Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₅ Show Me The Miracle
"Xaiphos hitam dari ... elf?" Kai mengernyitkan dahinya. Sementara Aichi yang tidak mengerti sama sekali apa maksud pemuda itu hanya kebingungan. Ia ingin bertanya sesuatu pada pemuda bersurai brunet yang masih mendekap erat tubuhnya, tapi kemudian Aichi memilih untuk bungkam.
DUM.
'Xa-Xaiphos hitam? Ja-Jadi maksudnya makhluk hitam tadi juga... Xaiphos? Kenapa mereka terlihat berbeda?' pikir si rambut biru. Pegangannya pada kemeja putih pemuda lainnya semakin erat, sama halnya dekapan pemuda itu pada Aichi sendiri. Setelah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, Aichi sangat tahu betapa hebat dan besarnya kekuatan pemuda yang ada bersamanya ini. Kekuatan Xaiphos yang begitu luar biasa.
SYATH.
Kedua sayap kristal Kai yang tadi masih terdiam pun kini melebar, mengambil posisi untuk menyerang. Kai melebarkan jarak diantara kedua kakinya, dengan posisi kaki kiri yang berada di depan. Mata kehijauannya berfokus hanya pada satu titik, yaitu Xaiphos hitam yang menurutnya lebih berbahaya daripada kerdil-kerdil tadi.
"GRAAAAH!"
Sang makhluk buruk rupa pun mengambil langkah pertama dengan kecepatan diatas rata-rata. Sampai tempatnya berpijak tadi sedikit muncul retakan. Hal yang sama berlaku pada Kai, kecepatan gerak mereka mengambil langkah pertama hampir seimbang. Keduanya berlari pada arah yang berlawanan, sampai jarak mereka menipis, Kai pun mengarahkan tangan kirinya untuk menyerang.
"Emneda Bioc!"
BLAAR!
Serangan itu sukses membuat ledakan yang cukup besar. Aichi memejamkan matanya tatkala puing-puing ledakan tadi berterbangan ke sembarang arah. Dalam keadaan asap tebal yang menutupi penglihatan saja, Kai sudah melihatnya jelas, kalau Xaiphos hitam tadi berhasil menangkis serangannya. Pemuda brunet itu mengepalkan tangan kirinya.
'Sial, Xaiphos hitam dari Elf memang lebih kuat dari Xaiphos hitam biasa. Andai saja tangan kananku bisa digunakan...' kemudian ia melirik sekilas ke pemuda satunya lagi yang didekapnya dengan tangan kanan. Kai mengernyit dahinya ragu. Ia melindunginya karena rasa keadilan dalam hatinya yang tak mungkin membiarkan pemuda itu terluka. Dan yang terpenting, kalau manusia di dekatnya ini adalah Jewelic yang dicari.
Tapi bagaimana kalau ia salah orang? Otomatis ia hanya membuang waktu untuk menolong manusia awam biasa, kemudian susah payah mengalahkan Xaiphos hitam jenis elf di hadapannya. Sementara Jewelic yang harusnya ia cari sekarang mungkin sedang dalam kondisi berbahaya.
DAK.
"GYAAAH!"
Xaiphos hitam tadi pun bergerak dari kepulan asap bekas ledakan. Kai kembali berkonsentrasi pada lawannya. Makhluk hitam itu membesarkan kedua lengannya, sampai urat-uratnya tercetak jelas di permukaan kulitnya. Kai yang mengetahui itu langsung membulatkan kedua matanya, ia mengarahkan sayap besarnya ke depan tubuhnya.
'Sial―'
"Defelo Xioc!" seruan itu bertepatan dengan hantaman keras Xaiphos hitam ke arah sayap kristalnya. Otomatis sayap kristal itu mengeras dan berubah warna menjadi keabu-abuan. Melindungi pemiliknya dari hantaman tadi. Tapi Xaiphos hitam itu tidak menyerah. Kini dengan kakinya yang terbilang panjang, ia mulai melakukan serangan berikutnya.
DUK.
Tentu saja manik emerald Kai melihatnya, dan ia menangkisnya sendiri dengan kaki kirinya, yang tak kalah keras dari sebuah batu. Kedua kaki itu saling beradu siapa yang bisa mendorong kaki lainnya lebih dahulu. Aichi memandang kagum ke arah pemuda di dekatnya, bahkan besar kaki musuh yang berbanding jauh dengannya tidak menimbulkan efek apapun.
BAK.
Kedua kaki itu pun terpisah, kanibal hitam menggeram keras. Makhluk besar itu kembali melakukan serangan, tapi kini dengan kaki kanannya yang mengeluarkan aura kehitaman. Kai tersentak kaget. "Defelo Xi―"
DHUAK.
Terlambat.
"Aakh!" Aichi terlepas dari tangan Kai tatkala serangan itu sukses menghantam dada sang Xaiphos telak. Aichi terpental ke samping dan berguling-guling sampai menabrak pembatas atap. Sementara Kai yang menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh dengan kedua kakinya pun terseret ke belakang, hampir menabrak pembatas.
Ia meremat dadanya yang terasa sakit dengan tangan kanannya. Belum rasa sakit itu hilang, ia mengumpat tatkala melihat pemuda yang tadi dilindunginya terlempar ke pinggir, jauh sekali dengannya. Dilihatnya dengan jelas pemuda ber-blazzer kebesaran itu meringis kesakitan, bahkan sepertinya tak memiliki kekuatan untuk bangkit berdiri.
'Sialan, aku harus cepat!' Tak peduli sakit di tubuhnya hilang atau tidak, Kai bergegas berlari ke arah Aichi, sebelum makhluk hitam tadi mendahuluinya. Sayangnya larinya kalah cepat, kedua kaki besar Xaiphos elf itu lebih kuat dan cepat. Xaiphos hitam mendekat ke arah Aichi yang masih terengah-engah.
'Ukh...' pandangan Aichi sempat buram sesaat, sebelum penglihatannya kembali normal lalu mendapati sesosok makhluk hitam berlari ke arahnya. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia kesal karena tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan, ia kesal karena hanya bisa dilindungi dan membuat pemuda tadi terluka.
Grrt.
Aichi bangkit dari posisi jatuhnya menjadi duduk. Punggungnya sangat nyeri, tapi ia tak peduli lagi. Sorot mata kebiruannya menatap tajam ke arah makhluk hitam yang memiliki tatapan seram itu. Aichi menarik nafas dalam-dalam, lalu―
"BERHENTI!" teriaknya kencang, disertai cahaya berwarna putih yang sekilas menyelimutinya. Kai terperangah kaget di tempat, pasalnya Xaiphos hitam tadi langsung berhenti berlari. Tepat tiga meter dari pemuda bersurai biru itu.
'Sinar putih tadi, dia...' kini hati Kai yang semula ragu hilang sudah. Tidak mungkin manusia awam berhasil menciptakan aura bercahaya seperti tadi.
"KENAPA KAU BERBUAT SEPERTI INI, HAH!? APA SEBENARNYA TUJUANMU!? APA KAU SEBEGITU SENANG MELIHATKU TERLUKA!? KALAU MEMANG BEGITU, SEHARUSNYA KAU JANGAN MELIBATKAN ORANG LAIN!" Aichi berusaha bangkit berdiri, matanya tak takut untuk menantang makhluk besar di hadapannya. Makhluk hitam tadi terdiam mendengar seruan mangsanya. Sorot mata keabu-abuannya menatap Aichi dengan teduh. Kedua tangan hitam yang tadi bersiap untuk mencabik-cabik tubuh kecil itu pun terdiam.
Aichi yang tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan pun tersentak, ia bahkan baru menyadari kalau Xaiphos hitam itu memahami apa katanya. Tapi hanya sebentar, karena sorot mata keabu-abuan itu kembali berubah menjadi kosong. Dan seketika makhluk itu kembali meraung keras. Xaiphos hitam mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, siap mencakar Aichi yang sudah memejamkan mata di tempatnya duduk.
BATS.
"Eh?" Aichi merasakan dekapan itu lagi, pemuda itu lagi-lagi menolongnya. Kai berhasil menggapai tubuh Aichi dan membawahnya sejauh mungkin dari makhluk tadi. Sampai akhirnya ia mendarat di pinggir pembatas atap sekolah. Aichi memandang cemas ke arah pemuda berwajah dingin itu.
'Tadi ia terkena serangan Xaiphos hitam, 'kan?' pikirnya khawatir.
"A-Ano, kau tidak apa-apa, 'kan? Ba-Bagaimana lukamu tadi?" Aichi memberanikan diri untuk bertanya. Kai hanya meliriknya sekilas, tanpa ekspresi sama sekali.
"Bukan urusanmu." Aichi menautkan alisnya tidak mengerti dengan jawaban itu. Tapi belum sempat ia membalas balik, lagi-lagi ia harus melayang ke udara karena adanya serangan susulan dari Xaiphos hitam itu.
ZRAAK.
BLAAR!
Tep.
Kai kembali mendarat di sudut atap sekolah lainnya setelah sukses menghindar. Di sisi lain ia masih berpikir. Bagaimana bisa ada elf di dunia pertama? Ia tidak yakin kalau organisasi Silence Silk rajin mencari elf lalu mengirimkannya kesini dan diinfeksi menjadi Xaiphos hitam. Namun ia kembali berkonsentrasi pada pertarungannya, makhluk itu menembakan aura keunguan dari mulutnya.
SYAT.
BRAAK.
"Uwaa!" Aichi melindungi kepalanya begitu melihat puing-puing bekas ledakan yang cukup besar kembali melayang-layang. Ia ketakutan dengan kekuatan makhluk hitam itu, tapi Aichi ingin sekali membantu Xaiphos di sampingnya untuk melawan. Ia tidak mau hanya diam dan membebani. Melihat makhluk itu tengah mengerang sakit karena serangan Kai pada lengannya, Aichi pun memberanikan diri untuk―
"Ano, apa yang bisa kulakukan sekarang!?" tanyanya seraya menarik-narik kemeja putih pemuda lainnya. Kai memandang pemuda bersurai biru itu dengan tatapan heran.
"Diam saja."
"Tidak mau! Aku tidak memintamu untuk melindungiku!" seru Aichi tidak terima. Membuat Kai sedikit jengkel. Sudah susah-susah melindunginya, lalu ini yang ia dapat? Kesal, Kai pun menarik blazzer punggungnya dan mengarahkannya pada Xaiphos hitam tadi, dengan ketinggian lima meter.
"Kalau itu maumu, baiklah," ucap Kai dingin, tidak peduli lagi kalau anak ini akan ditelan hidup-hidup oleh Xaiphos hitam. Kalau anak itu tidak ada, mungkin akan lebih memudahkannya untuk membasmi habis Xaiphos hitam berlevel tinggi itu dalam waktu singkat. Ia juga tak mau melindungi orang yang―
"Dengar, aku tidak mau ditolong tanpa melakukan apapun. Kalau nanti dia memakanku, ambil kesempatan itu untuk membunuhnya atau kabur," kata pemuda yang tubuhnya lebih kecil. Kai langsung terdiam mendengar itu. Gila, anak ini minta dijadikan tumbal. Kemudian Aichi menengok sekilas ke arah Kai, melempar sebuah senyum tulus. "Terima kasih tadi sudah menolongku, Xaiphos..."
―tidak tahu terima kasih.
"GRAAAAAHH!" Xaiphos hitam itu meloncat tinggi setelah sakit di tangannya pulih. Targetnya adalah pemuda yang lebih dekat dengan daratan, yaitu Aichi. Sementara remaja bermanik biru itu sudah siap melakukan serangan sebisanya kalau nanti tubuhnya tertangkap.
BETS.
"Eh!?" Aichi tersentak kaget tatkala tubuhnya ditarik dan didekap kembali oleh pemuda lainnya. Belum sempat ia meronta minta dilepas, Kai terlebih dahulu mengarahkan serangan ke arah Xaiphos hitam.
"Emneda Bioc!"
BLAAAR!
DRAAK.
Xaiphos itu kembali mendarat ke atap sekolah dengan kencang sampai sekelilingnya menimbulkan retakan yang cukup besar. Kai memandang dingin ke arah tubuh hitam yang mengerang kesakitan di bawah. Manik kehijauannya kini memandang Aichi, yang menatapnya penuh tanda tanya. "Ke-Kenapa ... kenapa kau tidak―"
Grep.
Kai menggenggam tangan kanan Aichi, dengan lembut. Sementara pemuda lainnya kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh si brunet, "Kau bilang tidak ingin ditolong tanpa melakukan apapun ... ya?" ia bertanya dengan sorot mata yang sulit dimengerti. Aichi memiringkan kepalanya. Tapi kemudian ia mengangguk polos.
"Benar," jawaban itu membuat Kai sudah bertekat. Ia menggenggam tangan Aichi semakin erat. Kedua mata mereka beradu.
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi Xaiphos-mu," bisik Kai, dengan nada tajam. Aichi terlonjak kaget, ia menatap Kai dengan tatapan tak percaya. Ia jadi teringat kembali dengan buku Xaiphos sepeninggalan sang kakek. Disana tertulis, kalau Xaiphos berhak memilih siapa pasangannya. Kalau begitu, maksud pemuda di depannya adalah ...
"Biarkan aku, Kai, memakai dirimu sebagai kekuatanku." Lanjut pemuda bersurai brunet itu, dengan harapan yang sudah berakar di dalam hatinya. Aichi kebingungan. Padahal ini pertama kalinya ia melihat makhluk yang sejak kemarin didambakannya. Tapi sekarang ia sudah dihadapi dengan pilihan yang begitu sulit.
'A-Aku ... apa yang harus aku lakukan?' Aichi berkeringat dingin. Jantungnya berdetak tak karuan. Dengan mata birunya ia melirik, makhluk hitam besar tadi sepertinya sudah pulih dari sakitnya serangan tadi. Tapi pemuda bernama Kai di hadapannya sama sekali tidak mengambil ancang-ancang untuk menyerang, ia tetap diam memandang Aichi, menunggu jawaban.
"A-Aku ..." Aichi memejamkan matanya, ia sangat kebingungan dan panik. Kai melonggarkan genggamannya pada tangan Aichi, lalu mengelusnya lembut, berupaya membuat pemuda manis itu tenang.
"GROAAAHH!"
"Y-Ya! Pa-pakai aku, biar aku jadi kekuatanmu!" Kai tersenyum pelan. Mantra untuk menjalin ikatan antara Xaiphos dengan pemiliknya selesai sudah. Pemuda dihadapannya ini merupakan orang pertama yang memikat hatinya, sehingga Kai terdorong untuk memakainya menjadi pasangannya, tak peduli ia Jewelic atau bukan.
BYAASH.
"Eh!?" Dan dalam waktu sekejam, lingkaran cahaya berwarna kebiruan menyelimuti keduanya. Cahaya itu juga yang kembali menghantam Xaiphos hitam di bawah. Aichi melihat ke sekitarnya dengan panik. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. "A-Apa ini―"
SYUT.
Tangan Kai terulur perlahan ke arah dada pemuda lainnya, sementara Aichi yang tidak mengerti apapun hanya diam dan melihat. Seketika Aichi merasakan sensasi aneh tatkala tangan pemuda bermanik hijau itu menembus dadanya. Ia merasa energi tubuhnya diserap dengan perlahan. "A-Akh―"
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu. Biarkan aku meminjam kekuatanmu," ucapan itu terdengar jelas di telinga Aichi. Kedua mata birunya perlahan mengabur, lalu merasakan kantuk yang amat sangat. Tapi mendengar ucapan pemuda tadi, ia pun menjadi tenang. Membiarkan kekuatannya diserap, kemudian pingsan.
BYASSH.
.
.
.
'Eh, aku...?' dan begitu Aichi membuka matanya kembali, ia memandang ke arah sekitarnya.
"Kau bisa mendengarku?" Aichi dibuat terkejut dengan sebuah suara. Ia mengenalnya, itu suara Kai. Tapi ia tidak tahu pemuda itu berada dimana.
'Ya, bisa. A-Aku ada dimana?'
"Sekarang kau adalah salah satu bagian dari diriku. Kekuatanmu bersatu denganku, kau bisa melihatnya 'kan?" Aichi melirik ke arah sekitarnya, sampai matanya menemukan sebuah lingkaran yang cukup besar. Di lingkaran itu, ia bisa melihat kembali tempat dimana tadi ia berada. Yaitu atap sekolah. Bahkan Xaiphos hitam itu juga masih ada.
'Ya, aku melihatnya.'
"Bagus, dengarkan aku. Sekarang kau merupakan salah satu dari bagian tubuhku. Seberapa besar kekuatanmu yang bisa kukeluarkan bergantung pada hatimu. Jadi teruslah berdoa, maka itu akan menjadi kekuatanku. Kita akan mengalahkan Xaihpos hitam itu." Aichi tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tapi kemudian ia mengiyakan saja. Tubuhnya terasa ringan, kedua matanya bahkan tak bisa melihat apapun terkecuali lingkaran besar di depannya.
Kembali pada Kai, ia kembali turun ke atap sekolah. Dengan kedua sayapnya yang bertambah besar. Ia merasakan betapa besarnya kekuatan hati yang dimiliki pemuda tadi. Kai yakin kalau kali ini bisa menundukkan Xaiphos hitam itu dalam waktu singkat.
"Emneda Bioc!" Kai kembali melancarkan serangan, kali ini dengan bobotan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Xaiphos hitam itu berhasil menghindar dan berlari mendekati pemuda bersurai brunet di hadapannya.
"GYAAAH!"
DHAK.
Tinju makhluk itu beradu dengan tinju Kai. Xaiphos hitam itu meraung keras, sampai-sampai tangannya yang masih bersaing dengan tangan Kai bertambah besar. Tapi sayangnya hal itu tidak bisa menembus kekuatan pemuda tadi. Tenaga Kai jauh lebih besar darinya, dan sukses mendorong tinju makhluk itu hingga mental.
'Kai-kun, kau harus menang!'
BYASH.
Sinar putih menyelimuti tubuh pemuda berkemeja putih itu, Kai membulatkan kedua manik hijaunya. Doa dari pasangannya menimbulkan kekuatan pada tubuhnya. Hal ini tidak disia-siakan Kai. Memanfaatkan kondisi musuh yang sedang memulihkan anggota tubuhnya. Pemuda bersurai coklat itu pun mengumpulkan seluruh kekuatan tadi di tangannya.
"Elterda Bioc!" seruan itu menggelegar seiring dengan listrik besar yang berada di tangan Kai terlempar ke arah Xaiphos hitam. Bola listrik itu sukses menghancurkan permukaan atap yang bertubrukan dengannya tanpa mengurangi kekuatan sedikit pun. Xaiphos hitam itu bangkit berdiri, tapi tak memiliki kecepatan untuk menghindari bola listrik yang mengarah padanya dan―
SYUT.
GLEGAAAAR!
"GYAAAAHHH!"
'Ka-Kai-kun, kita berhasil!' Aichi bersorak gembira. Dan Kai bisa mendengarnya dengan jelas. Ia kembali mendarat ke atap sekolah yang sudah tak berbentuk lagi, karena pertandingannya dengan Xaiphos hitam. Kai mengucapkan sebuah mantra, sampai ada sinar kebiruan dari tubuhnya, dan dari sinar itu, sosok Aichi kembali muncul.
Sosok yang telah memberi Kai kekuatan melebihi bayangannya. Begitu tubuh Aichi pulih kembali, Kai langsung menangkup kedua lengannya karena ia yakin kalau kekuatan tubuh Aichi melemah karena tadi. Dan benar saja, Aichi hampir terjatuh kalau tidak ada tangan Kai yang menahannya. Kedua matanya yang terpejam berkedut, lalu kembali menampakan sepasang manik shappire indahnya.
"Ukh ... Kai-kun?" Begitu kedua matanya terbuka, yang pertama kali Aichi lihat adalah wajah tampan pemuda bersurai kecoklatan tadi. Kai menghela nafas lega lalu menurunkan tubuh Aichi perlahan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"A ... ye?" seorang pemuda mengguman santai tatkala layar lebar yang digunakannya untuk memantau menampilkan sesuatu yang tak terduga. Sesosok Xaiphos putih yang mengalahkan Xaiphos hitam. Ia hanya dibuat sedikit terpanah dengan perubahan yang terjadi pada si Xaiphos putih. Sementara matinya Xaiphos hitam dibiarkannya.
"Yah, Xaiphos putih itu sudah memilih pasangan. Terlebih lagi, pasangannya ada Jewelic, perkembangan pesat," katanya kemudian terkikik sendiri. Ia memiringkan badannya ke arah kiri, lalu dengan tangan kirinya, ia menyanggah kepalanya santai. Sementara tangan kanannya memain-mainkan rambut coklat kental kesayangannya.
"Huh, Rekka benar-benar tidak berguna! Padahal dia sudah diperintahkan untuk membunuh Jewelic itu. Tapi yang terjadi sekarang justru membahayakan posisi kita!" keluh salah satu dari seorang gadis, yang berdiri di belakang sofa yang ditempati pemuda lainnya. Ia menggertak giginya kesal, sampai beberapa bawahan hanya bergidik ngeri di belakangnya.
Pemuda tadi tertawa santai, "Hahahaha! Kau cepat sekali emosian, Luquier. Biar saja, ini akan semakin menarik bukan? Lagipula, mau pasangannya Jewelic atau bukan, tetap saja tidak akan membawa perubahan apapun," pemuda tadi berkomentar. Kini telunjuknya menggulung-gulung helaian rambut coklatnya. Gadis tadi terdiam.
"Ma-Maksudnya?" ia bertanya tak mengerti seraya membenarkan posisi kacamata oval yang dikenakannya. Pemuda itu mendengus.
"Kau tidak lupa, 'kan, kalau jumlah Xaiphos putih itu hanya berapa? Dibandingkan dengan Xaiphos hitam, tentu saja dia tak ada apa-apanya. Lambat cepat, mereka akan kewalahan sendiri dengan jumlah Xaiphos hitam yang entah sudah berapa," ucapnya meremehkan. Gadis yang dipanggil Luquier tadi tersentak kaget, kemudian raut wajahnya yang semula kaget kini kembali menjadi tenang.
"Benar juga."
"Daripada membahas Xaiphos putih, tolong informasi mengenai misi utama, Grimm," perintahnya pada salah satu bawahan yang berdiri setia di belakangnya. Ia kembali sibuk menonton seraya menyemil coklat-coklat yang tersedia di depannya, sambil menunggu bawahannya tadi membawa laporan.
"Grimm membawa laporan baru, yang datang dua puluh menit yang lalu," kata pemuda bersurai kemerahan yang menjulang ke atas, Grimm. Tangan pucatnya mulai membuka halaman laporan satu per satu, "kemarin saya mengirim dua puluh pasukan dan dua orang detektif untuk menyelidiki kematian dan hilangnya tahanan penting Anda, yaitu Suzugamori Rei dan Shin Nitta. Keduanya ditangkap tiga minggu sebelum tragedi pembunuhan terjadi." Grimm mulai menjelaskan. Sementara yang tadi meminta laporan mendengarkan sambil asyik memainkan potongan coklat.
"Korban bernama Suzugamori Rei, dua puluh lima tahun, mati di dalam sel. Penyebab kematian adalah keracunan virus mematikan dosis tinggi. Setelah diselidiki, kami menemukan satu bekas suntikan di punggung, yang menjadi jalur masuknya racun ke dalam tubuh. Perkiraan jam kematiannya adalah jam satu pagi, empat jam sebelum mayat ditemukan. Sayangnya, sampai sekarang kami belum tahu siapa yang membunuhnya," Grimm menjedah ucapannya di keterangan kematian pertama. Tepat disaat pemuda berambut coklat tadi memakan habis coklatnya. Ia menghisap ujung jempolnya yang belepotan coklat sambil memikirkan sesuatu.
"Hah, padahal dia sangat penting. Kalau kehilangan dia, aku bisa diomeli oleh-Nya. Grimm, apa tidak ada petunjuk dan benda bukti untuk mencari pelaku, huh?" pemuda itu mengeluh. Ia menarik-narik helaian coklat yang tadi digulungnya menjadi lurus kembali. Grimm menghela nafas, ia membuka lembar berikutnya.
"Petunjuk yang ada sulit dimengerti, para detektif sedang mencoba untuk memecahkannya. Apa Anda ingin mencobanya juga?" pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban. Pemuda yang tadi sibuk menyemil coklat pun terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang tawaran bawahannya. Kemudian dengan santainya ia mendengus.
"Coba saja, siapa tahu otak gilaku bisa berkerja," katanya terkikik geli. Grimm mengangguk mengerti. Ia pun maju ke depan, di hadapan sofa yang diduduki oleh atasannya. Kemudian tangan pucatnya menekan salah satu tombol dari layar besar yang digunakan tuannya untuk memantau.
Cklik.
Grimm menunduk hormat sebelum menyingkir sedikit ke kiri, membiarkan atasannya melihat keseluruhan layar, yang tayangannya sudah diganti oleh Grimm tadi. "Korban adalah Suzugamori Rei, mati di sel penjara Silence Silk pada Negara Banshield jam satu pagi, dua hari yang lalu. Korban mati dikarenakan keracunan virus mematikan. Korban meninggalkan die message―pesan kematian―yang ditulis dengan rambutnya sebagai kuas, dan darahnya sebagai tinta," menjedah ucapannya, kini tangan kirinya menunjuk ke arah layar. Di layar, sebuah gambar yang tak lain adalah pesan kematian yang dimaksud muncul.
1(5)
T=S(Ad)
Pemuda yang masih bersantai-santai di sofa empuk pun mengamati gambar. Gadis yang merupakan kaki tangan kebanggaannya, Luquier, juga melakukan hal yang sama. Sayangnya pemuda yang mulai memain-mainkan potongan coklat lainnya tidak seserius Luquier. Ia mengendikan bahunya santai.
"Sayang, aku bukan detektif," katanya santai. Grimm yang mengerti pun mulai menekan salah satu tombol layar―lagi, sehingga layar besar itu menampilkan gambar lainnya.
"Kedua detektif handal yang Anda sewa sama sekali tidak bisa menemukan petunjuk lainnya selain pesan kematian. Tidak ada tanda-tanda sidik jari yang tertinggal di tubuh korban maupun area sekitar sel. Mereka pun tengah menyelidiki tentang hilangnya Shin Nitta dari tahanan, yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan," Grimm kembali menjelaskan dengan raut wajah serius. Namun setelah menerkah sekilas ucapan Grimm, pemuda berambut coklat tadi terkikik, kemudian tertawa keras.
"A-Apa yang lucu?" Luquier menyahut dengan tatapan tidak mengerti. Ia tidak menangkap kesan komedi dari ucapan Grimm, begitupun pemuda bersurai merah itu sendiri. Namun tuan mereka tertawa seperti manusia yang kesetanan.
"Detektif itu bodoh, ya? Mereka berdua berkerja sama dalam proyek penting itu. Bagaimana bisa mereka memusuhi dan membunuh satu sama lain?" kasihan melihat bawahannya memasang tampang bodoh, ia pun angkat bicara. Luquier memandang ke langit ruangan yang remang-remang seraya mengusap dagunya.
"Soal itu, kami tidak mengetahuinya. Tapi tidak ada hal yang tidak mungkin. Bisa saja mereka terlibat dengan masalah pribadi, sehingga tidak mempercayai satu sama lain." Grimm berkomentar dengan wajah stoic-nya. Membuat sang atasan menghilangkan tatapan remehnya. Senyum jahilnya lenyap seketika, bahkan jari-jarinya berhenti bermain dengan makanan kesukaannya.
"Masalah pribadi, ya? Hmm ..." gumannya pada diri sendiri, menangkap suatu hal dari komentar Grimm. Sementara Luquier dan Grimm saling bertukar pandang. Mereka menyadari bahwa pemuda berambut coklat lembut pecinta coklat itu menemukan suatu petunjuk, sekalipun kecil. Dan tidak ada yang tidak bisa dipecahkan oleh otak gilanya kalau ia sudah menemukan sebuah jejak kaki.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
Seorang pemuda bertubuh atletis berlari riang ke arah pemuda lainnya yang berbaring di hamparan rumput. Dengan tangan melambai semangat, ia menghampiri sahabatnya.
"Aichi-kun! Kukira kau kemana tadi. Semua panitia mencarimu, tahu!" serunya membuat pemuda lainnya tersentak kaget. Acara memandang langitnya langsung buyar karena suara penuh semangat sang sahabat.
"Hehehe, maaf, Kenji-kun. Tapi acaranya sudah selesai, 'kan?" pertanyaan itu langsung dijawab dengan anggukan pemuda bersurai perak, yang terduduk di samping Aichi. Ia mendengus.
"Lain kali jangan membuatku jadi baby sitter dan mencari-cari, lho, Aichi-kun. Aku akan meminta tambahan honor nanti," ledeknya disertai dengan senyum ceria. Aichi langsung tertawa lepas.
"Boleh, tapi pakai kartu kredit, ya, hahahahaha!" dan kemudian Aichi mendapat serangan kelitikan di bagian perutnya. Keduanya tertawa dan asyik pada dunianya sendiri, sampai tidak menyadari kalau beberapa pelajar lainnya yang melihat mereka hanya senyum-senyum dengan keakraban mereka.
Dan setelah tenang, keduanya kini berbaring di hamparan rumput yang luas di belakang sekolah mereka. Aichi selalu melakukan hal ini jika terlepas dari aktifitas sekolah.
"Hei, Aichi-kun ..."
Aichi langsung menoleh ke arah kiri, dimana sahabat baiknya ikut berbaring di sampingnya. Ia melentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memandang ke arah sahabatnya. "Kenapa, sih, kau sulit bergaul?" pertanyaan menohok itu terlontar begitu saja, tanpa Kenji bermaksud untuk menyindirnya.
Aichi memandang ke arah langit biru yang luas, pemandangan yang selalu membuat hatinya menjadi teduh. "Entahlah, Kenji-kun. Lagipula aku tidak merasa keberatan seorang diri," jawabnya dengan polos. Kenji tersenyum miris, ia memandang wajah sahabat berambut birunya itu lekat-lekat.
"Kau tidak boleh begitu, Aichi-kun. Masa' temanmu hanya aku seorang? Memang, yang lainnya tidak menindasmu atau apa, tapi keberadaanmu kurang eksis di banyak lingkungan," Kenji merubah posisinya menjadi terduduk. Aichi menautkan alisnya dan menatap Kenji, kenapa tiba-tiba sahabatnya berkomentar seperti itu?
"Kalau kau terus seperti itu, bagaimana kalau suatu hari aku tidak bersamamu?" pertanyaan itu sanggup untuk membuat detak jantung Aichi menjedah sesaat. Semilir angin berhembus kencang, menerpa hamparan rumput hijau yang memenuhi tempat dimana Aichi dan Kenji berada.
"Memangnya kau mau pergi kemana, Kenji-kun?" Aichi bertanya dengan berhati-hati, di hatinya masih membekas sedikit rasa syok. Ia tidak bisa membayangkan kalau sahabat satu-satunya itu akan pergi meninggalkannya. Tapi kemudian Kenji tersenyum tipis dan menggeleng.
"Aku tidak akan kemana-mana, kok." jawabnya dengan ringan, kini giliran si rambut biru yang memiringkan kepalanya kebingungan, "Bagiku, kau adalah sahabat baikku, Aichi-kun. Aku tidak akan pergi kemana pun―ya, setidaknya sampai kau mengundangku ke acara pernikahanmu, hahahahaha!" Aichi langsung gedubrak di tempat. Ia sudah seperti korban di acara talkshow yang dikerjai.
Sontak Aichi langsung bangkit berdiri, siap untuk mengejar Kenji yang sudah kabur duluan sebelum tubuhnya digarap, "AWAS KAU, KENJI-KUN! JANGAN HARAP KAU BISA PULANG DENGAN SELAMAAT!" teriak Aichi, mengeluarkan semua emosinya, juga belengu di hatinya. Dengan hati lega, ia langsung mengejar sosok pemuda bersurai emas yang sudah jauh.
Sebelum sosok itu menghilang...
Tanpa tangan Aichi sempat menggapainya...
DEG.
"Kenji-ku―" Aichi berusaha meraih tubuh itu, sebelum pandangannya tertutupi oleh wajah Kai. Aichi terperanga kaget, yang tadi hanya mimpi? Ia menarik kembali tangannya yang terangkat dengan perlahan. Mata birunya menatap tangannya lekat-lekat. Kemudian ia langsung menoleh ke arah sekitarnya.
Kedua mata birunya sukses membulat. Atap sekolahnya benar-benar hancur dan tidak berbentuk lagi. Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih, Aichi baru menyadari kalau tadi Kai sudah sukses membasmi Xaiphos hitam itu. Dan pertandingan mereka yang membuat kehancuran bagi atap sekolahnya, "Awawa! Kai-kun, se-sebaiknya sehabis ini kita bersembunyi, karena kalau tidak―"
"Bersembunyi kemana?" Kai bertanya balik, sebelum pemuda lainnya sukses menyelesaikan kalimatnya. Suara dinginnya sanggup membuat Aichi bergidik. Dan entah kenapa terdengar sedikit menyakitkan. Melihat pemuda bersurai biru di depannya tak menjawab, Kai memejamkan matanya.
"Kau ingat Xaiphos hitam yang tadi memenuhi sekolah? Mereka sudah menghabisi seisi sekolah ini, dan sudah berkeliaran sampai ke kota. Kita tak perlu bersembunyi," lanjutnya lalu melepaskan pegangannya pada Aichi, setelah meyakinkan kalau kekuatan Aichi sudah pulih. Ia bangkit berdiri. Sementara Aichi sendiri syok di tempat, mendengar pernyataan menyakitkan dari pemuda berkemeja putih di hadapannya.
'Ma-Makhluk hitam ta-tadi ... yang me-memangsa semua pengunjung sekolahku, su-sudah menyebar!?' Ia bertanya pada dirinya sendiri. Kedua matanya menatap kosong ke arah kedua tangannya yang terkepal erat. Ia berusaha meyakinkan diri kalau polisi bisa membereskan makhluk-makhluk itu.
Kemudian kepala Aichi kembali terangkat, ia memandang ke sekitarnya. Dilihatnya kembali atap sekolah yang selama ini selalu menjadi tempat sembunyinya ketika menyendiri. Mungkin Aichi tidak dapat bersantai di atap sekolah kesayangannya itu lagi. Sampai kedua matanya yang melamun menangkap sesosok figur yang terbaring di dekat pintu masuk menuju atap.
Kedua mata Aichi mengernyit. Siapa itu? Dan mengapa orang itu bisa berada disini? Apa orang itu tak sengaja masuk ke atap sekolah saat Kai bertarung dengan Xaiphos hitam? Tapi Aichi tak mengingat ada pengunjung atau siswa yang masuk ke atap selama pertarungan berlangsung. Lalu apakah sosok itu adalah Xaiphos hitam tadi?
"Dia elf yang berubah menjadi Xaiphos hitam tadi," Kai angkat bicara setelah melihat arah pandang Aichi. Ternyata dugaan pemuda bersurai biru ini ada benarnya. Ia memang tidak begitu mengerti apa maksud elf atau Xaiphos hitam yang diucapkan Kai, Aichi hanya penasaran dengan sosok itu. Aichi bangkit berdiri dan mencoba mendekat untuk melihat lebih jelas.
Sampai kedua matanya dikejutkan dengan surai keemasan orang itu. Aichi langsung terperanga syok, jantungnya seakan-akan berhenti berdetak saat itu juga. "Ke ... Kenji-kun ..."
.
.
.
Significance Essense
"If you touch the second world, don't try to escape from them..."
To Be Continued...
.
.
Information Fiction:
Chysin, singkatan dari Chyfosintech, adalah nama virus yang berhasil dikembangkan oleh organisasi kriminal bernama Silence Silk. Virus mematikan ini yang membuat Xaiphos terbagi menjadi dua, yaitu Xaiphos putih (normal) dan Xaiphos hitam (terinfeksi virus).
Suzugamori Rei's die message:
1(5)
T=S(Ad)
Biodata Character:
3. Kenji
Umur: 200 tahun, tapi penampilan normal seperti anak umur 17 tahun.
Kota Tinggal: Gumirose.
Hobi: Mengawasi Aichi, mempelajari tata krama uskup, memberi berkat untuk orang-orang.
Jenis: Elf.
Kelebihan: Memiliki kekuatan magis yang bisa membuatnya menyelinap ke dunia pertama.
Kelemahan: Tidak suka serangga, dan makanan yang berbahan serangga.
A/N: Yo, minna-san! Dua author stress datang update lagi! Di chapter ini, dua karakter dari card muncul, katakan selamat datang untuk Grimm dan Luquier, ya! Apa mereka termasuk half-OC? Dan yang tidak tahu aslinya mereka dari clan mana, Grimm itu critical trigger dari clan ShaPal, dan Luquier itu ace-card Tante(?) Asaka dari clan PaleMoon. Kami sangat senang bisa memunculkan mereka! ^0^
Lalu, di chapter ini juga, kami mulai memainkan(?) genre misteri yang tertera di fiksi. Hayo, yang jago menganalisis dan ngaku-ngaku detektif, bisakah kalian menebak kode kematian dari Rei? :) By the way, yang membuat kode itu bukan kami (maklum, cupu dalam hal begituan tapi pengen bikin/plak), tapi teman real-life Gane yang juga berprofesi sebagai author, penname-nya Huicergo Montediesberg. Cergoo! Terima kasih atas bantuanmu, Kawan!
Gomen kalau cerita makin ngebosenin, kami merasa tidak ada perkembangan dengan gaya menulis, huhuhuw *mewek-di-pinggir-sungai* Tidak keberatan meninggalkan review? Kami sangat membutuhkan kritik, saran, masukan, dan komentar dari kalian, desu yo~
Reply Review:
Cece Lien: Nggak tega sama Kenji, peluk aja Kenji-nya. Gomen kalau KaiAi ketemunya lama, sengaja *digampar*. KaiAi belum bersemi, baru ketemu. Pairing lain nyusul ... siapa, yah?
Carolis 'Sasha' Paralize: Gapapa review malam-malam, review pagi-pagi buta juga boleh. Iya, KaiAi akhirnya ketemu setelah sekian lama. Hehehe, bagus deh kalau sampai kebawa mimpi.
Ai. Cwe. Conan1: Jangan bilang gitu, kamu saja yang belum banyak latihan. Kalau latihan terus pasti bisa, semangat ya.
Killua Zoldyck 121733: Kelemahan Kai itu Aichi? Yang bener?
Snowy Coyote: Gapapa, anggap saja angin berlalu. Iya, alur fic-nya lambat, untuk lamanya pertemuan KaiChi memang disengaja sebenarnya, hehe. Chapter berikutnya sudah ada.
Yuichiiiiiiiii: Maaf update-nya lama. Xaiphos hitamnya sebanyak hampir dua lantai sekolah kira-kira. Kenji nasibnya gimana, yah?
Yu Si Anak Layangan: Tegangnya berasa? Syukurlah, kami kira membosankan. KaiChi baru ketemu, masa sudah langgeng duluan. Yup, akan selalu update.
Airy Karmila: Gapapa kok telat review. Fokus untuk US-mu, ya, Kai menyertaimu, hahaha.
Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)
Sincerely,
5 Desember 2013
HYUCCHI
