Stay Beside ch. 2

.

.

Ckiit

Sebuah sedan hitam mewah berhenti di basement gedung apartment. Seorang lelaki dengan tubuh tinggi tegapnya keluar dari kursi pengemudi. Ia tampak masih sangat tampan dan gagah diumurnya yang hampir menginjak kepala empat. Bagi orang yang baru saja melihatnya pasti sudah dapat menebak bahwa lelaki itu sering sekali menghabiskan waktunya di gym dan berolahraga, karena sangat jelas dapat terlihat abs yang tercetak dibalik kemeja hitamnya. ia kemudian berbalik dan membukakan pintu untuk penumpang. Keluarlah seorang wanita yang cukup langsing dan tinggi, ditambah stiletto 15 senti dikaki jenjangnya membuat aura kecantikan dan keanggunannya begitu menguar. Ia memakai summer dress yang menampilkan lekuk tubuhnya yang begitu rupawan walaupun ia bukanlah seorang gadis remaja lagi. Rambut blonde sepinggang yang berkilauan tampak menambah nilai plus penampilan yeoja paruh baya ini. Yeoja itu menggandeng lelaki yang tampan itu dan mencium pipinya sekilas.

"oppa, aku merindukan uri adeul yang tampan."

"nado. Tapi kita sebaiknya menemui Kibum dan Soojung terlebih dahulu." Jawab si lelaki dan pasangan itupun melangkah menuju pintu masuk apartment.

"uh right, aku penasaran dengan duo menyebalkan itu. Kita bahkan tidak sempat hadir diacara pertunangan mereka. Apa kita adalah teman yang buruk, oppa?"

"tentu saja tidak, baby. Mereka takkan marah pada kita." Si lelaki tampan mencium bibir wanitanya sekilas,

"keurae, kajja."

Uh, melihatnya saja akan tahu bahwa mereka bukan orang sembarangan.

.

(Kim Jongin POV)

Hari sudah mulai pagi. Matahari sudah mulai menyinari cahayanya ke muka bumi. Aku menerjabkan kedua mataku pelan, merasakan terangnya sinar matahari yang mulai mengganggu tidur nyenyakku. Aku menguap merasakan rasa kantuk yang tersisa dan mencoba mendudukkan tubuhku ukh.. memijat sedikit tengkukku karena merasakan pegal karena tertidur di sofa. Aku menatap sekelilng, ah..baru kuingat semalam aku bermalam di apartemen Kyungsoo untuk menjaganya—tapi, kemana pemilik kamar yang sedang sakit itu sekarang?

"sudah bangun?" belum sempat aku beranjak untukmencarinya, Kyungsoo sudah muncul di balik pintu kamar dengan nampan ditangannya. Ia kemudian duduk disampingku setelah meletakkan nampan di meja pinggir sofa.

"hm. Morning kyungie," sapaku dengan suara serak sambil mencium dahinya yang sedang mengambil gelas berisi susu. Ia hanya merona dan tersenyum kecil.

"masih terasa pusing?" tanyaku sambil mengecek suhu tubuhnya. Masih terasa sedikit hangat.

"aniyo Jongie." Ia menggeleng pelan, "sudah lebih baik."

"syukurlah." Aku menghembuskan nafas lega. "jika pusing lagi beritahu aku, arasseo?"

"ne, arrasseo~" ia terkekeh pelan."Jongie, tidak kesekolah?"

"kurasa tidak. Aku akan menjagamu dan saat sore akan pergi sebentar untuk gladiresik."

"geurae? Ini." ia kemudian menyerahkan gelas susu vanilla hangat tersebut kepadaku.

"apa itu sarapan untukku?" tanyaku sambil menunjukkan nampan yang dibawanya tadi.

"eum." Ia mengangguk.

Aku menatapnya bingung namun menerima gelas tersebut, "kenapa situasinya berbalik begini?"

"maksud Jongie?" tanyanya sambil menerjabkan matanya, bingung.

Aku meminum susu itu dan menaruh sisanya di meja, "kenapa aku yang diperlakukan seperti orang sakit, Kyungie sayang? Maaf seharusnya aku yang bangun lebih dulu dan membuatkanmu sarapan."

Kyungsoo sedikit menundukkan wajahnya yang memerah mendengar panggilan untuknya, "ah, bukan aku, tetapi Soojung ahjumma yang memasak. Gwenchana, lagipula Jongie juga sedang sakit."

"huh? Aku tidak—"

"kakimu terkilir tetapi mengapa tetap memaksa untuk menggendongku?" ia mendongak menatapku sambil bertanya dengan suara bergetar.

"itu karena—"

"besok akan ada kompetisi tapi bagaimana jika kamu sakit dan itu semua—" aku sontak mencium bibirnya untuk membungkam ucapannya. Jujur aku tidak suka melihatnya yang menyalahkan dirinya atas sesuatu yang bukan kesalahannya.

"—salahku." Bisiknya sambil menatapku kaget.

"kyungie." Aku menghela nafas, "ini cuma terkilir biasa dan aku sudah pernah merasakan yang lebih sakit dari ini."

"…"

"percayalah, aku akan tetap mengikuti kompetisi. karena kamu paling suka saat melihatku menari, kan?"

"tapi—"

"sst. Sudah tidak usah dibahas lagi" gumamku sambil merangkulnya dari samping. Ia akhirnya mengangguk pelan tanda setuju. "kamu sudah sarapan?"

"sudah, saat Soojung ahjumma datang." Ia menyandarkan kepalanya dibahuku sambil memejamkan mata.

"sudah minum obat?" tubuh dalam dekapanku itu sontak sedikit menegang dan akhirnya menggeleng pelan.

"waeyo?"

"aku tidak suka. Rasanya sangat pahit, Aku memakan gula setelahnya namun rasa pahit tetap terasa dilidahku."

"kebiasaanmu setelah meminum obat sangat aneh, Kyungie."

"tapi sekarang itu tidak berhasil lagi. Ish,"

"bagaimana jika diganti dengan madu?"

"tidak akan berhasil." Gumamnya kesal.

"kamu belum mencobanya."

"aku tidak mau, Jongie." Ia menggeleng gusar dalam dekapanku.

Aku terkekeh pelan sambil mengelus rambutnya yang terasa sangat lembut di telapak tanganku, "hm. Kalau begitu aku tidak bisa berjanji untuk mengijinkanmu menontonku jika kamu bertambah pusing esok hari."

"tapi bahkan sekarang aku sudah tidak sakit." Ia membuka matanya dan menatapku kesal seperti seorang balita yang diambil bonekanya, lucu sekali.

"kalau begitu besok aku akan mengundurkan diri." Ucapku santai.

"Jongie! Mana bisa seperti itu!" ia melotot menatapku seakan hal yang kuucapkan benar benar diluar perkiraannya.

"aku bercanda sayang, jangan menatapku seperti itu." Aku tersenyum lembut, "jadi bagaimana jika aku membuat obat itu terasa manis hm?" aku menaikkan sebelah alisku,

"jinjja? Bagaimana caranya?" Kyungsoo menatapku antusias.

"yakin ingin mencoba nya?" aku mengambil obat syrup itu dari nakas dan meletakkannya di pangkuan Kyungsoo.

"eum." Ia mengangguk cepat.

"sekarang minumlah sambil menatapku." Jawabku cepat sambil menahan tawa.

"eh?" Kyungsoo menatapku dengan pandangan blank nya.

"jika meminumnya sambil menatapku obatnya akan terasa manis, Kyungie." Ucapku sambil tertawa senang karena telah berhasil mengerjainya.

Kyungsoo memukul lenganku pelan, "tsk. itu tidak lucu. Kamu menyebalkan dan percaya diri sekali."

"tapi kamu menyukaiku." Jawabku cepat sambil mengambil cup berisi gula yang juga diletakkannya di meja nakas.

"you know it better." Jawabnya sambil tersipu.

Aku mencium pipinya yang memerah dengan kilat. "Sekarang aku serius. Ayo minum obatnya Kyungie."

Kyungsoo menghela nafas, "baiklah." Ia dengan setengah hati membuka tutup botol syrup itu dan meminumnya dengan sendok. Aku dapat melihat ekspresinya yang sangat jelas membenci rasa pahit yang muncul saat obat itu terasa dilidahnya.

"jongie ini sangat pah—"

Aku lagi lagi memotong ucapannya dengan cara mencium bibirnya lembut dan memindahkan gula yang tadi diam diam kumasukkan kemulutku dan memindahkannya kemulut Kyungsoo. Dapat kulihat ia kaget dengan apa yang kulakukan namun lama kelamaan ia mulai memejamkan matanya.

"KYUNGSOO? JONGIN?"

"UHUK!" teriakan Soojung ahjumma yang kurasa berasal dari ruang tamu mengangetkan kami berdua. Kyungsoo yang sedang menelan butir butir gula itupun sontak tersedak. Aku buru-buru mengambil segelas air dan langsung diteguknya cepat. Aku hanya meringis dan mengusap punggungnya pelan.

"gwenchana? Mianhae." Aku mengusap pipinya pelan, ia hanya menggumam dan mengangguk. Masih tampak samar samar rona merah di kedua pipinya. Aku terkekeh.

"apa kau yakin uri adeul ada disini, Jung-ah?" samar samar kudengar suara seorang wanita yang sangat kukenal, ah.. tapi mana mungkin.

"geurom. KYUNGIE? JONGIN? " kembali terdengar teriakan Soojung ahjumma dari luar.

"kami ada dikamar, ahjumma!" seruku cepat untuk membunuh rasa penasaranku.

"kemarilah! Ada tamu yang ingin mengunjungimu!" seru Soojung ahjumma kembali. Aku dan Kyungsoo saling bertatapan dengan ekspresi bingung.

"kajja. Kita lihat siapa yang datang,"

"jongie bisa berdiri?" tanyanya dengan raut wajah khawatir saat aku bangkit untuk berdiri. Aku sebisa mungkin menahan ringisanku dan tersenyum singkat.

"tentu saja sayang, ayo." Aku mengulurkan tanganku kemudian disambutnya dengan senang.

"menurutmu siapa yang datang? Soojung ahjumma bilang tamu itu akan mengunjungimu." Gumam Kyungsoo penasaran.

Aku menaikkan bahuku, pertanda aku tidak tahu. "hm, hanya dugaanku sih tapi kurasa yang datang—" ucapanku terhenti sesaat setelah membuka pintu dan mendapati seorang wanita cantik yang sangat kukenal telah berdiri didepan pintu sambil melipat kedua tangannya.

"hello, uri adeul~" sapanya sambil menatapku tajam namun tetap tersenyum penuh keanggunan.

"umma." Gumamku. Aku merasakan Kyungsoo terkesiap dan genggaman tangannya menguat. Kurasa ia cukup kaget dengan kemunculan orangtuaku yang tiba-tiba.

.

.

.

(Do Kyungsoo POV)

Kini aku, Soojung ahjumma, Kibum ahjussi, Jongin, serta orangtuanya telah duduk di sofa apartmentku. Aku sungguh gugup dan tidak menyangka orangtua Jongin akan datang saat ini. Kini masih cukup pagi dan aish..bahkan aku tidak berdandan sama sekali. Aku sedikit menciut melihat betapa mewah dan anggunnya penampilan pasangan suami istri didepanku sementara aku bahkan hanya memakai dress rumahan dengan panjang selutut serta warna putih polos. Aku hanya mendunduk dan menghembuskan nafas pasrah saat kurasa pasti image ku sangat jelek di pertemuan pertama ini.

"Orangtuamu datang pagi-pagi dari London dan mengacaukan hari bermalas-malasanku hanya untuk bertemu dengan mu Jongin." Gumam Soojung ahjumma dengan nada kesal yang dibuat-buat sambil memberikan gelas berisi syrup kepada tunangannya. "maka dari itu aku membawanya kemari."

"hm. Benar-benar mengejutkan." Gumam Jongin—yang duduk disampingku—sambil memutar bola matanya, bosan.

"Oh Honey, kami sangat merindukanmu dan begini balasanmu?" jawab umma Jongin dengan nada sedih namun setelah itu melirikku dengan tatapan penasaran. "kau bahkan tidak pernah mengenalkan gadis ini padaku."

Aku tersentak kaget namun Jongin mengusap tanganku lembut, untuk menenangkan. Aku akhirnya mengambil nafas serta berdiri dan membungkuk sopan. "annyeonghaseyo, Do Kyungsoo imnida. Bangapseumnida, ahjumma ahjussi." Ucapku sambil berusaha untuk tampak tersenyum disela sela kegugupanku.

Umma Jongin terkekeh pelan kemudian menutup mulutnya dengan sebelah tangan—oh, gesture yang sangat anggun—ia kemudian berdiri menghampiriku dan tersenyum menenangkan. "annyeong, Kyungsoo-ie. Aku Kim Taemin dan itu suamiku, Kim Minho." Taemin ahjumma menunjuk seorang ahjussi dengan kemeja hitam yang sangat tampan. Ia mengangguk ramah padaku dan tersenyum. "Kau pasti sudah tahu kalau kami adalah orangtua Uri Honey Jongin." Aku tersenyum simpul mendengar panggilan itu kemudian mengangguk sopan.

"ne, masseumnida ahjumma."

"aigoo." Taemin ahjumma terkikik pelan kemudian mengusap rambutku lembut—ah, aku benar-benar kagum dengan wanita sempurna dihadapanku ini. "tidak usah begitu cangggung, sayangku. Panggil saja umma, ne? apa kamu yeojachingu nya Jongin?"

"ah, ne umma." Jawabku sambil tersenyum kikuk. Aku dapat melihat dari sudut mataku dan mendapati Jongin menatapku dengan pandangan seolah mengatakan bahwa semua akan baik baik saja.

Taemin umma tersenyum begitu lembut, namun kemudian ekspresinya berubah kecewa. "keurom? ah. Sayang sekali."

"wa-waeyo umma?"Aku seketika kaget dengan apa yang baru saja diucapkannya. Apa aku terlihat tidak pantas bersama Jongin? Atau apakah sebenarnya Taemin umma sudah berencana untuk menjodohkan Jong—

"padahal kamu sangat cantik dan bisa mendapatkan namja yang lebih tampan darinya." Kekehnya mendapati wajahku yang begitu kaget.

"umma!" Jongin memprotes ucapan ummanya dengan nada kesal.

"ah. Bagiku Jongin yang tertampan, umma." Jawabku dengan wajah yang merona. Aduh aku memalukan sekali mengatakan hal seperti itu dihadapan orangtua Jongin. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan untuk menahan malu.

"aigoo~ Taeminnie, anakmu yang tampan sedang merona karena dipuji pacarnya." Terdengar seruan dari Kibum ahjussi dan menimbulkan gelak tawa di ruangan ini. Mwo? Benarkah Jongin merona? Dalam hati aku tertawa geli.

"soo-ie, lepaskan tanganmu." Gumam Taemin umma lembut dan aku melakukannya. "terimakasih telah menerima Jongin apa adanya dia. Berjanjilah padaku untuk selalu berada disisinya."

"aku berjanji umma, karena ia juga akan melakukan hal yang sama padaku." Ucapku sambil tersenyum dan kemudian terkaget karena Taemin umma memelukku.

"u-umma." Aku tersenyum dibalik pelukannya, ah kini ku tahu darimana Jongin mewarisi sifat lembutnya. Pelukan Taemin umma terasa sangat hangat dan mengobati rasa rinduku akan ummaku yang berada diluar kota.

"aigoo..Soo-ie, kau sangat cantik dan aku merasa telah memiliki anak perempuan." Kekehnya sambil melepaskan pelukannya. Ia mengusap rambutku lembut kemudian kembali duduk disamping suaminya.

"belum terlambat untuk memiliki setidaknya satu, sayang~" seru Minho appa sambil menjawil pipinya dan dihadiahi sebuah cubitan di perut oleh Taemin umma.

"huh, kau mengatakan hal yang tidak seharusnya didepan anak-anak, oppa." Gumam Taemin umma kesal sambil menyampirkan rambut blondenya kebahu kanannya dan tersenyum simpul.

"hm, anak jaman sekarang pasti sudah mengerti arti ucapanku. bukankah begitu, Jongin?" jawab Minho appa sambil menatap anaknya dengan pandangan jahil.

"hm." Gumam Jongin sambil meminum syrupnya dan menatap appanya dengan pandangan kesal.

"apalagi calon menantuku sangat cantik pasti kau tidak akan tahan untuk—"

"UHUK!" Jongin tersedak saat mendengar ucapan appanya. Aku hanya dapat mengelus punggungnya dengan ekspresi khawatir sekaligus malu.

"oh shut up, oppa. Kau membuat mereka malu." Seru Taemin umma dengan nada kesal namun berbanding terbalik dengan ekspresinya yang menatap kami dengan pandangan jahil. Ukh mereka berdua ternyata tak jauh berbeda. Aku sedikitmengalihkan pandanganku kearah Soojung ahjumma dan Kibum ahjussi, namun sepertinya mereka tampak tak perduli dan sibuk meminum syrup mereka dari sebuah gelas dengan dua pipet-_-

"lagipula.." lanjut Minho appa kembali.

"….."

"apa yang kau lakukan di apartement seorang gadis pagi-pagi sekali? Seingatku apartementmu persis berada diseberang sana, Buddy."

"kyungie sedang sakit jadi aku menjaganya semalaman." Jawab Jongin cepat.

"oh kau bahkan tidur di—"

"aku tidur disofa appa, geuman."

"hm. Kau pasti mencuri-curi kesempatan saat Kyungsoo tidur." Sanggah Minho appa cepat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus berekspresi saat ini. Sedangkan Taemin umma terkikik sambil meyandarkan tubuhnya di bahu Minho appa.

"ti-tidak" jawab Jongin dengan wajah sedikit memerah.

"huh. Kau berbohong. Kau lupa bahwa aku sangat mengenalmu, bocah Kim." Ucap Minho appa dengan nada final sambil menatap Jongin dan melipat kedua tangannya.

"selagi kalian memperdebatkan sesuatu yang tidak penting, aku akan membantu Soojung memasak sesuatu. Kalian pasti belum makan, Minho Taemin?" ucap Kibum ahjussi sambil bangkit dari duduknya dan diikuti Soojung ahjumma yang hanya menatapku dengan pandangan 'kau harus terbiasa dengan mereka'.

"keurae! Oppa aku ingin bulgogi!" seru Taemin umma sambil terkekeh.

"tsk, dasar tamu tak diundang yang menyebalkan." Gumam Kibum ahjussi dengan gerutuannya.

"yeah, aku merindukanmu juga, Kibum bro~" sahut Minho appa sambil tertawa lepas. Sementara aku hanya menatap mereka bingung.

"Kibum ahjussi, serta umma dan appa pernah bersekolah ditempat yang sama, Kyungie." Gumam Jongin disampingku seakan dapat membaca ekspresi wajahku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

"hei, Jong." Panggil Minho appa.

"waeyo appa?"

"kembali keapartmentmu, mandi dan bersihkan wajah bantalmu itu. Setelah makan, kau dan Kyungsoo harus menemani kami berjalan-jalan."

"tapi appa—"

"tega sekali jika kau tidak mau, Kim Honey. Kami sudah jauh jauh kemari hanya untuk bertemu denganmu." Taemin umma menatap Jongin dengan pandangan kecewa.

Jongin menghela napas, "Baiklah, tapi Kyungie tidak ikut. Dia sedang sakit,"

"ah jinjja? Gwenchanayo Soo-ie?" Tanya Taemin umma khawatir.

"gwenchana umma, aku bisa ikut kok. Aku sudah mendingan." Aku tersenyum lembut tapi Jongin langsung menatapku dengan pandangan tidak setuju.

"Kyung—"

"tidak apa-apa, Jongie. Aku tidak ingin mengecewakan orangtuamu. Aku berjanji akan baik-baik saja, oke?" bisikku pulan. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan.

"baiklah, bersiap-siaplah sementara aku akan mandi." Ia mencium pipiku sekilas dan beranjak keluar dari apartment, meninggalkanku dengan wajah merona parah karena sedari tadi appa dan umma memandangi kami intens.

"hei Kim, kau belum mandi tapi sudah berani mencium seorang gadis."

"APPA!"

"tsk. oppa, dia benar-benar anakmu."

.

.

Sekarang aku sedang berada di kamarku dengan pintu lemari pakaian yang terbuka dan beberapa helai pakaian yang berada di kasur. Aku menghela nafas frustasi, tidak tahu harus mengenakan apa dihadapan appa dan umma Jongin. Terlebih aku juga tidak yakin mereka akan mengajak kami kemana, jika aku memakai pakaian kasual dan ternyata mereka mengajak kami kesebuah tempat formal, bagaimana?

Beberapa menit yang lalu appa dan umma pamit ke apartment Jongin untuk mengganti pakaian mereka. Dan jika aku tidak bergegas, mereka akan menungguku berdandan begitu lama dan hal tersebut bisa merusak imejku dihadapan mereka. Eum.. kuputuskan untuk memakai sebuah dress chiffon dengan warna biru tua dipadukan dengan cardigan putih serta memakai sebuah flat shoes putih. Bingung harus kuapakan rambutku, akhirnya aku hanya menjepit sisi kanan rambutku dengan jepitan bewarna senada. Mengambil tas selempang bewarna putih kemudian berjalan sambil menghembuskan nafas gugup.

'fighting, Kyungsoo!' seruku dalam hati. Walaupun tadi sudah berbicara panjang lebar, namun tetap saja aku sangat gugup berhadapan dengan orangtua Jongin yang tampak menawan. Aku mengunci pintu apartment kemudian mendapati Jongin telah menungguku sambil bersandar didinding sisi pintu dan memasukkan kedua tangan kesaku Jeansnya.

"Kyungie," Aku seketika terhenti saat menatap pakaian yang ia kenakan. Sebuah kaos v-neck berwarna putih dengan jaket hoodie berwarna dongker, ia mengenakan jeans yang juga berwarna dongker dan sneakers berwarna putih. Ia kemudian mengacak rambut coklatnya yang tampak sedikit lembab dan tersenyum lembutpadaku. Aku tanpa terasa menahan napas, menyadari begitu tampan dan memesona namja yang berada dihadapanku walau hanya memakai pakaian yang begitu kasual. "sudah selesai?"

"eum." Aku mengangguk singkat dan menunduk.

"waeyo? Kenapa tadi menatapku seperti itu?"

"ah, annieyo Jonginnie."

"apa aku—"

"aigoo, kalian serasi sekali sayang! Apa kalian janjian memakai warna yang sama?" seruan Taemin umma yang tampak antusias membuatku tersenyum kecil dengan wajah yang memanas sambil menatap kedua orangtua Jongin yang telah berada dihadapan kami.

"tidak umma," jawabku sambil meringis kecil. "umma dan appa juga serasi sekali."

"oh tentu saja, karena kami memang sudah janjian." Balas Minho appa sambil terkekeh dan merangkul istrinya. Uh, haruskah kujelaskan betapa memesona dan freshnya penampilan mereka?

Taemin umma memakai dress berbahan ringan bewarna kuning muda dan sepatu nike putih dengan aksen sayap keperakan disisinya sedangkan Minho appa memakai polo shirt berwarna biru langit, jeans hitam serta sepatu kets berwarna senada yang tidak tampak murah. Keduanya memakai varsity hitam-putih kembar dengan snapback limited edition hitam yang kembar pula. Jika kalian ingin tahu perasaanku, saat ini aku merasa akan pergi double date dengan kakak Jongin yang masih berada ditingkat universitas.

"ck. The most anticipated couple." Sungut Jongin kesal sambil menggenggam tanganku dan kami mulai berjalan menuju basement.

"oh, don't be jealous young man." Sahut Minho appa cuek. Sementara Taemin umma hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

.

.

.

(Author POV)

"EVERYBODY, EEEVERYBODY, EVERY EVERBODY~"

Didalam sedan hitam mewah itu mengalun lagu dari sebuah boyband komtemporer Korea Selatan yang cukup popular. SHINee, siapa yang tidak mengenal mereka? Boyband besutan SM entertainment ini sudah sangat terkenal dimata dunia international dengan lagu dan style mereka yang cukup unik.

Tampak pasangan muda mudi—coret, pasangan remaja dan dewasa berada didalam mobil tersebut. Jika kalian menyangka bahwa mobil ini milik Jongin, kalian salah besar. Nyatanya ini mobil Minho yang berada di Korea. Lagu yang dinyanyikan pun atas keinginan Taemin dan kini pasangan itupun bernyanyi dengan semangat.

"EVERYBODYYY~~~" lengking Taemin dengan nada tinggi yang sebenarnya cukup baik, namun karena ruang yang cukup sempit hal tersebut berhasil memekakkan telinga tiga orang lain. Minho hanya terkekeh pelan dan mengusak rambut istrinya sayang.

"michigetda." Gumam Jongin yang sedang duduk dibalik kursi kemudi. "seharusnya aku tahu bahwa pada akhirnya aku hanya diperintah untuk menyupir." Sindirnya dengan nada kesal yang sangat kentara.

Kyungsoo yang duduk disamping namjanya dikursi depan—Minho menyuruh Kyungsoo untuk duduk didepan—mengelus lengan Jongin lembut dan menenangkan, tampak sedikit tanda tanya dalam raut wajahnya. Hm mungkin ia mempertanyakan mengapa namjachingunya tidak begitu nyaman dengan kehadiran orangtuanya.

"tidak boleh seperti itu, Jongie" gumamnya pelan agar ucapannya tidak terdengar oleh dua sejoli yang masih asik dengan dunianya dibelakang.

Jongin menghela napas, "maaf Kyungie, mungkin ini terlalu mengagetkan untukmu." Gumamnya tak kalah pelan. Suaranya berhasil teredam oleh alunan music yang keras namun masih dapat terdengar oleh Kyungsoo yang duduk dekat dengannya.

"kita bicarakan nanti oke? Sekarang bersikaplah dengan baik." Kyungsoo tersenyum lembut dan Jongin mengangguk pelan tanda mengiyakan. Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka dengan pandangan yang tak terbaca.

.

.

.

TBC

/Sigh/ akhirnya tidak jadi buat twoshoot wkwk. Ah apakah ada typo diatas sana?

Sepertinya saya tanpa sadar memasukkan 2min disini hingga keasyikan(?) nulis haha. Takut kepanjangan dan membosankan jadi saya cut disini saja keke. Mungkin sedikit konflik akan muncul antara Jongin dan orangtuanya jadi sepertinya ini akan berakhir di ch3 atau 4~ /akhirnya ada konflik /loh?

Baiklah sekarang balasan review:

Zoldyk : totally agree! Sudah diupdate ya, maaf agak lama. Thanks sudah review ^^

Syifaslsb : Kaisoo: nado saranghae, Syifa-sshi~! /lovesign/ Haha gomawo, amin semoga kaisoo cepat sembuh(?)Thanks sudah review ^^

Earthteleport : aigoo aku gak nyangka author favorite ku review ff gaje ini /lap air mata imajiner /apaan-_-/ sudah diupdate dan sepertinya akan ditambah chapternya. Kkk ne, aku juga suka genre seperti ini, haha semoga tidak mengecewakan yah, Thanks sudah review ^^

Yixingcom : sudah dilanjut yixing-shhi(?) gak berat-berat kok cobaannya ntar Jongin ga bisa ngangkatnya wkwk huhu mianhae apakah yang ini enak? /plak. Thanks sudah review ^^

Younlaycious88 : lol sudah jadi ciri khas ya? Haha ayo kita selalu dukung Kaisoo /bawa baliho kaisoo/ Thanks sudah review ^^

Sehunpou : gomawo pou-shhi(?) sudah dilanjut, maaf agak lama. Thanks sudah review ^^

Kyungie22 : sudah dilanjut, disini malah kelewatan manis karena makan gula /plak. Thanks sudah review ^^

KaiSoo Fujoshi SNH : sudah dilanjut ya~ Thanks sudah review ^^

Ruixi : sudah dilanjut ya. aduh aku bukan mimin loh, kamu salah orang wkwk Thanks sudah review ^^

Wanny : jelas selalu manis merekanya haha. Sudah dilanjut duh nyante ya wkwk /patahin tongkat tao /kabur/ Thanks sudah review ^^

KaiSoo Shipper : sudah dilanjut! Ah sama aku juga seneng karena di review(?)Thanks sudah review ^^

Brigitta Bukan Brigittiw : hayoo demi apa wkwk sudah dilanjut. Thanks sudah review ^^

Alkey PCY : sudah dilanjut ;) setuju sekali. Apa salah Jongin punya wajah seperti itu wkwk aslinya Jongin anaknya baik hati rajin bersih bersih dan pemalu lho :') Thanks sudah review ^^

Oh ya, ada yang Kaisoo dan dan 2min Shipper disini? Sudah jarang sekali ketemu dengan 2MS. Apa mereka sudah pada ditelan bumi? /plak/ kalau KSS dan 2MS kita kenalan yuk ;) ntar PM saya yah haha kita ngobrol-ngobrol.

Okay enough~! Sampai jumpa di chap3 ^^

-ltmsjh