kali ini benar-benar berbeda.
"Hermione," ucapnya dan saat ia mengucapkan namaku ekspresi dingin telah kembali ke tempatnya.
Aku tersenyum untuk kemudian menyeringai. Ekspresi khas miliknya. "Hai, Malfoy," ujarku semakin dekat menghampirinya.
"Terkejut?" tanyaku saat telah berhadap-hadapan dengannya.
Kini ia yang menyeringai padaku. "Kejutan yang tak terduga," balasnya.
"Apa yang kau duga?"
"Kau tak akan datang secepat ini."
Aku mengangguk-angguk. "Kau ingin aku pergi sekarang dan lebih mengulur waktu?"
"Hentikan kegilaanmu, Granger," ujarnya kemudian menarik pinggangku untuk mendekat padanya.
Aku dapat merasakan napasnya yang kini menyapu lembut wajahku. Hangat. Kehangatan dan harum tubuhnya ini yang dapat membuatku gila dalam hitungan detik. Tetapi, aku menggeleng dan melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku masih tersenyum saat mundur selangkah di hadapannya. Aku tersenyum kemudian menampar pipinya. "Ini untuk harga diriku."
Ia memandangku antara geram dan tak percaya, tapi aku sama sekali tak melihat bahwa ia akan membalasku. Namun sebelum ia dapat membuka suara, aku langsung menarik kerah bajunya dan melumat lembut bibirnya. Aku tahu ia tak akan mempermasalahkan tamparan tadi karena aku telah merasakan tangannya sudah sangat nyaman berada di pinggulku. Ia masih sedikit terengah karena ciuman kami saat aku berusaha melepaskannya. "Dan ini karena aku merindukanmu," ujarku lagi.
Ia tersenyum menatapku. "The Clever Granger."
Tiba-tiba saja ia menarikku ke dalam ciumannya. Aku merasa gamang. Dia sangat bergairah. Aku tak pernah merasakan Draco seperti ini. Aku merasakan keterkejutan di diriku saat bibirnya dengan ganas melumatku. Dan bukannya menolak aku malah semakin menariknya ke dalam diriku. Kulepaskan stilleto yang sedari tadi kugunakan sehingga aku sedikit berjinjit untuk mencapainya. Dalam ciuman kami yang panas dan basah ini, aku dapat merasakan ia menuntunku dan aku sampai di sebuah dinding. Ia menghela napas sejenak dengan mata yang terlihat berapi menatapku. "Dan ini untuk dirimu yang hampir membuatku putus asa."
"Sweet torture, huh?" ujarku yang masih mencoba mengatur napas.
Dan sebelum aku sempat menarik napas lebih dalam, Draco kembali menarikku ke dalam ciumannya. Aku merasakan tangannya berada di pinggangku. Kemeja yang seharusnya terselip di balik rok biru tuaku kini tersingkap. Tangan hangatnya terasa terbakar di kulitku. Tanganku telah mengalung di lehernya. Dari bibir ia beralih ke leherku dengan tangan yang masih terus menyingkap kemejaku. Perlahan ia berjalan dan menuntunku. Beruntung sekali kamar tidurnya berjarak sangat dekat dari tempat kami berada. Di dalam ciumannya aku dapat merasakan ia menutup pintu kamar ini dengan sebelah kakinya. Begitu kurasakan kami sudah berada di kamarnya, aku tersenyum menggoda padanya. "You really on fire, Granger," ujarnya saat ia menatapku.
Pupil matanya tampak membesar saat menatapku. Saat aku kembali menarik kerahnya aku dapat merasaka ada yang telah mengganjal dari balik celananya. "Look who's really on fire now, Malfoy," aku mengecup perlahan lehernya.
Dan langsung saja aku berhasil melucuti semua textil yang berada di tubuhnya, begitu juga denganya. Ia mendorongku ke ranjang dengan menarik ikatan rambut yang baru saja kurapihkan tadi di mobil. Ia kembali menciumku. Menciumi seluruh tubuh yang dapat dijangkaunya. "What do you want now?" ia berbisik di telingaku.
"Just make love to me," ujarku. "Take me senseless," tambaku lagi saat ia tiba-tiba menggigit daerah sensitiveku.
Ia menatapku kembali. Tubuhnya yang besar terasa menutupi seluruh tubuhku. Ia menyeringai. Menyeringai untuk kesekian kalinya. "Right now?"
"Yeah, please," ujarku saat ia perlahan menuruni tubuhku.
Tak perlu banyak pemanasan lagi. Bagiku kegiatan kami di ruang tengah sampai ia mendorongku ke dinding tadi termasuk bagian dari foreplay. Dan sekarang adalah penyelesaiannya. Draco sudah berada di atasku mengambil posisi dirinya dan kemudian ia memasukiku. Aku sedikit terkejut dan mengeluarkan suara mirip seperti teriakan. Hell! Bahkan aku tak mengenali suaraku sendiri. Aku seperti menjadi pribadi lain sekarang. Ia mulai menggerakan tubunya. Aku dapat melihat bahwa Draco berada dalam pengaruh adrenalin yang tinggi sekarang. Rahangnya tampak mengeras. Dia kembali menciumiku. Ganas dan aku terasa seperti terbakar di dalamnya. Draco meremas lenganku sekarang. Sangat kuat dan aku yakin akan meninggalkan bekas keesokan harinya. Tak hanya itu semua kegiatannya tadi di leher dan daguku juga kuyakini akan menimbulkan bekas. Dan gilanya aku tak peduli akan hal itu. Saat kami mencapai puncaknya kuku sudah menancap di punggungnya. Punggung dengan luka-luka yang telah terlihat samar yang sampai sekarang belum kuketahui penyebabnya. Saat aku meneriakan namanya, kami sudah mencapai puncaknya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atasku. "That was rough, huh?" ujarnya yang terdengar seperti berbisik saat ia membenamkan wajahnya di leherku.
Aku terkekeh mendengarnya. "Amazing," tambahku.
Kemudian ia menjatuhkan dirinya tepat disampingku dan menarik selimut untuk menutupi. "Make up sex is really awesome," ucapku dengan usaha menstabilkan pernapasan.
Dia ikut tertawa di sampingku. "We should fight often," refleks aku mencubit dirinya.
Kami diam sesaat. Hanya suara tarikan napas masing-masing yang menghiasi keheningan kamar ini. Tangannya perlahan menarikku ke dalam pelukannya. Aku menelungkup untuk dapat memandangnya. Ia bersandar di headboard ranjang ini dengan tumpukan bantal sementara aku meletakkan daguku dengan nyaman di dadanya. Tangannya mengelus rambutku dengan sesekali menyelipkan rambut di balik telingaku. Saat aku tersenyum ia menyambutnya dengan senyuman pula. "Aku harus pulang," ujarku lembut padanya.
"Kau benar-benar perusak suasana," jawabnya.
"Aku tak membawa perlengkapan sama sekali."
Ia menggeleng. "Kau memilikinya disini."
Aku mengerutkan kening atas pernyataannya. "Ada beberapa pasang stelan kantor dan beberapa gaun untukmu lengkap dengan semua pakaian dalamnya," kekehnya kemudian menciumku.
Draco Malfoy dengan segala kekayaan dan kejutannya. "Kapan kau membelinya?"
"Saat kau di Aspen. Aku kira kau akan membutuhkannya saat kau bermalam disini, tapi semua gejolak hormon wanitamu membuat semua usahaku tampak sia-sia."
"Gejolak hormon akibat wanita pirang yang menggelayut manja di lenganmu yang ternyata adalah mantan pacarmu," koreksiku dengan nada ketus.
Dia hanya tertawa. Lalu kembali menciumiku dan dalam sekejap kembali mendorongku. Kini ia kembali berada di atasku dengan dua lengan kokoh yang menumpunya. "Kau akan bermalam?"
"Aku rasa," tawaku.
"Another round?" tanyanya dengan menyeringai.
Aku menarik untuk menciumnya. "It's all up to you, honey."
000
Aku sempat melihat jam yang berada di sudut kamar ini. Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam sementara aku dan Draco masih belum tertidur. Aku yakin sekali kami sama-sama kelelahan, tapi bergelung manja di dadanya membuatku merasa tetap bertenaga. Ia sempat keluar untuk mengambil wine serta gelasnya dan beberapa kudapan untuk kami. Ia mendengarkan semua ocehan sementara ia mendengarkan dan sesekali mencium rambutku. "Ada berapa banyak wanita yang pernah menamparmu?" tanyaku menemukan topik baru dalam percakapan kami.
Ia tersenyum kemudian menggeleng. "Benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Hanya kau yang berani meninju dan menamparku."
Aku teringat kejadian kami saat berada di tahun ketiga ketika hari eksekusi Buckbeak. Aku tersenyum mengingatnya. "I'm the best," ujarku.
Dia hanya tertawa dan menciumku untuk ratusan kalinya.
"Tak ada acara kabur-kaburan lagi seperti kemarin, Granger," ujarnya di tengah perbincangan kami.
Aku tertawa mendengarnya. "Akan kuusahakan."
Dia membenarkan posisinya saat mendengar jawabanku. "Tak ada kabur-kaburan apalagi melibatkan The LeClaire Boy itu," ucapnya.
Aku terkejut ia menyebut Alex seperti itu. "Oh ayolah, hon. Alex adalah sahabatku," jawabku padanya.
"Jangan menyebut namanya apalagi saat kau berada di ranjang bersamaku."
"You're jelous, huh?" tembakku.
"Just disgusted."
Aku memukulnya. "Jangan berbicara seperti itu tentang sahabatku," aku bersungguh-sungguh padanya.
"Okay, ayo ganti pembicaraan ini, tapi aku benar-benar tak mau kau kabur lagi."
Aku kembali tertawa. Akhirnya kami sampai pada pembicaraan kenapa aku tiba-tiba datang kesini dan aku menceritakan semua kejadianku dengan Scorpius. Dan yang membuatku terkejut bahwa Scorpius tak bercerita padanya tentang pertemuan kami. Draco mengatakan bahwa putranya bukanlah orang yang terbuka bahkan pada ibu kandungnya sendiri. Aku juga mengatakan bahwa ia harus berterima kasih pada putranya. Mungkin bila aku tak bertemu dengannya, aku tak akan berada di ranjangnya malam ini.
"Tidurlah," ucapnya saat aku menguap semakin sering.
Aku mengangguk. "Aku senang dengan panggilan barumu padaku," ujarnya.
Aku kembali tersenyum. "Honey," ujarku kembali.
Kali ini aku benar-benar mengantuk. Senyuman di wajahnya menjadi pengantar tidur bagiku.
000
Draco Malfoy benar-benar the morning person. Rasanya baru sebentar kami tertidur dan ia sudah menghilang dari sisiku. Matahari pagi New York sudah berusaha menembus mataku. Kuraih ponsel di nakas ranjang ini. Sudah pukul tujuh pagi. Aku sudah mendengar Draco di dalam kamar mandinya. Kuraih kemeja yang tadi malam ia kenakan dan memakainya. Rambutku terlihat sangat berantakan dan dengan cepat kuambil karet rambut dan membuatnya menjadi gulungan. Saat kugeser pintu kamar mandi ini, Draco hanya mengenakan handuk di pinggangnya sambil mencukur rambut-rambut halus di wajahnya. "Selamat pagi," ujarnya.
"Pagi," jawabku yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ini.
Aku memperhatikannya sesaat. "Jangan dicukur sampai habis, aku suka elemen kasar yang ditimbulkannya."
"As you wish, Hermione."
Jawabannya seperti dosis baru penyemangat hariku. "Aku lapar," ucapku.
"Ursula atau pelayan lain sudah menyiapkan sarapan untuk kita."
Aku mengangguk dan membalikkan tubuh saat ia memanggilku. "Hermione."
Aku kembali menghadapnya dengan wajah bertanya. "You look hot with that stuff," ia melihatku dengan seringaian yang ditutupi oleh busa putih di separuh wajahnya.
"And you look hot with or without that towel," jawabku terseyum dan meninggalkannya.
Ruang makan yang tepat berdampingan dengan ruang tengah penthouse ini tampak kosong. Tak ada Ursula atau kehadiran pelayan lainnya. Bahkan aku tak melihat kemunculan Joe. Namun semua sarapan kami telah tersedia di kitchen counter, bahkan Earl Grey Tea-ku. Dengan sumringah aku menyeduhnya dan memakan sepotong muffin. Draco benar-benar menguras habis tenagaku tadi malam. Ada suara derap kaki mendekat. "Aku di kitchen counter, hon," aku sedikit mengeraskan suara.
"Draco, apakah kau sudah pergi?"
Suara wanita. Aku langsung berbalik dan menemukan sosok wanita berambut gelap yang juga tampak sama terkejutnya denganku. Kuletakkan kembali muffin yang baru separuh kumakan. "Hermione Granger," ujarnya dengan nada terkejut.
"Greengrass."
Tetiba saja Draco muncul di belakang Astoria Greengrass dengan ekspresi yang sama terkejutnya dengan kami. "Astoria," ujarnya.
Situasi apalagi ini.
000
to be continued
How's this chap? I hope u like it and find ur answer in this chap or maybe in the next. Actually, I got inspiration for Alex character was from my brother's friend mixed up with some other characters in movie, nothing special btw hehe.
So, leave ur review. I'm dying to know what u think. YOU ROCK GUYS. Love U!
