Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₇ Try to Understand Each Other

Hap.

Hap.

Hap.

"Hah, tambah lagi!"

Hap.

Hap.

Hap.

Kedua detektif muda saling bertukar pandang, kemudian speechless bersamaan. Kembali mereka pandang dua orang lainnya yang duduk berhadapan dengan mereka. Yang satunya memakan semua hidangan yang tersedia dengan lahap. Semua makanan dibabat habis tanpa sisa, sampai piring bekas makannya pun putih bersih. Entah siapa yang melongo melihat kekuatan makannya yang luar biasa itu.

Sementara satunya lagi, yang tubuhnya lebih tinggi dan gagah dari satunya, terlihat tenang dan tidak berniat untuk mencicipi sedikit pun makanan yang ada. Dari arah pandangnya, sepertinya ia juga terkejut dengan cara makan pemuda yang duduk di sampingnya.

Miwa, salah satu dari detektif yang dimaksud, pun berdehem. "Jadi, dia itu ... Jewelic?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Ia tidak yakin kalau pemuda manis yang sedang asyik melahap ini-itu di depannya akan tersinggung.

Pemuda berambut brunet mengangguk tenang, "Ya." jawab Kai seadanya. Miwa melongo dan menautkan alisnya, masih tidak percaya.

"Kau yakin?" tanya Miwa seraya memandang keseluruhan tubuh anak bersurai biru di hadapannya dengan intens, walau sepertinya anak itu tak menyadarinya―atau bahkan tidak peduli.

Kai mengangguk.

"Kau tidak salah orang?"

Kai mengangguk, lagi.

"Siapa tahu matamu katarak lalu salah orang―"

"Miwa, cukup." Jun segera menginterupsi sebelum pemuda bermata emerald di hadapannya melempar meja ke arah Miwa. Pemuda bermanik perak itu langsung cemberut.

"Aku hanya tidak yakin," cicitnya kemudian menghela nafas. Jun mengerti kalau Miwa meragukan remaja di hadapannya ini. Tapi ia merasa kalau Miwa terlalu berlebihan.

Jun mengamati anak yang sudah selesai sesi makannya. Entah sudah berapa porsi makan yang dihabiskannya. Sepertinya ia kelaparan sekali tadi, gaya makannya sudah seperti monster menemukan paha ayam goreng.

"Kau suka dengan hidangannya?" tanya si kelabu, sekedar berbasa-basi. Aichi mengangguk manis dan tersenyum ceria.

"Ehehehe, iya. Terima kasih banyak!" pemuda yang paling pendek diantaranya kemudian membungkuk sopan tanda terima kasih. Tata krama yang tidak buruk, begitulah penilaian Miwa.

"Begitu? Baguslah, aku senang kalau kau menyukainya. Habisnya tadi kau datang dengan perut kosong," Jun pun mengalihkan topik ke arah yang seharusnya.

Tiba-tiba kedua pemuda di hadapannya ini muncul di markas organisasinya, entah dari mana. Bawahan yang panik pun bergegas membunyikan alarm darurat. Dan begitu ketua dan wakil divisinya datang―

"Eh?" Aichi melirik ke sekitarnya―mengamati sekilas. Di ruangan tempat mereka berada, ada dua orang yang berdiri di dekat pintu, menggunakan baju yang sama. Kemudian ada dua pemuda―yang sepertinya memiliki jabatan tinggi―duduk berhadapan dengannya dan Kai.

Lapar membuat otaknya kosong dan hanya mengingat makanan. Dan begitu tersadar, ia baru menyadari kalau berada di tempat yang tidak dikenalnya, "Kalian ini ... siapa?"

Gedubrak.

Wakil divisi yang tadi memasang tampang serius pun langsung terjatuh dari sofa, ketua divisi hampir menyemburkan kopinya, Kai membuang muka.

Buk.

Miwa bangkit berdiri dari jatuhnya dan memasang wajah jengkel, "Harusnya kami yang bertanya begitu, tahu!? Kalian muncul tiba-tiba di markas kami, apa sepantasnya kamu bertanya begitu?!"

Aichi memiringkan kepalanya polos. Kemudian Jun langsung memegang bahu si pirang, mengisyaratkannya untuk tenang.

"Maaf atas ketidaksopanan wakilku." ucap Jun dengan tenang, juga mengukirkan senyum tipis di wajah porselennya. Mata lentiknya terpejam tatkala Miwa terduduk kembali di kursinya menahan amarah. Kemudian kedua obsidiannya kembali terbuka.

"Perkenalkan sebelumnya, kami adalah salah satu organisasi detektif rahasia, alias Secret Detective Organization, Togami. Tugas kami sebagai detektif yang menyelidiki kasus kriminal sembunyi-sembunyi, dan tidak pernah menunjukan diri di depan publik," menjedah ucapannya, Jun kembali menyeruput minumannya. Aichi membulatkan matanya tatkala mendengar kata detektif, ia terkesima seketika.

Mata birunya yang menatap Jun berbinar-binar membuat Miwa sedikit risih. Selesai menghabiskan minumnya, pemilik obsidian itu melipat kedua tangannya di dada.

"Aku ketua divisi organisasi ini, namaku Mutsuki Jun. Dan yang duduk disampingku adalah wakil divisi organisasi. Miwa, ayo perkenalkan dirimu," kedua obsidiannya pun menatap intens ke arah Miwa. Pemilik rambut pirang itu mengerti dan memandang ke arah dua pemuda di hadapannya bergantian.

"Perkenalkan, aku Taishi Miwa. Err, senang berkenalan dengan kalian," kemudian ia memasang senyum terpaksa. Yang langsung disadari oleh Jun maupun Kai, tidak dengan Aichi yang masih memasang tampang bodohnya.

Hening melanda seketika. Jun pun menyandarkan punggungnya ke sofa, mengambil posisi senyaman mungkin.

"Walau tadi sudah dikatakan bahwa kau adalah Jewelic, tapi ... tidak keberatan, 'kan, kalau kalian kembali memperkenalkan diri kepada kami?" tuturnya dengan nada kalem. Aichi mengangguk ragu. Sekali lagi ekor matanya memandang ke seluruh ruangan.

Ia jadi teringat, detik-detik sebelum Kai membawanya terbang menuju dunia kedua. Kedua ekor matanya memandang rumahnya sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Sebelum tubuhnya tersedot ke sebuah pusaran dimensi, kepalanya seketika pusing, kemudian menjadi gelap. Begitu terbangun, ia sudah mendapati Kai dengan posisi mendekap dirinya, dan di hadapannya ada banyak sekali orang-orang asing berseragam sama. Tak lama dalam posisi dikepung seperti itu, Jun dan Miwa pun mendatangi mereka.

"Aichi," Kai memegang pundak Aichi, menyadari anak itu dari lamunannya. Pemuda manis itu tersentak kaget, tapi kemudian kembali memandang Jun dan Miwa bergantian. Dari auranya, ia merasa kalau mereka bukanlah orang jahat.

"A-Aku Sendou Aichi. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan ketua dan wakil divisi sehebat Anda berdua," Aichi menundukan kepalanya sekali lagi dengan sopan. Merasa dipuji, pemilik manik perak yang tadi risih dengannya pun menjadi tenang, "lalu, walau aku masih tidak mengerti, tapi Xaiphos disampingku berkata bahwa aku adalah Jewelic karena aku memiliki ini."

Aichi mengeluarkan sebuah buku dari tas selempangnya yang ikut terbawa, mungkin menjadi benda kenang-kenangan akan dunianya. Jun dan Miwa sama-sama tersentak kaget melihat buku legendaris yang ada di tangan anak itu. Miwa melongo tak percaya.

"I-Itu 'kan―"

"Ya, buku Xaiphos, benda bersejarah yang diturun-temurunkan kepada Jewelic. Tidak salah lagi, ini asli," merasa perlu, Aichi pun meletakan buku itu di tengah meja. Membiarkan dua detektif muda di depannya mendapatkan akses untuk melihat dan menyentuh. Dan tak ragu lagi, Jun langsung mengambilnya perlahan.

Mata lentiknya mengamati setiap inci dari bagian buku, "Tebal buku lima puluh empat milimeter, ukurannya kurang lebih 30x17 sentimeter, perkiraan usia melebihi delapan puluh tahun," tanpa sadar, mulutnya berbicara sendiri mengenai pribadi luar buku. Mendengar itu, Aichi langsung terkesima. Cukup dengan melihat saja, Jun sudah bisa memprediksi dengan baik. Ia merasa bahwa Jun adalah detektif yang hebat.

"Luar biasa! Darimana kau mendapatkannya, Sendou?" tanya Miwa―yang ternyata masih ragu bahwa Aichi adalah seorang Jewelic―dengan antusias. Kai, yang sedari tadi diam dalam pembicaraan pun sedikit speechless melihat tingkat keraguan si pirang yang tinggi.

"Aku, mendapatkannya dari kakekku," mengingat sang kakek, seketika hatinya menjadi ngilu kembali. Tapi Aichi berusaha untuk menyembunyikannya, "ia memberikannya padaku, katanya sebagai hadiah karena aku sangat menyukai sihir. Tapi ..." Aichi tertunduk dalam, sampai-sampai helaian poninya menutup kedua matanya. Sebuah bulir keringat dingin menetes dari pelipisnya.

"Tapi?" Miwa tampak penasaran, lagipula ia merasa aura menekan di sekitarnya.

"Sejak saat itu, banyak hal-hal aneh yang menimpa diriku. Aku sama sekali tidak mengerti. Kakekku memberikan buku ini tanpa memberitahukan apa-apa. Tentang Xaiphos, Jewelic, atau apapun. Aku tidak pernah tahu semua itu," Aichi menghembuskan nafasnya, wajahnya terlihat sedih. Jun meneliti tiap kata yang dilontarkan Aichi, kemudian menganalisanya.

"Kalau tidak keberatan, boleh aku tahu nama kakekmu, Sendou?" tanya Jun kemudian seraya menatap sampul buku. Ia merasa tidak sopan kalau seenak jidat membukanya sembarangan.

"Y-Ya, tentu saja. Nama kakekku Sendou Ogata." dan seketika itu juga, suasana langsung hening kembali. Bahkan lebih tepatnya mencekam. Miwa yang tadi tampak sibuk mendengarkan cerita Aichi pun terhenyak.

'Sendou Ogata 'kan nama Jewelic sebelumnya. Jadi beliau benar-benar memilih anak ini menjadi Jewelic baru!' hati Miwa tak bisa menahan keterkejutannya. Entah ia ingin senang, kaget, panik, syok, ia tak bisa mendeskripsikannya sendiri. Sementara Jun memikirkan sesuatu setelah mengumpulkan semua point-point yang ia perlukan.

'Dari wajahnya, anak ini tidak berbohong. Kesimpulannya, Sendou Ogata menjadikannya Jewelic tanpa memberitahukannya apa-apa tentang latar belakang yang sesungguhnya. Tapi mengapa beliau melakukan itu? Seharusnya ia masih memiliki kesempatan untuk memberitahukan sedikit tentang apa yang terjadi,' Jun memandang serius ke arah sampul buku. Jari lentiknya mengelus sampul buku dengan perlahan.

"Ehem," Pemilik obsidian itu berdehem―lagi, menghilangkan kesunyian yang tadi mencekam suasana. Ia mulai mengerti pokok permasalahan sekarang. Setahunya, dari dulu, Jewelic selalu berasal dari dunia pertama. Dan anak di depannya adalah salah satunya. Berarti ia datang kesini tanpa tahu apapun tentang dunia kedua.

Kini ekor mata obsidiannya bergantian menatap pemuda bersurai brunet yang melipat kedua tangannya di belakang kepala. Ia tetap diam sedari tadi, tanpa niat mencicipi cemilan di meja, ataupun berucap satu dua kata. Rasanya tidak enak kalau membiarkannya begitu saja, bukan?

"Ah, maaf. Kami jadi terlihat seperti mengabaikanmu. Tadi kau belum memperkenalkan diri dan hanya berkata bahwa Sendou adalah Jewelic," Aichi dan Miwa pun ikut menatap ke arah Kai dengan tatapan 'oh, iya, aku lupa' bersamaan. Tapi pemuda bertubuh atletis itu sama sekali tidak berniat mengucapkan apapun, ia segera melirik Aichi dengan tatapan tajam, mengisyaratkan anak itu untuk berbicara.

"A-Ah, kuperkenalkan, dia adalah ... Xaiphos yang memilihku menjadi pasangannya. Namanya Kai," Aichi yang memperkenalkan Kai di depan dua detektif itu. Dan hal itu sukses membuat kedua pemuda tak berdosa itu kembali dibuat syok di tempat.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Seorang gadis terduduk diam di kursi kayu. Arah pandangnya tertuju pada bola kristal yang melayang pada suatu wadah. Tempatnya berada sekarang menyerupai kubah, dengan isinya yang remang-remang. Kubah itu memiliki kaca jendela yang terbagi menjadi delapan bagian dan mengelilingi diameter atapnya. Akses ventilasinya memiliki warna yang beraneka ragam―merah, kuning, hijau, biru, jingga, nila, ungu, coklat pucat―membuat suasana ruangan tampak berwarna-warni.

Matanya yang lentik menajam seketika tatkala sinar dari bola kristal tadi meredup. Ada esensi tak percaya yang terbaca di wajahnya. Seketika itu juga ia langsung menundukan kepalanya, merasakan denyut menusuk di dadanya.

Klap.

Ia membuka matanya kembali tatkala mendengar suara pintu ruangan terbuka. Dari celah pintu, ia bisa melihat dua bocah laki-laki yang menengok ke arahnya.

Melupakan kepedihannya, gadis tadi mencoba untuk mengukirkan sebuah senyum lembut ke arah mereka. "Ada apa, Chris, Ali?" tanya gadis itu seraya bangkir berdiri. Tak lupa menyibak jubah seputih burung merpati yang menambah kesan anggun pada dirinya.

Kedua bocah yang tadi masih mengintip-ngintip pun masuk ke dalam ruangan, mendekati gadis bersurai merah kelam di tengah ruangan.

"Yuri-Shana, apa yang Yuri-Shana lakukan disini? Dari tadi kami mencari Yuri-Shana," Chris, bocah bersurai merah muda yang dikuncir satu, pun angkat bicara. Ia mendongkakan kepalanya, menatap gadis yang lebih tinggi darinya. Yuri tersenyum penuh arti. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah manis di hadapannya.

"Yuri-Shana sedang memantau sesuatu, Sayang." ucapnya penuh perasaan seraya membelai pipi Chris. Iseng, bocah satunya lagi pun mencuri pandang ke arah bola kristal yang merupakan bagian terpenting dalam ruangan ini. Matanya mengerjap lucu.

"Etto, Yuri-Shana, kristalnya tidak bercahaya. Apa ada sesuatu?" Ali bertanya seraya menunjuk bola kristal yang masih melayang di atas wadahnya. Ia tahu bahwa itu bukan petanda yang baik. Yuri memaksakan sebuah senyum, dan Ali tahu bahwa itu adalah senyum hambar.

Dengan perlahan, gadis berambut sependek bahu memandang bola kristal sekali lagi. Walau ia sudah mengerjap matanya, hasilnya tetap sama. Sang bola tidak memancarkan sinar indahnya seperti kemarin. Cahayanya meredup, bahkan tidak menangkap warna satu pun.

"Iya, sepertinya begitu. Tapi tenang saja. Apapun yang terjadi, Tuhan pasti akan melindungi kita," setelah berucap demikian, Yuri memeluk kedua tubuh bocah di hadapannya. Samar-samar tapi Chris dapat merasakannya, tangan Yuri yang membelai lembut punggungnya sedikit bergetar.

Mungkinkan gadis cantik di hadapannya sedang menahan suatu kepedihan?

Menghela nafas, Chris pun membalas memeluk Yuri dengan lembut, "Iya, Yuri-Shana. Kami pasti akan membantu Anda untuk melindungi negara kira, Gumirose," sahutnya dengan nada tegas seorang laki-laki. Yang mampu membuat Yuri membulatkan kedua matanya kaget.

Ali tersenyum ceria dan memeluk balik shana di hadapannya, "Benar apa kata Chris, Yuri-Shana! Aku yang kuat dan perkasa ini pasti bisa memukul semua orang jahat yang ingin menghancurkan negara kita!"

Gadis itu mengukirkan senyum pedih, yang tak terlihat oleh Chris maupun Ali. Ia mengangguk kecil dan mengeratkan pelukannya pada kedua bocah manis di hadapannya. Ingin rasanya ia menumpahkan air mata, tapi ia tidak rela membuat kedua anak tak berdosa di hadapannya khawatir.

'Andai saja mereka tahu, bahwa dia sudah tiada ...'

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi menatap toko-toko di sekitarnya dengan tatapan senang. Baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, merasakan dengan tubuhnya sendiri, bagaimana dunia kedua yang dimaksud. Tidak seburuk yang ia dengar.

Ya, setidaknya untuk saat ini. Ekor matanya terus memandang semua hal yang menurutnya menarik, berusaha menyesuaikan diri.

Ia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunianya, pada Tokyo, pada sekolahnya. Juga ... semua orang yang ia kenal di sana. Mengingatnya saja membuat hati Aichi berdenyut sakit, perpisahan ini terlalu tiba-tiba. Tapi ia tidak mempunyai pilihan yang lebih baik dari ini. Masih banyak misteri yang harus ia telusuri untuk mengetahui semua hal yang tersembunyi.

Aichi tak akan menyia-nyiakan apa yang kakeknya berikan untuknya. Ia bersumpah akan menelusuri dunia kedua dan mengatasi semua masalah yang ada. Ia terpilih untuk itu. Ia menjadi Jewelic untuk menyelematkan dunia, di dimensi pertama maupun dimensi kedua. Setidaknya itu yang ia tahu dari Kai.

Aichi juga tak akan menyia-nyiakan kematian Kenji, sahabat baiknya. Maupun kedua orang tuanya yang menghilang tanpa jejak. Sekali menginjakan kakinya di dunia kedua, Aichi pasti akan mengetahui semuanya perlahan.

"Wah, balonnya lucu!" Aichi berteriak girang melihat beberapa balon sebesar roda mobil yang dipegang oleh penjual. Ia membenarkan sedikit jubah putih yang dipinjamkan Organisasi Togami untuknya, lalu mendekat ke arah penjual.

Drap.

Drap.

Sementara sosok figur yang berdiri di belakangnya hanya mendengus. Dengan tak niat, ia mengikuti arah jalan pemuda yang lebih pendek―notabene adalah pasangannya―tadi. Dengan kedua mata tajamnya, ia melihat binaran di mata sang 'pasangan'. Hatinya terasa kosong, atau bahkan merasakan esensi tak suka kepada pemuda bersurai biru itu.

"Ini benar-benar gratis untukku? Terima kasih banyak!" berbeda dari umurnya, tapi tingkah Aichi terkadang kekanak-kanakan. Sekarang di tangannya tergenggam sebuah balon udara besar, ia berhasil merayu penjual dengan tampang manisnya yang mirip-mirip dengan perempuan itu. Dengan hati riang, ia kini berjingkrat-jingkrat mendekati Kai.

"Kai-kun, lihat! Balonnya lucu, ya? Di duniaku, aku tidak pernah melihat balon sebesar ini," ujarnya sembari menunjukan balon udaranya ke depan Kai. Balon besar itu berbentuk wajah beruang, lengkap dengan telinganya yang menyembul keluar. Namun, sepertinya hal itu tidak membuat pemuda bersurai brunet tertarik. Tidak memberi respon berarti, pemuda yang lebih tinggi pun membalikan badannya.

"Eh?" Aichi menautkan alisnya bingung. Tangannya yang bebas dari apapun bergerak untuk menahan lengan Kai, sebelum pemuda tinggi itu menepisnya dan menatapnya dingin.

Plak.

"Kenapa ... kau bisa bersantai-santai seperti ini?" tanya Kai dengan nada menusuk tatkala tangannya sukses menepis tangan yang lebih kecil. Ia sama sekali tidak senang dengan kelakuan 'pasangan'nya. Seharusnya sekarang mereka membahas tentang strategi bertempur, atau setidaknya mencari tahu apa yang tidak Aichi ketahui sebagai seorang Jewelic. Tapi yang ada justru sebaliknya.

"A-Aku―" belum sempat Aichi memberi penjelasan, pemuda itu terlebih dahulu memotong.

"Aku sama sekali tidak mengakuimu sebagai 'pasangan'ku." sebelum ia menghilang dalam hitungan detik, tanpa mengundang perhatian masyarakat yang berlalu lalang. Aichi membulatkan matanya syok, ia memegang dadanya yang kembali merasakan perih. Ia menatap sedih ke tempat berdiri Kai tadi.

"Apa aku ... salah?"

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi terlihat begitu sedih setelah Xaiphos-nya menghilang dari hadapannya, entah pergi kemana. Miwa melihatnya dengan jelas dari jendela ruang pribadinya, ia bersiul kecil.

"Xaiphos putih yang legendaris, dan 'pasangan'nya adalah Jewelic. Ini akan menjadi pukulan besar untuk Silence Silk, menarik," komentarnya dengan antusias. Pemuda ber-blazzer Togami itu pun melangkah masuk ke dalam ruangan, setelah puas memandang ke luar jendela. Di ruangan tidak hanya ia seorang diri, sang ketua divisi juga berada disana, sibuk mencorat-coret kertas―lagi.

"Tapi, esensi perasaan mereka belum bersatu, bukan?" komentar Jun dengan nada tidak niat. Tapi tebakannya langsung menembak titik bulat, bahkan tanpa melihat. Miwa mendengus pelan.

Pemuda ber-blazzer fanta itu menarik kursi hitam di depan meja kerja ketua divisinya, lalu mendudukinya. Toh' ketua divisi yang dimaksud sedang sibuk di sofa yang berada di pinggir ruangan. "Itulah yang menarik. Aku sedikit penasaran. Padahal Xaiphos memiliki hak untuk memilih sendiri siapa 'pasangan'nya, tapi ..." menjedah ucapannya, Miwa kembali memandang jendela ruangan yang memperlihatkan langit bertabur awan putih.

"―kenapa ia memilih Sendou?"

Jun menghentikan acara corat-coretnya yang sudah menjadi tradisi jika tengah memecahkan kode. Kedua obsidiannya menatap wakil divisinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "Kurasa, hal itu sulit untuk didefinisikan oleh detektif seperti kita, Miwa." jawabnya dengan suara pelan. Tentu saja si pirang sanggup mendengarnya, ia menautkan alisnya heran.

"Jawaban macam apa itu?"

"Bagaimana kalau aku bertanya, pertanyaan macam apa itu?" dan seketika suasana menjadi hening. Perdebatan antara ketua divisi dan wakil divisi pun tak terelakan lagi. Dan hal ini sudah biasa. Detektif itu bertugas untuk menyelidiki, dengan bermodal akal tinggi dan logika. Tidak ada salahnya untuk menyelidiki masalah yang berhubungan dengan perasaan, bukan?

Selama mereka menyelidiki, hal itu tetap ada hubungannya dengan tugas seorang detektif.

Miwa menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, ia melirik ke sudut ruangan, "Fine, fine, aku mengalah," katanya dengan nada kaku.

"Begini, secara logika, Xaiphos memiliki perasaan, sama seperti manusia. Jikalau aku menjadi salah satu dari mereka dan disuruh untuk memilih, tentu saja aku akan mencari pasangan yang tepat untukku," Miwa mengada kedua tangannya, alih-alih melanjutkan penjelasannya, "tapi Kai ... ia memilih orang yang tidak ia sukai, bukan? Keajaiban Xaiphos akan tercipta jika perasaannya dan sang 'pasangan' kuat―err, itu setahuku, berhubung aku tidak pernah memiliki satu pun dari mereka. Lalu bagaimana mereka mengalahkan Silence Silk?" sambung Miwa, mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.

Jun pun mendengar dengan seksama. Jika tidak, mungkin tangan kanannya akan mencuri kesempatan untuk mencoret-coret kertas lagi. Tapi tidak kali ini, pulpen hitamnya tergeletak manis di sisi kanan meja. Kedua mata maupun telinganya terfokuskan hanya pada Miwa. Pemuda bersurai kelabu itu memejamkan matanya, kemudian menyunggingkan sebuah senyum tipis. Miwa mengernyitkan dahinya, ia yakin kalau Jun menemukan sebuah celah dari penjelasannya tadi.

Senyumnya yang membuktikannya. Mata lentik yang sempat terpejam itu kembali terbuka, "Miwa ... Miwa ... kau memang anak yang realistis. Tapi apa kau tidak menyadari sesuatu?"

Miwa terdiam sebentar, mencoba berpikir. Tapi sesaat kemudian ia menggeleng tanda menyerah. Jun langsung terkekeh pelan, membuat wajahnya berkesan cantik.

"Sekarang, dunia kita memang sedang dilanda masa kritis. Kita pun beruntung, masih bisa menempati negara yang aman dari monster. Tapi lambat cepat, Xaiphos hitam pasti kembali memperbanyak wilayah mereka," Jun mengangkat kertas terakhir yang menjadi media coretannya. Setengah dari kertas itu masih kosong, ia mengamatinya dengan seksama.

"Xaiphos putih itu pasti berpikir untuk mendapatkan kekuatan istimewa Jewelic, dengan menjadikan Sendou 'pasangan'nya. Tidak peduli ia suka atau tidak," kedua manik perak Miwa menegang di tempat. Ia tidak pernah terpikir ke arah sana, dan mendengar penjelasan Jun, sepertinya cukup masuk akal. Miwa tak habis pikir, ada juga Xaiphos yang bertindak seperti itu.

"Ini tidak masuk akal."

"Tapi ini logika," pemilik obsidian indah itu menyahut cepat. Tangannya kembali menurunkan kertas coretan miliknya, lalu melingkari salah satu kata yang tertulis disana, "tapi aku merasa, lambat cepat esensi perasaan mereka akan bersatu," tambahnya lagi, membuat Miwa menautkn alisnya heran.

"Hee!?" pemuda bersurai pirang itu memasang tampang stress-nya, "Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu? Apa buktinya?" ia menunjuk Jun mentah-mentah, seakan ingin menertawakan sang ketua divisi. Jun mengendikan bahunya cuek.

"Who knows?" Miwa memanyunkan bibirnya, ia memutuskan untuk tidak meneruskan perdebatannya dengan Jun. Ia berani menjamin perdebatan mereka tidak akan usai sampai matahari terbenam. Miwa memutuskan untuk diam dan memain-mainkan sebuah gundu yang menganggur di meja kerja.

"Miwa, sepertinya aku―ya, sepertinya, sih, hampir memecahkan kode pesan kematian Suzugamori Rei," Miwa hampir saja menggelindingkan gundu merah itu kalau Jun tidak berucap lagi. Matanya langsung berkilat semangat, dengan segera ia menengok ke arah pemuda ber-blazzer abu-abu yang masih duduk di sofa.

"Benarkah? Mana? Mana?" Ia bertanya antusias, dengan segera Miwa meninggalkan gundu merah tadi di meja dan mendekat ke arah Jun. Pemuda lainnya tidak langsung membalas, ia menunjukan sebuah kertas yang tadi sempat diangkatnya ke atas. Tangannya menunjuk ke sebuah kata yang dilingkarinya disana.

Hening.

Dan tak lama kemudian Miwa mengukirkan sebuah senyuman, "Kalau begitu, serahkan sisanya padaku," ucapnya penuh percaya diri. Ia menyambar kertas itu dan bergegas menuju meja kerja milik Jun kembali. Tangannya menekan salah satu tombol yang berada di sisi meja, sehingga sebuah layap laptop menyembul muncul dari meja kerjanya.

Jun memandang wakil divisinya yang sibuk berkerja, mungkin ia hanya perlu menunggu lima menit, maka Miwa akan menyelesaikan teka-teki kode itu. Jun memutar bola matanya, merasa bosan. Tidak ada kasus yang bisa dikerjakannya lagi, karena ia memiliki segunung anak buah yang berprofesi sama―dan biasanya mereka yang memecahkan penyelidikan kasus kecil-kecilan di kota.

Hampir saja ia ingin menghubungi salah satu office-boy untuk membuatkannya minuman, sebelum sebuah alarm darurat berkumandang di ruangannya.

TEEET.

TEEET.

TEEET.

"Gekh ... apa lagi ini!?" dan sudah pasti, Miwa yang bertindak lebih dahulu. Bukan karena bunyi alarm itu yang mengusiknya, tapi karena perkerjaannya yang sedang mem-browsing sesuatu terganggu oleh kiriman file mendadak ke laptop milik atasannya, "Jun, cepat kemari! Ada kiriman file dari Secret Group, Zero. Mungkin ini penting~," ia langsung memanggil ketua divisi layaknya memanggil pembantu.

Memastikan bahwa alarm darurat tidak berbunyi lagi, Jun pun memberes-bereskan kertas coretan seadanya, lalu berjalan ke arah meja kerjanya. Miwa menyingkir ke samping, tanpa berniat pergi dari tempat duduk empuk itu. Setidaknya ia masih memberi tempat Jun untuk melihat layar laptopnya.

Ctik.

Ctik.

Password: *******

OPEN FILE

Keduanya menatap layar tanpa bersuara sedikit pun. Kini layar sedang memunculkan gambar loading, kedua detektif muda itu menunggu dengan sabar.

FILE:

Kepada yang Terhormat,
Ketua Divisi, Mutsuki
di tempat.

Anda masih ingat dengan dua tahanan penting Silence Silk, yang dituduh sebagai pembuat Xaiphos? Kami mendapat kabar dari media massa bahwa tahanan satunya, Shin Nitta, yang menghilang dari sel tahanan di hari yang sama saat Suzugamori Rei meninggal, sudah ditemukan. Silence Silk yang memburonnya sejak kematian Suzugamori Rei, berhasil menemukannya di sebuah laboratorium ilegal yang berada di Banshield.

Korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam laboratorium. Menurut pihak kepolisian Silence Silk, ia mati dua hari yang lalu. Penyebab kematiannya adalah dibunuh, karena banyak bekas luka bacokan di tubuhnya. Shin Nitta meninggalkan sebuah pesan kematian, sama seperti Suzugamori Rei, yang dituliskan dengan darahnya sendiri di dinding.

Secret Group, Zero.

Jun dan Miwa menampilkan ekspresi yang kurang lebih sama setelah membaca. Yang membedakannya adalah, ekspresi Miwa lebih mendramatis. Mulutnya melongo indah di depan layar, sampai-sampai Jun berinsiatif untuk menutup mulut itu dengan tangannya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Drap.

Drap.

Drap.

'Aku harus mengejarnya!' Aichi berlari di tengah keramaiannya daerah pertokoan. Sedari tadi ia mencari-cari sosok Xaiphos berkemeja putih, tapi Aichi tak kunjung menemukannya. Ia memandang ke sekelilingnya, banyak sekali masyarakat kota ini. Bahkan walau harus kaget, tapi ia menemukan beberapa manusia yang bertelinga lancip seperti elf.

Dan kaum yang bertelinga biasa sepertinya tidak merasa panik dengan itu. Mereka saling berbagi tawa, dan tampak bahagia. Melihat itu, Aichi merasa kesepian. Ia merasa berada di suatu dimensi dimana keberadaannya tak terlihat. Tapi kemudian Aichi menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Ukh, pikir macam apa aku ini!? Pokonya aku tidak akan menyerah sampai menemukan Kai-kun!' tekatnya seraya mengepal tangannya kuat-kuat, lalu kembali berlari kemana pun yang bisa ia gapai. Balon coklat tadi tentu saja masih berada di genggaman tangan kanannya. Ia terus berlari, sampai kakinya kembali terhenti di suatu keramaian.

Aichi mendongkakan kepalanya ke atas, nafasnya mulai tersenggal-senggal. Keramaian di sekitarnya begitu memusingkan, ia jadi kesulitan untuk mencari Kai. Kini ia memutuskan untuk berjalan saja.

Tap.

Tap.

'Wah...' kakinya kembali berhenti tatkala mata birunya menemukan hamparan hijau, tak jauh dari tempatnya berdiri. Seketika wajahnya berubah girang, ternyata ada hamparan halaman hijau yang begitu luas, tak jauh dari daerah pertokoan, 'ada padang rumput di sekitar sini juga? Asyiknya, di sana sepertinya tidak banyak orang,'

Tanpa pikir panjang, Aichi segera berlari kesana. Hitung-hitung beristirahat, sekaligus mengasingkan diri dari keramaian. Ia berlari dengan hati ringan, tidak sabar untuk segera membaringkan punggungnya di hamparan rumput hijau dan menikmati angin sejuk yang menenangkan hati.

Srak.

Ia berhasil mengasingkan diri dari keramaian, sejauh mata memandang hanya ada warna hijau dan biru yang bertubrukan. Hamparan rumput dan langit biru, sungguh kombinasi yang menyenangkan. Sampai kedua manik birunya dikejutkan sesuatu, ia baru menyadari adanya seseorang lagi di sana.

Punggung itu, Aichi mengenalnya.

Deg.

"Hng?" Kai menengok dan menatap dingin ke arah Aichi. Sementara pemilik manik biru itu sedikit terkejut, baru menyadari kehadiran sang Xaiphos disini. Akhirnya ia berhasil menemukan Kai, walau secara tidak sengaja.

"Ka-Kai-kun, aku mencarimu ..." walau sedikit canggung, tapi Aichi mencoba untuk berbicara duluan. Ia tidak mau ada kesalahpahaman diantaranya dengan Xaiphos di hadapannya. Aichi tidak tahu apa salahnya, tapi setidaknya ia akan mengetahuinya kalau bisa meluruskan semua ini.

"Huh, untuk apa mencariku. Sana bersenang-senang dengan hal yang menurutmu menarik," Kai membalas dengan acuh tak acuh. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu berjalan sembarang arah. Asalkan bisa menjaga jarak dengan Aichi.

Aichi memiringkan kepalanya, 'Apa Kai-kun tidak senang denganku?' pikirnya. Dilihatnya Kai sedang menjauhinya. Tapi Aichi tidak menyerah, jika ia menjauh, maka Aichi yang harus mendekat.

"Maaf, jika aku ada salah. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung," Aichi berusaha tersenyum, sekedar meringankan suasana. Walau jelas-jelas pemuda tinggi itu tidak akan melihatnya. Kai menyadari bahwa Aichi mendekat ke arahnya, ia pun memutuskan untuk berhenti berjalan.

"Omong kosong," Kai hanya berkomentar cuek. Aichi terkekeh pelan, ia merasa sudah bagus kalau Kai masih ingin menyahut dirinya. Walau dengan bahasa yang tidak mengenakan. Setidaknya ia berusaha untuk mengerti Kai.

Aichi berhasil mengecilkan jarak diantara mereka, kini ia sudah benar-benar berada di belakang punggung Kai, "Anu ... dunia kedua, ternyata indah, ya?" semilir angin berhembus tatkala Aichi berucap demikian. Pemuda itu mengangkat manik birunya, menatap ke arah langit yang terlihat lebih biru dan hidup dibandingkan dunianya. Ia tersenyum senang.

"Banyak hal yang tidak kumengerti di sini. Jadi, aku berusaha untuk menyesuaikan diri," Kai menautkan alisnya. Ia mencuri pandang ke arah Aichi yang masih berdiri di belakangnya, melayang pada dunianya sendiri. Pemuda manis itu mentautkan semua jarinya tanpa melepas tali balon udaranya dan memejamkan mata.

"Aku senang sekali, kalau kau mau menemaniku," kemudian, kedua mata mereka bertemu, dengan Aichi yang melempar senyum ceria ke arah Kai. Dalam hitungan detik, Kai merasakan pipinya sedikit memanas. Sebelum ia menepis perasaan itu dengan hati ketus.

"Memangnya ... siapa yang mau menemanimu?"

Deg.

Senyum pemuda bersurai biru itu seketika pudar, "Aku ingin menjadikanmu sebagai 'pasangan'ku, karena kau adalah Jewelic. Bukan karena aku ingin menemanimu, jadi ..." Kai menjedah ucapannya. Ia membalikan badan sehingga keduanya saling berhadapan sekarang. Manik hijaunya bisa melihat jelas wajah syok pemuda itu, tapi ia tidak peduli.

"Jangan salah paham."

SYUT.

Sosok itu kembali menghilang dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Aichi seorang diri di hamparan rumput yang luas. Bibir Aichi terasa keluh hanya untuk mengucapkan balasan, lagipula Kai sudah pergi meninggalkannya―lagi. Aichi jatuh bersujud, tenaganya seketika merosot. Ia dapat merasakan kedua matanya memanas, kemudian berair.

Tes.

'Kenapa?' hanya kata itu yang bisa terpikirkan Aichi sekarang. Ia berusaha untuk menghibur Kai, menjalin ikatan batin yang kuat dengannya. Tapi menerima kata-kata menusuk tadi, rasanya terlalu jauh untuk berpikir ke arah sana, 'apa kau membenciku?'

Tadinya ia merasa kalau dengan menjalin ikatan dengan Xaiphos, maka dirinya bisa menjadi kuat bersamanya. Tapi ternyata perjalanan untuk mencapai itu masih jauh.

.

.

.

Significance Essense

"If you touch the second world, don't try to escape from them..."

To Be Continued...

.

.

Information Fiction:
- Secret Group, Zero adalah salah satu grup khusus yang merupakan salah satu bagian dari Secret Detective Organization, Togami. Grup ini memiliki tugas tersulit, yaitu mencari informasi, memata-matai target, bahkan tidak jarang tugas mereka memungkinkan untuk berhadapan langsung dengan Xaiphos hitam. Tapi Zero paling dihormati setelah ketua dan wakil divisi Togami karena moral dan kepercayaan mereka yang tinggi.

Biodata Character:
4. Mutsuki Jun
Umur: 25 tahun.
Kota Tinggal: Inerbolg.
Hobi: Menganalisa kasus, olahraga pagi, minum kopi.
Kelebihan: Sangat teliti dan tajam dalam menganalisis ucapan orang lain.
Kelemahan: Belum diketahui.

5. Taishi Miwa
Umur: 20 tahun.
Kota Tinggal: Inerbolg.
Hobi: Jalan-jalan, mengendarai mobil, mengawasi Jun.
Kelebihan: Pintar mengutak-ngatik kode sulit.
Kelemahan: Benci―atau bahkan alergi―dengan sampah.

A/N: Halo, aneh, ya, update malam-malam? Ditemenin sama kuntilanak―/digeplak. Di chapter ini, genre fantasi sudah berjalan, dan untuk seterusnya akan full in second world. Semoga kalian tidak risih dengan timeline-nya. Kalau ada yang aneh, jangan sungkan bertanya. Tapi jangan tanya spoiler, yah /jder. Soal peta dunia kedua, Gane sudah membuatnya dan di-upload ke facebook. Atau perlu di-upload di devianart supaya pembaca di sini bisa lihat juga? Takutnya kalian enggak ngerti sistem timeline dan lokasi-nya, nih! X-(

Say welcome to tiga karakter baru, muehehehehe. Gane shotacon, sih, makanya pens berat sama Chris dan Ali. Kalian shotacon juga, nggak? /plak.

Reply Review:

Red Dracokid: Waduh, gomeeen! Salahkan Saki, dia yang ngetik review chapter kemarin! Maaf bangeet, yah! *nunuk-nunduk* Iyah, di sini Aichi di-setting polos, hehehe. Dua fict itu nggak akan update lagi, sudah kami label 'discontinued' karena suatu kecelakaan, hehehe. Thanksie!

Asukakizuno. p4s: Iya, di anime-nya underground king. Di fict ini jadi detektif, hehehe.

Aiko Sendou: Makasih pujiannya, ya. Iya, nih, Kenji-nya mati, jangan sakit hati, yah. JunMiwa? Ada nggak, yah? *difentung* Mereka salah satu officialpair di sini, jadi pasti ada, kok. Thanksie!

Airy Karmila: Aduh, nangis, yah? Jangan nangis terus, yah (kasih sapu tangan). Waduh, kalau begitu serahkan semuanya sama Jun dan Miwa, deh. Biar mereka yang nyelesain kode-nya, hohoho. Daileon pasti ada, kok. Tapi no spoil, wkwkwk. JunMiwa jadi pair, dong. Thanksie!

Snowy Coyote: Iya, Kenji-nya mati. Hehehe, Mista perhatian banget sama Aichi, tapi nanti Kai ngamuk kalau Aichi-nya diambil, lho. Hehehe, JunMiwa nggak kalah imut dari DaiLeon, kok. Dan DaiLeon pasti ada, tenang saja. Thanksie!

Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)

Sincerely,
30 Desember 2013
HYUCCHI