Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₆ Good Bye, My Friend. Good Bye, My World

"Dia elf yang berubah menjadi Xaiphos hitam tadi," Kai angkat bicara setelah melihat arah pandang Aichi. Ternyata dugaan pemuda bersurai biru ini ada benarnya. Ia memang tidak begitu mengerti apa maksud elf atau Xaiphos hitam yang diucapkan Kai, Aichi hanya penasaran dengan sosok itu. Aichi bangkit berdiri dan mencoba mendekat untuk melihat lebih jelas.

Sampai kedua matanya dikejutkan dengan surai keemasan orang itu. Aichi langsung terperanga syok, jantungnya seakan-akan berhenti berdetak saat itu juga. "Ke ... Kenji-kun ..."

Kedua kaki Aichi yang semula ingin mendekat pun tertahan sejenak. Ia terdiam di tempat. Syok, tidak ingin percaya, takut, semuanya bercampur aduk di dalam hatinya. "KENJI-KUN!" teriaknya cukup keras, kemudian berlari kencang menuju tubuh yang tergeletak dalam posisi telengkup. Sementara Kai yang masih berdiri pada tempatnya sedikit terkejut.

'Anak ini mengenalnya? Siapa sebenarnya elf itu?' Kai mengernyitkan dahinya curiga. Tapi ia memutuskan untuk mengamati lebih jauh.

Krak...

"Ugh," kedua tangan Aichi menyingkirkan bongkahan-bongkahan bangunan yang menutupi tubuh itu. Dan rasa takut di hatinya semakin mengembang tatkala kedua matanya mengenal betul punggungnya. Punggung sahabatnya, Kenji.

Bruk.

"Ke-Kenji-kun ... ba-bagaimana bisa ... bagaimana bisa hal ini terjadi!?" kedua kaki Aichi berlutut. Ia segera menarik tubuh kaku itu ke dalam dekapannya. Aichi pandangi jelas wajah itu, wajah sahabatnya yang tenang. Pandangan Aichi mengabur ketika air matanya mulai membendung. Ia menggeleng-geleng dengan lemas.

Aichi mendekatkan telinganya ke arah dada bidang Kenji, berusaha meyakinkan kalau sahabatnya masih bernafas. Tapi ternyata usahanya tidak membuahkan hasil. Kedua tangan Aichi bergetar tatkala tak mendapatkan sebuah detak jantung pun di sana. Ia memperkuat pegangannya pada tubuh sang sahabat.

"Huh ..." Aichi memejamkan matanya, membiarkan buliran air mata membasahi wajahnya. Ia mendekap tubuh Kenji dengan erat, "Ke ... Kenji-kun, jawab aku ... kumohon, jawab aku ... aku serius, huks ..."

Aichi berharap kalau temannya terlalu lihai dalam bercanda, sampai bisa-bisa menahan detak jantungnya dan membohongi Aichi. Ia berharap kalau Kenji nantinya akan terbangun dan tertawa terpingkal-pingkal melihatnya tertipu.

Ya, hanya berharap.

Yang sekarang Aichi lakukan hanya bisa berharap, dengan sia-sia.

"Huuh ... Huwaaaaa!" Aichi menangis sekeras-kerasnya. Ia masih ingat betul, dimana saat terakhir ia masih berkomunikasi dengan Kenji. Sahabatnya itu sedang tidak dalam kondisi normal. Ia meminta Aichi untuk pergi, dan berjanji untuk menemuinya nanti.

Ya, nanti. Entah yang dimaksud nanti itu kapan. Tapi Aichi tidak menyangka kalau yang dimaksudkan sang sahabat adalah sekarang. Dimana tubuh itu terlihat pucat dan tergeletak lemas di dekapannya. Dengan kondisi mata terpejam dan tubuh yang kaku. Tanpa detak jantung dan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Jawab aku, Kenji-kun! Jawab aku! Kau sedang bercanda, 'kan!? Hu ... huwaaaa!" Aichi menenggelamkan wajahnya ke tubuh itu, memeluknya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya. Sekalipun raga itu sudah tidak bernyawa. Dan sialnya, disaat seperti ini, kenangannya mengenai Kenji justru terbayang.

"Kalau kau terus seperti itu, bagaimana kalau suatu hari aku tidak bersamamu?"

Aichi membuka kedua matanya yang membengkak karena air mata. 'Yang kau maksud dengan ... suatu hari adalah ... hari ini, ya, Kenji-kun!?' Pemuda bersurai biru itu merenggangkan pelukannya pada raga tak bernyawa di dekapannya. Sekali lagi, ia pandangi wajah itu. Wajah yang selalu tersenyum riang kepadanya.

"Bagiku, kau adalah sahabat baikku, Aichi-kun. Aku tidak akan pergi kemana pun"

Air mata Aichi semakin mengalir deras. Emosi di hatinya bercampur aduk dan tidak stabil. Sekali lagi, ia memejamkan matanya erat, membiarkan air matanya tumpah sebanyak-banyaknya. 'Kau bohong, 'kan, Kenji-kun ... Waktu kau bilang ... kalau aku adalah teman baikmu ... i-itu ... bohong, 'kan? Ka-Karena itu, se-sekarang kau meninggalkanku ...'

"Hiks ... Ukh ..."

Kai memandang teduh punggung 'pasangan'nya. Entah karena apa, rasa sakit dan pedih yang dialami pemuda itu bisa menjalar sampai ke hatinya, sehingga Kai sendiri bisa merasakannya. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Kai berjalan mendekati Aichi yang masih terisak-isak, dengan raga bekas Xaiphos hitam yang sudah tidak bernyawa disana. Ia menunduk, tepat di belakang Aichi.

"Sudahlah." katanya, pelan. Dan suara itu sanggup membuat isakan Aichi terhenti sejenak. Dengan perlahan, ia menengok ke arah Kai yang berdiri di belakangnya, "Biarkan dia mati dengan tenang," tambahnya, membuat hati Aichi kembali berdenyut sakit.

Inilah kenyataannya.

Kenyataan yang sama sekali tidak Aichi mengerti, juga tidak ingin ia mengerti. Temannya tanpa sebab jelas berubah menjadi Xaiphos hitam, lalu sekarang sudah tak bernyawa lagi, "Hiks ..." dan isakannya kembali terdengar. Raga Kenji yang masih didekapnya perlahan mengeluarkan sinar putih. Aichi sontak terkejut.

Hyuuuu.

"A-Apa yang terjadi?" tanyanya pelan. Tetapi tidak ada jawaban. Raga itu semakin bersinar, sampai akhirnya perlahan terkikis menjadi debu berlian. Melihat anggota tubuh sang sahabat yang perlahan lenyap membuat hati Aichi semakin keluh. Ia memeluk tubuh Kenji dengan erat seolah tak rela melepasnya.

"TIDAK!" serunya kencang. Kai mengerti betul apa yang dirasakan oleh Aichi. Tapi apa yang pemuda ini perbuat justru akan membuat raga itu menderita. Ia mengusap helaian rambut biru Aichi.

"Orang yang sudah mati, tidak akan bisa bangkit kembali." Kai berkata perlahan, membuat Aichi langsung membulatkan kedua matanya syok, "Apa kau ingin temanmu menderita karena kepergiannya harus ditahan olehmu?"

Nyut.

Hati Aichi serasa ditusuk duri tatkala perkataan Kai terngiang-ngiang di otaknya. Ia tahu, temannya sudah tiada, tanpa Aichi mengerti apapun kenapa bisa terjadi, dan ia ingin mencegah kepergian Kenji. Tapi apa hal itu hanya membuat sahabatnya menderita? Apa Aichi terlalu egois untuk tidak mengalah kali ini saja? "Hiks ... ta-tapi ..."

"Sekalipun dia sudah mati, tapi memorinya di dalammu tidak akan hilang, bukan? Cepat lepas tubuhnya dan biarkan dia pergi," Kai menyambung ucapannya dan berjongkok di samping Aichi. Tatapan kedua mata tajamnya seakan menghunus dalam-dalam tatapan ragu pemuda lainnya.

Kini Aichi menatap ke arah tanah dengan tatapan kosong. Ia bimbang. Namun perlahan-lahan pegangannya pada tubuh Kenji melonggar, sehingga tubuh yang bersinar itu semakin terkikis menjadi debu dan lenyap. Tanpa sengaja, Aichi mengingatnya lagi, kata yang dulu pernah ia lontarkan di depan sahabatnya.

"Entahlah, Kenji-kun. Lagipula aku tidak merasa keberatan seorang diri,"

Aichi memejamkan matanya penuh penyesalan. Ia sendiri yang meyakinkan Kenji, bahwa ia tidak akan keberatan seorang diri. Apa karena itu Kenji meninggalkannya sekarang? Air matanya yang tadi tertahan kembali membuncah, ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuka lagi kedua shappire-nya.

Aichi berusaha untuk tersenyum, menatap wajah Kenji untuk terakhir kalinya, "Aku tak akan pernah melupakanmu, Kawan ..." sebelum wajah itu ikut terkikis dan lenyaplah seluruh anggota tubuh sang sahabat. Aichi terpuruk. Hatinya tetap sakit, walau ia sudah ikhlas melepas kepergian sahabat baiknya.

Kai memandang punggung Aichi dengan tatapan datar. Sedikitnya ia menyesal tidak bisa menghibur pemuda itu, sekalipun ia mengerti apa yang dirasakan Aichi sekarang, 'pasangan'nya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

"UWAAA!" seorang laki-laki menggeram hebat. Emosinya tak terbendung lagi. Ia menggenggam erat kedua tangan lawan bicaranya, "Bagaimana bisa kau melakukan semua ini!? KAU PENGKHIANAAT!" teriaknya, dengan sekuat tenaga berusaha untuk memojokkan seseorang. Tapi rupanya orang yang ia cengkram lengannya tak kalah kuat.

Grep.

"Aku memang pengkhianat, kau yang bodoh karena sejak awal tidak menyadarinya," balasnya dengan suara tenang. Tapi tatapan matanya menatap tajam milik pria lainnya, "dengan ini ... aku, bisa membuat dunia baru, tanpa kau, juga tanpa mereka ..." lanjutnya seraya mendorong balik dengan tenaga yang tak kalah besar. Pria lainnya meneteskan air mata.

Tes.

Ia tidak menyangka akan dikhianati teman satu kubuhnya sendiri. Pengkhianatan yang menyakitkan, menyadari bahwa selama ini mereka melewati waktu dengan tawa dan saling membantu satu sama lain.

"KAU MONSTER! KAU ... BAHKAN LEBIH JAHAT DARIPADA XAIPHOS HITAM! KAU JUGA YANG TELAH MENYEBABKAN KEMATIAN REI, 'KAN!? AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN―" tepat sebelum pemuda berambut ikal itu melanjutkan bicaranya, ia keburu lengah. Pemuda lainnya langsung mencuri kesempatan dengan membanting keras tubuhnya ke sudut ruangan.

BHUAK.

Grep.

Dengan cepat, pemuda berjubah hitam itu mengambil sebuah sabit yang ia bawa. Sebelum pria tadi bangkit berdiri, ia sudah terlebih dahulu mengayungkan sabitnya dan―

CRASH.

"Uaakh―!" pria berambut ikal itu langsung memuntahkan darah segar tatkala sabit pemuda lainnya menghunus dalam ke dadanya. Darah segar bermuncratan dari luka dan mulutnya. Namun itu baru serangan pertama. Pemuda itu kembali menarik sabitnya dengan cepat, sampai beberapa urat-urat yang tersangkut dari tubuh pria itu tertarik paksa.

Dan ia kembali mengayungkan sabitnya, ke tubuh pria itu.

CRASH.

Dari segala arah.

CRASH.

Tanpa henti dan membrutal.

CRASH.

Tanpa membiarkan pria itu berbicara sepatah kata pun. Sebuah tangan pria tadi tanpa sengaja terpotong dan terjatuh tak jauh dari pemiliknya. Genangan darah membanjiri di sekitar pria yang sudah kehabisan tenaga. Nafasnya terengah-engah, mungkin paru-parunya juga terkena serangan tadi, sehingga ia merasa kesulitan bernafas sekarang.

Walau hanya sebentar, matanya kembali beradu dengan mata pemuda tadi, "Kau ... pengkhianat ..."

Dan pemuda lainnya hanya memandang tubuh mengenaskan di hadapannya dengan wajah datar. Ia segera mengikat sabitnya di punggung, lalu pergi, dari ruangan yang lebih mirip bangunan angker―daripada disebut sebagai laboratorium. Ia mengira kalau pria tadi pasti akan mati dalam waktu singkat. Tapi ternyata―

"Ukh ..."

―dunia tidak semuluk itu.

Dengan tangan kanannya yang masih tersambung dengan tubuhnya, pria tadi berusaha menggerakannya. Semua ujung jarinya terkena genangan darah yang berasal dari tubuhnya. Dan dengan telunjuknya, ia berusaha menuliskan sesuatu di dinding―

Sret.

Sret.

―sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi menatap nanar ke arah bangunan yang selama ini menjadi tempatnya bertumbuh dan berkembang. Kedua telapak tangannya menempel di kaca jendela bangunan itu, menatap ke dalam ruangan dengan tatapan hampa. Seberapa lama pun mata birunya menatap ke dalam, hasilnya tetap sama saja.

Gelap, dan kosong.

Tempat yang selama ini dikatakannya sebagai rumah lebih terlihat seperti bangunan tak berpenghuni. Untuk kesekian kalinya, Aichi menghembuskan nafas lelah. Bukan karena tubuhnya yang lelah, tapi batinnya. Hatinya terlalu sakit untuk menampung kehilangan temannya―ditambah lagi sekarang kehilangan anggota keluarganya.

Begitu ia menginjakan kakinya di rumah, Aichi sama sekali tidak menemukan batang hidung anggota keluarganya. Jangankan wujud, bahkan suara ibunya yang menyambut kepulangannya tidak terdengar lagi di indera pendengarannya. Rasa ingin menangis, tapi mungkin air matanya sudah habis untuk menangisi sahabat baiknya tadi.

Dan apa mungkin hatinya ikut hancur?

"Bagaimana, Aichi?" suara itu menginterupsi kegiatan Aichi yang terlihat sia-sia. Pemuda yang tubuhnya lebih pendek menengok pelan, ke arah belakangnya. Kai masih setia menemaninya sampai saat ini. Dia juga yang melindungi Aichi selama perjalanan mereka pulang dari Xaiphos-Xaiphos hitam yang berkeliaran.

Aichi menggeleng.

"Percuma, Kai-kun ... Ayah dan ibuku tidak berada disini," ucapnya penuh penyesalan. Andai saja ia tidak membuang waktu untuk terpuruk karena kematian sahabatnya, mungkin ia masih sempat melihat kedua orangtuanya sekarang. Ayahnya yang baru pulang kerja, maupun ibunya yang mengajak makan siang.

Rumahnya benar-benar kosong, tanpa perabotan rumah tangga dan benda lainnya. Aichi jatuh terduduk, ia menundukan kepalanya dan memejam mata. Menarik nafas dalam-dalam agar semua rasa sakit di hatinya bisa terminimalisir. Juga banyaknya tanda tanya yang memenuhi pikirannya.

"Apa yang ... harus kulakukan sekarang? Aku tidak punya tempat untuk pulang lagi," Aichi benar-benar putus asa. Ia meremat helaian rambut birunya frustasi. Kai yang berdiri di belakangnya memandang ke sekitarnya, sampai mata kehijauannya bertemu dengan tas selempang yang dipakai oleh pemiliknya.

"Aichi, apa ada barang penting di tas itu?" Aichi mengangkat kepalanya kembali dan menatap Kai dengan tatapan bingung. Tapi kemudian ia jadi teringat. Yang berdiri di sampingnya sekarang adalah sebuah Xaiphos, mungkin ia bisa menjadi petunjuk besar dengan buku sihir Xaiphos miliknya. Ia segera merogoh tas hitamnya.

"A-Ano, kurasa aku tidak perlu merahasiakannya dari Xaiphos, jadi ... ini," Aichi pun mengeluarkan sebuah buku tua dari tasnya dan menunjukannya pada Kai. Kini giliran pemuda lainnya yang membulatkan mata. Tulisan yang terpampang jelas di sampul buku sudah menjadi bukti nyata bahwa pemuda yang berdiri di depannya benar-benar seorang Jewelic.

"Buku itu ... darimana kau mendapatkannya?" Kai bertanya penuh dengan rasa ingin tahu. Walau ekspresi di wajahnya tetap tidak berubah. Ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan Aichi yang terduduk, kemudian meraih buku tua yang dipegang Aichi.

"Kakekku yang memberikannya. Karena aku sangat menyukai hal-hal berbau sihir, kakekku menghadiakannya untukku. Ta-Tapi ..." menjedah ucapannya, Aichi kembali tertunduk lemas. Mata Kai menatapnya dengan artian ingin tahu kelanjutan ucapan 'pemilik'nya.

"Sejak aku memilikinya, banyak kejadian aneh yang menimpaku. Ter-Termasuk sekarang, aku benar-benar resah," tuturnya dengan jujur. Aichi mengangkat kepalanya lagi, menatap mata lawan bicaranya dalam-dalam, "apa ... kau tahu sesuatu tentang semua ini?"

Kai melirik Aichi dan buku Xaiphos di tangannya bergantian. "Kejadian aneh apa saja?"

"Eng ... di buku itu, ada wajah yang sangat menyeramkan. Wajah itu, berteriak ke arahku, lalu aku pingsan. Setelah pingsan, aku ... mendapati diriku terbangun dua minggu setelah tragedi. Di buku itu, banyak tertulis nama-nama dengan tinta merah pekat―" tidak mendengar kelanjutan dari ucapan Aichi, Kai sedikit tertarik dengan bagian 'nama-nama'. Ia pun mencoba membuka buku itu pada halaman pertengahan.

Dan benar saja, banyak nama-nama yang tertulis disana, "―Kai-kun? Kau mendengarku?" dan pemuda itu menghentikan aktifitasnya begitu menyadari kalau tadi ia mengabaikan Aichi sesaat. Ia hanya melempar tatapan dingin ke arah Aichi, membuat pemuda lainnya menghela nafas.

"Aku bilang, ada nama kakekku di halaman kedua dari belakang," kemudian dengan hati-hati, Aichi mengambil ahli buku itu dan membukakan halaman yang ia maksud. Aichi tidak menemukan perubahan pada halaman itu, bahkan nama kakeknya masih disana. Ia menunjukannya pada Kai.

"Ini."

'Sendou Ogata? Ternyata info kalau Jewelic sebelumnya terbunuh memang benar, ini nama-nama korban Xaiphos hitam,' guman pemuda bertatapan dingin itu. Ia berpikir sejenak, sementara Aichi terdiam menunggu reaksi Xaiphos di hadapannya.

Kai menutup bukunya dan mengembalikannya pada Aichi, "Kau simpan dulu." titahnya, dan Aichi pun menurutinya. Ia meletakan kembali buku tua itu ke dalam tasnya. Kemudian Kai bangkit berdiri, tak lupa ia mengangkat Aichi sampai ke bahu dan mengeluarkan kembali sayap kristalnya.

Aichi langsung terkejut.

SYUT.

Dan sebelum Aichi mengeluarkan omelan cemprengnya, Kai langsung melesat ke atas dan mendarat di atap. Ia kembali menurunkan Aichi dengan hati-hati.

"Hei, Aichi ..." pemuda yang tadinya sibuk mencari pijakan aman pun mendongkakan kepalanya tatkala suara Kai mengalun di gendang telinganya, "menurutmu, aku ini apa?"

Aichi menautkan alisnya tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba Xaiphos di depannya bertanya demikian?

"Eng ... makhluk superanatural?" Aichi menjawab dengan hati-hati. Kai memejamkan matanya, sudah menduga manusia awam―atau lebih tepatnya mantan manusia awam menjawab demikian. Tapi kemudian emerald-nya kembali terlihat.

"Kau salah ..."

"Eh?"

"Aku adalah, makhluk dari dunia kedua," sambung Kai seraya melebarkan kedua sayap kristalnya yang besar dan indah. Aichi terpanah dengan keindahan kristal yang menghiasi punggung Kai, sekalipun sudah berkali-kali melihatnya.

"Apa maksudmu?" Aichi bertanya tak mengerti. Dengan tangan kanannya, Kai menunjuk ke arah langit.

"Mungkin kau tidak mempercayainya, tapi kau akan menemukan semua teka-tekinya kalau kau pergi ke dunia kedua," jelas Kai seraya memandang langit jauh-jauh, walau hanya gumpalan awan dan warna biru yang didapat. Aichi membulatkan kedua matanya, sorot matanya menatap Kai penuh harapan.

"Be-Benarkah? Tapi bagaimana bisa?" Aichi masih sedikit ragu. Tapi semua kejadian-kejadian tidak masuk akal yang menimpanya mungkin bisa dijadikan perbekalan bukti, bahwa superanatural tidaklah mustahil di dunia ini. Ia ingin tahu kenapa kakeknya meninggalkan buku Xaiphos padanya, kenapa sahabatnya menjadi Xaiphos hitam, kenapa orang tuanya menghilang. Banyak misteri yang ingin sekali ia bongkar.

"Kakekmu yang memilihmu menjadi penerusnya sebagai Jewelic. Buktinya, ia memberikan buku itu padamu," Kai memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, kemudian berjalan menuju pinggir atap. Meninggalkan Aichi yang masih berdiri pada tempatnya.

'Jewelic?' kini muncul lagi istilah yang sama sekali tidak dimengerti Aichi. Rupanya kakeknya memberinya buku ini dengan suatu alasan? Dan ia ingin sekali tahu apa alasannya. Aichi tahu betul kalau kakeknya bukan orang yang sembarang, dan pasti ia memilih Aichi karena alasan kuat. Mungkinkah buku ini menjadi alasan atas semua kejadian yang terjadi?

"Untuk seterusnya, teserah pada kau, ingin pergi atau tidak. Saat ini, dunia kedua sedang diambang kehancuran," kemudian Kai berhenti melangkah. Tangannya menunjuk ke arah timur, dan Aichi pun mengikuti arah tunjukannya. Kedua matanya langsung membulat begitu melihat asap hitam tebal dari suatu gedung. Mungkin terjadi kebakaran disana, dan yang lebih penting, makhluk hitam itu pasti ada di belakang ini semua.

Deg.

"―dan pengaruhnya sampai ke dunia pertama."

Aichi menundukan wajahnya, merenungkan kejadian-kejadian yang belakangan ini menimpanya. Rasanya sulit untuk menentukan keputusannya sekarang. Ia sendiri berada di posisi yang begitu sulit. Tidak mungkin pemuda di hadapannya sedang membohonginya. Bahkan Kai yang menyelamatkan hidupnya.

Tapi benarkah ia harus pergi ke ... dunia kedua? Semua ini benar-benar tidak masuk akal. Mungkin Aichi tidak akan kembali ke negeri tercintanya. Ia tidak bisa kembali ke rumah itu lagi, ia tidak bisa menemui Kenji lagi. Namun―

"Bawa aku ..."

Kai menautkan alisnya. Ia berbalik dan melihat Aichi yang menatapnya dengan penuh kepedihan, "Bawa aku, ke dunia kedua ..."

―percuma saja ia mempertahankan dirinya disini. Apa yang menjadi tumpuan harapannya sudah hancur. Aichi merasa tidak memiliki siapapun yang lagi yang bisa ia pertahankan di negerinya. Lalu untuk apa ia menahan diri untuk tetap berada disini? Hanya memandang kehancuran? Tidak, hal itu sama sekali tidak ada dalam kamus Aichi.

"Kau yakin?" Aichi menganggup mantap, ia menatap Kai dengan tatapan tegas seorang laki-laki.

"Aku ingin mencari tahu apa yang tidak kuketahui. Terlebih lagi, aku ingin membalaskan dendam kematian Kenji-kun ..." Aichi meremat dadanya begitu nama itu kembali disebut oleh mulutnya sendiri. Teman yang begitu disayanginya.

Kai terdiam sejenak. Dalam waktu sesaat, ia merasakan aura kuat yang terpancar dari tubuh Aichi. Aura kuat saat ia menyebut nama elf itu. Kai pun kembali mendekati Aichi, "Setidaknya ucapkan selamat tinggal pada dunia ini ..."

Pemuda bersurai biru itu mengerti. Bahkan Kai sendiri, dengan mulutnya, berkata bahwa ia tidak akan bisa kembali kesini. Dan Aichi mungkin tidak ingin kembali lagi. Sekalipun di dunia kedua, ia harus menganggung kehidupan yang lebih berat―

Grep.

Aichi baru tersadar kalau Kai memegang kedua bahunya, "Aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu, karena kau adalah pasangan yang kupilih," Kai berucap seolah-olah bisa membaca kekhawatiran yang ada di benak pemuda lainnya. Walau dari sorot wajahnya, Kai seperti tak ikhlas mengatakannya. Tapi tidak ada salahnya Aichi untuk berharap.

"Ya ..."

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Seorang pemuda menyeruput kopi hitamnya dengan tenang. Kemudian ia meletakan kembali di sebuah piring kecil berwarna biru klasik. Mata obsidiannya sekarang tertuju pada layar komputer yang ada di hadapannya, sementara tangan kanannya sibuk mencorat-coret sebuah kertas putih.

Ting.

Sebuah bunyi menunjukan bahwa ruangannya kedatangan tamu. Pemuda itu pun menghentikan aktifitasnya dan menekan salah satu tombol yang ada di mejanya. Pintu ruangannya yang berhadapan langsung dengan meja kerja pun terbuka otomatis.

Nging.

Dan begitu pintu itu terbuka, matanya beradu pandang dengan pemilik manik perak yang melongo ke arah ruangannya. Sang pemuda segera masuk ke dalam sebelum pintu otomatis tadi kembali tertutup. Ia meremat rambutnya frustasi melihat ruangan itu.

"Astaga, Jun! Aku sudah menyiapkan tong sampah di ruanganmu, Jun! Perlu kutekankan? Aku sudah menyiapkan TONG SAMPAH di ruanganmu!" katanya seraya mengada kedua tangannya di hadapan pemuda lainnya yang masih terduduk di kursi hitamnya dengan santai. Yang dipanggil Jun pun manggut-manggut, kemudian kembali menyeruput kopinya.

"Lalu kenapa sampah-sampah kertas bekas coretanmu berhamburan disini, Hah!? Ouch, sungguh kotor, menjijikan sekali!" Jun menautkan alisnya tidak mengerti. Di matanya, sampah-sampah yang hampir menggunung di sekitarnya masih tergolong sedikit. Tapi pemuda berambut pirang di hadapannya sudah komat-kamit duluan, seakan-akan sampah-sampah itu sudah melangit.

"Santai saja, Miwa." katanya pada pemuda yang tadi masuk ke ruangannya. Tapi sepertinya pemuda itu tidak peduli. Ia langsung berinisiatif untuk mengambil tong sampah yang diletakan di sudut ruangan, lalu memungut semua sampah kertas bekas coretan Jun ke sana.

Sruk.

Sruk.

'Apa dia memang maniak terhadap kebersihan?' tanya Jun dalam hati, memejamkan kedua obsidiannya sebentar. Tapi kemudian ia kembali berkonsentrasi dalam perkerjaannya, tidak mempedulikan Miwa yang masih sibuk memungut sampah dengan kecepatan tinggi.

"Hm ... sampai dimana aku tadi―aha, berikutnya Adam, lalu―" pemuda yang tadi menyeruput kopi pun kembali melakukan ritual anehnya. Mencorat-coret kertas putih dengan kata-kata yang muncul di otaknya. Dan setelah kertas itu penuh, ia akan membuangnya sembarang tempat. Hal itu yang paling membuat Miwa ceriwisnya minta ampun.

Pluk.

"Hah ..." Miwa menyekah keringat di dahinya setelah selesai memungut semua kertas-kertas buangan yang tadi berserakan. Ia menatap sekitarnya, semua sudah bersih. Inilah pemandangan yang amat disukai―

Tuk.

―nya.

"Jun! Aku baru saja membereskan ruanganmu dan sekarang kau menambah sampah lagi!?" Miwa langsung menghujat pemuda yang tengah mengambil kertas baru dan kembali mencorat-coret. Tapi Jun tidak mempedulikannya, membuat Miwa sedikit jengkel. Dengan setengah hati, ia pun mengambil kertas yang baru saja di buang dan meletakannya ke dalam tong sampah.

Miwa bangkit berdiri dan menggaruk-garuk rambut pirangnya, "Kau masih belum selesai juga?"

"Tentu saja belum. Untuk apa aku susah-susah meng-hack data komputer kepolisian Silence Silk kalau tidak memecahkan kode ini?" sahut Jun dengan antusias. Ia menatap Miwa dan memainkan pulpen di tangannya sebentar, sebelum kembali menulis. Tidak membalas, Miwa pun berjalan ke arah belakang Jun, ia pandangi layar komputer yang masih menyala.

1(5)
T=S(Ad)

Sebuah die message―pesan kematian―, yang baru-baru ini mereka dapat dari data komputer kepolisian Silence Silk, kelompok kriminal terbesar di dunia. Dua minggu yang lalu, bawahan mereka mengabarkan kalau Silence Silk berhasil menangkap dua orang yang selama lima bulan menjadi buronan mereka.

Dan seminggu setelahnya, Jun mendapat isu yang beredar dari organisasi itu sendiri kalau mereka kehilangan kedua orang itu. Salah satunya meninggalkan pesan kematian, sebelum ia mati di dalam sel tahanan. Sebagai detektif, otomatis hati Jun tergerak untuk menyelidikinya.

Ya, sebagai detektif.

"Tumben kau kesulitan, Jun." Miwa berkata dengan nada remeh, membuat pemuda bersurai kelabu yang masih sibuk menulis tadi terdiam di tempat, "Padahal ini kode yang cukup mudah." tambahnya, membuat pemuda lainnya langsung memutar kursi dan menatap Miwa dengan tatapan penasaran.

"Cepat sekali," komentarnya. Miwa tertawa pelan.

"Banyak yang bisa dijadikan petunjuk, kok. Aku tinggal mencari tahu makna unsur T dan S dari kode itu, maka selesai sudah memecahkan isi pesan kematiannya," cengirnya sembari membuat tanda peace dengan kedua tangannya, lalu menjepit kedua jari itu seperti kepiting. Jun terkesima. Ia tidak menyangka kalau wakil divisi lebih cepat menebak kode daripada ketua divisinya.

"Kalau boleh tahu, apa kesimpulan yang kau dapat?" Jun pun bertanya, ia penasaran dengan ide pemecahan yang disimulasikan oleh wakil divisi berambut pirang tersebut. Sebelum menjawab, Miwa terlebih dahulu menunjuk pada bagian 1(5), Jun ikut memandang bagian itu.

"Menurut perkiraanku, korban menulis kode ini untuk memberitahukan seseorang, siapa yang membunuhnya," Miwa mulai menjelaskan spekulasinya. Dan sekali ia berbicara, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

Jun mengangguk, "Sama denganku. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa menulis nama pelaku saja membutuhkan kode?" tepat setelah Jun menanyakan itu, Miwa menyeringai kecil. Membuat obsidian milik si kelabu membulat. Sang wakil divisi sudah memberi petanda dari seringaiannya, Jun menautkan alisnya dan memandang kode itu sekali lagi.

"Hehehe, kau lengah, Jun. Pertanyaan itu yang menjadi kartu As-nya, kau tahu?" Jun berangsur-angsur mengerti. Ia sedikit mendecih karena kedahuluan oleh wakilnya dalam memecahkan kode pesan kematian kali ini. Pantas saja Miwa menunjukan bagian 1(5) dari pesan kematiannya tadi. Itu dia jawabannya, yang sedari tadi tidak terpikirkan oleh Jun.

"Pelakunya adalah orang yang dekat dengan korban. Mungkin lebih daripada sekedar kenalan atau teman seprofesi. Karena itu, di bagian 1(5) berarti salah satu dari kelompoknya yang berjumlah lima orang. Karena dia sangat dekat dengan pelaku, maka ia tidak tega untuk menyebut namanya langsung, entah karena perasaan atau hanya ingin orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Bagaimana kesimpulanku?" Miwa berjalan ke samping lalu menduduki meja kerja Jun yang terbuat dari kayu jati asli. Si rambut kelabu mengelus pelan dagunya yang bersih tanpa bulu. Ia kagum pada kata-kata Miwa yang bagaikan menembak semua titik lemah musuh.

"Begitu, benar juga. Karena ia ingin orang-orang tertentu yang mengetahuinya, jadi ia menuliskan nama pelaku dengan kode. Berarti orang-orang tertentu yang dimaksud juga memiliki kemampuan membaca kode. Apa mungkin teman-teman satu profesinya?" Jun menyandarkan punggungnya di kursi hitam empuk, tangan kanannya kembali meraih cangkir kopi. Ia mendekat ke kepala cangkir guna menghirup aroma dari cairan hitam yang tinggal setengah di dalamnya.

Miwa tersenyum tipis, "Begitulah. Dan nama inisial pelakunya adalah di bagian ini." dan tangan Miwa kini menunjuk kembali ke layar laptop milik ketua divisi, di bagian T=S(Ad). Baru saja pemilik obsidian ingin menyeruput kopinya, tapi ia langsung berhenti. Kini dengan kedua matanya, ia melirik ke arah kertas terbaru yang jadi media corat-coretnya.

"Di bagian itu, aku sedang mencoba memecahkan bagian Ad. Aku berusaha menulis semua kata yang berhubungan dengan Ad, seperti andromeda, adlip, adam, airdrome, affidavit, alderman, dan ... yah, kurasa aku tak perlu menyebut semuanya, kau lihat saja disana," dengan tidak berdosanya Jun menunjuk ke arah tong sampah, alat yang tadi digunakan si pirang untuk memungut semua kertas bekas coretannya.

Mengingat sampah, wajah Miwa langsung menjadi kusam, "Jangan memintaku untuk membongkar sampah."

"Baiklah," Jun memejamkan matanya mengerti. Ia dan Miwa memang kontras, sekalipun mereka berprofesi sama, yaitu sebagai detektif. Kalau Jun, mungkin rela pergi ke tempat pembuangan sampah dan membongkar sampah-sampah di sana asalkan bisa menemukan sebuah petunjuk untuk memecahkan kasus. Berbeda dengan si manik perak yang masih duduk manis di meja kerjanya.

"Tapi, Jun ... ada sesuatu yang mengusik pikiranku," mengalihkan pembicaraan, Miwa jadi teringat sesuatu. Pemilik obsidian lentik di hadapannya pun sepertinya tidak keberatan untuk berganti topik.

"Apa itu?"

"Kau tahu sendiri 'kan kalau korbannya adalah kakak dari Raja Savhalon. Apa setelah kita memecahkan kode ini, kita harus memberitahukannya pada Raja?" Miwa turun dari meja Jun. Ia membenarkan posisi blazzer berwarna fanta yang tampak cocok dikenakannya.

Jun terdiam sejenak. Ia belum menjawab sebelum menyeruput kopinya lagi, sampai habis tak bersisa. Ia kemudian meletakan cangkir kosong itu ke piring mungil, "Tidak, setidaknya kita rahasiakan ini sampai keadaan yang tepat―"

TEEET.

TEEET.

TEEET.

"Apa!?" Miwa langsung menoleh ke arah lampu merah yang berkedap-kedip di sudut ruangan. Ini bukan petanda baik. Wajahnya langsung memucat, Miwa pun bergegas keluar dalam ruangan untuk menemui anak buahnya.

"Hei, ada apa ini!?" serunya kesal ke arah anak buah yang berlari ke arahnya. Mereka terlibat perbincangan yang cukup serius, setidaknya itu yang Jun lihat sebelum pintu ruangannya tertutup kembali. Berbeda dengan Miwa, ia tampak tidak tertarik dengan alarm darurat tadi. Ia tetap tenang di tempatnya duduk.

Kedua obsidiannya memandang serius ke arah kaca ruangan yang memantulkan wajahnya disana.

'―setidaknya kurahasiakan sampai aku bisa bertemu dengan Jewelic.'

.

.

.

Significance Essense

"If you touch the second world, don't try to escape from them..."

To Be Continued...

.

.

Information Fiction:

Suzugamori Rei's die message:
1(5)
T=S(Ad)
- Pemecahan sementara: Pelaku adalah satu dari sebuah kelompok yang berjumlah lima orang, nama inisial pelaku ada di bagian T=S(Ad). Korban menggunakan kode agar hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui siapa pelakunya.

Biodata Character:
-NONE FOR THIS CHAPTER-

A/N: Hai, semuanya! Apa kabar? Ini dia chapter enam, maaf jika update-nya lama. Sebenarnya tadi mau update kilat, hanya Saki-nya males nge-upload, jadi Gane yang harus turun tangan. Sebelumnya mau ucapin met ultah untuk Ren (telat), maaf nggak bisa kasih kado apa pun (fanfict misalnya) karena sedang tidak mood menulis belakangan ini.

Author Gane sedang mencoba terjun ke dunia cosplay. Kepengen banget jadi Chiaki Nanami atau Celestia Ludenberg, desu! *kicauandalamhati* Hanya saja mencari barang cosplay ternyata tidak mudah, ya. Mesti keliling sana-sini, dan biasanya barang yang 'mau dicari' pasti mendadak 'sulit ditemukan'(?) *marikitaberserk*

Bagaimana chapter ini? Apa feel-nya 'kena'? Author nggak bisa merasakan apa pun saat membaca fanfict sendiri (Saki), padahal Gane katanya sampai nangis(?) pas buat bagian kematian Kenji. Gomenasai, Kenji, baru mulai cerita sudah tewas duluan *dibacok*. Lalu, kalau ada bagian yang tidak dimengerti, jangan sungkan bertanya, oke?

Reply Review:

Ai. Cwe. Conan1: Bagus, deh, kalau tambah seru. Chapter baru sudah hadir, semoga suka.

Cece Lien: Iya, nih, kok bisa sama yah? Iya, itu beneran Kenji, masa Mas Hiromi? *ditendang* Chapter baru sudah ada.

Airy Karmila: Berhubung misteri salah satu genre utama, pasti bakal banyak. Hayo, sudah ada clue dari Miwa, tuh, coba saja tebak. Duh, anak ini cinta banget sama DaiLeon, saya juga suka *plang*. Saya mau kasih tahu tapi takut spoil, lel.

Killua Zoldyck 121733: Hehehe, sekarang sudah nggak curiga lagi? Kenji mau pergi ke surgaa~

Red Dragokid: Iya, sudah update. Terima kasih semangatnya, walau kami masih letih-lesuh-lelah *plok*. KaiAichi jadi cinta, nggak ya? Lihat saja chapter-chapter berikutnya, hehe.

Yuichiiiiii: Iya, Kenji elf di sini (di anime-nya enggak). Jati diri Kenji yang sesungguhnya masih dirahasiakan, hehehe.

Snowy Coyote: Iya, chapter kemarin ada kelolosan beberapa tanda (...), karena pas nulis sebelumnya masih pakai EYD lama. Soal Kenji masih dirahasiakan, hehehe. Maaf ga bisa cepet update.

Yuu: Lho Yu namanya nggak melayang lagi *digampar*. Suka Ren dama Kamui? Sabar, ya, pasti mereka dapat peran lagi, kok. Fansnya Kamui, nih? Tuh Yu tahu klau kodenya buat nebak pelaku, hehe.

Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)

Sincerely,
17 Desember 2013
HYUCCHI