A/N:Im so so sorry for the delay in updates. I always can give you the same old excuses of real life. I just came from business trip. I promise to try harder to get my next update out sooner. I hope you enjoy:)

I own nothing, unless my favorite Alex and Bree

Chapter 8: Surprise Surprise

Wangi tanah yang bercampur dengan guyuran hujan sesiangan ini menciptakan aroma dan sensasi tersendiri di indera penciumanku. Musim semi yang sudah berlangsung sejak beberapa mingu lalu membuat tanaman-tanaman menjadi teramat segar dan menghijau bak permadani. Central Park taklah menjadi pengecualian. Aku ingat saat aku, Bree, dan Alex sangat senang menikmati kilauan matahari di taman ini hanya dengan membaca buku atau mendengarkan musik lalu berjalan pulang untuk kembali ke flat kami. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

Bree melambaikan tangannya saat melihatku memasuki kedai kopi di daerah Central Park. Green tea latte kegemarannya telah berada di atas meja. "Kau lama sekali," protesnya saat seorang pelayan telah meninggalkan kami setelah aku berhasil memesan secangkir Americano.

"Hujan. Dan konklusi dari hujan di kota ini adalah kemacetan," jawabku santai sambil memeriksa ponselku.

Ada beberapa e-mail dari kantor, perusahaan kartu kredit, butik, dan Draco. Dan tak ada satu niatpun untuk membaca semua itu. Tak ada alasan tertentu untuk bertemu dengan Bree. Kebetulan sekali aku keluar kantor lebih cepat dari biasanya dan ia juga begitu. Alex akan kembali dari Los Angeles malam ini dan penthouse kami akan kembali berpenghuni. Bree dan Olivier berniat untuk bermalam disana dan aku senang bukan kepalang karenanya. Sudah hampir seminggu Draco berada di luar negeri dan kami hanya berkomunikasi lewat ponsel dan teknologi internet yang ada. Entah mengapa ada sedikit kebahagiaan saat ia tak bersamaku. Contohnya seperti sekarang, aku dapat menghabiskan sore bersama Bree. Bukannya aku tak menyukai saat ia bersamaku, aku sangat menyukainya bahkan aku dapat mati rindu karena tak bertemu dengannya. Tetapi, terkadang aku merasa ia terlalu berlebihan terhadapaku. Aku selalu menghabiskan malam di tempatnya, menemaninya kemanapun tempat yang ia inginkan, mengikuti semua keinginannya. Sekali lagi, bukannya aku tak suka. Mungkin aku terlalu suka bersamanya sampai melupakan kehidupanku sebelum bertemu dengannya.

"Anggap saja hal ini semacam liburan hati."

Aku mengerutkan dahi menanggapi pernyataan Bree barusan. "Dia keluar negeri dan kita dapat berkumpul seperti sebelumnya lagi. Lagipula semua ini bukan hanya faktor Draco semata saja, aku, Alex, dan dirimu juga sibuk dengan urusan masing-masing," jelasnya.

Aku menghela napas. "Just called this is the stage of our life," tambahnya lagi.

Benar. Ini adalah fase dari kehidupan kami. Menghabiskan akhir pekan bersama dengan menjelajahi kota satu ke kota lainnya, berjemur di taman dengan buku dan musik di kuping masing-masing, bergadang karena ujian dan semua tugas, pergi ke konser musik idola masing-masing, bertengkar karena hal yang sepele, tidur dengan orang random setelah minum seperti orang gila dan masih banyak hal lain yang menjadi semacam pendewasaan diri bagi kami. Dan disinilah kami sekarang, di fase kehidupan yang harus kami nikmati. Fase kehidupan dimana kami mulai menata kehidupan pribadi masing-masing. Bree dengan rencana pernikahannya, Alex dengan promosi jabatannya, dan aku bersama Draco.

"Pastikan kita tetap akan berkumpul bersama saat sudah tua nanti," kekehku.

"Mungkin aku akan memesan kuburan di sampingmu nanti," jawabnya.

Kami tergelak bersama. Mungkin aku juga akan memesan kuburan di samping Harry dan Ron. Aku juga sangat meridukan mereka. Akan kuatur jadwalku agar secepat mungkin untuk terbang kesana. "Apalagi yang kau lamunkan?"

Aku mengedik. "Aku merindukan Harry dan Ron. Aku berencana untuk ke London beberapa hari saat jadwalku tak segila sekarang."

"Kau memang butuh liburan. Suasana Inggris yang senyap akan mengembalikan suasana hatimu yang belakangan ini kacau."

Aku memandang jijik padanya kemudian tertawa. "Aku kira kau kembali memikirkan perkataan Zabini."

"Hal ini juga menjadi salah satu dari hal yang merusak pikiranku," jawabku setelah menyesap Americano yang masih mengepul di hadapanku.

Bree memberikan tatapan kesal padaku. Aku tahu ia selalu komplain tentang diriku yang terlalu berpikir secara berlebihan, tapi aku benar-benar tak bisa menghindari hal ini. "Draco menyukaimu, itu fakta yang semua orang tahu, Ems."

"Tapi ia juga menyukai Astoria atau lebih tepatnya masih mencintai mantan istrinya itu."

Kali ini Bree yang menghela napas. "Kalau begitu menangkan ia, buat ia juga mencintaimu."

"Aku tak ada apa-apanya dibanding wanita itu. Ia cantik, berdarah murni, pandai memasak, dan terlebih lagi ia ibu dari anaknya. Dan aku rasa ia akan tetap terlihat sangat cantik ketika bangun tidur."

Bree membenarkan posisi duduknya agar bisa menatapku dengan seutuhnya. "Kau juga cantik, meskipun tak bisa memasak, dan tak ada yang bisa mengubah garis keturunan darahmu, dan masalah dia cantik di pagi hari kau bisa memakai riasan sebelum todur dan akan tetap cantik saat bangun nanti, tapi kau juga bisa membuat dirimu menjadi ibu dari anaknya," ujarnya serius yang kubalas dengan pelototan.

"Kau gila, Bree!" kemudian aku tertawa.

"Hanya dengan melupakan mantra kontrasepsi atau apapun yang kalian gunakan saat berhubungan dan kau juga bisa menjadi ibu dari anaknya."

Aku mencebik dan lagi-lagi tertawa. "Tapi aku serius," ucapku kembali pada Bree.

"Ems darling, man is about hungry and horny. If you can't give him a great food, just give him a great fuck. And the problem solve."

"A great fuck?" aku memandangnya dengan tawa yang tak dapat lagi kubendung.

Dan seperti inilah saat kami bersama. Perkataan gila dan unsensored menjadi perhiasan wajib di dalamnya.

000

Entah berapa banyak karbohidrat yang masuk ke dalam tubuhku hari ini. Alex membuatkan kami pancake dengan segala macam pelengkap, Bree kembali dari berbelanja dengan beraneka macam cupcake dan pie, lalu dilanjutkan dengan pizza dan sekarang kami sedang terduduk bodoh di ruang tengah setelah menyantap chinnese food untuk makan malam ini. Aku, Alex, Bree, dan Olivier benar-benar menjadi manusia rumahan yang tak sanggup keluar dari tempat ini karena terlalu malas. Lagi-lagi faktor usia akan membuat kita memilih bagaiamana cara menghabiskan akhir pekan. Kami hanya berbincang bodoh, nonton film secara marathon dan beberapa kegiatan rumahan lainnya. Aku tengah menyadar santai di bahu Alex saat ia tetiba bangkit. "Ada apa?"

"Ayo kita main beer pong," ucapnya.

Kami semua menatapnya tak percaya. "Ayolah, Lex," ujar Bree malas dan kembali bergelung ke pelukan tunangannya.

"Malam masih panjang dan kita hanya bermalasan bodoh seperti ini. Membakar kalori tak ada salahnya, bukan?"

Kini aku yang mendelik saat mendengarnya. Dimana otak pria ini? Ada jutaan kalori di dalam kandung bir dan ia memberi alasan permainan ini untuk membakar kalori.

"Ayolah, kita sudah lama sekali tak melakukan ini."

"So random," jawabku.

Dan dengan sedikit jentikan dari tongkatnya meja lengkap dengan sepuluh pasang gelas bir yang ditata seperti piramida telah siap di ruang tengah kami. Olivier bangkit pertama kali. "Let's do this."

Aku dan Bree berpandangan. "Feels like in NYU's dorm, baby," kekeh Bree.

Alex berpasangan denganku secara otomatis. Permainan diawali oleh Bree dan Olivier yang hanya berhasil memasukkan empat bola dari sepuluh kali kesempatan yang menghasiikan ejekan dari Alex. "Kemana segala kemampuanmu, little sister?"

"Shut up, Lex!" amuk Bree setelah lemparan terakhir yang tak kunjung masuk sasaran.

"Watch me, baby,"ungkap Alex sombong.

Kesombongan Alex yang membawakan hasil. Kami benar-benar berada di atas angin. Semua lemparan bola kami tepat sasaran. Kini bola terakhir berada di tanganku. "Kau butuh tiupan keberuntungan dariku, Ems," kusodorkan bola pingpong kecil itu dan ia meniupnya.

Aku mengambil ancang-ancang dan bola itu tepat masuk ke sasaran. Sontak aku dan Alex berteriak gembira. Ia memelukku dan mengangkatku. "Habiskan bir itu, Bridget," ucapku bangga.

Bree menghabiskan bir terakhirnya dengan kami yang tertawa terbahak. Mata Olivier bagai menangkap sesuatu objek di belakangku. Masih dengan rasa bangga akan permainan ini aku berbalik dan terkejut dibuatnya. Alex ikut berbalik dengan tangan yang masih memelukku nyaman.

"Apakah aku melewatkan sesuatu yang menyenangkan disini, Hermione?" tanyanya dengan tatapan yang tak lepas dari tangan Alex yang masih melingkar di pinggangku.

Somebody kill me, please.

000

Seketika kesenangan di wajah kedua sahabatku memudar. Sebenarnya tak ada bendera perang yang secara resmi mereka tabuh setiap menghadapi Draco, tapi menurut sepengakuan Bree keberadaan Draco seperti mengintimidasi dan mereka akan lebih senang menyingkir untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Alex melengos begitu saja setelah mengucapkan selamat malam pada kami begitu juga dengan Bree dan tunangannya. Rasanya seperti sedang berkencan dengan Snape saja. Lagi-lagi aku menghela napas.

Seharusnya Draco kembali esok malam dan mungkin saja ia ingin membuat sebuah kejutan dengan tetiba muncul di penthouse kami. Satu hal yang aku pelajari sejak berpacaran dengannya; sebuah kejutan tak akan pernah berjalan dengan lancar pada kami. Aku tak memedulikannya saat kami telah berada di kamarku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan ritual malamku. Baru saja aku keluar dari kamar mandi, ia langsung menarikku ke dalam ciumannya. Aku dapat merasakan seluruh helaan napas yang menyapu wajahku. Detak jantungnya terasa nyata di dadaku. Tangannya sudah terlalu sibuk mengacak-acak rambutku. Kucoba untuk tak terlalu membalasnya. Aku mengingatkan diri sendiri bahwa aku harus marah padanya. Ada terlalu banyak hal yang harus kami bicarakan secara sadar. Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri darinya tanpa harus melukai perasaannya. Namun semakin aku ingin mendorongnya, semakin aku ingin membenamkan seluruh diriku padanya. Tak bertemu dengan makhluk ini selama seminggu penuh merupakan kesengsaraan tersendiri bagiku. Ia melepaskanku dengan kepalanya yang bersandar di keningku. "Ada apa?" tanyanya dengan napas yang terdengar terengah.

Aku tak tahu apakah harus melakukan pembicaraan ini sekarang. "Hermione Granger?"

"Kita harus bicara," jawabku mencoba setenang mungkin.

Mata Draco menatapku curiga. "Mengenai?" tanyanya yang masih enggan untuk melepaskanku.

Aku terdiam dan tak tahu apakah harus membicarakan semua hal yang ada di benakku saat ini. "Bila hal ini mengenai Alex yang merangkulmu seperti tadi, kita bisa membahasnya besok. Aku hanya ingin kau sekarang," ucapnya dan kembali berusaha untuk menciumku.

Secara otomatis aku melangkah mundur dan menggeleng padanya. "Bukan Alex, tapi kau, aku dan Astoria."

"Astoria?" seketika tubuhnya seakan menegang saat aku menyebut nama mantan istrinya itu.

Aku mulai memberitahu semua yang ada di dalam pikiranku saat ini. Tentang hubungan kami yang aku tak tahu apakah memiliki masa depan atau tidak dan tentang dirinya yang masih mencintai Astoria. Setenang mungkin aku mengungkapkan segalanya. Ia hanya diam – seperti biasanya. Wajah dan tubuhnya tampak menegang bagai disiram oleh air es yang diambil langsung dari Antartika.

"Katakan sesuatu, Draco," ujarku.

Manik wajahnya perlahan berubah. Kini ia ikut bersamaku yang sedari tadi duduk di tepian ranjangku. Ia mengelus pipiku tanpa ada senyuman atau perubahan wajah yang menunjukkan kebahagiaan sama sekali. "Kau tahu, Granger? Satu minggu ini adalah minggu terberatku. Kau tahu kenapa?"

Aku menggeleng sebagai respon dari pertanyaanya. "Karena aku harus berpisah ribuan mil darimu. Selama satu minggu ini, hanya kau yang ada dipikiranku tentunya selain Scorpius dan perusahaan. Dan kecemasanmu sama sekali tak beralasan," ia menarik napas sejenak.

"Aku tak dapat menjanjikan masa depan bagimu, tapi aku merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang. Dan demi apapun, Granger, aku dan As sudah berpisah. Hanya kau wanita yang ada di hidupku saat ini," akhirnya ia menyelesaikan kalimat super panjangya itu.

Aku masih menatapnya tak percaya. The cold Draco dapat berbicara sepanjang ini padaku. "Apalagi yang masih mengganjal di pikiranmu?" ia kembali mengelus pipiku.

"Kau tahu aku selalu memanggilmu 'honey'."

"Lalu?"

"Kenapa kau tak pernah memanggilku dengan sebutan sayang lainnya juga atau apalah, kau justru senang sekali memanggil nama keluargaku."

Ia menatapku sesaat dan tertawa terbahak-bahak. Aku tak tahu apa yang lucu dari perkataanku, tapi ia tertawa seakan-akan aku adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar. "Draco!"

"Kau wanita cantik, sukses, mandiri, dan dewasa, Granger. Mendengarmu mempertanyakan tentang hal seperti ini membuktikan sifat manja dari wanita tak akan pernah menghilang dan kau sama sekali bukanlah pengecualian," jelasnya.

"Damn you, Malfoy!"

Ia berusaha untuk berhenti tertawa. "Baiklah, baiklah. Panggilan apa yang kau inginkan? Pumpkin? Little sunshine? Atau sweety?"

Aku mengernyit dengan semua panggilan yang ia sebutkan barusan. "Aku serius, Draco."

"Aku jauh lebih serius darimu," balasnya.

Aku hanya memasang wajah kesal padanya. "Anggap 'Granger' adalah panggilan sayangku padamu. Karena aku benar-benar menyayanngimu."

Senyumku merekah dengan sendirinya. "Is that clear?" tanyanya.

"Belum," jawabku.

Ia menghela napasnya. "Baiklah, kita punya waktu semalam suntuk. Mari selesaikan segalanya."

000

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sekarang secara resmi aku hanya memiliki seorang roomate karena secara resmi juga Bree sudah pindah bersama Olivier, suaminya. Ganjil memang rasanya, tapi hal itulah yang terjadi. Sudah hampir dua bulan belakangan ini penthouse hanya menyisahkan aku dan Alex. Draco semakin sering bermalam di tempatku dengan satu alasan; Alex. Dia selalu menaruh curiga pada sahabatku itu. Dan sudah beratus-ratus kali kutegaskan padanya bahwa bukan seperti itu hubunganku dengannya, tapi aku tengah berbicara dengan seorang Draco Malfoy si kepala batu.

Aku masih ingat betapa khidmatnya pemberkatan Bree dan Olivier di salah satu cathedral di kota ini. Orang tua Bree dan Alex dan hampir seluruh keluarga besarnya diboyong kesini. Kami sampai harus merapalkan mantra peluas tempat untuk menyambut mereka. Saat itu Bree sangat cantik dengan gaun putih simpel berjalan di lorong menuju altar dengan Alex dan ayahnya yang mengantarnya. Seketika sosok wanita gila, penuh hura-hura, dan kurang tanggung jawab sirna sudah. Dan kini ia resmi menjadi istri dari Olivier pria yang tak lama ia kenal dan dinyatakan sebagai belahan jiwa olehnya. Resepsi diselenggarakan secara sederhana namun tetap elegan. Aku dan Alex sibuk dengan seluruh teman kami yang datang. Dan semua hal itu membuat Draco selalu mengekor kemanapun aku berada. Lagi-lagi alasannya adalah Alex.

Waktu benar-benar terasa berjalan begitu cepat. Rasanya baru saja aku membicarakan tentang arogansi Draco yang membuat teman-temanku terasa terintimidasi olehnya dan kini secara perlahan Draco menunjukkan niat baiknya untuk menjalin pertemanan dengan kedua sahabatku itu, walaupun Alex menjadi sedikit pengecualian baginya. Draco lebih dapat meredam sifat bossy dan suka mengaturnya di hadapan Bree dan Alex. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia memberikan kado pernikahan mewah pada Bree dan Olivier, yaitu berbulan madu di Maldives dengan seluruh akomodasinya. Aku tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, Draco tak sedingin penampilannya.

Karena Alex selalu menjadi topik utama kecemburuannya jadi, aku hanya akan membuka tangan dengan sangat lebar saat ia ingin bermalam di tempatku. Sebenarnya ia selalu mengajakku untuk bermalam di tempatnya tentunya dengan setengah memaksa, tapi ada banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah seluruh peralatan kerjaku tak dapat dengan mudah kupindahkan begitu saja. Meja arsitekku dan segala macam kalkir serta pulpen yang melengkapinya. Semua hal itu bukanlah barang yang dapat dipindahkan seenak hati. Aku hanya bisa menghabiskan malam bersamanya saat akhir pekan atau disaat aku tak sedang dikejar oleh deadline yang dapat membunuh sewaktu-waktu.

Dan seperti akhir pekan biasanya pula, aku, Draco, dan Scorpius selalu menghabiskannya bersama. Mulai hanya sekadar makan es krim bersama, menemaninya berenang di rooftop, ke kebun binatang, dan saat ini kami sedang berada di Hampton karena Scorp ingin bermain di pantai. Draco memiliki properti di daerah Montauk dan kami akan bermalam di sini. Sedari tadi ia sibuk dengan ponsel di telinganya 'ada investor baru' kata-kata itu yang menjadi alasannya untuk meninggalkan kami di tepi pantai.

Angin bertiup lumayan kencang namun matahari masih menunjukkan sinarnya. Scorpius tengah sibuk dengan istana pasir yang sedari tadi ia bangun. Hanya mengenakan celana pendek bewarna merah dan rambutnya yang berantakan tersapu angin membuatnya semakin menggemaskan. Sesekali ia menghindari ombak yang datang tanpa tertawa atau tersenyum sedikitpun. Aku mulai berpikir bahwa dulu ayahnya juga sedatar ini. Angin semakin kencang saat kulihat Scorpius masih sibuk dengan aktivitasnya. Kuhampiri dirinya dan ikut duduk bersamanya di hamparan pasir putih ini.

"Kau mau kita masuk?" tanyaku padanya.

Ia menggeleng. "Aku takut kau terkena flu," ujarku lagi.

"Ayah belum bermain bersamaku," jawabnya masih dengan tangan yang sibuk dengan ember dan skop pasirnya.

Aku tersenyum padanya. Draco dan pekerjaannya. Busy like hell. "Kenapa ia masih sibuk dengan ponselnya, Emma?"

"Kau tahu Scorp, terkadang orang dewasa memiliki segudang kesibukan. Tapi, itu hanya terkadang dan ayahmu sedang mengalaminya sekarang," jelasku padanya.

Ia hanya mengedikkan bahu. "Kau terdengar seperti Mum."

Wow! Pernyataannya sanggup mengejutkanku. Aku? Seperti ibunya? Gila.

Tak ada respon dariku karena sesungguhnya aku bingung dan cenderung kehilangan kata-kata. "Aku sudah memiliki Mum lalu kau akan menjadi apa bagiku nanti?"

"Apapun yang kau inginkan, little boy," jawabku dengan senyuman padanya.
Draco berjalan mendekati kami. Hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaus bewarna putih ia tampak sangat santai hari ini. Pemandangan yang sangat langka karena hampir setiap hari ia selalu memakai setelan lengkap atau tak berbusana sama sekali saat bersamaku.

"Hey," sapanya pada kami kemudian mendaratkan kecupan di puncak kepalaku dan menghampiri putranya.

"Angin sangat kencang, Scorp. Kau bisa terkena flu bila tak memakai baju," ujarnya.

"Dia menunggumu untuk bermain," jawabku.

Draco menatapku kemudian menatap jagoan kecilnya. "Benarkah itu?"

Scorpius mengangguk. "Well, ayah minta maaf karena sibuk menerima telepon," ujar Draco yang ikut berjongkok dengan kami di tepi pantai.

"Bagaimana kalau kita berlomba lari menuju pondok dan mencari kegiatan di dalam?" tantang Draco pada putranya .

Scorpius menatap ayahnya dan seperti meminta dukungan padaku. Aku hanya mengangguk kemudian tersenyum. Tanpa tedeng aling-aling lagi, Scorp bangkit dan lari meninggalkan kami. Draco sontak langsung bangkit dan tersenyum. Senyuman yang hanya tercipta untuk putraya."Kau curang, Scorp," teriak Draco yang langsung ikut berlari

Ia memalingkan wajahnya padaku dan aku melambaikan tangan agar ia tetap mengejar Scorp. Aku kembali duduk di pasir sambil membereskan perlengkapan bermain milik Scorp. Desiran angin menyapu wajahku. Kuhela napas panjang sambil memejam mata. Aku suka keadaan ini.

000

Alex baru kembali dari perjalanannya. Hampir tiap bulannya ia akan pergi dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. 'Karena nasabah kaya adalah segalanya' itu adalah jargon darinya. Dan kini kami ibarat melepas rindu. Sudah lama kami tak berkumpul bersama. Terakhir kali aku, Bree, dan Alex keluar bersama adalah saat Bree pulang dari bulan madunya sekitar empat bulan yang lalu. Tak ada perbedaan yang berarti dari Bree selain ia selalu mengabari dimana keberadaannya pada suaminya. Aku rasa pernikahan tak semenakutkan yang kupikirkan.

"Apa aku akan segera mendapatkan keponakan?" tanya Alex disela makan malam kami.

Ia menggeleng. "Olivier ingin punya banyak anak, tapi aku?" Bree bertanya pada dirinya sendiri. aku dan Alex hanya saling bertukar pandangan. "Kita lihat saja nanti," tambah Bree.

Kami hanya terkekeh. Percakapan kami berjalan seperti biasa. Gurauan bodoh. Sarkasme. Sampai ocehan tak penting yang membuat kami semakin hidup. Bertemu mereka adalah penawar kepenatan kehidupan selain Draco tentunya. Alex dan Bree seperti Harry dan Ron versi sangat muggle bagiku. Aku benar-benar akan meluangkan waktuku untuk bertemu dengan mereka. Bahkan sudah lama sekali kami tak saling berkirim surat. Terakhir kali adalah saat Harry mendapatkan promosi jabatan sebagai kepala divisi Auror.

"So, how's you and the mogul, Ems?" tanya Bree

Aku menatap Bree dengan dahi mengerut. "Mogul?"

"Itu panggilan Alex untuk Draco," jawab Bree terkekeh

Aku memelototi Alex dan melempar bantal dari sofa kepadanya. Beruntunglah kami hanya memesan makanan malam ini di penthouse sehingga dapat bertingkah gila sesukanya. "Kenapa kalian tak pernah berhenti saling mengolok?" tanyaku antara kesal dan menahan tawa.

Kini Alex yang mengernyitkan dahi padaku. "Tunggu. Ia mengolokku?"

Aku tak menjawabnya karena ego pria akan sangat tinggi bila berhubungan dengan hal seperti ini. "Ems?" pintanya dengan suara kesal.

"Kalian berdua harus berdamai," ujarku. "Kau harus berhenti mengoloknya dan aku akan berusaha agar Draco tak lagi menaruh curiga dan cemburu berlebihan padamu," tambahku lalu menenggak wine sampai habis.

Alex terbahak setelah aku menyelesaikan kalimat. "Ia cemburu padaku. The great mogul jelous over me. That's a huge record," ia masih tertawa yang disambut oleh Bree.

"Oh ayolah, Ems, atas dasar apa Draco cemburu pada kakakku?"

"Atas dasar alien gila di otaknya," sambar Alex.

"Alexandro LeClaire!"

"Kau terdengar seperti ibuku, Ems," ia berusaha meredam tawanya.

Aku juga ingin sekali tertawa, tapi kutahan untukmu, Draco! "Dia selalu berpikir bahwa kau menyimpan perasaan padaku," jawabku lemas.

"Gila," ujar mereka bebarengan.

Aku menghela napas. "Katakan itu incest," lalu Alex menyesap wine setelah menggoyangkan gelasnya.

Bree memperhatikan ponselnya sejenak kemudian beranjak. "Aku harus pulang, Olivier sedang dalam perjalanan."

"The good wife," cibir kakaknya.

"Shut up, Lex!"

Aku tertawa dan ikut bangkit. "Dan kau?" Alex bertanya padaku.

"Bertemu Draco, jangan menungguku," ujarku memungut jaket dan memakai kembali stiletto yang tadi kulepaskan.

Alex menjatuhkan tubuhnya di sofa dan melepas kacamatanya. "Aku akan segera menikah bila kalian terus meninggalkanku seperti ini."

Bree dan aku tertawa."Menikah dan bertobatlah."

000

Penthouse Draco tampak lengang. Hari kerja berarti aku tak akan mendapati Scorp duduk di kitchen stool dengan buku atau apapun maianan di hadapannya. Belum ada tanda-tanda keberadaan Draco. Dari kabar terakhir yang kudapatkan yaitu tadi sore ia masih rapat dan tak tahu akan selesai pukul berapa. Hal yang kutahu ia hanya ingin bertemu denganku malam ini disini dan aku juga begitu. Entahlah, akhir-akhir ini kehadirannya menjadi hal terpenting dalam hariku. Membaui tubuhnya, melelapkan diri di dadanya, dan terbangun di sampingnya adalah rutinitas ternikmat bagiku.

Kuambil gelas dan wine di kitchen counter dan menyesapnya secara perlahan. Entah berapa banyak wine yang sudah meresap di tubuhku hari ini. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah penthouse ini. Senyum bahagia terpancar dari diriku saat melihat ruangan ini. Aku selalu berpikir orang yang memilki penthouse ini adalah orang yang beruntung karena dapat menikmati landscape kota ini dari segala sisi. Dan aku berdiri disini sekarang. walaupun aku bukan pemilik dari penthouse ini setidaknya aku dapat menikmati seluruh pemandangan ini kapanpun kumau.

Panas dari anggur yang telah terfermentasi ini seperti menjalar di seluruh pembuluh darahku. Aku menikmati wine dengan umur puluhan tahun ini tepat di depan jendela super besar yang langsung menghadap ke keramaian kota ini. Kerlap-kerlip lampu malam, kendaraan yang masih berseliweran, dan pejalan kaki yang kuduga akan kemballi ke pelukan keluarganya masing-masing.

"Hey," ujarku pada Draco yang tetiba memelukku dari belakang.

Tanpa harus mendengar suaranya, aku akan mengenalinya langsung hanya dari aroma tubuhnya. "Kau melihat apa?"

Aku menunjuk Rockefeller Center. "Setiap Natal saat masih di NYU, aku serta Bree dan Alex selalu mendatangi tempat itu hanya untuk menikmati pohon natal super besar, alunan musik, dan bermain skating di ice ring," ucapku lalu menghela napas. Aku dapat merasakan Draco meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Namun semakin berjalannya waktu, kami tak pernah melakukannya lagi. Terlalu kekanakan dan kami kehilangan banyak waktu bersama," tambahku lagi.

Kini Draco mencium kepalaku sambil merapatkan pelukannya padaku. "Kita bisa melakukannya Natal tahun ini. Kau dan aku, mungkin dengan Scorp."

Aku tersenyum mendengarnya. "Terdengar menyenangkan."

Ia membalikkan tubuhku dan menciumku dengam lembut namun dengan penuh gairah yang meluap-luap. Aku melepaskannya dan tersenyum entah kesekian kalinya. Aku berjinjit dan mengecupnya. "Wine?" tanyaku.

"Sure."

Saat aku kembali dengan dua gelas wine di tanganku, alunan musik terdengar sayup-sayup di telingaku. Tangan Draco langsung menarikku dan meletakan kedua gelas yang kupegang di salah satu meja di ruangan ini. "Dansa?"

Draco Malfoy dengan sejuta kejutannya. Ma Cherie Amour milik Stevie Wonder mengalun lembut di telinga kami. Aku bergerak mengikuti alunan dan gerak yang dipimpin Draco. "Kau tengah bahagia sekali."

"Kau membuatku bahagia, mi querida*," jawabnya dalam dansa kami.

Aku menatapnya bingung namun tubuh kami tetap bergerak mengikuti alunan sayup musik ini. "Ada apa?" ia berbalik tanya dengan senyuman yang seperti tersembunyi di wajahnya.

"Mi querida? Spanish?"

Ia mengangguk. "Kau meminta panggilan khususku padamu dan rasaku panggilan itu cocok bagimu," jawabnya dan kembali menciumku.

Aku tak sanggup berkata-kata. Draco dan anaknya selalu berhasil membuatku tak dapat berkata-kata. Aku kembali berjinjit dan mengecupnya sangat lama. "Je veux passer ma vie à t'aimer*," ujarku terlalu bahagia.

"Jangan mulai meracau dengan bahasa itu," ujanya.

"Maaf. Aku terlalu senang," jawabku dengan tawa kecil lalu memeluknya erat-erat.

Dia ikut tersenyum bersamaku. Kami berpelukan dengan dagunya yang beristirahat di kepalaku. "Apa arti kalimat tadi?"

Aku melepaskannya dan menatapnya dengan tatapan menggoda. "Cari tahu sendiri."

Dia menciumku dengan ganas kali ini dan aku hanya mengikuti keinginannya. "Aku punya kejutan untukmu, mi querida."

Terasa aneh kata itu keluar dari mulutnya, tapi aku sangat menyukainya. "Apa?"

Kemudian ia melepaskan dasi yang masih ia kenakan dan menutup mataku. "Apa yang mau kau lakukan?" tanyaku sambil tertawa.

"Percayalah padaku."

Ia menuntunku perlahan. Aku mencium wangi kayu. Aku tahu dimana kami sekarang. Ruangan bernuansa kayu di penthouse ini adalah ruang kerja Draco. "Kau siap?" tanyanya.

Aku hanya tertawa kecil saat ia melepaskan tutup mataku. Terkejut. Hanya itu. Meja arsitek lengkap dengan sebuah kursi yang terlihat nyaman. Saat kualihkan kesudut lain, aku dapat melihat meja dengan tumpukan kertas kalkir dan pulpen-pulpen gambar yang kubutuhkan. Pertama, semua baju dan perlengkapanku. Sekarang, semua peralatan kerjaku.

"Kau suka?"

Aku tak sanggup membuka suara. "Kau pernah mengatakan tak bisa setiap malam berada disini karena kau harus menyelesaikan semua pekerjaanmu. Oleh karena itu, aku membawa semua keperluanmu kemari," ujarnya.

Ia berdiri tepat di sampingku. Aku memandangnya dengan tak tahu harus bertindak apa. "Pindahlah kesini. Bersamaku."

"Hermione, katakan sesuatu," ujarnya tanpa bergerak dari tempatnya.

"Aku butuh udara segar," ujarku dan menghambur keluar.

Kejutan tak akan pernah berhasil bagi hubungan kami.

000

to be continued

How's the chap? I really hope u like it. Thank u all for ur continued reviews, favorites, and alerts. It really means a lot to me. YOU GUYS ROCK! So keep read and review. Thank U! (again)

*sayangku

**Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku untuk mencintaimu