..

..

..

[Chapter 11] – Means of Love

..

I receive some critics, but I don't receive any plagiarism.

This storyline belong to Channie10

Keadaan masih sama mencekamnya dari lima menit lalu. Tangisan Sehun sudah mulai reda dengan Taemin yang mulai tenang. Nafas berat masih menjadi suara yang menyelimuti mereka berdua.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan, dari Kyungsoo-hyung?"tanya Sehun. Ia berdiri membelakangi Taemin. Menatap bulan yang menjadi pencahaan satu-satunya. Taemin membuang mukanya, "Memang apa yang bisa ku minta? Aku ingin ia tak mendekati Minho -hyung ku, apa aku salah?"

Sehun membalikkan badannya, menatap wajah Taemin dengan matanya yang menyayu. "Lalu kenapa kau menyekap dia sekarang?"tanyanya. Taemin menatap Sehun dan berkata, "Bukan aku itu Jongdae dan Krystal"

XXXXXX

Chanyeol bisa merasakan dadanya makin sesak dari hari ke hari. Ia tak tahu tentang Kyungsoo yang telah berpindah tangan. Ia hanya menganggap kalau rasa sesak didadanya adalah rasa yang dialami Kyungsoo saat ini. Dan selama ini ia tahu kalau Kyungsoo masih bertahan.

"Chanyeol-ah"panggil Sandara. Gadis itu berdiri diambang pintu kamar Chanyeol. Rambut hitamnya ia gerai dengan sebuah topi hitam yang menutupi kepalanya.

Chanyeol membalikkan kepalanya, ia menatap kakak perempuannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Seminggu tanpa Kyungsoo membuatnya semakin terlihat kurang waras.

Sandara berjalan mendekati Chanyeol. Berdiri disamping adiknya lalu memeluk tubuh jangkung itu. Bahu tegap Chanyeol bergetar dan air mata mulai mengalir dari matanya. Sandara mengelus punggung Chanyeol sembari menutup matanya. Kenyataan harus segera terungkap.

"Kita harus bicara –tidak, bersama dengan keluarga Kyungsoo juga"ucap Sandara lalu menarik Chanyeol kelantai bawah.

..

..

Mobil Chanyeol berhenti didepan rumah Kyungsoo. Dinding kayunya terlihat berubah semenjak terakhir kali ia datang. Mereka berdua berjalan mendekati rumah Kyungsoo dan mengetuk pintunya. Setelah beberapa menit, terdengar suara Sehun berteriak dari dalam dan suara langkah yang tergesa.

"Chanyeol-hyung? Apa yang hyung lakukan disini?"tanyanya seraya menatap Chanyeol bingung. Matanya juga menatap sosok Sandara disamping Chanyeol.

Chanyeol menatap Sandara dan berkata, "Dia kakak perempuanku, kita harus bicara"

Sehun mempersilakan Chanyeol dan Sandara masuk. Mereka duduk disofa walaupun itu tak nyaman. Sehun kembali dengan Jongin disampingnya. Lengan Jongin ia apit diantara lengan dan ketiaknya.

"Jadi, apa yang akan kita bicarakan?"tanya Jongin seraya mengucek matanya. Lalu menatap dua makhluk supernatural yang mengganggu tidur hangatnya bersama Sehun.

Sandara menatap sekeliling, "Omong-omong mana kekasih Kyungsoo dan vampir satunya?"tanyanya. Sehun menepuk jidatnya dan berkata, "Aku akan menelepon Baekhyun-hyung dan Luhan-hyung"

..

Luhan dan Baekhyun datang dalam kurun waktu sepuluh menit. Suara mobil bak Luhan begitu nyaring hingga bisa meyakinkan Sehun bagaimana Luhan menyetir tadi.

"Kau tak perlu membanting setir hyung, Bahkan kita belum membicarakan apapun"ejek Sehun kala sosok Luhan memasuki rumah. Pakaiannya masih sama kusutnya dengan wajahnya.

Sandara tersenyum, "Baiklah aku akan mengatakan ini. Kyungsoo mungkin telah tidak bersama Chen sekarang. Ia mungkin bersama Krystal, kau kenal north killer beauty?"ucap Sandara. Baekhyun, Luhan, Jongin, juga Chanyeol menganggukkan kepalanya. Sedang Sehun hanya melongo.

Sandara menghela nafasnya kemudian, ini semakin menegangkan dan canggung. "Aku tak yakin bagaimana keadaan Kyungsoo. Chen mungkin tak akan melakukan hal gila pada Kyungsoo, tapi Krystal? Siapa yang tahu?"ucapnya lagi. Chanyeol terlihat hanya menatap lantai kayu rumah Kyungsoo. Ia terlalu kalut bahkan hanya untuk mendengar kelanjutannya.

Luhan mengusak kepalanya, "Apa maksudmu? Kyungsoo akan mati?"tanyanya dengan kemarahan. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Mungkin melepaskan Kyungsoo untuk Chanyeol bisa ia lakukan, namun untuk membiarkan sosok North Killer Beauty membunuh Kyungsoo, ia tak bisa diam saja.

Baekhyun menghela nafasnya, "Luhan tenanglah. Kita cari jalan keluar, jika tak ada solusi. Perang memang tak bisa terelakkan"

XXXXXX

Kyungsoo meringis kala rasa perih menyerbu matanya saat akan terbuka. Tangannya sudah kebas karena tambang yang mengikatnya begitu erat. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Luas, gelap, dingin, dan lembab.

Ia tak tahu dimana ini tepatnya. Tapi kemunculan sosok gadis rambut panjang dari balik pintu kayu cukup menjelaskan segalanya.

"Oh, oh. Ternyata pangeran polos telah bangun, apa yang kau rasakan, hem?"ucap gadis itu. Suaranya dingin, rendah, dan menusuk. Krystal berjalan pelan kearah Kyungsoo. Ia berdiri dibalik Kyungsoo dan mencium aroma dari ceruk leher Kyungsoo.

"Kau tahu, apa yang akan terjadi bila aku menancapkan taringku disini?"ucapnya dengan suara rendah seraya mengelus nadi besar Kyungsoo dileher.

Kyungsoo menggeliat tak nyaman dikursinya. Ia takut akan ada sesuatu hal buruk yang terjadi dalam kurun waktu sepulu menit kedepan. Ia meringis kala merasa sesuatu tajam menusuk lehernya.

"Akh! Apa yang kau lakukan!"pekiknya bersamaan dengan taring Krystal yang menancap dilehernya.

..

Dilain tempat. Chanyeol membuka matanya sontak membuat semua orang terkaget. Matanya memerah dan taringnya mulai muncul dari mulutnya. Sandara membulatkan matanya.

"Oh tidak! Chanyeol tenang, Chanyeol tenang!"Sandara terus berteriak mencoba menenangkan adiknya yang sedang merasakan sesuatu terjadi pada mate-nya.

"Apa ada hal buruk yang terjadi?"Sehun bertanya dengan kekhawatiran. Jongin mencoba menenangkan Sehun dengan mengelus lengannya.

"Siapapun Krystal itu, dia akan mati"geramnya. Lalu ia berdiri dan melesat pergi. Luhan dan Baekhyun berlari menyusul Chanyeol. Mereka juga akan melakukan yang sama.

Mereka bertiga berhenti disebuah dahan pohon besar didekat sebuah kamar dengan jendela terbuka. Terdengar suara jeritan menyakitkan Kyungsoo dari kejauhan membuat Chanyeol makin menggeram dan langsung berlari kesana.

Ia mendorong menjauh gadis berambut merah panjang itu dari Kyungsoo. Ia menjilat seketika dua lubang dileher Kyungsoo dan sedetik kemudian luka itu menutup. Baekhyun dan Luhan muncul dari jendela, mata Luhan dan Baekhyun seketika memerah kala melihat sosok Kyungsoo yang terikat disebuah kursi kayu.

Luhan berhenti seketika saat matanya melihat rantai perak yang melilit tubuh mungil Kyungsoo. Ia menggeleng sembari menatap Baekhyun. Baekhyun berjalan kedepan dan melepaskan lilitan rantai perak dari tubuh Kyungsoo lalu melepas simpul tambang dipergelangan tangannya.

Ia mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol. Melihat Baekhyun memeluk Kyungsoo terlalu menyakitkan. Gadis bernama Krystal itu menempel didinding dan terlihat nyalinya seketika menciut kala melihat bola mata semerah darah milik Chanyeol.

"Kau brengsek"geram Chanyeol dengan suara yang rendah. Krystal mengangkat satu sudut bibirnya dan tangan yang ia sembunyikan dibalik punggungnya seketika ia berlari kencang dan menempatkan telapak kakinya didada Chanyeol seketika membuat Chanyeol terpelanting jauh dari tubuh gadis itu.

Ia berbalik dan menyeringai seraya menatap Chanyeol yang tengah terbatuk. Tanpa ia sadari Luhan sedang berlari menuju kearahnya dengan taring yang muncul dimulutnya.

Zrasshh…

Pakaian yang dipakai Krystal robek yang menampilkan luka cakaran besar yang mengeluarkan darah. Ia sedikit limbung saat akan membalikkan badannya. Ia memandang Luhan sedetik lalu meninju pipi kiri Luhan dengan kuat hingga ia sedikit terhuyung.

Baekhyun yang masih memegangi Kyungsoo kini sedang berjalan mengendap untuk keluar dari kastil itu. Kyungsoo kehilangan banyak darah dan ia harus segera diobati.

Tapi saat ia sedang mencoba untuk membuka pintu kayu, ada seorang pria dengan rambut hitam legam yang menghalangi langkahnya.

"Kau tertangkap"

XXXXXX

Dilain tempat. Sandara begitu juga dengan Kai dan Sehun tengah mengendarai mobil dan menuju rumah seseorang.

"Sebenarnya kita akan kemana?"tanya Sehun panik. Tangannya sudah berkeringat dan jantungnya terus memukul.

"Kerumah seseorang yang bisa membantu kita. Kim bersaudara terlalu kuat hanya untuk empat vampir, seorang werewolf, dan seorang peri"jawab Sandara seraya terus menyetir. Fokus dan pikirannya terbagi, ia harus memfokuskan pandangannya pada jalan sedang pikirannya melesat jauh kearah Chanyeol.

"Bukannya ini Aderlaine"ucap Kai tiba-tiba. Sandara hanya diam alih-alih menjawab. Ia tak ingin fokusnya hancur sia-sia.

Mereka berhenti didepan sebuah mansion yang berdinding tebal dengan pagar baja yang kuat. Sandara berlari kearah pagar baja dan mendorongnya agar terbuka. Lantas kakinya berjalan cepat menyusuri lorong-lorong dengan obor yang menempel dibeberapa tempat. Kai dan Sehun hanya mengikuti dibelakangnya.

Kai dan Sehun berhenti saat Sandara menghentikan langkahnya didepan sebuah ruangan dengan pintu kayu besar dan sebuah kunci besi yang besar. Sehun sudah ada didalam pelukan Kai karena tempat ini terasa benar-benar aneh.

Sandara jatuh dilantai porselen. Ia sudah menangis dan terisak. Kai dan Sehun hanya memandang tanpa ada niatan untuk membantu Sandara.

"Jongsoo-oppa, tolong kami. Hikss.. C-chanyeol"isaknya. Kai mengerutkan dahinya saat Sandara menyebutkan satu nama 'Jongsoo'.

Pintu itu tiba-tiba terbuka. Menampilkan sebuah singgasana megah dengan lampu yang menyilaukan mata. Sandara berjalan kedalam, Kai dan Sehun hanya berdiam diambang pintu. Mereka mungkin keluarga, namun untuk masalah ini, mungkin keluarga Chanyeol lebih mengetahui.

"Apa yang terjadi padanya?"suara dingin menyapa gendang telinga Sandara. Ia mendongakkan kepalanya dan bertemu pandang dengan seorang pria dengan rambut brunette, mata kelam, dan juga pakaian hitam.

Sandara berdiri dan mengusap jejak airmatanya. "Takdirnya… memang membunuhnya"lirihnya diakhir kalimat seraya menundukkan kepalanya. Ia bisa merasakan kemarahan mulai menyelimuti dirinya, dan juga sosok kakaknya yang mengepalkan tangannya.

Jongsoo membuang mukanya, "Aku sudah mengatakan padamu jauh-jauh hari. Bunuh saja dia! Dia pemilik takdir amaranth! Tapi kau tetap mempertahankannya!"teriak pria itu. Sandara semakin menundukkan kepalanya.

"Tapi dia anakku!"

XXXXXX

Perjalanan mereka ke kastil Krystal hanya diisi dengan Sandara yang terus menutup mulutnya dan Kai yang menyetir ugal-ugalan dijalan. Ini sudah larut dan juga kawasan Irish yang tak begitu dijamah.

Sehun mengelus punggung Sandara yang masih bergetar, "Sudahlah jangan menangis Nyonya Park"ucapnya.

Mobilnya berhenti disamping kastil dan suara pertarungan dari lantai teratas sudah terdengar keras.

"Terlalu membuang waktu untuk menaiki tangga"ucap Kai seraya menggendong Sehun bridal dan meloncati dahan pohon dan berhenti dijendela teratas.

Sehun hampir saja menitikkan air matanya kalau saja tak ada tangan Kai yang menggenggamnya. Ia bisa melihat Chanyeol yang sudah bebak-belur dan juga Baekhyun yang masih mencoba menyerang sosok pria tak dikenal dengan wujud srigalanya.

Entah apa yang terjadi, ia hanya merasa kantuk tiba-tiba menyerangnya dan ia jatuh tertidur. Kai bergumam, "Lebih baik kau tak melihat kejadian ini"

Luhan berusaha menghindari beberapa pukulan dan tendangan dari Krystal. Sandara berlari kearah Krystal lalu menendang gadis itu hingga tubuhnya terpental jauh. Luhan dan Sandara berlari kearahnya dan menatapnya dengan iris yang telah berubah dan taring yang muncul.

Luhan hendak menusuknya dengan sebilah pasak yang ia selipkan disaku jaketnya. Seseorang menghentikan lengannya, Luhan menatapnya dengan mata merahnya. Dan sejurus kemudian menghadiahkan pria itu sebuah bogem mentah yang dapat ditangkis oleh pria itu.

"Apa yang kau lakukan?"geram Luhan. Ia semakin menggenggam erat pasak ditangannya, walaupun kemungkinan ia tertusuk juga muncul ia tak peduli.

"Hanya menyelamatkan adikku. Kau tak berniat membunuhnya bukan"

"Chen"geram Luhan kembali. Ia semakin mengeratkan genggamannya lalu hendak menerjang Chen saat sosok Krystal'lah yang menendangnya menjauh.

Sandara berlari mendekat dan yang ia dapatkan sebuah pukulan keras dirahang bawahnya juga tendangan didadanya. Membuatnya terbatuk-batuk. Chen menatap dengan seringainya Baekhyun yang tengah mencoba melawan Jongwoon –kakaknya.

Waktu seperti terhenti saat sosok Chen menatap Kyungsoo. Pria mungil itu bahkan belum sadar dari pingsannya. Dan ia bisa melihat darah yang keluar dari pelipis dan sudut bibirnya.

"Apa kalian yakin? Lima vampir melawan tiga vampir?"ucapnya dengan seringaian. Chanyeol menelan ludahnya begitu juga dengan Luhan dan Sandara.

"Kenapa tidak?"ucap Chanyeol lalu tiba-tiba ia berlari dan menendang dagu Chen hingga pria itu terpelanting dan terjatuh.

Tanpa Chanyeol sadari, sosok Krystal berlari kearahnya dengan sebilah pasak ditangannya.

"Hiyaa.."

Cleb..

Chanyeol jatuh dengan darah yang mengucur dari pinggangnya. Meski ini bukan pasak perak dan juga bukan jantungnya tapi kemungkinan ia mati juga muncul. Matanya terasa memburam saat ia melihat sosok Kyungsoo yang menangis seraya menraung-raung memanggil namanya.

Entah apa yang membangunkan Kyungsoo dari pingsannya. Saat Chanyeol terjatuh dan meringis reflek, ia terbangun dan berlari kearah Chanyeol. Ia memangku kepala Chanyeol dan mencoba untuk mencabut perlahan pasak itu. Ia juga menutup luka menguak itu dengan pakaiannya.

"Hiks.. C-chanyeol-ah…hikss"isakannya menggema disudut-sudut ruangan. Semua mata memperhatikannya. Dengan perasaan sedih, marah, kecewa, hingga bangga.

Krystal yang berdiri disudut ruangan menyeringai dan menatap sekeliling. Ia mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikan segalanya dan ini akan menjadi lebih baik.

Saat Kyungsoo menunduk untuk memeluk Chanyeol, Krystal berlari kearahnya dengan sebilah pisau yang ia bawa ditangannya. Saat ia hendak menancapkan pisau itu, sebuah angin seperti mendorongnya menjauh. Membuatnya terpelanting beberapa kali, dan akhirnya terjatuh diambang pintu.

Mata Sandara yang telah memerang menatap keatas. Kearah sosok pria rambut brunette dengan pakaian hitam dan sayap putih yang muncul dari balik punggungnya. Percikan bubuk peri menyebar kala ia mengepak-epakkan sayapnya. Membuat beberapa mata merasa terkagum.

Ia mengangkat tubuh Kyungsoo dan Chanyeol dengan sihirnya. Melenyapkan beberapa ingatan tentang amaranth dan selanjutnya membawa dua tubuh itu kesebuah tempat dengan teleportasi. Ia punya masalah lebih besar disini.

Enam pasang mata menatapnya dan saat ia melihat sosok pria rambut gelap disamping pintu. Ia menyebarkan bubuk peri kesekeliling hingga membuat 'Kim bersaudara' terbatuk dan akhirnya jatuh teridur.

"J-jadi, s-sang pembenar.."ucap Sandara memecah keheningan. Ia menatap Jongsoo dengan matanya yang sudah kembali normal dan airmata dipelupuknya. Semua orang yang tersisa menatap Jongsoo pula dengan berbagai pertanyaan dikepala mereka.

"Aku memang ditakdirkan untuk menyelesaikan takdir ini. Untuk menyatukan sepasang anak adam yang dipermainkan oleh takdir."ucap Jongsoo lalu ia terbang pergi dengan Kim bersaudara.

Mereka –Kai, Sehun, Baekhyun, Luhan, juga Sandara- menuruni kastil dan menyetir pulang. Ini terlalu membingungkan dan dalam satu waktu kedatangan Jongsoo bagi Sandara seperti memperkeruh keadaan. Walau ia sudah melenyapkan Kim bersaudara, bukan dalam artian takdir ini telah berakhir.

Mereka memutuskan untuk bermalam dirumah Kyungsoo untuk sementara. Sampai sosok Kyungsoo dan Chanyeol kembali entah dari mana. Mereka hanya berharap, bahwa takdir ini telah berakhir, tak ada lagi perang, tak ada lagi hidup yang terpisah, dan juga waktu yang akan menyembuhkan segalanya.

Walau cinta mungkin dalam hal supernatural tak begitu dipercaya. Tapi pada hakekatnya cinta yang membangun masalah, dan cinta pula'lah yang menyelesaikan masalah.

END

Epilog

Kaki-kaki mungilnya menapaki jalanan setapak yang ditumbuhi rumput sore itu. Ia memejamkan matanya saat angin mengelus kulit wajahnya, membuatnya merasa lebih hidup dan nyaman. Sepasang lengan melingkar dipinggangnya, membuat sosoknya membuka matanya.

Ia tersenyum saat ia bisa merasakan hembusan nafas sang mate membentur lehernya. Membuat sesuatu dalam dadanya terasa membuncah dan memukul. Ia butuh oksigen.

"Jangan membuat dirimu sakit dengan angin sore Kyungsoo. Apa kau ingin membuat baby disini sakit, hem?"bisik Chanyeol seraya mengelus perut buncit Kyungsoo.

Kyungsoo menundukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Ia menarik tangan besar Chanyeol untuk memasuki rumah.

Mereka kembali dalam kurun waktu lima bulan. Dan setelah itu mereka merencanakan pernikahan, dan hasilnya adalah Kyungsoo yang tengah mengandung sekarang.

"Astaga, Kyungie. Bukankah sudah ibu bilang jangan mencari angin sore. Itu bisa membuatmu sakit"ucap Sandara dari dapur. Ia membawa secangkir teh dan meletakkannya diatas meja. Ia menggandeng Kyungsoo untuk duduk diatas sofa dan meminum teh.

Takdir memang berakhir. Berakhir bagi mereka, namun mereka terlahir kembali. Tanpa ada taring, mata memerah, dan juga rasa berburu. Mereka hanya merasakkannya sebagai cinta. Mungkin ini adalah hikmah dari takdir amaranth yang begitu mematikan.

Ini adalah akhir bahagia dari sosok manusia polos macam Kyungsoo dengan sosok vampir giant macam Chanyeol. Mereka memulai kehidupan kembali dengan seorang bayi laki-laki bernama Park SooHyun. Hidup bersama hingga tua dengan rambut memutih dan kulit yang menua.

Ternyata benar, CINTA mematahkan segalanya.

END

End on Monday, June 16, 2014. 9.22 PM.

Word count:: 24,194 words.

I want to say thanks for readers who always wait this fic, and foregive me for late update. End for The Fate and Lucifer also Room 112 still continue.

Though this fic isn't enough good. And readers who always review on all my fics. I need your response. Send below!

In receive a fic request. Comment you OTP and I'll make the majority. ASAP.

Channie10.