A/N: Yeay, I update this chap as fast as possible like I promise to u guys. And thanks for the review. So enjoy:)

I own nothing, unless the badass Alex

Chapter 11: The Last Runaway

Kondensasi. Kondensasi merupakan peristiwa perubahan wujud dari benda padat menjadi cair. Biasanya terjadi pada peleburan es atau semacamnya. Dan hal itu tengah terjadi di hadapanku sekarang. Es di dalam teh leciku mulai mencair seiring dengan ceramah yang diutarakan oleh Ramirez. Kuedearkan pandanganku pada ruangan ini. Tampak karyawan lain yang juga sama jengahnya dengan diriku. Bahkan Sam sedari tadi hanya memerhatikan layar ponsel di hadapannya. Seperti biasa di setiap minggunya kami akan berkumpul untuk rapat, namun entah apa yang terjadi saat ini aku merasa sangat muak. Aku bukanlah tipe pembosan atau semacamnya, tapi kali ini aku benar-benar bosan dengan keadaan. Aku bosan dengan suasana kantor ini. Sudah beberapa tahun belakangan ini aku bekerja disini dan rasanya sekarang sudah saat yang tepat untuk mencari angin segar lagi. Hal ini sudah terpikirkan olehku sejak beberapa bulan yang lalu, tapi Bree dan Alex mengatakan aku harus bertahan demi promosi jabatan. Tetapi, sampai sekarang aku belum juga mendapatkan promosi itu. Gaji bukanlah masalah utama dari keinginanku untuk promosi ini, toh aku tak memiliki tanggungan apapun, tapi promosi jabatan akan menaikan derajatku di kantor ini, bukan? Ramirez masih sibuk dengan ceramah bagaimana menaikkan kinerja kami agar lebih efisien dan hal itu semakin membuatku muak. Mungkin aku akan mencari tempat kerja yang tak memiliki atasan setipe pria ini. Saat kudengar pria latin ini mengakhiri sesi penyiksaan telinga ini aku langsung bangkit dan meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara lagi.

Matahari sudah mulai meredup saat aku memacu sedan ini. Berendam ditemani seegelas wine dan lantunan suara merdu dari John Meyer pasti akan mengembalikan mood-ku yang hancur tanpa ada penyebabnya hari ini.

Penthouse tampak lapang. Sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Ursula pasti sudah kembali ke kediaman dan begitu pula dengan pelayan-pelayan lainnya. Sementara Scorpius baru akan datang esok hari. Setelah menyesap air tadi, aku langsung ke kamar mandi dan mengisi bathtub kemudian mengambil iPod guna menyumbat telingaku. Beberapa saat kemudian aku sudah terkubur di dalam gelembung busa dengan sesekali menyesap wine yang kuletakkan di tepi bathtub ini, lantunan suara merdu dari penyanyi kesukaanku menambah kenikmatan berendam kali ini. Kupejamkan mataku setelah memeriksa pukul berapa saat ini. Setahuku Draco baru akan pulang pukul sembilan nanti, masih sekitar satu jam lagi. Aku kembali memejamkan mata dan larut di dalam keheningan.

Seperti terdengar derap langkah yang mendekat. Kubuka mataku sedikit dan mendapati Draco yang tengah duduk di tepi bathtub ini dengan memerhatikanku sambil tersenyum. Rasanya mood-ku langsung kembali beratus-ratus persen. "Hey, hon," sapaku melepaskan earphone yang sedaritadi menyumbat telingaku.

Ia masih tersenyum dan balik menyapaku. "Hello, mi querida."

Aku sangat menyukai sapaannya padaku. Tak pasaran dan tak menjijikan. Aku akan mati geli bila ia memanggilku 'babe' atau semacamnya. Kuambill iPod yang kuletakkan disisi bathtub ini dan mengerutkan dahi lalu menatap Draco. "Kau sudah pulang, aku kira kau baru selesai sekitar pukul sembilan?"

Ia menggeleng. "Selesai lebih cepat daripada dugaan," ucapnya dengan tangan yang mengusap lembut pipiku.

Kuambil tangannya dan menciumnya. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. "Kau sedang bahagia?" tanyaku lagi.

Dia tertawa. "Mendapati kau tanpa sehelai benangpun saat aku pulang, tak ada yang membuatku lebih bahagia lagi."

Aku ikut tertawa mendengarnya. "Kau sudah makan?" tanyaku lagi

Ia menggeleng. "Aku ingin masakan Cina," tambahku lagi.

"Terserah padamu," balasnya yang kemudian berdiri dan berjalan menuju wastafel di kamar mandi ini sambil melepaskan dasinya.

"Kau mau mandi terlebih dahulu?" lagi-lagi aku bertanya setelah menyesap tetesan terakhir wine di gelasku.

"Tentu."

"Tetapi, setelah kau selesai," tambahnya.

"Hey, kau tak mau lagi mandi denganku," ujarku kesal.

Dia tertawa dan kembali menghampiriku. "Kalau sekarang kita mandi bersama, makan malam hanya akan menjadi wacana, mi querida," ujarnya menunduk untuk mengecupku.

Lagi, aku tertawa. "Segitu menggiurkannyakah diriku?"

"Lebih dari yang kau pikirkan, Granger," balasanya.

Aku terkekeh dan bangkit dari bathtub itu dan menuju shower room, tapi sebelumnya aku berhasil mendaratkan tanganku di bokongnya dan meremasnya kemudian tertawa dan masuk ke shower room itu. "Kau akan membayarnya nanti, Hermione."

Setelah mandi, aku hanya mengenakan gaun malam berbahan lace hitam dengan jubah satin yang menutupinya. Masakan Cina yang tadi kupesan sudah sampai dan kubawa ke ruang tengah penthouse ini. Aku tak bernafsu untuk makan dengan anggun di ruang makan. Duduk beralaskan karpet dengan sebuah meja dan alunan musik yang merdu sudah cukup bagiku. Draco datang dan mengambil posisi di sampingku. Aku menatapnya kesal.

"Ayolah, hon. Ini bulan Desember, kau akan mati beku bila bertelanjang dada seperti ini," ujarku padanya yang hanya mengenakan celana dari piyamanya saja.

Ia mencebik. "Itu gunanya perapian di ruangan ini," dengan sedikit lambaian dari tongkatnya perapian yang tepat berada di hadapanku menyala.

Aku masih memelototinya. Ia menatapku sesaat kemudian kembali melambaikan tongkatnya dan seketika ruangan ini menjadi benar-benar hangat. "Puas?" tanyanya kemudian mengambil kotak makanan di hadapannya.

"Keras kepala," dengusku yang ikut mengambil kotak makanan lain.

"Katakan pada dirimu sendiri," ucapnya menyeringai kemudian menciumku cepat.

Rasa saus asam yang berada di bibirnya kini tertinggal di bibirku. Aku hanya memukul lengannya dan melanjutkan makan malam kami. Setelah menghabiskan makan malam, aku dan Draco duduk dengan gelas wine di tangan dan menyandarkan diri di badan sofa dan masih beralaskan karpet bulu yang menambah kehangatan di ruangan ini. Draco bangkit dari sandarannya tanpa mengucapkan satu katapun. Saat ia kembali, sebuah piring sudah menghiasi tangannya.

"Aku membelikanmu ini tadi," ia menyodorkan piring dengan lava cake di atasnya.

Aku menatapnya tak percaya dan menaikkan sebelah alisku. "Kau sendiri yang membelikannya? Bukannya Joe?"

"Aku menyuruh Joe," jawabnya cepat kemudian menyesap wine yang sudah kembali berada di tangannya.

Aku mendengus padanya. "Aku mencobanya beberapa hari yang lalu saat makan siang dan aku rasa kau juga akan menyukainya," ujarnya.

Terdapat pujian tersirat pada cake ini di dalam kalimatnya, artinya cake ini benar-benar enak dan aku patut mencobanya. Tanpa tedeng aling-aling lagi aku langsung memotong cake cokelat berbentuk mangkuk terbalik ini dan seketika cokelat lumer keluar dari dalamnya.

Ia masih memerhatikanku saat potongan cake itu masuk ke mulutku. Aku memberikan tatapan berpikir padanya. "Eehm, it taste like..." aku sengaja menggantungkan kalimatku untuk menggoda Draco.

Tetapi, Draco tak terpancing dan tetap memertahankan wajah datarnya.

"Sex," lanjutku dengan wajah tersenyum dan suara mendesah di telinganya kemudian melanjutkan suapan cake ini ke mulutku.

Draco memang memiliki cita rasa yang sangat baik. Lava cake ini benar-benar lezat. Ia menyeringai padaku dan mencondongkan dirinya padaku. Perlahan ia meletakkan gelas wine ke atas meja dan menyingkirkan piring itu dari tanganku. Wajahnya yang terlalu rupawan itu hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Aku dapat merasakan aroma wine yang masih tertinggal di napasnya. Ia menyeringai tepat di hadapanku. "Apakah selezat itu?" tanyanya dengan suara berbisik di telingaku.

Helaan napasnya membuatku ingin segera menerkamnya, tapi aku berusaha menahan diri agar tak terlihat terlalu gampang ditaklukan olehnya. Jadi, aku mengangguk perlahan padanya. "Aku tahu bagaimana cara memakannya agar lebih nikmat lagi," setelah mengucapkan kalimat itu ia mendorongku dan aku terlentang di atas karpet bulu ini. Aku terkekeh dan tersenyum menggoda padanya.

"Apa yang mau kau lakukan, hon?" tanyaku dengan suara menggoda padanya.

"Hanya ingin menghabiskan makanan penutupku," jawabnya yang kemudian merobek gaun malamku.

Mataku langsung mendelik saat menyadarinya. "Draco! Apa yang kau lakukan? Ini Victoria's Secret," protesku.

Dia hanya menggeleng dengan seringaian yang masih berada di wajahnya. "Tenang, mi querida. Aku akan membelikanmu satu lusin gaun ini kembali."

Amarahku berubah menjadi kekehan. Jangankan satu lusin, Draco pasti dapat memberikanku gaun ini satu kontainer lagi. Kekehanku berubah menjadi penasaran saat melihat Draco mengambil cake itu dan menaruhnya di atas dadaku. Draco Malfoy dan segala kejutannya. Perlahan aku dapat merasakan cokelat yang mengaliri di dadaku saat ia memotongnya. "Kau mau?" godanya.

Aku mengangguk dengan mulut terbuka. Saat sendoknya hampir sampai ke mulutku, Draco menggelengkan kepalanya. "Kali ini giliranku, Hermione."

Ia menuduk dan berbicara tepat di depan mulutku. "Kau makanan penutupku malam ini," seketika ia menciumku dengan ganas dan penuh gairah. Tanganku langsung mendarat di rambutnya, namun ia menangkapnya.

"Jangan bergerak, Granger," ucapnya dengan suara seksi yang hanya ia yang sanggup menghasilkannya. "Kau tak mau mengotori karpet ini, bukan?"

"Kau menyiksaku, huh?" tanyaku di sela ciumannya.

"Nikmati saja."

Ia kembali menciumku dan perlahan turun untuk menyusuri setiap lekuk tubuh ini. Leher, collarbone, dan berhenti di puncak dadaku yang telah terlumur oleh lelehan cokelat tadi. "Wow," sontak aku mengucapkan hal itu saat Draco semakin lihai menggunakan kemampuannya disana.

Aku dapat merasakan bibirnya kembali meyusuri perutku dengan lelehan cokelat yang masih meleleh disana. Aku menggeliat tak menentu menahan semua serangan dari Draco. Saat membuka mataku, dada bidangnya juga sudah terlumur cokelat. "Now, hon. Now!" pekikku saat ia menggigit daerah sensitifku.

"Sabar," ujarnya yang masih terus mengeksplorasi tubuhku.

Saat kesabaranku benar-benar habis aku memekik padanya. "Draco!"

Ia kembali menyeringai dan memasuki. Bergerak dengan sangat lembut. Bersama pria ini aku merasa bagaikan tak pernah mendapat kata cukup. Saat kami sudah mencapai puncaknya, ia menelungkup di atasku kemudian menjatuhkan diri di karpet tepat di sampingku. Kami masih mengatur napas. "Lain kali aku akan mecoba dengan es krim-es krim kesukaanmu," ujarnya.

"Aku akan menunggunya," jawabku.

"Ah yaa, jangan lupa ingatkan aku untuk menyuruh Ursula membawa karpet ini ke binatu," ujarnya tetiba.

Aku menatapnya tak percaya. Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu setelah kegiatan kami tadi. Dengan memberikan wajah malas aku berjalan meninggalkannya. "Kau mau kemana?"

"Ke binatu," balasku.

Dan ia terkekeh kemudian berlari mengejarku. Dalam sekejap aku telah berada di gendongangannya.

000

Seperti keinginanku yang pernah kuutarakan pada Draco, kami benar-benar melihat pohon Natal raksasa di Rockefeller bersama Scorpius. Bukan hanya aku yang bersemangat, little Scorp juga. Ia tampak takjub saat melihat secara langsung pohon Natal itu di hadapannya. Padahal kami tetap dapat menikmati pohon Natal ini dari jendela penthouse. Tetapi, sensasi yang diciptakan sangatlah berbeda. Berulang kali ia mengucapkan kata 'wow' yang disambut dengan senyuman yang indah dari ayahnya. Rasanya menakjubkan memiliki hal seperti ini.

Saat Natal berlalu begitupula dengan salju yang melengkapinya, udara dingin tak lantas ikut menghilang. Udara di Januari masih sama dinginnya, tapi salju seakan digantikan dengan hujan lebat yang dinginnya dapat seketika merontokan tulang-belulang di dalam tubuh. Malam sudah sangat larut saat aku terbangun. Lengan Draco dengan nyaman melingkar di pinggangku. Hangat dari penghangat ruangan seakan kalah dengan derasnya suara hujan di luar sana. Waktu masih menunjukan pukul dua malam, namun saat kucoba memejamkan mata kembali segalanya seakan semakin terasa segar. Otakku seakan memerintahkan mata ini untuk tetap terjaga. Perlahan aku melepaskan lingkaran tangan Draco dan keluar dari ranjang mengambil jubah tidurku. Kuambil western novel yang tengah kubaca belakangan ini dan keluar dari kamar. Awalnya aku hanya ingin mencari segelas minuman, namun aku berakhir di ruang tengah dengan sebuah novel dan segelas susu hangat. Hujan di luar masih turun dengan derasnya yang disertai dengan petir nan menggelegar. Perhatianku teralihkan oleh sebuah suara yang muncul di sampingku.

"Emma, apakah itu kau?"

Aku langsung membenarkan kacamata yang kupakai lalu mendapati Scorpius berdiri tepat di sampingku dengan piyama cokelat mudanya. "Hey, Scorpie. Kau terbangun?"

Ia melihatku dengan bimbang. "Ada apa?" tanyaku menghampirinya.

Ia masih melihatku dengan bimbang. Cahaya temaram dari ruangan ini tak lantas melunturkan auranya yang menggemaskan. "Kau tidak bisa tidur?" tanyaku lembut padanya.

Scorpius mengangguk pelan. "Aku sedikit takut dengan petir tadi," ucapnya.

"Kenapa tak membangunkan Ayah?"

"Aku anak laki-laki, Emma," ujarnya yang membuatku tertawa.

Aku masih menahan tawaku saat berusaha berbicara padanya. "Baiklah, aku bisa menemanimu disini sampai petir mereda dan kau mengantuk."

Ia memberikanku tatapan yang mengisyaratkan bahwa ia sekarang sedang berpikir. "Bagaiamana?" tanyaku lagi.

"Baiklah."

Aku mengajaknya duduk di sofa bersamaku lalu melambaikan tongkat untuk mendatangkan selimut. Ia hanya duduk diam sambil sesekali melihat ke arah jendela yang terlihat menyeramkan saat terguyur hujan. "Kau bisa menidurkan kepalamu disini," ujarku menepuk pahaku. "Jadi, kau tak perlu menghadapi petir itu seorang diri," tambahku lagi.

"Apakah boleh?"

"Tentu," jawabku.

Awalnya ia ragu, namun akhirnya ia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Secara otomatis aku mengusap rambutnya. Sangat lembut. Sebelah tanganku masih sibuk dengan novel. Tak lama kemudian aku melihat ia sudah tertidur nyaman di pangkuanku. Aku berniat menggendongnya kembali ke kamar saat menyelesaikan satu bab dari novel ini, namun mataku terasa sangat berat dan rasaku tertidur beberapa saat tak akan menjadi masalah.

Aku merasakan seperti sesuatu mengusap-usap wajahku. Ketika perlahan aku membuka mata, sosok Draco tengah tersenyum yang berlutut tepat di hadapanku. Aku langsung terkejut karena mengingat Scorpius tadi malam tertidur di pangkuanku dan dengan bodohnya aku ikut tertidur bersamanya.

"Hey," sapanya.

"Jam berapa sekarang?"

"Masih pukul 5 pagi," jawabnya.

Aku melirik Scorpius yang masih tertidur di pangkuanku. "Aku akan membawanya ke kamar," ujar Draco kemudian mengangkat Scorpius.

"Dan kau kembalilah ke kamar dan lanjutkan tidur," tambahnya kemudian menunduk untuk mengecup puncak kepalaku.

Saat pagi benar-benar menyapa, aku terbangun dan telah berada di ranjangku. Aku tersenyum mengingat ekspresi little Scorp tadi malam. Draco pasti sekarang sudah bangun dan terngah bersama putranya. Aku langsung bangkit dan membersihkan diri. Saat berada di kitchen counter aku sudah mendapati Draco dan Scorpius tengan sarapan bersama.

"Hey, sleepyhead," sapanya.

"Hey," ujarku kemudian mengecup lembut pipinya.

"Pagi, Emma."

"Pagi, Scorpie."

Saat aku memulai sarapanku, Ursula telah membawa Scorp kembali ke kamarnya untuk mandi. Dan ia mengecupku sebelum meninggalkan ruangan. Senyumku kembaki merona di pagi ini. Draco mengambil tanganku kemudian mengecupnya. "Terima kasih," ucapnya.

Aku memberikan tatapan bingung padanya. "Untuk menjaga Scorpius tadi malam," jawabnya.

"Kau dan dia adalah paket lengkap, Draco. Tentu dengan senang hati aku akan menjaganya."

Ia hanya tersenyum dan menarikku ke dalam ciumannya.

000

Sejujurnya aku tak tahu sejak kapan aku dan Draco mulai menjalin hubungan ini, tapi jika kalkulasiku tak salah dan aku yakin bahwa aku tak pernah salah. Hubungan kami sudah berjalan selama satu tahun. Menurut Alex hal ini harus dirayakan dan harus didaftarkan ke dalam buku rekor dunia. Hermione Granger memiliki hubungan terlama dengan sosok yang tak terduga pula. Tentunya ia mengatakan hal ini dengan nada mencemooh. Baiklah, mari tinggalkan Alex. Walaupun hubungan kami sudah memasuki tahun pertama, tak terbersit sedikitpun di pikiranku untuk merayakannya dengan cara yang romantis. Seharian ini aku berpikir untuk membuat sesuatu yang berkesan, tapi sama sekali tak terbesit olehku hal apa yang akan kubuat untuknya. Aku mengedikkan bahu kemudian. Aku yakin bahkan Draco tak akan mengingat bahwa kami sudah setahun bersama. Jadi, konklusinya adalah aku tak perlu lagi memutar otak untuk memberikannya kejutan.

Aku tak merasa dapat melanjutkan hariku di kantor, jadi aku memutuskan untuk memacu sedanku kembali ke penthouse.

Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore, namun cuaca yang buruk membuat matahari terasa enggan menunjukkan sinarnya. Penthouse tampak tenang seperti biasa. Setelah melepaskan setelan atasku, kuputuskan untuk berada di ruang kerja Draco. Mungkin saja ada buku yang belum sempat kubabat. Namun, pandanganku lebih tertarik kepada laptop yang berada di meja kerjanya. Browsing sejenak mungkin akan lebih menyegarkan pikiranku. Ada beberapa topik yang ingin kucari. Saat aku membuka laptop itu sebuah notifikasi e-mail yang belum terbaca muncul di sudut layar ini. Penasaran aku membukanya.

Astoria Greengrass.

Nama itulah yang terpampang di layar saat aku meng-klik lambang berbentuk surat itu. Kupaksakan kembali mataku untuk berakomodasi dan berharap bahwa tenyata aku salah membacanya. Tetapi, tak ada yang salah dengan mataku. Nama itu benar-benar Astoria Greengrass. Penasaran kembali merasuki diriku. Isi dari e-mail ini berbentuk attachment dengan subjek sebuah tanggal. Aku ragu untuk membukanya. Terlalu lancang. Membuka e-mail saja sudah terlalu lancang apalagi bila aku harus mengunduh berkas yang ada di dalamnya. Aku terdiam sejenak. "Persetan dengan lancang," dengusku dan langsung mengunduh file itu.

Dalam beberapa saat, semuanya telah terunduh dan berkas itu berupa foto-foto. Kubuka dan yang pertama kali keluar adalah wajah Scorpius yang terlihat memberengut. Untuk dugaan pertama adalah Astoria mengirimkan foto-foto Scorpius yang mungkin saja terlewatkan oleh Draco. Jemariku melanjutkan gerakannya dan terus meng-klik ikon lanjut di dalamnya. Perlahan aku mulai merasa terkejut. Foto-foto itu bukan hanya berisi Scorpius saja, tapi Scorp dengan ibunya, Scorp dengan Draco, dan foto mereka bertiga dengan latar akuarium raksasa di belakangnya juga foto Draco dengan Astoria yang sedikit kabur karena kuyakini bahwa Scorplah yang mengambilnya. Seperti tersiram air es aku membeku. Aku berusaha mengingat tanggal itu. Tanggal yang menjadi subjek dari e-mail ini. Jika dugaanku benar, tanggal itu adalah tanggal dimana aku dan Draco bertengkar karena masalah Alex. Tanggal dimana Draco pergi untuk mengurus pekerjaannya di Atlanta. Dia juga mengatakan akan berakhir pekan di luar bersama Scorp. Jadi, hal yang dimaksud dengan berakhir pekan bersama dengan putranya adalah berlibur sejenak di luar kota lengkap dengan mantan istrinya. Aku tak sanggup lagi menarik kesimpulan. Saat aku melihat senyum Draco di foto itu, aku tahu ia sangat gembira saat itu. Foto mereka terlihat sangat sempurna. Kenyataan itu membuatku menertawakan diri saat ini. Aku tahu jauh di dalam hatinya ia masih mencintai Astoria. Aku berjalan pelan ke meja minuman di ruangan ini dan menuangkan scotch milik Draco dan menenggaknya seketika. Kembali aku duduk di balik meja itu untuk membersihkan jejakku. Namun, derap langkah membuatku mendongak dan mendapati Draco berada di ambang pintu.

"Hey," sapanya tersenyum saat menatapku.

Terkejut. Aku langsung menutup e-mail tadi dan berusaha tampak normal di hadapannya. "Hey," aku balik menyapa saat ia menghampiriku.

Matanya tertuju pada gelas scotch di sampingku. "Ini masih sore, Hermione," ucapnya lalu mengambil gelas itu dan mengendusnya.

"Aku sedikit pusing," jawabku.

Dia menatapku meminta penjelasan lebih. "Pekerjaan," tambahku lagi.

"Kau pulang cepat hari ini?" tanyaku mengalihkan perhatian.

Ia mengangguk. "Begitu juga denganmu," lalu ia menunduk untuk menciumku.

Untuk saat ini aku tak mau memikirkan perasaan Draco pada mantan isitrinya. Setahuku, Draco kini adalah kekasihku dan aku tak akan melepaskannya begitu saja. Kutarik Draco agar semakin dalam masuk ke dalam ciuman ini. Tanganku sudah sibuk bermain di rambutnya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya disela desahanku.

"Sure, just take me senseless now. I need you," ucapku.

Dia menyeringai. "Here?"

Aku mencebik dan menggeleng. "Kamar kita," tanpa perlu mengulang permintaanku dengan sigap ia menggendong dan membawaku ke kamar.

Dia menghempaskanku di ranjang yang kusambut dengan menariknya bersamaku. Ia menciumku terus menciumku dengan tangan yang tak lagi dapat terkendali. Aku sesekali mendesah saat ia menyentuh daerah sensitifku. Dan aktivitas kami terinterupsi oleh suara ponsel Drao yang masih berada di saku celananya. "Siapa?" tanyaku yang mencoba mengatur nafas.

Ia melihat layar dan mengerutkan dahi. "Astoria," jawabnya.

Rahangku seakan jatuh. Dalam keadaan seperti ini saja, nama itu masih mengganggu hidupku. "Biarkan. Jangan kau angkat," ujarku lalu kembali menariknya.

Seakan lupa dengan panggilan itu ia kembali di dalam pelukanku. Namun, aku tahu saat ini ia sedang berpikir. "Bagaimana bila hal itu penting?" tanyanya disela ciumanku di dada bidangnya.

Aku berhenti dan memberikan tatapan kesal padanya. "Kau sedang bersamaku, hon. Dia pasti dapat menunggu," jawabku dan menciumnya.

Ponsel Draco kembali bedering, namun langsung kuraih dan kulempar ke sudut ruangan ini. "I need you," dan Draco akhirnya kembali larut bersamaku

Beberapa saat kemudian, kami terkapar di ranjang dengan wajahku yang masih terkubur di leher Draco. Suara ponsel Draco kembali terdengar. Damn you, Greengrass. Draco bangkit dari ranjang ini. "Aku akan mengangkatnya sebentar," ucapnya lalu mengecup bibirku kilat.

Aku mengangguk dan ia menghilang dari pandanganku. Aku bangkit dari ranjang ini dan berusaha mencari pakaian dalamku. Saat mereka semuanya sudah terpasang di tempatnya saat itu lah Draco masuk kembali ke kamar dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Aku langsung menghampirinya. "Ada apa , hon?" tanyaku yang ikut panik dibuatnya.

"Scorpius kecelakaan."

000

Singkat cerita adalah Scorpius jatuh dari kudanya dan kepalanya menghantam tanah dengan keras. Walaupun sudah terlindung dengan helm namun tak lantas membuatnya baik-baik saja. Ada pendarahan internal dan saat ini Draco, aku, dan Astoria tengah berada di ruang tunggu operasi. Berharap dengan cemas agar operasinya berjalan dengan lancar. Tadi saat ia menyampaikan bahwa Scorp kecelakaan dan berada di rumah sakit tanpa berpikir panjang lagi kami langsung ber-Apparate ke rumah sakit ini dan mendaapati Astoria yang sudah sama pucatnya dengan kekasihku. Dan aku sama sekali tak tahu harus berkata apa.

Sampai saat ini belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan itu untuk memberikan kabar. Sudah dua jam dan ini merupakan dua jam terlama dalam hidupku. Kami bertiga hanya terdiam. Ketika Astoria pamit untuk ke kamar kecil aku menghampiri Draco. Kuambil tangannya untuk kugenggam.

"Semua akan baik-baik saja, hon," ucapku pelan padanya.

Ia menatapku. Bukan tatapan sedih ataupun duka, tapi ia menatapku dengan amarah. "Mudah bagimu mengatakan hal seperti itu, karena dia bukan darah dagingmu," ujarnya pedas padaku.

What the hell, Malfoy! Aku berusaha tak terpancing. Berusaha mengerti bahwa ia sekarang tengah menunggu nasib dari anak semata wayangnya. "Dia mungkin bukan anakku, tapi aku juga menyanginya."

"Berhenti bersandiwara, Granger," ujarnya dingin. "Dia sudah berada di dalam ruangan itu saat kita sampai kesini. Semua ini karena dirimu. Kau menyuruhku tak menjawab panggilan, As," ucapnya masih dengan nada menusuk kepadaku.

"Bila ia tak selamat...," ia tak melanjutkan kalimatnya dan menarik tangannya dari genggamanku.

Percayalah, Draco, bukan hanya dirimu saja yang akan hancur bila hal itu benar-benar terjadi ujarku dalam hati. Aku bangkit dan meninggalkannya. Dia hanya butuh waktu, aku berusaha meyakinkan hal itu. Aku turun untuk membeli kopi untuknya, sebelum naik aku duduk di kafetaria itu dengan segelas teh di tangan. Aku menunggu agar ia dapat memaafkan tindakan egoisku tadi. Saat kukira, aku telah memberikannya cukup waktu aku kembali naik dengan dua gelas kertas berisi kopi di tanganku. Langkahku terhenti saat melihat seorang dokter datang menghampiri mereka. Raut tegang tampak terpancar dan secercah senyuman berganti menghiasinya. Adegan selanjutnya adalah Astoria telah berada di pelukan Draco dengan terisak. Dan Draco tampak begitu nyaman untuk berada di sampingnya. Senyum getir terlintas di wajahku. Kupandang dua gelas ini dan kubuang ke tempat sampah. Setelah mengiriminya teks untuk pamit, aku pulang.

000

Satu minggu lamanya Scorpius berada di rumah sakit. Hari-hari selanjutnya adalah Draco pulang-pergi untuk memantau puteranya yang kini telah pulang ke rumah ibunya. Dalam kurun waktu ini pulalah hubunganku dengan Draco diambang kehancuran.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Draco belum pulang. Ia hanya menyampaikan bahwa ia akan mampir melihat Scorpius. Perhatianku teralihkan pada suara 'ding' yang dihasilkan lift penthouse ini. Draco keluar dari dalamnya.

"Kau belum tidur?" tanyanya

Aku menggeleng. "Bagaimana keadaanya?" tanyaku

"Sudah kembali seperti semula," ada nada lega di dalamnya.

"Syukurlah," jawabku lalu beranjak dari sofa ruang tengah itu.

Ia menarik tanganku dan membuatku masuk ke dalam pelukannya. Kemudian ia melepaskanku. "Aku minta maaf karena emosiku yang meledak tempo hari," ujarnya.

Aku tersenyum lemah padanya. "Aku tahu."

"Lalu apalagi?" tanyanya yang sadar bahwa ada yang berubah di antara kami.

Aku menghela napas. Tak tahu apakah saat ini adalah waktu yang tepat atau tidak. Tetapi, berada di satu atap dengan seseorang yang aku tak tahu apakah ia memikirkanku di setiap harinya seperti aku memikirkannya membuatku gila.

"Setelah kejadian Scorp membuatku berpikir," ucapku

Dia menatapku dan memintaku untuk melanjutkannya. "Membuatku berpikir bahwa kau bukanlah untukku," tambahku.

"Hermione," ucapnya.

Aku menggeleng. "Tunggu. Pertama, aku minta maaf karena telah lancang membuka e-mail dari Astoria yang berisi foto kalian di Atlanta."

"Kau tahu?"

Aku mengangguk. "Dan dari cara kalian saling menguatkan di rumah sakit kemarin membuatku sadar bahwa aku tak bisa menggantikan posisinya," tambahku.

"Hermione, bila ini karena ucapanku, aku benar-benar minta maaf," ujarnya menangkup wajahku.

Lagi-lagi aku menggeleng. "Semua sudah jelas, Draco. Kau masih mencintainya."

"Itu tidak benar, mi querida. Aku bersama dirimu sekarang."

Aku menatapnya dan berharap bahwa kata-katanya dapat kupercaya. "Katakan kau mencintaiku, Draco."

Tak ada respon darinya.

Aku sudah menduga akan hal ini. Aku menghela napas sejenak. "Say it and I'm all yours," jawabku.

Ketika ia tetap tak sanggup mengatakannya. Aku mundur selangkah dan tersenyum padanya. "Aku tahu itu," aku berjalan ke kamar dan mengambil beberapa barangku.

Saat aku kembali ke ruangan itu ia masih berdiri mematung disana. Aku berhenti tepat di hadapannya. "Goodbye, Draco," ujarku memaksakan tersenyum dan mengecup bibirnya lama untuk mengingat untuk terakhir kalinya betapa lembutnya bibir itu.

Saat suara 'ding' dari lift ini berbunyi, aku tahu bahwa ini adalah terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di penthouse ini.

000

[Draco]

Dia pergi. Dia hilang. Aku melihat ke kamar dan tak ada satupun barangnya berada disana. Seluruh baju, sepatu, tas, dan segala macamnya telah menghilang dari walk-in closet kami dan hanya menyisakan punyaku. Bahkan perlengkapan mandinya telah lenyap. Ia membuat seakan kehadirannya tak pernah nyata di tempat ini. Dia sudah memikirkan hal ini sejak lama. Betapa bodohnya aku tak langsung menjawab permintaannya. Ia hanya bertanya apakah aku mencintainya dan bukannya menjawab aku justru terdiam mematung di hadapannya.

Suara lift terdengar jelas. Hermione. Dia pasti menyadari bahwa semua ini hanya hal kekanakan yang tak perlu terjadi. Ketika aku keluar dari kamar, aku dikejutkan dengan sosok yang sangat tak ingin kutemui saat ini.

"LeClaire," ujarku.

Dia menatapku seakan aku adalah mangsanya. "Lama tak berjumpa, Malfoy."

Dan tanpa aba-aba lagi dia berjalan kearahku dan menyurukkan tongkatnya tepat di leherku. Napasnya terasa menderu dan aku masih berusaha untuk mengambil tongkat di dalam sakuku. Namun, secepat kilat ia merapalkan mantra dan tongkat itu melayang dari tanganku. Dia membuatku terperangkap di antara dinding.

"Apa maumu, LeClaire?" berusaha setenang mungkin "dan bagaimana kau bisa naik kesini?"

Ia mendengus kemudian tertawa. "Kau lupa bahwa bukan hanya kau satu-satunya penyihir di kota ini," dia semakin menyurukkan tongkatnya di leherku yang seakan siap menembus semua pembuluh di dalamnya.

"Aku sangat mempercayakan Emma padamu, Malfoy, tapi kau menyia-nyiakannya begitu saja?"

Aku menyeringai. "Kau tak ada hak menginterogasiku mengenai hubungan kami."

"Benarkah?" tanyanya dan aku tak tahu apa yang ia rapalkan dan sesaat kemudian tanganku terasa sangat perih dan ada darah yang keluar dari luka teriris rapih dengan pisau.

"LeClaire, kau gila!"desisku

Dia mundur dan melepaskanku. "Menghilang dari hadapan Emma mulai dari sekarang. Kali ini kau hanya menghadapiku, namun jika kau masih muncul di hadapannya dan membuatnya kembali menangis aku pastikan agar Potter dan Weasley membantuku untuk mengeksekusimu."

"Tukang adu," ucapku.

Lagi-lagi ia tertawa. "Setidaknya aku bukan pengecut yang tak dapat menentukan pilihan."

Darah masih menetes di lenganku dan tongkatku masih menghilang. "Aku rasa kali ini cukup. Selamat malam, Malfoy."

Dia berbalik namun seketika berhenti. Dia kembali berjalan ke arahku dan tanpa sempat kuhalau dia memukul wajahku berkali-kali. "Itu karena kau membuat wanita yang satu-satunya kucintai di bumi ini menangis."

Kali ini ia benar-benar pergi. Dia mencintainya. Aku tak pernah salah menduga. Aku terduduk dengan bersimbah darah dan sadar bahwa duniaku telah berakhir.

000

to be continued

One step closer to the finale guys. Let me hear what you think. Btw, about why am I removed YMH? Ther're several reasons that I can't share. Sorry. Keep read and review guys. You rock!