"OURS"
by
Harada Kiyoshi
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Pairing: Naruto x Hinata
.
Cover Image by Angywis More Like This
.
Warning: Judul ga nyambung, Typo(s), Possibly OOC, terlanjur nista dan ngga jelas
.
.
.
Mozaik 7
"Kau tak lelah, Hime?" Pria bersurai kuning cerah dengan jubah kebanggaannya yang berkibar-kibar tertiup angin menghentikan langkahnya, menatap istrinya yang terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya.
"Tidak. Kau yang sudah kelelahan, Hokage-sama," jawabnya tanpa melihat sang suami yang tertinggal di belakang. Bersemangat sekali ibu hamil yang satu ini.
"Hah? Aku tak lelah-ttebayo! Aku hanya sedikit lelah melihat kau terus berjalan dengan perut yang besar itu, Hime. Memangnya benar kau tak lelah sama sekali?" Ia kembali bertanya dan hanya ditanggapi dengan gelengan dari sang istri. Sekarang ia telah mampu mengimbangi langkah istrinya.
"Woah~ Hinata! Perutmu besar sekali. Boleh aku memegangnya?" Suara setengah berteriak itu berasal dari Sakura yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Hinata hanya menjawabnya dengan anggukan bersemangat tanda mengizinkan.
"Sepertinya dugaanku benar kalau anakmu akan kembar, Hinata," ujar Sakura sembari terus mengelus-elus perut besar Hinata.
"Ke-kembar? Yang benar, Sakura-chan?" sambung si calon ayah.
"Memangnya Hinata tak memberitahumu? Aku hanya menduga, soalnya perut Hinata ini kelihatannya lebih besar dari perut ibu hamil lainnya. Bukankah seperti itu, Sasuke-kun?"
Sakura mengalihkan pandangan ke arah pria berpakaian anbu bersurai dark-blue model chicken butt yang tengah menggendong anak kecil yang terlihat seperti versi mini dirinya.
"Hn."
"Hn? Apa maksud 'hn'-mu itu, Teme?"
"Jangan berteriak, Dobe! Kau membuat Itachi kaget. Baka!"
"I-Itachi?" ujar Hinata dan Naruto bersamaan.
"Memangnya kenapa?" balas Sasuke lengkap dengan deathglare paling mematikan.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa. Nama yang bagus." Naruto memamerkan cengiran lima jari kebanggaannya pada sahabat sekaligus rival-nya yang masih saja menyebalkan itu.
Bagaimana dengan Sasuke? Tentu Sasuke lebih memilih buang muka ke sembarang arah karena sudah muak dengan cengiran yang selalu ia terima tiap kali memberikan laporan rutin anbu pada Hokage bersurai kuning cerah itu.
"A-ano... ano... Sakura-san, me-melahirkan itu sa-sakit atau tidak?" tanya Hinata, semburat merah sedikit terlihat di pipinya. Malu, eh?
"Tidak kok, Hinata." Sakura tersenyum lebar, setengah tertawa.
Hinata terlihat mengembuskan napas lega, Naruto yang menyadari hal itu langsung—
"Ada apa, Hime-ttebayo?"
Hinata menggeleng cepat, "Na-nande mo nai, Naruto-kun. Ayo kita ke Ichiraku! Aku sedang ingin makan ramen. Jaa, Sakura-san, Sasuke-san, Itachi-san."
"Jaa, baka teme!"
Sakura berniat menyemburkan kata-kata kasar pada Naruto dan menghadiahkannya satu tonjokan, tetapi syukurlah Sasuke langsung menyadarkan Sakura kalau di sini ada anak kecil yang tak boleh mendengar kata-kata kasar dan melihat adegan kekerasan.
"Hime-ttebayo..."
"Ya, Naruto-kun?"
"Kalau anak kita sudah lahir nanti, aku akan menceritakan padanya kalau ibu dan ayahnya adalah ninja yang sangat hebat. Aku juga akan menceritakan padanya kalau ibunya pernah mencoba menyelamatkan ayahnya dari ninja rank S yang menyerang desa. Bagaimana kalau kuceritakan juga kalau pipi ibunya selalu memerah saat bertemu ayahnya bahkan sampai pingsan? Aku tak sabar, Hime. Aku ingin menceritakan semuanya pada anak kita…"
Dan bla bla bla bla… Naruto terus memperpanjang ocehannya yang hanya dijawab Hinata dengan anggukan, senyuman, tertawa dan gelengan. Ia yakin, kalaupun Naruto atau dirinya tak menceritakan semuanya pada anak mereka, akan ada banyak shinobi dan warga desa yang akan memberitahu anak mereka bahwa orang tua mereka adalah ninja hebat. Sebab semua orang telah mengetahui bagaimana hebatnya seorang Hyuuga Hinata dan Uzumaki Naruto.
.
.
.
Mozaik 8
"Sekarang coba tenang dan ceritaka—"
"Kau pikir aku bisa tenang saat nyawa istri dan calon anakku sedang terancam?!"
"Ma-maafkan aku, Hokage-sama. Aku tak ber—"
"Di mana Sakura? A-atau Tsunade baa-chan— di mana Tsunade baa-chan?"
Pria bersurai kuning itu tentu akan semakin tidak karuan dan terus memaki suster yang sedang bersamanya kalau saja Sakura, di susul Shizune tidak segera menghampirinya.
"Sakura, kumohon selamatkan istriku. A-aku tidak mengerti, tadi aku meninggalkan Hinata sebentar di ruangan Hokage untuk menemui Teme, maksudku Sasuke, karena aku ada keperluan dengannya. Lalu saat aku kembali Hinata tergeletak di lantai dengan dua shuriken menancap di lengan kirinya—"
"Racun! tidak salah lagi, itu pasti racun!"
Sakura bergegas menuju ruangan Hinata. Dengan hanya melihat kondisi Hinata, ia tahu seberapa parah racun yang sekarang mengalir dalam darah Hinata. Tanpa banyak bicara ia segera mengambil darah Hinata untuk di teliti racun macam apa dan membuat penawarnya, dibantu Shizune karena Tsunade tengah ada misi ke luar desa.
Tak memakan waktu lama, Sakura kembali ke ruangan Hinata. Bertahun-tahun menghabiskan waktu dalam satu tim membuat Naruto paham betul situasi sulit macam apa yang tengah dihadapi Sakura. Ia tahu, tanpa perlu Sakura atau Shizune katakan, bahwa istri dan calon anaknya tengah berhadapan dengan maut.
"Wakatta. Kumohon lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anakku."
Sakura hanya mengangguk, seolah mengisyaratkan 'aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu'.
"Kumohon izinkan aku tetap di sini, aku tak 'kan mengganggu, aku hanya ingin menemani Hinata."
Kali ini Sakura hanya menjawab dengan senyum simpul, tanda mengizinkan.
Ritual dimulai. Sakura membuat semacam balon udara di tangannya—yang tentu saja adalah penawar racun—persis seperti saat menyembuhkan Kankurou dari Sunagakure.
"Aneh," gumam Sakura yang langsung di tanggapi oleh Shizune dan Naruto. "Ada apa?"
"Aku tidak merasakan racun dibagian perut Hinata, padahal aku yakin racun itu sudah menyebar ke hampir seluruh tubuh Hinata. Racun ini mirip dengan racun yang digunakan Sasori untuk melumpuhkan Kankuro, tetapi sedikit lebih kuat dan bisa membunuh—"
"Tidak, jangan dilanjutkan, kumohon, Sakura. Aku tahu Hinata mempunyai kemampuan semacam memusatkan chakra, mungkin dia menggunakan itu untuk melindungi calon anak kami."
Sakura tersenyum kagum pada calon ibu di hadapannya. "Kalau begitu aku akan mengangkat racunnya dan menyelamatkan anakmu, karena aku yakin, chakra itu tidak akan bertahan lama dengan kondisi Hinata yang seperti ini. Untuk Hinata, aku akan melakukan yang terbaik."
.
.
"Ga-gawat! Shizune-senpai! Ini gawat!" teriakan Sakura langsung membuat Shizune tersadar dari lamunannya dan Naruto yang tadinya sibuk memandangi bayi kembar prematurnya di kotak kaca berlari ke arahnya.
"Ra-racunnya! Aku yakin aku telah mengeluarkan sebagian besar racunnya. Hanya tinggal sedikit dan bisa hilang dengan meminum ramuan yang kubuat. Ta-tapi—"
"Aku mengerti," potong Shizune, "aku akan membantumu mengeluarkan racun-racun itu kembali, kita akan melakukannya bersama-sama, Sakura."
Sakura hanya mengangguk lemas, ia mendapat firasat buruk, begitu juga Shizune, kemungkinan terburuk yang pernah ia pikirkan.
Sakura kembali melakukan ritual yang sama dengan sebelumnya, bedanya saat ini dibantu Shizune dan Hinata tak lagi tengah mengandung.
Setengah jam berlalu, Sakura mulai terduduk lemas di lantai, air mata menggenangi pelupuk matanya dan membuat Naruto semakin tidak karuan. "Shi-Shizune-senpai, kumohon katakan yang aku rasakan itu salah. Kumohon…"
"Sa-Sakura?" Naruto membeku di tempat, ia sama sekali tak pernah berpikir sesuatu diluar dugaan seperti ini akan menimpa jika Naruto berpikir dunia akan baik-baik saja setelah perang berakhir. Ia mulai mengutuki diri, harusnya saat itu ia tetap di ruangan hokage bersama istrinya, harusnya ia tidak keluar, harusnya… harusnya…
"Racunnya… sama sekali tidak berkurang," ujar Shizune membuat air mata Sakura semakin deras dan air mata Naruto mulai meluncur mulus dari pelupuk matanya.
Sakura bangkit, ia kembali membuat balon udara di tangannya, memasukkannya ke tubuh Hinata, menarik racunnya keluar, dan terus melakukan hal itu dengan gerakan yang jauh lebih cepat, seolah-olah tak memberi jeda untuk racun itu membelah diri. Ya, firasat buruknya yang menjadi kenyataan, racun yang mampu membelah diri dengan cepat.
"Pergi dari tubuh Hinata, kumohon pergi. Pergi. Berhenti menyakiti Hinata. Kumohon…"
Sakura rubuh. Ia tak lagi bisa menopang berat badannya. Ia tak hanya gagal menyelamatkan pasiennya, tetapi juga gagal menyelamatkan temannya, teman baiknya.
"Ma-maafkan aku, Naruto, maafkan aku…"
Naruto, pria bersurai kuning itu tak menjawab. Demi Tuhan, ia tak pernah menyalahkan Sakura atas peristiwa ini yang sepenuhnya adalah kesalahannya. Harusnya ia tetap berada di samping istrinya saat itu, harusnya…
Ia melangkah maju, menuju istrinya.
"Hinata…" ia berbisik di telinga istrinya, suaranya terdengar parau, tangannya bergetar saat ingin menyentuh tangan milik istrinya. Ia takut, demi Tuhan, ia takut merasakan tangan dingin istrinya yang lebih mengerikan dari musim dingin tanpa sehelai benangpun melekat di badan.
"Hinata…" sekali lagi ia menggumamkan nama itu, berharap si empunya nama membuka matanya dan menunjukkan senyum berbarengan dengan munculnya semburat merah yang menambah kesan 'manis' pada dirinya, lalu menghapus air mata pria bersurai kuning itu sembari membisikkan, "Naruto-kun, bangunlah… Mengapa kau menangis? Apa kau bermimpi buruk lagi?"
Nuraninya tersadar. Ia harus menerima kenyataan bahwa ini nyata, bukan mimpi maupun ilusi. Ia harus menerima kenyataan, walau nuraninya tersakiti, ia tak ingin menjadi semengerikan Obito yang tak bisa menerima kenyataan bahwa di dunia ini tak ada satupun yang abadi—
—dan Naruto, ia bisa menerima itu semua.
"Hinata, sejujurnya ini sangat menyakitkan, jauh lebih menyakitkan dari puluhan kunai yang menancap di punggungku saat menyelamatkan Teme. Dari awal aku sudah waspada karena Sakura bilang kandunganmu lemah, tapi diluar dugaan kau terlihat nyaman-nyaman saja dengan kandunganmu. Kau kelihatan bahagia sekali saat Sakura mengatakan kemungkinan besar anak kita kembar. Lihat, Hinata, dugaan Sakura benar, bayi kita kembar dan terlihat sehat walaupun lahir prematur. Aku penasaran apa yang akan kau lakukan saat mengetahui bayi kita tidak sedikitpun mewarisi ciri fisikmu. Lihat, rambut anak kita kuning sepertiku. Bola mata mereka juga sama sepertiku—biru. Aku senang walaupun sebenarnya aku berharap salah satu diantara mereka mewarisi Byakuugan milik Hyuuga. Ah, iya, mereka kembar tetapi kelaminnya berbeda. Aku berharap mereka berdua mewarisi sifat ibunya yang sangat baik, bukan ayahnya yang bodoh dan ceroboh."
Ia terdiam. Pandangannya benar-benar telah kabur terhalangi air mata yang keluar semakin deras—tanpa jeda, seperti hujan di luar sana yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
Lihat, Hyuuga, bahkan alam ikut menangisi kepergianmu.
"Hinata, aku tahu selama aku hidup, aku sudah terlalu sering egois, tetapi kali ini— kali ini aku tidak akan membiarkan wanita terhebat setelah ibuku terus tersika. Aku tak akan memaksamu jika kau memang tak sanggup lagi melawan racun-racun itu. Aku tahu kau mempunyai kemampuan memusatkan chakra. Jika kau ingin, harusnya kau bisa saja melindungi dirimu dan bayi kita. Entahlah, tetapi aku berpikir kau tahu kalau racun itu sangat mengerikan, jadi kau menggunakan seluruh chakramu untuk melindungi bayi kita. Begitu, kan? Arigatou, Hime, hontou ni arigatou…"
Jeda.
"Hime, pergilah dengan tenang. Aku tahu kau merasa senang karena telah berhasil melindungi anak kita. Arigatou…"
Detik itu pula monitor di ruangan itu menunjukkan flat liner disertai suara konstan yang terdengar begitu menyakitkan.
Ruangan serba putih itu diselimuti rasa berkabung. Mereka semua—entah sejak kapan—ada di sana untuk menguatkan pria bersurai kuning yang banyak berpengaruh dalam berakhirnya perang dunia Shinobi. Mereka semua ada di sana untuk memberikan penghormatan terakhir mereka pada putri bangsawan Hyuuga yang juga merupakan teman baik mereka di akademi dulu.
.
.
.
"Hokage-sa—"
"Panggil aku Naruto."
Pria bersurai kuning yang tadinya tengah sibuk memandangi bayi kembarnya yang tertidur mengalihkan atensinya pada pria berpakaian anbu lengkap dengan topeng yang menutupi wajahnya. Ia tahu itu teman baik sekaligus rival-nya, si bungsu Uchiha.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Kami telah menemuka pela—"
"Hukum sesuka hatimu. Aku tak bisa memikirkan hukuman apa yang pantas."
"Tapi—"
Untuk kesekian kalinya pria itu—Naruto memotong ucapan anbu di hadapannya. Siapapun tahu, ia masih berduka.
"Ini perintah. Lakukan!"
"Hai. Wakarimashita."
Sudah pergi. Naruto mengembuskan napas lega. Ternyata ia salah kalau berpikir semua akan baik-baik saja setelah perang berakhir. Setidaknya orang brengsek macam itu sudah tertangkap dan tidak sedang berkeliaran.
"Kau senang, Hime? Semoga kau tenang di sana. Aku tak sabar ingin bertemu denganmu di dunia yang abadi. Tetapi aku juga tidak berharap secepatnya. Aku tak ingin anak kita merasakan apa yang aku alami saat masih kecil—tanpa orang tua. Kupikir kau juga tidak ingin. Jadi bersabarlah sedikit…"
.
.
.
Mozaik 9
Matahari sudah menggantung rendah di langit barat. Ah, lembayung senja yang indah bagi siapa saja yang melihat, tak terkecuali pria bersurai kuning cerah ini yang merasakan keindahan itu nyaris sempurna.
Ia tertawa lepas saat melihat gadis kecilnya berlari mengejar teman sebayanya yang tak lain adalah Itachi—si bungsu Uchiha yang juga merupakan temannya di akademi.
"Dobe payah! Kau tak akan bisa menangkapku!" teriak anak laki-laki yang telah berlari jauh di depan gadis kecil bersurai kuning panjang terurai.
Merasa telah diremehkan dengan panggilan 'dobe', ia semakin menambah kecepatannya. "Teme! Berhenti memanggilku Dobe!"
Ah, tunggu. Dobe? Teme? Apa itu semacam panggilan yang diwariskan dari orang tua mereka?
Ternyata jawabannya tidak. Itachi memberikan panggilan 'dobe' pada gadis kecil itu karena ia selalu bertingkah aneh di akademi, berbeda dengan saudara kembarnya. Sementara si dobe memanggil Itachi dengan panggilan 'teme'karena Itachi selalu mengejeknya di akademi. Mungkin karena tingkah anehnya, Itachi jadi senang mengejeknya. Tetapi, walaupun begitu, Itachi pernah benar-benar marah saat teman sekelas mereka mengejek Hinata sampai Hinata menangis.
"Neji, kau tidak ingin bermain kejar-kejaran dengan mereka?" Naruto sedikit memiringkan kepalanya, melihat jagoan ciliknya yang kelihatan nyaman sekali digendong belakang oleh ayahnya.
Yang ditanya hanya menggeleng. "Hinata dan Itachi terlalu aktif, aku lelah mengikuti mereka," tambahnya.
Naruto tersenyum. Hinata gadis ciliknya memang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan Hinata istrinya. Sementara Neji jagoan ciliknya memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan Neji yang itu.
"Tou-san!"
Itu suara Itachi.
"Tou-chan!"
Itu suara Hinata.
Tidak, mereka tidak sedang bepergian dengan Sasuke. Itachi memanggil Naruto dengan sebutan 'Tou-san' dan Hinata memanggil Sasuke dengan sebutan 'Tou-chan', begitu juga Neji. Semacam imbalan yang harus mereka terima karena anak mereka telah berteman sejak masih sangat kecil.
Jika Hinata atau Neji memanggil Naruto dengan sebutan 'ayah', Itachi juga akan melakukan hal yang sama, dan sebaliknya. Sakura juga kena imbasnya, ia harus menerima panggilan 'ibu' dari anak mantan rekan setimnya. Indah sekali, bukan?
"Nee, Tou-chan! Lihat! Kaa-chan sudah menunggu kita! Kaa-chan memakai gaun pengantin, cantik sekali!" teriak Hinata lagi dan disambut teriakan nyaring dari Itachi. "Benar, Tou-san! Kaa-san sudah menunggu! Cepat!"
Ah, begini. Hinata yang ini memang tidak punya Byakuugan, tetapi ia mempunyai kemampuan melihat makhluk selain manusia, sedangkan Itachi hanya ikut-ikutan Hinata saja karena Itachi tahu Hinata bisa melihat hal semacam itu.
"Oh, benarkah?" balas Naruto berteriak, "Kalau begitu sampaikan pada Kaa-chan, Tou-chan merindukan Kaa-chan!"
"Hai!" teriak Hinata dan Itachi berbarengan.
Selang beberapa detik, Hinata dan Itachi berbalik badan, lalu berteriak lagi seperti anak kecil kelebihan hormon. "Kaa-chan juga merindukan Tou-chan! Cepat ke sini Tou-chan! Lari!"
Naruto hanya tertawa kecil menanggapi teriakan Hinata barusan, ia tahu Hinata benar-benar bertemu ibunya di sana—di pintu masuk makam ibunya.
Neji yang mendengar teriakan antusias saudara kembarnya, langsung turun dari gendongan ayahnya dan berlari menuju Hinata, tak sabar ingin bertemu ibu mereka yang kata Hinata memakai gaun pengantin yang cantik.
Ah, Hime, kau di sana? Aku tidak membawa dua mangkuk ramen, maaf. Tapi lihat apa yang kubawa sekarang, dua malaikat kecil kita dan pengawal pribadi mereka. Kau merindukan mereka, kan? Aku merindukanmu, Hime, sangat…
~owari~
.
.
.
A/N:
Here is the last chapter. Aku minta maaf kalo ending-nya mengecewakan. Mohon review-nya ya reader-sama dan review saya balas via PM. Terimakasih
Big Thanks to:
utsukushi hana-chan, uzumakimahendra4, KandaNHL-desu, Bunshin Anugrah ET, , Cicikun, Zombie-NHL, joharifalls, Ninja DxD, Guest, tian, Namikaze Yuli, ranggagian67
Sekali lagi, review saya balas via PM, jadi mohon di cek PM-nya ya. Terimakasih =)
