A/N: I update! Yeay! This's the finale and I hope u like it. Enjoy
I own nothing, unless Alex and Bree LeClaire, Joe Karpov, and another characters you didn't know.
Chapter12: The Finale - Forever Starts Tonight
Five Years Later
Los Angeles, California
Sinar matahari menerobos masuk dengan sangat membabi buta ke dalam rumah ini. Rumah bernuansa putih dengan kaca yang mengelilinginya membuat setiap harinya sinar matahari dapat bertamu dengan bebas disini. Deburan ombak juga menjadi salah satu alunan musik yang selalu menjadi latar disini. Aku tengah berdiri di balik kompor setelah membuat scramble egg dan membuat beberapa lembar roti pangang yang kemudian kubawa ke kitchen island. Tempat ini biasa kami gunakan sebagai tempat sarapan. 'Lebih akrab' celoteh Alex . Setelahnya aku menyeduh kopi di dalam coffee maker dan menyeduh teh kegemaranku yang entah dari jaman kapan aku menyukainya.
"Sarapan siap," teriakku.
Terdengar derap langkah dari lantai atas. "Aku mandi dulu," ia tak kalah berteriak dariku dari atas sana.
Aku hanya sanggup mendengus dan tertawa. Akhir pekan adalah dua hari yang aku dan dirinya puja setengah mati disini. Hanya dua hari ini kami bisa bersantai sesuka hati tanpa perlu memikirkan pekerjaan. Pada kasusku adalah klien-klien berpenghasilan jutaan dollar dengan keinginan segudang untuk kediamannya dan untuknya adalah nasabah yang juga berpenghasilan jutaan dollar yang akan berinvestasi atau mengajukan pinjaman di bank tempat ia bekerja. Aku mengambil tempat di kitchen stool dan mulai menyesap Earl Grey Tea-ku setelah sebelumnya membauinya. Sensasi dari harum yang dihasilkannya memunculkan relaksasi tersendiri bagiku. Aku tersenyum pada diriku sendiri saat memikirkan hal ini. Sudah lima tahun aku pindah dan perlahan meninggalkan kehidupanku di New York dan memulainya dari awal disini, di Los Angeles, California. Kota dengan cahaya matahari yang tak ada habisnya. Sudah lima tahun semenjak Alex mengajakku ikut pindah secara permanen bersamanya di keesokan hari setelah keputusanku untuk meninggalkan Draco.
Hari masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat aku turun dengan gontai dari kamarku. Alex sudah duduk di ruang tengah dengan secagkir kopi dan surat kabar di tangannya. Kuhempaskan tubuhku di sampingnya. "Tehmu sudah ada di kitchen island, bila kau sudah siap untuk srapan ada beberapa pancake yang tadi sempat kubuat untukmu," ujarnya tanpa meningalkan pandang dari surat kabarnya.
"Terima kasih," ujarku yang masih menyandarkan kepalaku yang seakan mau pecah di kepala sofa yang empuk kemudian menggati-ganti saluran televisi di hadapan kami.
Entah harus berapa kali aku mengucapkan bahwa aku sangat beruntung memiliki Alex di sisiku. Kemarin malam saat aku memutuskan untuk kembali ke penthouse ini, tak disangka Alex tengah berada di ruang tengah dengan laptop dan musik jazz yang selalu ia dengarkan. Bunyi dari lift membuat ia bangkit dan mendapatiku berada di ambangnya dan tanpa perlu banyak bicara ia menarikku ke dalam pelukannya. Tanpa perlu kujelaskan apa yang terjadi ia membiarkanku terisak di pelukannya. Barulah setelah puas aku menceritakan hal yang selama ini terjadi antara aku dengan Draco. 'Menangislah, Ems, bila itu dapat membuatmu lega' hanya itu kalimat yang ia katakan sebelum aku kembali menangis sejadi-jadinya. Dan saat ini ia masih setia disini bersamaku.
Alex yang sedari tadi sibuk membaca kemudian bangkit dan kembali dengan secangkir teh kesukaanku lalu menyodorkannya padaku. "Minumlah sebelum kepala menjadi benar-benar meledak," aku tersenyum dan menerimanya.
Tanpa perlu banyak berbicara lagi aku sesap teh itu. "Terima kasih sekali lagi, aku tak tahu apa jadinya aku tanpa dirimu," ujarku serius sambil menatapnya.
Ia menatapku kemudian tertawa. Lalu tangannya menyentuh keningku dan kembali tertawa. "Hey, aku serius," ujarku kesal.
Dia berusaha menahan tawanya. "Sejak kapan ucapanmu berubah menjadi seperti lirik lagu di tahun 70-an," kemudian ia tertawa lagi.
Kupukul tangannya lalu ikut tertawa. "Ouch, Ems," ujarnya lalu refleks memegang lengan atasnya.
Mataku langsung menangkap sesuatu yang janggal dari jari-jari tangan kirinya yang terlihat memar dan membiru. Kuambil langsung tangannya dan ia berhenti sok meringis. "Ini kenapa? Kau kemana tadi malam setelah aku tertidur?"
Buru-buru ia menarik tangannya dariku. "Tak apa. Aku sedikit berlatih tadi malam. Kau tahu aku sudah lama aku meninggalkan martial art-ku, bukan?"
Aku mengerutkan dahi menyadari bahwa ia berbohong saat itu. "Kau tak pergi untuk.." aku tak sanggup melanjutkannya.
"Untuk menghabisi Draco?" tanyanya yang langsung serius saat topik ini kembali terangkat.
Aku terdiam sejenak lalu menggeleng. "Asal dia tak mati, tak ada masalah," ujarku mencoba menutupi kekhawatiran akan keadaannya saat ini. Tentang keadaannya setelah Alex menghajarnya. Dan keadaannya setelah aku meninggalkannya begitu saja.
"Tenang, Ems. Dia tak mati. Lagipula aku masih cinta kehidupanku sekarang. Aku tak dapat membayangkan NYPD atau lebih parah lagi petugas Kementerian Sihir datang untuk menjebloskanku ke Azkaban," ia terkekeh.
Ia kemudian bangkit dan menarikku untuk sarapan bersamanya. Kami sarapan dalam diam. Alex masih kembali sibuk dengan surat kabar dan ponselnya sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri yang bahkan aku tak tahu apa yang harus kupikirkan saat ini. "Ems," panggilnya memecahkan keheningan di antara kami.
Aku hanya menatapnya. "Pindahlah bersamaku ke Los Angeles."
Sedikit terkejut aku dibuatnya, tapi aku tahu Alex akan mengatakan hal ini apalagi setelah kejadian aku pulang ke penthouse dengan lelehan air mata akibat kandasnya hubunganku dengan Draco. "Tapi aku punya kehidupan disni, aku punya pekerjaan," jawabku.
"Kau bisa resign dan memulai sesuatu yang baru disana. Kau lulusan dari universitas ternama dan pengalaman kerjamu tak dapat diremehkan, kau pasti akan mudah mendapatkan pekerjaan disana dan aku siap membantumu mencari koneksi disana," jelasnya.
Aku masih diam, berpikir, dan belum mengeluarkan sepatah katapun. "Bree sudah pindah dengan suaminya, aku tak bisa selalu pulang balik Los Angeles-New York, saatnya kau memulai sesuatu yang baru, Ems. Draco bukan lagi menjadi urusanmu, paling tidak terhitung sejak tadi malam."
Semua perkataan Alex sangat masuk akal untuk saat ini. Tak ada lagi hal yang menghalangiku saat ini. Toh aku sudah bosan dengan kantorku yang sekarang. Dan semakin jauh aku dari kota ini semakin mudah untuk aku merelakannya. "Beri aku waktu."
Ia mengangguk. "Aku cuti sampai akhir pekan ini sebelum harus kebali ke LA, putuskan secepatnya," ia mengecup pipiku dan berjalan meninggalkan dapur.
Dan keesokan harinya aku mengatakan 'yaa' pada Alex dan mengajukan surat pengunduran diriku secepatnya.
"Apa aku harus melakukan pesta kebun atau rooftop party untuk hal ini?" ujar Alex yang sekarang sudah berada di belakangku untuk kemudian membuka lemari es dan menenggak air mineral di dalamnya.
Aku menatapnya bingung. "Setelah lima tahun akhirnya bisa memasak scramble eggs dan roti pangang," ujarnya santai lalu mengambil tempat di sampingku.
Aku memberikannya pelototan. "Shut up!"
Ia hanya terkekeh. Lalu menyesap kopinya. "Tapi scramble eggs ini benar-benar mouthgasm, Ems," seperti biasa ia memakan sarapannya dengan surat kabar pagi di tangan.
Aku hanya sanggup tertawa dan ikut menyantap sarapan kami pagi ini. Sesekali ia membenarkan kacamatanya lalu secara berkala menyesap kopinya. "Kau sudah memesan tiket pesawat?" tanyanya yang aku rasa telah selesai mambaca surat kabar paginya karena kini ia melipat kertas itu dan menatapku.
Aku mengangguk. "Penerbangan nanti malam," jawabku. "Kau yakin tak ingin ber-Apparate saja?" tanyaku.
Ia menatapaku kemudian mengerutkan keningnya. "Terakhir kau yang mengatakan bahwa tak suka ber-Apparate karena menimbulkan rasa mual dan semacamnya."
"Benar," jawabku setelah menghela napas. "Tetapi, jangan membuat diriku sebagai alasan. Kau selalu mengatakan bahwa melakukannya secara sihir terkadang lebih mudah."
Ia masih menatapku kemudian tersenyum. Tangannya mengambil tanganku kemudian menggenggamnya. "Kenyamananmu lebih utama dari segalanya, Ems," ujarnya kemudian mencium tanganku.
Bila sudah begini, aku hanya sanggup tersenyum dan kadang terhanyut di dalam mulut manisnya. Ia kemudian bangkit. "Kau mau kemana?" tanyaku bingung.
Ia berjalan menuju meja tempat biasa kami meletakkan kunci kendaraan. "Groceries shopping. Aku melihat stok susu dan sereal serta buah kita sudah habis."
"Kau mau aku ikut?"
"Bukannya kau mau berenang?" ia berbalik tanya.
Aku hanya menganguk. "Sebaiknya kau berenang saja. Kirim pesan saja, apa yang ingin aku belikan."
Lagi-lagi aku mengangguk. Langkahnya terhenti lalu kembali menghampiriku. Ia memandangku dari atas hingga bawah dengan raut wajah yang berpikir. Sebelah alisnya sedikit terangkat. "Kenapa?" kini aku yang bingung.
"Kau memang harus berenang atau olahraga lainnya."
Dahiku mengerut seketika. "Ada lemak dimana-mana," ujarnya enteng kemudian mengecupku dan berbalik pergi.
Aku melotot mendengarnya. Refleks kupegang perutku dan menariknya untuk merasakan lemak yang ada. "Screw you, Lex!"
Tawanya dan punggunngnya saja yang terdengar olehku. "Kau tak boleh tidur denganku lagi," teriakku agar ia mendengarnya.
Namun tawanya semakin terdengar nyaring. "Baiklah, aku akan tidur dengan tetangga ujung jalan kita. Siapa namanya? Jane atau Janette?" aku mendengus.
"Kau tak akan bisa melakukannya, Lex. You stuck with me!"
Tawanya yang masih menghiasi rumah kami. "Ha-ha funny, Ems."
Alex dan semua leluconnya.
Setelah ia pergi aku langsung membuka atasan dan celana pendek yang kukenakan pagi ini. Berenang adalah salah satu kegiatan kesukaanku disini. Aku tak tahu apa yang dilakukan Alex selain menjadi selain seorang banker sampai ia bisa membeli rumah sebesar dan semewah ini. Aku tahu sejak awal bertemu dengannya, keluarga LeClaire adalah salah satu keluarga penyihir kaya raya di Perancis, tapi aku tak berekspektasi mereka sekaya ini. Walaupun Alex selalu mengatakan bahwa rumah ini ia beli dari hasil jerih payahnya sebagai banker selama ini. Lagipula ia selalu berdalih kalau rumah ini masih dalam tahap kredit jangka panjang paling tidak sampai sepuluh tahun kedepan. Aku terkekeh mendengarnya. Setelah berenang beberapa lap, aku naik dan memutuskan untuk berjemur sesaat. Ada beberapa e-mail di ponselku. Mayoritas dari kantor dimana aku bekerja sekarang. Setelah memutuskan untuk resign, aku meng-apply dibeberapa firma arsitektur di kota ini dan seperti kata Alex bahwa aku dengan sangat mudah mendapatkan pekerjaan disini. Berbeda dengan New York, mayoritas klienku adalah kaum-kaum hedonis yang butuh seorang arsitek interior untuk mendesain rumah atau butik-butiknya atau tempat usaha-usaha lainnya. Berbicara mengenai pekerjaan, aku teringat kejadian saat aku membereskan mejaku terakhir kalinya di New York.
Udara New York sangat menyusuk. Angin berhembus lumayan kencang dan dapat merontokan tulang-belulang di dalam kulit ini dan aku telah mengenakan mantel saat ini. Setelah berpamitan dengan rekan-rekanku terutama Sam, aku membereskan ruanganku. Mengepak semua barang dan meminta Mecca untuk mengantarnya langsung ke alamat Alex di LA. Bukan hanya perpisahan standar yang aku dapati, sosok yang tak sanggup aku bayangkan telah berdiri tepat di ambang pintu ruanganku. Mecca terlihat canggung saat berdiri di antara kami. "Kau bisa keluar sekarang, jangan lupa untuk kirimkan semua barang itu nanti siang."
"Baik. Miss Granger," kemudian ia menghilang.
"Hey," sapaku. "Masuklah, jangan berdiri disitu saja," ujarku yang masih sibuk dengan beberapa barang di mejaku.
Dia berdiri mendekat tanpa mengutarakan sepatah katapun padaku. Hatiku tak karuan. Perasaanku campur aduk saat harus berada di dekatnya. Bahkan aku tak tahu rasa apa yang lebih dominan di dalamnya. Cinta atau marah. Akhirnya aku menengadah dan menatapnya. Raut wajahnya hampir sama dengan saat terakhir kali aku pergi darinya.
"Ada apa?" tanyaku berusaha setenang mungkin.
Ia memberikan tatapan yang tak kumengerti. "Kau berhenti bekerja?"
Kali ini aku yang mengangguk. "Kenapa?"
"Suasana baru. Aku sudah terlalu lama berada disini."
"Kau sudah dapat pekerjaan baru?"
Lagi-lagi aku mengangguk. "Dimana?" ia kembali bertanya.
Aku tersenyum padanya. Bukan senyuman bahagia. Senyuman kekecewaan lebih tepatya. "Aku tak merasa kau memiliki hak lagi untuk bertanya, Draco," jawabku.
Ia langsung berjalan dan berdiri di sampingku. Tangannya mengambil tanganku dan mengenggamnya dengan erat. "I want you back," ujarnya pelan padaku.
"We're meant to be together," tambahnya lagi.
Aku berusaha tenang. Berusaha untuk tak menyumpah serapahinya. Berusaha untuk tidak mengeluarkan tongkatku dan merapalkan mantra untuknya. Dia datang kesini hanya untuk mengucapkan hal itu, padahal ia tahu apa yang ingin aku dengar. "Kenapa kau menginginkanku?" kini aku yang bertanya padanya.
Ia menatap bingung padaku. Seperti tak tahu apa alasannya. Tak tahu alasan mengapa ia menginginkanku. "Hanya dirimu yang aku butuhkan, Hermione. Tak ada yang lain dan tak butuh alasan lain."
Kali ini aku tak sanggup menutupi tawa sinisku padanya. "Wrong answer, Draco."
Aku melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah darinya. "Tidak, tidak, Hermione," ia menghentikan lagkahku saat aku berusaha mundur darinya. "We're gonna be great together. Ayo kita menikah. Kita bisa membangun dari awal. Kau, aku, Scorpius, dan anak kita nanti," baru kali ini aku melihat Draco meracau seperti ini.
"Kau mengatakan bahwa kau meinginkanku, membutuhkanku, dan memintaku untuk menikah denganmu sekarang bukan karena kau benar-benar ingin melakukannya. Tetapi, karena kau takut kehilanganku. Kau tak bisa tetap bersamaku dengan hatimu yang tak akan pernah menjadi milikku."
Dia menatapku tak percaya. "Apakah kau masih cemburu dengan Astoria?"
"Hal ini lebih besar dari sekadar aku cemburu terhadapnya. Tetapi jika kau tanyakan apakah aku cemburu terhadapnya? Hell yes, Draco. Tetapi, hal yang lebih menyakitkan karena aku tak pernah bisa berada di hatimu seutuhnya."
"Katakan kau tak lagi mencintai Astoria," suaraku meninggi saking kesalnya.
"A-aku.."
Diam.
Tak ada kata yang dapat ia lanjutkan.
"Aku sudah tahu bahwa kau tak pernah berhenti mencintainya," ujarku sinis.
Kini ia diam. Disaat yang bersamaan ponselku bergetar dan pesan dari Alex yang mengatakan bahwa ia telah berada di bawah menungguku di mobilnya. "Aku harus pergi sekarang," ujarku padanya.
Kuangkat kardus kecil di hadapanku dan berjalan meninggalkannya. "Semua ini pasti karena LeClaire, bukan?" langkahku terhenti saat mendengar nama keluarga Alex disebut olehnya.
Aku hanya berhenti dan enggan untuk berbalik menatapnya. "Kau tak perlu mengambinghitamkan seseorang dalam hubungan kita," balasku.
"Dia datang dan memukulku kemudian menyatakan bahwa ia mencintaimu malam itu. Siapa yang harus aku salahkan atas kepergianmu kali ini," ujarnya dingin padaku.
Hatiku mencelos saat mendengar kata-kata Draco. Alex mencintaiku. Lelucon macam apalagi ini. Kembali aku berusaha tak terpengaruh oleh perkataannya dan tetap setenang mungkin.
"Alex mencintaiku atau tidak bukan menjadi alasan semua ini terjadi. Jaga dirimu, Draco."
Aku menghambur keluar dari ruanganku. Dalam sekejap aku menjadi sorotan rekan-rekan kerjaku. Dengan tidak sengaja aku membuat opini bahwa kepergianku adalah karena kandasnya hubunganku dengan Draco. Tetapi, saat ini hal yang lebih kupikirkan adalah Alex mencintaiku. Setelah sepuluh tahun persahabatan kami, aku baru tahu ia mencintaiku.
Aku masih berada di kursi malas yang berada tepat di tepi kolam renang rumah kami. Kuperhatikan jam yang berada di ponselku, sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi Alex belum juga kembali. Kukedikkan bahuku dan menyambar jubah handuk yang kusampirkan di bahu kursi ini tadi. Ia pasti akan kembali tak lama lagi, dia tahu aku akan kelaparan bila tengah hari ia belum kembali dan membawakan kami makan siang.
Setelah mandi dan mengganti pakaianku aku duduk di ruang tengah kami. Ada beberapa buku yang kemarin kubeli dan belum sempat kusentuh dan aku berniat untuk membabatnya hari ini. Aku dan Alex adalah pribadi yang sangat gemar membaca, jadi ada sebuah kamar di rumah ini yang kami sulap menjadi perpustakaan kecil dengan buku-buku yang berjejalan di dalamnya. Sudah hampir tengah hari dan Alex tak kunjung kembali. Aku sempat menghubunginya tadi sambil bercanda apakah ia benar-benar pulang ke rumah tetangga kami di ujung jalan itu. Dia mendengus dan mengatakan bahwa ia masih sibuk mengantre di steakhouse langganan kami untuk membelikanku makan siang. Steak adalah menu yang kemarin kukatakan padanya untuk makan siang hari ini dan ia sekarang sedang mengabulkannya. Aku tertawa mendengarnya dan berpesan agar ia mengantre dengan sabar karena aku juga akan sabar menunggunya di rumah.
Aku memang berjanji untuk menunggunya di rumah dengan sabar, tapi aku tak berjanji bahwa perutku akan setia menunggunya pulang. Jadilah aku memanaskan pizza beku yang biasa kami stok di lemari es. Setelah itu aku membawanya untuk duduk di depan televisi sembari mengganti-ganti saluran yang kusuka. Melihat pizza di hadapanku, terlintas di pikiranku bagaimana cara aku dan Alex akhirnya bersama.
Sudah hampir dua tahun aku memutuskan untuk pindah bersama Alex ke LA. Setelah acara mengharu-biru bersama Bree karena kami dianggap meninggalkannya dan dianggap sebagai pengkhianat persahabatan kami, aku dan Alex benar-benar siap untuk pindah dalam jangka waktu yang tak pernah kami ketahui sampai kapannya. Sampai saat aku pindah bersamanya, aku tak pernah menyinggung hal yang kuketahui dari Draco bahwa ia mencintaiku selama ini. Aku hanya menunggu dan melihat sejauh mana ia dapat bertahan saat ini. Aku merasa begitu bodoh tak menyadari hal ini selama ini. Selama ini Alex selalu ada untukku, kapanpun, dimanapun aku berada. Ia selalu menjadi penyelamatku di setiap kencanku yang jarang berhasil kala kami masih di NYU dulu, ia selalu siap menjemputku saat aku tak mampu membedakan lagi mana kuda mana kerbau saat aku terlalu mabuk, bahkan ia orang pertama yang ada untukku saat ibuku pergi untuk selama-lamanya. Bahkan disaat hubunganku kandas denga Draco ia yang da untuk saat itu. Entah itu secara kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Aku tak dapat membayangkan perasaannya setiap aku menceritakan kehidupan percintaanku padanya, terutama tentang Draco.
Jadi, aku memberanikan diri untuk bertanya saran dari Bree tentang hal ini. Awalnya aku takut bila Bree akan terkena serangan jantung saat aku mengatakan, tapi ternyata hanya aku yang tak tahu akan hal ini. Bree sudah tahu bahkan sejak bertahun-tahun lalu tapi, Alex memaksanya untuk tutup mulut karena tak mau aku merasa tak nyaman berada di dekatnya saat fakta ini terungkap. Ketika aku mengutarakan niatku untuk melanjutkan hidup dan memulai sesuatu yang baru dengan kakaknya ia meneteskan air mata dan memelukku dengan erat. 'Aku tak sabar membawamu seutuhnya kedalam keluarga kami' itu kata-katanya padaku.
Hari sudah gelap saat aku pulang setelah seharian mencari material yang tepat untuk klien baruku dengan proyek rumah tinggal di daerah Malibu itu. Saat aku mendaratkan bokongku di sofa, listrik mati seketika dan ada laporan dari penjaga keamanan setempat bahwa terjadi pemadaman listrik karena kerusakan pembangkit listrik disebabkan badai kemarin. Jadilah, kunyalakan semua lilin yang ada di rumah ini secara sihir. Aku tersenyum sendiri melihat cahaya temaram yang di hasilkan olehnya. Kuhubungi restoran pesan antar pizza di sekitar daerah ini sambil menunggu Alex pulang. Tak beberapa lama kemudian suara mesin mobilnya memasuki pelataran rumah kami dan ia terkejut dengan lilin-lilin yang terdapat hampir di setiap sudut rumah ini. "Badai kemarin memaksa kita kembali menjadi manusia purba untuk sesaat," ujarku.
"Pizza?" tanyanya kemudian duduk di sampingku setelah melepaskan dasinya.
Baru ini aku dapat merasakan ia begitu tampan bahkan hanya dengan cahaya temaram seperti ini. "Ems," ia membuyarkan pikiranku.
"Ah iya, pepperoni cheese. Kesukaanmu," balasku.
Berselang beberapa saat, gemuruh hujan di luar menjadi alunan musik kami kali ini. Sudah hampir satu jam dan listrik tak kunjung menyala. Alex masih sibuk dengan pizzanya sambil diselingi sesapan wine yang melengkapinya. Untuk saat ini aku sangat bingung untuk mengutarakan hal ini pada Alex. Kegelisahanku tampak tercium olehnya karena ia langsung duduk menghadapku. "Kau kenapa?"
Aku mengedikkan. "Kau kedinginan?"
Aku tersenyum kemudian menggeleng. Karena tak mendapatkan jawaban dariku ia melanjutkan pizza yang entah potongan keberapanya. "Lex," ujarku memberanikan diri.
"Ehm."
"Ada sesuatu di pipiku," ujarku padanya. "Kau bisa mengambilnya?" tambahku lagi.
Saat ia mendekatkan kepalanya padaku karena aku yakin penglihatannya akan semakin menurun apalagi di suasana temaram seperti ini, aku membalikkan wajah dan bibirku bertemu dengannya. Kubuka sedikit mulutku dan menunggu ia untuk menyambutnya. Dan benar saja, setelah helaan napas panjang darinya ia melumat bibirku dengan lembut. Namun sesaat kemudian ia mundur dan tak sanggup menatapku. "Maafkan aku, Emma," ujarnya buru-buru.
Melihat Alex LeClaire yang seketika canggung di hadapanku membuatku ingin tertawa. Demi Merlin! Aku tak pernah melihat ia seperti ini seumur hidupku. Melihat ia yang benar-benar canggung membuat tawaku tak terbendung lagi.
"Kau yakin meminta maaf karena menciumku?" tanyaku disela tawa.
Ia menatapku dari balik kacamatanya. Sinar temaram dari lilin-lilin seakan terpancar di matanya. "Apa maksudmu? Tentu aku minta maaf untuk hal itu."
Aku mengangguk-angguk. "Jadi, yang kau katakan pada Draco di malam saat aku putus dengannya sudah tak berlaku?"
Sekarang matanya terebelalak menatapku. "Kau.. kau mengetahuinya?"
Aku mengangguk mengiyakan. Kuubah posisiku untuk benar-benar berhadapan dengannya. "Sejak kapan?" kali ini aku serius ingin mengetahuinya langsung dari mulutnya.
Ia tampak tak percaya dengan percakapan kami. Aku rasa nyawanya sedang loncat ke dimensi lainnya. "Alex."
"Sejak kau memasuki kehidupanku. Sejak aku datang ke asrama kalian di NYU dulu. Sejak rambutmu masih seperti singa dan kau tak tahu bagaimana cara minum dan berdansa dengan benar. Sejak saat itu kau seperti merasukiku dan menjadi bagian di setiap napasku. Tetapi, aku tak akan mengambil resiko dengan mengajakmu berkencan dan merusak semua yang telah kita bangun. Aku pikir dengan berkencan dengan banyak wanita akan mengubah perasaanku padamu, tapi aku salah. Kau semakin menguasai diriku," ia menghela napas sejenak dan aku masih menunggu setiap kata yang akan kembali keluar dari mulutnya.
"Aku mencintaimu, Hermione.
"Shut, up!" refleks aku langsung menutup mulutku. "Maksudku, Oh my God," tambahku lagi.
Ia kembali melotot padaku kemudian mendengus. "Ouch, Ems. Kau melukai perasaanku," ucapnya yang mengundang tawaku.
Seharusnya tadi adalah momen romantis bagi kami, tapi karena Alex adalah subjek pembicara topik ini aku tak sanggup menutupi tawaku. Kuambil tangangannya dan menggengamnya. "Aku tahu hal ini sebelum kita pindah kesini."
Ia terkejut mendengar perkataanku. "Lalu?"
"Lalu aku tak tahu bagaimana cara menghadapimu. Untuk sesaat aku juga takut bila ternyata hubungan ini tak berjalan dengan sempurna kita akan menjadi orang asing dan semua hubungan yang kita bangun menjadi hancur berantakan. Oleh karena itu aku menunggu.."
"Selama dua tahun?" kalimatku disela olehya.
Aku mengangguk. "Selama dua tahun. Untuk meyakinkanku bahwa kau adalah sosok yang tepat bagiku, bukan pelarian dari kisah cintaku yang kandas kemarin. Dan sekarang aku yakin akan hal itu. Apakah kau yakin?"
Dia menatapku kemudian tersenyum. "Aku yakin padamu sejak dua belas tahun yang lalu."
Aku ikut tersenyum padanya saat kumerasakan ia menarikku ke dalam ciumannya. Kulepaskan sejenak. "Jadi, kau melajang karena menungguku untuk sadar akan cintamu? You stuck wit me, huh?" tanyaku tak percaya.
"Shut up!" dia terkekeh dan kembali menciumku.
Kenangan itu kembali membuatku tersenyum. Terkadang aku masih tak percaya dengan keputusan yang kubuat, tapi itulah kenyataan yang ada.
Karena Alex belum kunjung menunjukkan batang hidungnya kuputuskan untuk memeriksa overnight bag yang akan kami bawa ke New York nanti sore. Bree akan mengadakan baby shower yang kedua tahun ini. Setelah selama ini Bree selalu mengatakan bahwa enggan memiliki seorang anakpun, kini semua terbantahkan. Di tahun kelima pernikahannya dengan Olivier, mereka tengah menanti anak kedua. Aku turut senang dengan semua ini, begitupula dengan Alex yang menjadi favorite uncle bagi Sienna, putri pertama mereka.
Mengenang semua peristiwa diriku dengan Alex mengingatku pada orang-orang yang selalu beranggapan bahwa kami adalah pasangan yang tak pernah memiliki masalah. Padahal, beberapa kali aku bahkan enggan menatap wajahnya saking kesalnya, begitupula dengannya. Aku ingat waktu itu ketika aku baru sampai rumah sekitar tengah malam karena lembur di kantor tanpa memberikan kabar padanya. Alex masih setia menungu walaupun aku tahu ia sangat lelah. Bukannya merasa bahagia saat aku mendapatinya, aku justru menyuruh jangan menungguku lain kali bila aku terlambat pulang. Wajahnya langsung tampak segar karena kata-kata pedas yang keluar dari mulut. 'I love you, that's why I care about you' kalimat itu keluar dari mulutnya dan ia berjalan ke kamar kami. Sesaat kemudian aku merutuki mulutku sendiri. Saat aku memasuki kamarku ia tengah duduk di ranjang dengan buku di tangannya di temani lampu baca dari nakas di sampingnya. Aku masih diam dan membereskan diri di kamar mandi. Setelah aku selesai, ia masih membaca buku itu. Perlahan aku naik ke ranjang dan menatapnya namun ia tetap tak mau menatapku. Kurebahkan kepalaku di dadanya. 'I'm sorry' kata itu yang keluar dari mulutku saat itu. Aku dapat merasakan ia menghela napasnya. 'You know that I love you even when I hate you,huh?' dan aku hanya mengangguk. 'Tidurlah' lalu ia mematikan lampunya dan memelukku sampai kami tertidur.
Sejak saat itu, aku tahu bahwa kami tak akan pernah bisa bertengkar lebih dari sehari. Ia akan gila, begitupula denganku.
000
Bree dan Olivier hanya mengundang kerabat terdekat saja untuk acara ini. Tema baby shower kali ini adalah anak anjing dengan nuansa biru di setiap sudut ruangan. Mereka akan menunggu kelahiran putra untuk anak kedua kali ini. Kilat bahagia terpancar jelas di wajahnya. Setelah kelahiran Sienna tiga tahun lalu, mereka akhirnya setuju untuk menempati penthouse kami di Upper East Side karena banyak faktor yang akhirnya telah berhasil didiskusikan. Acara ini berjalan dengan lancar dan aku mati bahagia dengan kue-kue yang Bree pesan langsung dari Magnolia.
"Kembali membabi buta," bisik Alex padaku yang kubalas dengan dengusan dan sikutan untuknya.
Kami duduk di sofa dengan aku yang berada di pangkuannya. Saat ini tamu-tamu sudah mengundurkan diri. "Mereka tampak sangat bahagia," ujar Alex yang menguburkan wajahnya di rambutku.
Aku mengangguk. "Anak-anak membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang tuanya," balasku.
"Kau juga tampak begitu bahagia saat berada di dekat Sienna, bukan?" tambahku.
Kali ini ia yang mengangguk. "Bagaimana kalau kita membuat satu di LA?" ucapnya cepat .
Aku tertawa dan menatapnya. Ia seperti takut bahwa aku akan panik mendengarnya. "Wow, wow, aku cuma bercanda."
Kukernyitkan alisku. "Aku kira kau serius."
"Huh?"
"Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku telah terlambat tiga minggu dari periode yang seharusnya?"
Kali ini ia yang membelalak saat menatapku. "Kau serius?"
Aku mengangguk perlahan. Langsung saja ia menciumiku dan tersenyum. "I love you."
"I love you too."
000
Keesokan harinya kami pamit pada Bree dan Olivier dengan drama yang dihasilkan oleh Sienna yang tak rela bila uncle Alex-nya pulang begitu cepat. Alex berjanji akan lebih sering mengunjungi mereka dan berjanji pada Sienna bahwa ia akan segera memiliki sepupu yang disambut pekikan oleh Bree saking bahagianya.
Alex masuk ke dalam kedai kopi terlebih dahulu untuk membeli segelas Green Tea Latte untukku dan Americano untuknya. Aku menunggunya di luar karena di dalam begitu ramai dengan manusia. Aku memejamkan mata sejenak. Udara di New York begitu sejuk. Matahari tak selalu mencekam seperti di LA. Sudah sangat lama aku tak mengunjungi kota ini. Kota dimana aku membangun persahabatanku. Kota dimana aku membangun karierku setapak demi setapak. Kota dimana aku menemukan cinta masa kecilku yang ternyata akan tetap menjadi cinta masa kecilku.
Mataku menangkap sosok yang pernah menjadi alasanku menjadi sangat bahagia menjadi karena bagian dari kota ini. Pria pirang dengan kulit pucatnya yang tampak baru saja keluar dari antrean food truck dengan kantung kertas cokelat di tangannya. Food truck dengan menu utama roti lapis keju kesukaanku. Sosok itu tampak sama terkejutnya denganku. Dia membeku di tempatnya. Draco Malfoy tampak tampan seperti biasanya. Aku tersenyum padanya, begitupula ia kepadaku sesaat kemudian. Aku tak tahu bahwa ia masih menyukai makanan itu bahkan setelah berpisah dariku. Dan ia berjalan kaki di trotoar New York. Kembali aku tersenyum karenanya.
"Ayo kita pulang," ujar Alex yang telah berada di sampingku tanpa sadar bahwa aku baru saja saling jatuh pandang dengan pria yang paling ia cemburui di muka bumi ini.
Kulihat ia masuk ke dalam SUV hitam yang menunggu di tepi jalan itu. Selanjutnya aku menengadah dan mengangguk pada Alex. Ia melingkarkan lengannya di pundakku dan kami berjalan menyusuri jalanan kota ini. Mungkin bersama Alex aku tak akan mendapatkan apa yang aku dapatkan saat bersama Draco, tapi aku tahu bahwa masa depanku terbentang indah dengan dia di sisiku. There's a time in everyone's life when you come to realize who you can't live without. And I clearly realize, I can't live without him. Without Alex.
000
FIN
Wow how's the the finale? Sad ending for Draco, huh? I'm sorry, I'm too much in love with Alex;;) Dan untuk yang bertanya-tanya bagaimana saya membayangkan sosok Alex, saya membayangkan John Hartnett saat bermain di Pearl Harbor dengan kacamata frame persegi panjang hitam (too old to you, huh? I'm sorry, age never lies hehe) Semua tempat yang ada disebutkan di cerita ini benar-benar ada di NYC. Silahkan datang dan kunjungin sendiri kota itu, karena indah dan menawan. That's one of my favorite city on the world. And btw, cronut in Magnolia really really mouthgasmic hehe.
I'd love to thank u for all of u guys. Thanks for read, make alerts and favorites for this story. I also wanna say thank u for all of the musicians who always accompany me to write this story. Especially for John Meyer and Sleeping At Last for ur sexy voices ha-ha. And also my man who always understanding and let me to write every chap in the middle of the night.
Dan saya ingin mengumumkan sesuatu, cerita ini adalah cerita terakhir saya. I'm officially retired from this fanfictland. Saya tak ingin menggantungkan sebuah cerita karena kesibukan saya ditambah lagi in a month my man and I are expecting our first child. Pekerjaan dan keluarga akan membuat saya sibuk sepanjang masa sepertinya. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah setia menunggu karya saya. I love you guys. I really mean it.
So leave your review guys for the last time. I love you guys (again). Keep rock and keep awesome
Eve
