A/N: Hyaoo, minna! Kami berdua kembali lagi dalam chapter dua. Terima kasih banyak untuk respon kalian semua, entah di facebook atau melalui review, kami benar-benar senang membaca dukungan-dukungan dari kalian, desu! Ehehe, rata-rata masih belum bisa comment karena masih prolog, ya? Kami rasa alurnya lambat, apa betul? Kami belum terbiasa mendeskripsikan adegan action, jadi kalau ada yang salah, jangan sungkan memberitahunya *menunduk-kepada-semua-pembaca* Tidak berlama ini, here we are!
Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₂ Can You Read the Book, please?
Di sebuah tempat yang sulit terjangkau oleh manusia awam, seseorang termenung. Ruangan dimana ia berada cukup besar, dengan berbagai layar automatic yang menghiasi setiap sudut. Suasananya begitu hening, tidak ada suara-suara kecil sama sekali. Sekalipun dari layar monitor, ataupun suara yang diciptakan figur itu sendiri. Ia hanya diam.
Ya, hanya diam. Tanpa melakukan pergerakan yang bearti. Sekalipun tidak ada tali maupun rantai yang membelenggu tubuhnya, tapi ia hanya diam bagaikan mayat yang diawetkan. Sesekali ia menghela nafas, tanpa menciptakan suara tentunya. Kali ini giliran kedua bola matanya yang bergerak, memandangi salah satu layar yang terpampang jelas di hadapannya.
Kedua pupil matanya memandang intens di satu layar, tanpa berkedip sedikit pun. Layar itu―atau lebih tepatnya adegan yang terpampang di layar itu yang membuatnya begitu serius dan berkonsentrasi. Kedua bola matanya memandang lekat-lekat sudah seperti ingin keluar dari kelopak matanya saja.
Ia terus memandang layar itu, entah sampai kapan ia merasa bosan. Tanpa sadar salah satu kuku tangannya menancap di sisi kursi yang didudukinya, yang terbuat dari kayu. Kukunya yang terbilang panjang pun akhirnya menciptakan suara pertama sejak keheningan melanda ruangan itu.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Ah, aku sudah kenyang," kata Aichi mengakhiri makan malamnya. Shizuka, ibunya, yang juga hadir dalam meja makan pun melirik ke arah piring makan anaknya. Tidak habis. Ia memiringkan kepalanya bingung dan menatap punggung putranya yang sudah menghilang di tangga.
"Aichii~, tumben kau tidak menghabiskan makanmu?" seru Shizuka membuat langkah kaki Aichi yang terdengar jelas dari lantai atas pun berhenti. Kemudian Aichi kembali turun, sekedar untuk menjawab.
"Aku sudah kenyang, tadi sore sudah ditraktir kakek makan Suzhi Ramen~," jawab Aichi dengan senyum cerianya. Shizuka melongo, tidak menyahut balik jawaban Aichi sementara putra kesayangannya itu kembali lenyap seperti jet.
"Ramen? Bukannya itu makanan yang tidak disukainya?" guman Shizuka seorang diri. Menghela nafas sejenak, ibu berkepala tiga itu pun kembali melanjutkan makan malamnya. Shizuka berhenti mengunyah tatkala melihat jam dinding rumahnya yang menunjukan pukul sembilan malam.
Ia menghela nafas, seharusnya ia dan Aichi tidak makan malam selarut ini, tadinya ia berpikir untuk menunggu suaminya pulang terlebih dahulu. Tapi sampai jam delapan malam pun, suaminya belum menunjukan batang hidungnya di rumah. Ditelepon juga tak diangkat. "Hah, kemana dia, sih?" gerutu Shizuka sembari mencubit pipinya yang tergolong kencang untuk wanita seumurannya.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"YAHOOO!"
Aichi bersorak gembira sembari memeluk buku tua dengan suka cita. Pemuda yang sudah kelas tiga SMU ini sampai meloncat-loncat di ranjangnya. Betapa gembiranya ia hari ini, bisa memegang buku sihir seperti sekarang tidak pernah terbayangkan oleh Aichi sebelumnya. Diantara haru, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
'Kakek memang yang terbaik! Mungkin kalau dia datang lagi kesini, aku akan mentraktirnya sesuatu, hehehehe...' Aichi cengengesan sendiri. Sudah seperti anak yang baru mendapat sepeda setelah sekian lama dibonceng. Puas meloncat-loncat sendiri di ranjangnya, pemuda bersurai biru ini pun berhenti karena faktor kelelahan.
Rupanya ia masih bisa merasakan capek juga.
"Hiuh..." Aichi pun berbaring telentang, ia mengangkat buku tua itu dengan kedua tangannya. Kedua manik birunya menatap buku tersebut dengan binaran senang. Cukup lama ia pada posisi, entah apa yang dipikirkan Aichi selama berpose seperti itu.
Hup.
Kini Aichi bangkit berdiri dari ranjangnya dan duduk di kursi belajar, beserta buku tua itu tentunya. Pemuda ini sudah tak sabar membacanya, terlihat jelas tadi sampai tidak menghabiskan makan malamnya hanya demi mempersingkat waktu untuk membaca buku tua. Mungkin ibunya bisa marah besar kalau ia sampai berbohong hanya demi baca buku.
"Baiklah, kumulai dari cover-nya~," Aichi mulai meletakan buku itu dengan posisi baca orang Jepang. Yaitu dari kanan. Sontak kedua mata biru Aichi membulat panik karena tidak menemukan sepatah kata pun disana. Ia mengernyitkan dahinya. "Lh-Lho, tidak ada judulnya?"
Kemudian Aichi memutar posisi buku menjadi dibaca dari kiri. Dan dari sanalah ia menemukan pencerahan, Aichi menemukan judulnya yang tak tertulis besar disana. Rupanya pembuat buku ini tidak berasal dari Jepang? Bagaimana bisa kakeknya itu mendapatkannya? Bahkan kemungkinan besar dari barat.
"Ehm, bacanya... Sai... phos? Xaiphos?" Aichi memiringkan kepalanya imut, sudah seperti anak TK yang ingin belajar membaca.
'Oh, jadi judulnya Xaiphos? Tapi aku tidak mengerti apa itu, dan siapa tahu intonasi pembacaannya berbeda. Tapi, ya, sudahlah. Lambat cepat, aku akan tahu apa itu,' pikirnya dengan polos. Kemudian Aichi mengelus sampul buku yang ikut termakan usia. Hatinya deg-degan. Dengan perlahan, Aichi pun membukanya. Namun pemuda enam belas tahun itu langsung berhati-hati begitu buku itu sedikit mengeluarkan bunyi saat Aichi mencoba membuka sampulnya.
Ngek.
'Benar-benar sudah tua,' batin Aichi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Berapa umur buku ini kira-kira? Sepertinya ia harus ekstra berhati-hati untuk membuka satu halaman ke halaman lainnya. Karena kalau sampai robek, mungkin ia sudah dijadikan pohon cemara keesokan harinya.
Halaman pertamanya,
―kosong.
Tidak ada satu katapun disana. Aichi menautkan alisnya bingung. Lalu ia beralih pada halaman berikutnya, ada sebuah kata yang berbentuk simbol-simbol. Terdiam sesaat, lalu pemuda bermanik biru itu menyunggingkan senyumnya. "Bahasa Yunani kuno, boleh juga. Ehm... ini bacanya juga Xaiphos."
Berikutnya, halaman ketiga, sontak membuat Aichi membulatkan kedua matanya terkejut. Tulisannya tidak sebesar dengan yang ada di halaman kedua, tapi halaman kali ini memakai bahasa inggris. Bukannya Aichi tidak mengerti bahasa internasional satu itu, tapi ia merasa sedikit janggal. Apa dunia sihir juga mengerti bahasa inggris?
'Tadi tulisan Yunani kuno, lalu sekarang memakai bahasa inggris? Apa penerbitnya sengaja melakukannya agar bisa dimengerti banyak orang yang membacanya?'
Tapi kemudian ia memeletkan lidahnya dalam artian 'masa bodo' atau 'bodo amat'. Yang penting, Aichi sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana isinya. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, ia pun mulai membacanya, dengan perlahan tentunya, berhubung ia tidak mendalami kosakata bahasa Inggris sampai sepandai bule-bule.
'Xaiphos bukan manusia, tapi mereka yang akan melindungi dunia.' bacanya dalam hati, dengan telunjuk tangan kanan yang ikut menuntun bacanya. Rupanya penulis buku ini boros, di satu baris hanya bermuat satu kalimat. Sementara kalimat berikutnya ditulis di baris berikutnya, begitu pikir Aichi.
'Xaiphos adalah sumber harapan baru di dunia kami. Xaiphos dan makhluk hidup saling berdampingan. Xaiphos akan terus bernafas dengan kebajikan dan keadilan yang mendarah daging di dalam mereka.' Selesai membaca sampai baris ke-empat, Aichi mengernyitkan dahinya. Ia tidak menangkap apa isi buku. Dari awal, buku ini sudah membahas kata Xaiphos, tapi tidak ada keterangan apa itu―
"Oh, rupanya ada di bawahnya, hehehehe," Aichi nyengir sendiri begitu menyadari kebodohan dirinya. Ternyata yang dibutuhkannya bertepatan di bagian bawah halaman. Ia pun mencoba melanjutkan bacanya lagi, ke baris ke-lima.
'Xaiphos adalah makhluk superanatural yang bentuknya hampir serupa dengan manusia. Keberadaan mereka tak lebih dari dongeng dan lelucon belaka, untuk beberapa tahun yang lalu. Tapi sekarang mereka hidup, mereka berdampingan dengan manusia layaknya makhluk hidup lainnya. Kekuatan mereka bagaikan dewa yang menghangatkan dunia kami dari terpaan badai kejahatan... Keren sekali makhluk ini? Kira-kira seperti apa bentuknya, ya?' tanpa sadar, pemuda penggila sihir itu tersenyum. Ia mulai tertarik sekarang.
'Xaiphos pasti turun dari surga untuk membawa penerangan pada kami. Beberapa dari kaum manusia dan siluman bersaksi, kalau salah satu dari Xaiphos yang pernah mereka temui adalah orang yang pernah mereka kenal di masa lalu dan sudah meninggal. Tidak salah lagi, mereka pastilah sosok malaikat yang sesungguhnya, yang datang dan mendampingi dunia―tunggu, siluman?' Aichi menatap ke atas langit kamarnya, membayangkan bagaimana sosok siluman di pikirannya.
"Siluman itu... yang seperti legenda Putri Salju di Jepang? Atau Kappa?" dengan rasa penasaran yang masih ada di benaknya, Aichi pun mengira-ngira bagaimana wujud siluman yang dikatakan buku ini. Habisnya, siluman tak lebih dari takhayul orang zaman dulu, sama sekali tak ada bukti nyata di dunia. Bahkan kalau bisa, Aichi ingin bertemu satu saja dari sederet legenda-legenda siluman itu.
Nah, lho, bagaimana kalau nanti ia dihanyutkan oleh Kappa?
"Hm, nanti saja, deh." Jenuh pada topik yang tak berujung, kedua mata biru Aichi kembali tertuju pada buku tua di hadapannya. Ia pun membuka halaman berikutnya, dan langsung saja ia terpanah dengan sebuah gambar yang ada di halaman itu. Di kertas yang sudah menjadi coklat, terdapat sesosok manusia yang memiliki sepasang sayap di punggungnya.
Tidak, ini bukan sayap malaikat yang berbulu putih halus seperti yang ada di bayangan Aichi. Juga bukan sayap berbulu hitam yang biasanya dimiliki the fallen angel, atau dengan kata lain malaikat yang terbuang. Ini juga bukan sayap berbentuk seperti sayap kelelawar yang biasanya dimiliki kaum iblis. 'Ngh... bentuknya aneh sekali, sedikit mirip dengan bentuk sebuah DNA helix, tapi kereen! Jadi ini Xaiphos yang mereka katakan tadi? Rasanya aku ingin melihat satu sekali saja!'
Aichi mengamati halaman itu cukup lama, entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas ia begitu terpanah dengan sosok itu, walau hanya berupa gambar dua dimensi. Telunjuknya mulai bermain-main untuk menyentuh gambar sosok Xaiphos disana. Sampai akhirnya ia bosan, Aichi pun beralih pada halaman berikutnya. Seketika Aichi menjadi cemberut, dikiranya akan ada gambar Xaiphos lainnya, tapi rupanya penulis buku ini terlalu to the point. Halaman berikutnya tak lebih dari kata-kata seperti halaman ketiga tadi.
Ya, apa boleh buat, daripada dia berhenti membaca hanya karena alasan sepele, Aichi pun kembali melanjutkan bacanya.
'Seorang Xaiphos berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangannya―manusia, hewan, siluman, dan makhluk hidup lainnya―. Sekali ia memilih, maka ikatannya dengan pasangan tersebut tidak akan terlepaskan, juga tidak bisa memilih pasangan lainnya lagi. Xaiphos harus mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi sang pasangan, dan sang pasangan berhak menentukan bagaimana Xaiphos miliknya bertindak...' kemudian Aichi berhenti membaca.
Ia terdiam sesaat, kemudian kembali mengulang kalimat terakhir yang tadi ia baca. Seketika pandangan matanya yang semula tenang, berubah menjadi sendu. "Jadi maksudnya... pasangan yang dikatakan tadi adalah... majikannya Xaiphos? Terlihat tidak mengenakan juga," Aichi menurunkan alisnya seketika. Ia mengira ikatan antara pasangan dan Xaiphos itu sendiri lebih dari itu. Namanya juga pasangan, seharusnya orang yang dipilih oleh Xaiphos itu sangat istimewa.
Tapi ternyata, harapan tak semuluk itu.
'Xaiphos akan kehilangan kekuatan superanatural miliknya kalau pasangan yang dipilihnya mati. Mereka tidak bisa memilih pasangan berikutnya lagi dan tinggal menunggu sampai ajal menjemput. Bagaimana mereka muncul dan berkembang biak masih sebuah misteri, tapi masyarakat luas sama sekali tidak mempermasalahkannya, Xaiphos sudah seperti makhluk hidup biasa yang berkekuatan istimewa di pandangan kami.' Aichi membaca baris berikutnya dengan serius. Sampai ke kalimat terakhir di halaman. Ia kembali termenung. Entah kenapa, Aichi merasa di kalimat barusan seperti menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan suatu rahasia yang tidak ingin diketahui oleh banyak orang.
'Tapi apa?' sudah menjadi kebiasaan Aichi untuk ingin tahu hal yang dirahasiakan. Pemuda enam belas tahun ini mencoba membaca ulang kalimat-kalimat dari awal, siapa tahu ada kata petunjuk dari rahasia yang ingin diketahuinya. Ia membaca ulang sampai dua kali, plus menulis kata yang menurutnya cukup ganjil di kertas lain. Setelah mencorat-coret kata yang ditulisnya, pemuda ini pun mulai menemukan kemungkinan-kemungkinan dari kecurigaannya.
"Sepertinya yang disembunyikan ada hubungannya dengan bagaimana mereka muncul. Ya, aku yakin. Penulis buku ini berkata seakan-akan tidak tahu misteri dan teka-teki kemunculan Xaiphos, padahal sudah bercerita sebanyak ini," Aichi bertopang dagu dan memejamkan matanya. Siapa tahu otak berhayalnya yang selalu menjadi bahan ejekan Kenji dan lainnya berguna disaat seperti ini.
"Pertama, pembuat buku ini sebenarnya adalah pembuat Xaiphos yang berpura-pura menjadi masyarakat biasa. Kedua, pembuat buku ini tahu bagaimana Xaiphos dibuat tapi merahasiakannya. Ketiga, pembuat Xaiphos meminta si pembuat buku untuk merekayasa bahwa ia tidak ada sangkut pautnya dengan misteri pembuatan Xaiphos. Keempat, pembuatan Xaiphos berhubungan dengan makhluk mistis sehingga yang mengetahuinya tidak berani membuka mulut. Argh! Ini sungguh membingungkan!" Aichi mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia membaringkan kepalanya di meja belajar, menenangkan pikirannya sebentar. Ia sangat penasaran, sangat. Aichi ingin mengetahuinya. Ia yakin betul, ada yang disembunyikan buku itu.
NGING.
"HAH!?" Aichi refleks menangkat kepalanya begitu mendengar suara gelombang, yang tergolong tajam. Ia menengok ke sekitar ruangan kamarnya. Tidak ada yang aneh dari kamarnya, padahal suara tadi jelas sekali. Aichi menggaruk-garuk rambut birunya, ia kebingungan. Kalau bisa disamakan, mungkin sudah setara dengan suara jeritan kelelawar di dalam gua.
'Su-Suara apa tadi? Apa hanya perasaanku―'
NGING.
NGING.
Deg!
Jantung Aichi berhenti berdetak untuk beberapa saat. Manik birunya terus melirik ke segala arah, mencoba mencari sumber suara yang begitu nyaring di telinganya. Didengar dari besar suaranya, rasanya mustahil sumbernya berasal dari luar kamar. Jelas sekali di gendang telinga, sudah seperti musik klasik yang biasa didengarnya melalui earphone.
Sayangnya, sekarang ia tidak memakai earphone. Dan suara itu terus berdengung di telinganya. Dengungan yang sangat nyaring dan tajam. Aichi menjadi panik, dan juga takut. Firasatnya tidak enak. Jantungnya berpacuh cepat tatkala ia tidak tahu dimana sumber suara itu berasal. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
NGING.
'Su-Suara apa itu!? Ti-Tidak mungkin Ibu sengaja iseng padaku dengan memasang sesuatu di kamarku, bukan!? Ayolah, Aichi! Berpikir!' Kedua mata shappire Aichi kemudian tertuju pada buku sihir yang masih terbuka di meja belajarnya, masih pada halaman yang sama. Wajah Aichi memucat, tidak mungkin 'kan, suara-suara aneh yang mencekam itu berasal dari sebuah... buku tua? Memandang buku itu, firasat tidak enaknya semakin kuat. Ia berkeringat dingin.
Oh, tolong. Ini tidak logis. Aichi juga tak ingin mempercayai kesimpulan aneh yang mendadak hinggap di pikirannya ini. Tapi dengan kondisi jantung yang memompa cepat karena panik, ia tidak bisa berpikir jernih. Ia menatap takut buku tua yang masih berada pada posisinya. Dan benar saja, begitu Aichi menatap buku itu dengan intens, suara-suara aneh itu semakin jelas terdengar di telinganya bagaikan terror.
Tubuh Aichi langsung tegang dan bergetar seketika. Padahal ia sendiri yang berharap bahwa hal fantasi semacam sihir itu ada eksistensitasnya di dunia, tapi begitu merasakan hal-hal tidak logis seperti ini, Aichi tidak tahu harus bertindak seperti apa. Mungkinkah yang dialaminya sekarang ada hubungannya dengan sihir? Sihir yang selama ini selalu menjadi objek minatnya, menjadi sumber ketertarikannya. Yang selalu ia pertahankan meski ejekan dan olokan dari temannya yang ia dapat?
'Tidak! Si-Sihir tidak mungkin ada, i-itu hanya fiksi! Ini tidak mungkin!' rasanya Aichi ingin berteriak seperti itu. Tapi bibirnya yang keluh tak sanggup mengeluarkan suara-suara lagi. Tubuhnya bergetar perlahan, bahkan tak sanggup untuk bangkit berdiri dari kursinya dan lari. Ia terlalu takut dan panik. Kedua kakinya serasa lumpuh hanya untuk mendorong mundur posisi duduknya.
NGING.
"U-Ukh..." dengan tangan kanannya yang masih bergetar, Aichi pun berusaha meraih buku tua yang masih pada tempatnya. Disisi lain, ia masih ragu dan takut. Perasaannya terus mendorong Aichi untuk tidak menyentuh buku sihir tua itu, rasanya akan ada sesuatu yang tidak mengenekan jika ia melakukannya. Tapi, kalau ia tidak mencoba, maka suara-suara mencekam itu tak akan berhenti menghantuinya. Aichi tidak mau hal itu terjadi, ia bisa gila.
Sedikit lagi, sedikit lagi tangannya bisa menggapai buku itu. 'Ayolah, Aichi! Keluarkan kekuatanmu! Keluarkan kekuatanmu!' pekik Aichi dalam hatinya, dan―
Tep.
―buku-buku jarinya berhasil menyentuh buku pada halaman terakhir yang ia baca.
NGING.
Suara itu semakin keras terdengar. Aichi semakin menegang. Ini bukti kuat kalau suara-suara aneh itu berasal dari buku tua yang ingin didapatnya sejak lama. Benarkah sihir memiliki eksistensitas seperti itu? Atau kakeknya memang sengaja iseng padanya?
Tidak berhenti disini, karena suara itu semakin memenuhi gendang telinga Aichi dan hampir membuatnya hilang akal sehat. Nafas Aichi tersenggal-senggal karena detak jantungnya yang jauh dari kata normal.
Deg.
Deg.
'A-Apa yang harus kulakukan sekarang!? Tanganku terasa berat, apa aku harus membuka halaman berikutnya?' Aichi menarik nafas dan membuangnya perlahan, berusaha mengusir rasa panik yang sudah menjalar sampai ke otaknya. Walau hal itu sia-sia saja, rasa takut lebih mendominan di hatinya. Dahi Aichi mengernyit, keringat dingin sudah membasahi sampai lehernya. Tampangnya sudah seperti manusia jantungan.
NGING.
NGING.
'Ukh...' Aichi menelan air liurnya susah payah. Tenggorokannya terasa pahit, padahal ia tidak sakit sekarang. Apa mungkin ini efek dari suara-suara aneh yang masih merajarela disana? Aichi pun sudah memutuskan, ia akan membuka halaman berikutnya. Walau ia takut sebetulnya, tapi semua ini tidak akan ada akhirnya kalau Aichi tidak segera bertindak.
Srek.
Ia berhasil memegang ujung halaman, dengan susah payah tentunya, karena seluruh anggota tubuhnya masih bergetar ketakutan. Jantungnya semakin berpacuh cepat tahu Aichi tinggal membalikan halamannya saja menuju halaman berikutnya. Ia memejamkan matanya sebentar. Keringat semakin membasahi area wajahnya. Kedua mulutnya terkatup, menahan nafas sejenak. 'Tenang, Aichi, tinggal membuka halaman berikutnya. Tidak akan ada apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja...' pikirnya berusaha menenangkan diri.
Grrt.
Kertas tua yang ada di tangan Aichi sedikit bersuara, tanda tangan Aichi semakin hebat bergetar. Aichi merasa tak sanggup untuk melakukannya. Ia merasakan firasat yang tidak mengenakan kalau sampai halaman itu terbuka. Apa ia harus percaya pada firasatnya atau pikirannya?
NGING.
'BUKA, AICHI! BUKA HALAMAN BERIKUTNYA! KAU CUKUP MELAKUKAN ITU!' Aichi memejamkan matanya, rasanya ia ingin menangis saja. Tapi hal itu tak akan menyelesaikan masalah. Hati dan tubuhnya bertindak kontras sekarang. Tangannya bergetar karena tubuhnya sedang dibentrok diantara dua perintah―buka atau tidak―. Bahunya bergetar cukup hebat, sama seperti kedua kakinya. Keringat tak henti-hentinya mengalir. Jantungnya berpacuh cepat.
'AYO, BUKA! AICHI!'
NGING.
NGING.
'BUKA HALAMANNYA, AICHI!'
Srak!
"Kh!"
Tangan kanan Aichi yang tadinya masih bertengger di pinggir buku pun berhasil bergerak sesuai kemauan hatinya. Halaman itu terbuka tanpa lecet sedikit pun, walau tadi Aichi membukanya dengan cukup keras. Masih dengan mata terpejam, Aichi merasa suara-suara tadi berhenti menghantuinya. Detak jantungnya seketika meredah dan berangsur-angsur normal. Aichi membuka mulutnya dan menarik nafas sebanyak-banyaknya. Dengan perlahan ia membuka matanya, pelan...
Sampai kedua manik birunya kembali dibuat syok dengan sebuah wajah menyeramkan yang ada di halaman berikutnya. Kedua matanya hitam, dan mulutnya yang menganga. Jantung Aichi langsung berhenti berdetak beberapa saat. Kedua mata Aichi membulat seketika, terlalu kaget untuk melakukan tindakan.
"GYAAAAHHH!"
"Hu-Huwaaa!" Aichi spontan terpental ke belakang dan terjatuh dari kursinya. Wajah menyeramkan tadi bahkan berteriak. Anak bersurai biru itu semakin ketakutan saat buku itu melayang, dengan halaman wajah tadi yang melotot tajam ke arahnya. Suaranya begitu serak dan besar.
"INI MIMPI BURUK! XAIPHOS YANG SELALU KAMI ANGGAP SEBAGAI DEWA, MEREKA YANG SELALU MELINDUNGI KAMI, BERUBAH MENJADI MAKHLUK MENJIJIKAN YANG PERNAH ADA! MEREKA MENGHANCURKAN SEMUANYA! MEREKA MERAMPAS SEMUA NYAWA TAK BERDOSA!"
Tubuh Aichi bergetar seketika, rasanya berat untuk melakukan pergerakan, sementara wajah yang sedikit timbul di buku itu masih melotot tajam padanya, sekalipun di kedua matanya tidak ada bola mata. "A... ah..." Aichi ingin bersuara, tapi tenggorokannya terasa kering. Nafasnya tersenggal-senggal, entah karena pengaruh jantung atau apa.
"NYAWA KAMI TERANCAM! SETIAP DARI KAMI TIDAK AKAN BAHAGIA, KAMI HANYA MENJADI MAINAN BAGI IBLIS-IBLIS LAKNAT ITU! TOLOOONG! TOLOONG KAMIII! KAMI TAK BISA BERNAFAS BEBAS, SETIAP DARAH KAMI HANYA MENJADI TUMBAL BAGI MEREKAAAA!" buku itu kembali berteriak, disertai petir-petir aneh yang merembes sampai ke setiap sudut kamar, Aichi semakin ketakutan. Hampir saja tangannya tersengat petir-petir aneh tadi. Tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak mundur sekedar untuk menjauhi buku menyeramkan itu.
"Ti―tidak, a-aku tak tahu... tak tahu apa-apa..." akhirnya Aichi berhasil mengeluarkan kata-kata, walau dengan gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa, wajah buku itu begitu menakutkan di matanya, pikirannya terlalu kosong hanya sekedar untuk berpikir.
"GYAAAAAAAHH!"
Buku itu kembali mengeluarkan teriakan, dengan suara yang begitu keras dan memilukan. Teriakan itu sukses membuat tubuh Aichi terhempas ke belakang, sedikit menabrak tembok. Aichi menutup kedua daun telinganya dengan kedua tangannya. Kepalanya begitu pening setiap mendengar suara serak sang buku sihir, suara itu terus terngiang-ngiang sampai ke hatinya.
Aichi tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan buku itu, sekalipun wajah menyeramkan tadi tetap berteriak-teriak seperti orang kerasukan setan. Tubuh Aichi ambruk, matanya terpejam. Suara-suara itu seakan menyayat hatinya, perasaan sakit dari suaranya tersampaikan sampai ke uluh hati Aichi. Tapi Aichi tak tahu harus berbuat apa, bagaimana menolong mereka yang katanya teraniaya oleh... Xaiphos?
Kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Aichi sempat mendengar sesuatu ketika telinganya kembali berfungsi untuk beberapa saat―
"―Theresa Cheos, Yuripe Tsukume, Feroine Dheis, Yuki Tsubaki, Hayato Yano, Sendou Ogata―"
―nama kakeknya disebut oleh buku itu, sebagai salah satu nama korban Xaiphos hitam. Setelah itu kesadaran Aichi melayang, ia pingsan dengan hati yang tak tenang.
'Kakek...'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Tuk.
Salah satu dari pion catur digerakan. Menyingkirkan pion catur lainnya yang berlawanan warna. Aneh, padahal permainan mono ini merupakan permainan mengasah otak dalam berstrategi diantara dua orang. Tapi, yang tengah bermain di meja catur sekarang hanya seorang. Ia yang menggerakan pion-pion catur berwarna putih, tapi ia juga yang menggerakan lawannya, yaitu pion berwarna hitam.
Tuk.
"Tuan Muda, informasi yang anda inginkan sudah tiba dari Ketua Divisi Tentara, Katsuragi," suara itu menghentikan sebuah tangan yang sedang memain-mainkan pion ratu, siap untuk menyerang musuh. Menghela nafas sejenak, ia pun menjatuhkan pion ratu tadi sembarang tempat dan bangkit berdiri. Tak lupa menyibak jubah putih yang begitu cocok dengan dirinya.
"Aku akan segera kesana, Tetsu. Siapkan dua Phavilone Hazzle di meja yang biasa," balasnya tanpa nada. Sama seperti tatapannya yang tak menggambarkan ekspresi apapun. Pelayan pribadinya tadi yang mengenakan setelan putih pun membungkuk hormat, sebelum meninggalkan sang tuan muda sendiri.
"As your command."
Blam.
"Haah~," Tuan muda bersurai merah panjang itu menghela nafas. Raut wajahnya menggambarkan ekspresi sedih. Ia pun berjalan ke salah satu lemari yang berada di kamar pribadinya dan mengambil sebuah karet hitam polos disana. Lalu dengan alat itu, ia menguncir rambutnya.
Tidak, Tuan muda yang tengah mengikat rambutnya ini bukan seorang wanita. Kalau tidak seharusnya ia dipanggil Nona muda tadi. Lalu kenapa ia menguncir... rambut? Ya, rambutnya tergolong panjang untuk ukuran seorang pria. Batasnya sampai punggung. Mungkin agar tidak panas, maka untuk kesehariannya selalu dikuncir satu.
Tentu saja rambut panjangnya tak akan mengurangi ketampanan di wajahnya, yang tergolong mudah untuk seorang pemimpin negeri.
Manik crimson-nya menatap keluar jendela kamarnya, dimana langit sore indah membingkai sempurna pemandangan. Ia tersenyum miris. "Semoga saja aku tidak mendapatkan kabar buruk dari Kamui," bisiknya pelan, entah kepada siapa. Lalu dengan langkah yang tergolong cepat, pemuda berpostur tubuh atletis itu keluar dari kamarnya.
Blam.
Dayang-dayang istana yang melihat kepala kerajaannya keluar dari kamar pun mengerti. Mereka segera menghampiri sosok gagah yang masih berjalan menuju suatu ruangan, lalu melepas jubah putihnya. Tak lupa beberapa dari mereka langsung berlari pelan menuju ruangan yang dimaksud dan membukakan pintu.
Kriet.
Dan begitu pintu terbuka, langsung saja sebuah tatapan tak suka didapat oleh sang kepala negeri. "Lama sekali," komentar seseorang yang duduk di salah satu kursi mewah, yang merupakan kursi khusus untuk tempat minum teh.
Sementara yang dihadiahi tatapan seperti itu hanya mengendikan bahunya. "Aku sudah berusaha berjalan secepat kelinci, tapi tidak bisa," katanya cari-cari alasan. Walau alasan itu sama sekali tidak pantas untuk seorang pemimpin negeri. Pemuda berambut donker jabrik yang tadi memberi tatapan jengkel pun mendengus.
"Hah, baiklah. Jadi langsung ke inti masalah saja, aku tidak mau berbasa-basi lagi, Ren." Katanya dengan nada penekanan di bagian nama. Dayang-dayang yang berada di depan pintu masuk pun bergidik tempat, berani sekali orang ini, memanggil pemimpinnya hanya dengan nama. Tapi sepertinya sang kepala negeri, yang katanya bernama Ren, tidak mempermasalahkannya.
"Ya, itu yang kumau, Kamui. Silahkan berbicara kapanpun yang kau mau. Aku siap mendengarkan," ujar Ren dengan senyum bijaknya, yang selalu membuat para rakyatnya menjerit kagum karena memiliki pemimpin sebaik dirinya. Pelayan pribadi yang tadi menyampaikan pesan kedatangan Katsuragi Kamui pada Tuan muda pun menyuguhkan dua cangkir Phavilone Hazzle pesanan tuannya, lalu kembali meninggalkan ruangan.
Pemuda berpostur pendek bernama Kamui tadi mengernyitkan dahinya melihat menu yang disajikan di hadapannya. "Yaks, aku tidak suka Phavilone! Kau sengaja, Ren!?"
"Tapi aku suka Phavilone Hazzle. Rasanya sangat lembut dan enak, kau bisa meresap kehangatannya sampai ke hati," balas Ren sembari memain-mainkan rambut panjangnya yang tak ikut terikat. Kamui mengacak-ngacak rambut donker-nya frustasi. Pemimpin macam apa di hadapannya ini? Begitu pikir Kamui.
"Teserahlah," kemudian Kamui mengambil sebuah amplop coklat yang tadi berada di sisi kiri tubuhnya. Ia menghela nafas pendek, "Simpan harapanmu untuk mendapat berita baik dariku, karena..." menjedah ucapannya, dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan tiga lembar kertas dan meletakannya di meja.
Ren tidak bergeming, hanya matanya saja yang sedikit melotot ke arah tiga lembar kertas tadi.
"Daerah seberang benar-benar buruk, Ren. Banyak dari negara yang sudah dikuasahi sepenuhnya dan diperintah Silence Silk. Aku sebagai perwakilan darimu saja susah untuk masuk secara terang-terangan," Kamui mulai menjelaskan. Tentunya ia berusaha mempersingkat kata-katanya agar raja telmi di hadapannya ini mudah tanggap.
"Benarkah? Sekalipun kau berkata bahwa kau adalah Ketua Divisi Tentara Savhalon?"
Kamui menggeleng. "Itu justru memperburuk keadaan. Silence Silk yang tahu bahwa tentara darimu bergerak justru mengajak berperang. Saat kami sampai pada Negara Belgha, pasukanku diserang 'mereka' secara besar-besaran. Karena itu, jangan heran kalau yang kembali dengan selamat sampai di istanamu sekarang hanya sepuluh orang termasuk aku, dari 100 orang yang sudah kau utus untuk menyelidiki."
Ren membulatkan mata crimson-nya tak percaya. Hanya sepuluh dari 100 orang? Satu banding sepuluh. "Yang kau maksud mereka... adalah Xaiphos hitam?" mendengar itu, Kamui menggeram frustasi. Ia menatap garang ke arah lawan bicaranya.
"Tentu saja, memang senjata terbesar dan mengerikan apa lagi yang dimiliki Silence Silk selain makhluk itu? Aku sudah muak melihat tentara dalam perintahku harus mati tercabik-cabik mereka. Kau harus mengatasi semua ini dengan segera, Ren!" geram Kamui, disertai suara gemertak giginya setelah itu. Ia juga meremat kain celananya sampai kusut.
"Berapa negara yang sudah terinfeksi seutuhnya oleh Silence Silk?" mendengar itu, Kamui pun menunjukan kertas yang berada di tengah dari ketiga kertas tadi. "Seberu, Neoness, Kless, dan Claryks dalam masa penyerangan dan berusaha mempertahankan wilayah mereka. Inerbolg, Gumirose, dan Orpysherus―negara tempat kerajaanmu sendiri―masih aman. Sisanya sudah tidak ada harapan," setelah berucap demikian, Kamui menghela nafas depresi. Sekalipun jabatannya tinggi karena skill bertarungnya yang kuat, tapi masalah ini tetap membuat dirinya frustasi.
"Separah itu?" kemudian Ren memijat pelipisnya. Sebagai pemimpin negeri, sudah sepantasnya keselamatan rakyat menjadi hal yang utama di mata Ren. Ketentraman negerinya yang sudah dibangun selama ini hancur sejak setahun yang lalu, oleh Silence Silk.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Aichi, aku tidak akan memberikan buku kesayanganku pada sembarang orang, kau tahu? Aku memberikannya padamu, anggap saja hadiah dariku. Aku ingin kau menjaganya baik-baik, aku percayakan buku ini padamu, Aichi."
"Ngh... kakek?" Kedua mata Aichi yang terpejam berkedut pelan. Tak lama kemudian, dua manik birunya mulai terlihat. Ia melihat langit-langit ruangan dimana ia berada, tak asing. Ini kamarnya sendiri. Tapi aneh, ia tak pernah bangun pagi dengan kondisi tubuh selelah ini. Tunggu...
'―sekujur tubuhku nyeri!?'
Slap.
Kesadarannya langsung pulih dalam beberapa detik, Aichi pun bangkit dari posisi tidurnya. Ia menatap ranjangnya yang masih rapi dengan tatapan bingung. Kenapa... ia tidur di lantai? Aichi memijat keningnya seraya berusaha memutar kembali memori-memori otaknya. Sampai pikirannya yang masih berantakan seperti kepingan-kepingan pazel pun menuju ke satu hal.
"Bu-Buku sihir pemberian kakek..." Mengingat insiden mengerikan yang terjadi padanya kemarin membuat tubuh Aichi menegang seketika. Ia terduduk di depan meja belajarnya, dan Aichi masih ingat betul ia membaca buku tua itu di sana, sebelum tragedi aneh itu menghampirinya.
Duk.
"Ukh, sakit..." Aichi memukul kepalanya sendiri, memastikan kalau ia sedang tidak bermimpi. Tapi rasa sakit yang didapatnya membuat Aichi yakin betul bahwa sekarang ia sedang dalam kondisi sadar. Lalu... apa yang dilihatnya kemarin malam? Apa itu ilusi? Atau mimpi?
Aichi melirik ke arah jendela kamarnya yang tertutup gorden berwarna kuning. Ada bias cahaya dari sana, mungkin sekarang sudah pagi. Tapi Aichi sama sekali tidak berniat untuk siap-siap berangkat sekolah. Ia bangkit berdiri, dan pemuda berambut biru itu langsung memegang punggungnya yang terasa sedikit nyeri.
'Sa-Sakit ini―? Apa betul karena kejadian kemarin malam?' pikirnya pelan. Kemudian manik birunya menatap ke arah kalendar yang digantung di samping pintu kamarnya. Dan kedua matanya langsung melotot melihat tanggal yang tertera disana. Biasanya, Aichi akan melingkari tanggal yang sudah dilewatinya.
Tapi, apa sekarang ia tidak salah lihat?
28 Juni 2278.
'A... APA?' Aichi menganga mulutnya syok. Ia memegang kepalanya, lalu menjambak rambut birunya tak peduli kalau aset berharganya itu harus rontok. Ia yakin tidak amnesia. Seingatnya, tanggal terakhir rapat OSIS berlangsung dimana Aichi sendiri juga hadir adalah 14 Juni, dua minggu yang lalu.
Tapi sekarang, tanggal yang terakhir kali dilingkari disana adalah 28 Juni. 'Ja-Jangan-jangan Ibu iseng... Y-Ya, Ibu pasti iseng, ia sengaja mengecoh kalendarku,' pikiran Aichi semakin kacau. Buru-buru ia mencari-cari ponselnya yang biasa diletakan di atas meja belajar.
Ctik.
Ctik.
6:11 AM
28 Juni 2278
'HAH!? Ba-Bahkan kalendar di ponselku juga... Ibu 'kan tidak tahu password ponselku. Ja-Jadi ini bukan ulah Ibu? Ukh, apa yang sebenarnya terjadi!?' Aichi membanting ponselnya ke ranjang, lalu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pingsan karena buku sihir lalu bangun dua minggu kemudian―
'―tunggu, buku sihirnya... Bagaimana dengan buku sihirnya?' Aichi baru teringat tentang buku penuh misteri yang diberikan kakeknya. Terakhir ia melihatnya di meja belajar. Dengan perlahan, manik birunya melirik perlahan ke arah buku yang masih terbuka di hadapan meja belajarnya.
Bukan wajah mengerikan yang dua minggu yang lalu berteriak-teriak kesetanan disana. Perbatasan buku pun hampir menuju ke halaman terakhir, padahal kemarin Aichi tidak membacanya sampai setengah halaman dari buku. Di halaman yang terbuka itu, terdapat daftar-daftar nama. Aichi yakin sekali, semua tulisan itu adalah nama.
Tidak dicetak seperti halaman yang pernah Aichi baca sebelumnya, tapi kali ini jelas ditulis tangan. Dengan tinta berwarna merah tua yang pekat, layaknya darah. Pemuda berwajah manis itu mengernyitkan dahinya, ia tidak ingat pernah menulis nama-nama ini, lalu apa penulis buku itu yang menulisnya?
DEG.
"I-Itu..." Aichi mematung di tempat saat tidak sengaja membaca nama-nama itu. Jantungnya kembali memompah cepat. Di nama paling terakhir yang tertulis disana, ia tahu betul nama siapa itu. "Sendou Ogata, nama kakekku..."
.
.
.
Significance Essense
"If you touch the second world, don't try to escape from them..."
To Be Continued...
.
.
Information Fiction:
2. Buku yang diberikan kakek Aichi, Sendou Ogata, adalah buku spiritual yang menghubungkan dunia pertama (dunia yang ditinggali manusia biasa) dengan dunia kedua. Besar buku 30x18 cm. Warna buku hitam pucat (faktor usia). Sampul depan hanya bertulis kata Xaiphos dengan font Xena. Sementara sampul belakangnya kosong.
Biodata Character:
-NONE FOR THIS CHAPTER-
Reply Review:
To Cece Lien: Jangan sedih, ya. Kami akan berusaha di proyek baru fict kami untuk permintaan maaf juga. Disini Aichi memang sudah SMU, tapi gambarannya masih versi Season2 (Asia Circuit), soalnya faktor umur sangat diperlukan untuk fict ini. Iya, kakeknya mati, dimakan sama sesuatu(?), yang pastinya akan dibahas seiring chapter berjalan~ :D
To Ama: Hyucchi kangen Ama, doong. Kami akan berusaha update secepat mungkin, tapi kalau mengendur sampai sebulan lebih jangan getok kami, ok? Suka genre-nya? Syukurlah, kami masih hijau di genre ini, kalau ada salah jangan sungkan kasih tahu~ :D
To Chiyariia: Buuu, jangan jadi silent readers, dong. Kami 'kan penasaran dengan komentarmu juga. Kami juga suka bagian aksi dan fantasi, kok. Hanya saja menggambarkan adegannya supaya tersampaikan ke imajinasi pembaca mungkin tak mudah. Semoga chapter ini bisa diimajinasikanmu, ya~ :D
To Yuichiiii: Genre-nya sesuatu? Iya, sesuatu sangat banyak maksudnya(?). Iya, slight pairing boleh request, selama peran karakter yang bersangkutan sesuai dengan alur. DaiLeon? Masukin nggak, ya? Berhubung di facebook juga banyak yang request, jadi DaiLeon diterima! KaiAichi pasti kami prioritaskan~ :D
To Airy Karmila: Fict-nya bagus? Te-Terima kasih banyak pujiannya, kami senang sekali. Karena masih awal, mungkin kemarin kamu nggak bisa berkomentar banyak. Bagaimana dengan chapter ini? :)
To Arakumo Gakuen: Halo, Marisa-chan! Akhirnya menampakan diri(akun)nya juga, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang review, ya. Tenang, DaiLeon pasti ada karena di fb kamu yang dorong-dorong (dan Cece Lien juga?) buat masukin pair itu, hehehehehe~ :D
To AnimeLover and Dr. Tom: Terima kasih pujiannya, kalian berdua. Ini sudah di-update~ :)
To Katsunawa Yura-Tassya: Iya, ini fic baru sebagai ganti kedua fic lama yang discontinued, semoga bisa menghiburmu lagi, ya. Cara kakek Aichi mati masih belum seberapa, kok. Fic ini nantinya juga akan mengandung unsur mild-gore, hehehehehe. Chapter dua sudah ada, semoga kamu suka~ :D
To Carolis 'Sasha' Paralize: Dua fict itu discontinued karena suatu kecelakaan, hahaha. Iya, tahunnya jauh dari sekarang, karena kami mau membuat cerita yang bebas dari kekangan fakta-fakta zaman sekarang, hehehe, kesannya maksa, deh. Xaiphos itu apa, lambat cepat kamu pasti tahu, ikutin terus ceritanya, ya~ :)
To Snowy Coyote: Hehehe, flashdisk Gane nggak perlu digigit, sudah dibuang, kok, karena takut mencelakakan fict-fict kami yang lain. Iya, genre-nya tergolong banyak, karena Saki sendiri yang ingin membuat suatu fanfiksi dengan nuasa berbeda dari sebelumnya. Kalau temannya, Morikawa dan Izaki terus kan bosan, jadi sekarang kami pakai Kenji yang jarang dapat peran. Xaiphos itu apa, ikuti saja alur ceritanya, nanti pasti tahu~
Sorry for misstypo(s).
Review, onegai? :)
Thanks for reading, you all! We love you!
Sincerely,
HYUCCHI [Saki & Gane]
