Author Note: hay! Update dua hari sebelum tahun baru XDDD semoga kalian sempat membacanya sebelum tahun baru. Terima kasih atas reviewnya untuk chapter sebelumnya :D Enjoy~

Disclaimed: KH belong to Tetsuya Nomura and Square Enix.

Troublesome Family

Chapter 27

Aku bergumam pelan saat dibangunkan. Hangat sekali. Rasanya aku tidak ingin bangun, tapi desakan seseorang yang menyuruhku bangun membuat mataku terbuka perlahan.

Gelap. Remang-remang pencahayaan menunjukkan sosok Kadaj yang begitu dekat denganku.

"Bagus. Kau sudah bangun. Menyingkirlah dari Riku karena kami harus menggotongnya."

Kesadaranku belum pulih sepenuhnya, tapi reaksi tubuhku sungguh cepat. Aku menjauh dari Riku ketika mengetahui sejak tadi aku menyandar padanya. Rupanya sumber penghangatku adalah Riku.

"Kenapa kalian menggotongnya?" kugosok mataku yang masih mengantuk.

"Dia tidak sadar saat kami panggil berkali-kali. Kemungkinan besar dia pingsan karena demam akibat infeksi pada lukanya." Kadaj menarik Riku keluar dari kursi belakang, dan dioper pada Loz yang bertenaga paling kuat di antara semua yang ada.

"Di mana Yazoo?"

"Memanggil Dad kemari."

"O-oh..."

Tidak lama, Yazoo kembali tidak bersama Dad, melainkan ranjang dorong. Riku pun dibaringkan di atas kasur. Dengan sigap, Yazoo mendorong Riku ke suatu tempat dan hanya menyisakan aku bersama Kadaj dan Loz.

"A-apakah...luka Riku seserius itu?" Kecemasan kurasakan melihat Riku harus diangkut menggunakan kasur dorong.

"Tepatnya, dia infeksi. Daya tahan tubuhnya masih lemah, sehingga luka kali ini infeksi."

Rasa bersalah tentu kurasakan. Riku terluka karena aku...

Kami bertiga memasuki lantai 3—tadi kami berada di basement. Karena hanya aku yang mengalami luka lecet, dokter yang diminta tolong oleh Dad, merawat luka-lukaku dan memperbani lukaku. Riku berada di ruang gawat darurat. Operasi harus dilakukan untuk mencegah infeksi menyebar keseluruh tubuhnya.

"Bagaimana keadaan kalian?" Dad datang ke ruang perawatanku bersama Yazoo.

"Baik," jawab kadaj dan Loz.

"Bagaimana lukamu, Sora?"

"Aku...? Tidak terlalu buruk..."

Dad mengangguk dengan pelan. "Sementara Riku istirahat, kita akan membahas penyerangan beberapa saat yang lalu. Markah Reaper Crown berhasil kita ledakkan. Seperti yang diketahui, markas tersebut hanyalah cabang. Meledaknya markas cabang tentu membuat mereka geram dan ini merupakan kesempatan kita untuk melacak markas-markas mereka yang lain. Meski begitu, kalian harus meningkatkan waspada kalian, terutama kau Sora."

"Aku?" Seketika aku bingung.

"Ya. Mungkin mereka akan menyelidiki biodata di sekolahmu untuk mencari anggota kita dan juga The Organization yang membantu kita menyerang markas mereka."

Aku menyilangkan tangan dan menunduk. Berpikir sejenak. "Bukankah itu sudah lama terjadi?"

"Nah! Tumben kau tahu!"

Ucapan Kadaj serasa seperti meledekku.

"Hey!" Pipiku langsung menggelembung. "Memangnya aku sebodoh itu!?" Sebenarnya aku memang lamban, tapi untung aku masih ingat perkataan Roxas.

Yazoo dan Kadaj tertawa mendengar kata-kataku. Sedangkan Loz, dia hanya memberi senyum sinis sambil berkata 'heh'.

Dad berdehem dan semua kembali diam. "Memang benar mereka sudah melakukan penyelidikan sejak beberapa bulan yang lalu, tapi mereka belum menyelidiki hingga dalam sekolah. Baru menyelidiki dari luar saja. Sistem pengamanan di sekolahmu sangat kuat. Bahkan pembunuh bayaran profesional saja masih kesulitan membobol sistem keamanan sekolah, tapi bukan berarti tidak bisa dibobol."

Rasanya, siapa saja yang bisa membobol sistem keamanan sekolah bisa dikatakan jenius. Tentunya yang merancang sistem itu jenius juga jika memang belum pernah ada satu pun orang yang bisa membobolnya. Mungkinkah Dad bisa membobolnya, makanya dia berkata 'bukan berarti tidak bisa dibobol'? Well, who know?

"Tetaplah waspada dan persiapkan diri kalian, karena dua hari lagi kita akan melakukan penyerangan di markas selanjutnya."

Mataku melebar. "Markas mereka yang lain telah ditemukan?"

"Ya. Peledakkan markas mereka kemarin membantu penyelidikikan kita menemukan markas mereka yang lain, tapi kau tidak akan ikut karena akan dirawat inap beberapa hari."

Aku pun kecewa, tapi juga bertanya-tanya bagaimana caranya Dad bisa menemukan markas Reaper Crown yang lain. Semudah itukah?

"Untuk hari ini, sebaiknya kalian istirahat di sini. Pulang ke mansion sangat berbahaya untuk saat ini," perintah Dad.

"Berbahaya? Bagaimana dengan Sky di rumah?" Aku pun cemas memikirkan Sky jika terjadi penyerangan di Mansion.

"Nah, it's okay. Sky bisa bersembunyi jika terjadi penyerangan. Mungkin juga dia membunuh satu atau tiga orang yang menyerang. Kalau ada penyerangan." Kadaj terkesan santai mengatakannya.

"Tapi aku khawatir..." Aku bergumam pelan.

"Tidak apa-apa. Sky terlatih. Sebaiknya kau segera tidur." Yazoo meranggangkan badan sambil meninggalkan kamar inapku.

"Selamat malam," kataku pada mereka semua yang pergi meninggalkanku sendiri di kamar inapku.

Tersisa Dad. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan padaku. Sayangnya, hening panjang antara aku dan Dad membuatku canggung. Apa yang hendak Dad sampaikan hingga dia terdiam selama ini?

"Sora."

"Y-ya?"

"Apakah kau berteman dengan salah satu anggota The Organization?"

"Um, ya. Dia teman sekolahku."

"Hanya sekedar memberitahu. Meski saat ini kita bekerja sama dengan mereka, bukan berarti kita sudah bukan saingan. Kita tetap saingan, dan bisa saja mereka mengambil kesempatan untuk membunuh kita di saat bekerja sama. Tetaplah waspada."

Aku mengangguk pelan sambil memikirkan perkataan Dad. Sebenarnya aku ingin menyangkal perkataan Dad, tapi perkataannya mungkin ada benarnya. Roxas memang tidak ada niat membunuhku, tapi dia juga tidak segan-segan menyerangku saat kami bertemu sebagai musuh. Aku tidak tahu kapan nyawa ini akan melayang, tapi sebaiknya aku mencoba bersikap waspada seperti sarannya.

"Tidurlah yang lelap," kata Dad sambil meninggalkan kamar inap ini.

Setelah Dad pergi, aku yang sendirian di kamar inap pun segera tertidur.

(-o-)

Saat siang, tentunya aku menjenguk Riku. Hebatnya, dia sudah sadar dari koma. Daya tahan tubuhnya sungguh hebat. Meski banyak menggerutu kesakitan setiap kali bergerak, tapi Dokter yang memeriksanya mengatakan dia sangat sehat. Well, semangat hidup Riku memang sangat kuat. Dia bahkan sudah bisa bercanda dan menggodaku. Dasar...

"Well, baguslah jika kau cepat sembuh."

"Yeah, tapi Dokter tidak mengizinkanku keluar selama 2 minggu. Terlalu."

"Nah, kurasa demi memulihkan metabolismemu."

"Bagaimana dengan lukamu?"

"Karena rata-rata lecet, mungkin 1 minggu kurang untuk sembuh total."

"Sembuh total," kata Riku sambil tertawa. "Tubuhku tidak pernah bisa mendapatkan yang namanya sembuh total."

"Makanya! Hati-hati!" balasku dengan tegas.

"Iya, iya. Kau juga hati-hati agar aku tidak terluka," balasnya dengan senyum sinis.

Aku pun terdiam. Memang benar lukanya kali ini karena melindungiku. Memikirkannya tentu membuatku sedih. Oh man. Kemampuanku masih jauh dari kata profesional. Aku hanya mendesah mengingatnya.

Riku menyalakan TV. Mencari saluran yang menayangkan berita. Benar juga, aku cukup penasaran apakah peledakkan markas Reaper Crown—yang juga sekaligus markas polisi—masuk dalam berita ya?

"...berita selanjutnya. Kemarin malam, sekitar pukul 11 malam, terjadi kejadian yang menggemparkan seluruh penduduk kota Land of Departure. Sebuah bom dengan daya ledak yang dasyat meledak di markas polisi. Menurut saksi mata, sebelumnya, terjadi penyerangan teroris di dalam markas polisi.

Bagaimana para teroris bisa memasuki markas polisi, saat ini masih diselidiki oleh polisi. Beberapa saat setelah penyerangan, seseorang—yang entah teroris ataukah polisi— berteriak 'ada bom', hingga seluruh orang yang berada di sekitar tempat kejadian berlarian menyelamatkan diri. Jumlah korban luka ringan saat ini lebih dari 200 orang. Untuk luka berat, berjumlah 46 orang. Di duga, para teroris berbaur dengan penduduk yang berlari ketakutan setelah bom meledak untuk menghilangkan jejak mereka."

Aku menyimak penjelasan sambil menatapi tayangan tempat pengeboman kami setelah terkena bom.

"Beralih ke berita selanjutnya..."

Riku langsung mengganti saluran lain. Sekali lagi, dia mencari saluran berita lain.

"...kami akan mewawancarai salah seorang saksi mata yang melihat bom tersebut meledak. Maaf pak, bisakah Anda menceritakan secara singkat bagaimana kejadiannya?"

"Kejadiannya sungguh mengerikan! Bom yang meledak begitu mendadak terasa mengguncangkan tanah. Bagaikan gempa bumi! Tidak hanya itu, kepanikkan para penduduk bertambah karena banyaknya puing-puing bangunan yang berterbangan terhempas ledakan. Untungnya, korban yang terkena puing yang terbang tidak sampai tewas, melainkan hanya luka berat."

"Baik. Terima kasih, Pak. Demikianlah kesaksian dari..."

Berita yang berakhir langsung membuat Riku mematikan TV. "Kurasa berita tentang bom akan berlangsung selama 3 hari berturut-turut."

"Iya. Kurasa ini juga yang akan menjadi buah bibir yang dibicarakan oleh seluruh penduduk yang menyaksikannya."

Pintu kamar Riku terbuka. Dad datang mengunjunginya.

"Hay, Dad," kataku dan Riku bersamaan.

"Bagaimana lukamu, Riku?"

"Seperti ini saja," jawabnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Bagaimana denganmu, Sora?"

"Sudah lebih baik."

Dad mengangguk. Benda yang sedaritadi dibawanya diberikan padaku. Sebungkus kotak putih. Aku bisa mencium aroma makanan dibalik kardus tipis di balik plastik ini.

"Itu makan siang kalian berdua. Makanlah dan kembali istirahat agar kalian cepat pulih."

Aku hanya mengangguk, lalu Dad keluar dari kamar Riku.

Kubuka kotak di dalam plastik. Roti yang masih hangat! Pantasan wangi sekali. Roti dengan taburan keju leleh di atas, ditambah sedikit kacang walnut, dan terdapat selai cokelat di tengah lapisan roti. Melihatnya saja membuatku mengiler. Kurasa aku sanggup menghabiskan semua roti ini tanpa tersisa, tapi aku harus ingat, bahwa aku harus berbagi dengan Riku juga. Mungkin lain kali aku akan membelinya sendiri dan makan langsung di tempat belinya.

Kudekati Riku dan duduk di sampingnya.

"Ini," kataku sambil mendekatkan kotak kue pada Riku.

"Kau menyuruhku makan sendiri?" Alis Riku terangkat sebelah.

"Memangnya kenapa?" Aku bingung mendengarnya.

"Kau tidak lihat? Sebelah tanganku dibalut perban. Sebelah tanganku yang satu lagi ditancap infus?"

"Jadi? Kau maunya bagaimana?"

"Suapin."

"Memangnya kau anak-anak?" Alisku terangkat sebelah.

"Oh well. Terserah kau saja mau menganggapku apa. Kau tega melihatku kelaparan?"

"Um...iya!" Aku pun menyengir dengan nada bercanda.

"Dasar tega," balas Riku sambil tertawa.

"Memang." Aku menjulur lidahku.

Karena rotinya telah terpotong-potong, sepotong kuambil dan kudekatkan pada mulut Riku.

"Buka mulutmu dan katakan aaaaaa..."

"Aku akan buka, tapi tidak akan mengatakan a," balas Riku dengan tawa.

Menyuapi Riku entah mengapa ingin membuatku tertawa. Tidak ada yang lucu sih, tapi rasanya begitu aneh hingga ingin membuatku tertawa. Riku terkadang iseng mengisap jariku dan membuatku geli.

"Mulutmu penuh dengan selai cokelat," kataku dengan tawa.

"Well, kau yang menyuapiku dan membuat mulutku kotor," balasnya dengan senyum sinis.

"Memang benar sih, tapi kau yang meminta disuapkan," kubalas senyum sinisnya.

Sehelai tisu kuambil dan kulap mulutnya. Mungkin begini rasanya jadi pengurus bayi? Yang kuurus saat ini memang bukan bayi sih, tapi bayi besar. Gara-gara memikirkannya aku sampai terkekeh dan membuat Riku kebingungan.

"Mengapa kau tertawa? Ada yang lucu?" Riku memiringkan kepalanya.

"Tidak. Kau seperti bayi besar yang manja. Tingkahmu seperti bayi yang sering kulihat di TV."

"Bayi, huh? Well, tidak apa-apa. Asalkan kau mau merawatku selalu." Riku pun menggodaku.

"Tentu saja. Kalau kau nakal, maka aku akan menjewermu," balasku dengan candaan.

"Oh well..." Riku hanya tersenyum sinis.

(-o-)

Selama seminggu penuh, berita tentang pengeboman masih gencar. Tidak henti-hentinya mereka menayangkan tentang kesaksian warga, polisi, tempat kejadian, hasil penyelidikan, dan masih banyak lagi.

Masih sambil menyuapi Riku—dia benar-benar mau jadi bayi besar, aku terus menyimak dan menghafalkan isi berita. Apakah ada petunjuk mengenai pelaku atau sejenisnya.

"Sora, kau keterlaluan."

"Huh?" Aku langsung bingung mendengar Riku bicara.

"Itu sendok sudah kosong. Kau menyuruhku memakan sendok?"

"Huh? Oh ya, maaf," balasku sambil terkekeh. Tanpa kusadari satu piring makanan sudah dihabiskan oleh Riku.

"Minum."

"Iya..."

"Well, well, anak bayi baru selesai makan?" Kadaj masuk sambil meledek Riku yang baru selesai makan.

"Oh, hay, Kadaj," sapaku.

"Yo," kata Riku. "Bagaimana kabar di luar?" Riku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Kadaj—atau sesungguhnya mengacuhkannya?

"Luar biasa."

Alisku tentu terangkat sebelah mendengarnya. "Apakah seheboh itu kasus peledakkannya?"

"Bukan itu," bantah Kadaj. "Maksudku, keadaan sungguh luar biasa, alias biasa-biasa saja."

Aku hanya bisa menatapinya dengan sweat drop. Dia aneh sekali hari ini.

"Bagaimana dengan misi?" Riku bertanya lagi.

"Ah, ya. Menumpuk. Sora, kau dipanggil bekerja bersamaku nanti malam berhubung kau sudah dinyatakan siap kerja lagi oleh dokter."

"Bagaimana dengan Riku? Siapa yang menjaganya?" Aku menatap Riku dengan bingung.

"Ah, bayi besar masih mau dijaga?"

Sindiran kali ini membuat Riku tersinggung. "Ya, ya. Aku tidak perlu dijaga. Pergilah bersamanya."

"Yakin?" tanyaku. Ikut menyindirnya sedikit.

"Yakin. Pulang bawakan aku oleh-oleh."

"Ya." Aku terkekeh pelan melihat ekspresi Riku yang merasa sedikit kesal.

"Ini daftar yang akan kita bunuh. Kita akan berangkat sore, jadi kau masih punya waktu untuk bersiap-siap, pemanasan, menyiapkan perlengkapan, dan memberi makan bayi di sana sebelum berangkat," kata Kadaj dengan senyum sinis.

Kulirik Riku saat Kadaj mengatakan 'bayi di sana'. Riku mendengus kesal, tapi tidak membalas apa-apa. Aku ingin ketawa, tapi kutahan.

"Ya. Apakah hanya kita berdua?"

"Untuk sementara, iya. Untuk kedepannya, rencana bisa berubah karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi."

Aku mengangguk-angguk. Berkas yang Kadaj berikan ada sepuluh lembar. Yah, aku sih tidak akan membaca semuanya. Hanya membaca yang menurutku penting-penting saja.

"Sudah tidak ada pertanyaan? Maka aku akan segera pergi," kata Kadaj tanpa menunggu jawabanku. Dasar...

"Oh well. Aku akan bersiap-siap sekarang. Apakah kau perlu bantuanku sebelum aku pergi?"

"Tidak."

Masih ada nada kekesalan saat Riku mengatakannya. Aku pun tertawa pelan.

"Tidak ada yang lucu." Riku menggerutu dengan wajah kesal.

"Iya, iya. Sampai nanti," balasku sambil meninggalkan kamarnya.

Aku sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit kemarin, tapi aku masih menginap di sini. Mengapa? Ya sudah jelas mengurus Riku. Baru sekarang aku pulang karena harus mengambil perlengkapanku. Di sini sebenarnya ada, hanya saja karena bukan milikku, sentuhan senjata di sini terasa asing bagiku hingga menurunkan akuransiku.

Kumainkan HP-ku sambil menunggu bus. Tengah asik memainkan game dalam HP, sebuah pesan singkat masuk. Kubuka dan kubaca. Dari nomor yang tidak kukenal.

"Sora, aku akan menunggumu di Mansion. Ada hal penting yang ingin dibicarakan," kataku sambil membaca pesan tersebut.

Dalam hati aku bertanya-tanya. Siapa yang mengirim pesan ini? Kadaj? Yazoo? Loz? Ayah? Riku? Ah, tidak mungkin Riku. Dia kan tidak diizinkan keluar. Jika salah satu dari mereka, seharusnya nomor HP ini tersimpan dalam buku HP. Mungkinkah salah satu dari mereka mengganti nomor HP? Bisa jadi, tapi hal ini sangat jarang terjadi.

Bus datang dan aku segera naik. Penumpang di dalam bus masih sepi, sehingga aku mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Bus kembali berhenti dan seseorang menaiki bus ini.

"Ah," kataku dengan nada terkejut.

Ternyata yang naik adalah Sir Cloud, guruku. Sir Cloud melihatku dan memutuskan duduk di sampingku.

"Siang, Sir Cloud," sapaku.

"Siang juga. Habis dari mana, Sora?" tanyanya.

"Um, habis dari rumah sakit."

"Siapa yang sakit?"

"Saudara tiriku, Riku. Dia mengalami... sedikit kecelakaan, sehingga masuk rumah sakit." Kujawab dengan hati-hati. Aku tidak mungkin bilang Riku tertembak. Yang ada dia akan mencurigaiku.

"Begitu. Sebaiknya kau juga hati-hati, agar tidak mengalami kecelakaan juga, Sora."

"Ya," balasku sambil mengangguk. "Sir Cloud habis dari mana juga?" Aku mencoba berbasa-basi sedikit agar suasana antara kami berdua tidak canggung.

"Saya habis mengunjungi teman yang sakit."

"Oh. Sakit apa?"

"Demam. Karena terlalu lelah, akhirnya dia sakit dan kini masuk rumah sakit juga."

Aku hanya mengangguk-angguk. Hening selama perjalanan. Sir Cloud turun terlebih dahulu karena sudah tiba di tempat tujuannya. Dia pamitan padaku sebelum pergi.

"Sampai nanti," balasku dengan senyum.

Kini aku sendiri. Sebuah pesan singkat masuk. Dari Riku.

'Jika sudah selesai, langsung kembali ke sini,' itulah isi pesan darinya.

Aku tersenyum. 'Memangnya kenapa? Kesepian?' Kubalas pesannya.

'Well, terserah apa yang kaupikirkan,' begitulah balasannya.

(OvO)

Tiba di Mansion, aku dikejutkan oleh sosok Leon. Ternyata dia yang menunggu!

"Leon!" Aku begitu girang saat lari mendekatinya.

Senyumannya langsung muncul begitu aku mendekat. "Hey."

"Jadi kau yang mengirim pesan singkat padaku?" tanyaku.

"Ya."

"Ada apa? Oh!" Aku pun baru ingat sesuatu. "Bagaimana caranya kau masuk ke dalam mansion?"

Leon menunjukan kunci mansion. "Sephiroth yang memberikannya padaku."

"Dad? Oh..."

"Hal yang ingin kubicarakan adalah tentang misimu nanti."

"Apakah aku tidak sendirian bersama Kadaj?" selaku.

"Masih, hanya saja, kebetulan aku memiliki misi yang lokasinya berada sama persis denganmu dan Kadaj, sehingga ada kemungkinan kau bertemu dengan targetku."

Aku mengangguk, menandakan aku menyimak.

"Selain itu, aku juga akan memburu targetmu jika kebetulan bertemu, tapi kita tetap harus melaksanakan tugas masing-masing dan tidak diizinkan bergabung kecuali keadaan terdesak."

"Contoh keadaan terdesak?" Kepalaku miring ke kanan.

"Reaper Crown. Bisa jadi mereka juga disewa untuk melindungi target kita."

Aku mengangguk-angguk dengan mulut berbentuk 'O'.

"Jika kita bertemu, kita tetap bergerak sendiri-sendiri. Jika ada informasi yang penting, kalian bisa sampaikan padaku apakah ada bahaya di depan ataukah ada hal lainnya."

"Kau bergerak sendiri, Leon?"

"Ya. Itu saja yang ingin kusampaikan."

"Kau sudah ingin pergi?" Aku sedih melihatnya akan pergi. Padahal, kami baru bertemu sebentar setelah lama tidak bertemu.

"Kita akan bertemu lagi nanti." Senyum sambil menyentuh kepalaku, aku menatapinya. "Aku ingin menemuimu hanya karena ingin memastikan kau baik-baik saja setelah terluka. Sephiroth selalu memberi kabar padaku setiap kali kau terluka."

"Dad...selalu melakukannya?" Aku cukup terkejut. Rupanya Dad sangat memperhatikanku. Padahal aku bukan anak kandungnya.

"Ya. Sora, semoga misi nanti tidak membuatmu terluka lagi. Jaga dirimu baik-baik..."

Leon mengosok kepalaku, lalu berjalan keluar. Aku menatapi punggungnya yang tegap. Aku mendesah kecil dengan perasaan sedih. Aku masih ingin bersamanya, tapi dia tidak bisa. Semoga suatu saat aku maupun Leon memiliki kesempatan untuk bersama-sama lagi...

To be Continued...

Author Note: Like fanpage-ku ya :) jangan lupa review juga. Makasih jika memberitahukanku apakah ada cara penulisan yang salah atau tidak, karena aku masih tahap belajar. Hehehehe~