A/N: Halo, minna-san! Terima kasih yang kemarin sudah baca chapter dua, ya. Setelah kami sadari, ternyata alur fict ini benar-benar lelet (mungkin), tapi itu semua untuk kebutuhan mendeskripsi adegan aksi, mohon dimaklumi, yak. Kami nggak tahu kalau chapter dua kemarin nuasanya seperti yang dikatakan para reviewers, tapi kami senang dengan respon kalian, hehehe. Oke, tidak banyak bacot lagi. Aye!

Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₃ That Day

"Sendou Ogata, nama kakekku..." rasanya ia tidak ingin percaya. Aichi ingin semua ini hanya ulah usil kakek atau ibunya, lebih baik ia jadi korban keisengan mereka, daripada semua hal-hal buruk seperti ini terjadi. Aichi kembali terbayang wajah kakeknya, dimana ia terakhir kali melihatnya. Di taman perumahan. Kakeknya sudah berjanji untuk datang lagi, bukan?

'Kakek...' Aichi jatuh bersujud di depan meja belajarnya. Kedua matanya mengerjap tak percaya, ia merasa kalau apa yang tertulis di buku itu merupakan kenyataan. Benarkah orang yang telah memberikan buku tua ini pada Aichi benar-benar sudah tiada? Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bicara apa kamu ini, kenapa anak muda tapi sudah berpikir tentang kematian, kau sungguh mengecewakanku."

'Tidak! Kakek tidak mungkin meninggal, buku ini hanya lelucon!' Aichi langsung mengacak-ngacak lemari pakaiannya. Tangan kirinya meraih sebuah buku album yang cukup besar dari sana, dengan sampul buku berwarna coklat. Entahlah kenapa ia harus mengambil album, tapi tubuhnya bergerak diluar nalurinya.

Flap.

Flap.

Ia membuka album itu dan mencari-cari foto yang diinginkannya. Yaitu foto liburannya setengah tahun yang lalu, kakeknya juga hadir dalam acara barbeque keluarganya. Ia sendiri tidak tahu kenapa, tapi rasanya foto ini penting. Kakeknya jarang difoto, karena empunya sendiri tidak mau melakukannya terang-terangan seperti orang narsis.

Flap―

'Hah...?' Tubuh Aichi menegang, ia memegang ujung halaman dengan tangan lemas. Lelucon macam apa ini, entahlah. Tapi rasanya Aichi sulit untuk meyakinkan kembali bahwa kakeknya tidak meninggal karena... kakeknya, tidak ada di foto itu. Eksistensi sang kakek seakan-akan lenyap tanpa jejak, hanya bersisa nama.

'Ti-Tidak mungkin! Je-Jelas-jelas aku berfoto berdua dengan kakek disini! Aku masih sempat melihat fotonya kemarin-kemarin...' mata Aichi membulat tak percaya. Ia meremat ujung halaman sampai kusut, tak peduli pada album tak berdosa itu.

Fantasi apa yang sebenarnya terjadi? Ia bisa gila kalau terus-terusan mengalami kejadian aneh tanpa sebab. Setelah menerima buku sihir yang sudah sejak lama ingin ia dapatkan, rasanya Aichi mengalami kejadian diluar kata normal.

Mendengar suara gelombang-gelombang yang memekahkan telinga, berhadapan dengan wajah menyeramkan yang berteriak-teriak, nama kakeknya tertulis di buku dengan tinta merah darah, apa lagi nanti? Rasanya, sihir yang sejak dulu diminatinya tidak seseram ini. "Apa... apa yang harus kulakukan?" Aichi sedikit terisak lirih, ia kebingungan dan tidak tahu apa-apa.

RING.

RING.

"Eh?" Aichi mengangkat kepalanya tatkala mendengar ponselnya berdering di atas ranjang. Ia pun bergegas mendekati ranjangnya dan meraih ponselnya. Ada telepon masuk dari temannya, Kenji.

Klik.

Aichi menempelkan wajah ponselnya ke arah daun telinganya dan mulai berbicara. "Halo, Kenji-kun?"

―"Aichi-kun, kau tidak ada di kelas, atau kau ada urusan dengan panitia OSIS?"―

"E-Eh, aku... masih di rumah," jawab Aichi pelan, sebisa mungkin menyembunyikan suara seraknya habis terisak tadi.

―"Hah!? Yang benar saja kamu! Hari ini 'kan festival sekolah dimulai, Aichi-kun! Kukira kamu sudah datang awal seperti biasanya. Atau kamu memang tidak ada perkerjaan lagi?"―

Aichi langsung melongo, ia pandangi kalendar kamarnya lagi. Tanggalnya tidak berubah dari yang tadi, walau hal ini tetap menjadi pertanyaan besar bagi Aichi, dua minggu sejak ia membaca buku sihir pemberian kakeknya. Yaitu 28 Juni. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dua minggu setelah ia rapat itu 'kan―

"OH, IYA! HARI INI 'KAN HARI H-NYA!" Aichi langsung berteriak diantara syok dan terkejut. Sementara yang ditelepon di seberang sana pun memekik karena telinganya langsung ngilu mendengar teriakan Aichi.

―"H, Hei, jangan teriak begitu, Aichi-kun! Telingaku bisa-"―

"TAK ADA WAKTU LAGI, KENJI-KUN! AKU AKAN SEGERA KE SEKOLAH SEKARANG! WAAH, KETUA BISA MEMARAHIKU NANTIII!"

Klik.

Aichi langsung buru-buru meraih seragamnya dan berlari ke kamar mandi. Tidak peduli pada Kenji yang terus melakukan panggilan ke ponselnya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Semilir angin pagi terasa begitu menyejukan, setidaknya itulah yang dirasakan sesosok figur yang tengah terduduk di salah satu puncak gedung pencakar langit. Ia memandang ke bawah tanpa rasa takut sedikit pun, sekalipun gedung tempatnya duduk setinggi lebih dari dua puluh lantai.

Bosan dengan posisi duduk, ia pun berganti posisi menjadi berbaring. Dengan posisi kaki dari lutut sampai ke ujung kaki menjuntai ke bawah. Mata emerald-nya menatap langit biru di atasnya. Lalu melihat pergerakan awan yang ditiup oleh angin. Hatinya seketika menjadi tenang, semua masalah yang menyangkut di akar-akar hatinya seakan berubah menjadi buih lalu lenyap.

Sungguh menyejukan hati. Andai saja dengan menatap langit seperti ini semua masalahnya selesai, mungkin ia akan melakukannya setiap hari.

Hanya saja... hidup tak senaif itu.

Setiap makhluk hidup pasti pernah terjatuh dalam jurang yang bernama masalah. Entah sedalam apa jurang tempat mereka jatuh, tapi jika terlibat dalam kondisi seperti itu, siapapun pasti ingin keluar.

Ingin keluar dari jurang penuh masalah dan membebaskan diri. Menghirup udara segar sebanyak apapun yang ia mau tanpa terikat akar berlukar konflik, tanpa dirajam duri-duri sakit hati. "Hah..."

Figur itu kembali bangkit berdiri. Tak lupa ia mengibas debu-debu yang tadi menempel pada pakaiannya karena kelamaan berada disana. Dengan tempat setinggi ini, ia bisa menatap kota sampai ke ujung. Suasananya begitu sibuk, ia tahu itu, walau hanya melihat dari jauh. Tapi, sekalipun sibuk, ada yang membedakan tempat dimana ia berdiri sekarang dengan dunia asalnya.

Yaitu kedamaian.

Ya, bumi, tempat dimana ia berdiri sekarang, sama sekali bukan negeri asalnya. Ia tidak dilahirkan di tempat yang katanya diberkahi oleh Yang Maha Kuasa untuk makhluk ciptaannya. Mungkin ia juga makhluk ciptaan-Nya, tapi ia ditempatkan di dimensi yang berbeda. Bukan disini. Juga tidak sedamai ini.

'Aku... harus cepat mencari buku itu.'

Kemudian ia mengepakan sayapnya yang berwarna putih. Dan menghilang dalam hitungan detik, tanpa seorang makhluk awam pun melihatnya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

"Sendou-kun, kemana saja kau!? Ayo, buruan, bantu kesini! Sibuk banget, nih!"

"I-Iya, aku segera kesana!"

Baru saja memasuki ruang OSIS, Aichi sudah dihadiahi oleh pemandangan sibuk oleh semua panitia OSIS juga panitia festival. Buru-buru ia meletakan tas ransel hitamnya yang tak terlalu besar di salah satu kursi, lalu Aichi segera menyambar blazzer khusus panitia dan menghampiri salah satu panitia OSIS untuk bantu-bantu.

"Tugasku apa?" tanya anak bersurai biru itu pada salah satu panitia OSIS yang membagi-bagikan tugas. Dan langsung saja Aichi disodorkan sekardus aksesoris oleh seorang gadis berambut ungu pucat.

"Tolong bawakan aksesoris ini pada stand kesenian di halaman sekolah. Mereka membutuhkannya segera," katanya memberi perintah. Aichi pun mengangguk dan langsung membawa kardus itu, dan ternyata―

"―be, berat juga..." gumannya seperti kakek-kakek tua yang disuruh mengangkat sebuah truk. Tapi ia langsung bergegas keluar ruang OSIS menuju halaman sekolah. Karena kalau sampai telat, mungkin Aichi tidak bisa pulang dengan selamat.

Pemuda bermanik biru itu berlari menelusuri koridor sekolah menuju tangga. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, lalu tanpa sadar wajahnya melukiskan senyum tipis. Tidak ia sangka kalau tema darinya disambut positif dari pengunjung festival. Bahkan ia merasa kalau festival tahun ini lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya. Berbagai acara yang dipersiapkan kelas pun dipadati pengunjung sampai ke bagian luar kelas.

Aichi terkikik geli. Ia berharap semakin banyak orang sekolahnya yang menaruh minat pada sihir karena ulahnya satu ini, yaitu memberi tema sihir pada festival sekolah. Hatinya seolah ringan, seakan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya waktu itu tidak pernah terjadi. Ia berasa seperti anak SMU normal yang menjalani hari-harinya seperti biasa.

"Yo, Aichi-kun! Akhirnya aku bisa menemukanmu!" Aichi sedikit terlonjak kaget karena tahu-tahu sahabat baiknya, Kenji, ikut berlari di sampingnya. Ia sedikit memakluminya karena Kenji itu bintang klub atletik.

"Kenji-kun, jangan mengajakku bicara sekarang, aku sibuk!" seru Aichi sekedar memperingatkan sahabatnya, kalau ia sedang tidak dalam kondisi bebas berbicara sekarang. Kenji tertawa.

"Aku tahu, kok. Justru aku ingin membantumu!" kemudian pemuda bersurai keemasan pucat itu mengambil beberapa barang dari dalam kardus yang dipegang Aichi. Tentunya dengan hati-hati tanpa merusak aksesoris yang tengah dibawa. Pemuda lainnya pun merasakan beban yang dibawanya menjadi ringan.

"Te-Terima kasih, Kenji-kun." Ucap Aichi dengan senyum manisnya. Kenji mengamati sebentar blazzer yang dipakai Aichi, kemudian ia menautkan alisnya.

"Aichi-kun, sepertinya blazzer-mu kebesaran, deh..." komentarnya tak bermaksud menyinggung. Aichi yang baru menyadari itu pun melihat sekilas ke arah blazzer-nya. Benar, kebesaran, lebih cocok dipakai oleh orang setinggi sahabatnya, Kenji.

"Be-Benar juga. Aku terlalu terburu-buru tadi, jadi asal ambil blazzer panitia yang tersedia." Berhenti berbicara disana, karena mereka harus menuruni tangga sekarang. Jangan sampai keasyikan ngobrol sampai kepeleset dan terguling-guling di tangga nanti.

Setelah menuruni tangga ke lantai dasar, keduanya pun segera bergegas ke pintu barat menuju halaman sekolah. Sayangnya Aichi maupun Kenji sedikit kesusahan karena lantai dasar sekolahnya jauh lebih padat dari lantai-lantai di atas.

"Ukh, Aichi-kun, sepertinya kau harus bertanggung jawab atas keramaian ini," keluh Kenji dengan senyum khasnya. Tadinya Aichi sama sekali tidak connect karena sibuk berdesak-desakan dengan yang lain. Jangan sampai ia menyenggol atau melukai pengunjung. Tapi sesaat kemudian Aichi tersenyum jahil.

"Hehehe, siapa dulu yang mengusulkan ide semua ini?" balasnya dengan nada jahil. Kemudian kembali berkonsentrasi pada jalan, menghindari desak-desakan dengan pengunjung lain. Tak henti-hentinya Kenji mengucap 'permisi' agar mendapat akses jalan.

Duk.

"Ah, maaf," Aichi menunduk sedikit pada orang yang disenggolnya tadi. Lalu kembali berjalan karena terburu-buru. Tak memberi kesempatan pada orang yang ditabraknya tadi untuk membalas sedikit pun. Tapi setelah itu Aichi tak sengaja menabrak beberapa orang lainnya.

"Yey, akhirnya keluar juga!" Aichi berjingkrat girang seperti anak kecil. Membuat beberapa pengunjung lain menatapnya lucu. Ia dan Kenji berhasil membawa barang-barang tadi pada stand kesenian.

"Kode 19-S!" seru Aichi pada pengurus stand kesenian. Salah satu dari mereka yang tadinya sibuk melayani pengunjung pun segera menghampiri Aichi dan menerima barang yang dimaksud.

"Terima kasih banyak!" katanya tersenyum senang ke arah Aichi. Lalu ia mencoret angka sembilan belas di kertas pemesanan barang, tanda barang yang dimaksud sudah diantar dengan selamat sampai ke tempat. Aichi tersenyum balik dan melambai.

"Sukses, ya!"

Kemudian Aichi melihat-lihat sekitar stand yang berdiri di bagian halaman. Tadi ia tak sempat melihat sebab sudah ngibrit takut dimarahi ketua OSIS karena telat. Kenji menepuk pundak Aichi. "Hoi, jangan bengong, dong. Nanti kau bisa dimarahi, lho," katanya memperingati.

"Eh?" Aichi langsung membulatkan matanya kaget. "Ah, be-benar juga. Maaf, terima kasih sudah membantuku tadi, aku permisi dulu, ya!" Niatnya bergegas pergi, tapi tangan Aichi dihentikan Kenji.

Grep.

Aichi menengok ke arah temannya itu dengan tatapan bingung. "Apa lagi?"

"Biarkan aku membantumu, dong. Aku tidak ikut apapun di acara yang dibuat kelasku, jadi daripada hanya jadi penonton, lebih baik aku melakukan sesuatu," pintanya dengan sedikit cengiran di wajahnya. Aichi terkekeh imut. Sudah kebiasaan temannya satu ini untuk beraktifitas dan tidak mau menganggur sedikit saja.

"Baiklah, tapi nanti harus bayar, ya!"

"Hekh!? Harusnya kamu yang bayar aku, dong, Aichi-kun! Hei, jangan kabur!"

"Hahahahahaha!"

"Duh, kaki kananku sedikit nyeri. Oi, Aichi-kun, nanti aku minta ganti rugi setelah festival selesai!"

Dan kedua insan itu kembali masuk ke dalam gedung sekolah, lebih tepatnya pergi lagi ke ruang OSIS untuk melakukan perkerjaan berikutnya. Tapi kali ini mereka menggunakan tangga samping agar tidak berdesak-desakan lagi.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

"Hei, lihat pemuda yang berjalan sendirian disana. Tampan, ya! Dia juga tinggi!"

"Benar, tampangnya stay-cool begitu, menggemaskan sekali, deh!"

"Rasanya aku ingin menyapanya, tapi aku takut menganggu. Apa dia sendirian saja kesini?"

"Orang setampan dia mana mungkin tidak punya pacar!"

"Jarang-jarang, ya, ada cowok keren lainnya yang auranya sekuat orang itu!"

Beberapa gadis yang menghadiri festival sekolah sebagai pengunjung tampak tertarik pada sesosok figur yang berjalan sendiri menelusuri lorong lantai dua gedung sekolah. Figur itu memiliki rambut brunet yang tertata rapi, kemeja putih, celana hitam panjang, serta kedua tangannya yang mengumpat di masing-masing saku celana.

Manik hijaunya yang tajam terus melirik-lirik ke setiap acara yang dibuat kelas atau klub sekolah itu. Tapi ia sama sekali tidak berminat untuk masuk ke salah satunya dan menikmati pelayanan dari anak-anak SMU itu. Mata tajamnya dengan teliti melihat tiap inci sudut ruangan, mencari sesuatu yang begitu penting.

'Kemana buku itu? Padahal aku menerima signalnya dari arah bangunan ramai ini, tapi susah sekali untuk ditemukan...' umpatnya kesal. Figur itu mengeluarkan tangan kirinya dari saku kemudian menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, tanda ia hampir putus asa. Mencari satu buku di gedung sekolah besar bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.

Kemudian kakinya berhenti di satu papan pengumuman. Pura-pura membaca berbagai tulisan disana padahal hanya melihat-lihat yang menurutnya menarik. Dan ia sedikit risih dengan tatapan beberapa kaum hawa yang tertarik dengannya. Tidak mempedulikan mereka, ia pun melihat-lihat salah satu tempelan kertas di papan pengumuman yang menurutnya menarik.

'...pengusul tema adalah sekretaris OSIS, Sendou Aichi? Ceh, pasti hanya anak ingusan yang tingkat khayalannya tinggi.' Pemuda itu mendengus dan tersenyum miris. Ia sempat tertarik dengan tema yang dipakai festival sekolah disini, yaitu dunia sihir. Dunia fantasi yang selalu menjadi khayalan banyak manusia bumi. Ia memejamkan kedua mata hijaunya.

Andai saja dunia sihir sesuai dengan apa yang dikarang oleh manusia-manusia bumi, yaitu dunia yang memiliki sungai madu, pepohonan berbuah tanpa batas, semua makhluk hidup saling berdampingan, pangeran yang menyelamatkan putri lalu berakhir dengan happy ending, betapa bahagianya ia, yang merupakan salah satu dari penghuni dimensi sana.

Tapi, sayangnya harapan tidak semuluk itu.

Pada kenyataannya, dengan kedua mata emerald-nya sendiri ia menyaksikan dunianya. Dunia tempatnya berada sama sekali tidak layak untuk disebut sebagai dunia yang indah. Semua hancur. Sama sekali tidak ada harapan. Ia sendiri muak hidup di tempat seperti itu.

'―memuakan,'

NGING.

"Hah?!" kedua matanya kembali terbuka begitu ia merasakan firasat yang tidak mengenakan. Ia segera menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa firasat tadi hanya lelucon saja.

'Signal tadi signal Xaiphos hitam. Tidak mungkin makhluk mengerikan itu ada di dunia ini, 'kan―!?' dan kemudian kedua mata emerald-nya membulat syok. Di salah satu pengunjung wanita yang jaraknya tak jauh darinya terdapat sesuatu yang menempel di belakang tubuhnya. Sesuatu yang mirip seperti―

'―brengsek, siluman makhluk bawah tanah yang sudah terinfeksi Chysin! Apa ia tidak menyadarinya!?' pemuda berambut brunet itu sedikit menggeram. Ia tidak mungkin berubah wujud disini untuk membunuh makhluk berbahaya itu. Ya, berbahaya di dunianya. Tapi mungkin juga berbahaya di dunia yang ini. Lagipula dengan posisi seperti itu, sulit untuk melepas makhluk hitam itu dari makhluk awam.

"Hun-chan, kau kenapa, wajahmu pucat sekali?" sementara pemuda tadi terus memandang punggung pengunjung tadi, seorang wanita menghampiri. Mungkin temannya gadis itu, pikir si brunet.

Gadis yang punggungnya terdapat makhluk aneh tadi menggeleng. Padahal jelas sekali wajahnya memucat seperti mayat yang sudah berminggu-minggu disimpan. Manik emerald pemuda tadi menajam. 'Mereka memang tidak bisa melihatnya, tapi kalau dibiarkan seperti ini bisa gawat...'

Diantara dua pilihan sekarang, berubah wujud di depan orang awam untuk menyelamatkannya dan memusnahkan makhluk tadi. Atau menunggu sampai makhluk itu pergi ke tempat sepi, baru membunuhnya. Memang di kondisi sekarang, makhluk hitam itu memiliki persentase kecil untuk pergi dari manusia yang dihinggapinya.

'Dalam kasus seperti ini, dia yang sudah terinfeksi Chysin akan berubah menjadi Xaiphos hitam dalam kurun waktu tertentu, lalu menjadi parasit di tubuh orang itu. Dilihat dari fisik, sepertinya ia sudah menjadi setengah Xaiphos dan menghisap nutrisi dari gadis itu, makanya wajah korban sudah memucat. Celaka, apa yang harus kulakukan!?' pemuda itu terus berpikir. Ia mengikuti diam-diam gadis itu sambil menunggu kondisi yang tepat.

Tapi ketika matanya beralih memandang yang lain, ia bertambah syok. Rupanya tidak hanya satu kanibal yang hinggap di dunia makhluk awam ini. Tapi ketika matanya menelusuri lorong, ada banyak korban lainnya. Ada dari mereka yang sudah pingsan, dengan makhluk hitam yang sudah menghisap nutrisi dari tubuh mereka sampai mengering. Sayangnya manusia tak bisa melihat kanibal-kanibal itu. Mereka hanya mengira kalau temannya sedang sakit atau apa.

Tapi bukan hal itu yang membuat pemuda bersurai brunet tadi curiga. 'Ba-Bagaimana bisa sebanyak ini? Jangan-jangan...' kemudian ia berlari menelusuri koridor, tak peduli lagi pada gadis tadi. Ia mulai mencurigai adanya kambing hitam dari semua ini. Dan betul saja, ia menemukan jejak tetesan hitam di ujung lorong. Berlari, pemuda tadi segera berlari mengikuti jejak itu.

'Dia―!' ia menemukannya. Sesosok gadis yang tengah memain-mainkan sebuah botol segi enam dan mengenakan sebuah jaket dengan lambang yang begitu dikenalnya. Pemuda itu menghela nafas dan memejamkan matanya tenang.

"Silence Silk... mau apa disini?" tanyanya tenang, membuat gadis tadi terperanjat kaget dan menengok ke belakangnya. Gadis berambut merah muda itu terdiam sejenak, kemudian ia membulatkan matanya dan memasang wajah imut.

"Oh! Kau 'kan Xaiphos putih yang dibicarakan itu! Pantas saja kau bisa melihatku, hehehehe~," gadis itu memeletkan lidah dan memiringkan kepalanya, yang sama sekali tidak menerima respon berarti dari pemuda tadi.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku." balas pemuda tadi dengan nada ketus. Kedua tangannya tersimpan di saku dengan santai, sama sekali tidak berpikir untuk memasang ancang-ancang bertarung. Sekalipun yang berada di hadapannya ini termasuk musuh bebuyutannya.

Gadis itu tertunduk, sampai helaian poninya menutup akses penglihatannya. Tapi sesaat kemudian, ia mengangkat kepalanya lagi. Kali ini bukan wajah manis seorang gadis yang ia perlihatkan, melainkan senyum licik yang begitu mengerikan untuk anak seukurannya. "Untuk apa aku disini? Tentu saja untuk ini," lalu gadis itu mengacung-acungkan botol berbentuk segi enam yang tadi sempat ia mainkan. Terdapat larutan berwarna hitam di dalamnya.

"...sebelum kami menghancurkan Savhalon seutuhnya, kami juga akan mengubah daratan bumi menjadi kuburan. Jadi kalau Savhalon terlalu penuh untuk dijadikan kuburan, kami bisa memindahkannya kesini, hehehehe..." gadis itu menyeringai sadis, berbeda dengan perangainya tadi. Pemuda di hadapannya mengernyit dahinya.

'Itu bukan alasan yang sebenarnya.'

"Tapi, yah..." gadis itu mengangkat kedua tangannya dan memasang wajah remeh. Sedetik kemudian terdapat urat-urat di sekitar matanya. "Tujuanku yang sebenarnya adalah melenyapkan Jewelic," ujarnya dengan nada berat sembari mengangkat botol segi enam tadi tinggi-tinggi.

DEG.

Kai berusaha memperlihatkan wajah setenang mungkin, seakan-akan ia tidak peduli dengan apapun yang diucapkan gadis itu. Walau sebetulnya hatinya sedang kacau. Gadis itu terkekeh tahu kalau pemuda di depannya sedikit kaget mendengar pernyataannya tadi. "Kau sendiri tahu 'kan kalau Jewelic memiliki kekuatan yang cukup besar. Sayangnya mereka tak bisa dijadikan kawan untuk kami, jadi sebagai gantinya aku akan melenyapkannya..." lanjut gadis itu lagi. Pemuda lainnya mengernyit dahi.

"Bukannya kalian sudah membunuh Jewelic? Atau kau tertinggal berita dari atasanmu, huh?" sindir pemuda itu. Sementara gadis tadi hilang senyumnya. Ia menatap remeh ke arah pemuda di depannya, yang dikategorikan sebagai musuh.

"Yang tertinggal berita itu kau, Xaiphos putih. Ah, maksudku, Kai. Aku kagum padamu yang bisa tahu kalau Jewelic sudah kami bunuh," gadis itu tersenyum manis dan bertepuk tangan. Sementara manik hijau pemuda bernama Kai tadi menajam.

'Aku tertinggal berita? Apa maksudnya?' pikirnya dalam hati.

"Ogata yang keras kepala itu sudah kami bunuh, dua minggu yang lalu. Tapi hal itu sama sekali tidak ada artinya, karena ia sudah mewariskan Jewelic baru sebelum Xaiphos hitam kami menemukan Ogata. Apa kau tidak tahu?" seketika tubuh Kai menegang mendengarnya.

'Jewelic baru!? Jangan-jangan―'

"Jewelic baru yang kau maksud... memegang buku Xaiphos?" gadis tadi langsung bertepuk tangan dan memasang wajah ceria.

"Ting tong! Kau benar sekali, Kai! Jadi, sudah, ya! Aku yakin kau tidak tahu dimana Jewelic itu berada dan siapa dia, begitu juga dengan aku. Karena itu aku menyebarkan Xaiphos hitam agar bisa membunuh seisi sekolah ini. Dia yang merupakan salah satu dari mereka, pasti lambat cepat akan..." menjedah ucapannya, gadis itu kembali menyeringai sadis.

"...mati."

"Tidak akan. Kalian yang akan kuhancurkan, Brengsek!" Kai menggeram kesal, tapi gadis itu sama sekali tidak ketakutan. Ia justru tertawa terbahak-bahak, membahana ke seluruh penjuru lorong.

"Menarik. Namaku Rekka Jhoweel, lain kali kita pasti akan bertemu lagi. Ya, itu 'pun kalau kau menemukan Jewelic itu," ucap gadis itu sebelum ia berlari dengan kecepatan tinggi ke arah yang berlawanan, menjauhi Kai. Lalu lenyap dalam hitungan detik dengan bom asap.

"Sialan!"

BUK.

Kai menghantam dinding lorong dengan kepalan tangan kirinya, sukses membuat sedikit retakan disana. Ia menggeram kesal. Ia tahu persis apa maksud tersembunyi dari gadis bernama Rekka tadi. Sekuat apapun ia, tetap saja ia tidak bisa berubah menjadi sosok sesungguhnya di depan manusia awam. Ia tidak bisa mencari Jewelic dengan leluasa di dunia yang tak percaya akan spiritual ini.

'Celaka, aku harus cepat―!'

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Bruk.

"Ha―ah~," seorang pemuda berparas imut terduduk lemas di pojok halaman yang cukup sepi dari akses pengunjung festival. Aichi menyekah keringat yang ada di dahinya dan melonggarkan ikatan dasinya.

Ia menatap sendu ke arah stand-stand di tengah halaman sekolah yang dipadati pengunjung. Sudah dua jam sejak ia menjadi tukang antar barang secara instan, rasanya pengunjung festival semakin banyak saja. Aichi sedikit tersenyum tatkala melihat kedua anak kecil yang begitu antusias dengan dua buku cerita tentang fantasi. Bahkan anak kecil pun bisa mengerti bagaimana dalamnya minat Aichi.

Pohon besar yang rindang melindungi tubuh pemuda bermanik biru itu dari sinar matahari. Baguslah, Aichi ingin beristirahat sejenak setelah lelah bolak-balik mengantarkan berbagai keperluan ke stand-stand dan acara kelas. Sekalipun sudah dibantu oleh sahabatnya, Kenji. Kalau membicarakan anak bermanik perak itu, Aichi sendiri tidak tahu ia kemana. Saat Aichi mendapat tugas membawa barang ke dua stand sekaligus, Kenji memutuskan untuk membawakan satunya. Jadi mereka berpisah. Dan dari sana, ia sudah tak melihat batang hidung sang bintang klub atletik.

Aichi meraih ponselnya. Ah, rupanya ada pesan dari Kenji. 'Aku tak menyadarinya, apa karena tadi aku terlalu sibuk, ya?' kemudian pemuda itu pun membaca pesan yang pasti dikirim sejak mereka berpisah saat tugas tadi.

From: Kenji-kun.

Aichi-kun, kau dimana? Tadi saat aku mengantar piring-piring tambahan ke stand nugget, mereka meragukanku karena aku tidak memakai blazzer panitia. Tapi sekarang tugasku sudah selesai.

"Hahahahahaha!" Aichi tertawa cukup keras. Mungkin lebih keras lagi kalau Kenji sedang berbicara seperti itu di depannya dengan wajah konyolnya kalau malu. Ia pun segera mengetik balasan.

To: Kenji-kun.

Terima kasih, Kenji-kun! Kau sungguh membantuku! :D
Sekarang, sih, aku tidak dicari-cari panitia OSIS untuk membantu, jadi aku beristirahat sebentar.

SENDING MESSAGE―

Aichi kembali menyimpan ponselnya di saku bajunya. Ia menatap ke atas, ranting-ranting pohon yang tertiup semilir angin yang didapat oleh kedua indera penglihatannya. Pemandangan yang menenangkan hati. Pikirannya seketika kosong, sampai akhirnya kembali melayang pada kejadian-kejadian aneh yang menimpanya tempo lalu.

Ia masih belum mengerti semua ini. Tapi Aichi ingin tahu. Apa yang menyebabkan buku itu menulis nama kakeknya, apa itu Xaiphos, mengapa buku itu berteriak minta tolong, kenapa waktu berjalan dua minggu tanpa ia sadari? 'Mungkin sepulang sekolah, aku harus memastikannya. Kakek tidak punya ponsel, jadi aku tak bisa menghubunginya.'

Karena tadi pagi Aichi terlalu terburu-buru untuk pergi ke sekolah, ia bahkan baru menyadari kalau tidak melihat kedua orangtuanya di pagi hari. Sedikit aneh, sih. Di keluarga Aichi, yang bangunnya paling siang adalah dia sendiri. Setiap bangun tidur, pasti manik biru Aichi melihat ayahnya sedang membaca koran di meja makan, sementara ibunya sedang mempersiapkan sarapan mereka.

'Oh, iya. Tadi saat aku ke bawah, suasananya masih gelap dan sepi. Apa mungkin Ayah dan Ibu sedang tidur, ya?' Aichi memandang ke atas dan menempelkan telunjuknya di dagu, memasang pose berpikir. Ia merasa sedikit janggal, tapi Aichi sendiri tidak ingin terlalu cepat berprasangka buruk. Lagipula tidak biasanya kedua orangtua Aichi sampai tidak hadir di meja makan di pagi hari. Minimal ada ibunya disana.

"Eh, tunggu... Kalau begitu aku juga belum sarapan, ya?" Aichi langsung menggetok kepalanya pelan begitu mengetahui kecerobohannya yang lupa makan pagi. Tadi ia terlalu terburu-buru sampai melesat dari rumahnya ke sekolah seperti cheetah dikejar truk. Dan sekarang ia baru merasakan perutnya berteriak minta diisi.

'Duh, malunya. Aku pasti akan ditertawakan Kenji kalau dia tahu...' Aichi menundukan kepalanya, menyembunyikan semburat merah di wajahnya yang tampak samar-samar.

TRILING.

"Eh?" Aichi merasa saku bajunya bergetar, dan ternyata tak lain adalah ponselnya yang berdering menerima pesan baru. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan tersebut.

From: Kenji-kun.

Begitu, ya. Eh, aku sudah lapar, nih. Banyak bergerak kesana-kesini seperti pengantar barang membuatku ingin makan lagi. Kau mau menemaniku, tidak? Kutunggu di Restorant Cina di kelas XI-2, ya.

Pemuda bersurai biru itu langsung jatuh gedubrak di tempatnya duduk. Panjang umur, baru saja ia ingin mencari makan, sobat baiknya itu langsung mengajarnya makan. Tentu saja Aichi menerimanya, tapi tidak dengan terang-terangan mengatakan kalau dia belum sarapan.

To: Kenji-kun.

Boleh saja, aku akan kesana sekarang. Tidak akan lama, jangan makan duluan sebelum aku datang, lho.

SENDING MESSAGE―

Hup.

Aichi bangkit berdiri seraya menyimpan ponselnya kembali ke saku. Ia mengangkat kedua tangannya, otot-ototnya yang tadi kelelahan sudah terasa lebih baik. Syukurlah. Ia pun segera bergegas masuk ke gedung sekolah lagi dan menaiki lantai kedua, dimana kelas angkatan SMA berada. Tapi karena saking laparnya, mau tidak mau ia harus kembali berdesak-desakan dengan pengunjung festival karena lupa melewati pintu belakang.

'Oh, iya ...' Aichi baru teringat sesuatu, '... karena takut kenapa-kenapa, aku membawa buku Xaiphos itu tadi. Tasku ada di ruangan OSIS, semoga saja tidak ada yang mengetahuinya,' pikirnya harap-harap cemas. Ia sedikit takut kalau ada orang lain yang membukanya lalu kena caci-maki muka menyeramkan itu.

'Hng?' samar-samar di tengah kerumunan tadi, Aichi melihat sesosok makhluk hitam yang berjalan berlawanan arah dengannya. Kira-kira tingginya tak sampai lutut anak remaja, '... memangnya di sekolah boleh membawa peliharaan, ya? Yang tadi itu anjing hitam atau apa?'

Tapi kemudian Aichi memutar bola matanya, "... biar saja, deh."

Tap.

Tap.

Tap.

Aichi mulai menaiki tangga, yang untungnya tidak ramai seperti pintu utama tadi. Sampai di anak tangga terakhir, mata Aichi sedikit dikejutkan dengan pemandangan aneh di hadapannya.

'Makhluk hitam apa itu? Peliharaan? Kok seperti kerdil?' ia mengernyitkan dahinya bingung. Di beberapa pengunjung, terdapat makhluk yang serupa dengan kerdil di punggung mereka. Dan dari raut wajah pengunjung yang pucat, sepertinya kondisi mereka sedang tidak baik.

'Apa ini bagian dari festival? Ta-Tapi rasanya ... aku tak pernah merencanakan membuat androit kerdil untuk pengunjung. I-Ini aneh...' Aichi menatap makhluk-makhluk hitam itu dengan tatapan tak mengerti. Di sisi lain ia juga sedikit takut, kerdil hitam itu tak terlihat ramah. Dan begitu Aichi menatap intens ke salah satu kerdil itu, sepertinya makhluk itu menyadarinya. Kerdil hitam yang sedang asyik memeluk leher salah satu pengunjung pun menengok ke arah Aichi.

"H-HYII!" Aichi sontak ketakutan, wajah makhluk itu sungguh menyeramkan. Ia menatap Aichi dengan tatapan kosong, juga lapar. Dengan sisa tenaga yang ada, Aichi langsung berlari menuju lantai berikutnya.

"Ma-Makhluk apa tadi!? Ke-Kenapa seram sekali!? Ini tidak ada dalam bagian rencana festival, a-aku yakin!" seru Aichi dengan panik. Begitu sampai ke lantai dua, ia langsung melihat ke kiri dan ke kanan. Ia syok seketika. Pemandangan yang sama seperti tadi, malah lebih parah. Hampir di setiap pengunjung memiliki makhluk serupa dengan kerdil di sekitar mereka.

Dan yang lebih parah, ada beberapa dari pengunjung yang pingsan, dan kerdil aneh itu sedang menyedot sesuatu dari mulut mereka sampai tubuh makhluk hitam itu menggemuk. 'Hyiii, ma-makhluk apa mereka!? Ke-Kenji-kun, dia pasti tahu sesuatu!' Aichi langsung berlari mencari kelas XI, dengan pemandangan yang tidak mengenakan mengiringi larinya.

Hampir di seluruh lorong, semua manusia-manusia yang ada menjadi pucat karena ada makhluk hitam itu di dekat mereka. Aichi sama sekali tidak mengerti. Sepintar-pintarnya ia dalam pelajaran biologi, ia tak pernah tahu spesies hewan apa kali ini.

Makhluk bawah tanah?

Ini tidak masuk akal.

"Kenji-kun!" akhirnya sosok yang ingin Aichi cari ditemukan. Kenji sedang jatuh bersujud di depan kelas XI, membelakangi Aichi. Pemuda bermanik biru itu sedikit lega karena ia tidak menemukan makhluk hitam itu di sekitar sahabatnya, mungkin Kenji bisa menjelaskan sesuatu padanya―

"A... Aichi-kun..." tapi dalam waktu cepat, rasa lega yang tadi hinggap di hati Aichi langsung lenyap. Suara Kenji tampak serak, ia menengok ke belakang dengan perlahan, dimana Aichi sedang berdiri di belakangnya.

DEG.

Wajah Kenji berwarna hitam, seperti terbakar. Juga kedua mata yang tak berpupil, seperti bukan manusia. Detik itu juga Aichi langsung terdiam di tempat. Apa teman baiknya juga menjadi korban kanibal hitam tadi? Apa ini semua ada hubungannya dengan Xaiphos?

.

.

.

Significance Essense

"If you touch the second world, don't try to escape from them..."

To Be Continued...

.

.

Information Fiction:
Xaiphos dibagi menjadi dua jenis karena suatu tragedi, yaitu Xaiphos putih dan Xaiphos hitam. Xaiphos putih memiliki akal, masih bisa berinteraksi normal seperti manusia biasa, dan memiliki keharusan untuk memilih 'pasangan'nya. Sementara Xaiphos hitam berakal rendah, dan hanya bertindak sesukanya―yang kebanyakan merugikan manusia dan makhluk hidup―.

Biodata Character:
―NONE FOR THIS CHAPTER―

Reply Review:

Cece Lien: Makin seru? Hahaha, kami senang kalau kamu berpendapat seperti itu, karena biasanya fanfiksi aksi kami membosankan. Soal kenapa Aichi pingsan sampai dua minggu, ikuti saja terus cerita fiksi ini, lambat cepat pasti tahu alasannya, kok. Ren dan Kamui 'kan jarang akur di fiksi lain, ehehehe. Aichi baru mengira-ngira/memprediksi kalau kakeknya sudah meninggal. Thanks, ya.

Yu Si Anak Layangan: Review anon nggak apa-apa, kok. Tebakanmu ada benarnya, kakek Aichi mati karena nyawanya diincar. Ren sama Kamui disini memang dibuat akrab, 'kan kepala negara dan kepala tentara. Makasih cek misstypo-nya, ya. Thanks.

Airy Karmila: Gapapa, kok, baru sempat review. Alur fiksi-nya memang nggak langsung terang-terangan, jadi maklum kalau susah dimengerti. Soal Ren sama Kamui, hehehe, iya, mungkin kesannya agak sadis, tapi apa boleh buat, demi plot cerita juga. Reviewnya nggak gaje, kok. Thanks, ya.

Yun Mei Ho: Terima kasih sudah mau baca. Cover-nya sesuatu? Ah, makasih banyak. Kalau nggak begitu suka fantasi, sebaiknya jangan terlalu konsentrasi dengan fiksi ini, soalnya fantasi salah satu genre utamanya. KamuiEmi? Boleh juga request-nya. Thanks, ya.

Kira Yashiro: Terima kasih sudah membaca. Chapter baru sudah ada, selamat menikmatinya. Thanks, ya.

Laruku Tsuyumu: Oh, kami nggak tahu kamu suka genre fantasi-superanatural, semoga kamu juga menyukai fiksi ini. Kai dan Aichi pasti ketemu, tinggal tunggu timing, hahaha. Chapter baru sudah ada. Thanks, ya.

Snowy Coyote: Update-nya sih enggak nentu, kemarin kebetulan waktu lagi senggang. Oh, maaf kalau deskripsinya kurang detail, kami akan berlatih lagi. Soal timeline-nya, ikuti saja terus fiksi ini, lambat cepat juga tahu kenapa, hehehe. Thanks, ya.

Review, onegai?
Sorry for misstypo(s).

Sincerely,
25 October 2013

HYUCCHI―SakiGane―