Fragmen
Gundam Seed/Destiny belongs to its owner: SUNRISE, BANDAI, and its creators
No material profit taken from this.
T
Warning: OOC, Two Shots, AU, typo(s), a little dark-fic, barang (cerita?) pecah belah (?) etc
.
Chapter 2
Hope you enjoy!
.
#6 Club Activity
"Ayah, boleh aku ikut sepak bola di sekolah?" tanya Kira takut-takut saat menghampiri ayahnya di ruang kerja.
"Tentu. Sepak bola baik untukmu. Kau tidak perlu minta izin." Ulen membalas tanpa melihat, sibuk dengan berbagai dokumen yang ia bolak-balik di tangannya.
Kira bersorak, tidak menyangka akan semudah ini. "Keren! Terima kasih, Ayah! Aku selesai pukul lima setiap hari Rabu. Ayah akan menjemputku? Aku bisa pulang sendiri, sebenarnya," timpalnya cepat-cepat.
Yang ini berhasil membuat Ulen menurunkan kacamatanya dan menatap putranya lekat-lekat. "Pukul lima? Tunggu, ini bukan termasuk mata pelajaran sekolah?"
Senyum di wajah muda itu menghilang. "Bukan. Ini kegiatan klub sekolah."
Ulen memakai kacamatanya lagi. "Tidak. Aku tidak bisa selalu datang menontonmu hari Rabu."
"Ayah tidak perlu. Datang saja kalau ada pertandingan." Kira mencoba lagi.
Pria itu mengambil tumpukan dokumen baru. "Tidak."
"Tapi—"
"Tidak."
.
#7 Schooltrip
"Minum sudah dibawa?"
"Sudah."
"Ayah sudah bawakan tiga botol ekstra di—"
"Ayah, keluarkan! Aku bisa beli di sana kalau habis!"
"Tidak, anak muda. Tidak ada jaminan di sana tempat yang menjual minum selalu ada. Pakaianmu sudah?"
"Sudah."
"Ayah juga sudah masukkan satu jaket cadangan dan selimut untuk jaga-jaga"
Tidak ada balasan.
"Makanan sudah? Camilanmu?"
"Sudah."
"Ada kotak bekal di sini berisi sandwich. Oh, hampir lupa. Ini juga ada bolu satu gulung—rasa kesukaanmu. Obat-obatan sudah ditaruh di kantung sebelah kanan."
Tidak ada tanggapan.
Ulen berbalik menatap putranya. "Kenapa kau jadi diam?"
Kira hanya menatap mata ayahnya lekat-lekat dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Bobot tubuhnya ditopang bingkai pintu. "Apa kita sedang menghadapi akhir dunia?" Sindiran pertama.
Ulen berkacak pinggang. "Apa Ayah harus menjawabnya?"
"Apa Ayah mengusirku dari rumah?" Sindiran kedua. Serius.
"Tidak. Ayah hanya mempersiapkanmu untuk segala kemungkinan." Ulen berbalik dan menutup tas—koper—anaknya dan beberapa tas lain.
"Untuk segala kemungkinan yang terjadi selama darmawisata sekolah tiga hari, ke tempat yang cuma lima jam dari rumah."
"Tepat sekali. Nah," Ulen membawa tas-tas itu ke tempat Kira berdiri, "jika Ayah melihat satu saja di antara barang-barang ini yang kau keluarkan dan tinggal di rumah, Ayah akan menyusulmu ke sana dan membawakannya untukmu—mungkin dengan jumlah lebih banyak."
Kira memutar bola matanya dengan malas.
Ulen berlutut dan memandang iris amethys jernih itu dalam-dalam. "Apa kau benar-benar harus pergi?" tanyanya, masih merasa tidak rela.
Kira memberikan satu tatapan dingin itu lagi sebelum berbalik dan menuruni tangga dengan kesal.
.
"Hoi, Kira! Kau yakin tidak mau turun?" Mendapati temannya tidak menjawab, anak berambut biru tua itu duduk di sampingnya. "Habis bertengkar sama ayahmu, ya? Kudengar dari Mrs. Murrue kau tidak mau terima telepon darinya."
Saat ini mereka sedang berhenti di tempat peristirahatan. Bis hampir kosong. Hanya ada satu-dua guru dan mereka berdua di dalam.
Kira masih tidak menjawab. Apa yang ada di luar jendela lebih menarik perhatiannya.
Anak berambut biru tadi mencondongkan badannya. "Mau cerita?"
Kira menunduk dan mengehela napas. "Ayah sekarang beda dengan dulu, Athrun."
.
#8 Scold
Dua orang pria dewasa sedang duduk memancing berdua di tepi danau. Yang satu masih mengenakan kemeja kerja yang dimasukkan ke celana dan yang satu lagi kemeja santai.
"Aku penasaran. Apa yang membuat Kira menolak pulang denganmu tadi, ya?" pancing sang pria berkemeja santai.
Pria satunya menghela napas. "Kau tahu kenapa, Haruma."
Haruma mendengus. "Ini kedua kalinya dia kabur ke rumahku, kan?"
"Ya, tapi pertama kalinya dia menolak pulang," jawab Ulen lirih. Ia masih terpukul setelah Kira menolak ajakannya pulang siang tadi. Orang tua tunggal ini benar-benar panik saat tidak melihat putranya menunggu di tempat biasa di sekolah dan ia segera bertanya pada satpam dan guru piket. Mereka bilang Kira sudah dijemput pamannya setelah meminjam telepon sekolah. Yah, Ulen sendiri memang sudah bilang akan sedikit terlambat hari ini. Ia hanya tidak menyangka kesempatan itu akan diambil Kira untuk mendekam ke rumah adik iparnya.
"Sebaiknya Kakak hentikan sikap berlebihan Kakak ini. Tidak sehat." Haruma kembali membuka pembicaraan.
Ulen mengambil napas panjang, merubah posisi duduknya sedikit. "Aku takut, Haruma, sampai sekarang. Kau mengerti, kan?"
"Sudah berapa juta kali kubilang—kami semua bilang—kalau kecelakaan itu bukan salahmu, Kak? Ya, Tuhan, Kak Via benar, Kakak benar-benar keras kepala! Berhenti menyalahkan diri Kakak sendiri! Seperti yang kubilang, tidak sehat. Kakak tahu mobil dari arah berlawanan itu yang muncul tiba-tiba dan melaju sangat cepat. Kakak bahkan masih bisa membanting stir dan mencegah tabrakan—"
"Untuk bertemu tabrakan selanjutnya," potong Ulen datar.
"Dengan pohon," tambah Haruma cepat, "intinya, Kakak sudah berusaha semampu Kakak! Tidak ada alasan untuk Kakak menyalahkan diri dan bersikap overprotective karena takut kehilangan Kira," pria itu menghela napas lagi, "malah, kalau seperti ini terus, Kakak bisa 'kehilangan' Kira. Ini baru awalnya."
Ulen bergidik. Ya, ia yakin tindakan kabur Kira ini cuma sebuah awal kalau ia terus-terusan paranoid dan ia mungkin akan berakhir dengan dibenci putranya sendiri meski niatnya hanya untuk melindunginya. Ironi. Ia tidak bisa bilang 'tidak masalah aku dibenci asalkan dia aman dan tetap hidup'—tidak—itu jelas masalah! Orang tua mana yang merasa baik-baik saja dibenci anaknya sendiri? Tapi ...
Ulen merasakan tepukan pelan di pundaknya. "Kakak harus belajar 'melepaskannya', untuk kalian berdua."
Kedua pria itu terlonjak saat merasakan tarikan di alat pancing mereka.
.
#9 Late
Kira baru saja menarik selimut saat pintu kamarnya diketuk dan sosok ayahnya muncul. Anak itu melirik ke jam dinding di atas meja belajar sebelum menatap ayahnya dengan bingung. "Aku baru akan tidur, kok, Yah." Jadwal rutin. Tidur pukul sembilan tepat, tidak ada toleransi.
Suara guntur menyela di balik deru air hujan. Ulen membuka pintu lebih lebar dan mengeluarkan sesuatu dari punggungnya. "Ah, bagaimana kalau malam ini kau temani Ayah nonton?"
Mata Kira membulat begitu melihat kotak DVD berjudul Monster University yang dipegang ayahnya. Anak itu melompat dengan semangat dan keduanya sudah duduk santai di sofa beberapa menit kemudian dengan popcorn instant yang baru dimasak.
Cukup lama mereka terhanyut dengan film sebelum akhirnya Kira berkata dengan suara pelan. "Ayah, apa benar Ibu dan Cagalli meninggal karena Ayah?"
Ulen menahan napas.
"Aku tidak sengaja mendengarnya dari orang tua teman saat menunggu Ayah. Apa itu benar?"
"Ayah ..."
"Paman Haruma bilang itu kecelakaan. Aku bingung."
Ulen mengepalkan tangannya. "Itu ...," ambil napas, "kecelakan itu—"
"Jadi yang benar kecelakaan, kan?" Kira memutar kepalanya dan mendongak dengan mata bulat jernih itu menatapnya lekat-lekat.
Ulen terkesiap. "I ... ya?"
Kira kembali menatap layar televisi dan menenggelamkan tubuhnya semakin dekat di sisi sang ayah. "Kecelakaan, kalau begitu."
Andai Kira tahu betapa berartinya ketiga kalimat yang keluar dengan innocent itu bagi Ulen. Maaf. Ulen akhirnya memutuskan untuk memaafkan dirinya sendiri.
Pria itu mengambil popcorn yang hendak dimasukkan ke dalam mulut sang anak dan mengunyahnya lambat-lambat. Kira mengerjap beberapa kali dengan tangan masih terangkat sebelum kembali mendongak menatap ayahnya. "Itu popcorn-ku."
"Tidak lagi," jawabnya santai.
Kira menyeringai.
.
#10 Breakfast
"Pasti Ayah yang masak." Suara nyaring gadis kecil di salah satu sisi meja makan terdengar. Anak lelaki berambut cokelat di sampingnya melirik ke arah piring di depan si gadis sebelum terkekeh geli.
"Sejelas itu?" tanya Ulen yang masih berada di depan kompor sambil mengangkat beberapa potong sosis.
Kali ini Kira yang membalas, "Ayah selalu buat telur orak arik dengan bentuk aneh—"
"Karena gagal buat telur mata sapi jadi sekalian saja diacak-acak," lanjut Cagalli cepat dengan tangan yang bergerak-gerak seolah memegang sutil. Kira terkikik lagi.
"Nah, nah, jangan meledek ayah kalian begitu. Cepat duduk dan habiskan sarapannya, nanti kalian terlambat. Sudah dibuatkan dengan susah payah, lho," tegur sang ibu yang baru datang dari ruang tengah sambil mengikat rambutnya cepat. Ia mengecup pipi sang suami singkat sebelum membantunya meletakkan sepiring sosis yang agak gosong di atas meja makan.
Wanita bernama Via Hibiki itu terdiam sejenak memerhatikan sarapan hangat di depannya. Ekspresinya datar. "Benar-benar masakan Ayah."
Cagalli dan Kira tertawa lepas sebelum menyerukan 'apa kami bilang' dengan bangga. Mereka berdua diam dan duduk manis sambil melempar 'tatapan andalan' yang bisa membuat ibu-ibu tetangga luluh pada ibu mereka. "Boleh kami sarapan pancake buatan Ibu saja?"
Via hanya melempar senyum penuh arti ke arah suaminya dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Ulen yang baru berhenti di samping istrinya hanya balas menatap dengan bingung. "Sungguh? Setelah semua kerja keras ini?"
.
Ulen tersenyum tipis saat ingatan indah itu melintas di benaknya ketika ia memasuki dapur kosong yang diterangi cahaya minggu pagi dari jendela berbingkai kotak di pintu belakang. Pria itu mendengar suara langkah anaknya yang masih memakai piyama terseret-seret.
"Ayah belum masak telurnya?" anak itu menguap dan mengucaek matanya sejenak, "apa pagi ini kita akan makan sereal?"
Ulen menggulung lengan piyamanya dan tersenyum lebar. "Bagaimana kalau pancake? Mau bantu Ayah?"
.
OWARI
.
Daaaan selesai. Kayaknya bukan drabble lagi, tapi yasudahlah. Yang penting saya seneng nulisnya. Huehuehue. #bejeked.
Terima kasih untuk readers yang sudah bersedia mampir untuk baca Fragmen ini. Terima kasih banyak juga untuk yang udah nyempetin review dan follow. Review kalian membuatku senaaaang ... naaang ... naaang~ #lalusayadilempar.
Okeh! Pokoknya terima kasih banyak untuk readers semua yang udah bersedia baca karya saya ini. Saya akan sangat senang membaca pendapat kalian. Kritik dan saran sangat diterima!
Have a good and fabulous day, fellas! See ya!
