A/N: I try to update this chap as soon as possible. Honestly, I wrote this chap after watching JJF but I can't update it without some correction, right? hehe. Btw, just enjoy!
I own nothing.
Chapter 7: Up and Down
Seumur hidup aku sama sekali tak pernah mengalami serangan jantung atau sekalipun melihat orang lain terkena serangan jantung, tapi mungkin saja pagi ini adalah pemecahan rekor bagiku. Aku terkena serangan jantung dan menyaksikan dua orang di hadapanku terkena serangan jantung juga. Astoria Greengrass masih berdiri di tempatnya mematung dengan wajah terkejut memandangku, sementara Draco tak jauh berbeda dengannya. Dan aku tak tahu harus melakukan apa. Dua pertanyaan yang berputar di kepalaku sekarang. Apa yang dia lakukan disini? Dan apakah ia sering datang ke penthouse Draco seperti ini?
"Maaf," kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Astoria.
Tatapannya berubah menjadi canggung kepadaku. Dia menatapku sesaat kemudian beralih pada Draco yang berjalan ke arahku. Draco memandangku dengan tatapan yang aku artikan 'jangan salah sangka'. Aku hanya memberi senyuman tipis padanya saat ia telah berada di dekatku.
"Aku tak tahu bahwa kau sedang ada tamu pagi ini," ujar Astoria lagi.
Draco kembali menatapku. "Hermione bukan tamu," ucapnya tanpa ekspresi sekalipun. Tak ada senyum yang beberapa saat lalu kulihat saat aku mendapatinya di kamar mandi.
Aku tak dapat membaca perasaanya. Kebahagiaannya saat bersamaku tadi seakan menghilang. "Apa yang membawamu kesini, As?" tanya Draco.
Seketika itu juga, kecanggungan di wajah Astoria yang tadi tampak berganti menjadi senyuman yang sangat cantik. "Aku hanya ingin mengambil jaket Scorpius yang tertinggal disini," jawabnya. "Semoga aku tak mengganggu kalian," tambahnya lagi.
Aku menggeleng. "Tentu tidak," jawabku sebelum Draco mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dan Astoria tersenyum saat itu juga. Senyuman yang menawan.
"Aku sudah terlambat," ucapku pada Draco.
Ia memegang tanganku saat aku baru saja ingin pergi dari sisinya. "Aku hanya mau mandi dan bersiap," jawabku lembut padanya.
"Tunggu aku," jawabnya.
Aku mengangguk. "Senang bertemu dengamu, Astoria," ucapku saat meninggalkan ruangan gila itu.
"Aku juga, Hermione Granger," jawabnya dengan senyuman menawan yang masih menghiasi wajahnya.
Begitu aku telah berada di kamar, tubuhku teronggok bodoh di ranjang. Aku tahu bahwa Astoria adalah mantan istri Draco yang notabene adalah kekasihku. Aku juga tahu bahwa Astoria adalah ibu dari Scorpius yang juga kutahu adalah putra dari kekasihku. Dan aku juga sangat tahu bahwa cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya, tapi bukan sekarang. Bukan disaat aku hanya mengenakan selembar kemeja Draco yang sudah lusuh akibat remasanku tadi malam dengan 'fuck hair' yang bahkan aku sendiri ngeri melihatnya sedangkan Astoria Greengrass berdiri dengan sangat anggun walau hanya dengan coat dan jeans serta sepatu boots. Aku menghela napas sesaat. Tunggu. Pertanyaan di dapur tadi kembali terlintas di pikiranku. Apakah ia sering datang ke tempat Darco seperti ini? Baiklah. Bukan pagi seperti ini yang aku harapakan, setelah marathon mindblowing sex dan morning flirting kemudian aku harus dihadapkan dengan mantan istri yang datang dan terkejut dengan keberadaanku. What a shitty morning!
Lepas dari itu semua aku bergegas mandi dan terima kasih untuk Draco Malfoy yang telah membawa semua perlengkapan mandiku kesini. Tak ada lagi waktu bagiku untuk memikirkan Draco dan mantan istrinya. Bukankah ia mengatakan hanya datang untuk mengambil jaket Scorp yang tertinggal. Aku percaya itu. Tak akan kubiarkan pikiran gilaku menghancurkan pagi indah ini. Beberapa saat kemudian, aku keluar dan mendapati kamar yang masih tak berpenghuni. Setelah mematut diri dan menggunakan salah satu pakaian yang dibelikannya padaku, aku siap untuk ke kantor.
Ruang tengah tampak lengang. Tak terlihat keberadaan siapapun sampai Draco datang dengan cangkir putih yang terlihat mengepulkan asap. "Kau belum sempat menyentuh tehmu tadi," ujarnya.
Aku tersenyum dan mengambil cangkir teh itu dari tangannya. Aku mengambil posisi di sofa panjang dengan cangkir teh di tanganku sementara Draco mengambil tempat di sampingku. "Ada apa?" tanyaku padanya yang sedari tadi memperhatikanku.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Kini aku yang berbalik menatapnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku setelah meletakkan cangkir teh tadi di meja.
"Kau tak marah?"
"Kau berharap aku marah?"
Draco terlihat menghela napas. "Ayolah, Hermione. Jangan bermain-main seperti ini. Aku lebih takut melihatmu setenang ini dibanding dengan kau meledak marah."
Saat mendengarnya aku benar-benar tak percaya. Tawa keluar dari mulutku. "Aku baik-baik saja, hon. Aku tak marah padamu."
Dia menatapku intens dengan tatapan memastikan bahwa aku berkata jujur. "Lagipula ia mengatakan bahwa ia hanya mampir sekaligus mengambil jaket Scorp yang tertinggal. Apa yang harus membuatku marah?"
"Tapi kau begitu terkejut saat melihatnya."
"Kau dan dia juga terkejut. Kita bertiga terkejut."
Draco tak membuka mulutnya lagi. Tak sengaja aku melirik jarum jam yang berada di pergelangan tanganku dan aku benar-benar terlambat. Saat aku bangkit, Draco secara otomatis ikut bangkit. "Kau mau kemana?"
"Aku harus ke kantor, hon," ujarku.
Dia kembali menatapku dengan tatapan selidiknya. "Aku akan mengantarmu," jawabnya.
Kugelengkan kepala dan tersenyum menatapnya. Bagaimana bisa aku melewatkan hampir separuh hidupku melewatkan pria canggung menggemaskan seperti ini? "Aku bawa mobil," balasku.
Sebelum ia kembali bertanya aku melanjutkan kalimatku. "Alex sedang berada di Chicago dan ia meminjamkanku."
"Tapi kau tak pernah mau aku pinjami mobilku, kenapa harus LeClaire yang.."
Aku menciumnya. Terlalu letih untuk bertengkar pagi ini. "Simpan energi, hon. Kita akan membicarakan ini saat aku pulang," ujarku dan kembali memberikannya ciuman yang membakar.
Bila bukan karena keterlambatan pagi ini, mungkin saja aku sudah berakhir di ranjang kembali dengan Draco tanpa sehelai benangpun. "See yaa, hon," aku melepaskan ciumanku.
Ia tampak menghela napas. "Aku akan membuatmu membayar ini, Hermione," kekehnya.
Aku hanya menjentikkan alis dan menghilang dari hadapannya.
000
Ada sepuluh panggilan tak terjawab,beberapa pesan singkat, dan e-mail dari Draco yang tak sempat terjawab olehku hari ini. Setelah mendesain ruangan utama proyek terbaruku, seharian ini aku disibukkan mencari material yang pas dan segala macam furniture yang sesuai dengan ruang yang sedang kukerjakan sekarang. Aku duduk dengan rasa lelah yang mencapai puncaknya. Kantorku sudah terasa sepi. Hanya ada beberapa karyawan dari departemen arsitektur yang masih harus lembur. Barulah aku teringat Draco. Kucoba untuk menghubunginya namun hanya berhasil tersambung ke kotak suara dan aku menyerah. Kurapihkan semua barangku dan bergegas pulang.
Penthouse juga tak kalah sepinya dengan kantorku tadi. Bree secara perlahan seperti pindah ke studio apartment milik Olivier dan hanya menyisakan aku dan Alex. Aku melihat lampu di kitchen counter kami menyela dan mendapati Alex tengah berdiri di hadapan microwave. "Kau pulang, Ems," ujarnya saat mendapati aku yang telah duduk di bar stool sambil menuangkan air ke gelas.
"Kau tak mau aku pulang sekarang?" lanjutku yang kini berjalan ke arahnya dan membuka lemari pendingin untuk menemukan apa saja yang dapat di makan.
"You are on period, aren't you?" ucapnya.
Aku tertawa mendengar. "Apa kita benar-benar kehabisan makanan?" tanyaku sambil melihat isi lemari pendingin yang kosong melompong.
Alex kini duduk di bar stool setelah mengeluarkan pasta yang baru saja ia hangatkan. "Kita baru saja pulang liburan dan kau serta Bree sibuk dengan kekasih masing-masing, jadi jangan berharap lemari pendingin memiliki penghuni."
Aku mencebik kepadanya. "Mandilah, aku akan memesan pizza untuk kita."
Aku menaik-naikkan alis dan mencium pipinya. "Kau memang hebat."
Dia hanya mendengus dan tertawa.
Pizza dengan keju yang berlapis-lapis telah siap di ruang tengah saat aku baru saja selesai mandi. Alex sudah duduk disana dengan dua gelas dan sebotol wine untuk kami. "Kapan kau pulang dari Chicago?"
"Tadi pagi."
Lalu percakapan kami mengalir begitu saja seperti biasa. Dia menceritakan pekerjaannya dan kemungkinan promosi jabatan besar-besaran yang akan ia dapatkan. Aku sangat senang mendengarnya. Alex pantas mendapatkannya. Dia bekerja seperti 25 jam sehari dan kenaikan jabatan hanyalah sebagian dari hasil yang ia dapatkan.
"Karena aku diberi mobil dan segala macam keperluan lainnya,jadi kau dapat menggunakan Audi milikku dari sekarang," ucapnya saat menyesap wine setelah menghabiskan tiga potong pizza tadi.
Aku menatapnya dan menggeleng. "Kita memang bersahabat, tapi mobil terlalu berlebihan."
Kini ia yang menggeleng setelah meletakkan gelas winenya. "Jika Bree dapat mengemudi sepertimu, Audi itu pasti kuserahkan padanya tapi kau tahu dia seperti apa. Bahkan saat kami bersekolah ia tak lulus pelajaran terbang," kekehnya.
Aku tahu itu. Bree memang sama tak berbakatnya denganku dalam urusan terbang, tapi aku mahir berkendara sementara Bree? Lebih baik tak usah dibahas. "Lagipula Ems, aku akan senang bila mobil itu kau pakai, setidaknya ada orang yang bertanggung jawab mengurusnya," ucapnya lagi-lagi terkekeh.
Kupukul lengannya dan ikut tertawa. "Terima kasih, Alex LeClaire. Tetapi, aku tak janji akan selalu membawanya. Kau tahu bagaimana kemacetan kota ini di pagi hari."
Suara telepon penthouse ini berdering dan petugas mengatakan bahwa seseorang ingin menemuiku. Draco Malfoy menungguku di bawah.
000
Setelah suara nyaring lift penthouse kami berbunyi, aku mendapati Draco berdiri di dalamnya. Masih dengan bersetelan lengkap ia menatapku datar dan langsung keluar dari sana. "Hey," sapaku yang ia jawab dengan menarikku ke dalam pelukkannya dan menciumku.
Aku merasakan helaian napas yang hangat dan jantungnya yang terdengar berdetak lebih cepat dari biasanya. "Hey," sapanya.
"Aku kira kau kabur lagi," ujarnya yang kubalas dengan keningku yang mengerut. "Aku mencoba menghubungimu seharian ini dan tak ada satupun yang kau balas."
Aku tertawa kemudian menciumnya lembut. "Maaf. Aku sibuk sekali seharian ini dan tadi sebelum pulang aku menghubungimu tapi tersambung ke kotak suaramu. Jadi, aku pulang tanpa memberitahumu."
"Kalau bukan karena aku sedang rapat dengan investor besar, aku akan langsung ke kantormu dan mengobrak-abriknya," akhirnya ketegangan di wajahnya mereda.
"Kau memang suka mencari perhatian, hon," jawabku.
"Terutama darimu," dia langsung menciumku dengan ganas dan mendorongku ke dinding tepat di hadapan lift penthouse-ku.
Aku tahu kemana semua arah ciuman ini. Saat tangannya telah menyusuri lekuk tubuhku dan bibirnya dengan cepat berpindah ke leherku aku seperti tak berkutik lagi. Namun saat ia menunduk dan mencium dadaku, aku mendorongnya perlahan. Ia menatapku penuh tanya. "On period, hon."
Dia menunduk dan mengubur kepalanya di bahuku kemudian tertawa."Shit, Hermione."
Melihat ekspresinya yang begitu lucu aku ikut tertawa bersamanya. Aku berjinjit lagi untuk menciumnya. "Come to bed with me."
Dia hanya tersenyum dan mengikutiku.
Pelukan Draco kini menjadi tempat ternyaman dan teraman bagiku. Sudah berjam-jam aku bergelung nyaman bersamanya di ranjangku. Semua setelannya telah ditanggalkan. Saat kutawarkan untuk meminjam pakaian Alex ia langsung menatap horor padaku dan menolaknya. Aku tak tahu apa yang ada di kepalanya sampai ia sangat anti dengan sahabatku itu. Dan fakta bahwa Alex juga berada di penthouse saat ini membuat ia semakin menatapku horor sementara aku hanya tertawa melihatnya. Percakapan kami berjalan seperti biasa, namun tak ada satupun dari kami yang mengungkit kejadian pagi ini. Seperti telah menjadi peraturan tak kasat mata bahwa tak ada nama orang lain yang boleh disebut di ranjang kami.
"Kau tak mau menerima pemberian dariku, tapi sementara LeClaire dapat memberikan apapun padamu sesuka hatinya," ujar Draco kesal padaku saat mengetahui bahwa Alex memberikanku hak penuh pada mobilnya.
Aku bangkit dan duduk bersila di hadapannya. Dadanya yang tak tertutup apapun sedikit berhasil mengalihkan pikiranku. "Ayolah, hon. Kau membandingkan Audi miliknya dengan mobil-mobil milikmu."
"Kau tak tahu bahwa harga dari mobilnya hampir sama dengan milikku."
Aku terkejut mendengar. "Semahal itu?"
"Dan kau tetap tak mengijinkanku untuk memberimu sebuah mobil," responnya ketus.
Kuhela napas saat menghadapinya. Draco Malfoy benar-benar seperti sebuah kejutan bagiku. Dia dapat terlihat sangat dingin, terlalu angkuh, pemarah dengan ucapan terketus yang pernah kudengar,sampai kekanakan seperti sekarang.
Kuusap lembut pipinya. "Apa yang pernah kau katakan bahwa tak boleh membawa nama Alex atau siapapun saat kita sudah di ranjang?"
Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini karena yang kutahu perbincangan ini tak akan berakhir dengan mudah. "Hal ini berbeda, Hermione," ia masih berusaha untuk mengangkat masalah ini.
"Honey," ujarku lembut dengan tatapan memohon.
Kini ia yang menghela napas dan menarikku kembali untuk bergelung dengannya. Untuk beberapa saat kami hanya saling mendengar helaan napas dan detak jantung masing-masing. Jendela yang sengaja kubuka, udaranya kini terasa semakin menggigit dan aku semakin merapatkan diriku pada Draco. Tak sengaja tanganku menyentuh punggungnya. Guratan luka yang selalu membuatku penasaran akan cerita di belakangnya kini menggelitik kembali.
"Hon."
"Eehm," ujarnya dengan mata setengah terpejam serta tangan yang tak berhenti mengelus puncak rambutku.
Aku tak tahu apakah harus melanjutkannya atau tidak. Ia pernah mengatakan bahwa ia akan mengatakannya nanti, bila waktunya sudah tepat, tapi kapan?
"Ada apa?" tanyanya.
Aku langsung menelungkup untuk menatapnya. "Lukamu?"
Dia tersenyum. Bukan seperti ekpresi yang kuduga akan ia berikan. Aku berpikir ia akan menjadi dingin kembali dan tak mau membahasnya. "Curious Granger, huh?" ia menunduk untuk menciumku sesaat.
"Jadi?" tuntutku
"Jadi, aku punya kehidupan yang sama beratnya denganmu," ujarnya.
Aku menatap bingung padanya. "Saat kau berjuang bersama Potter dan Weasley untuk mencari horcrux-horcrux itu, aku juga berjuang bertahan hidup."
Ia menatapku dan melanjutkan kalimatnya. "Ayah, ibu, serta aunt Bella semuanya takluk pada Voldemort dan semua luka ini adalah salah satu pengabdianku padanya yang sampai sekarang masih kusesali."
"Draco."
"Dia dan para pelahap mautnya menyiksaku bila aku tak menuruti perintahnya."
"Apa perintah yang kau tolak?"
Ia mencebik. "Menyiksa para muggleborn," jawabnya singkat.
"Kau tak membenci kami?"
Dia menggeleng pelan dengan tangan kami yang saling bertautan. "Mereka memaksaku untuk membencimu membenci semua muggleborn."
"Hon."
"Aku orang yang baik, bukan?"
Aku melihat ia berusaha tesenyum, tapi gagal. Senyumnya terkesan sendu. Aku mendekatinya dan mencium lembut bibirnya, hidungnya, pipinya, seluruh lekuk wajahnya dan memberikan senyuman terbaikku padanya. "Terima kasih telah berbagi denganku."
"Suatu kehormatan bisa berbagi denganmu, Miss Granger."
Aku tak tahu bahwa ia melewati hal yang sama mengerikannya denganku. Walaupun hal yang kami perjuangkan sangatlah berbeda. Tak sepatutnya Voldemort menyiksanya. Oh God! Ia masih berusia belasan tahun saat semua itu terjadi.
"Apa jadwalmu untuk besok pagi?"
Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas samping ranjangku dan memeriksa e-mail harian yang dikirim Katy padanya. "Tak ada yang penting, tapi aku ada janji makan siang dengan beberapa investor. Ada apa?"
"Kita punya jadwal kencan besok," jawabku dengan wajah menggoda padanya.
"Granger?"
Aku tertawa kecil. "Hanya aku dan kau. Tanpa mobil mewah milikmu atau mobil pinjaman milikku, tanpa jadwal yang tercatat apik dari Katy, dan tanpa pengawasan dari Joe. Hanya kau, aku, dan kota ini."
"Terdengar menggoda dan menakutkan," jawabnya.
Aku tertawa dan kembali ke dalam pelukannya.
000
Alex dan aku sudan berada di kitchen counter sebelum Draco bangun. Seperti Draco, Alex juga seorang morning person dengan secangkir kopi sebagai energi barunya. Dia sudah duduk di bar stool dengan surat kabar pagi dan ponsel di tangannya. Sesekali ia memeriksa untuk melihat e-mail terbaru untuknya kemudian menyesap kopinya dan kembali membaca surat kabar. Sementara aku duduk di hadapannya hanya dengan secangkir teh dan ikut sibuk mencoret-coret kertas. Ada beberapa design yang terlintas di pikiranku dan tak sempat kutuangan di kalkir.
"Kau akan ke kantor bersama Malfoy?" tanyanya setelah melipat surat kabar itu.
Aku mengangguk sambil terus mencoret-coret kertas ini dengan berbagai macam garis. "Sebenarnya aku akan mengajaknya kencan pagi ini."
"Ems," ujar Alex dengan nada malas.
Kuletakkaan spidolku dan menatapanya kemudian tertawa. "Aku serius."
Alex hanya memandangku. "Aku akan mengajaknya berjalan kaki dari sini sampai ke kantorku dan singgah di berbagai tempat."
"Jelaskan yang kau maksud dengan berbagai tempat, please," Alex kembali menyesap kopinya.
"Aku akan membawanya sarapan di food truck di sepanjang jalan ini."
Tawa Alex meledak saat aku mengutarakannya dan tawaku juga mengimbanginya. Aku tahu apa yang di pikirkannya. Malfoy, berjalan kaki, dan food truck bukanlah kombinasi yang biasa. Tetapi, aku ingin mencobanya. Sudah terbayang di benakku bagaimana wajah Draco akan terlihat sangat tersiksa saat kuajak membeli sarapan di food truck. Setelah perbincangan singkat ini, Alex pamit padaku karena ia harus meeting bersama nasabahnya di Hampton hari ini. Dia bangkit kemudian mengecup pipiku. "Bersenang-senanglah, Ems."
Aku hanya menjentikkan alis dengan senyuman yang ia tahu artinya. Langkah Alex terhenti saat melihat Draco yang baru saja turun dari tangga. "Malfoy," ujarnya kemudian menghilang di dalam lift.
"Dia selalu menciummu seperti ini?"
"Hon, ayolah. Ini masih pagi."
Saat itu juga ia menciumku. Menciumku seakan-akan kami sudah lama terpisah. Aku tertawa kemudian mendorongnya pelan. "Kau sudah siap?"
Dahinya mengernyit. "Kau yakin akan jalan kaki."
Aku mengangguk. "Kalau tak sanggup kita dapat naik subway atau mencari gang dan ber-Apparate."
Dia hanya tersenyum dan menunduk untuk menciumku lagi. "Hon," aku tertawa geli saat dia menciumku.
"Menciummu semacam hobi baruku saat ini."
Lagi-lagi aku tertawa. Pipiku sangat panas dan semburat merah pasti sudah menghiasinya sedari tadi. "Ayo," ajakku.
"Kau tak sarapan?"
"Kita akan sarapan di jalan."
Hanya dengan perkataan, wajah horor telah menghiasi wajahnya. Bagaimana bila ia tahu dimana aku akan mengajaknya sarapan.
Lalu lintas sudah dipadati oleh kendaraan pribadi dan taksi kuning serta para pejalan kaki yang terlihat terburu-buru menuju tempat tujuannya. Aku dan Draco berjalan santai di sepanjang bahu jalan. Udara di penghujung April yang sejuk menambah kebahagiaan pagi ini. Tanganku bergelayut di lengan Draco. "Berapa lama kau ada di kota ini?" tanyaku padanya yang tampak asik berjalan bersamaku.
"Sebelas tahun."
"Dan belum pernah berjalan kaki seperti ini?"
Dia menatapku. "Tentu pernah, tapi sudah lama sekali."
Langkahku terhenti di sebuah kedai kopi langgananku bersama Alex dan Bree. Ada antrian panjang di dalamnya dan aku langsung masuk dan mengantri di belakang seorang pria berkemeja rapi yang aku tebak juga dalam perjalanan menuju kantornnya. "Apa yang kau lakukan?" Draco berdiri di sampingku.
"Membelikanmu kopi," jawabku singkat.
"Itu pekerjaan Joe."
"Tapi tak ada Joe saat ini."
Draco baru sadar bahwa Joe tak kuijinkan untuk mengikuti kami. Aku menyuruh Draco untuk menyuruh Joe langsung ke kantorku karena Draco akan berangkat ke kantornya darisana. Tanpa protes Draco ikut mengantri berasamaku. Segelas Caffé Breve milik Draco dan segelas Green Tea Latte dengan soya milikku membawa kami keluar dari kedai kopi ini. "Bagaimana mereka bisa bertahan setiap hari mengantri selama itu untuk mendapatkan kopi?" ujar Draco saat kami kembali menyusuri Manhattan.
Aku tersenyum mendengarnya. "Karena tak semua orang memiliki Ursula seperti dirimu."
"Sarkastik di pagi hari, Granger."
"Itu disebut fakta, Malfoy."
Dan saat melihat kerumunan lain di hadapan kami senyum jahatku kembali muncul. "Apalagi?" Draco menatapku.
"Kau lapar, bukan?"
Dia diam dan memperhatikan wajahku kemudian melihat food truck yang dikerumuni di hadapan kami. "Kau bercanda?"
Aku menggeleng kemudian berjalan meninggalkanya dan masuk ke dalam antrian itu. Seperti dugaanku dan Alex tadi pagi, Draco memandang horor padaku. Aku tertawa memikirkan apa yang ia pikirkan sekarang. Betapa tak higienis dan tak sehatnya sarapannya pagi ini. Ursula dan pelayan lainnya selalu menyajikan makanan yang segar dan sehat untuknya. Tetapi, Demi Merlin dia harus mencoba makanan ini. Aku, Alex, dan Bree selalu rela mengantri untuk mendaptkan roti lapis dengan tiga macam keju di dalamnya kemudian di panggang dan saat roti itu disobek dan ditarik lelehan keju itu akan tampak seperti karet dengan rasa yang benar-benar lezat. Saat kami masih di NYU dulu hampir setiap hari secara bergantian kami membeli sarapan di sini. Setelah berjibaku dengan pelanggan lainnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Draco hanya menatap tak percaya padaku.
Kuberikan roti itu padanya. "Hermione."
"Hanya kali ini saja, perutmu terlalu bersih dari butter dan gluten, hon. Kau harus mengotorinya pagi ini."
Dengan ragu ia menerimanya. Matanya masih mengawasiku saat perlahan kumasukan roti ini ke mulutku. Sensasi keju yang meleleh itu tetap sama walau aku sudah memakannya bertahun-tahun. Aku tak memedulikannya, namun saat aku menatapnya roti itu sudah berada dimulutnya dan ia tampak menikmatinya. "Enak?" tanyaku penasaran.
"The best guilty pleasure," aku tertawa melihat raut bahagia di wajahnya.
Setelah menghabiskan sarapan yang menurut Draco sangat tak sehat tapi sangat enak itu, kami melanjutkan perjalanan menuju kantorku. Joe sudah menunggunya tepat di bahu jalan kantorku. Dia menatapku dan menarikku ke pelukkannya. Tangan Draco berada nyaman di pinggulku. "Sampai jumpa nanti malam."
Setelah menciumku dia masuk ke dalam SUV nya dan bergabung bersama kendaraan lain di lalu lintas kota ini.
000
Musim panas telah menyapa kota ini. Ada begitu banyak kejadian yang terjadi selama beberapa bulan ini salah satunya adanya adalah Bree yang bertunangan dengan Olivier. Kabar ini sangat mengejutkan bagiku dan terutama bagi Alex. Adik kecilnya bertunangan dengan pria yang baru ia kenal beberapa bulan belakangan ini. Saat ia mengumumkan pada kami, aku dan Alex hanya terkejut bercampur bahagia. Ketika kami menanyakan apakah ia yakin bahwa Olivier adalah pilihan yang tepat, ia hanya mejawab bak para pujangga yang jatuh cinta. 'Saat cinta sejati datang kau akan tahu dengan sendirinya' Alex dan aku hanya terbahak mendengarnya.
Dengan pertunangan Bree dan Alex yang kian sibuk dengan pekerjaannya yang membuatnya sering berada di Los Angeles membuatku kami jarang bertemu. Aku semakin sering menghabiskan hari bersama Draco dan berakhir pekan dengan Scorpius. Dan aku mulai merindukan mereka. Alex dan Bree. Mungkin ini yang disebut dengan tahap pendewasaan diri bagi kami meskipun terlihat sangat terlambat di usia kami yuang sudah berkepala tiga.
Mulai hari ini aku akan menghabiskan satu minggu tanpa Draco yang akan melakukan perjalanan bisnis ke Asia ataupun Alex yang sudah menghabiskan empat hari belakangan ini di Los Angeles. Sore tadi aku mengantar Draco ke airport dan dengan mudahnya ia memaksaku untuk ikut dengannya. Bila aku seorang kekasih yang pengangguran dengan senang hati aku akan ikut kemana saja ia pergi, tapi tanggung jawabku sama besarnya dengan rasa inginku mengikutinya kemana saja. 'Mungkin aku bisa mengakuisisi firmamu agar kau bisa kapan saja bersamaku tanpa takut dipecat.' Aku hanya memelototinya dan ia melengos.
Langit masih cerah saat aku akan meninggalkan kantor malam ini. Aku memiliki janji dengan Bree malam ini. Ia berjanji akan menginap di penthouse dan menonton film secara maraton. Demi apapun aku merindukan semua hal itu. Saat aku baru saja keluar dari gedung itu sebuah suara memanggilku. "Hermione Granger."
Refleks aku menoleh ke arahnya. Aku menatapnya dan ia tersenyum padaku. "Blaise Zabini."
"Well, well Hermione Granger akhirnya aku dapat langsung bertemu denganmu setelah sekian lama hanya mendengar dari Draco atau Scorpius saja."
Aku menatap terkejut dan senang padanya. "Mereka membicarakanku?"
Dia mengangguk-angguk. "Kau bekerja di gedung ini?" tanyanya
"Yaa. Dan kau?"
"Aku baru saja bertemu dengan teman di gedung ini. Jadi, kau mau kemana?"
"Pulang," jawabku singkat.
Dia tertawa. "Granger, Granger. Apakah kau akan pulang dan membaca semua buku-bukumu?" dian masih tertawa menggodaku.
Aku tersenyum. "Aku tak sama dengan gadis yang kalian katai dengan rambut semak seperti dulu lagi, Zabini."
"Benarkah? Jadi, aku bisa membelikanmu minuman?"
Kulirik jam tanganku. Masih ada sekitar dua jam sebelum Bree pulang. "Sure."
Kami berada di sebuah bar and lounge yang tak jauh dari kantorku. Blaise dan aku terlibat perbincangan ringan. Tentang ia yang ternyata menjalankan perusahaan keluarganya dan menjadi rekanan bisnis Draco di Inggris. Tentang masa-masa kuliah mereka dan perbincangan kami berakhir di sebuah topik yang tak kuduga. "Aku masih terkejut bahwa Draco dapat melupakan As dan sekarang terlihat sangat bahagia bersamamu."
"Maksudmu?" aku bertanya serius padanya.
Blaise tampak sadar bahwa ia tak seharusnya berkata seperti itu. "Sudahlah, aku hanya asal bicara."
"Lanjutkan."
"Granger."
"Aku serius. Kau tak mau melihatku namaku besok muncul di surat kabar karena bunuh diri saking penaran akan hal ini, bukan?" ujarku berusaha mencairkan suasana.
Ia tertawa dan perlahan semua cerita mengenai kekasihku dengan Astoria terungakp. Seperti yang Draco ceritakan malam itu bahwa ia disiksa oleh Voldemort dan antek-anteknya ternyata tak hanya meninggalkan bekas luka yang tampak di tubuhnya tapi juga pada psikisnya. Draco sempat mengalami PTSD dan Astoria ada untuknya. Selama masa pemulihan psikisnya, Astorialah yang setia menemaninya. Dan tanpa sepengetahuan mereka, keluarga mereka telah menjodohkan dan memaksa mereka untuk menikah. Hal itu sama sekali bukan masalah bagi Draco karena ia sangat mencintai wanita itu, tapi hal itu menjadi masalah karena Astoria tak mencintainya. Astoria hanya ingin menjadi teman yang baik bagi Draco, tapi tidak dengannya. Akhirnya mereka menikah karena tak ada yang berani melawan perintah keluarga. Astoria mencoba untuk mencintai Draco, tapi ia selalu gagal. Dan akhirnya Draco merelakannya. Mereka bercerai tiga tahun lalu saat Scorpius berusia dua tahun. Draco berpikir bahwa dengan adanya Scorpius akan mengubah segalanya, tapi ia salah.
"Jadi ia masih mencintai Astoria?" tanyaku yang terasa seperti tak bernyawa.
Blaise meletakkan gelasnya. "Jangan bodoh, Granger. Dia sudah merelakannya dan lihat betapa bahagianya ia bersamamu."
Aku mencoba tersenyum menanggapinya.
Mereka menikah selama tujuh tahun dan Draco sangat mencintainya. Ketika Blaise mengatakan bahwa ia terkejut karena Draco dapat melupakannya terus terngiang di benakku. Sebesar apa rasa cintanya pada Astoria? Aku yakin ia menyayangiku, tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam aku tahu dia masih mencintainya. Draco masih mencintainya.
000
to be continued
Thank u again for reviews, alerts, favorites, and PM. I love U!. You guys rock! Please leave ur review:)
