"OURS"

by

Harada Kiyoshi

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Pairing: Naruto x Hinata

.

Cover Image by Angywis More Like This

.

Warning: Judul ga nyambung, Possibly OOC, terlanjur nista dan ngga jelas

.

.

.

Mozaik 4

Mentari pagi merayap melalui ranting-ranting pepohonan dan sesemakan, berusaha menyingkirkan sisa-sisa kabut malam. Pagi yang kelihatannya akan cerah, berbeda dengan gadis Hyuuga bersurai indigo ini. Pagi ini akan menjadi salah satu pagi termendung dalam hidupnya.

Ia terus berlari sekencang yang ia mampu, berusaha sampai di rumah sakit Konoha secepatnya. Sebab, baru saja ia mendengar dua orang meninggal dalam misi tingkat S yang ia ketahui diikuti oleh Naruto, Kakashi beserta empat orang anbu yang salah satunya adalah Sasuke.

Hinata membuka pintu ruangan yang sebelumnya ditunjukkan oleh salah satu perawat dengan sedikit kasar. Napasnya terengah-engah. Air mata sudah mengalir deras di pipinya.

"Kudengar—"

"Aku… aku… ba…ik-baik sa…ja, Hinata-chan," ujar seorang pria bersurai kuning cerah. Seluruh tubuhnya telah di balut perban dan darah segar baru saja mengalir saat ia membuka mulutnya. Dengan cepat Hinata berlari ke arah pria itu.

"Naruto-kun… kau tidak sedang baik-baik saja! Berhenti bersikap seolah-olah kau ini kuat di saat seperti ini!"

Naruto meraih tangan Hinata, menggenggamnya seerat yang ia bisa, mencoba meyakinkan gadis Hyuuga yang kelihatan sangat panik itu—sampai-sampai terlihat seperti bukan dirinya—bahwa ia baik-baik saja, setidaknya ia akan berusaha baik-baik saja. Ia—Uzumaki Naruto, tidak akan mati sebelum menjadi Hokage.

"Tsunade-sama, kumohon selamatkan Naruto-kun!"

"Kau harus dibius, Naruto. Ini akan sangat menyakitkan melihat kondisimu yang paling parah sedangkan kau yang masih sadar sampai detik ini. Shizune, tolong bius Naruto!" Shizune dengan cepat mengambil jarum suntik dan obat bius.

"Baa-chan, tu…tunggu seben…tar. Aku ingin ber…bicara de…dengan Hi…nata." Darah segar kembali keluar dari mulut Naruto, air mata Hinata keluar semakin deras melihat Naruto yang begitu kesakitan. Tsunade yang juga kelihatan tak tega hanya bisa mengangguk menyetujui. Kali ini ia yang akan langsung menangani Naruto, karena ia juga tak akan membiarkan Naruto mati sebelum menjadi Hokage.

"Ber…hen…ti me…menangis, Hina…ta. Kumohon. Kau me…menyakit…tiku. Per…caya pad…aku, a…ku baik-ba...ik sa…ja. Ak…ku tak ak…kan kema…na-man…na, a…aku se…selalu di…di sin…ni, di hat…timu." Ia tersenyum—Naruto tersenyum bahkan disaat jarak antara dirinya dengan maut hanya setipis selaput. Ia menghapus air mata Hinata, dan tersenyum lagi, seolah mengisyaratkan 'percayalah padaku'.

Lantas Hinata membalas senyum pujaan hatinya, ia harus percaya pada Naruto, karena satu kalipun Naruto tak pernah mengecewakannya.

"Baa…chan, bi…bius ak…ku." Naruto menggenggam tangan Hinata semakin erat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

"Hinata, Naruto akan baik-baik saja. Aku yang akan menanganinya. Percayakan padaku."

"Arigatou, Tsunade-sama."

.

.

.

"Aku menghajarnya karena dia berusaha melukai Teme, tapi dia malah menusukkan kunai ke perutku, dia juga berniat menusukkan kunai ke jantungku, syukurlah aku masih sempat melemparkan Rasenshuriken padanya. Tapi sialnya, di belakangku masih ada musuh yang satunya, dia melemparkan banyak kunai dan semuanya menancap di punggungku. Teme benar-benar payah, Hinata-chan, baru begitu saja sudah pingsan." Naruto tak henti-hentinya mengoceh tentang misi tingkat S-nya yang pertama setelah perang, sesekali ia melirik
Sasuke yang satu ruangan dengannya.

"Aku tidak pingsan, Dobe. Aku hanya pura-pura pingsan lalu menyiapkan Amaterasu, tapi sayangnya aku sudah terlalu banyak menggunakannya, jadi tidak bisa."

"Sasuke ba-ka! Kau terlalu banyak menggunakannya di apartemenmu! Kau membakar semua barang-barangmu dengan Amaterasu! Kalau saja—"

"Sialan kau, Dobe! Darimana kau tahu?" Sasuke tak tahan lagi berdiam diri dengan semua ocehan Naruto yang akan menghancurkan reputasinya sebagai shinobi ter-cool abad 21. Ia melemparkan apel ke arah Naruto yang dengan sukses di tangkap Naruto dan di makannya.

Sebaliknya, Naruto melemparkan apel ke arah Sasuke dan malah sukses ditangkap Sakura yang entah sejak kapan ada di sana. Lalu Sakura meremasnya sembari melafalkan sebuah nama yang di penggal menjadi tiga kata, menandakan kemurkaannya. "NA-RU-TO!"

Lalu Hinata menghalangi Sakura saat ingin melayangkan 'Shannaro' ke arah Naruto. "Go-gomen, Sakura-san. Ta-tapi, Naruto-kun se-sedang sakit."

Lantas Naruto tertawa lepas. Melemparkan tatapan sedikit mengejek pada pria bersurai darkblue dan gadis pink bernama Sakura di seberang sana. "Aku sedang sakit, Sakura-san, Teme-san," ujarnya dengan penekanan disetiap kata. Menyebalkan sekali Naruto ini.

Lalu mereka semua tertawa lepas. Bahkan Sasuke yang sangat amat jarang tertawa, kini tertawa begitu lepas, seperti tak ada beban dan tak ada rasa sakit yang sesungguhnya masih sangat terasa di sekujur tubuh mereka.

Cinta. Seperti itu cinta. Tak 'kan pernah hilang, tersimpan di sini, di dalam hati, tetap abadi sekalipun sosok itu adalah seseorang yang sebelumnya di cap sebagai ninja buronan dan penghianat desa, sekalipun sosok itu adalah seorang gadis garang yang selalu memukulmu hingga babak belur, sekalipun sosok itu adalah seorang bodoh dan keras kepala, sekalipun sosok itu adalah seorang pemalu yang kerap kali bertingkah aneh. Tetapi masing-masing dari mereka mulai menyadari, itu cinta tak peduli seperti apa sosok yang ia sebut 'cinta' itu.

.

.

.

Mozaik 5

Nyanyian angin musim semi menghembus konstan sejalan dengan derap langkah bersemangat pria bersurai kuning cerah itu, sesekali mengibarkan jubah kebanggaannya yang berwarna merah dengan motif api berwarna hitam di bagian bawahnya. Manik safir-nya terlihat lebih cerah dari biasanya.

Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk lengkungan senyum kebahagiaan saat manik safir-nya menangkap sosok 'nenek' yang telah tiba lebih dulu di tempat yang saat ini menurutnya merupakan tempat yang 'sakral'. Ia juga menemukan semua teman-temannya di sana, tanpa Neji tentunya yang telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi dirinya dan Hinata.

Ah, iya, Hinata—gadis itu telah sukses membuat tidur Naruto tak tenang tadi malam.

Ia melirik ke arah Hinata, lalu melemparkan senyum termanisnya pada gadis Hyuuga itu. Bukannya mendapat balasan, gadis Hyuuga itu malah membuang muka ke sembarang arah dengan maksud menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.

Manik safir-nya juga menangkap ada beberapa ada beberapa orang jonin yang ia kenal di sana, seperti Kakashi dengan tampang tak berwibawanya, Guy dengan semangat masa muda di usianya yang tak muda lagi, Kurenai yang terlihat tengah menggendong bayi, dan banyak lagi. Juga ada tiga orang anbu tanpa topeng—Yamato, Sasuke dan Sai—dan sekitar lima orang anbu bertopeng.

"Minna!" Ia melambaikan tangannya, tak lupa cengiran lima jari kebanggaannya menghiasi wajahnya.

Seorang bocah laki-laki dengan syal biru sedikit tua melilit lehernya berlari ke arahnya, lalu memeluknya, raut bahagia dan haru tergambar jelas di wajahnya.

"Nii-chan! Kau telah menjadi Hokage sekarang. Kau curang! Kau menjadi Hokage keenam tanpa bertarung denganku. Bukankah kau bilang kita akan bertarung sebagai rival untuk memperebutkan posisi Hokage? Naruto nii-chan curang!" Bocah yang kelihatan sedikit bertambah tinggi itu berteriak meluapkan emosinya, ia menangis haru melihat kakak, sekaligus guru, sekaligus rival-nya yang sekarang telah mendapatkan apa yang selama ini ia cita-citakan.

Hokage. Ia akan segera menjadi Hokage keenam. Hokage keenam!

"Maafkan aku, Konohamaru. Baa-chan yang memintaku, aku tak mungkin menolak, kan? Kalaupun kau bertarung denganku, kau akan tetap kalah karena aku lebih kuat darimu. Aku berjanji kau akan jadi yang ketujuh dan aku akan mengajarkan jutsu-jutsu hebat yang kupunya sebagai bekalmu menjadi Hokage nanti. Oke?" Naruto tersenyum sembari mengusap rambut cokelat tua jabrik milik Konohamaru. "Yokay, nii-chan!"

Naruto menghampiri Tsunade yang langsung memasangkan topi Hokage dengan tulisan 'api' di bagian depan yang sebelumnya menjadi miliknya itu ke kepala kuning Naruto. "Sankyuu, Baa-chan- ttebayo!"

Ia menghapus beberapa tetes air mata yang keluar tanpa seizinnya, lalu tersenyum dan berteriak lantang, "sebagai Hokage keenam, aku akan melanjutkan tekat api Tsunade Baa-chan!"

Riuh rendah suara tepuk tangan disertai sorakan-sorakan di bawah sana menyambut 'tekat api' Naruto sebagai Hokage keenam.

Saat ini semua orang tengah bergembira, terlebih Naruto yang berhasil meraih cita-citanya dan Tsunade yang telah berhasil bebas dari jabatan Hokage. Sebenarnya setelah perang berakhir, Tsunade berniat untuk menyerahkan jabatannya pada Naruto, tetapi sayang niatan itu tidak di setujui para tetua yang sialnya—bagi Tsunade—masih hidup bahkan setelah perang berakhir, dengan alasan Naruto masih terlalu muda. Tsunade terpaksa harus menunggu beberapa tahun lagi, hingga usia Naruto genap 20 tahun.

"Ah, iya, Hinata-chan.."

Naruto memutar badan, menghadap Hinata yang kini berjarak sekitar lima meter darinya. Raut berserinya kini berubah menjadi serius.

"Na-nani, Naruto-kun?"

Suara lembut itu... Demi Tuhan, Naruto tak bisa menahan diri untuk tak memeluk sosok bersurai indigo itu. Menggemaskan sekali kau, Hyuuga.

Ia memang berencana untuk memeluk Hinata, tetapi tidak sekarang tentunya, karena ia tak ingin Hinata pingsan dengan wajah semerah tomat di hadapan begitu banyak orang.

"A-aku— Aku— Eto—"

Oke. Ini akan sedikit—

"Mendokusai," komentar Shikamaru.

Benar sekali, mendokusai. Karena sekarang giliran Naruto yang berbicara gagap.

"Eto…"

"Aku lapar. Jaa, Naruto." Choji beranjak pergi.

"A-aku…"

"Aku duluan, ya! Aku ada jadwal berburu dengan Akamaru." Kiba menaiki Akamaru, menyusul Choji.

"Eto… Aku— Hinata…"

"Guy-sensei! Kumohon latih aku supaya aku bisa mengalahkan Hokage keenam!" Giliran Lee dan Guy sekarang.

"A-aku— aku— maukah…"

"Aku merindukan icha-icha. Jaa, Naruto!" Oke, sekarang giliran Kakashi.

"Hinata… ma-maukah…"

"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita akan pulang." Kurenai mencoba menenangkan bayinya yang mulai menangis.

"Maukah Hinata-chan menjadi istriku?"

Blush!


Hinata memerah seketika.

Brukk!

Lee menabrak Guy yang berjalan di depannya karena Guy mendadak berhenti.

Kakashi, Choji dan Kiba secara bersamaan menghentikan langkahnya.

Suasana menjadi aneh. Sakura dan Sasuke beradu pandang, begitu juga dengan ninja-ninja lain yang berdiri berdekatan. Tak hanya beradu pandang, beberapa dari mereka juga beradu kunai untuk memastikan ini nyata atau tidak, atau genjutsu yang Naruto ciptakan.

Lalu secara tiba-tiba Sasuke—

"Ametarasu!"

"Hyaaa~ Baka teme-ttebayo! Sialan! Brengsek! Kau mau membunuhku?! Hilangkan ini! Hilangkan-ttebayo!"

Dengan cepat, Sasuke memadamkan api hitam itu. "Benar-benar nyata," gumamnya.

Hening.

Hinata menatap Naruto intens, mencoba mencari kebohongan dari ucapan Naruto barusan.

Tidak, ia tidak menemukan kebohongan. Naruto mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tahu, Naruto tulus. Ia tahu Naruto juga mencintainya, tetapi demi langit dan bumi, ia tak pernah sekalipun memikirkan hal yang selalu ada dalam fatamorgana pikirannya menjadi kenyataan.

Hinata tak pingsan, ia hanya membeku di tempat.

"Naruto-kun…" Ia mulai menangis. Ini— ini benar-benar nyata, ia tak sedang mengigau.

Lalu ia berlari, menuju Naruto, menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat pemuda yang sejak kecil ia kagumi itu.

"Ini nyata. Aku tahu ini nyata." Hinata berujar sambil terisak.

Naruto menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Hinata, dan membelai surai indigo itu. Menenangkannya dari kondisi hati yang pasti tengah bercampur aduk.

"A-arigatouHontou ni arigatou gozaimasu, Naruto-kun. Aishiteru…"

"Aishiteru mo, Hinata-chan…"

Angin musim semi kembali berembus, membelai setiap inci wajah siapa saja yang di laluinya. Di bawah sana, kembali terdengar suara tepuk tangan dan sorakan-sorakan dari warga desa. Semakin lengkap kebahagiaan mereka hari ini, tak hanya mempunyai Hokage baru, sekarang mereka juga mempunyai nyonya Hokage.

Musim semi yang sempurna, saat beribu-ribu kuntum bunga bermekaran memenuhi hati mereka. Ini cinta.. cinta yang sesungguhnya.

Kami-sama, terimakasih telah menjawab semua doaku…

.

.

.

Mozaik 6

Harusnya ini menjadi hari terbaiknya sepanjang masa. Harusnya hari ini ia menjadi satu-satunya pria paling berbahagia. Harusnya hari ini ia mentraktir semua teman seangkatannya di Ichiraku atau Yakiniku. Harusnya. Harusnya. Harusnya. Harusnya.

Harusnya itu semua yang akan terjadi hari ini, kalau saja Sakura—ninja medis nomor wahid yang sedang mengandung anak keduanya—tidak menambahkan satu berita buruk di belakang berita bahagia. Kalau saja...

"…to? Naruto?" Wanita bersurai merah muda itu kembali bersuara setelah menyadari rekan satu timnya telah tenggelam dalam lamunan.

"I-iya, Sakura-chan. Aku mengerti-ttebayo. Aku sudah tahu banyak sebenarnya. Beberapa waktu lalu Kurenai-sensei banyak menceritakan tentang Hinata padaku."

"Baguslah kalau seperti itu. Kau hanya perlu menjaga kondisi Hinata, kan? Kupikir itu bukan sesuatu yang sulit bagi seorang Hokage sepertimu yang sanggup menjaga 'ikatan'-mu dengan Sasuke, bahkan saat Sasuke nyaris dicap sebagai buronan tingkat internasional." Wanita itu setengah tertawa, mencoba menghibur rekan satu timnya yang kelihatan tengah memikirkan kondisi istrinya yang memasuki zona 'waspada'.

"Tentu saja-ttebayo! Aku akan menjaga Hinata dan calon anak kami." Sepertinya semangat masa muda prria bersurai kuning cerah itu telah kembali.

"Jadi, Sakura-chan, kenapa Hinata belum sadar juga sampai sekarang?" Ia melirik istrinya yang tengah terbaring tak sadarkan diri, raut khawatir masih jelas tergambar di wajahnya.

"Ah, i-itu—"

Ucapan Sakura terpotong oleh satu suara lembut 'Naruto-kun' yang tentu saja berasal dari Hinata.

Lantas si empunya nama langsung mengalihkan pandangan ke arah istri tercintanya. Sembari tersenyum lembut, ia meraih jemari tangan istrinya yang terasa dingin berbarengan dengan meluncurnya satu pertanyaan bernada khawatir yang langsung dijawab dengan anggukan
meyakinkan dari istrinya.

"Hanya sedikit pusing, Naruto-kun."

Menghembuskan napas lega, ia kembali tersenyum, sedikit menunjukkan cengiran. "Kau membuatku khawatir setengah mati, Hinata.."

Sakura yang mulai merasakan atmosfer percakapan suami-istri memutuskan untuk permisi kembali ke ruangannya setelah menerima ucapan 'arigatou' dari Hinata yang baru menyadari kehadiran Sakura.

"I-itu Sakura-san? A-aku… aku di rumah sakit? Ke-kenapa aku di sini?" Manik lavender pucat itu menjelajahi seisi ruangan, jelas sekali ini bukan salah satu ruangan di kediaman Hyuuga ataupun kantor Hokage.

"Iya, Hinata. Tadi kau pingsan dan aku langsung membawamu ke sini. Syukurlah kau dan calon anak kita baik-baik saja."

"Ca-calon anak kita?"

Naruto hanya menjawab dengan 'ya' kecil diiringi cengiran lebar yang menandakan betapa bahagianya dirinya saat ini.

"Hontou ni, Naruto-kun? Hontou ni? Aku... aku sedang mengandung anak kita? Aku akan menjadi ibu. A-aku— aku akan segera menjadi ibu, Naruto-kun! Menjadi ibu!"

Hinata langsung bangkit dari posisi tidurnya dan memeluk suaminya. "Aku akan menjadi ibu, Naruto-kun. Aku senang sekali. Terimakasih. Terimakasih banyak, Naruto-kun."

Naruto menghapus air mata yang begitu saja keluar dari sudut mata istrinya. Ia tahu, tahu betul bahwa menjadi seorang ibu adalah impian tersuci istrinya. "Tidak, Hinata. Harusnya aku yang mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih telah menjadikanku seorang ayah. Terimakasih, Hinata."

"Ki-kita harus segera pulang, Naruto-kun. Kita.. kita harus memberitahu Tou-san kalau aku sedang mengandung cucu Tou-san."

Naruto lagi-lagi tersenyum. Menggemaskan sekali Hinata ini kalau tengah gembira seperti ini. "Kau lupa? Hiashi-sama sedang ada misi ke luar desa."

"Ah, iya. Aku terlalu senang sampai-sampai aku lupa kalau Tou-san sedang ada misi."

"Aku tahu kau senang, Hinata.." Naruto membelai surai indigo milik istrinya sambil memikirkan betapa bahagianya keluarga kecilnya jika di tambah seorang anak. Ia harus pandai-pandai membagi waktu untuk pekerjaan, istri dan anaknya. Ia juga tak boleh lupa untuk mengajarkan semua jutsu yang ia kuasai pada anaknya. Ia juga akan meminta Hinata mengajarkan jutsu-jutsu klan Hyuuga pada anak mereka. Pasti anak mereka nantinya akan menjadi lebih kuat dari orang tuanya, perpaduan sempurna antara Uzumaki-Namikaze dan Hyuuga.

Naruto terbangun dari imajinasinya saat ucapan Sakura tadi terputar kembali dalam otaknya. Hinata yang menyadari adanya perubahan dari raut sang Hokage tak tinggal diam.

"Ada apa, Naruto-kun?"

Yang ditanya langsung menggeleng cepat, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang mulai menyerbu otaknya. "Ti-tidak ada apa-apa. Hinata, mau berjanji sesuatu padaku?"

"Nani, Naruto-kun?"

"Berjanjilah nanti kita akan membesarkan anak kita bersama-sama."

"Te-tentu saja, Naruto-kun!" Ujarnya bersemangat.

Sedetik kemudian ia mulai menyadari sesuatu, sesuatu yang mungkin saja terjadi. "Ta-tapi, Naruto-kun," sambungnya, "kalau aku tak bisa, bagaimana?"

Naruto mendadak murung. Bagaimana? Hinata bertanya bagaimana? Memangnya ia harus bagaimana kalau tak ada Hinata yang sesungguhnya adalah separuh nyawanya?

"Kalau kau tak bisa—"

"Naruto-kun tak perlu khawatir," potong Hinata, "aku akan menunggu Naruto-kun datang membawa ramen dan kita akan makan bersama."

Naruto tahu Hinata menyadari ke arah mana ucapan mereka, terlebih Hinata lebih mengetahui dirinya sendiri dibanding orang lain.

Lantas ia kembali tersenyum, menenggelamkan istri tercintanya dalam pelukannya, membisikkan satu kalimat yang selalu sukses membuat pipi putih susu itu merona hebat.

"Aku mencintaimu, Hinata…"

To be continue

.

.

.

Big Thanks to:

utsukushi hana-chan, uzumakimahendra4, KandaNHL-desu, Bunshin Anugrah ET dan semua yang telah membaca first chapter. Here is the second, mind to review?

Oh iya, maaf kalau kurang rapi. Updet dari handphone soalnya. Gomenasai :') dan review saya balas via PM, ya =)