Stay Beside (Ch. 4—end)

.

"JONGIN!" Kyungsoo tanpa sadar menahan napasnya. Dikarenakan lampu panggung yang padam, ia tidak bisa melihat bagaimana kondisi kekasihnya disana.

Kyungsoo berlari menerobos pendukung suatu sekolah yang berkerumun dekat dengan backstage tanpa memperdulikan Taemin Minho serta Luhan yang mengikuti dari belakang. Keringat dingin mengalir di dahinya, merasakan kekhawatiran yang memuncak. Matanya berkaca-kaca namun ia menahan tangisannya. Ia harus memastikan bahwa Jongin baik-baik saja.

"ah! Permisi!" Tubuhnya yang tergolong mungil berusaha berlari tanpa menabrak namun tentu saja susah mengingat betapa ramainya kerumunan yang ada disana.

Akhirnya ia sampai di dekat anggota klub dance SOPA berada, ia tercekat melihat Jongin yang berjalan dipapah oleh Sehun dan seorang adik kelas berambut pirang bernama Zelo—Kyungsoo pernah mendengar Jongin memanggil namanya—ekspresi Jongin jelas menunjukkan bahwa ia benar-benar kesakitan. Kedua pemuda itu menuntun Jongin untuk duduk di sebuah bangku sambil meluruskan kakinya, salah seorang anggota kemudian memberikan air mineral padanya, Jongin tersenyum sembari meringis dan mengucapkan terimakasih. Tanpa membuang waktu, Kyungsoo berjalan tergesa kearahnya.

Jongin mendengar langkah kaki mendekat. Ia seketika menoleh dan mendapati kekasihnya mendekat, wajahnya pucat dan ekspresinya tampak cemas. Jongin tersenyum tipis—berusaha tampak baik-baik saja walau sebenarnya pergelangan kakinya sangat nyeri, beruntung Sehun menemukan kursi jadi Jongin dapat meminimalisir rasa nyerinya—agar Kyungsoo tidak terlalu mengkhawatirkannya.

"Soo—"

"J-Jongie apa yang terjadi? Kaki mu.." Kyungsoo tiba dihadapannya dan Jongin merasakan dadanya nyeri saat melihat mata purnama yang sangat disukainya berkaca-kaca menahan tangis. Ini bahkan lebih menyakitkan dibanding sakit di pergelangan kakinya.

Jongin merentangkan tangannya, memberikan gesture agar Kyungsoo memeluknya. Gadis itu langsung saja memeluknya dari samping—karena posisi Jongin yang meluruskan kakinya di bangku satunya membuat Kyungsoo tak bisa memeluknya dari depan—menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Jongin. Punggungnya bergetar pelan, tampaknya gadis itu menangis dalam diam.

"sstt..tidak apa-apa sayang, mungkin hanya terkilir lagi." Jongin mengelus punggung gadisnya dengan lembut agar Kyungsoo kembali tenang, dapat ia dengar isakan kecil dan ia mengecup sisi kepala Kyungsoo yang dekat dengan wajahnya. Sesekali meringis kecil merasakan kakinya yang kembali nyeri karena tanpa sengaja digerakkan. Sesungguhnya dirinya tahu bahwa ini bukan terkilir biasa karena rasa sakitnya lebih dari itu. Namun ia berusaha tenang agar tidak membuat Kyungsoo bertambah khawatir lebih dari ini.

"t-tapi itu pasti karena—a-aku memintamu untuk—" ujar Kyungsoo terbata karena masih berusaha meredam isakannya.

"tidak. Jangan salahkan dirimu lagi, kumohon. Itu membuatku sakit." Potong Jongin cepat sembari melepaskan pelukannya. Nyeri menghantam dadanya telak saat melihat wajah Kyungsoo yang basah karena air mata. Ia tersenyum, menghapus lelehan air mata itu dan mengecup pipi Kyungsoo lembut.

"maaf." Kyungsoo sontak menunduk merasa bersalah. Jongin yang kesakitan namun malah ia yang menangis, diam-diam merutuki dirinya yang sangat cengeng. Seharusnya ia menenangkan Jongin namun yang terjadi malah sebaliknya.

"…." Jongin tak berkata apapun namun masih tetap tersenyum menatapnya,

"berjanji padaku jangan lakukan itu lagi." Kyungsoo mengangguk pelan dan Jongin kembali memeluknya erat.

Diam-diam Jongin merutuki dirinya yang terlalu memaksakan diri saat menari dan tidak memperhatikan kondisi kakinya yang sedang tidak baik. Ia hanya berpikir untuk tampil dengan baik karena Kyungsoo juga orangtuanya—yang entah mengapa bisa ada disana—sedang menyaksikannya. Ia tidak ingin tampil mengecewakan namun ternyata semuanya berakhir dengan ia menyaksikan Kyungsoo menangis untuk kedua kalinya karena dirinya.

"Jongin!" Jongin menoleh dan mendapati Umma dan Appanya berjalan mendekat diikuti Luhan dibelakang mereka. Kyungsoo sontak melepaskan pelukannya dan menunduk cepat, kedua tangannya berusaha memperbaiki wajahnya yang tampak berantakan.

"Umma..Appa.. mengapa bisa berada disini?"

"tentu saja menyaksikanmu Honey, apalagi?" Taemin terkekeh melihat Kyungsoo yang salah tingkah karena menangis dan memeluk Jongin dihadapan ia dan suaminya, calon menantunya yang pemalu dan takkan pernah berubah—Taemin lebih senang menyebut kekasih anaknya dengan sebutan calon menantu haha. "apa yang terjadi dengan kakimu? Tampaknya Kyungie khawatir sekali."

Tampak semburat merah muncul diwajah Kyungsoo yang menunduk dan kali ini Jongin yang tersenyum kecil, "tak apa umma. Sepertinya hanya terkilir."

"kau yakin?" sambut Minho cepat dan berjalan menuju Jongin dan meremas pergelangan kakinya pelan.

"AKH!" Jongin sontak berteriak merasa nyeri luar biasa dikakinya. Digerakkan sedikit saja begitu sakit apalagi disentuh seperti itu.

"sepertinya ankle mu cedera."

"bagaimana Appa bisa tahu?"

"kau lupa appa mu mantan seorang atlet saat di universitas, huh?" Minho terkekeh pelan melihat Jongin yang menatapnya bingung.

Bagaimana mungkin aku tahu? Sanggah Jongin dalam hati. Namun ia diam saja karena tidak ingin memunculkan perdebatan. Lagipula ia sudah berjanji pada Kyungsoo untuk memperbaiki hubungan dengan orang tuanya.

"naik." Ujar Minho sambil berjongkok dihadapannya.

"huh?"

"naik, Kim. Appa akan menggendong mu ke parkiran."

"m-mwo? Tapi—"

"diluar sangat ramai. Jika memapah mu yang berjalan seperti siput kita akan tiba di rumah sakit saat tengah malam." Ucap Minho sarkatis yang dihadiahi kekehan kecil dari Taemin serta Jongin yang memutar bola matanya kesal.

"tidak."

"hm, padahal ini kesempatan sekali seumur hidup." Balas Minho dan Jongin mendengus,

"tidak akan."

"Jongie~" Jongin mengalihkan pandangannya kearah Kyungsoo yang menatapnya memelas, ia akhirnya menghela napas.

"baiklah."

Jongin diam-diam mengakui bahwa ia tidak menyesal berada di gendongan Minho. Karena akhirnya ia tahu bagaimana hangatnya punggung seorang ayah…

.

Sesuai perkataan Minho, Jongin dinyatakan cedera ankle oleh dokter. Kakinya dibebat dan ia butuh mengistirahatkan kakinya sekitar tiga sampai empat minggu. Ia Juga kelelahan, Jadi dokter memberinya multivitamin dan obat penghilang rasa sakit. Kyungsoo menghela napas, setidaknya ia sedikit lega saat dokter bilang cedera Jongin tidak terlalu parah.

Jongin butuh berbicara dengan orangtuanya, jadi ia membiarkan Taemin dan Minho di kamar apartment Jongin sementara ia berjalan keluar untuk kembali keapartementnya. Kyungsoo berdoa dalam hati agar hubungan mereka bisa lebih terbuka agar tidak lagi terjadi kesalah pahaman.

Kyungsoo sedang berada di koridor apartment saat tiba-tiba pandangannya berputar dengan cepat. Ia terhuyung kedepan namun sepasang tangan pucat menahannya cepat.

"Kyung! Gwenchana?" orang itu membantu Kyungsoo menyandarkan diri disisi tembok dan menunggu Kyungsoo yang sedang memijit pelipisnya pelan dengan pandangan cemas.

Setelah pandangannya kembali focus Kyungsoo dapat melihat Sehun dan Luhan lah yang berada dihadapannya. "Ah. Sehun, Hannie.."

"Gwenchana, Kyungie?" kali ini Luhan yang bertanya sambil menghapus keringat dingin yang mengalir di wajah Kyungsoo dengan sapu tangan.

Kyungsoo hanya mengangguk pelan, "gwenchana..hanya sedikit pusing,"

"ayo kubantu ke apartment mu," ujar Sehun kemudian membopong Kyungsoo menuju apartement nya dan mendudukkannya di sebuah sofa diikuti Luhan yang langsung menuju dapur untuk membuat teh hangat. Luhan sudah pernah bermain ke apartment Kyungsoo jadi dia sudah tahu letak dapurnya.

Kyungsoo mendesah lega saat meminum teh pemberian Luhan dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Pusingnya sudah berkurang dan ia bersyukur Sehun dan Luhan membantunya.

"sudah lebih baik?" Tanya Luhan sambil mengusap kepala Kyungsoo lembut.

"ne..gomawo Sehun, Hannie." Kyungsoo tersenyum kecil menatap mereka berdua.

"eyy cheonma..itulah gunanya teman." Sehun terkekeh pelan. "kalian berdua ini benar-benar. Bagaimana bisa sakit disaat bersamaan, huh?—aw! Hannie~" ia mendesis saat Luhan mencubit lengannya kuat. Luhan menatap Sehun nyalang dengan tatapan 'jangan-membuatnya-merasa-bersalah-pabbo'. Ditatap seperti itu, Sehun hanya memberikan cengiran tanpa dosa.

"Jongin sakit karena menjagaku.." Kyungsoo menatap mereka dengan pandangan sendu. "kalau bukan karena aku—"

"sudahlah, bukan salahmu Kyungie. jangan dengarkan Hunnie pabbo itu. Yang penting sekarang kamu dan Jongin harus istirahat dengan baik, Okay? Aku dan Hunnie akan meminta izin pada Jung Sonsae besok." Balas Luhan cepat dan dibalas anggukan oleh Kyungsoo.

"Hm. Apa Jongin sedang beristirahat, Kyung? Aku ingin memberi tahukan sesuatu." Sehun mengalihkan perhatiaan kedua gadis cantik itu.

"tidak juga, ia sedang berbincang dengan orang tuanya. Ada apa Hun?" Kyungsoo menatap Sehun penasaran sementara namja berkulit pucat itu mengembangkan senyumannya.

"klub dance kita menang—"

"Jinjja?" Kyungsoo memotong dengan ekspresi mata berbinar-binar.

"hum! Juara satu!" Luhan melanjutkan dengan semangat.

"wooah chukkae!" Kyungsoo tersenyum senang dan menepuk kedua tangannya bersemangat. Sepertinya ia sudah lupa dengan rasa pusingnya.

"tentu saja! Jongin berusaha keras memimpin kami dan ia benar-benar menekan rasa sakitnya jadi tak terlalu jelas dimata juri. Lagi pula, siapa yang bisa mengalahkan klub dance dari sekolah seni terbaik di Korea, huh?" seru Sehun bangga kemudian dihadiahi jitakan dari Luhan.

"aish. Hannie!" Sehun mengelus kepalanya yang berdenyut-denyut sementara Luhan mencibir kearahnya.

"dasar sombong."

Kyungsoo tertawa kecil kemudian menatap Sehun dan Luhan bergantian. "kalian dekat sekali, kenapa tidak pacaran saja hm?"

"kami sudah pacaran, kok." Sehun merangkul Luhan sementara gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah.

"Hunnie!"

"benarkah Hannie?" Tanya Kyungsoo sambil membulatkan matanya, kaget.

Luhan mengangguk pelan sementara Kyungsoo dan Sehun tersenyum melihat ekspresinya yang malu-malu. "akhirnya! aku senang mendengarnya haha."

"sebenarnya aku sudah lama bilang bahwa aku menyukainya, tapi ia terlalu malu untuk mengakui perasaannya kepadaku." Ujar Sehun dengan nada menggoda.

"oh jadi ternyata ia sangat menyukaimu namun terlalu malu untuk mengungkapkannya?" Kyungsoo membalas dan terkekeh pelan melihat Luhan yang terlihat kesal.

"hentikan, kalian berdua!"

"jangan malu begitu, Hannie." Sehun mengecup pipi Luhan lembut, namun sebelum gadis itu membalasnya dengan pukulan Sehun kembali berkata. "oh ya Kyung.."

"hm?"

"sampaikan pada Jongin bahwa kami akan mengadakan pesta. Yah..semacam acara kecil-kecilan atas keberhasilan klub dance. Kami akan mengadakannya saat Jongin pulih kembali jadi pastikan kau juga datang, okay? Aku akan memberi tahu tempatnya nanti."

Kyungsoo terdiam lalu mengangguk, "baiklah.."

"kami harus pergi sekarang." Ujar Sehun yang bangkit dari duduknya diikuti oleh Luhan.

"uh? Kenapa cepat sekali?"

"kami ada kencan."

"aish. Kenapa harus diberi tahu." Luhan menggerutu namun Sehun hanya membalas dengan mengenggam tangannya erat.

"ah, baiklah. Hati-hati dijalan ya? Terimakasih juga karena telah membantuku."

"tidak masalah." Luhan tersenyum kecil. "kami pamit ya..istirahatlah dengan baik."

Kyungsoo mengangguk kecil kemudian mengantar Sehun dan Luhan keluar dari pintu apartmentnya, disaat yang bersamaan Taemin dan Minho juga keluar dari apartment Jongin.

"annyeonghaseyo" Sehun dan Luhan membungkuk sopan dibalas senyuman oleh pasangan suami istri tersebut.

"annyeong. Teman Jongie dan Kyungie kah?" balas Taemin dengan ramah.

"ne, ahjumma. Kalau begitu kami permisi dulu. Annyeonghasseyo ahjumma ahjussi, bye Kyungie." Dan akhirnya pasangan kekasih baru itupun menghilang ditikungan.

"Kyungie.." Kyungsoo tersentak saat Taemin memeluknya lembut.

"n-ne umma?"

"umma dan appa sudah berbaikan dengan Jongie. Ia berjanji akan membuka diri untuk kami."

"syukurlah..Kyungsoo ikut senang mendengarnya umma."

"Terima kasih ya sayang, ini karena mu."

"anniyo umma. Itu karena Jongie sendiri yang menginginkan hubungan baik dengan kalian.." Kyungsoo tersenyum lembut dan mengusap punggung Taemin pelan.

Di balik punggung Kyungsoo, Taemin dan Minho saling bertatapan penuh arti dan tersenyum kecil. "baiklah sayang. Umma dan appa harus pergi sekarang." Taemin melepaskan pelukannya dan tiba-tiba Minho memeluk Kyungsoo erat.

"a-appa.." Kyungsoo kaget namun ia membalas pelukan Minho. Kyungsoo tersenyum lebar, pelukan Minho terasa hangat, persis dengan milik appanya. Dipeluk oleh Minho sedikit banyak mengurangi kerinduannya…

"terimakasih ne Kyungsoo-ie. Karenamu Jongin berubah banyak. Dan karenamu appa bisa merasakan bagaimana rasanya punya anak perempuan." Minho terkekeh pelan, ia melepaskan pelukannya dan mengelus rambut Kyungsoo gemas.

"eh? Ne..cheonmaneyo appa." Kyungsoo tampak gugup namun ia tersenyum kecil.

"baiklah kami harus pergi, jaga dirimu sayang. Jangan terlalu memaksakan diri…jika Jongin merepotkanmu, acuhkan saja." Taemin terkikik kecil sambil memeluk lengan kekar suaminya kemudian mereka berdua pergi sambil melambai pada Kyungsoo.

Kyungsoo membalas lambaian tangan Taemin. Setelah mereka menghilang, ia menghembuskan napas lega..setidaknya satu masalah Jongin telah terselesaikan. Ia tersenyum kemudian dengan semangat masuk ke apartment kekasihnya.

.

"Hei." Jongin yang sedang menatap ponselnya mengalihkan pandangan kearah kekasihnya yang masuk sambil membawa segelas air hangat.

"Soo.." Jongin meletakkan ponselnya di meja nakas dan meminum air yang diberikan kekasihnya. Ia mendesah lega saat air mengalir melewati kerongkongannya.

"sudah minum obat?" Jongin mengangguk.

Kyungsoo duduk disampingnya dan tersenyum sumringah. " bagaimana kakimu?"

"lebih baik. Dan lebih baik lagi kalau kamu mau tidur disini malam ini~" Jongin terkekeh pelan melihat Kyungsoo mengerutkan dahinya bingung. Wajahnya tampak sangat lucu jadi Jongin menjawil kecil hidung kekasihnya.

"uh," Kyungsoo mengerang kesal. "aku tidak melihat ada korelasi disana.."

"tentu saja ada, sayang. Keberadaanmu disini membuatku sembuh lebih cepat." Jongin mencuri satu kecupan di pipi gembil Kyungsoo yang merona.

"Jongie~" Kyungsoo menatap kekasihnya kesal namun akhirnya tersenyum sumringah kembali.

"kenapa tersenyum seperti itu, hum?" Jongin menatap Kyungsoo bingung.

"aku dengar dari umma dan appa kalian sudah berbaikan." Senyuman Kyungsoo cerah sekali hingga membuat Jongin ikut tersenyum. "keurae? umma sudah bilang padamu?

"hum." Kyungsoo mengangguk semangat. Jongin tersenyum lembut dan menepuk spasi kosong disampingnya agar Kyungsoo duduk disana. Kyungsoo menuruti tanpa cemas kaki Jongin tersenggol olehnya. Kasur itu cukup besar jadi mereka bisa dengan leluasa bergerak.

Jongin menarik lembut kepala Kyungsoo agar menyandar dibahunya. Ia mengelus rambut Kyungsoo dengan tangannya. "mengapa kamu terlihat sangat senang? Apa ada sesuatu?"

Kyungsoo mengangguk antusias, "kamu pasti akan sangat senang mendengar ini…"

"apa itu?" balas Jongin sambil menggenggam tangan kekasihnya lembut.

"kalian memenangkan kompetisi!" pekik Kyungsoo senang. Ia pikir Jongin akan sama antusias dengannya namun ternyata namja itu hanya tersenyum kecil melihatnya yang terlalu bersemangat .

Kyungsoo sontak menatap kekasihnya bingung, "kamu tidak senang, Jongie?"

"tentu saja aku senang, sayang."

"lalu?"

"aku tidak terlalu kaget karena aku sudah sering menang bersama klub dance." Jongin melipat kedua tangannya didada dan memasang ekspresi angkuh yang dibuat-buat. Dia pikir Kyungsoo akan menatapnya sebal namun yeoja itu malah menatapnya dengan pandangan berbinar.

"benarkah itu?"

"tentu saja." Jongin tertawa kecil. Ternyata kekasihnya memang selalu terpesona oleh dirinya haha.

Kali ini Kyungsoo menatapnya kecewa, "tapi ini pertama kalinya aku menyaksikanmu…"

"tak masalah. Masih ada kompetisi lain, sayang."

"...dan saat pertama kalinya aku menonton kamu malah terluka." Kyungsoo menundukkan kepalanya.

"hei..." Jongin menyentuh dagu kekasihnya agar kembali menatapnya. Ia menyatukan kening mereka dan menatap mata purnama itu dengan tatapan lembutnya seperti biasa. Ia dapat melihat berbagai macam perasaan yang tergambarkan oleh mata Kyungsoo. Senang, cemas, kecewa, semuanya berbaur menjadi satu. Jongin tersenyum kecil, jarak mereka yang begitu dekat membuat semburat merah muncul di kedua pipi kekasihnya.

"sudah kukatakan padamu, kan. Jangan menyalahkan dirimu Soo~ aku terluka murni kesalahanku yang terlalu ceroboh. Dan aku kelelahan murni karena aku ingin menjaga gadis yang aku cintai saat ia sedang sakit. Jangan seperti ini lagi atau aku akan marah, Okay?"

"baiklah. Aku—" perkataan Kyungsoo terhenti saat Jongin mencium bibirnya lembut. Menyalurkan perasaan sayangnya kepada gadis itu. Sejak awal Kyungsoo adalah cinta pertamanya, Kyungsoo lah satu-satunya gadis yang menarik atensinya dan hanya dialah satu-satunya yang diinginkan Jongin untuk berada disisinya.

"saranghae.."

Kyungsoo tersenyum manis, "Nado, Jonginnie..nado saranghae.."

"Soo.."

"Hm?"

"kamu tidak lupa dengan janjimu, kan?"

"tentu saja tidak. Waeyo? Kamu ingin menagihnya? Kamu berjanji padaku tidak akan meminta yang aneh-aneh." Balas Kyungsoo cepat.

"aniyo." Jongin terkekeh pelan,"aku tidak akan menagihnya sekarang, setidaknya tidak saat ini."

"apa itu? Aku ingin tahu."

"tentu saja rahasia."

Kyungsoo menatapnya kesal lalu menghela napas, "baiklah~ oh ya tadi Sehun bilang klub dance akan mengadakan pesta karena kalian menang. Ia bilang mereka akan menunggumu sembuh dahulu baru akan menentukan tempatnya."

"keurae?" Jongin mengangguk senang, sepertinya ia memikirkan suatu rencana di kepalanya.

"hm! Tapi aku disuruh Sehun untuk ikut padahal kan aku bukan anggota klub Jongie~"

"tapi kan kamu nyonya ketua klub sayang." Balas Jongin sambil tertawa kecil.

"nyonya ketua klub?" Kyungsoo membulatkan matanya, "itu panggilan yang aneh." Kemudian ia tertawa mengikuti Jongin.

"biasanya mereka akan mengundang orang-orang yang ikut andil dalam latihan." Ujar Jongin menjelaskan.

"tapi aku tidak ikut andil apapun." Kyungsoo menyanggah pendapat kekasihnya.

"siapa bilang?"

"hm?"

"kamu memegang andil paling kuat."

"kenapa begitu?"

"karena kamu sumber semangat ku, sayang~"

"…" Kyungsoo hanya diam, sepertinya gadis itu kehabisan kata-kata menanggapi ucapan kekasihnya.

Jongin tersenyum kecil dan merangkul Kyungsoo dari samping, "aku mengantuk, ayo kita tidur." Ia mulai berbaring dan memejamkan matanya, sepertinya ia mengantuk karena efek obat mulai menyerangnya.

"baiklah." Kyungsoo ikut berbaring di sebelah kekasihnya. Jongin sontak memeluknya dan memposisikan dirinya dengan nyaman. Kyungsoo tersenyum lembut dan ikut memejamkan matanya.

"mimpi indah, sayang."

.

A month later

Kyungsoo menatap ponselnya dengan pandangan bosan. Ia sedang menunggu Jongin di kelas karena namja itu bilang ada urusan dengan panitia festival sekolah. Ia mengalihkan pandangannya kearah jendela disampingnya. Ada beberasa siswa yang bermain basket dilapangan, hari sudah cukup sore jadi hanya ada sedikit siswa yang masih beraktivitas disekolah. Tadinya Kyungsoo ingin pulang lebih dahulu dengan menaiki bus tapi Jongin melarangnya. Semenjak dirinya sakit waktu itu, Jongin selalu membawa mobilnya kesekolah. Asalannya karena ia tidak ingin Kyungsoo kelelahan, dan ia tidak punya pilihan selain menuruti kekasihnya itu.

Bruk

Kyungsoo menoleh saat mendengar suara pintu belakang kelas bergeser pelan. Ia melihat Sehun masuk dengan sebuah earphone di telinganya. Ia berjalan santai memasuki kelas dan mengambil tas di kursinya. Sehun seketika terkaget saat melihat Kyungsoo menatapnya.

"ah. Kyung! Kau mengagetkanku. Aku kira sudah tidak ada orang dikelas."

Kyungsoo tersenyum kecil, "Mian hehe. Sehunnie melihat Jongie?"

"Jongin yah.." Sehun memasang ekspresi berfikir, "em—aku tidak tahu Kyung."

"tapi tadi ia bilang akan menemui panitia festival bersamamu." Kyungsoo mengerutkan dahinya, bingung.

"ah jinjja? Mungkin ia masih ada urusan lain Kyung—"

"Hunnie cepatlah! Kita masih harus ke café—Oh. Hai Kyungie!" Luhan tiba-tiba berlari masuk kekelas dan menghampiri Sehun. Ia yang sedang berbicara juga tiba-tiba kaget saat mendapati Kyungsoo berada di dalam kelas. Hampir saja keceplosan, batinnya.

"Hai Hannie! Apa kamu melihat Jongie?"

"Jongin? A-aku tidak tahu Kyungie. Kami duluan yah, Sehun harus menemaniku berbelanja. Bye!" Luhan melambaikan tangannya sambil menarik Sehun keluar dari ruangan kelas.

Kyungsoo masih menatap kepergian mereka berdua dengan bingung. "Belanja? Bukannya tadi Hannie bilang ingin ke café? Ah molla~" Kyungsoo menghela napas. "mereka berdua aneh sekali."

Kyungsoo menyandarkan kepalanya ke meja dan memejamkan mata merasakan angin sore menerpa wajahnya. Menunggu Jongin begitu lama membuatnya mengantuk…

.

Kyungsoo menatap pantulan dirinya di cermin. Ia kini sedang memakai dress tanpa lengan dibawah lutut berwarna putih dengan aksen renda dibawahnya. Rambut hitam bergelombangnya ia kepang dengan model menyamping. Wajahnya ia poles dengan make up tipis dan lipgloss merah muda. Ia tersenyum kecil, akhirnya selesai juga, batinnya.

Ddrrrt

Ponselnya bergetar di meja nakas. Kyungsoo bergegas mengambilnya dan melihat nama kekasihnya tertera disana.

"yobosseyo Jongie."

"Soo..kamu sudah selesai berdandan?"

"eum." Kyungsoo reflek mengangguk walau Jongin disana tidak mengetahuinya. "baru saja selesai. Waeyo? Kita pergi sekarang?" Kyungsoo bertanya sambil melirik jam dinding, sudah pukul 18.30 ternyata.

"hm..begini.."

"waeyo?"

"aku baru saja dihubungi oleh panitia festival, mereka bilang ada sedikit masalah jadi aku diminta untuk kesekolah sekarang. Gwenchana?"

"saat malam seperti ini? Gwenchana. aku akan menunggu Jongie."

"ah tidak. Sehun akan menjemputmu, bagaimana? Setelah selesai aku akan menyusul kesana.."

"tidak baik merepotkan Sehun terus menerus Jongie..aku akan menunggumu saja, Oke?"

"tidak masalah, sayang. Dia juga akan senang kok. Lagi pula aku tidak ingin membuatmu menunggu begitu lama."

Kyungsoo menghela napas, "baiklah."

"Soo..kamu marah padaku? Mianhae." terdengar nada kekhawatiran diseberang sana. Kyungsoo terkikik kecil,

"tentu saja tidak, Jongie."

"Syukurlah. Oh ya, Sehun dan Luhan akan tiba lima belas menit lagi."

"Baiklah. Jongie hati-hati dijalan."

"oke sayang, saranghae."

"nado."

PIP

Kyungsoo tersenyum kecil, dia takkan pernah bisa menentang keinginan kekasihnya, tentu saja. Karena apapun yang di inginkan oleh Jongin untuk kebaikannya juga.

.

"nah, sudah sampai." Sehun menghentikan mobilnya di sebuah café. Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung disuguhi oleh pemandangan lamu taman yang berkelap kelip. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju pintu masuk café.

"Ah!" Luhan tiba-tiba memeriksa tas tangannya dengan panic.

"waeyo Hannie?" Sehun dan Kyungsoo menatapnya bingung.

"sepertinya aku meninggalkan ponselku di mobil. Otthokae? Hunnie temani aku kembali kemobil yaa~ please..jalan menuju parkiran gelap sekali. Aku takut!" Luhan mengguncang lengan kekasihnya dan memberikan tatapan memohon.

Sehun terkekeh kecil, "baiklah. Aku akan menemanimu," ia kemudian menoleh kearah Kyungsoo dan tersenyum. "Kyung, kau duluan saja, oke?"

"baiklah." Kyungsoo mengangguk dan melanjutkan jalannya.

Tempat ini berbeda dengan café yang biasanya dikunjungi oleh Kyungsoo bersama Jongin. Untuk memasuki café ini, ada jalan kecil yang ditumbuhi tumbuhan merambat diatasnya. Bunga bunga mawar serta tulip yang bewarna warni tumbuh dengan cantik dan Kyungsoo merasa sungguh ingin mencabut satu saja.. namun itu tidak mungkin ia lakukan.

Ia tiba dipintu masuk dan disambut oleh seorang pelayan bertubuh tinggi dan berambut pirang. Ia memakai topeng kelinci diwajahnya dan jas hitam berekor panjang.

"Selamat datang, Alice!"

Kyungsoo menyipitkan matanya berusaha mengenali namja dihadapannya, "..Zelo Hoobae?"

Namja bertopeng kelinci itu terkikik geli. "pangeran sudah menunggu Alice! Masuklah!" ia melakukan gesture tangan seolah menyuruh Kyungsoo untuk masuk dengan sopan. Namun Kyungsoo masih menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Mereka sedang mengadakan konsep wonderland atau apa? Mengapa Kyungsoo tidak diberi tahu oleh Jongin? Lagi pula mengapa ia dipanggil Alice? Ia kan tidak mengenakan kostum seperti didongeng-_-

"huh?" ada banyak pertanyaan dikepalanya namun hanya kata itulah yang terucap di bibir Kyungsoo.

"…" tak ada jawaban dari si kelinci—atau Zelo?—ia masih terkikik kecil jadi Kyungsoo memutuskan untuk mengikuti perintahnya. Ia mendorong pintu kayu yang cukup besar dihadapannya. Pintu itu cukup berat, namun setelah Kyungsoo berusaha mendorong dengan tenaganya, akhirnya pintu itu terbuka.

Brak

Kyungsoo terperangah kaget dengan pemandangan dihadapannya. Ruangan café yang cukup luas disulap menjadi sebuah hall pesta dansa. Didukung dengan dekorasi yang sangat indah khas negeri dongeng. Semua orang sedang berdansa dengan masing-masing pasangannya mengikuti lantunan music waltz. Mereka semua memakai topeng dan Kyungsoo seketika tertegun. Ia seperti merasa de javu saat pesta pertunangan Kibum ahjussi dan Soojung ahjumma dulu.

Semua gadis yang sedang berdansa memakai gaun panjang yang indah dan Kyungsoo langsung merutuki dirinya yang tidak tahu konsep pesta—ia lihat Luhan juga bergaun panjang. Sehun bilang hanya pesta kecil-kecilan namun ternyata pesta dansa, huh—dan pergi tanpa Jongin. Karena hal itu hanya ia bisa berdiam diri didekat pintu masuk dan menatap sekeliling.

"Hei Alice! Mari berdansa!"

"m-mwo? Tapi aku bukan—" seseorang menarik tangannya pelan dan membawa Kyungsoo ketengah ruangan. Laki-laki itu berambut blonde dengan model potongan belah tengah yang pas dengan struktur wajahnya, tubuhnya lebih pendek dibandingkan Zelo dan Jongin. Hm..Kyungsoo rasa ia tidak mengenal namja ini.

Laki-laki itu menuntun Kyungsoo untuk berdansa waltz dengan pelan. Untung saja Kyungsoo bisa mengimbanginya dengan baik namun ia masih bertanya-tanya sambil menatap namja itu. Ada apa dibalik semua ini?

KLIK

Lampu ruangan tiba-tiba padam dan lagi Kyungsoo merasakan de javu. Lelaki yang tadi berdansa dengannya melepaskan tangannya menjauh dan meninggalkan Kyungsoo begitu saja dalam kegelapan. Kyungsoo berusaha tetap tenang namun tiba-tiba seseorang membekap mulutnya. Kyungsoo meronta namun ada tangan-tangan lain yang mencoba memasangkan sesuatu padanya. Kyungsoo akhirnya menyerah dan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.

Lampu tiba-tiba menyinarinya membuat Kyungsoo menerjapkan pandangannya, ia melihat ada sekitar lima orang gadis bertopeng disekitarnya. Ia mendapati tubuhnya dipasangi jubah putih panjang yang cantik. Kyungsoo meraba kepalanya, terdapat sebuah mahkota dari dedaunan dan bunga. Kyungsoo menatap gadis gadis yang tersenyum itu dengan bingung. Jika memang acara ini untuknya, memangnya ia melakukan apa? Ia tidak ikut kompetisi dance itu—tentu saja. Dan ia juga tidak ulang tahun hari ini.

Seorang gadis cantik bertopeng mendekatinya. Ia memakai gaun berwarna merah muda dan membawa sebuah buket mawar putih kemudian menyerahkannya kepada Kyungsoo. Kyungsoo menerimanya dan mengerutkan dahinya menatap gadis itu.

"Hannie?" tunggu. Bukankah Luhan tadi bilang ia akan ke parkiran bersama Sehun?

Gadis itu tidak membalas. Ia tersenyum kepada Kyungsoo dan menjauh dari tengah ruangan diikuti kelima gadis lainnya.

Tiba-tiba terdengar music mengalun, enam orang lelaki berjas hitam datang mendekati Kyungsoo. Diantara mereka ada lelaki yang tadi berdansa dengannya. Mereka mengelilingi Kyungsoo dengan bentuk lingkaran dan melakukan koreografi yang sama

Dialah kekasihku
Aku meleleh seperti coklat, ditangan putihnya
Kau berjalan kearahku, oh yeah

Dialah kekasihku
Seperti seorang budak aku terpesona oleh bibirmu
Untuk kesekian kalinya aku terjatuh olehmu
Aku akan berlari menuju hatimu, oh yeah..

Tunjukan padaku, sosok indahmu (jangan berbohong)
Jika kau jujur padaku (semua ini akan mudah)
Akan tercipta sebuah harmoni baru, yang belum pernah kau rasakan
Jangan terlambat!

Para lelaki itu mundur menyisakan seseorang dihadapan Kyungsoo. Seorang lelaki yang memakai jas dan jubah berwarna putih. Ia mengenakan topeng yang juga berwarna putih. Tidak salah lagi, dari gerakannya. Rambutnya..tubuhnya.. Kyungsoo sangat tahu bahwa ia adalah kekasihnya, Kim Jongin.

Bukan seorang teman
Aku ingin menjadi kekasihmu
Aku tidak sama dengan yang lain
Aku hanya seseorang yg ingin melindungimu

Bukan seorang teman
Sejak pertama aku melihatmu
Hanya satu yang bisa kukatakan
Sayang, hanya dirimu

Jongin menari kearahnya, menggenggam sebelah tangan Kyungsoo, menciumnya lembut dan tersenyum.

Semua tergambar jelas diatas meja, terungkap tidak karuan
Aku begitu berdebar dan canggung mengakui cinta ini
Apa kau siap untuk cinta ini?

Lebih indah dan berharga dari berlian, begitulah matamu
Disanalah, aku bermimpi untuk bersamamamu

Kyungsoo merona, ia menundukkan kepalanya malu. Jongin masih dengan tariannya tiba-tiba menarik dagu Kyungsoo untuk menatap wajahnya. Lagi, walaupun terhalang oleh topeng, bisa ia lihat pancaran lembut dari mata lelaki itu.

Jangan pura – pura tidak tahu
Angkat kepalamu dan tataplah aku
Jangan hindari mataku
Aku tidak akan pernah menyerah untukmu

Hampirilah aku lebih dekat lagi (jangan berhenti)
Saat kupeluk dirimu (semuanya akan baik – baik saja)
Melodi mengalir indah menggelitik telingaku, Jangan terlambat

Bukan seorang teman,
Sayangku
Tidak akan pernah cukup untuk mengatakan ini
Sayangku, cepenuhnya cintaku untukmu

Dialah kekasihku
Dalam sentuhan tangan putihnya

Lagu berhenti dan Jongin mengakhiri gerakannya sembari menundukkan tubuhnya dihadapan Kyungsoo. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan membukanya, tampak sebuah cincin berwarna perak dengan lima permata putih diatasnya. Kyungsoo sontak tertegun.

"Jongie—"

"Do Kyungsoo." Jongin ingin tersenyum melihat wajah kekasihnya yang masih menatap dengan pandangan blank. Tapi kali ini ia tidak bisa tersenyum. Ini benar-benar saat yang paling penting dalam hidupnya. Bahwa ia—

"maukah kamu bertunangan dengan ku?"

—ingin mengikat kekasihnya kedalam hubungan yang lebih serius.

Kyungsoo menatap Jongin kaget. Tentu saja—ia tidak pernah berfikir akan mendapat kejutan seperti ini. Jongin mengajaknya bertunangan?

"Jongin.."

"aku menagih hadiahku, sayang. Yang kuinginkan adalah menjadi terikat denganmu..aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku memilikimu. Saat aku sudah menjadi lelaki yang pantas aku akan menjadikanmu satu-satunya wanita yang akan berada disisiku hingga akhir." Jongin tersenyum masih menunduk. Ia tahu Kyungsoo pasti kaget, Jongin memaklumi hal itu. Yang sebenarnya Kyungsoo tidak tahu..bahwa Jongin telah merencanakan hal ini sejak saat ia telah berbaikan dengan orang tuanya. Jangan ditanya bagaimana reaksi Taemin dan Minho, tentu saja mereka sangat senang. Jongin bahkan sudah membicarakan hal ini dengan umma Kyungsoo—tanpa sepengetahuan gadis itu tentu saja—wanita itu hanya tersenyum dan mengatakan ia sangat senang karena Jongin adalah lelaki yang sempurna untuk anak gadisnya.

"….." Kyungsoo menatap Jongin dengan mata berkaca-kaca namun tidak mengatakan apapun.

"…..baiklah. Tidak masalah jika kamu tidak bisa melakukannya sekarang." Jongin menghela napas pelan, ia pasrah jika Kyungsoo menolaknya. Haah mungkin memang ini terlalu cepat untuknya, Jongin hanya berharap dalam hati agar Kyungsoo tidak membencinya setelah ini.

"….tidak mungkin."

Jongin mendongak dan mendapati Kyungsoo tersenyum lembut menatapnya. "huh?"

"tidak mungkin bagiku untuk menolakmu, Jongie."

Jongin tanpa mengatakan apapun langsung merengkuh kekasihnya erat. Rasa kecewa langsung hilang tak berbekas digantikan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia mengecup puncak kepala Kyungsoo dan diam-diam berterimakasih kepada Tuhan karena telah memberikannya kebahagian yang luar biasa.

Jongin melepaskan pelukannya dan memasangkan cincin tersebut kejari manis Kyungsoo dan menciumnya lembut. Kyungsoo melakukan hal yang sama, ia memasangkan cincin perak—dengan model persis miliknya namun tanpa permata—ke jari Jongin. Jongin seketika memberikan ciuman penuh rasa cinta kepada bibir kekasih—coret—tunangannya itu. Kyungsoo yang baru menyadari bahwa ia lagi-lagi menjadi objek perhatian itu memejamkan matanya dengan pipi merona.

"Saranghae Kim Kyungsoo.."

"nado saranghae Kim Jongin." Kyungsoo terkekeh pelan,"hei. Aku belum menjadi seorang Kim."

"setidaknya dalam waktu dekat hal itu akan terjadi."

Tiba-tiba terdengar tepukan meriah dan Kyungsoo menatap sekeliling dengan bingung. Ia baru saja mendapati Ummanya serta kedua orangtua Jongin berada disana. Kibum ahjussi dan SooJung ahjumma—yang telah menikah—juga turut hadir malam itu. Bahkan beberapa teman dekatnya disekolah juga ada.

"ku kira ini adalah pesta klub dance?" Tanya Kyungsoo sambil menerjabkan matanya melihat betapa ramainya orang-orang yang bersorak senang untuk mereka. Ia sesekali menunduk dan mengucapkan terimakasih dengan rona wajah bahagia.

"kalau begitu kamu telah tertipu." Jongin tersenyum kecil dan merangkulnya.

"ALRIGHT! LET'S START THE PARTYYY!" seru seseorang dan dimulailah pesta yang menyenangkan dan penuh suka cita malam itu.

.

EPILOG

Five years later

Kyungsoo menatap langit malam yang bertabur bintang dengan pandangan berbinar. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan karena telah memberinya kesempatan kedua untuk melihat dunia. Langit malam merupakan salah satu hal yang paling di sukainya. Angin dingin yang berhembus tak menghalangi gadis itu untuk menikmati kerlap kerlip bintang diatas sana.

"Soo.." Kyungsoo merasakan hangat dibahunya karena seseorang menaruh jaketnya disana. Kyungsoo berbalik dan mendapati Jongin tersenyum kearahnya.

"Jongie."

"melihat bintang tanpa mengajak ku, hum?" Jongin memeluk tunangannya dari belakang sambil mendongak menatap langit malam yang indah.

Kyungsoo terkekeh, "bukankah kita dilarang bertemu untuk sementara waktu?" ia mengusap lembut lengan Jongin yang melingkar di perutnya.

"Kamu tahu aku takkan bisa melakukan hal itu." Jongin mengerang frustasi sambil mencium pipi Kyungsoo dari samping. "aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu sedang melakukan apa. Aku menghubungi ponselmu tapi tidak diangkat. Jadi aku mencarimu dan menemukan mu disini."

"mianhae."

"gwenchana~ tidak dingin, hm? Angin disini berhembus sangat kencang."

"tapi sekarang tidak lagi karena Jongie memelukku." Kyungsoo tersenyum, Jongin ikut tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo.

"apa kamu gugup untuk esok hari?"

"eum." Kyungsoo mengangguk, "oleh karena itu aku menenangkan diri disini."

"tidak perlu gugup sayang,"

Kyungsoo membalikkan tubuhnya dan menatap Jongin penasaran, "Jongie tidak gugup?"

"tentu saja tidak, karena besok adalah hari yang paling membahagiakan di hidupku. Aku akan menjadikanmu seorang Kim yang sah." Kyungsoo terkikik saat Jongin mencium pucuk hidungnya gemas.

"…"

"Jongie~"

"hm?"

"aku tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini." Kyungsoo mengalihkan pandangannya kedepan dan menatap langit.

"…."

"bertemu denganmu, menjalin kasih denganmu, hingga esok hari kita akan menikah..semuanya terasa begitu cepat."

"apa kamu bahagia?"

"tentu saja aku bahagia. Kamu adalah lelaki yang luar biasa dan selalu menjagaku, aku merasa menjadi seorang gadis yang paling beruntung Jongie~" Jongin membalikkan tubuh Kyungsoo agar menatapnya.

"aku berjanji akan selalu disisimu dan menjagamu sebaik mungkin Soo." Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan tegas, tampaknya ia sangat serius akan janji yang diucapkannya.

Kyungsoo menangkup wajah Jongin dengan kedua tangannya dan menatap tunangannya dengan pandangan lembut, "aku juga berjanji Jongie..aku akan selalu disisimu dalam keadaan apapun. Dalam saat membahagikaan atau saat sedih, aku akan berusaha mendapingimu." Ia mencium bibir Jongin dengan lembut dan menutup matanya. Jongin kaget namun akhirnya ia tersenyum dan ikut menutup kedua matanya.

"aku mencintaimu..sangat mencintaimu.."

.

Bermula dari sebuah ketidak sengajaan…

Saat itu Kim Jongin dipindahkan oleh orang tuanya kesebuah apartement di kawasan gangnam. Ia menuruti keinginan orangtuanya dengan rasa enggan. Namun saat malam hari ia hendak berjalan-jalan keluar, ia melihat seorang gadis keluar dari pintu apartment di hadapannya.

Gadis itu mengalihkan atensi Jongin sepenuhnya. Kulitnya yang putih..tubuhnya yang mungil..dan mata purnamanya yang begitu cantik..

Jongin rasa ia tidak akan menyesali keputusan orang tuanya kali ini.

Namun gadis itu tidak menyadari Jongin,

Karena mata itu hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

Jongin merasakan hatinya terenyuh, jantungnya berdetak dengan menggila serta wajahnya memanas. Tanpa ia sadari.. tubuhnya berjalan mengikuti gadis itu dibelakangnya, memastikan gadis itu akan baik-baik saja dalam perjalanannya kesuatu tempat. Karena Jongin tahu, sejak saat itu..

Ia bersumpah akan tetap berada disisi gadis itu.

.

.

Stay Beside (END)

Finally~~ /keprok keprok bahagia/ akhirnya selesai juga^^ semoga akhirnya tidak mengecewakan ya! Dan maaf agak lama hehe ;)

Special thanks to:

Alkey PCY, Brigitta Bukan Brigittiw, KaiSoo Shipper, wanny, ruixi, KaiSoo Fujoshi SNH, Kyungie22, sehunpou, younlaycious88, yixingcom, Teleporters Earthlings, Syifaslsb, zoldyk, yukasa kisaragi, mrblackJ, Shim Yeonhae, Kaisoo, Desta Soo, , NH, Kaisoo32, cintialadyanggr

-ltmsjh