A/N: I post this chapt as fast as I can. Sp, enjoy guys and Happy Easter:))

I own nothing, unless my favorite the twisted siblings

Chapter 9: Another Runaway

(Draco)

New York City, USA

"Hentikan, Drake."

Aku hanya melirik padanya dan terus berjalan mondar-mondir .Hermione selalu membuatku tak habis pikir dengan semua ulahnya. Wanita.

"Malfoy, kau membuatku pusing."

Kembali aku meliriknya dan aku memutuskan untuk duduk di sampingnya. Blaise memandangku dengan kesal. Aku hanya mengedikan bahu. Dia menyordorkan segelas scotch padaku. Sudah lama memang aku tak minum, apalagi bersamanya. Seluruh aktivitasku sebagai pemilik perusahaan membuatku enggan menyentuh alkohol karena aku harus tetap terkontrol. "Menurutmu kali ini dia kabur kemana lagi?"

Untuk kesekian kalinya aku mengedik. Hermione Jane Granger. Wanita 31 tahun. Senior Interior Architect dengan hobi melarikan diri apabila menghadapi masalah. Untuk kesekian kalinya selama kami bersama, ia kabur setiap terjadi masalah dengan hubungan kami. Pertama, saat ia melihatku bersama Paige di penthouse dan tanpa bertanya lebih lanjut ia memutuskan untuk pergi bersama the twisted siblings ke Coachella. Tak hanyan itu saja, ia juga menghilang dan kutemui menyewa sebuah kamar hotel di The Plaza karena datang bulan dan tak mau aku mengganggunya, dan segala macam tingkah gilanya lagi. Dan sekarang ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar atau apapun setelah aku memintanya untuk secara permanen pindah bersamaku. Hal yang lebih memuakkan adalah Joe tak dapat melacak keberadaanya. Tak ada penerbangan atau reservasi hotel atas namanya ataupun nama LeClaire. Selain itu Joe juga tak dapat melacak aktivitas dari tongkatnya.

"Kau sudah bertanya pada The LeClaire?" tanya Blaise menyilangkan kakinya.

"Joe mengatakan bahwa Alex berada di Los Angeles dan Bree sedang mengunjungi galeri di Chicago," jawabku yang kembali menenggak scotch dengan umur puluhan tahun ini.

Blaise tertawa atas jawabanku yang kusambut dengan tatapan bertanya padanya. "Apa?"

"Kau," jawabnya kemudian tertawa lagi.

Bukan tipe terbahak bahagia seperti yang dilakukan Hermione dan the twisted siblings itu, tapi tertawa yang cukup membuatku bertanya maksud dibelakangnya. "Ada apa denganku?" tanyaku masih penasaran dengan kelakukan temanku satu ini.

"Kau tak berusaha, Drake," ujarnya gamblang.

Kuberikan tatapan tajam padanya. "Apa maksudmu aku tak berusaha? Aku sudah mengerahkan Joe dan Katy untuk mencarinya," jawabku tenang.

Blaise berhenti tertawa dan membenarkan posisi duduknya hingga ia terlihat nyaman. "Itu masalahnya. Bukan Joe atau Katy yang memiliki hubungan dengan Emma. Kau, Draco."

Aku tak menjawabnya. Hanya mencerna apa yang ia katakan tadi. "Kau menyuruh Joe dan Katy sementara kau disini menikmati scotch bersamaku."

"Tapi aku punya perusahaan yang harus kuurus, hidupku bukan hanya ia semata."

Kembali Blaise memberikan tatapan yang mengisyaratkan kekecewaan padaku. "Kau tak pernah belajar dari pengalamanmu, Drake."

"Hubunganmu gagal dengan As bukan hanya karena ia tak merasakan hal yang sama denganmu, tapi kau terlalu sibuk dengan perusahaanmu. Kau menikah dengan As bukan dengan Malfoy Enterprise. Dan sekarang, kau berhubungan dengan Emma bukan dengan perusahaanmu. Ayolah, Drake kau bisa mengambil libur beberapa hari dan saham perusahaanmu tetap berada di deretan tertinggi."

Aku tertawa sinis padanya. Blaise menceramahiku tentang hubungan sementara ia sampai sekarang tak memiliki pasangan. Jangankan pasangan bahkan ia tak pernah berkencan lebih dari satu bulan dengan seorang wanita.

"Walaupun aku tak pernah menikah dan hubunganku tak pernah lebih dari satu bulan dengan seorang wanita tak lantas membuatku awam akan masalah ini."

Aku menatap sinis dan mendengus padanya. "Keluar dari pikiranku, Zabini. Sudah berapa kali kukatakan kau hanya boleh memakai Legilimens pada klien-klienmu saja," ujarku dingin.

Dia hanya tersenyum licik padaku. "Tenang, Malfoy."

Tak ada percakapan yang berlangsung di antara kami. Aku dan Blaise sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin ia sedang berpikir bagaiamana cara mendapatkan Katy, asistenku itu. Karena setahuku ia sangat ingin berkencan dengannya atau lebih tepatnya menidurinya. Sementara aku? Semua perkataan Blaise terkesan sangat menohok bagiku. Apakah mungkin bila aku banyak meluangkan waktu saat masih bersama dengan As, perceraian itu dapat dihindari? Terlepas itu semua, aku memikirkan keberadaan Hermione.

"Aku harus kembali ke kantorku," ujar Blaise yang bangkit kemudian mengayunkan tongkatnya sehingga mantel yang tadi ia sampirkan di penggantung mantel itu datang padanya.

Aku masih duduk nyaman di sofa kantorku. "Pikirkan perkataanku, Drake."

"Bila kau tak mau berjuang untuk Emma, aku dengan senang hati akan menggantikanmu, mate."

"Over my dead body, Zabini."

Kami tertawa dan ia ber-Apparate kembali ke kantornya.

Semua percakapanku dengannya tadi seakan terulang kembali di kepalaku. Astoria. Hermione. Kegilaannku pada pekerjaan. Frustrasi.

Kulempar gelas scotch yang tadi kupegang. Where the fuck you are, Granger!

000

Ada sesuatu yang hilang dari semua rutinitasku kali ini. Tak ada e-mail atau pesan singkat yang selalu Hermione kirimkan padaku setiap hari hanya sekadar mengingatkan untuk makan siang dan jangan terlalu keras pada pegawaiku. Tak ada makan malam bersama atau hanya sekadar mendengarkan ia berceloteh tentang harinya. Sudah dua hari ini aku benar-benar kehilangan dirinya. Joe masih belum memiliki sesuatu untuk ia bagikan padaku. Dimana sebenarnya ia berada?

Seharian ini kuhabiskan untuk berkutat dengan semua pekerjaan yang memang harus kukerjakan. Sejujurnya pekerjaan membuatku lumayan melupakan bahwa hubunganku terancam kandas karena Hermione dengan pikirannya yang tak bisa tertebak itu. Kuhabiskan hari ini dengan memeriksa semua perjanjian investasi, meninjau ulang proyek yang jatuh di tangan perusahaanku, sampai menyempatkan diri bertemu dengan Scorpius di tempat latihan berkudanya. Akhirnya setelah perdebatan panjang antara aku dengan Astoria, ia menyetujui Scorp untuk masuk ke dalam klub itu. Tentunya dengan beberapa persyaratan tertentu, seperti tetap menyempatkan diri untuk tetap berada di kelas piano dan beberapa ketentuan lainnya. Negosiasipun dimenangkan oleh Scorp tentunya dengan aku yang berada di pihaknya.

Penthouse-ku tampak lengang. Pernyataan yang seharusnya tak perlu lagi kunyatakan. Hanya aku yang menempati tempat ini setiap harinya dan menjadi lebih bewarna saat Scorp datang untuk berakhir pekan atau saat Hermione bermalam disini. Aku berjalan ke kitchen counter dan mendapati satu pitcher jus labu kesukaanku dan seteko seduhan Earl Grey Tea kegemaran wanita keras kepala itu. Tentunya semua ini adalah hasil tangan dari Ursula. Wanita tua itu memang selalu dapat kuandalkan. Kubuka teko transparan itu dan wangi dari teh itu langsung menyeruak ke penciumanku. Wangi dari bergamot dan black tea yang menjadi komposisinya tersebar luas di ruangan ini. Aku tersenyum menyiumnya. Bagaimana ia bisa meminum hal seperti ini setiap harinya? Rasanya seperti meminum teh dengan campuran parfum saja. Kututup kembali dan menuangkan jus labu di sebelahnya ke dalam gelas yang sudah kuisi dengas ice cube.

Derap langkah mendekatiku. Joe tengah berdiri tak jauh dariku. Aku hanya menoleh dan mempersilahkannya untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

"Aku dapat memastikan bahwa mereka ber-Apparate menggunakan tongkat milik Mr. LeClaire," ujar Joe dari seberang ruangan.

Aku menunduk menatap jus labu yang belum sempat kusesap tadi. "Lalu?" tanyaku dengan jari yang bermain di bibir gelas itu.

"Aku belum bisa melacak tujuan mereka. Dia melindungi tongkatnya dengan sempurna ," jelasnya padaku.

Alex LeClaire. Bukan hal yang mengejutkan bila ia memiliki sihir sekuat itu. Lulusan Durmstrang dengan nilai yang memuaskan dan darah murni yang mengalir di dalam dirinya? Hal ini hanya perkara sepele baginya. Aku telah mencari tahu semua asal usul keluarga LeClaire itu. Dan cukup impresif bagiku. Penyihir dengan darah murni yang begitu sangat kental dapat berperilaku layaknya muggle kebanyakan.

"Sir," suara Joe membuyarkan pikiranku.

Aku menoleh kepadanya. "Kerahkan semua kemampuanmu," hanya itu kata yang keluar dariku.

"Baik, Sir."

Ia pamit mengundurkan diri dari hadapanku. Dan tempat ini kembali menjadi sesepi makam.

000

Alunan musik blues terdengar di telingaku sementara batu es yang berada di dalam gelas tepat di hadapanku mencair perlahan-lahan. Bar and lounge ini adalah tempat aku dan Blaise biasa sambangi. Scotch yang berada di hadapanku hanya menjadi perhiasan meja saja karena sedari tadi aku tak menyetuhnya.

"Kau menyia-nyiakan minuman itu," ujar Blaise yang langsung menenggaknya lalu memberikanku tatapan tak sedap.

Aku mendengus padanya. "Hey, Drake," Paige muncul dari belakang Blaise sambil tersenyum padaku.

"Hey, Paige," balasku saat ia mengecup pipiku.

Mereka mengambil tempat tepat mengapitku. Aku mendengar Blaise memesan Club Soda sementara Paige memesan minuman favoritnya, Cosmo. "Masih belum ada kabar dari Emma?"

Aku menggeleng. "Emma?" kini Paige yang melihatku dengan sebelah alis yang mengerut.

"Kekasih Draco Malfoy," sambar Blaise yang kusambut dengan tersenyum lalu kembali memesan scotch yang belum sempat kuminum tadi.

Paige menatapku kemudian tertawa renyah dan menyesap minuman yang tadi ia pesan. "Kau kembali berkencan sekarang? Berita baik kenapa terlambat sekali datang padaku?"

"Kadang berita baik harus tetap dijaga agar selalu menjadi baik," jawabku.

Paige kembali tertawa renyah yang disambut oleh Blaise. "Sampai kapan mau minum disini sementara kau tak tahu dimana Emma sekarang," Blaise kembali membuka suara.

Aku menggeleng padanya. "Menjauh dari masalahku, Zabini."

"Paling ini hanya salah satu dari pelariannya."

Aku masih terus meyakini bahwa ini adalah salah satu dari kegiatan bersembunyinya saat kami menghadapi masalah. Namun, hal yang tak dapat kuterima secara akal sehat adalah dia lantas melarikan diri hanya karena aku mengajaknya untuk tinggal bersama. Seharusnya ia berterus terang saja padaku bahwa ia belum sanggup pindah denganku. Aku hanya memintanya untuk pindah secara resmi denganku bukannya menjadi ibu tiri bagi Scorp. Tanpa sadar scotch di hadapanku telah habis kutenggak.

"Wanita memiliki pola pikir yang lebih rumit dibanding dengan para pria, Drake," ucap Paige.

Kami tertawa. Sangat rumit sampai aku bisa gila karena tak bisa memecahkannya.

000

Langit tak terlalu bersahabat pagi ini. Katy mengatakan padaku bahwa pertemuanku dengan Mrs. Smith dipindah tempatkan karena cuacanya tampak tak pas dengan sarapan di luar ruangan. Joe mengantarku ke Four Season Hotel tempat kami dijadwalkan bertemu. Agenda hari ini hanya membahas proyek besar yang melibatkan perusahaanku dan perusahaannya. Mrs. Smith adalah janda kaya raya dengan otak bisnis yang tak pernah ikut menua. Umurnya sudah hampir 70 tahun dan ia masih menjalankan perusahaanya dengan apik.

"Halo, Mr. Malfoy. Senang bertemu kembali denganmu."

Setelah mencium tangannya aku juga balas menyapanya. "Senang bertemu denganmu juga, Mrs. Smith," jawabku.

Seperti kebanyakan pertemuan bisnis lainyya yang dibalut dengan ramah tamah dan canda tawa, pagi ini berjalan dengan lancar. Mrs. Smith tampak puas dengan kinerja perusahaanku dalam menangani proyeknya. "Jadi, dimana gadismu, Mr. Malfoy?"

Aku menaikan sebelah alisku karena bingung dengan pertanyaan tiba-tiba wanita ini. "Maaf, Maam?"

"Dimana Miss Emma Granger, kekasihmu?" tanyanya menegaskan pertanyaan sebelumnya.

Aku hanya menjawabnya dengan senyum simpul yang sanggup kulakukan. Pertanyaan itu juga yang sedang kupikirkan saat ini. Sampai sekarang aku masih berharap bahwa ia hanya sekadar merajuk atau terkejut dengan kejutan dariku kemudian segera mengakhiri acara melarikan diri seperti ini.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, young man," lagi-lagi Mrs. Smith berujar dengan suara merdu bak menyanyikan simfoni lagu.

"Dia tak dapat menemaniku saat ini."

Mrs. Smith menyandarkan diri kemudian menyesap jus jeruk miliknya. "Sayang sekali, padahal aku sangat ingin bertemu dengannya," kekehnya. "Ia cantik, pandai, berwawasan luas, dan baik hati. Kau sangat beruntung memiliki wanita seperti itu dihidupmu, Mr. Mafoy."

"Yaa," aku menjawabnya pelan. "Aku memang sangat beruntung."

Setelah sarapan bersama Mrs. Smith tadi aku langsung meminta Katy untuk mengosongkan jadwalku paling tidak sampai siang nanti. Aku sengaja berkendara sendiri tanpa Joe atau yang lainnya. SUV kupacu menuju galeri tempat Bree bekerja di kawasan SoHo. Menurut laporan Joe tadi malam ia sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Kuparkirkan kendaraanku di badan jalan dan masuk ke dalam galeri itu. Bree tampak tengah duduk di depan laptopnya dan menyadari keberadaanku saat itu juga.

"Draco," ia tampak terkejut dengan kedatanganku yang terlihat segera bangkit dari kursinya.

"Bree, aku tak tahu apa yang sedang terjadi sekarang, tapi tolong beritahuku keberadaan Hermione sekarang," ucapku tanpa tedeng aling-aling lagi.

Ia tampak semakin terkejut dengan perkataanku. "Jadi, kau belum tahu apa yang terjadi?" ia berujar pelan padaku.

Aku masih diam menunggu ia melanjutkan. "Mrs. Granger, ibu dari Emma meninggal dunia."

Dan aku membatu sekarang.

000

(Hermione)

London, Inggris

Rumah kami tampak lengang karena pemakaman telah berakhir kemarin sore. Dad terlihat tabah menghadapi semua ini. Bukankah hal itu yang memang harus ia tunjukkan padaku? Ketabahan. Kepergian Mum tak lagi mengejutkan baginya. Beliau memang telah mengidap kanker otak ini cukup lama. Tetapi, tidak denganku. Dan hal yang membuatku menjadi amat merasa bersalah adalah aku tak pernah berada di sampingnya. Aku sibuk dengan kehidupanku di tempat lain. Sibuk menata hidup. Sibuk menjadi dewasa sementara orang tuaku juga sibuk bertambah tua.

Aku ingat pemakaman kemarin. Terasa begitu khidmat walaupun angin bertiup sampai menusuk ke tulang. Perlahan-perlahan peti ibu diturunkan ke liang lahat setelah pendeta memberikan khotbah terakhir. Dan saat itulah aku dan Dad kehilangan ketabahan kami. Air mata tak henti-henti turun sampai tanah terakhir menutup lubang itu. Namun, hal yang sangat kuhargai saat itu adalah semua sahabatku datang memberi dukungan. Harry, Ron, Ginny, seluruh keluar Weasley, Alex, minus Bree karena ia harus melakukan tugasnya. Ia sempat memaksa untuk ikut dengan kami tapi aku melarangnya. Ia harus memprioritaskan sesuatu bukan?

Baru saja aku mengatakan bahwa rumah ini terlihat lengang, petugas katering datang untuk jamuan nanti sore. Tanpa perlu kuarahkan, mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Aku sangat berterima kasih pada Ginny atas rekomendasinya.

"Kau belum tidur sejak tadi malam," Alex datang dengan menyodorkan teh kepadaku.

Aku hanya tersenyum lemah. Ia mengajakku untuk duduk bersamanya di beranda belakang rumahku sementara Dad berada di kamarnya. Aku memeriksa keadaanya beberapa kali, ia tampak menyibukan diri dengan barang-barang dan terkadang membaca hingga tertidur di sofa kamarnya.

"Menurutmu aku akan masuk neraka?" tanyaku padanya masih menatap lurus ke arah pepohonan dan padang rumput di belakang rumahku.

Alex menatap bingung kepadaku. "Aku tak ada disisi ibuku selama bertahun, bahkan aku jarang mengunjungi mereka saat Natal dan tahun baru."

"Kau selalu mengirimi mereka kado, Ems," aku tahu Alex berusaha menghiburku.

Aku menatapnya kemudian tertawa bodoh. "Tapi kehadiranku pasti lebih berharga dibanding dengan semua pakaian dan hadiah-hadian mewah yang kukirim."

"Ems, ibumu menncintaimu. Dia pasti mengerti dirimu."

Aku menghelas napas sejenak. "Aku melarikan diri ke New York untuk menyembuhkan semua traumaku terhadap perang, sementara aku semakin membaik tidak begitu dengan kedaan ibuku."

"Emma," ia meletakkan cangkir kopinya dan menggenggam tanganku.

Aku beruntung memiliki sahabat-sahabat di saat seperti ini.

"Alex."

"Yaa."

"Jadi, apakah menurutmu aku akan masuk neraka."

Dia melepaskan genggamannya padaku dan menatapku tak percaya. "Sejak kapan kau jadi seorang religius dan takut Tuhan seperti ini?"

Aku mencebik padanya kemudian tertawa. "Kita harus sering ke gereja saat kembali ke New York nanti," ujarku.

"Aku akan setia mengantarmu," jawabnya kemudian tertawa.

"Kau tak ikut?" tanyaku menahan tawa.

Ia kembali menatapku kemudian mendengus. "Pasti pendeta itu tak tahan melihat salah satu setan menjadi jemaatnya."

Aku memukul lengannya dan tertawa. "Kau butuh tertawa, Ems," ujarnya kembali menggenggam tanganku sambil menepuk-nepuknya.

"Terima kasih sudah berada di sisiku," ujarku dengan nada serius padanya.

"You can always count on me wherever and whenever you are, Ems. That's what friends are for."

Aku kembali tersenyum. Aku memang bukan anak yang berbakti atau taat pada agama seperti idaman setiap orang tua, tapi aku yakin Tuhan menyayangiku karena aku dikelilingi orang-orang luar biasa seperti sahabat-sahabatku.

000

Tamu-tamu mulai berdatangan menjelang petang. Teman kantor Dad, teman-teman Mum semasa berkuliah dulu, tetangga-tetangga kami, keluarga Weasley yang sudah sibuk dengan makanan yang mereka sengaja persiapkan. Aku menatap foto Mum yang dibingkai cantik dari tempatku berdiri sekarang. Fotonya seperti menjadi pusat dari ruangan ini. Semua orang mengatakan bahwa aku mirip sekali dengan beliau kecuali rambutku yang cokelat milik Dad.

"Aku akan tahu bagaimana wujudmu saat berusia 50-an nanti."

"Hey," aku langsung memeluk Ron yang kini berdiri di sampingku.

"Maafkan aku tak sempat datang ke pemakaman," ujarnya saat aku melepaskan pelukanku.

Aku mengangguk padanya. "Aku sedang bertugas di Wales saat mendengar kabar itu dari Harry," tambahnya lagi.

Kembali aku mengangguk. "Aku mengerti, Ron. Terima kasih sudah datang sekarang."

Ia kembali memelukku. Ronald Weasley sudah sukses menjadi Auror sekarang. Impiannya sejak kami masih di bangku Hogwarts dulu. "Dimana Harry?" tanyaku.

"Di luar dengan keluargaku," jawabnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ron ragu.

Aku memandangnya kemudian tersenyum. "Tentu."

Kemudian hampir semua tamu memasuki ruangan ini. Sudah waktunya pengucapan perpisahan dari para keluarga dan kolega Mum. Dad mulai mengucapkan pidatonya kepada para tamu yang dekat tepat di samping foto Mum dengan bunga dan lilin sebagai hiasannya. Ia mengucapkan terima kasih karena telah datang ke acara ini dan pemakaman kemarin. Lalu dilanjutkan dengan semua kisah indah mereka berdua sejak mereka bertemu sampai menikah dan kelahiranku yang telah mereka idamkan sejak lama. Para tamu mendengarkan dengan khidmat bahkan ada beberapa yang meneteskan air mata termasuk Mrs. Weasley. Dan saat Dad mengakhiri bagiannya aku tahu inilah saatnya bagiku. Aku berjalan ke tempat dimana tadi Dad berada setelah Ron memegang bahuku.

"Berdiri disini, di samping foto ibuku dan menyampaikan eulogy seperti ini adalah hal yang menyedihkan sekaligus membanggakan bagiku," aku menghela napas sejenak dan tatapanku jatuh pada sahabat-sahabatku yang tersenyum menguatkanku. "Aku senang sekali untuk membagi semua memoriku bersama ibuku hari ini bersama kalian. Ibuku, Veronica Granger lahir di London dan menjadi wanita tercantik yang pernah kulihat dalam hidupku," aku dapat melihat Dad tersenyum saat aku memuji istrinya.

"Ibuku adalah seorang yang sangat cerdas di segala bidang. Jadi, mungkin kalian baru tahu darimana aku mendapatkan otak cemerlangku ini," ujarku tersenyum yang disambut dengan seluruh senyuman dari sahabatku. "Ibuku juga wanita yang sangat penyayang dan pengertian terhadapku, setiap malamnya selama bertahun-tahun ia selalu memeriksa kolong tempat tidurku untuk memastikan bahwa tak ada monster yang berdiam disana," perkataanku disambut dengan tawa dari para tamu. "Beliau mengertiku dari segala aspek hidupku. Ia rela melepasku yang notabene adalah anak tunggal baginya untuk pergi dari negara ini dan menata hidupku di negara yang bermil-mil jauhnya."

"Beliau juga wanita tegar. Penyakit ini telah menggerogoti hidupnaya selama bertahun-tahun, namun ia sama sekali tak pernah menunjukkan bahwa ia putus asa karenanya. Dan hal ini adalah pukulan terbesar bagiku. Aku..," suaraku tercekat.

Aku tak tahu apakah dapat melanjutkannnya. Namun Dad datang menghampiriku dan menggenggam lembut tanganku. Ia tersenyum padaku dan hal ini menjadi tenaga baru bagiku untuk melanjutkannya. "Aku tak ada di saat-saat akhirnya. Aku tak ada di saat maut datang menghampirinya," aku merasakan air mataku sudah membasahi pipi ini. "Aku yakin meskipun aku tak ada bersamanya, ia tahu bahwa aku tak pernah sekalipun melupakannya. Darinyalah aku belajar tentang cinta yang tak mengenal kondisi. Bahwa ia akan tetap mencintaiku bahkan disaat aku berada bermil-mil jauhnya darinya. Aku tak akan pernah melupakanmu, Mum," uajrku pada foto yang berada di sampingku.

"Aku mencintaimu sampai kapanpun," tambahku sambil mengusap air mata yang mengalir. "Mum, aku yakin kau mendengarku dari surga sana tempat yang paling layak bagimu. Aku mencintaimu dan Tuhan pasti akan selalu memberkatimu," suara tepuk tangan dari tamu mengakhiri eulogy-ku ini.

Saat aku membaur di kerumunan, semua orang mengucapkan bela sungkawa atas kehilanganku. Jabat tangan dan tepukan di bahu. Semuanya berusaha membuatku tegar. Aku hanya tersenyum sampai Harry juga ikut memelukku begitu pula Ginny dan Ron serta Alex. Menjelang malam semua tamuku pamit undur diri begitu juga keluarga Wesley terutama Mrs. Weasley karena James dan Albus berada di The Burrow dengan pengasuhnya sementara kedua orang tuanya akan disini bersamaku.

Harry, Ron, Alex, Ginny, dan aku bersantai di berandaku. Tak ada satupun yang menyebut tentang kepergian Mum, topik yang diangkat seputar pekerjaan kami. Pekerjaan Harry dan Ron di Kementerian sebagai Auror, Ginny sebagai wartawan senior di The Daily Prophet, dan seluruh kehidupanku di New York bersama Alex.

"Banker?" tanya Ginny yang tampak kagum dengan pekerjaan Alex.

Ia mengangguk. "Credit Analys lebih tepatnya," jawab Alex.

"Apa yang kau lakukan?" kini Harry yang bertanya setelah menyesap wine yang tadi kutuangkan.

"Menganalisis keuangan dan aset dari nasabah apakah ia layak untuk diberi pinjaman atau tidak," jelas Alex singkat.

Ginny dan Harry tampak mengangguk. "Seperti di Gringotts?" kini Ron yang ikut bertanya.

"Yaa seperti itu."

Jeda sejenak di antara kami. "Aku tak berekspektasi akan berkumpul lagi bersama kalian di saat seperti ini. Seharusnya aku lebih sering meluangkan waktu untuk kalian."

Harry menggelengkan kepalanya. "Takdir tak ada yang bisa menduga, 'Mione."

"Lagipula kau juga memang berniat mengunjungi kami dalam waktu dekat ini, bukan?" ucap Ginny.

Mataku langsung tertuju pada Alex yang tesenyum dan mengedikkan bahu. Aku memukul bahunya dan mereka tertawa. Karena malam semakin larut, Harry dan Ginny segera pamit begitupula dengan Ron. Ginny mengundangku dan Alex untuk makan malam besok di kediaman yang langsung aku setujui karena lusa aku dan Alex harus kembali ke New York menghadapi semua kehidupanku disana. Draco. Damn! Sudah berapa lama aku tak mengabarinya. Aku juga baru sadar bahwa selama disini aku sama sekali tak menyentuh ponselku. "Kenapa?" Alex bertanya padaku.

Aku menggeleng. Saat aku dan Alex mengantar mereka keluar langkah Harry terhenti melihat sosok yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri. "Malfoy," ujar Harry

"What a surprise," tambah Ron.

Tangan Alex yang sedari tadi melingkar di bahuku reflex ia lepaskan. Aku tahu ia tak mau aku dalam masalah karena Draco yang terlalu posesif terhadapku.

"Kami pamit, 'Mione," ujar Ginny kemudian memelukku dilanjutkan Harry dan Ron.

Saat berpapasan dengan Draco, mereka hanya saling mengganguk dan kemudian berjalan ke mobil sihir mereka.

"Aku kembali ke kamar, Ems," aku mengagguk padanya.

Hanya tersisa aku dan Draco saat ini. Dia berdiri dengan jarak yang terlalu jauh dariku. Angin seketika bertiup. Keadaan yang biasanya melatari serial drama televisi di Amerika. Aku tersenyum padanya. Perlahan ia berjalan mendekatiku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku mengubur wajahku di dadanya sementara aku dapat merasakan helaan napasnya di rambutku. "Maafkan aku," ujarnya lembut.

Aku menggeleng padanya. "Aku yang minta maaf karena tak mengabarimu."

Kami diam. Dia hanya memelukku dengan erat. Kehangatan dari tubuhnya membuat angin malam ini menjadi sama sekali tak ada rasanya. "Apa yang aku dapat lakukan sekarang?"

"Peluk aku saja sudah cukup."

Dia memelukku erat seperti kami tak akan pernah terpisahkan lagi.

000

to be continued

Thank u for everything guys. You ROCK! And I love u:)) I hope u'll find the answer for every question that u have. And the last keep read and review:)))