A/N: Well, you can blame everything you want. I just can say I'm sorry, yeah I really am. So enjoy this chap:)
I own nothing, unless my favorite Alex
Chapter 10
Setelah upacara pemakaman dan segala acara yang mengikutinya aku dan Draco kembali ke New York, sementara Alex sudah terlebih dahulu kembali dengan alasan urusan kantor yang tak dapat dikompromikan lagi, padahal kami semua tahu apa yang membuatnya segera mengepak barangnya dari kediaman orang tuaku. Aku dan Draco menetap lebih lama beberapa hari di London. Aku tak menyangka bahwa ia akan dengan setia menemaniku disana dan tak sekalipun membuka ponselnya saat bersamaku, walaupun aku tahu saat aku terlelap ia akan langsung membuka laptop-nya dan memantau apa yang terjadi disana.
Seperti biasanya kota ini sudah mulai beraktivitas sejak pagi buta, mungkin itu alasan mengapa orang-orang menjulukinya The City Never Sleep. Dan begitupula denganku yang sudah berjibaku di dalam kemacetan hanya untuk mencapai kantor yang berjarak tak begitu jauh dari penthouse. Setelah mengambil sisa cutiku untuk berada di London, hari ini adalah hari pertama aku kembali ke kantor. Sam telah menungguku dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Look who's here," ucapnya yang langsung bangkit dan memelukku. "Aku tururt berduka atas kepergian ibumu," tambahnya lagi saat melepaskan pelukannya.
"Terima kasih," jawabku.
Kemudian aku mengangkat paper bag yang sedari tadi kubawa. "Sarapan?" tanyaku.
"Cronut?" tanyanya
"Kau ke SoHo?" tanyanya setelah menggigit bagian dari cronut itu dengan berbinar.
Aku menggeleng. "Joe mengantarkannya ke penthouse tadi pagi."
Dahinya mengerut lalu tersenyum kembali. "He treats you like a princess, Ems," kekehnya.
Aku tahu yang ia maksud adalah diriku yang dimanjakan oleh Draco. Sejak resmi berkencan dengannya, apapun yang terucap dari mulutku dalam sekejap selalu akan menjadi kenyataan. Joe akan dengan sigap melayaniku. Aku membayangkan bagaimana bila aku telah resmi menjadi istrinya. Istri? Aku belum sanggup membayangkan statusku berubah secepat itu. Kubuka blazer yang kubuka dan menyisahkan blouse bewarna ungu yang kupakai sambil mengedik ke arahnya. "The perk of being rich bastard's girlfriend," jawabku terkekeh.
"Rich bastard, huh?"
Aku tertawa sebelum menjawabnya. "Panggilan Alex untuk Draco."
Dia menatapku aneh dan kami tertawa. Seharian ini aku akan disibukkan dengan proyek baru yang akan menyita waktu ku dalam beberapa minggu ini. Say goodbye to London and welcome to my real world.
000
Selain proyek baru yang hampir menyita seluruh hariku, minggu ini aku juga disibukkan dengan memindahkan secara perlahan barang-barangku ke penthouse Draco. Penthouse kami menjadi terasa sangat kelam. Tak ada canda tawa di ruang tengah, bau bir serta kentang goreng di akhir pekan, dan wangi kopi milik Alex juga Earl Grey Tea miliku setiap paginya. Tak ada pembahasan khusus dari Alex tentang kepindahannya ke Los Angeles. Ia masih mengatakan bahwa ia masih menjadi masyarakat New York dan tak berniat sedikitpun untuk menetap disana meskipun ia menghabiskan hampir seluruh pekannya disana. Sementara Bree sudah terlalu nyaman bersama suaminya. Aku dan Alex memaksanya untuk pindah ke penthouse kami saja bersama Olivier daripada harus menyewa apartemen di Brooklyn dan ia bersikukuh menolaknya. Bukannya aku dan Alex merendahkan apartemen mereka, tapi alangkah lebih baiknya bila menggunakan sumber daya yang ada, bukan? Walapun berada di Brooklyn, tapi tempat itu masih sangat masuk di dalam tempat yang layak bagi Bree. Seorang Bree tak akan dapat hidup bila berada di luar zona nyamannya.
Kembali lagi padaku. Hal yang membuatku menjadi sangat diterima di penthouse milik Draco adalah sambutan yang diberikan Scorpius padaku. Pada awalnya ia mempertanyakannya lalu kemudian ia mengatakan 'Aku senang Emma bergabung dengan kita' terdengar seperti remaja yang mendapatkan kawan baru untuk gank-nya. Dan dengan ucapannya itu aku yakin bahwa aku memiliki segalanya untuk merepresentasikan kebahagiaanku.
000
Sebagai bagian dari Scorpius, aku juga ikut menjemputnya setiap akhir pekan saat ia latihan berkuda. Tentunya karena akhir pekan adalah saat ia akan menghabiskan waktu bersama Draco dan tentunya kini juga bersamaku. Aku tak menyangka bahwa pria kecil berumur lima tahun ini memiliki minat yang unik pada olahraga ini. Draco menceritakan bahwa butuh waktu yang panjang untuk membujuk Astoria agar mengijinkan Scorp bergabung di dalam klub ini. Aku jadi membayangkan betapa posesifnya aku kepada anakku kelak. Dan kegiatan yang juga merupakan bagian dari 'bergabung dengan kita' adalah menghabiskan akhir pekan ke tempat manapun yang Scorpius inginkan. Untuk minggu ini adalah kebun binatang. Setelah sarapan, Scorpius sudah sangat bersemangat untuk segera meluncur ke kebun binatang itu. Aku ikut berpartisipasi dalam memilihkan baju apa yang sesuai dengan tema hari ini. Ia memakai celana pendek cokelat denga kaos putih bergambar singa di tengahnya ia tampak menawan hanya dengan pakaian sesederhana ini.
Sesampainya kami disana ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari Draco dan berlari ke kandang hewan terdekat dari posisinya. Aku tersenyum melihatnya. Draco langsung mengejar dan dengan sigap mengawasinya sementara aku mengeluarkan pocket camera yang kubawa dan mengabadikan semua kegiatan mereka seharian ini. Sebelum pulang, Draco kembali ke tempat aku menunggu mereka dengan bandana berbentuk tanduk rusa seperti yang sering ditemukan saat Natal tiba. Ia menyodorkannya padaku. "Untukmu," ujarnya. Aku tersenyum dan memakainya.
"Bagaiamana?" tanyaku pada mereka berdua.
Mereka serempak mengerutkan dahinya yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. "Kau tampak seperti rusa, Emma," kekeh Scorpius di gendongan ayahnya.
"Benarkah?" tanyaku padaku Draco.
Ia mengangguk. "Rusa tercantik yang pernah ada."
Pujian singkat yang sanggup menerbangkanku ke langit ketujuh. "Ayo pulang," ajaknya lalu menaruh Scorpius di lehernya yang menghasilkan tawa bahagia dari putranya itu.
Kemudian tangannya meraihku tanganku. Kami berjalan keluar dari kebun binatang ini tanpa berbicara dan aku sangat menikmati setiap jengkal detik waktu yang bergulir.
000
Aku merindukan Alex dan Bree.
Jiwa posesif dari Draco seperti dengan perlahan menjauhkanku dari mereka berdua. Kepindahanku membuat kami benar-benar jarang berjumpa. Disamping Alex yang juga semi menetap di Los Angeles dan Bree yang juga sudah sibuk dengan kehidupan barunya sebagai istri. Selain itu aku juga tengah dalam proses promosi jabatan. Dewasa bukanlah hal yang mudah. Baiklah, tak seluruhnya karena Draco, aku meralatnya.
Namun, hari ini kami mendapat kesempatan untuk berkumpul. Penerbangan Alex baru saja mendarat satu jam yang lalu dan ia berkeras untuk menjemputku. Tadi pagi Bree juga sudah mereservasi restoran yang akan kami datangi. Jangan tanyakan apa kata Draco. Karena aku tak meminta izin darinya. Dan rasaku aku juga tak perlu meminta izin darinya.
"Selamat malam, Miss Granger," ucap Alex yang berdiri di ambang pintu dengan bersedekap.
Senyumku langsung mengembang saat mendapatinya disana. Aku bangkit dari kursiku yang telah kududuki selama berjam-jam hanya untuk mendesain satu master room di sebuah gedung. Ia membuka kedua tangannya untuk menyambutku di dekapannya. "Oh LeClaire! Aku merindukanmu," ujarku padanya yang setelah berjinjit untuk mengalungkan tanganku di lehernya.
"Tiga bulan?"
Aku mengangguk. "Kau benar-benar akan menetap disana?" tanyaku setelah pelukan emosional tadi.
Dia mengedik. "Entahlah. Aku telah memiliki apartemen disana, kendaraan, dan barang lainnya. Tetapi, aku belum benar-benar memutuskan untuk menentap disana."
Aku mengerucutkan bibir. "Terlalu cinta pada kota ini," tambahnya lagi.
Aku tertawa. "Kita ke Opia?" tanyanya padaku yang kemudian sibuk membereskan semua pekerjaan yang berserak di mejaku.
"As always," jawabku.
Alex mengambil tempat di sofa dan menyandarkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sesaat. "Kau lelah," ujarku dari seberang ruangan. "Seharusnya kita tunda saja sampai besok atau kita bisa berkumpul di penthouse memesan pizza atau chinnese food," tambahku.
Ia tersenyum dan menggeleng. "Kau suka sekali menarik kesimpulan sendiri, Ems. Aku tidak lelah, lagipula aku sangat rindu pada kau dan adikku."
Aku menghampirinya setelah menggunakan jaketku. "Let's rock this night?" tanyanya mengintip padaku.
Aku tertawa dan menggeleng. " Hanya makan malam kemudian pulang."
"Kau akan berubah pikiran," ia bangkit dan mengamit tanganku.
Aku mengernyit dan memukul lengannya. "Aku selalu mendapatkan, apa yang kumau, Ems," ucapnya.
Aku hanya memelototinya.
Bree telah menunggu kami disana dengan segelas wine di hadapannya. Ia bangkit saat melihat aku dan Alex berjalan menghampirinya. Rambutnya yang hitam legam terkesan bercahaya di bawah pantulan sinar penerangan restoran ini. "Little sister," ujar Alex yang memeluknya.
"Alex!"
"Bridget, kau sudah menikah dan masih bertingkah seperti anak kecil," ujar Alex pada adiknya yang masih bergelayut padanya.
Bree melepaskan tangannya dari Alex. "Salahkan keadaan yang selama ini selalu membuat kita terjebak bersama. Kau dan aku tak pernah berpisah lebih dari seminggu. Kini kau seperti menghilang di negara bagian lain," cerocos Bree pada kakaknya.
"Baru tiga bulan," jawab Alex.
"Sudah tiga bulan lebih tepatnya," tandas Bree.
Aku dan Alex tertawa melihat reaksi Bree saat ini. Di antara kami bertiga memang Bree yang paling emosional dan terkadang kekanakan. Oleh karena itu, pernikahannya dengan Olivier masih lumayan membuat kami tercengang.
"Dan kau Hermione Granger! For God's sake! Kita berada di satu negara bagian yang sama bahkan di kota yang sama dan kita sangat sulit untuk bertemu. Kau terlalu sibuk dengan kehidupan barumu sebagai kekasih pria kaya raya dan calon ibu tiri bagi anaknya," Bree masih menumpahkan semua keluhnya.
"Hey, kau juga sibuk, Bree," bantahku.
"Tapi, aku tak sesibuk kau sampai bertemu denganku saja menjadi sangat susah," tandasnya.
Bila terjadi adu argumen seperti ini, percayalah Bree akan menjadi pemenangnya. Aku tersenyum dan mengannguk. "Baiklah, aku bersalah padamu."
Alex terkekeh mendengarku dan melihat tingkah adiknya. Bree memelukku dan kurasa tak ada lagi masalah. Kami memesan makan malam kesukaan masing-masing lengkap dengan hidangang penutup yang akan kami bagi bersama. Crème brûlée, bluberry cheesecake, dan chocolate soufflé menjadi pilihan kami. Hal ini semacam tradisi bagi kami makanan penutup yang berbeda lalu membaginya kepada yang lain. Alex yang duduk tepat disampingku telah sedari tadi membajak chocolate soffle-ku, sementara crème brûlée -nya hampir separuh dimakan oleh Bree. "Aku menyesal tak memesan hidangan penutupmu," ujar Alex.
"Pesan lagi saja," jawabku sambil menghabiskan cheesecake miliknya.
"Pesanan kedua selalu tak sama nikmatnya."
Benar apa yang dikatakan Alex. Kami beberapa kali merasakannya. Saat memesan untuk kedua kalinya pada waktu yang sama, rasa dari makanan tersebut menjadi kurang kenikmatannya. Dan Alex akan mulai menceramahi kami dengan teori ekonomi mengenai tingkat kepuasan. Saat hidangan penutup telah kami lahap dengan kehilangan akal, percakapan kami berlanjut dengan ditemai oleh wine. Tak ada niatan untuk mabuk malam ini, wine hanyalah minuman untuk memperlancar pencernaan kami. Kurang lebih seperti itulah dalih kami agar dapat menikmati bergelas-gelas wine. Lagipula Olivier tak suka melihat Bree pulang dalam keadaan mabuk, begitupula Draco. Selamat datang dalam hubungan orang dewasa.
"Jadi, dia tak ada tanda-tanda akan melamarmu?" tanya Bree disela-sela obrolan kami.
Aku menggeleng kemudian kembali menyesap wine-ku. "Dan aku juga tak terlalu peduli," jawabku jujur.
Jangankan mengajakku menikah. Bahkan Draco tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku.
"Kukira kau akan menyusul Bree secepatnya," tambah Alex.
Kembali aku menggeleng. "Tapi kau telah pindah bersamanya. Bahkan kau telah akrab dengan putranya. Siapa namanya?"
"Scorpius," jawabku.
"Yaa, Scorpius. Aku dapat memaafkan Malfoy karena menamai anaknya dengan nama mengerikan seperti itu karena Scorpius terlihat sangat menggemaskan," kekeh Bree.
Aku ikut terkekeh bersamanya. Kami saling bertukar cerita. Alex juga menceritakan kehidupannya di Los Angeles. Aku masih berharap bahwa Alex tetap mendapatkan promosi jabatan dan tetap berada di New York, namun rasaku itu sudah mustahil. Keinginan Alex untuk membawa kami ke Iridium untuk 'berolahraga' pupus sudah. Bree dan aku sama-sama menolak. Tubuhku terlalu lelah untuk menghentak lantai dansa. Malam ini adalah akhir pekan. Setelah satu minggu berkutat dengan pekerjaan aku hanya ingin menghabiskan akhir pekan di tempat tidur bersama Draco. Lagipula ada 28 panggilan tak terjawab dan belasan pesan singkat dari Draco yang menanyakan keberadaanku. Damn! Aku bisa dibunuh olehnya.
Setelah memeluk Bree yang sudah ditunggu oleh Olivier di seberang jalan aku masuk ke dalam sedan Alex. Promosi jabatan mempermudah segala kehidupan dari seorang Alex LeClaire. Ia memang sengaja menyuruh tak membawa mobil karena ingin menjemputku sendiri tadi. Jalanan New York di tengah malam menjadi sangat lengang. Tak ada antrian kendaraan serta suara berisik dari klakson-klakson yang mengerikan. Atau orang-orang yang saling bersiul untuk mendapatkan taksi. Sedan Alex telah sampai di depan penthouse Draco (aku masih menyebutnya penthouse milik Draco bukan kami, walaupun ia mengatakan bahwa kini aku juga ikut memilikinnya).
"Kau mau mampir?" tanyaku saat melepaskan seat belt.
Ia menataku tak percaya. "Kau gila?Aku bisa dikutuk olehnya," kekeh Alex.
Aku ikut terkekeh besamanya. "Kau dan Bree harus menginap di penthouse kita sebelum aku kembali ke Los Angeles," ujarnya.
"Dan kau akan kembali dalam tiga bulan lagi, bukan?" tanyaku
"Tentu," jawabnya.
Ia melepaskan seat belt-nya dan memelukku. "Good night, Ems."
"Good night," jawabku kemudian keluar dari mobilnya.
000
Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa aku tak melakukan hal yang salah, jadi aku tak perlu takut pada Draco. Sugesti itu yang kutanamkan di diriku selama lift membawa tubuhku untuk sampai dimana pethouse Draco berada. Saat 'ding' dari lift lift ini berbunyi aku melangkahkan kaki perlahan. Foyer tampak sudah gelap. Hanya penerangan temaram yang ada. Mungkin saja ia sudah terlelap sekarang. Lagipula sekarang sudah pukul setengah dua, terlalu rajin bila ia menungguku. Setahuku hari ini ia tak ada jadwal yang harus membuatnya pulang malam. Kulepaskan stiletto yang seharian ini kupakai. Lampu tetiba menyala saat aku berada di kitchen counter untuk minum. Refleks aku berbalik dan mendapati Draco berdiri dengan tatapan datar padaku.
"Hey," sapaku.
"Kau dari mana?"
Wow! Tak ada sapaan balik.
Aku berusaha setenang mungkin menghadapinya. Perlahan kuletakkan botol minum itu kembali ke dalam lemari pendingin dan berjalan menghampirinya.
"Aku bersama Bree dan .."
"Alex," tandasnya.
Aku mengangguk. "Lalu apa yang terjadi dengan ponselmu?"
Damn!
Aku tak berkutik di tempatku dan hanya mampu mengeluarkan senyum semanis mungkin. "Aku mematikan suaranya dan tak sadar bahwa kau menghubungiku."
Ia mengangguk. "Kau marah?" aku bertanya pelan padanya.
Ia tak menjawab hanya berjalan kepadaku lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Aku kira kau akan kabur lagi," jawabnya membauiku.
Aku tertawa. "Tak ada niat untuk itu," ia ikut tertawa namun tawanya seketika lenyap saat hidungnya berada di bahuku.
Dia melepaskanku. "Ada apa?" tanyaku bingung padanya.
Dia memberikanku tatapan mematikan. Seperti Snape saat akan memberikan kami detensi ketika di Hogwarts dulu. "Apa yang dilakukan LeClaire padamu?"
Aku menatapnya bingung. "Wangi tubuhnya seakan menempel penuh padamu," ucapnya tajam padaku.
Kuputar kembali apa saja yang kulakukan dengan LeClaire – pasti Alex yang ia maksud di dalamnya. Alex menjemputku di kantor lalu memeluknya dengan erat, aku memutar bola mataku. Lalu di restoran aku duduk tepat di sampingnya dan sesekali menempel padanya, aku menghela napas saat memikirkannya. Kemudian saat ia mengantarku tadi, ia kembali memelukku. Damn! Kualihkan pandanganku pada Draco yang diam dengan mata yang seakan-akan siap untuk membunuh. Bukan diriku, melainkan Alex. Damn you, Emma!
"Jadi, apa yang dilakukan LeClaire bersamamu?" tanyanya dingin.
Aku tak tahu harus berkata apa. Semua sanggahanku pasti salah di matanya. Kuputar otakku untuk memikirkan alasan yang tepat, tapi tak ada. Aku tak suka bila harus berbohong pada Draco. Dan Draco juga akan tahu bila aku berbohong.
"Hermione Granger."
Suara Draco benar-benar membuatku semakin bingung. "Kau tahu aku telah lama tak berjumpa dengan Alex bukan," ujarku mencoba membuka percakapan.
"Lalu?"
"Dia datang menjemputku tadi, lalu aku memeluknya karena kami sudah lama tak bertemu," lanjutku.
Baiklah, aku harap ia puas dengan jawabanku. "Lalu?"
Aku menghela napas. Draco Malfoy tak akan pernah menyerah untuk mengintrogasiku. "Lalu kami duduk bersebelahan di restoran dan ia kembali memelukku sebelum aku keluar."
Kali ini tak ada lagi 'lalu' keluar dari mulutnya. Dan tak ada lagi tatapan tajam padaku. Tatapannya teralih pada kaca besar yang memiliki pemandangan langsung ke lanskap kota. "Draco, aku dan Alex hanya bersahabat baik," jawabku kemudian mendekatinya.
Tak ada senyuman yang menghias di wajahnya. "Aku tahu kau beranggapan seperti itu," ujarnya kemudian berjalan ke bar lalu menuangkan es dan vodka ke gelasnya. Ia kembali berjalan ke kaca itu.
"Tetapi, cara ia memperlakukanmu bukan cara seorang pria memperlakukan sahabatnya," ujarnya yang tetap tak mau menatapku.
Kali ini aku merasa kalau Draco sudah melewati batas. Ia tahu aku bersahabat dengan Alex sejak bertahun-tahun lalu dan saat ini ia baru mempermasalahkannya. "Kau hanya cemburu," ucapku dengan nada suara yang tak lagi bingung dan takut menghadapinya. "Dan Malfoy, tatap aku saat kita sedang berbicara," tambahku padanya.
Kini ia berbalik dan menatapku. Masih berdiri di tempatnya dengan gelas minuman di tangannya. "Hanya cemburu?" tanyanya dengan wajahnya dengan ekspresi seminim mungkin.
"Bloody hell, Hermione!"
Damn it! Dia menaikkan nada suaranya dan aku tahu ini bukan pertanda baik.
"Kau memilih untuk dijemput olehnya dan kau selalu melarangku untuk menjemputmu dari kantor. Kau juga lebih memilih menggunakan mobil pemberian darinya daripada menggunakan mobilku dan dia membuatmu lupa waktu dengan tak menjawab semua panggilanku atau jangan-jangan kau sangat menikmati setiap waktu saat bersamanya?" ia kemudian berjalan mendekatiku. "Yaa, Granger aku cemburu padanya," ucapnya tepat di hadapanku.
Aku tersentak dengan sikapnya. Jadi, kita sekarang memasuki episode pria dan teritorinya.
"Kau kekasihku, kau milikku, Granger," ucapnya seperti berbisik padaku.
Aku menatap kesal padanya. Dia semarah ini hanya karena aku berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Sakit jiwa!
"Pertama, aku tak hanya bertemu denganya, ada Bree disana. Dan kedua, aku bukan milik siapapun, aku wanita independen," balasku padanya.
Draco tampak seperti menghela napas, namun ketegangan di wajahnya sama sekali tak ada tanda-tanda akan lenyap. Ia kemudian melangkah semakin mendekat padaku. Aku dapat merasakan helaan napasnya di keningku dan aroma tubuhnya menyeruak di penciumanku. Jika kami tidak dalam pertengkaran di tengah malam seperti ini mungkin aku sudah melompat kepelukannya. Dia semakin mendekat dan aku dapat merasakan sensasi hangat dari tubuhnya. Aku tersenyum dalam hati, aku yakin ia tak akan sanggup marah kepadaku. "Kau wanita terindependen dan teregois yang pernah kukenal, Hermione," ucapnya seperti berbisik padaku.
Lalu ia menjauh dan berjalan meninggalkanku. Damn you, Malfoy!
000
Ada pertemuan penting di Atlanta, aku akan kembali besok –D
Secarik kertas yang berada di nakas menjadi penyampai pesan Draco padaku. Dia benar-benar marah, bahkan ia tak membangunkanku untuk mengucapkannya. Tak hanya itu, aku tahu tadi malam ia tak tidur bersamaku. Aku sempat mendengar alunan musik jazz dari ruang kerjanya tadi malam dan aku yakin ia berada disana semalaman. Kuambil ponselku dan menekan nomornya namun langsung dialihkan ke kotak suara. Dia mungkin masih berada di penerbangan.
Setelah mencuci muka dan menyikat gigiku aku turun dan aroma Earl Grey Tea sudah menyeruak dari kitchen counter. Aku melihat Ursula sibuk disana.
"Selamat pagi, Ursula," sapaku.
Wanita paruh baya itu tersenyum membalasku. "Selamat pagi, Miss Granger," ia balik menyapa.
Aku duduk di kitchen stool dan memulai sarapan. Setelah meyesap tehku dan memakan pancake yang baru saja dibuatku Ursula tatapaku jatuh pada teko putih yang berisi kopi. Itu pasti milik Draco. Kubuka tutupnya dan mendapati bahwa isinya masih belum berkurang sama sekali. "Draco tak meminumnya?" tanyaku padanya.
"Mr. Malfoy tak menyentuh apapun pagi ini, bahkan jus labu kesukaannya," jawab Ursula sambil membereskan sarapan yang ternyata tak disentuh oleh tuannya.
"Jam berapa ia pergi?"
"Pagi sekali. Sekitar pukul lima."
Dia benar-benar marah padaku. Kecewa lebih tepatnya. Apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku harus memilih antara dirinya atau Alex. Oh ayolah! Dia kekasihku sementara Alex adalah sahabatku dan semua orang tahu itu. Peran mereka sangat berbeda di kehidupanku. Mungkin Alex yang dapat membuatku dapat tertawa terbahak-bahak, tapi ia bukan Draco dan tak akan pernah menjadi Draco. Aku menghela napas dan berjalan lemas untuk meninggalkan kitchen counter.
"Kau sudah selesai, Miss Granger?"
Aku hanya mengangguk.
Draco melakukan aksi merajuk padaku. Yaa setidaknya hal itu yang aku yakini. Bukan merajuk seperti anak kecil yang tak mau berbicara dengan ibunya karena dilarang memakan es krim, tapi lebih seperti bertingkah tidak seperti biasanya. Saat ia sampai di Atlanta, ia langsung menghubungiku dan mengatakan bahwa ia telah mendarat dengan selamat. Saat kembali ia tak menjemput Scorpius untuk menginap melainkan menghabiskan waktu bersama di luar sana tanpa diriku. Dan saat ia kembali ia tetap tidur di sampingku, tapi memunggungiku. Dan ia berhasil membuatku menjadi setengah gila. Sudah hampir tiga hari. Aku mencoba membuka percakapan dengannya dan terasa seperti gagal.
Hari ini adalah hari keempat ia pergi ke kantor tanpa harus berpamitan padaku. Sepanjang hari aku sudah memikirkan bagaimana cara untuk berbaikan dengannya tanpa harus terlihat lemah dan membuatku seakan benar-benar bersalah. Karena aku masih meyakini bahwa semua hal yang kulakukan dan kukatakan padanya tak ada yang salah. Aku mencoba mengingat makanan yang menjadi kesukaannya, tapi aku rasa ia tak punya spesifikasi tertentu. Cara lain adalah memikirkan ucapan Bree tentang 'man is about hungry and horry' dengan segenap perasaanku terdalam aku mengatakan bahwa aku dan dapur tak pernah menjadi teman baik, tapi aku dan ranjang selalu menjadi pasangan hidup. Permasalahan lain muncul. Bagaimana aku dapat menggiring Draco ke ranjang jika ia selalu tidur membelakangiku beberapa hari belakangan ini.
"Emma."
"Emma?"
"Emma?!"
Suara Sam menyadarkanku dari semua pikiran tadi. "Tak perlu berteriak, Mr. Phelps," ucapku ketus saat mendapatinya yang sudah mendaratkan bokongnya di ujung mejaku.
"Tak ada yang berteriak, Emma," ucapnya terkekeh. "Temui Draco agar kau kembali waras," tambahnya.
Sam mengetahui versi singkat tentang aksi merajuk Draco saat ini. "Tetapi, aku tak tahu harus berkata apa nanti," jawabku.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau kekasihnya, kalian tinggal di bawah atap yang sama sekarang, cepat atau lambat harus ada yang menurunkan egonya."
Aku terdiam mendengarnya. Ego. Semacam kata benda yang membuat semua keadaan ini semakin rumit. "Bagaimana bila ia tak mau memaafkanku dan...," aku tak dapat melanjutkan perkataanku.
"Dan ia memutuskan hubungan denganmu?" tanya Sam.
Aku mengangguk. "Oh ayolah, Ems. Dia pria yang dewasa, kalian berdua hanya butuh waktu dan sekarang adalah waktu yang tepat."
"Apa yang harus kulakukan untuk meminta maaf padanya?"
Kali ini Sam tertawa saat mendengarku dan kubalas dengan tatapan sengit padanya. "Emma Granger, kau wanita terpintar dan tertolol yang pernah kutemui."
"Jangan bercanda, Sam."
"Kau hanya perlu menatapnya dan katakan 'aku minta maaf' dan voila dia pasti akan memaafkanmu."
Aku hanya diam berusaha memasukkan informasi yang diucapkan olehnya. "Sudah berapa lama kalian terlibat dalam perang dingin seperti ini?" tanyanya lagi.
"Empat hari."
Dia kembali tertawa. "Aku yakin ia akan langsung memaafkanmu. Dia tak akan tahan berada di satu ranjang yang sama denganmu tanpa melakukan apapun. Tubuhmu terlalu berharga untuk diangguri dan hasratnya terlalu tinggi bila harus mengindahkanmu," kekehnya.
"Shut up, Sam!"
Kemudian aku ikut tertawa.
Tak perlu menunggu tengah hari aku langsung melarikan diri dari kantor dan memacu sedanku ke kantor Draco. Di meja depan terlihat Katy yang sibuk menatap layar datar komputer di hadapannya dan tersenyum saat melihatku. "Miss Granger."
"Draco ada?" tanyaku tanpa basa-basi lagi padanya.
Ia mengangguk bingung dan tanpa perlu banyak berkata lagi aku menghambur masuk ke dalam kantornya dan sosok pirang itu tengah duduk di balik mejanya dengan tangan yang sibuk mencorat-coret beberapa kertas. Nyaliku yang tadi sudah terkumpul seakan menghilang begitu saja saat berhadapannya dengannya. Bagaimana jika teori Sam semuanya salah? Bagaimana bila Draco benar-benar super marah dan tak tahan lagi padaku?
"Hermione," ucapnya yang juga cukup terkejut saat melihatku.
Aku menghela napas sejenak. "Aku minta maaf. Aku minta maaf karena egoku yang setinggi langit kita menjadi bertengkar seperti ini. Aku juga minta maaf karena melukai perasaanmu, tapi aku berani bersumpah demi Merlin, Tuhan, atau apapun yang kau mau bahwa aku dan Alex tak ada hubungan seperti yang kau bayangkan," aku kembali menghela napas sesaat setelah mengeluarkan semua kata yang ada di pikiranku.
Aku menunggu reaksi darinya, tapi ia tetap diam dan tak bergerak di tempatnya. Tamat riwayatku.
Namun saat aku berpikir bahwa riwayatku telah berakhir dengan perlahan ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku. Ia langsung menangkup wajahku dan membawa bibirku bertemu dengannya. Aku dapat merasakan panas tubuhnya yang seakan cepat atau lambat akan membakarku juga di dalamnya. Tangannya sudah sibuk mengacak-acak rambutku. Ciuman ini terkesan tergesa-gesa sekaligus sangat bergairah. Setiap helaan napasnya membuatku selangkah terbang dan kehilangan akal sehat. Saat tangannya perlahan turun dan mendarat di bokongku, kudorong tubuhnya sejenak. "Are we fine?" tanyaku dengan napas yang masih terengah-engah.
"Now?" tanyanya dengan tatapan yang lekat ke mataku yang kubalas dengan anggukan.
"Masih kupertimbangkan, Hermione," ucapnya dengan tersenyum dan kembali melumat bibirku.
Aku tertawa melihatnya. Ia mendorongku dan entah bagaimana caranya ia menggiringku ke mejanya tadi dan mendudukkan ku di atasnya. Ia menatapku sesaat dan menciumiku kembali. Aku dapat merasakan lidahnya yang bermain di mulutku dan tangannya yang sudah sibuk dengan kancing-kancing kemeja yang kukenakan. Kuberikan ia akses sesukanya dan ia tahu bahwa aku menginginkan hal ini sama sepertinya. Saat kemejaku sudah tanggal ia kembali memandangku. "Ingatkan padaku untuk tak lagi marah padamu selama ini, aku bisa mati bila tak menyentuhmu."
"Katakan pada egomu, Mr. Malfoy," kekehku dan ia kembali menyerangku.
Seluruh tubuhku. Bibir. Leher. Dan dadaku menjadi lahan baginya. Saat ia semakin terengah-engah dengan kemeja yang tak lagi menghalangi kami dan aku yang benar-benar sudah kehilangan akal sehat tetiba ia menekan tombol di pesawat telepon tepat di samping aku berada. "Mr. Malfoy?" suara Katy menyahut di seberang sana.
"Batalkan semua acaraku dan aku tak dapat diganggu saat ini."
"Baik, Sir."
Aku tersenyum jahil padanya dengan tangan yang bermain di dada bidangnya. "Aku siap untukmu, Boss," ucapku berbisik padanya kemudian mengulum daun telinganya.
Dan menit-menit selanjutnya hanya berisi aku dan Draco. Aku tak peduli bila Katy ternyata mendengar eranganku tadi saat Draco memasukiku di sudut setiap ruangan ini. Dari meja, sofa, sampai lantai kantornya. Aku bahkan tak tahu dimana semua pakaianku tadi. "Kau liar sekali," ucapnya yang tengah mendekapku di sofa dengan sesekali menciumiku.
Aku tertawa mendengarnya. "Katakan sendiri pada dirimu, Boss," balasku.
"Sex in office? That's so sexy, especially with you," ucapnya.
"I love your dirty talk, hon," kekehku.
Dan dia kembali membuatku terjebak di antara sofa dan tubuhnya. "Another round?" tanyaku dengan nada menggoda namun tetap tak dapat menahan taawa di dalamnya.
"Till we die."
000
to be continued
Semoga kalian menikmati chap ini. Sekali lagi saya minta maaf atas update yang begitu lama. Alasan pertama, laptop saya bermasalah. Alasan kedua, saya sibuk pindah dan menyiapkan segala macam kebutuhannya. Alasan ketiga, saya menjadi cepat lelah dan tak sanggup memegang laptop saat sudah di rumah. Baiklah tiga sudah terlalu banyak. Satu atau dua chapter lagi cerita ini akan berakhir. Jadi, tetap tinggalkan review kalian. I'll update next chap soon as possible. Terima kasih:)
