..

..

[Chapter 10] – Forgivable

..

I receive some critics, but I don't receive any plagiarism.

This storyline belong to Channie10

Kyungsoo benar-benar ingin menangis dan menjerit sekarang, ia bisa melihat siluet wanita berambut panjang yang berdiri diambang pintu. Ia bahkan tak mampu hanya untuk mengangkat kepalanya dan melihat sosoknya. Ia seakan terpojok dengan segala amarah yang dimilik wanita itu.

Ia merasakan keringat dingin mengalir dipelipisnya saat suara stiletto itu menggema diruangan. Tangannya mengepal erat dan ia menggigit bibirnya. Sebuah tangan memegang rahangnya, dan membawa matanya secara paksa untuk menatap sepasang bola merah mengerikan didepannya. "Kau… kau harus mati"

Bulu romanya meremang mendengar suara rendah wanita itu yang terasa begitu menyakitkan. Kyungsoo makin menelan ludah saat kuku panjang Krystal menari diatas wajahnya. "Kau cantik. Tapi sayangnya, kau tak bisa memiliki Minho"ucapnya dan Kyungsoo mengerutkan alisnya.

"Jika kau tahu. Minho hanya milik Taemin seorang, dan selamanya akan begitu"

XXXXXXXXX

Kyungsoo membuka matanya. Ruangannya berbeda ia bukan berada didalam ruangan terang dan duduk diatas kursi kayu tua. Ia ada disebuah kamar sedang berpencahayaan minim dan ia merasakan pantatnya yang duduk diatas ranjang empuk.

Ia tak tahu dimana ia berada, ia benar-benar takut dan rasa percayanya seakan mengecil, mengecil, dan akhirnya hilang. Ini tak bisa dipercaya.

Seorang pria memasuki kamar itu; rambutnya hitam legam, matanya cukup bulat, dan tubuhnya juga cukup jangkung. Kyungsoo mengerutkan alisnya saat ia bukan melihat pria jahat berjenggot panjang, melainkan pria tampan dengan pakaian hitamnya.

Pria itu duduk dipinggian ranjang, "Kau Do Kyungsoo?"tanyanya dengan suara rendah, dan Kyungsoo mengangguk.

"Aku akan membiarkanmu hidup bahagia dengan si telinga layar. Tapi berjanjilah akan bahagia bersamanya"ucap pria itu dan Kyungsoo lagi-lagi mengerutkan alisnya. Ucapan pria didepannya begitu membingungkan.

..

..

Ia tak tahu sudah berapa lama ia hanya duduk diatas ranjang dengan tangan terborgol dan ia merasa kakinya kaku dan tak bisa digerakkan. Ia merasa tersiksa. Ia mengedarkan pandangannya, ia rasa ini sudah pagi dan ia ingin menyerap cahaya matahari banyak-banyak untuk tubuhnya. Ia butuh itu. Sangat.

Matanya terasa sedikit bermasalah saat ia tak bisa melihat dengan jelas sosok wanita berambut panjang hitam dengan gaun hitamnya yang jatuh hingga ketumit. Ia butuh beberapa kali kedipan hingga bisa menentukan fokusnya. "S-siapa k-k-kau?"tanyanya dengan tergagap.

Wanita itu berjalan kearahnya, tatapan matanya membuat Kyungsoo merasa terpojok dan mengerdil. Tenggorokannya terasa panas dan terbakar. "Kau. Tak. Perlu. Tahu. Siapa. Aku"ucapanya dengan tegas dan lirih.

Kyungsoo menutup matanya dan merasakan kristal bening itu mulai merambat dari matanya dan jatuh kepipinya. Bahkan saat ia menangis, air matanya terasa begitu panas dan menyakitkan.

XXXXXXXX

Sosok pria itu berdiri dibelakang pagar besi balkon. Taksedo hitam yang membalut tubuhnya terlihat begitu pas. Ia menoleh saat seseorang membuka pintu kamarnya dan berdiri diambang pintu. "Minho-Hyung? Apa yang kau lakukan disini?"

Minho tak menjawab. Ia menutup pintu kamar Taemin dan berjalan kearah Taemin, sedangkan ia hanya berdiri membeku dengan segala kemungkinan yang membayang-bayanginya.

Minho berhenti tepat didepan Taemin dengan jantung Taemin yang senantiasa terus berdetak, "Kau cantik"ucapnya dengan tangannya yang ada dipipi kanan Taemin.

Taemin membelalakkan matanya. Ini terasa, indah. "A-a-apa maksudmu?"tanyanya dengan kedua pipinya yang bersemu merah dan rambut hitamnya yang berantakan karena angin.

"Tidak, kau hanya cantik"jawabnya dengan tegas. Mata hitamnya menatap mata Taemin dan merasakan sebuah rasa hangat yang menjalar dihatinya. Dan dengan itu ia membawa bibirnya keatas bibir Taemin.

Tak ada lumatan, hanya menempel dan penyaluran sebuah rasa dihati yang tak bisa dikatakan dengan rangkaian kalimat. Mereka menyudahinya, "Aku mencintaimu"

XXXXXXXX

Sehun mendapat sebuah surat pagi ini. Dengan amplop putih lusuh dan kertas coklat yang usang. Disana tertulis bahwa ia harus pergi ke istana Jongin yang ada di Northwide. Ibu Jongin akan memberitahukan sebuah hal padanya.

Sehun mengerutkan alisnya, bahkan ia tak pernah bertemu dengan ibu jongin –oh ibu Jongin? Kim Taeyeon?

..

..

Ia telah duduk disamping bangku kemudi didalam mobil Baekhyun. Hanya ia orang teraman yang bisa ia mintai pertolongan sekarang. Ia cukup buta arah dan ia juga anak yang tak tahu apa-apa. Kuper.

"Apa yang kau lakukan ke Northwide?"

Sehun menggigit mulut dalamnya, ia tak tahu harus berbicara apa. "U-uh, Baekhyun-Hyung, aku harus bertemu seseorang"jawabnya.

Baekhyun mengangguk, "Baiklah, berhati-hatilah"

XXXXXXXX

Mereka berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah bergaya klasik Eropa. Mobil Baekhyun berhenti disamping bangunan penjaga, dan Sehun keluar dari dalam mobil itu. "Baekhyun-Hyung, terimakasih. Aku benar-benar berhutang budi padamu"

Dari dalam mobil, Baekhyun melirik Sehun dari kaca mobilnya kemudian mengangguk dan tersenyum. "Aku pergi Sehun. Dah"

Dan setelah itu, mobil Baekhyun mengilang dari pandangannya.

Sehun memutar tubuhnya dan berhenti di bangunan penjaga. Seorang pria tambun berdiri dan menatapnya, "Apa yang kau lakukan disini?"tanyanya ketus.

Sehun menggigit mulut dalamnya dan meremas tangannya, "Uh, aku hanya mendapat surat ini dari Ibu Jongin. Aku harus bertemu dengannya"jawabnya sambil menundukkan kepalanya.

Sang penjaga mengambil sebuah surat yang diberikan Sehun dan membuka gerbang besarnya. Kemudian ia berkata, "Silahkan masuk, Nyonya Kim telah menunggu anda"ucapnya.

Dengan hati lega, Sehun berjalan kedalam. Matanya menyisir halaman depan rumah Jongin yang luas. Bunga mawar dan tulip tumbuh dan dijaga dengan baik disini, dan tentang bunga mawar, ia kembali mengingat Kyungsoo.

Sehun mengetuk pelan pintu besar berwarna putih didepannya. Kemudian, seorang maid datang dan menyuruhnya masuk. Keadaan dalam rumah Jongin telihat berbeda dengan saat pertama kali ia datang. Sehun menjatuhkan bokongnya diatas sofa marun empuk, dan disuguhi segelas lemonnade dan sepiring bikuit.

Saat ia tengah meminum lemonade-nya, suara gemeletuk stilleto meng-interupsi pendengarannya. Ia membalikkan badannya dan bisa melihat sosok wanita; dengan rambut brunette, kulit putih, bibir merah, dan tubuh pendek.

Sehun berdiri dan membungkukkan badannya. Ia pikir [mungkin] keluarga Jongin adalah bangsawan ataupun semacamnya.

Kekehan geli yang terdengar ditelinganya membuat semburat merahmuda dipipinya timbul. Ia benar-benar malu. "Kau Do Sehun bukan? Kau benar-benar lucu, pantas saja Jongin menyukaimu"

Sehun mengerutkan dahinya. Apa? Jongin? Menyukainya?. "Maaf nyonya, tapi saya tak tahu apa yang anda bicarakan"ujarnya sambil menatap wanita itu.

Nyonya Kim menatapnya dengan senyum segaris, "Kau tahu dengan jelas apa yang sedang kubicarakan menantu"ucapnya segera membuat semburat merahmuda timbul dipipi Sehun.

Sehun menundukkan kepalanya dan berkata, "Nyonya, apa yang ingin anda katakan?"

Nyonya Kim menatapnya sendu kemudian menyuruhnya duduk. Ia memegang tangan Sehun, "Kau tahu persis apa yang sedang terjadi dan dialami kakakmu, bukan?"ucapnya memulai. Sehun hanya diam seraya menundukkan kepalanya.

Nyonya Kim menghela nafasnya seraya mengangkat tangannya guna mengelus rambut Sehun. "Dia dalam kesulitan yang berat. Dia diselimuti takdir menyeramkan yang tak pernah kau bayangkan, benar?"ucapnya lagi.

Sehun mengangkat kepalanya, menatap wajah Nyonya Kim dengan air mata dipelupuk. "Lalu apa yang harus kulakukan? Aku harus membantunya, kan?"ucapnya dengan nada sedikit sesegukan.

Ia kembali menundukkan kepalanya, bahunya bergetar. Nyonya Kim mengangkat alisnya, "Membantunya? Yah, kau butuh melakukannya. Tapi bukan dengan cara berperang dengannya"

Sehun kembali mengangkat kepalanya. Matanya telah memerah begitu juga hidungnya. "Lalu, apa yang harus kulakukan?"

Nyonya Kim tersenyum segaris, "Bertemu dengan Kim bungsu, bicara dengannya"

XXXXXX

Sehun duduk beralaskan rumput malam itu. Ia tengah menunggu datangnya sosok 'Kim bungsu' yang telah ia undang. Setelah yang diucapkan Nyonya Kim, ia langsung mengirim surat khusus untuk di bungsu Kim.

Ia mengangkat kepalanya kala bayang-bayang tubuh mengganggunya. Jantungnya berpacu lebih cepat kala pupil mata coklat itu menghujamnya.

"Hai, kau sudah tiba. Duduklah"ucap Sehun dengan senyum segaris. Tak ada balasan darinya, hanya tatapan menghujam dan setik berikutnya sosok tubuh mungil itu telah berada disampingnya.

Pria rambut brunette itu menekuk kakinya. Menatap langit penuh bintang.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"tanyanya membunuh kesunyian. Matanya masih menatap kelangit sedang Sehun menatap dirinya.

"Tentang Kyungsoo-hyung. Apa kau tak bisa melepaskannya?"tanyanya dengan suara lirih yang hampir teredam angin malam. Sosok disampingnya menatapnya dengan pandangan menusuk. Sehun hanya mampu menundukkan kepalanya.

"Kenapa kau ingin melakukan ini? Kau hanya perlu hidup bahagia dengan Kim brengsek Jongin sekarang. Dan kau masih memperdulikan sosok kakak bajinganmu itu?"ucapnya meninggi.

Sehun masih menundukkan kepalanya, menyembunyikan mata dan hidungnya yang telah memerah. Sosok itu beranjak dari duduknya, dan kala sosoknya akan berjalan menjauh, tangan Sehun sudah ada dilengannya.

"Aku mohon –hikss.. maafkan kakakku. Dia hanya pria mungil yang polos. –Hikss… kumohon"mohonya dibarengi dengan air mata yang mengalir.

Taemin –Kim bungsu- menggigit bibirnya. Tenggorokannya tercekat saat ia akan melontarkan kata-kata pahit pada Sehun. Ia membalikkan badannya menatap wajah Sehun yang memerah karena air mata.

"Kau pikir aku marah padanya! Aku hanya tak suka ia mendekati Minho-hyung!"teriaknya tepat didepan Sehun. Ia terengah-engah dengan Sehun yang masih menangis.

"Aku hanya bisa melakukan ini –hiksss… aku hanya bisa melakukan ini untuknya! Aku memang adik yang tak berguna. –hikss.."teriaknya dengan sepenuh kemarahan. Hatinya sudah meluap menahan rasa marahnya. Kesabarannya sudah di batasnya.

"Apa kau baru menyadarinya! Kau memang adik yang tak berguna Do Sehun! Kau hanya bisa menyusahkannya!"teriak Taemin lagi, tak kurang keras dari sebelumnya.

To be continue…

Finally I continue this fanfic. It about two months already. I have to make another fic in wp. So, I'm so sorry not continue this fic as fast as you want. I have to do that as fast as I can. I'm newbie there.

There's a reader who sent me a PM. You can also send PM to me guys. I will answer it.

p.s:: please send your comment below guys. I need it to build my feel.

p.s.s:: please for give for this worst fic.

Channie10_