Author Note: Update-an keempat! DX astaga! Sungguh memakan waktu dan maafkan aku jika masih banyak misstype! Thanks for visiting and I'm so sorry not replying your reviewer. Doesn't have enough time! But I really hoping you guys want to review my story! Hehehehe… (maaf mendadak bahasa ingris.)
Disclaimed! KH belong to Square Enix and Tetsuya Nomura. I don't own anything. Just this story.
Troublesome Family
Chapter 26
HP-ku bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Sebelum mengangkatnya, aku mengintip di balik tempat persembunyianku. Headset terpasang di telinga kananku. Telinga kiriku berusaha menguping pembicaraan seorang wanita dengan dua orang pria yang berjarak 15 meter dari tempat persembunyiankku. Kutekan tombol jawab tanpa melihat siapakah yang menelepon.
"Sora, apakah kau sudah sampai di posisimu?"
"Ya," bisikku dengan pelan.
Panggilan pun terputus. Perasaan tegang tentu kurasakan. Sebisa mungkin, kucoba tenang dan tetap fokus.
Kuambil senjata yang tergantung di pinggangku. Sebuah silent gun. Aku tidak akan menembak sekarang. Aku masih menunggu aba-aba. Target kami saat ini berada di dalam ruangan dengan kaca anti peluru.
Sekali lagi aku mengintip. Pintu masuk, dengan ruangan berjendela kaca sebesar 2 meter persegi tersebut, tertuliskan ruang meeting. Kalian pasti mengira target kami merupakan suruhan orang yang menginginkan kematian mereka. Sayangnya, dugaan kalian salah. Saat ini, kami berada di markas Reaper Crown. Markas ini bukanlah markas utama. Meski begitu, untuk menemukan markas ini susahnya minta ampun. Siapa yang bisa mengira atau percaya bahwa sesungguhnya markas ini berada di ruang bawah tanah markas polisi? Tidak percaya, bukan? Apalagi kami.
Ruang bawah tanah ini bahkan besarnya tiga kali lipat dibandingkan markas polisi yang berada di atasnya. Sungguh gila!
Aku mendesah karena bosan. Aku masih harus menunggu yang lain tiba di posisi masing-masing. Misi kali ini melibatkan beberapa anggota dari The Organization.
Anggota The Organization yang ikut ada lima orang. Roxas, Axel, Demyx, Marluxia, dan Saix. Untuk Marluxia, Demyx, dan Saix, aku kurang begitu mengenal ketiganya. Demyx merupakan kakak kelasku, tapi aku jarang bertemu dengannya. Saix dan Marluxia sudah tidak bersekolah lagi. Kudengar-dengar, Marluxia merupakan seorang desainer dan Saix merupakan seorang pegawai negeri sipil.
Riku, Yazoo, dan Loz masih menyiapkan jebakkan. Kadaj sudah ada di posisinya. Begitu juga Roxas, Axel, Demyx, Marluxia, dan Saix.
Aku mendesah lagi. Masih lamakah mereka bertiga? Sudah 15 menit aku menunggu di sini dan kakiku pegal menunggunya.
"...aku mendengar suara."
Wajahku memucat saat mendengar salah seorang di dalam ruangan berbicara demikian. Jangan bilang mereka akan bergerak? Ini akan menyulitkan kita menyerang mereka meski kita sudah di posisi masing-masing.
Dengan wajah tegang, aku mengintip kemana mereka bergerak. Di ruangan tersebut ada dua pintu. Satu menuju ke tempatku, satu lagi menuju ruang bawah tanah yang lebih dalam dan bercabang-cabang, menyatu dengan jalan lain agar memudahkan pelarian. Mereka tidak menuju padaku, melainkan pintu lain. Mereka keluar dan tentu saja aku bingung apa yang akan kulakukan. Mungkinkah aku harus tetap di sini?
Bunyi derap lari langsung mengalihkan perhatianku dari ruangan itu. Di lorong panjang tempatku berada, tepatnya di belakangku, dapat kudengar suara lari menuju padaku.
Tempat bersembunyi, itulah yang membuatku panik. Tidak ingin kepanikkan menguasaiku, aku menarik napas sedalam-dalamnya dan segera menghembuskannya, lalu mencari tempat persembunyian. Untuk saat ini aku hanya bisa berharap pada tikungan lorong, tapi resiko ketahuannya sangat tinggi, sehingga tangan ini harus bersiaga menembak jika seandainya itu musuh.
Kupersiapkan senjataku. Kuletakkan punggung pistol di dahiku sambil memejamkan mata. Larinya semakin dekat dan dekat. Aku pun berlutut di lantai, berharap orang yang berlari akan berlari melewatiku dan tidak akan menyadari kehadiranku.
Semakin dekat. Aku pun bersiap-siap menembak jika seandainya dia memang melihatku. Saat sosoknya mulai terliihat, dia melompat dan membuatku kaget. Aku segera berguling ke samping sebelum terkena tembakkan. Begitu berdiri dan mengarahkan senjata, rupanya orang tersebut adalah Riku. Dia tidak sendiri. Dia bersama Yazoo.
Aku mendesah lega. "Kukira kalian anggota Reaper Crown."
"Well, kami juga mengira kau adalah anggota Reaper Crown. Kau tidak ada di posisimu, sehingga kami mengira kau diserang."
"Aku di posisiku, sejak tadi, hingga kudengar suara lari kalian berdua."
"Ah ya, kami memang berlari. Target kita bergerak, bukan?"
"Ya. Bagaimana kau tahu?"
"Karena sebagian besar anggota Reaper Crown lain bergerak. Pemimpin mereka memerintahkan mereka untuk bergerak."
"Mereka akan keluar?"
"Sepertinya?" Yazoo mengangkat bahu, menggantikan Riku yang sedaritadi menjawab.
"Kau sudah memasang bomnya?" Tatapanku pun berpindah pada Riku.
"Belum. Kalian belum memberiku aba-aba."
"Kalau begitu pasanglah sekarang, karena kita akan segera keluar dalam sesegera mungkin."
Senyuman sinis pada Riku dan Yazoo menandakan bahwa semua jebakan-dalam arti lain, bom-sudah terpasang semua.
Kuanggukkan kepala dan memasang bom di tempatku tadi menunggu. Riku dan Yazoo sibuk menghubungi yang lain, meminta mereka memasang bom yang berukuran hanya sebesar kotak pensil, tapi daya ledaknya yang sudah pasti dasyat.
Bisa kubayangkan markas polisi di atas runtuh kebawah akibat meledaknya markas Reaper Crown di bawahnya. Pastinya pemberitaan di televisi akan sangat heboh mengingat tidak diketahuinya keberadaan markas Reaper Crown di bawah markas polisi.
Menyelinap keluar setelah memasang bom di dalam sini sama susahnya dengan menyelinap keluar. Kami tetap harus menghindari anggota Reaper Crown agar keberadaan kami tidak diketahui.
Yazoo mengatur penyelinapan jalan keluar, dibantu oleh Demyx yang mengatur sesama anggotanya.
Selagi menyelinap keluar, kutemukan sebuah kartu identitas yang terjatuh di lantai. Karena tidak ada waktu, aku hanya melihat sekilas kartu tersebut tanpa membacanya lebih dalam. Pemiliknya bernama Quila, seorang lelaki. Tentunya aku tidak mengenalnya dan tidak peduli. Siapa pun dia, pastinya dia akan mati hari ini.
Terdapat masalah di dekat pintu keluar markas Reaper Crown menuju markas polisi. Terjadi keributan markas polisi. Ada bunyi tembakkan sebanyak 3 kali yan terdengar nyaring. Penasaran, tentunya. Mengapa kejadian ini bisa sangat pas dengan hari penyelinapan kami? Apakah ada hanya sebuah kebetulan saja?
"Akan kucek," kata Roxas sambil mendorong yang lain agar dirinya diberi jalan.
"Aku ikut," kataku menyusul di belakangnya.
"Sora." Riku menahanku dengan menggenggam lenganku. "Biarkan dia pergi sendiri. Terlalu banyak orang terlalu berbahaya."
'Terlalu banyak orang', katanya? Berdua dibilang banyak olehnya? Aku tidak membalas dan hanya mengangkat sebelah alisku. Sebenarnya Riku tidak mengizinkanku mengikuti Roxas karena tidak suka atau benar-benar 'terlalu banyak orang'?
Roxas pun menyelinap keluar dengan hati-hati. Yang lain pada bersembunyi saat Roxas menyelinap keluar. Sambil menunggu Roxas kembali, Riku mengecek jam tangannya. Yazoo, Loz, dan Kadaj justru berbisik-bisik, mendiskusikan strategi keluar jika seandainya harus menerobos keluar jika waktu tidak cukup.
Tunggu!? Waktu tidak cukup? Jangan bilang...
"Riku, memangnya timer bom sudah dinyalakan?" bisikku.
"Insting bagus. Ya." Senyuman sinis muncul di wajah Riku.
Mataku terbelalak mendengarnya. Timer-nya sudah jalan!? Jika kita tidak segera keluar, maka matilah kita!
"Berapa lama lagi!?"
"Shhh," kata Riku sambil menyentuh bibirku dengan jemarinya. "Masih ada 5 menit lagi."
"Lima me..."
Riku langsung membekap mulutku saat aku mencoba menyerukan betapa kagetnya aku. Kadaj, Yazoo, dan Loz sampai menatapiku yang dibekap oleh Riku. Aku pun melirik kiri dan kanan dengan malu.
"Jika kau ingin melakukan sesuatu dengannnya, Riku, waktu kita tidak cukup," kata Kadaj dengan senyum sinis.
"Aku tahu," balas Riku dengan senyum sinis.
Aku melepaskan bekapan Riku dengan kesal. "Riku!" seruku dengan suara sekecil mungkin.
"Iya, iya. Masih ada 4 menit lagi." Riku melihat jam tangannya. Dia pun melirik anggota The Organization, lalu memanggil mereka dengan isyarat. Axel mewakili mereka mendekat. "Jika 2 menit lagi Roxas tidak kembali, kita akan menerobos keluar dan tentunya berpencar."
Axel mengangguk. "Apakah boleh sembarangan menembak polisi?" Cengiran muncul di wajah Axel.
"Well, terserah. Mau bergabung dengan teroris lain juga tidak masalah."
Suara tembakkan semakin banyak saja. Semuanya pada mempersiapkan senjata karena sudah 2 menit berlalu. Roxas masih belum kembali. Apa yang terjadi padanya? Apakah dia baik-baik saja. Saat hampir 3 menit, Roxas kembali dengan berlumuran darah.
"Kau baik-baik saja, Roxas?" tanyaku dengan cemas.
"Ya. Di luar benar-benar medan perang. Anggota Reaper Crown melawan polisi. Sebabnya masih belum kuketahui. Yang pasti, jika ingin keluar ini saat yang tepat, karena anggota Reaper Crown yang paling menguasai ruang polisi saat ini."
Kadaj, Yazoo, dan Loz tentu tersenyum mendengar kabar tersebut.
"Kalau begitu, keluarkan seluruh kemampuan kalian." Yazoo langsung mengeluarkan berbagai senjata miliknya.
"Apa yang harus dilakukan?" bisikku pada Riku.
"Tembak siapa saja yang kau lihat."
"Termasuk kau?"
Riku tertawa pelan. "Coba saja kalau kau bisa menembakku."
"Aku bercanda," balasku dengan pipi menggelembung. Riku meremehkan kemampuanku.
"Baiklah. Semua berpencar saat keluar dan langsung menuju rumah masing-masing saat keluar," kata Loz.
"Siap? Waktu tinggal 1 menit lebih beberapa detik. Larilah untuk menyelamatkan nyawa kalian."
Setelah Yazoo mengatakannya, kami semua berlari keluar bergantian. Tembak menembak terdengar di mana-mana. Semuanya berpencar menjadi tiga kelompok untuk memudahkan bergerak. Rupanya Riku dan Roxas bersamaku. Penyerangan di dalam tentu tidak memiliki masalah, karena rata-rata musuh membelakangi kami. Tapi yang di depan, ratusan polisi pasti sedang menunggu kita. Mereka pasti sudah mengelilingi markas ini.
"Bagaimana kita keluar tanpa diserang!?" tanyaku pada Riku.
"Tenang saja. Solusi alternatif sudah disiapkan," balas Riku dengan senyum sinis.
Tentunya setiap kelompok keluar dari pintu keluar yang berbeda. Saat kami keluar, semua orang di luar berlarian menjauh dari lokasi ini sambil berteriak histeris. Aku dapat mendengar teriakkan 'Ada bom yang akan meledak dalam 1 menit lagi!'.
"Kita akan berlari di antara orang-orang yang sedang berlarian itu. Buang jaketmu saat kita sudah berada di tengah-tengah mereka," jelas Riku.
Ketika kami bertiga hampir sampai di tengah-tengah orang, bom meledak hingga menimbulkan guncangan kuat dan angin kencang. Banyak orang yang terjatuh, begitu juga kami bertiga. Ditengah angin yang masih berhembus kencang, kulepaskan jaketku ketika melihat Riku melepaskan jaketnya dengan cepat. Jaket kami terbang mengikuti angin berhembus. Sarung tangan yang tidak sempat kulepas kumasukkan dalam saku. Kami berpura-pura masih terbaring di aspal, hingga beberapa orang mulai bangun setelah guncangan berakhir.
Banyak orang yang terkena luka ringan. Untuk luka parah, ada beberapa orang yang terkena serpihan gedung yang berterbangan akibat ledakkan. Histeris yang tadinya sempat berhenti akibat ledakan kini berlanjut. Ada yang menangis ketakutan. Ada yang masih berbaring sambil melindungi kepalanya karena ketakutan. Ada yang mencoba menolong orang yang terluka. Pokoknya heboh deh.
Tapi karena masih banyak orang yang berlarian, takut masih ada bom yang meledak—yang tentu saja tidak ada lagi, aku, Riku, dan Roxas berpura-pura lari dengan wajah ketakutan.
"Apakah kita akan terus lari sampai rumah?" tanyaku pada Riku.
"Berlari sejauh 200 kilometer?" Roxas yang di sebelahku menaikkan sebelah alisnya.
Wajar saja dia bingung mendengarnya, karena posisi kami berada di Land of Departure, kota sejauh 200 kilometer dari Twilight Town.
"Well, jika kau maksud rumah yang berada di kota ini, aku tidak keberatan. Tapi jika kau maksud kota di Twilight Town, lebih baik aku menumpang kendaraan truk untuk pulang. Yang ada besok aku akan tidur 2 hari penuh."
"Kau mau menginap di tempat kami, Roxas?" tawarku.
"Hey, aku tidak mengizinkannya," sela Riku sebelum roxas menjawab.
"Jangan pelit begitu, Riku," balasku dengan wajah cembetut.
"Sudahlah. Aku dijemput oleh Axel nanti, jadi kau tidak perlu khawatir," jawab Roxas.
"Benarkah?" Tentu saja aku mencemaskan Roxas. Bagaimana pun juga dia temanku.
Roxas tersenyum. "Thanks. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
Riku mendadak berhenti berlari sambil memegang tanganku. Aku tentu kaget mendadak berhenti oleh tarikkannya. Wajah Riku terlihat tidak senang saat aku menatapinya dengan heran.
Roxas pun ikut berhenti melihat kami berhenti.
"Segeralah pergi," kata Riku dengan nada mengusir.
Tentunya Roxas juga tidak senang mendengarnya, tapi dia kembali tersenyum padaku. "Sampai nanti."
"Ya..."
Roxas pun pergi.
"Mengapa kau mengusirnya, Riku? Apa salahnya?" tanyaku dengan heran.
"Aku tidak suka."
"Tidak suka apa?"
"Tidak suka caranya menatapimu."
Aku terdiam. Apakah Riku cemburu? Pada Roxas? Kutahan tawa. Memikirkannya terasa lucu. Dia cemburu? Padahal aku bukan pacarnya meski aku tahu dia menyukaiku.
"Apa?" Riku kesal melihatku.
"Tidak. Ayo kita pulang."
"Ke mana?"
"Twilight Town. Dad pasti menunggu kita pulang."
Riku mengangguk. Tentunya kami tidak jalan kaki menuju mansion, tapi menggunakan mobil. Seharusnya Kadaj, Yazoo, dan Loz sudah menuju mobil kami diparkir. Kami tinggal minta dijemput oleh mereka.
"Mereka akan tiba dalam beberapa menit lagi."
Aku mengangguk.
Luka lecet saat tubuhku terseret di aspal akibat ledakan bom cukup banyak. Yang paling banyak kena tentunya lenganku. Kuperhatikan lengan Riku. Lukanya juga lumayan banyak.
"Tanganmu tidak sakit?" tanyaku.
"Tanganmu?" Riku justru bertanya balik.
"Sedikit."
"Tanganku sakit." Riku menunjukkan lengannya. Rupanya ada luka tembak di tengannya. Tidak heran tangannya sedaritadi terus mengeluarkan darah.
Tunggu!?
"Kapan kau tertem—"
Riku membekap mulutku saat aku hendak berteriak.
"Saat keluar. Kugunakan tanganku sebagai pelindung agar kau tidak terkena tembakkan."
"Kenapa kau lakukan itu? Kau tahu kalau tubuhmu baru saja sembuh! Jangan tambah lagi luka di tubuhmu, Riku!" kataku dengan sedih.
"Lebih baik aku yang terluka, karena kau bisa merawatku," balas Riku dengan candaan.
Aku pun menggelembungkan pipiku. Bisa-bisanya dia bercanda. "Memangnya kau tidak mau merawatku jika aku yang terluka?"
"Oh, tentu saja aku SANGAT mau. Tapi kuyakin kau tidak mau. Kau tahu maksudku, kan?" Riku tersenyum sinis.
Dan aku pun tertawa datar mendengarnya. Ya, aku sangat mengerti maksudnya dan menyesali sudah bertanya seperti tadi. Rasanya aku bodoh sekali.
Bunyi klakson mobil membuat perhatian kami tertuju pada mobil tersebut. Kaca mobil turun perlahan. Pengendaranya adalah Kadaj.
"Jadi pulang?" tanyanya.
"Jadi!" seruku sambil membuka pintu mobil.
Riku duduk di sampingku bersama dengan Yazoo. Aku mencari kotak P3K di kursi belakang. Berada di kursi tengah tentu menyulitkanku mencari kotak P3K di kursi belakang.
Tubuhku merinding saat Riku mengisengiku yang dalam posisi membungkuk, hingga nyaris membuatku terjatuh ke kursi belakang.
"Ri-Riku! Berhenti menggangguku!" tegurku dengan kesal. "Aku harus segera menemukan kotak P3K untuk lukamu!"
"Salah sendiri posisimu seperti itu," balas Riku dengan senyum sinis.
"Oh, bisa tidak kalian tidak berbuat yang aneh-aneh dalam mobilku? Aku tidak bisa konsentrasi menyetir," tegur Kadaj.
"Salahkan Riku!" seruku saat mencari kembali kotak P3K.
"Salahkan Sora dengan posisi yang menggoda," balas Riku dengan tawa.
"Hey! Ini demi kau juga tahu!" balasku dengan kesal. Tentu saja wajahku merah padam.
"Oh, hentikan! Atau aku akan membawa kalian berdua ke hotel terdekat!"
"Apa!?" Aku tentu berteriak keras mendengar kata-kata Kadaj.
Bercanda pun ada batasnya! Tapi ini sudah di luar batas.
"Apa!? Mau protes?" balas Kadaj dengan nada kesal.
"Tentu saja!"
Kadaj yang menginjak rem mendadak membuatku terhempas ke depan. Tentunya aku menjerit kaget.
"Hey! Kau benar-benar ingin menurunkanku dan Riku di hotel!?" tanyaku dengan wajah tidak percaya.
"Riku, Sora, berpura-puralah tidur di kursi belakang," perintah Loz dengan nada serius.
Aku yang menghadap belakang pun segera menoleh. Astaga! Ada razia!
"Cepat!"
Aku dan Riku melompat ke kursi belakang.
"Ke-kenapa hanya kami berdua? Bagaimana dengan Yazoo?" tanyaku.
"Aku? Ada apa dengan aku?" Yazoo bertanya balik.
"Bukan apa-apa sih. Tapi maksudku, mengapa hanya aku dan Riku saja yang diminta pindah?"
"Soalnya kita berdua terluka." Riku menjawab.
"Terluka?"
Baru kusadari. Kadaj, Yazoo, dan Loz tidak memiliki satu luka pun. Bahkan lecet! Mengerikan! Aku jadi bertanya-tanya, mereka bertiga manusia bukan sih?
"Bagaimana..."
"Shhh..."
Riku membungkam mulutku dan memintaku berpura-pura tidur. Aku belum sempat menghentikan pendarahan Riku—meski pendarahanya kecil karena dia sendiri telah mengikat tangannya entah kapan. Riku memegangi kepalaku dan menyandarkan kepalaku di dadanya sambil memejamkan mata. Wajahku tentu memerah. Mengapa kami harus berpura-pura tidur dengan posisi seperti orang pacaran? Bukankah ada posisi lain?
Mataku segera terpejam saat polisi berbicara dengan Kadaj setelah mobilnya dihentikan. Polisi menanyakan kami hendak ke mana dan meminta izin memeriksa mobil kami. Mereka ingin memastikan apakah ada bom yang dibawa mobil kami ataukah tidak. Seorang petugas pun membawa alat pendeteksi logam. Selagi rekannya memeriksa mobil menggunakan alat pendeteksi, polisi yang menghentikan kami bertanya-tanya mengapa kami di sini dan hendak kemana. Dengan mata yang terbuka sedikit untuk mengintip, polisi itu mengecek SIM milik Kadaj.
Jantungku tentu berdebar-debar. Apakah SIM Kadaj asli ataukah palsu? Polisi tersebut tidak berkomentar apa-apa setelah melihat SIM dan mengembalikannya.
"Aman," kata rekannya.
"Baik. Silahkan lanjutkan perjalanan Anda."
"Terima kasih, Pak Polisi. Selamat melanjutkan tugas Anda," balas Kadaj dengan ramah.
Mobilnya kembali melaju. Aku bernapas lega melihat para polisi itu semakin jauh. Riku masih memegangi kepalaku, padahal sudah jauh. Jangan bilang dia benar-benar tertidur?
"Uh, Kadaj, bisakah kita mampir ke rumah sakit dulu?"
"Ya. Dad juga menunggu kita di rumah sakit."
"Huh!? Mengapa?"
"Sudah jelas karena mau menemui kita sekaligus mengobati luka kalian."
"Oh..."
Berdiam diri dalam posisi seperti ini membuatku mengantuk. AC mobil Kadaj yang dingin tidak begitu terasa berkat pelukan Riku yang hangat. Kutatapi wajahnya yang tenang. Bulu matanya lebat dan panjang. Kulit wajahnya halus. Seorang model memang berbeda dari orang normal. Dia sangat memperhatikan wajahnya, tapi apakah dia tidak pernah takut wajahnya terluka? Sudah banyak luka yang pernah berada di wajahnya, tapi luka itu sembuh dan hilang sempurna berkat perawatannya yang khusus.
Aku menguap dengan mulut terbuka lebar. Perjalanan masih beberapa jam lagi. Ada baiknya aku tidur. Aku pun mencoba menganggap Riku sebagai bantal atau guling hangat saat mencoba tidur. Kuharap Riku tidak macam-macam padaku.
TBC...
Author Note: Apakah fic kali ini singkat? Kurasa tidak :3 jangan lupa review, dan maaf aku tidak membalas review kalian, tapi aku sangat mengharapkan review kalian :D
