A/N: Horaiyo! ^o^/ Kami kembali dengan chapter empat! Terima kasih sudah membaca sampai chapter tiga dan respon-respon kalian, hehehehe. Mulai dari chapter tiga baru banyak pertanyaan, nih. Dijawab nggak, ya? *langsung-digoreng* Akan dijawab setelah yang satu ini *ala-iklan*. Aye!
Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₄ Can you discovered the mistery?
"Ke... Kenji-kun... A-Ada apa dengan... wajahmu?" Aichi bertanya dengan suara pelan. Ia berusaha memperlihatkan wajah yang biasanya ia perlihatkan pada sobat baiknya, ekspresi yang ringan dan nyaman. Tapi sepertinya hal tersebut tidaklah mudah, karena Aichi sendiri sedang takut sekarang.
'Kenji-kun pasti sedang mengerjaiku, 'kan? Iya, 'kan? Ya―yang dipakainya di wajah itu pasti topeng―'
"A-Aichi-kun... Aku, wajahku sakit... sekujur tubuhku sakit sekali," suara serak Kenji berujar. Dengan susah payah, Kenji mengangkat tangan kanannya yang juga tidak berbentuk seperti tangan manusia. Terlihat jelas cairan liquid di dalam tangan itu, seperti balon berbentuk tangan yang diisi air. Aichi langsung bergidik melihatnya.
"Kenji―"
"Lari, Aichi-kun! Jangan dekati aku! Kumohon..." dengan tangan kirinya, pemuda yang lebih tinggi dari Aichi memegang kepalanya kesakitan. Tubuhnya semakin berubah, kini giliran rambut keemasannya yang perlahan berubah warna menjadi abu-abu. Aichi semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa temannya meminta ia untuk pergi? Padahal pemuda bermanik biru ini begitu mengkhawatirkan Kenji.
"Ke-Kenapa, Kenji-kun? Kau harus menjelaskannya padaku! Aku sama sekali tidak mengerti, apa yang terjadi padamu!?" Aichi tetap bertahan pada posisi berdirinya, walau kedua tangannya ingin sekali menggapai tubuh sang sahabat. Kedua matanya tidak lagi berwarna keperakan, tapi Aichi masih bisa melihatnya dengan jelas, mata itu menunjukan ekspresi sedih pada Aichi.
"Lambat cepat... kau pa-pasti akan tahu, ukh! Pergilah, me-menjauh dari sini, menjauh dari sekolah ini... ka-kau teman baikku, bukan?" lalu dengan wajah itu, Kenji tersenyum miris.
Deg.
Aichi menjadi tidak kuasa. Diantara menuruti kemauan hatinya atau kemauan teman baiknya, "... Pergilah, cepat!"
"Kh..." kedua kaki Aichi bergetar, diantara ingin maju untuk menggapai Kenji, atau mundur dan pergi sesuai permintaan temannya. Kedua manik shappire-nya bergetar, ia ragu bukan pada tempatnya. Tapi sekarang bukan waktunya untuk berpikir matang-matang. Temannya dalam bahaya, mungkin dia juga.
Drap.
"A-Aku pergi sesuai kemauanmu, Kenji-kun! Ta-Tapi nanti... nanti, kau harus menjelaskan apa yang terjadi padaku!" Pemuda ber-blazzer kebesaran itu pun membalikan badan dan berlari sekencang-kencangnya, dengan hati terluka karena merasa mengkhianati temannya sendiri.
Di belakangnya, sosok Kenji telah berubah seutuhnya. Hampir seluruh tubuhnya menjadi berwarna hitam. Tapi sebelum kesadarannya menghilang, ia sempat meneteskan air mata, walau dengan kondisi mata tak berpupil lagi.
'Aichi-kun, maafkan aku...'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Tap.
Tap.
Tap.
Tap.
"Hah... hah... hah..." Aichi berlari sekuat tenaga. Pemandangan di sekitarnya semakin mengerikan. Makhluk-makhluk hitam itu semakin banyak. Aichi hanya bisa berharap kalau ia tidak menjadi korban, seperti manusia-manusia yang sudah tergeletak di seluruh penjuru lantai dua. Aichi bahkan tidak yakin kalau mereka masih hidup.
Toh' mereka pingsan dengan kondisi tubuh kurus kering dan bola mata yang terlihat lembek. 'A-Aku harus berlari sampai mana? Sampai kapan makhluk-makhluk itu―'
Sial bagi Aichi, salah satu dari kerdil hitam yang tadinya sedang asyik sendiri tampak tertarik dengan dirinya. Bahkan manik birunya sempat bertatapan dengan mata kerdil aneh itu.
DEG.
'Celaka!'
Dan benar saja, kerdil itu langsung mengejarnya, "H-Hyiii, tidak! Menjauh dariku, Makhluk Aneh!" seru Aichi padanya, masih tetap berlari menuju tangga. Tapi sepertinya usahanya sia-sia, bahkan raut wajah ketakutan Aichi sendiri semakin mengundang semangat kanibal mengerikan itu untuk mendapatkannya.
Parahnya, lari makhluk itu cukup cepat. Padahal tinggi tubuhnya tak lebih dari lutut manusia remaja, kakinya juga tergolong pendek. Tapi ia sanggup mengejar kecepatan lari Aichi yang notabene memiliki kaki lebih panjang dari kerdil, 'Ba-Bagaimana ini? Dia bisa menangkapku―'
GREP.
Pemuda remaja itu langsung syok di tempat tatkala merasakan makhluk itu menempel di punggungnya, sama halnya yang dilakukan mereka pada manusia-manusia lain. Sontak pemuda manis itu langsung menjerit dan berusaha menghempas kerdil hitam.
"Lepas dariku!"
BRET.
Tanpa sadar, tangan Aichi mengeluarkan bias cahaya tatkala ia berusaha menghempaskan makhluk tadi dari punggungnya. Manik birunya langsung membulat terkejut. Cahaya apa tadi? Apa matanya saja yang salah melihat dengan cahaya lampu koridor?
BRUAK.
Kerdil tadi terhempas cukup jauh. Sayangnya, hempasan tadi tidak menimbulkan luka di tubuhnya, atau bahkan membuatnya pingsan. Kerdil hitam itu kembali bangkit, lalu tersenyum lebar ke arah Aichi. Tubuh pemuda itu sedikit merinding, ia tahu arti senyuman itu bukan sesuatu yang baik. Dan benar saja, seketika semua kerdil-kerdil hitam yang memenuhi lorong dan kelas pun melirik ke arahnya, dengan tatapan yang sama.
Deg.
"Ti―tidak, bagaimana ini..." dengan perlahan, kedua kaki Aichi berjalan mundur. Sementara kerdil-kerdil gemuk itu berjalan mendekat ke arahnya. Aichi berusaha berpikir untuk bisa kabur dari mereka yang jumlahnya begitu banyak. Di sisi lain, percuma meminta pertolongan, karena tidak ada seorang manusia pun yang berdiri sepertinya. Semuanya tergeletak seperti mayat.
Sruk.
Aichi melirik ke arah samping kanannya, tangga sudah di depan mata! Ia merogoh sakunya dan melempar ponselnya ke arah kerdil-kerdil hitam itu. Sesuai harapan Aichi, pandangan mereka teralihkan oleh ponsel, Aichi bergegas berlari ke arah tangga dan turun.
Drap.
Drap.
Drap.
'Aku harus segera mengambil tasku di ruang OSIS dan melarikan diri!' tekatnya, lalu berhasil sampai ke lantai pertama. Kedua manik birunya aktif melihat ke sekitar. Kondisi lantai pertama tidak separah lantai kedua, tapi tetap saja, Aichi bisa melihat tiga empat ekor kerdil yang sedang memangsa manusia.
"―GYAAAH!"
"HAH!?" Aichi terkejut mendapati suara di belakang, yang tak lain adalah suara kerdil-kerdil hitam dari lantai dua. Sepertinya mereka baru sadar kalau tadi dikelabui dan sekarang ingin menyusul ke bawah. Wajah Aichi memucat. Dengan segera ia berlari ke arah ruang OSIS, tak peduli menabrak beberapa pengunjung yang berlalu lalang di lorong itu.
Duk.
"Duh, apa-apaan, sih, kamu!?"
"Jalan hati-hati, dong!"
Bahkan cacian dari mereka yang tertabrak kasar oleh Aichi tidak dipedulikan. Padahal Aichi sendiri sebetulnya ingin meminta maaf, tapi tidak ada waktu. Memang sedikit takut, tapi kemudian Aichi memberanikan diri menengokan kepalanya ke belakang―
GLEK.
Di sisi lain, Aichi merasa berdosa. Tapi ia tak punya pilihan. Sekelompok kerdil yang tadi mengejarnya sudah turun ke lantai pertama, sama sepertinya. Tapi perhatian mereka langsung teralihkan oleh tubuh-tubuh manusia yang masih sehat di belakang Aichi. Satu persatu dari kanibal mengerikan itu pun hinggap di punggung-punggung mereka, layaknya Aichi mengorbankan mereka menjadi umpan.
'Ukh, ma-maafkan aku...' Aichi memejamkan matanya erat sambil terus berlari menuju ruang OSIS. Buku Xaiphos pemberian kakeknya ada di tasnya. Ia merasa buku itu ada sangkut pautnya dengan semua ini, lagipula buku itu juga sangat berharga. Jangan sampai pemuda bersurai biru ini kehilangan buku Xaiphos-nya.
GRAAK.
"Pe-Permisi!" Aichi menggeser pintu OSIS, dan panitia-panitia OSIS yang masih sibuk disana pun memandang ke arah Aichi sekilas. Tanpa peduli apapun, mata birunya segera melirik ke arah kursi dimana ia meletakan tas hitamnya tadi.
Ketemu!
Tasnya masih berada disana, tanpa seorang pun menggesernya dengan alasan ingin memakai kursi itu. Aichi langsung berlari menghampiri tasnya.
Grep.
"Oi, Sendou-kun, ini belum waktunya kau pulang, 'kan?" sang ketua OSIS angkat bicara tatkala melihat sekretaris OSIS mendekat ke arah tasnya, "Masih ada tugas untuk menghitung anggaran pemasukan dan pengeluaran, Sendou―"
"Ma-Maaf, Ketua! A-Aku harus pergi, tidak ada waktu lagi!" ketua OSIS mengernyitkan dahinya melihat Aichi yang terlihat begitu buru-buru dan panik, tidak seperti biasanya. Ia segera menahan lengan Aichi sebelum pemuda itu melesat keluar ruangan.
Grep.
"Tunggu, Sendou-kun! Kau tidak bisa pergi begitu saja, jangan tinggalkan tanggung jawabmu begitu saja!" seruan itu membuat jantung Aichi berhenti berdetak seketika. Kata-kata sang ketua ada benarnya, Aichi pun tidak ingin meninggalkan tugasnya dan pergi seakan-akan tidak memiliki tanggung jawab apapun. Tapi sekarang kondisinya berbeda, keselamatannya terancam.
Apa disaat seperti ini ia masih layak mementingkan masalah anggaran?
Grrt.
"Ke-Ketua, lepaskan aku! Ku-Kumohon, aku harus pergi sekarang!" Aichi berusaha untuk melawan, tapi tangan ketua OSIS lebih kuat menahan lengannya. Seisi ruangan pun menatap bingung adegan yang terjadi di depan mereka.
Lagipula, langka sekali Sendou Aichi yang begitu antusias dalam menjalankan tugasnya kini tergesah-gesah pergi tanpa menyelesaikan tanggung jawab.
"Tidak bisa, Sendou-kun! Kau aneh sekali, kenapa kau terlihat buru-buru begini!? Jelaskan dulu padaku―" kelanjutan dari omelan ketua OSIS tak Aichi dengarkan lagi tatkala manik birunya melihat warna hitam di dekat pintu masuk.
Sial, kerdil hitam itu berhasil menemukannya.
Masih lebih baik kalau hanya satu, ini bahkan terdapat lebih dari tiga ekor. Mereka menyeringai memandang Aichi. Pemuda itu semakin panik, "Lepaskan, Ketua! Apa kau tidak melihat mereka!?" manik Aichi menunjuk ke arah pintu, kerdil-kerdil itu mulai menginjakan kakinya ke dalam ruangan. Ketua OSIS beserta seisi ruangan pun melirik ke arah pintu masuk.
Ketua mengernyitkan dahinya, "Siapa yang kau maksud dengan 'mereka', Aichi? Apa ada pengunjung yang protes pada OSIS?"
DEG.
Apa Aichi tak salah mendengar? Jelas-jelas mata shappire-nya melihat makhluk aneh itu mulai mendekat ke arahnya. Aichi semakin mengerahkan kekuatan untuk melepaskan cengkraman ketua OSIS dari lengannya, "Bukan! Kerdil-kerdil hitam! Apa kalian tak melihatnya!? Mereka menuju kesini!"
Seisi ruangan mengernyitkan dahinya, beberapa diantara mereka langsung tertawa keras, "Sendou-kun, khayalanmu terlalu berlebihan! Hahahahahaha!"
"Tidak ada seorang pun disana, Sendou-kun, pasti kau sedang berhalusinasi. Lebih baik cuci mukamu dulu,"
"Bahkan mataku tak menangkap warna hitam di dekat pintu, hihihihihihihi."
DEG.
'A-Apa!? Me-Mereka tidak bisa melihatnya!? A-Apa benar aku sedang berhalusinasi!? Ta-tapi tadi saat salah satu dari kerdil itu hinggap di punggungku, terasa sekali sentuhannya! Aku yakin aku tidak sedang berhalusinasi!'
BATS.
"LEPASKAN!" beberapa dari kerdil yang tadi mulai memasuki ruangan pun meloncat ke tubuh-tubuh manusia yang masih segar di mata mereka. Salah satunya mendekati Aichi, tapi sekali lagi pemuda itu menebas dengan tas hitam miliknya.
BUK.
Drap.
Drap.
Drap.
Dan Aichi langsung pergi meninggalkan ruangan OSIS, menyisahkan beberapa insan yang masih terbengong-bengong disana. Tanpa tahu kalau nutrisi di tubuh mereka sedang diserap kanibal-kanibal yang menempel di punggung masing-masing.
"Si Sendou itu kenapa, sih? Seperti orang gila saja," komentar salah satu dari panitia yang duduk di depan monitor.
"Entahlah ... Duh, tubuhku mendadak lemas," pemuda lainnya menyahut seraya memegang keningnya.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Kai memandang malas ke arah kerumunan pengunjung yang melaut dari gedung sekolah lantai dasar sampai ke halaman sekolah. Akses pergerakannya menjadi terbatas. Padahal disisi lain, ia sedang terburu-buru. Manik emerald-nya tak henti-henti melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu. Ah, lebih tepatnya seseorang.
Perkataan gadis misterius bernama Rekka tadi membuatnya tak tenang. Tidak hanya di dunia kedua, ternyata organisasi dimana Rekka berada juga ingin melibatkan dunia pertama. Kai tak habis pikir, makhluk macam apa yang berdiri di atas organisasi menjijikan seperti itu. Yang selalu mengumpulkan pekikan memilukan semua penghuni dunia kedua, setiap harinya. Jeritan-jeritan mereka yang tak berdosa bagaikan alunan melodi merdu yang membuat organisasi itu bahagia.
Memang kejam.
Dunia ini memang kejam.
Karena itu, pemuda bertubuh atletis ini bersumpah untuk mengungkapkan kebenarannya. Menggorek-gorek seluk beluk misteri yang serupa dengan harta karun terkubur di dalam lautan. Jika ia berhasil menemukannya, berhasil meluruskan semuanya, dunia yang indah dan damai pun akan tercipta.
Namun hal itu tak semudah kita berbicara. Siapa saja bisa berbicara sesukanya, selama mereka masih memiliki satu-satunya mulut pemberian Yang Maha Kuasa. Tapi tidak semua dari mereka yang berbicara bisa melakukannya dengan tekat dan ketulusan hati, bukan? Berbuat tidak semudah berbicara.
Begitulah kenyataannya.
Untuk mencapai apa yang diharapkannya, tentu saja Kai harus mengikuti batu-batu penuntun jalan. Semua hal tidak langsung bisa didapat, ia harus melakukan berbagai langkah-langkah untuk mencapai tujuannya.
Dan yang sekarang harus dilakukannya adalah menemukan Jewelic. Berterima kasihlah pada Rekka, gadis bawahan Silence Silk yang memberi bocoran bahwa Jewelic berada di sekolah ini.
'Kemungkinan besar dia adalah murid atau guru sekolah ini. Kalau sekadar pengunjung, persentase keberadaannya kecil. Atau ia memberi Xaiphos hitam disini hanya sebagai umpan?' Kai meremat rambut coklatnya frustasi. Percuma ia bolak-balik tanpa tahu bagaimana wujud dari orang yang ingin dicarinya. Ia tak punya petunjuk. Disisi lain, Kai juga sedikit terkejut mengenai berita buruk yang dibawa Rekka.
―bahwa Jewelic sebelumnya, Ogata, sudah mereka bunuh.
Kai tak pernah bertatap muka sebelumnya dengan orang yang disebut Ogata itu. Tapi menurut rumor banyak orang, ia adalah seorang Jewelic yang sangat hebat dan berwibawa daripada generasi-generasi sebelumnya. Pemuda berkulit putih mulus ini tak menyangka kalau beliau sudah direngut nyawanya sebelum Kai bisa menemukannya. Harapannya hanyalah Jewelic baru yang sudah diturunkan Ogata.
'Tapi siapa? Tidak ada petunjuk apapun bagaimana Jewelic baru. Perempuan? Laki-laki? Atau sanak saudaranya? Sial, ini buang-buang waktu saja,' pemuda itu berhenti berjalan, tak peduli menghambat jalan orang lain di belakangnya. Air mukanya tidak tenang tatkala mata hijaunya melihat Xaiphos hitam, yang sedang memangsa salah satu manusia.
Grrt.
Kai mengeratkan kepalan tangannya. Ingin ia menghabisi makhluk hitam menyebalkan itu. Tapi realita menahan keinginannya. Bisa-bisa terjadi sesuatu yang heboh kalau ia mengeluarkan kekuatan superanaturalnya, di dunia yang menganggap sihir tak lain dari lelucon belaka.
'... huh?' Kai membulatkan kedua matanya. Sepertinya otaknya mulai berkerja mencari petunjuk. Ia pun berjalan mencari tempat yang lebih sepi dari keramaian. Dan mungkin lantai atas adalah pilihan yang tepat. Kai segera menyingkir dari kerumunan ramai dan menaiki tangga dengan langkah pelan.
'Benar juga, bagi orang-orang awam, kami tak memiliki eksistensi dan hanya fiksi. Tapi kalau Ogata, ia pasti mempercayai keberadaan kami. Orang yang ia turunkan Jewelic pasti juga... mempercayai superanatural itu ada. Orang itu seharusnya juga tertarik dengan dunia sihir...' seiring dengan anak tangga yang dipijaknya perlahan-lahan, ia pun menganalisa siapa orang yang dipilih Ogata menjadi Jewelic baru. Kai memejamkan matanya sejenak.
'... nama orang itu, benarkah hanya Ogata? Rasanya aku sering mendengar nama lengkapnya dari banyak orang. Sial, kenapa aku bisa lupa!? Sekarang benar-benar tidak ada waktu lagi―'
―...pengusul tema adalah sekretaris OSIS, Sendou Aichi―
Deg.
"Tema festival? Sihir? Sendou... Aichi? Sendou... Ogata?" Kai kembali membuka kedua matanya, memperlihatkan manik emerald-nya lagi. Ia tercengang di tempat. Nama Sendou seperti familiar di otaknya. Dan nama itu sesuai untuk nama Ogata. Mungkinkah? Mungkinkah pemberi tema dalam festival sekolah disini adalah Jewelic? Mungkinkah orang itu memiliki hubungan darah dengan―
"SE-SESEORANG, TOLOOONG AKUUU!"
"Hah?" Kedua bola mata Kai membulat sempurna tatkala mendengar suara teriakan, yang asalnya dari lantai atas. Firasat buruknya semakin kuat. Dengan secepat kilat, ia langsung menghilang dari tangga dalam hitungan detik.
'―persetan dengan wujudku yang ketahuan!'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
'Sial! Sial! Sial! Sial!' pemuda itu tak henti-hentinya mengumpat kata sial seiring dengan larinya. Nafasnya tersenggal-senggal, ia tidak kuat berlari jauh. Pikirannya sudah lelah, banyak hal-hal yang tidak ia mengerti datang pada kehidupannya. Andai saja ia bisa memutar waktu dan mengembalikan semuanya, ia tak akan pernah mau terlibat dalam masalah serumit ini.
Air mata menggenang di kelopak matanya. Ia menahannya agar sang buliran air tak tumpah dan membasahi wajahnya. Dalam hatinya, ia memaki-maki dan mengutuk dirinya sendiri, 'Andai saja aku tidak menyukai sihir, andai saja aku tidak memaksa kakek untuk meminjam satu dari buku sihirnya, andai saja aku tidak membaca buku itu, semua ini... semua ini tidak akan terjadi! Semua ini hanya mimpi!' umpatnya kesal. Aichi memejamkan kedua matanya, sampai buliran air matanya yang tadi menggenang pun jatuh juga.
Kondisinya saat ini tidak dalam keadaan baik. Tadi ia ingin melewati tangga utama untuk turun ke bawah dan menyelamatkan diri. Sayangnya, Aichi melupakan sesuatu yang fatal. Sebelumnya ia sempat melewati wilayah tangga utama untuk turun dari lantai atas kemari, otomatis makhluk-makhluk hitam yang tadi mengikutinya akan melewati jalur yang sama. Dan sekarang mereka memblokir jalan itu. Aichi tak mungkin melewatinya karena ia tidak yakin bisa menang melewati puluhan kerdil yang menghadang disana.
Satu-satunya harapan adalah tangga samping, tangga darurat sekolah yang jarang sekali dilalui siswa-siswa―apalagi pengunjung festival―karena jaraknya sangat jauh dari halaman sekolah dan pintu utama. Tangga tadi juga yang sempat digunakannya dengan Kenji untuk mengantar barang-barang. Itulah satu-satunya kesempatan yang ada. Kalau tangga itu bebas dari kerdil-kerdil hitam tadi, ia pasti bisa meloloskan diri.
Kondisi sekitar lantai satu pun hampir serupa dengan lantai dua, untuk sekarang. Aichi yang masih berlari sampai ke tangga samping pun tak kuasa untuk melirik ke sekitarnya, hanya untuk melihat-lihat. Karena ia sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi mereka. Manusia-manusia tak berdosa sudah tergeletak di sekitar mengiringi langkahnya. Dan tidak lupa, makhluk hitam menyerupai kerdil itu pun ada disana.
Tubuh mereka yang tadinya cukup gemuk, kini semakin membesar lagi. Entah apa penyebabnya. Yang jelas, ukuran tubuh mereka berubah sejak mereka menghinggapi manusia lain, seperti parasit yang memakan nutrisi inangnya. Aichi yang tadi tak sengaja melihat pemandangan itu menjadi mual sendiri. Ia tak kuat melihat manusia-manusia yang tadinya bergembira, sekarang tak lebih dari mayat kurus dengan wajah berekspresi tidak senang.
Mereka pasti mati dengan tidak tenang.
Aichi menggeleng-geleng kepalanya. Berkali-kali ia mencubit lengannya sampai sakit yang ia dapat, ia berharap tidak ada rasa sakit di lengannya, petanda bahwa semua ini hanyalah mimpi. Alangkah baiknya kalau semua ini hanya mimpi buruk, lalu ketika ia terbangun, ia masih bisa menyambut kakeknya yang datang berkunjung ke rumahnya, ia masih bisa bercanda ria dengan Kenji.
Tapi, semua ini ternyata kenyataan.
Tak peduli berapa kali ia menggosok-gosok matanya yang dikira rabun, ataupun melukai anggota tubuhnya sendiri untuk memastikan.
Sekali kenyataan, tetaplah kenyataan. Makhluk fantasi seperti kerdil ternyata benar-benar ada di dunia, di depan matanya sendiri. Mayat-mayat yang menghiasi lorong sudah menjadi bukti nyata kalau dunia superanatural itu eksis.
Dan apa yang dilakukannya sekarang? Apa hanya lari sekedar meloloskan diri? Itu bukan keinginannya, tapi kenyataan lebih kejam daripada mimpi.
'I-itu dia tangga samping! Syukurlah, kerdil-kerdil tadi belum sampai kesana, aku pasti bisa melarikan diri!' Aichi semakin mempercepat larinya. Tinggal beberapa meter menuju tangga samping yang terletak di pojok lorong. Detak jantung Aichi menjadi tidak karuan tatkala ia tahu di belakangnya ada yang mengejar. Aichi sedikit melirik ke belakang, sekedar memastikan. Dan betapa takutnya ia begitu tahu sekumpulan kerdil bertubuh gemuk dan besar berhamburan mengejarnya.
"GYAOH!"
'H-Hyiii, sejak kapan―!?' Aichi buru-buru berkonsentrasi para arah larinya. Dengan sekuat tenaga, ia terus berlari. Ia tidak mau sampai tertangkap mereka, lalu menjadi sama seperti manusia-manusia yang tinggal raga tak berbentuk lagi. Aichi masih ingin bernafas, setidaknya setelah ia tahu apa maksud semua ini.
'Sedikit lagi!' Aichi menajamkan kedua manik birunya. Kekuatan kedua kakinya semakin mempercepat larinya. Jantungnya terus berpacuh cepat. Rasa takut sama sekali tidak mempengaruhi kecepatan langkahnya.
HYUNG.
―sial, salah satu dari kerdil besar itu meloncat tinggi―dan jauh, bahkan melewati Aichi. Sementara pemuda itu langsung terperanga syok akan serangan tanpa diduganya. Kerdil itu jatuh tepat di ujung lorong, dimana tangga samping yang ditunggu-tunggu Aichi berada disana. Pemuda bersurai biru langsung menghentikan langkah kakinya, jalannya diblokir semua sudah. Di belakangnya, kerdil-kerdil hitam yang besarnya hampir sama dengan yang melompat tadi juga berhenti berlari.
Kedua kaki Aichi serasa lemas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia tidak mungkin bisa melawan makhluk sebesar itu sendirian, belum lagi mereka memiliki taring dan kuku yang tajam, pasti benda itu bisa mencabiknya sampai berkeping-keping sebelum Aichi bisa menjatuhkan satu saja dari mereka.
Pandangan kedua mata birunya menerawang. Tangan kanannya yang memegang tas dikepal erat. Aichi memejamkan kedua matanya erat-erat dan menundukan kepala. Ia hampir putus asa. Musuh sudah mengepung di setiap sudut, ia tak bisa lari kemana-mana. Kalau diam, lambat cepat ia pasti akan diterkam mereka. Mungkin tinggal satu hal yang bisa dilakukan, walau rasanya sinting hal ini bisa membuahkan sesuatu.
Ia tahu persis kerdil besar itu mulai mendekatinya. Aichi mengeratkan kepalan tangannya, lalu mengangkat kembali kepalanya, "SE-SESEORANG, TOLOOONG AKUUU!" teriaknya dengan lantang. Ya, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya sekarang adalah meminta pertolongan. Dirinya terlalu lemah, dan ia membutuhkan pertolongan.
Walau rasanya mustahil kalau manusia-manusia kurus ceking yang tadi tergeletak bisa mendengar suaranya, lalu mereka bangkit berdiri dan datang menolong Aichi. Hah, terdengar tidak masuk logika.
"GRAAAAHH!"
Kanibal-kanibal besar tadi meraung keras. Aichi langsung menutup kedua daun telinganya, seiring dengan air matanya yang kembali menggenang di kelopak matanya. Habislah sudah, sebentar lagi ia akan―
GREB.
―mati, kalau saja ia tidak merasakan seseorang mendekap pinggangnya lalu menyerukan suara bass indahnya, "Emneda Bioc..."
BYASSH.
Cukup dengan kata mantra, sampai gumpalan angin kencang pun mengelilingi tangan kirinya. Gumpalan angin itu diarahkannya dalam kecepatan diatas rata-rata, ke arah makhluk-makhluk hitam tadi yang hampir melayangkan sejentik jari ke tubuh manusia yang tengah didekapnya. Hempasan angin kencang itu langsung menebas kanibal-kanibal besar tadi sampai mereka berteriak kesakitan.
"GRAAAAAAAHH!"
"GYAAAAKK!"
Whosh.
Kemudian lenyap hanya dalam hitungan detik. Puluhan monster hitam tadi hanya lenyap dalam hitungan jari. Diam, kemudian mata tajamnya pun melirik ke arah manusia yang didekap dengan tangan kanannya. Manusia yang hampir saja berhadapan dengan kematian. Dan tatapan tajamnya langsung dihadiahi kedua mata biru indah yang menatapnya balik.
Mungkin manusia itu kaget, dan juga kagum pada orang yang menyelamatkan hidupnya. Tapi bukan hal itu yang ditanggapi Aichi―manusia yang tengah didekap―, melainkan sepasang sayap berbentuk menyerupai DNA Helix yang menghiasi punggung orang itu. Sepasang sayap seputih kristal yang begitu indah dan besar, ia seketika terpesona, "Sa... Xaiphos..."
Sementara pemuda lainnya terkejut dengan apa yang diucapkan anak dalam dekapannya, 'Mungkinkah...?'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Seorang remaja bersurai merah pekat berlari kencang. Wajahnya menampakan raut senang. Para dayang yang tadi sibuk pada tugasnya masing-masing pun tak sengaja melihat tuan mudanya berlari-lari seperti kerbau yang baru dilepas ke hamparan rumput hijau.
"Tu-Tuan muda, jangan berlari secepat itu, nanti Anda bisa terjatuh!" salah satu dari dayang cantik itu memperingatkan, tapi ia hanya dihadiahi seringai jahil dari sang remaja.
"Tak apa-apa, kalian tak perlu mempedulikanku," serunya dengan riang. Lalu kembali melanjutkan larinya menuju ke dalam istana. Mendengar itu, para dayang hanya menghela nafas dan tersenyum. Mereka mengerti betul kenapa sang bungsu Suzugamori berlari secepat itu, tak lain karena si sulung baru pulang kembali ke Istana Savhalon.
"Kakak!" si bungsu berteriak girang tatkala mendapati sesosok figur yang lebih tua darinya, sedang merapikan pakaiannya. Si sulung memiliki rambut yang serupa dengan adiknya, merah pekat, dan juga panjang hingga sepunggung. Ia tersenyum kecil menyambut sang adik yang berhambur ke pelukannya.
Bruk.
"Aku pulang, Ren. Bagaimana dengan ujian teorimu?" tanya sang kakak sembari merapikan lengan bajunya. Si bungsu, yang bernama Ren, memperhatikan sekilas lengan baju sang kakak. Baru dirapikan oleh empunya, bearti tadi digulung untuk melakukan sesuatu. Tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya soal itu.
"Tentu saja, Suzugamori Ren 'kan selalu bisa melakukan apa saja~," jawab Ren dengan pede. Kakaknya tersenyum kecil, tapi kalau dilihat lebih baik, seperti senyum yang dipaksakan. Dengan sepihak ia melepas pelukannya dari Ren, membuat yang lebih pendek merengut kecewa.
"Maaf, Kakak sedang sibuk. Berjuang untuk tesmu berikutnya, ya." katanya singkat, lalu meminta para dayang untuk menyiapkan pakaian baru untuknya di kamar. Ren menghela nafas. Tadinya tangannya ingin sekali menggapai sosok yang lebih tua dua tahun darinya itu. Tapi entah kenapa, kekuatannya merosot.
Entah sejak umur berapa, kakaknya sudah berubah.
Ia bukan lagi sosok bijak yang selalu menemaninya layaknya seorang saudara. Bahkan Ren beranggapan kalau kakaknya menjauhi dirinya. Tanpa Ren tahu alasan pastinya. Ia yakin tidak pernah berbuat salah, justru si rambut merah sangat menyayangi kakaknya. Ren sudah belajar keras dalam ilmu berpedang maupun teori sejarah istana demi membuat kakaknya bangga, tapi... entah kenapa waktu kebersamaan mereka justru semakin menipis.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"..." puas menatap foto dalam diam, sesosok pemuda tampan pun meletakan kembali selembar foto lama di lemari. Foto itu berbeda dari foto lainnya, karena itu ia tak pernah menyatuhkannya dengan album-album foto lain. Hanya dia dan kakaknya yang ada di dalam foto itu. Sepasang mata crimson menatap kosong ke arah sosok figur yang mendampinginya di foto.
Figur itu begitu mirip dengannya, hanya saja tampak lebih dewasa. Mereka berdua sama-sama berambut merah panjang, karena mereka bersaudara. Tak ada esensi perasaan pada foto, mereka hanya tersenyum normal di sana. Ren melepas ikatan rambutnya, lalu ia membuang karet hitam itu sembarang arah.
Seusai menutup lemari, sang pemimpin negeri pun membaringkan tubuhnya di ranjang mewah miliknya. Ranjang yang didesain seklasik mungkin dan hanya bisa dilihat di kamarnya seorang. Namun, seberapa empuk ranjang itu sama sekali tak merubah raut wajah yang berbaring. Ia tetap menampilkan tatapan kosong. Hatinya baru saja tertusuk duri berlukar tatkala mendengar berita bahwa―
"Aku sudah bilang 'kan, untuk jangan pergi..."
―kakak kandungnya meninggal dunia. Figur yang ada bersamanya di foto tadi sudah tiada di dunia ini. Ia mendapat kabar itu dari Ketua Divisi Tentara, Kamui, dan Ren―cukup―merasa syok karena itu. Hatinya terlalu lelah untuk memikirkan sosok yang menjadi panutannya saat ia masih kecil dulu.
Masalah satu belum selesai, masalah baru pun datang lagi. Sebagai pemimpin negeri, Ren cukup terpukul dengan kondisi ini. Dan dalam kondisi ini pula, kenangan yang tidak ingin diingatnya kembali menghantui. Potongan-potongan kenangan mengenai sang kakak kembali terbentuk di pikirannya, mengganggu hatinya dengan berbagai perasaan tak menentu.
"Aku mendapat berita dari Negara Quetinentale kalau dua tahanan yang begitu penting untuk Silence Silk 'hilang'. Salah satu dari tahanan yang dimaksud adalah kakakmu, Suzugamori Rei."
Ren menutup kedua matanya, ia menghela nafas. Berusaha menenangkan pikirannya tatkala perkataan Kamui kembali terbayang-bayang di otaknya. Kemudian ia meletakan salah satu punggung tangannya di kening.
"Menurut berita yang disiarkan disana, kakakmu mati keracunan di dalam sel penjara. Siapa yang meracuninya masih belum dipastikan. Entah itu penjaga dari Silence Silk sendiri, penyusup, atau Xaiphos hitam. Mereka sendiri sedang menyelidikinya."
Tangan yang masih terbaring di keningnya pun terkepal erat. Kedua mata Ren yang terpejam berkedut. Emosinya terpancing tatkala mengingat kata Silence Silk. Ia sangat membenci kata itu, atau lebih tepatnya, organisasi itu. Mereka sudah menghancurkan segalanya. Mereka yang telah menyebarkan keputus-asaan di negerinya. Dan sekarang apa? Mereka pula yang menyebabkan kematian kakaknya.
Ya, memang belum pasti. Ia pun tak berharap kalau kakaknya benar-benar kehilangan nyawa di tangan mereka. Walau sejak dulu sang kakak tercinta tak pernah 'melirik' usaha kerasnya, tapi ia tetap tak bisa membenci sosok itu. Rei, kakaknya, tetap sedarah-daging dengannya.
Ren membuka kedua matanya lagi, menampakan crimson indah yang tajam. Ia ingin tahu, ingin sekali untuk tahu. Apa yang menyebabkan kakaknya meninggal. Kenapa ada orang yang ingin membunuhnya?
Ia ingin tahu.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Tep.
"Kau tak apa-apa?" suara berat indah itu kembali mengalun di telinga Aichi. Sekali lagi ia menatap lekat-lekat wajah pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya. Wajah itu begitu tampan dan indah, bagaikan lukisan yang diukir sempurna. Aichi terpana, barang siapa yang menciptakan maha karya sesempurna dirinya?
"...halo?"
"E-Eh!?" Aichi terperanjat kaget, ia terlalu terpesona dengan keindahan pemuda di hadapannya sampai melamun. Betapa malunya, wajah Aichi sampai muncul semburat merah. Kedua kakinya kembali berpijak pada lantai, setelah cukup lama ia dibawa terbang sampai ke atap sekolah.
Tunggu dulu.
Terbang?
Aichi baru mengingat sesuatu. Ia kembali memandang sepasang sayap aneh yang bersinar bagaikan kristal, di belakang punggung orang itu. Ia terdiam di tempat, entah ingin syok atau apa. Sayap itu benar-benar nyata. Aichi mengenalnya. Sayap itu sama persis dengan yang ada di gambar pada buku tua pemberian kakeknya.
"A-Ano... kau itu... Xaiphos... ya?" Aichi bertanya dengan perlahan, karena di sisi lain ia sedikit gugup. Terutama saat sepasang emerald itu memandang ke arah dirinya, menghunus dalam-dalam mata shappire-nya yang serasa tehipnotis. Pemuda lainnya tak menampilkan respon bearti, wajahnya senantiasa datar.
"Ya, apapun itu." jawabnya singkat, terdengar tidak ikhlas. Aichi memiringkan kepalanya bingung. Sifatnya tidak sama seperti parasnya. Apa Aichi ada berbuat salah padanya? Tapi belum sempat berpikir ke arah sana, Aichi dikejutkan dengan pemuda yang mendekat ke arahnya dan menempelkan kedua kening mereka.
Deg.
Dekat sekali. Sial. Sepasang emerald indah itu semakin terlihat jelas di mata Aichi. Benar-benar indah dan sempurna. Jantung Aichi seketika merasa debaran yang berbeda dari sebelumnya, "A... Apa?" tanya Aichi pelan.
"Jawab, apa kau Jewelic yang baru?" tanyanya serius. Sementara pemuda bersurai biru mengernyit dahinya kebingungan. Jewelic? Apa itu? Aichi bahkan baru mendengar istilah itu.
"Eh? Apa maksudmu? Jewelic itu... apa?" Aichi bertanya balik. Pemuda berambut brunet itu pun mundur dua langkah. Masih menampilkan wajah datarnya, tapi disisi lain wajah tampan itu kebingungan. Sama dengan sosok di depannya.
"Kau tak tahu?" ditanya begitu, Aichi pun menggeleng polos. Tangan kanannya menggaruk-garuk rambut kecoklatannya yang tidak gatal, "Baiklah kalau begitu―"
Ngek...
"Hah?" kedua insan yang berada di atap sekolah pun bersamaan berjinggit tatkala mendengar suara dari pintu masuk menuju atap. Kai, pemuda bersayap kristal itu langsung mendekap kembali Aichi dan menatap tajam ke arah pintu, instingnya merasakan sesuatu yang buruk. Tidak ada yang boleh mengetahui sosoknya ini, terutama manusia awam, kecuali―
"GRRRHH..."
―yang naik menuju atap itu adalah...
Deg.
Kedua manik biru Aichi menampakan sorot ketakutan melihat sosok hitam itu lagi. Ia mengeratkan pegangannya pada lengan pemuda lainnya. Sosok hitam itu bukan berupa kerdil seperti yang tadi menyerangnya. Hanya saja besar lengan dan taringnya cukup membuat Aichi untuk bungkam. Dari tangannya yang besar, terlihat cairan-cairan lendir yang mungkin mengisi sebagian dari tubuhnya. Sorot mata kosong itu memandang ke arah dua insan yang berjarak sekitar lima meter darinya.
Kai mengernyitkan dahinya, "Xaiphos hitam dari... elf?"
.
.
.
Significance Essense
"If you touch the second world, don't try to escape from them..."
To Be Continued...
.
.
Information Fiction:
-) Manusia dari dunia pertama tidak bisa melihat wujud Xaiphos hitam. Hanya manusia tertentu―seperti Jewelic―dan hewan yang bisa melihatnya.
-) Xaiphos hitam dari makhluk bawah tanah―kerdil―bersifat parasit dan sangat merugikan semua makhluk hidup. Karena manusia, hewan, atau tumbuhan bisa menjadi inangnya. Ukuran tubuh mereka akan membesar jika nutrisi yang disedot berjumlah banyak, terutama dari manusia.
Biodata Character:
2. Kai
Umur: ―diperkirakan―18-19 tahun.
Kota Tinggal: tidak menentu.
Hobi: Menyendiri di tepi sungai, air terjun, atau tempat tinggi, membunuh Xaiphos hitam.
Jenis: Xaiphos.
Kelebihan: Dari sederet Xaiphos putih, dia yang paling kuat.
Kelemahan: untuk sekarang, tidak ada.
A/N: Yosh, lama kami tidak nyempil di akhir cerita. Adakah yang bertanya-tanya kenapa disini nama si beku tsundere(?) hanya Kai? *pletak* Yang mau plintir author karena Kai dan Aichi ketemunya lama, silahkan, silahkan *membentangkan-tangan*. Alurnya lambat bangetkah? OvO Ngomong-ngomong Gane ada bikin doujin potongan scene di fict ini, lho~ XD Author bakal nge-tag kalian―kalau tahu nama fbmu―di akun fb-nya kalau scene-nya sudah sampai, hahahahaha! *tawa-nista*
Pembaca-pembaca ada yang jago buat doujinkah? *dia-gambarnya-jelek-kayak-adonan-bakpau* Saki kasih dare buat bikin doujin R18...*salah-dialog* maksudnya adegan di fict ini, berani? *BUK*
Dan, eaaa, akhirnya OC yang sudah di-warning nyempil juga, katakan selamat datang pada Rei-kun~ *dibacok-pembaca* Dia nggak beda jauh dengan Ren, kok. Anggap saja dia Ren kedua(?). Untuk pembaca yang risih dengan OC, gomen banget, ini demi kepentingan cerita X"D
Reply Review:
Cece Lien: Wah, ada pahlawan bertopeng datang. Hehehehe, pemuda siapa nih maksudnya yang ketemu Aichi? Aichi di cerita ini memang kesannya ngenes, tapi apa boleh buat, hahaha. Kenji kenapa tuh, ya? Ikuti saja fict ini, kami tidak ngasih spoiler soalnya, fufufu. Setiap update pasti nge-tag. Review lagi, ya~
AnimeLover and Dr. Tom: Hahaha, Aichinya mau lari, tapi keburu dikepung sama kerdil hitam. Terima kasih banyak pujiannya, ya! Review lagi~
Ai. Cwe. Conan1: Hehehe, Ai mampir juga ke fandom ini, selamat datang. Fufufu, Ai peka banget, ya. Soal kenapa semua orang nggak nanya apapun pada Aichi adalah karena terjadi time-skip. Dua minggu itu berlangsung begitu saja tanpa Aichi dan lainnya ketahui. Soal penyebabnya, ikut terus fict ini, lambat cepat juga pasti tahu, hehehe. Review lagi, yo~
Yumekawa: Anak papa dan mama dateng juga :o Eh, feel-nya ke-ombang-ambing? Nggak mabuk, 'kan? Mungkin fantasinya sederajat sama fict Inverted Cross, semoga kamu menikmatinya, hehehe. Kami justru senang kalau pembacanya bisa deg-degan baca fict membosankan seperti ini. Review lagi, ya~
Yuichiiii: Terima kasih sudah review. Kami senang kalau ceritanya bisa menegangkan pembacanya. Kenji kenapa, ya? Ikuti saja terus fict ini, lambat cepat pasti bakal tahu, hehehe. Review lagi, yo~
Nanashimai: Kai dan Aichi baru ketemu sekarang, maklumi ceritanya yang beralur super lambat ini. Terima kasih atas pujiannya, ini sudah dilanjut. Review lagi, yo~
Airy Karmila: Nggak apa-apa, kok, kalau telat review. Semangat untuk UTS-nya, ok? Kenji kenapa, ya? Ikuti terus fict ini, lambat cepat akan ketahuan kok alasannya. Hehehe, fans DaiLeon, ya? Tenang, mereka akan muncul seiring berjalannya cerita. Kai dan Aichi baru bertemu di chapter ini. Terima kasih dukungannya! Review lagi, ya~
Carolis 'Sasha' Paralize: Ketinggalan banyak chapter juga nggak apa-apa. Hehehe, seru, ya. Baguslah kalau tidak membuat pembaca mengantuk. Terima kasih banyak atas pujiannya, chapter baru sudah hadir. Review lagi, yo~
Yu Si Anak Layangan: Selamat kalau akunnya sudah bisa dibuka kembali. Waduh, jangan sampai bulu ketek, dong, entar bau, lho. Aichi dan yang lainnya tidak menanyakan soal dua minggu berlalu karena terjadi time skip. Iyup, Rekka jadi antagonis, berhubung author tidak begitu suka dengannya. Review lagi, ya~
Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)
Sincerely,
4 November 2013
HYUCCHI
