Author Note : hum, sudah 6 bulan fic ini menganggur… hahahahaha… tapi memang lebih parah fic yang satu itu sih … (tidak mau menyebutkan yang mana, karena sudah pada menderu meminta yang satu itu update) oh well! Baca yang ini dulu ya XP

Troublesome Family

Chapter 28

Kadaj datang menjemputku yang menunggunya di Mansion. Dia menggunakan motornya yang besar.

"Kadaj, bukankah seharusnya kita tiba di sana sebelum pukul 8 malam?" Aku heran saat melihatnya menjemputku pukul 7 malam.

"Nah, it's okay. Kujamin dalam waktu 30 menit kita sudah tiba di sana."

"Jangan bilang kau ...?" Aku menunjukan ekspresi takut.

Sebuah senyuman sinis sebagai balasan. "Ayo naik."

Aku pun berdoa, semoga dia tidak menabrak. Baru naik saja jantungku sudah berdetak tidak karuan. Setelah memakai helm dan memeluknya pinggangnya yang ramping, motor ini melaju cepat. Angin menerpa tubuhku. Melihat beberapa kendaraan melewati kami begitu cepat, jujur, aku sampai memejamkan mata karena takut.

Semua begitu cepat, sampai tanpa dirasa tibalah kami di tempat tujuan. Kadaj memanggilku karena aku belum melepaskan pelukanku darinya. Sentuhan tangannya hangat. Dilepaskan tanganku dengan lembut.

"Ayo turun." Kadaj menoleh padaku.

Aku turun, tapi masih memegang motor Kadaj. Nafas kutarik perlahan, lalu kuhembuskan. Jantungku masih tidak karuan, tapi lebih baik setelah menarik nafas.

Aku mengecek kembali senjata-senjata yang kubawa. Memastikan tidak ada yang hilang karena tadi angin membuat jubahku berterbangan di belakang. Peluru hanya kubawa dua kotak. Pisau kecil tersimpan di kedua saku kiri dan kanan. Senjata rahasia tersembunyi di balik lengan jubah yang panjang. Senjata ini akan kugunakan untuk melawan balik serangan dadakan.

Okay, lengkap semua tanpa ada satupun yang hilang.

Kadaj telah memarkirkan motornya di suatu tempat. Dia mendekat sambil memeriksa senjata.

"Kita masuk."

Aku mengangguk.

Lokasi kami berada di Traverse Town. Cukup hebat juga Kadaj bisa mengebut kemari dalam waktu 45 menit. Distrik 5 merupakan lokasi kami berpijak. Gemerlap lampu malam menghiasi kota. Bisa dikatakan, suasana di sini ceria.

Aktivitas kota masih ramai. Riku pernah bercerita jika kota ini tidak pernah tidur. Selalu ramai meski sudah dini hari. Mungkin tinggal di sini merupakan impian semua orang. Hiburan di sini tiada henti, tapi juga tidak menyehatkan jiwa dan raga.

Kadaj menelepon seseorang saat kami memasuki sebuah gedung dari pintu belakang. Hebat, dia mempunyai kunci pintu belakang. Dari mana dia mendapatkannya?

"Ya. Kami sudah masuk." Kadaj hening sejenak. "Oh? Tidak ada yang lain? Hm ..."

Aku memperhatikan situasi. Sepi dan kosong. Tidak ada siapapun dalam gedung ini, kurasa? Mungkin ada satpam, tapi tidak tahu di mana posisinya.

Mataku menangkap seseorang dari kejauhan. Aneh. Di tengah gelapnya lorong gedung, mengapa aku bisa melihatnya? Seakan-akan seperti bercahaya di tengah kegelapan ...

"Ka-Ka-Ka-Kadaj ..." Kutarik-tarik pakaian Kadaj. Mungkinkah yang kulihat itu ...?

"Apa?" Kadaj menjawab dengan nada kesal karena dia masih menelepon.

"I-i-itu ..." Tunjukku.

Kadaj diam saat melihat sosok bercahaya. Masih dengan telepon terhubung, dia berkata, "Aku putus dulu. Ada hal gawat."

"A-a-apakah itu hantu?" Aku begitu ketakutan.

"Sepertinya? Sebelum menerima misi ini, aku memang diberitahu jika tempat ini ada penampakan."

"Ja-ja-jadi?" Keringat dingin langsung menyerang. Tanganku sedikit gemetaran.

"Seharusnya dia tidak menyerang. Dari informasi yang kuterima, hantu itu hanya menampakan diri. Tidak pernah ada korban."

"Ka-kau yakin?"

"Well, jikalau informasi ini salah, mungkin kita yang akan menjadi tumbalnya."

Antara bercanda atau tidak, Kadaj tersenyum sinis padaku, tapi aku tidak bisa tertawa sama sekali. Sosok bercahaya itu hilang. Merinding masih kurasakan. Rasanya seperti hantu itu dapat muncul kapan saja dan di mana saja.

Aku kaget saat Kadaj berjalan meninggalkanku begitu saja. Padahal aku sedang memperhatikan sekitarku, takut hantunya muncul di dekatku.

"Ka-Kadaj!" seruku dengan suara kecil. "Jangan tinggalkan aku!"

"Apa? Jangan bilang kau takut?" Keheranan tampak di wajah Kadaj.

"Memangnya kau tidak takut?"

"Takut?" Kadaj tertawa pelan. "Aku sudah lima kali melihat penampakan seperti ini. Tempat berhantu tidak hanya di sini, tapi masih banyak tempat lain." Dia menjawab begitu ringan.

"Apakah tidak pernah terjadi sesuatu?" Aku merasa sedikit lega mengetahui selama ini Kadaj baik-baik saja.

"Well, that's secret."

Mulutku menganga. Mungkinkah pernah terjadi sesuatu? Oh man! Ini merupakan mimpi buruk ...

Aku mendesah. Daripada mengkhawatirkan hal-hal mistis, lebih baik aku fokus pada misi. Sambil berjalan menuju lokasi target, Kadaj menjelaskan ulang tentang misi kita.

Target kami adalah orang yang ikut menghadiri rapat yang berlangsung dari pukul 9 malam hingga tengah malam. Meeting yang dilangsungkan di malam hari karena mereka adalah orang-orang pebisnis gelap.

Kadaj juga menceritakan soal hantu yang menggentayangi tempat ini. Katanya, hantu yang kulihat tadi merupakan orang yang pernah dibunuh karena disangka mata-mata, tapi sesungguhnya dia hanyalah orang biasa. Mayatnya tertanam di salah satu tembok dalam gedung. Lokasi pastinya tidak ada yang tahu, sehingga tidak ada yang bisa menenangkan arwahnya.

Aku tidak tahu apa niat Kadaj memberitahukan ini, tapi dia berhasil membuatku merinding.

Kadaj kembali menghubungi 'entah siapa aku tidak tahu'. Meski dia berbicara sekecil mungkin, tapi suaranya sedikit bergema. Adanya suara yang bergema membuatku sedikit tenang. Keheningan menjauh dan tempat ini sudah tidak terasa seram. Rasa santai mulai kurasa. Kurasa tempat ini aman-aman saja.

Di lorong yang memiliki banyak tikungan, kami mencari lift menuju lantai atas. Ruang rapat berada di lantai 5. Lebih menghemat waktu menggunakan lift hingga lantai 4 dan menuju lantai 5 menggunakan tangga.

Kadaj mulai membaca peta gedung setelah kami berkeliling selama 15 menit. Rupanya dia tersesat dan memilih jalan secara asal. Dasar, kukira dia sudah tahu lokasi ini dengan pasti.

"Hey, berhentilah menatapku seperti itu. Aku tidak konsentrasi berjalan karena menelepon tadi," begitulah alasan dia mengelak dari kesalahan.

"Tapi kau sendiri yang bilang time is money." Kulemparkan wajah cembetut padanya.

"Ya, ya. Memang benar, tapi kita masih punya cukup waktu. Rapat mereka masih lama."

Aku mendesah. Dia tidak mau mengakui kesalahan.

Begitu tiba di lantai 4, kami menengok ke kiri dan kanan sebelum keluar lift. Kadaj menahanku agar tidak keluar. Tangannya mengeluarkan senjata sambil melirik keluar dengan hati-hati.

Dia memberi aba-aba mengikutinya keluar. Kutingkatkan kewaspadaanku. Apapun itu, kami harus bergerak cepat.

Target kami tidak ada di lantai ini. Bisa jadi yang Kadaj lihat adalah target Leon atau juga orang yang disewa menjaga tempat ini. Langkahku mengikuti Kadaj dengan hati-hati. Jangan sampai aku menabraknya saat memperhatikan sekitarku.

Saat kami melintasi sebuah cermin bulat yang memiliki lebar 30 cm dan panjang 1 meter, aku mendadak merinding. Hanya sekilas saja, tapi di cermin aku seperti melihat kami melewati hantu yang kulihat tadi. Padahal, dari tadi kami tidak melihat apapun di dekat kami.

Jantungku hampir copot saat melihatnya sekilas. Aku terlalu takut untuk melihatnya sekali lagi. Tanganku sedikit gemetaran saat menyentuh jantung yang berdebar sangat kencang.

Kadaj mendadak berhenti hingga aku menabraknya dengan pelan.

"Ouch! Apa-apaan, Sora!" Kadaj menggerutu dengan suara yang sangat kecil.

"Ma-maaf. Ta-tadi aku melihat hantu ..." bisikku.

Alisnya terangkat sebelah. "Aku tidak melihatnya."

"Tadi di cermin ..."

Kadaj langsung menoleh pada kaca yang kumaksud, lalu kembali menatapku. "Nasibmu, Nak."

Seketika aku memberi tatapan heran. Apa maksudnya? Nasibku melihat hantu atau hal lain? Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala, keheranan atas kata-katanya yang selalu rancu, alias tidak jelas.

Kadaj memberi aba-aba untuk mengikutinya lagi. Kali ini dia memintaku fokus saja pada punggungnya dan tajamkan pendengaran. Dia tidak ingin aku menabrak punggungnya lagi.

Sebuah aba-aba berhenti seketika menghentikan langkahku. Kadaj mengintip sambil memegang erat pistolnya.

Sebuah teriakan kecil kudengar. Bukan aku maupun Kadaj. Teriakan itu juga bukan karena Kadaj menembak.

"Sepertinya bukan cuma kita yang diganggu," bisik Kadaj.

Aku hanya bisa tertawa kaku tanpa suara. Jujur, aku semakin takut mengetahui bukan hanya kami saja yang melihat hantu. Ugh, seharusnya gedung berhantu seperti ini dihancurkan agar hantunya pergi ...

Sebuah tangan mendadak memegangi mulutku. Aku sangat terkejut hingga refleks hendak memukulnya, tapi seranganku ditahan. Sebuah tangan kekar memegangi tanganku. Hangat. Bukan hantu, tapi siapa? Lawan? Kawan?

Mataku melirik ke atas, di mana dia berusaha menunjukan wajahnya.

"Le-Leon?" ucapku masih dengan mulut tertutup.

Mengejutkan melihatnya di sini. Tidak heran aku tidak merasakan keberadaannya. Tidak ada niat buruk padanya. Meski lega, jantungku masih berdebar kencang. Tadinya aku kira yang menyekap mulutku tangan hantu.

"Maaf mengagetkanmu." Dia menatap mataku.

"Hey. Kukira kau sudah selesai," sapa Kadaj, masih memperhatikan jalan selanjutnya.

Leon menggelengkan kepalanya. "Targetku tadi melewati tempat ini."

"Huh? Jadi, yang tadi kita dengar ...?"

"Bisa jadi," balas Kadaj. "Aman. Ayo bergerak."

Leon melepaskanku. Genggamannya masih dirasa hangat hingga sekarang.

Kami bergerak hingga menemukan tangga. Leon memisahkan diri dari kami karena masih mencari targetnya yang masih di lantai 4. Aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya begitu cepat, tapi aku harus memakluminya. Misi kami berbeda.

Sebelum menginjakan anak tangga, Kadaj memintaku untuk mendengar apakah ada orang di atas. Mungkin ini sebabnya aku diajak.

Mataku terpejam. Aku memfokuskan segala hal pada pendengaran. Bisa kudengar langkah kaki Leon yang semakin menjauh. Di atas, aku tidak mendengar suara langkah kaki, tapi hembusan napas dari Kadaj, aku, dan dua orang di atas. Debaran jantung yang pelan dan tenang dari keempat jantung tidak berirama. Ada yang cepat-itu jantungku, tenang bagaikan angin-milik Kadaj, dan normal-milik orang yang di atas.

Selain itu, di atas, jauh dari tangga, samar-samar aku mendengar beberapa orang berbicara. Asalnya sepertinya dari ruang rapat.

Mataku terbuka dan aku terkejut Kadaj sudah menaiki lima anak tangga.

"Ka-Kadaj!" panggilku dengan suara kecil.

Dia menoleh dan aku memberi isyarat ada dua orang di atas sana. Sebuah anggukan diberikan dan dia kembali naik dengan waspada. Aku segera menyusulnya agar tidak ditinggal olehnya.

Khusus tempat ini, aku tidak ingin sampai di tinggal. Aku pasti panik bagaikan orang gila jika sampai ketemu hantu lagi.

Mendadak aku merinding tidak jelas. Bulu kudukku berdiri. Mungkinkah ada ...?

Kadaj berhenti. Bisa kulihat apa yang menghentikannya. Astaga! Mu-muncul!

"Ka-Ka-Kadaj ..." Kuusahakan suaraku sekecil mungkin. "I-i-i ..."

Kadaj diam sesaat. Kutatapi punggungnya yang menegang sama sepertiku. Tadinya kukira dia akan mundur, tapi dia kembali melangkah dengan langkah mantap tanpa ragu. Dia berjalan melewati hantu tersebut lalu berkata pelan, "Pergilah."

Hantunya melangkah turun mendekatiku. Aku mematung bagaikan batu karena tidak tahu harus bergerak maju atau mundur. Jantungku berdebar kencang saat hantunya sangat dekat denganku. Mataku tidak berani melirik hantu tersebut. Aku takut jika mata kami bertemu dan dia menyerangku. Dalam hati aku terus berkata, 'Cepatlah pergi! Cepatlah pergi!' berkali-kali.

"Sampai kapan kau mematung?"

Pertanyaan Kadaj langsung menimbulkan reaksi. Hantunya sudah pergi. Dengan tangan memegang erat pada pegangan tangga, aku berusaha menahan berat tubuhku. Rasanya lemas, tapi tidak sampai terjatuh.

Tubuhku terasa dingin hingga aku merinding. Aku berusaha menarik napas dalam untuk menghilangkan rasa takut yang kurasa. Lain kali, aku harus memastikan misi yang kuterima bebas dari arwah gentayangan.

Aku segera naik menyusul Kadaj karena dia kesal menungguku terlalu lama. Fokus, fokus. Dipertengahan dalam menaiki tangga, Kadaj sesekali mengintip ke lantai atas. Dia ingin memastikan apakah ada orang yang berjaga berada di tangga atau di luar tangga.

Penasaran, aku ikut mengintip. Bisa kulihat kosong, tapi aku mendengar kehidupan tidak jauh dari sini. Berarti posisi mereka beberapa langkah dari tangga berada. Kadaj membungkuk saat menaiki tangga lagi. Tangannya telah bersiaga menembak.

Mendadak aku merinding hebat. Aku merasakan ...

Seketika wajahku pucat pasi dan segera mematung saat mengetahui hantunya ada di sampingku. Astaga. Ini hantu mau apa sih? Sudah turun ke bawah, kini naik ke atas. Kadaj seketika berhenti bergerak juga saat menyadari keberadaan hantu itu.

Kadaj mendesah dan diam di tempat sambil melihat hantu melewatinya. Beberapa saat kemudian sebuah jeritan dan derap kaki berlari bergema semakin jauh.

Kadaj menyimpan pistolnya dan menurunkan kewaspadaan. Dia memberi isyarat agar aku segera mendekatinya saat dia mulai menjauh.

"Kau tahu ... tidak kusangka hantu itu membantu," ujarku sambil menatapi Kadaj.

"Yeah. Mungkin kita harus merekrut hantu menjadi anggota kita."

Seketika aku melemparkan ekspresi aneh. Bercanda atau tidak, aku tidak bisa membedakannya karena dia tersenyum sinis. Satu hal yang pasti, dia sedang menggodaku.

Dari dalam ruang rapat, pembicaraan masih berlangsung. Pembahasan dunia gelap memang tidak ada habisnya. Terutama menjebol pertahanan pemerintah dalam melakukan penyelundupan. Bukan hal yang mudah. Selain mengerti undang-undang, pastinya harus tahu bagaimana cara kerja tempat transit barang didatangkan.

Apalagi senjata ilegal. Tentu harga senjata ini mahal.

Berdiam diri di luar tidak akan menyelesaikan misi. Selain pintu keluar, jendela kaca yang tertutup oleh gorden menghalangi kami membunuh dari jarak jauh, tidak ada ventilator di dalam ruangan, sehingga satu-satunya cara menyerang hanya dari pintu masuk.

Selain pistol, knife sudah tersedia di balik lengan panjang dan siap digunakan untuk menyerang jarak dekat.

Kadaj memberi isyarat menyerang dan aku mengangguk. Kadaj mundur beberapa langkah dari pintu. Setelah menarik napas dan menghembuskannya, dia berlari dan menendang pintu masuk hingga terbuka.

Begitu pintu terbuka aku tidak sia-siakan waktu. Satu per satu orang yang ada di dalam kutembaki. Beberapa di antaranya berlindung di balik meja. Kadaj berlari mendekati mereka yang bersembunyi dan membunuh menggunakan knife.

Aku tidak ingin ketinggalan. Beberapa knife kulempar menuju leher target. Hanya dalam waktu 5 menit setelah pintu didobrak, semuanya telah selesai.

Derap lari bergema dari luar ruangan. Kadaj mendadak menggendongku tanpa basa-basi. Tentu aku berseru kaget. Dia berlari dan menendang kaca jendela yang tebal.

Bunyi kaca pecah nyaring dan keras. Aku yang tidak sempat bertanya apa-apa harus menjerit dalam hati ketika Kadaj membawaku melompat turun dari gedung di lantai 5. Tanganku memegangi baju Kadaj dengan erat. Kami jatuh! Aku menutup mataku dan berdoa, kalau mati, semoga tidak menyakitkan.

Angin yang menerpaku berhenti saat tubuh Kadaj terpental bersamaku. Kadaj tidak menjerit kesakitan. Apa yang menyelamatkannya dari tanah yang keras? Mataku terbuka sebelah. Genggaman Kadaj yang erat membuatku merasa aman. Hangat. Kami sudah di bawah dan selamat sentosa. Dalam hati aku menjerit, puji Tuhan! Kami selamat tanpa ada yang namanya patah tulang! Jujur, kini kelegaann yang kurasakan.

Kepalaku terangkat. Tatapanku tertuju pada Kadaj. Dia menatapiku rupanya. Senyuman sinisnya seketika membuatku malu dan melepaskan pelukanku yang erat. Aku jadi salah tingkah.

"Heh ... Setakut itukah kau pada ketinggian sampai memelukku begitu erat?"

"Ti-tidak! A-aku tidak takut ketinggian, tapi kau membuatku takut karena melompat tanpa adanya pengaman ..." Mukaku begitu merah saat menjelaskan.

Kadaj tertawa pelan. "Lain kali aku akan sering-sering melakukannya. Ayo kita pergi."

Aku hanya bisa cembetut karena dia menganggapku lucu. Meski begitu, aku bertanya-tanya siapa yang memberikan matras sebanyak ini?

"Hey, tulang kalian masih utuh?" Loz bertanya saat kami turun dari atas truk.

Mulutku menganga melihat truk yang Loz bawa. Astaga ... Tidak diduga dia membawa matras dalam jumlah banyak di dalam truk ...

Mungkin ada sekitar sepuluh tumpuk matras di dalam mobil. Dengan ukuran truk yang kecil dari atas sana, aku merasa sangat dan sangat beruntung dan juga bersyukur kami bisa mendarat tepat di atas bak truk. Jujur, ini merupakan tindakan yang sangat berisiko.

"Hey, Kadaj, boleh kutahu bagaimana kau bisa memastikan kalau kita akan mendarat tepat di atas bak truk?" Kutatapi Kadaj dengan wajah penasaran.

"Hum ... Hitungan matematika."

Alisku terangkat sebelah. "Bagaimana caranya kau menghitungnya?"

"Well, begini ..."

Mendengar rumus yang panjang kali lebar, ditambah pemahamanku yang super dangkal, membuatku hanya bisa mengangguk-angguk sambil tertawa tidak jelas. Ugh ... sulit sekali memahami penjelasan orang jenius.

Hum, jika dikatakan jenius, selama ini aku tidak pernah menanyakan nilai kuliah Kadaj. Kudengar, saat aku diadopsi oleh Ayah, Kadaj sudah tidak kuliah. Mungkin nilainya di atas rata-rata?

"Apa?" Kadaj menyadari bahwa aku menatapinya cukup lama.

"Boleh tahu nilaimu?"

"Nilai apa?" Alisnya terangkat sebelah.

"Um ... Kuliah?"

"Heh ... Jangan tanya. Aku di-drop out."

Mulutku menganga lebar. "Kok bisa!?" Benar-benar sulit dipercaya.

"Dia lebih banyak bolos dibandingkan masuk," jelas Loz.

"Pelajarannya terlalu membosankan. Semua yang diajarkan sudah pernah kupelajari, sehingga aku malas mempelajari ulang." Kadaj mendesah dalam sambil melemaskan bahu.

Aku terdiam. Sebenarnya aku sedikit iri. Jika dibandingkan dengan nilaiku yang rata-rata hampir tidak lolos, aku merasa malu. Riku memang mengatakan kemampuan otak memang ada batasnya dan setiap otak memiliki keunggulan yang berbeda-beda, tapi hingga sekarang aku masih mencari apa keunggulanku? Yang pasti, aku ada di sini karena ada kemampuanku yang berguna. Selama masih berguna, aku ingin terus berkembang agar bisa semakin berguna.

Memikirkan semua ini membuatku mengantuk. Saat ini aku hanya bisa duduk tenang di samping Kadaj yang sudah tertidur. Dia begitu lelap, seakan-akan tidak ada bahaya apapun saat ini.

Mataku perlahan terpejam. Dengan kepala yang menyandar di lengan Kadaj yang berotot, pikiranku mulai kosong dan menuju alam mimpi.

Ah, sebentar, kalau tidak salah, Leon masih di sana. Apakah dia sudah keluar? Apakah tadi dia menemukan hantu juga? Apakah misinya berhasil? Apakah ...

Ada banyak yang ingin kutanya, tapi rasa kantuk mulai menguat dan membuatku berhenti berpikir. Sudahlah. Selamat malam ...

To be Continued...

Author Note : okay, mudah-mudahan yang kuupdate selanjutnya salah satu seri bersambung. Kemungkinannya kecil sih, karena masih sibuk mengurus novel yang memasuki tahap pengeditan ketiga. Hahahaha… maaf banget jika aku begitu sibuk. So, anyone want to review?