Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₈ Sweet & Bitter

"...en..."

"..."

"Oi...Ren..."

"..."

CTING.

"Ren! Jangan bengong, hei! Jawab aku!" Pemuda bersurai merah tersentak kaget dari lamunannya. Ia menatap sebuah gelas yang tadi berbunyi karena dipukul dengan kepala sendok. Kini kedua crimson-nya memandang ke arah pelaku, si kepala divisi tentara berambut jabrik donker.

"Apa?" Kamui mengacak-ngacak rambutnya frustasi tatkala Ren bertanya dengan tampang tidak berdosa. Ia jadi tidak mood untuk melanjutkan sarapannya kembali. Menyadari kesalahannya, si rambut merah nyengir.

"Bisakah kau tidak melamun, Raja? Kuharap kau mengerti posisimu dan bertindak lebih dewasa," Kamui berucap dengan nada ketus, melupakan kesalahnnya untuk menjaga kata di depan atasan. Ren terdiam di tempat, kemudian ia tersenyum―miris.

"Maafkan aku," daun telinga Kamui mendelik. Ia menautkan alisnya dan menatap Ren dengan tatapan curiga. Tumben-tumbenan anak satu ini meminta maaf. Biasanya ia akan melakukan pembelaan dengan kata-kata tidak masuk akalnya. Kamui menyendok menu sarapannya―bubur Manchris―dan kembali melanjutkan makan.

"Memang ada apa, sih?" baru saja Ren kembali terhanyut dalam pikirannya sendiri―alias bengong―sebelum pertanyaan Kamui menginterupsinya. Dilihatnya Kamui sudah siap-siap melemparkan sebuah kursi makan kalau Ren kembali melamun. Pemilik crimson itu menatap ke arah lain, alih-alih menyembunyikan ekspresi sedihnya.

"Ah, mungkin kau tidak tertarik mendengarnya, Kamui," pemuda berambut donker itu meletakan kembali kursi tadi ke tempatnya. Ia tidak mempedulikan tatapan horor dari para dayang yang berjaga di sisi ruang makan.

"Katakan saja, Ren. Aku akan mendengarkannya," Kamui membalas dengan tegas. Ia tahu, banyak pikiran akan membuat Ren menjadi penat sendiri. Sekalipun ia seorang raja, dan memiliki banyak pikiran bukanlah hal yang tabu bagi orang sepertinya, tetap saja Ren harus mengeluarkan unek-uneknya.

Ren menampilkan ekspresi―sedikit―terkejut. "Sungguh?"

"Aku tidak akan mengulang kata-kataku," Kamui kembali menyendok makanan dan melahapnya dengan rakus. Ren tersenyum tipis, ia senang karena sang ketua divisi tentara pengertian juga. Tangan putih pemuda itu meraih sebuah cangkir minuman, bermaksud untuk menutup acara sarapannya dengan itu.

Ia memandang pantulan wajahnya di permukaan air minuman, "Sebenarnya, kemarin malam aku bermimpi tentang kakakku."

Kamui mengangguk tenang. Sudah ia duga, sepertinya masalah Si Sulung Suzugamori yang membuat Ren terus melamun sejak memulai sarapan. Bahkan sebelum ini pun, sang raja muda sudah keburu syok dengan berita kematian kakaknya. Sebagai ketua divisi tentara, Kamui mengetahui cukup banyak rahasia milik keluarga Suzugamori. Jadi sedikitnya, ia bisa mengerti.

"Tidak banyak yang bisa kuceritakan, karena aku juga tidak mengingat isi mimpiku. Yang kutanggap hanya dua." menjedah ucapannya, kini Ren menyeruput minuman kesukaannya. Sementara Kamui menunggu.

"Pertama, ia menemuiku, dalam sosok yang terakhir kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Saat ia berumur enam belas tahun dan aku empat belas tahun. Hah... itu membuatku rindu akan masa lalu," Ren bertopang dagu, memasang pose santai yang biasanya membuat siapa pun speechless melihatnya. Tapi kali ini Kamui memilih untuk tidak berkomentar banyak. Ia bisa melihat esensi kesedihan di mata crimson itu.

"Dan kedua..." kini pemuda yang lebih tinggi memainkan rambut merahnya yang panjang, "sepertinya ia ingin memberitahukan sesuatu. Aku tidak mengingat apa saja yang ia katakan. Tapi aku yakin ia ingin memberitahukanku―"

Sebuah helai rambut merahnya terputus saat Ren memainkan rambutnya, "―siapa yang membunuhnya."

Kamui tercengang di tempat, dirinya diam seribu bahasa mendengar penuturan sang raja. Dan ekspresi itu sudah diduga oleh Ren, pemimpin muda itu tersenyum tulus, "Jangan tegang begitu, Kamui."

"Ah..." Kamui memutar bola matanya, bingung ingin berkomentar apa, "ceritamu sedikit membuatku kehabisan kata. Tapi apa kau yakin?" Ren mengangguk mantap, dan pemuda lainnya yang mengetahui sikap keras kepala sang raja hanya mampu menghela nafas.

"Lalu sekarang apa yang menganggu pikiranmu? Jangan bilang kalau kau ingin mencari pembunuh kakakmu?" Kamui melentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu melipatnya di belakang kepala. Ren mengaduk-ngaduk minumannya yang tinggal setengah.

"Mungkin," Kamui pun hampir terjatuh dari tempat duduknya.

Brak.

"Ren, kau tahu, berbicara tidak semudah melakukan. Mungkin mudah untukmu berbicara ingin mencarinya. Tapi melakukannya tidak semudah itu! Savhalon sangat luas, apa kau ingin menelusurinya satu-satu!?" Kamui mengomel panjang lebar seperti pendeta yang menyucikan makhluk laknat. Ren sampai dibuat bungkam beberapa saat. Tapi ia mengerti jelas jika Kamui ragu dengan kemauannya.

"Aku tahu, tapi..." tanpa sadar, tangan Ren yang menganggur di sisi meja mengepal erat. Semua emosinya terlampiaskan disana setiap mengingat sang saudara kandung, yang mati dengan penuh tanda tanya.

Ia tahu kalau sang kakak sejak dulu tidak pernah memperhatikannya. Sang sulung tidak pernah menoleh sedikit padanya yang selalu berusaha mengambil perhatian kakaknya. Entah dunia seperti apa yang menenggelamkan kakaknya, sampai ia membuang kedudukannya sebagai penerus kerajaan dan harta bendanya.

Tahu-tahu saja sejak perpisahannya yang berumur enam tahun, Ren mendapat kabar kematian sang kakak. Ia syok secara pribadi, tentu saja. Orang yang kau hargai dan kau sayangi menghilang dengan kemauannya sendiri, lalu datang hanya bersisa nama. Sedikitnya rasa penasaran ini terus mengusik hatinya.

Dunia seperti apa yang ditinggali kakaknya selama ia meninggalkan kerajaan? Kenapa kakaknya sampai berurusan dan ditangkap oleh pihak Silence Silk? Kenapa kakaknya dibunuh? Siapa yang membunuhnya? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya.

Dilanda keheningan yang cukup lama, Kamui memejamkan matanya sedikit frustasi.

"Hah... kau memang merepotkan," Kamui berkomentar ringan, sekali lagi tidak menjaga mulutnya di depan raja. Dan Ren masih larut pada pikirannya sendiri, terlihat jelas dari tangannya yang mengepal kuat.

"Oi," Ren langsung menoleh ke arah lawan bicaranya, yang duduk berhadapan dengannya, "dengar, ya. Aku memang sama sekali tidak suka dengan caramu. Tapi aku akan mencoba membantu sedikit," pemilik mata crimson itu mendelikan bahunya kaget.

"Percuma kau menyelidikinya dengan otakmu yang dongkol itu, jadi aku menyarankan agar kau meminta bantuan Secret Detective Organization, Togami." Kamui kembali berucap tanpa membiarkan Ren berkomentar satu kata pun, "karena organisasi itu sangat tertutup, jadi sebaiknya kau menulis sebuah surat kepada mereka. Walau mereka tidak pernah mengerjakan kasus secara terang-terangan, tapi persentasi keakuratan penyelidikan mereka hampir mencapai 100%, mereka pasti bisa membantumu." sambung Kamui seraya melipat tangannya di dada.

Ren terkesima, tidak menyangka kalau Kamui bisa mendapatkan informasi sebagus itu, "Terima kasih informasinya, Kamui. Aku tidak tahu caranya berterima kasih padamu," mulai, deh, Ren mendramatiskan suasana. Sedangkan sang ketua divisi tentara yang memang anti dengan dramatis pun memasang tampang jengkel.

"Tutup mulutmu."

"Tapi, apa maksudmu dengan 'tidak pernah mengerjakan kasus terang-terangan'?" Ren bangkir berdiri dari kursinya.

Grak.

Kemudian memerintahkan dayangnya untuk mengambilkan peralatan yang dibutuhkan untuk menulis sebuah surat. Sepertinya ia benar-benar akan langsung mengirim surat kepada organisasi itu, sekarang juga.

"Hm... bagaimana menjelaskannya, ya? Susah untuk mendapat akses meminta penyelidikan kepada mereka. Dan Togami tidak mengincar uang maupun honor dalam penyelidikannya. Yang jelas, setiap orang meminta penyelidikan, mereka akan mengerjakannya diam-diam tanpa sepengatahuan siapapun, tidak ada yang tahu pasti bagaimana sosoknya. Tahu-tahu kasus selesai setelah mereka mengirimkan data dan rekaman bertanda 'Togami'." Kamui menjelaskan dengan hati-hati, juga berusaha menyingkat katanya. Ren tidak akan connect dengan kalimat apapun yang dijelaskan dengan beribu sastra dan puitis.

"Hee!?" kedua pipi Ren merona seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru. Kamui eneg sendiri, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dari pada matanya yang sensitif keburu katarak, "Keren sekali mereka!"

"Yah, di sana letak kesulitan untuk bisa menghubungi Togami. Coba minta bawahanmu untuk mencari informasi alamat mereka, sebelum kau menulis surat tanpa tujuan pengiriman," Ren nyengir, mungkin ia akan lupa jika tidak diberitahukan Kamui. Lalu nantinya ia akan menuliskan surat yang dikirim ke istananya lagi karena tidak bertulis alaman tujuan.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi berjalan tanpa tujuan di tengah keramaian daerah pertokoan. Kedua mata birunya tidak diliputi nafsu untuk membeli, sekalipun banyak barang dagangan yang ditawari dengan harga menggiurkan untuknya. Tak jarang bahunya bersenggol dengan orang lain. Toh, Aichi tidak mempedulikannya.

Ia menatap kedua kakinya yang melangkah dengan tatapan hampa, Aichi sama sekali tidak bersemangat melakukan apapun. Pikirannya terlalu penat cukup memikirkan Kai seorang. Sesekali ia menatap sekitarnya, lalu tertegun. Padahal yang lainnya terlihat bahagia, tapi rasa bahagia itu tak tersampaikan padanya, padahal di tempat yang sama.

Aichi menengada kepalanya ke atas, menatap langit yang mulai berubah menjadi jingga. Hari sudah menginjak sore, tapi daerah pertokoan semakin padat saja. Ia merasa sunyi di tengah keramaian.

'Apa sebaiknya... aku pulang ke tempat Mutsuki-san dan Taishi-san? Berada disini membuatku sakit, lagipula tidak ada seorang pun yang peduli dengan keberadaanku,' pikirnya dalam hati. Ia bermaksud untuk berbalik, sebelum seseorang yang berlari dari arah berlawanan kemudian menabrak tubuhnya.

BRUK.

"Eh!?" Aichi terlonjak kaget. Memang ia yang ditabrak, tapi justru yang menabrak yang terjatuh. Diselimuti dengan rasa bersalah, Aichi segera menunduk untuk membantunya berdiri. Dan saat menunduk, ia baru menyadari kalau yang menabraknya tadi adalah anak kecil.

Tambah besarlah rasa bersalah Aichi, membuat anak tidak berdosa terjatuh.

"K-Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, ya?" Aichi mengulurkan tangan kanannya bermaksud membantu anak bersurai hitam itu berdiri. Anak itu tadinya meringis, tapi kemudian ia membuka matanya yang semula terpejam. Mata amber-nya beradu dengan mata shappire milik Aichi, kemudian ia menerima uluran tangan Aichi dengan sedikit senyum.

"Aku tidak apa-apa, Kak. Terima kasih banyak," balasnya sekenannya. Merasa belum cukup hanya membantunya berdiri, pemilik rambut biru itu berinisiatif untuk menepuk-nepuk bagian yang tadi kotor karena terjatuh.

"Kenapa kau berlari-lari seperti itu? Apa kau terburu-buru?" Aichi kembali bertanya, lagipula ia sedikit kebingungan. Sudah cukup lama mereka berada disana, tapi apa tidak seorang pun dari sanak saudara anak ini untuk menyusulnya? Aichi pun baru kepikiran jika anak ini tersesat.

"Ng... bisa dibilang begitu," kemudian tanpa sengaja, anak berkacamata minus itu memandang ke arah sebuah balon besar yang melayang-layang, dengan tali yang mengikatnya terhubung dengan kakak di depannya.

"Dimana orang tuamu? Kau tersesat?" yakin jika tidak ada yang kotor, Aichi pun bangkit berdiri. Membuat jarak tinggi di antara keduanya terlihat begitu jelas. Pandangan anak itu seketika menjadi mendung―tanpa Aichi sadari. Yang lebih pendek menggelengkan kepalanya mantap.

"Tidak, aku sedang perjalanan pulang, kok," dan kemudian sang anak kembali mengangkat kepalanya, kedua matanya tertuju pada benda bulat besar yang dimiliki Aichi, "siapa nama kakak?"

Aichi membulatkan kedua matanya, sedikit senang. Mungkin bocah ini anak pertama yang menanyakan namanya, di tengah keramaian pusat pertokoan ini. Ia kembali berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya untuk salam perkenalan, "Sendou Aichi, namamu?"

Anak bersurai hitam itu membalas jabatan tangan Aichi dengan senyuman, "Lee, Lee Shenlon. Senang bisa bertemu dengan kakak," Aichi terdiam ketika berjabat tangan. Ia merasa beku menjalar dari tangan Lee, ke tubuhnya.

'Tangannya dingin sekali, seperti mayat,' Aichi sedikit merinding ketika dingin itu menjalar ke tubuhnya. Tapi ia tidak mau mengambil pusing, sampai kedua tangan mereka kembali berpisah. Aichi celingak-celinguk, sepertinya anak ini tidak berbohong jika ia sedang dalam perjalanan pulang, tidak ada siapa pun yang mengaku keluarga Lee lalu membawanya pulang.

'Tapi masa pulang di tengah keramaian seperti ini? Apa benar-benar tidak apa-apa?' Aichi berdebat dengan pemikirannya sendiri. Membuat bocah laki-laki manis di depannya sedikit sweatdrop melihat wajahnya yang agak menyeramkan. Pandangan Lee kembali tertuju pada balon beruang milik Aichi. Sepertinya ia tertarik.

"Kak, dimana membeli itu?" Aichi tersadar dari lamunannya, ia menengok ke arah yang ditatap oleh sepasang amber milik Lee. Dan ternyata tak lain adalah balon miliknya, yang Aichi dapat gratis dari penjual. Ia kembali melirik ke arah Lee, Aichi sama sekali tidak tega jika membiarkan anak ini mencari penjual balon ini sendirian, dengan tubuhnya yang tergolong kecil.

Tersenyum kecil, Aichi pun mengulurkan balon itu pada Lee. Sementara anak berlensa kacamata itu sedikit terkejut, "Untukmu saja, Lee. Lagipula aku mendapatkannya cuma-cuma dari penjual," ujar Aichi dengan senang hati. Tapi sepertinya bocah manis itu sedikit ragu untuk menerimanya.

"Ti-Tidak perlu, Kak. Aku membelinya saja―"

Aichi menggeleng cepat. Ia mengambil telapak tangan Lee dan membiarkan anak itu memegang tali balonnya―dengan sedikit paksaan, memang―, "Sudah, tidak perlu sungkan. Anggap saja hadiah atas perkenalan pertama kita. Kalau kau melihat balon ini, jangan lupakan aku, oke?" Lee membulatkan matanya. Ia menatap Aichi yang tersenyum tulus padanya.

Ia tak pernah mendapat tatapan itu entah sejak umur berapa. Senyuman pemuda di hadapannya bagaikan senyum malaikat, dan Lee bisa merasakan jelas kehangatan itu. Ia pandangi balon beruang yang kini sudah ada di tangannya. Lee tersenyum senang.

"Terima kasih banyak, Kak! Aku pasti akan menjaganya dan selalu mengingat kakak," Aichi tersenyum lega. Setiap berbuat suatu kebaikan, rasanya hati ini menjadi ringan. Ia sudah menanamkan sikap ini sejak dulu. Padahal kenyataannya saja, ia tidak terlalu terbuka di sekolahnya.

"Ya, hati-hati, Lee! Aku juga ingin pulang, hehehe," Aichi memeletkan lidahnya lucu. Padahal hatinya sedikit nyeri tatkala mengucapkan kata 'pulang'. Ia sudah tidak mempunyai rumah lagi sekarang. Dan yang dimaksudkannya pulang adalah, ke gedung organisasi yang dikelola oleh Jun. Organisasi Togami, dan semua orang yang tidak mengetahui apa-apa hanya mengenal gedung itu sebagai kantor kerja biasa.

Lee mengangguk patuh. Dipandanginya Aichi yang melambai-lambai padanya, sosok itu semakin jauh hingga pada akhirnya tertutup oleh keramaian. Sepasang mata amber-nya tak lagi melihat figur kakak baik hati yang tadi membuatnya tertegun. Angin malam mulai berhembus kencang, sanggup membuat posisi berdiri Lee berubah sedikit.

Tap.

Kedua kaki kecilnya kembali berpijak tatkala angin itu sudah berlalu. Ia menghela nafas, dan kembali berjalan dengan tatapan hampa. Menghilangkan dirinya dari kebisingan yang membuat sakit kepala.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Aichi menatap bangunan tinggi yang berada tak jauh dari daerah pertokoan tadi. Tulisan di palang adalah 'B. CO Project', yang katanya adalah tipuan semata untuk mengelabui banyak orang. Menghela nafas sejenak, Aichi segera melangkah masuk ke dalam pintu automatic berwarna hitam itu.

BZIT.

"Wah―!" Aichi hampir saja terjatuh terjungkal ke belakang tatkala sebuah robot berbentuk tabung setinggi satu setengah meter menghampirinya. Robot itu berwarna putih, dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanannya, juga sebuah layar hitam di perutnya, berdiri menggunakan enam roda kecil. Kedua mata birunya menatap Aichi dengan intens.

'Makhluk apa ini? Aku baru melihatnya, tapi bentuknya bagus sekali. Sepertinya buatan bumi masih kalah dengan yang ini,' pikir Aichi mengagumi struktur tubuh sang androit yang begitu sempurna. Ia terus mengamati tubuh robot itu sampai seseorang menghampirinya dengan tawa lebar.

"Hahahaha, ekspresimu lucu sekali, Sendou! Tapi setidaknya masih lebih baik daripada Xaiphos dingin itu," Aichi menengok ke arah dalam lobby yang terlihat sepi. Bahkan di bagian penerima tamu tidak ada seorang pun resepsionis yang berkerja. Sampai kedua matanya beradu dengan sepasang mata perak milik Miwa.

"Ta-Taishi-san!?" Aichi berseru pelan. Miwa berhenti berjalan, tepat di samping androit putih tadi seraya mengelus kepala androit yang putih bersih.

"Jangan takut, robot ini berkerja untuk mengidentifikasi semua orang yang masuk ke dalam sini, Sendou. Dan jika ada penyusup, maka robot ini siap memberi mereka pelajaran, hehehehe," Miwa terkikik sadis membuat Aichi sedikit merinding. Aura gelap yang menyelimuti sang wakil divisi ternyata lebih menyeramkan daripada membuat Kai marah.

"Ba-Baik, Taishi-san," Miwa berhenti terkikik lalu menatap ke arah Aichi, ia menautkan alisnya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau mengimbuhi panggilanku dan Jun dengan '-san'? Apa itu salah satu tradisi dari tempat tinggalmu?" Miwa bertanya penasaran. Sementara Aichi baru teringat sesuatu, tempat tinggalnya sekarang bukanlah Jepang. Jadi wajar saja, 'kan, jika pemuda pintar di depannya kebingungan.

"Hm, benar, Taishi-san. Imbuhan '-san' dipakai di akhir nama untuk keformalitas, tanda jika Taishi-san dan Mutsuki-san lebih senior dariku," Aichi menunduk penuh dengan rasa hormat. Sampai Miwa menjadi salah tingkah di tempat.

'Sial, anak telmi ini ternyata kelewatan sopan!' pekik si pirang dalam hatinya.

Miwa mengada kedua tangannya, membuat Aichi langsung mengangkat kepalanya kembali, "Sudahlah, tidak perlu seformal itu. Setidaknya cukup panggil Miwa dan Jun saja. Jun pasti lebih nyaman dengan panggilan itu, semua anak buah kami melakukan hal yang sama," si rambut biru manggut-manggut paham.

"Baiklah."

"Lalu, mengenai robot ini. Ia menahanmu untuk tidak masuk karena ingin menganalisis datamu, apa kamu orang organisasi kami atau bukan," pemuda ber-blazzer fanta itu kembali menunjuk androit putih yang sedari tadi masih menatap Aichi, "sekarang berikan salah satu dari datamu padanya. Kau boleh memilih, sidik jari atau matamu untuk dijadikan data," sambungnya menatap Aichi dengan senyum.

Kedua mata biru Aichi berbinar kagum. Ternyata di negeri yang ia anggap kuno ini, memiliki sesuatu yang tak kalah modern dari dunia Aichi. Ia mengangguk semangat, "Mataku saja!"

"Insert new eye!" robot itu bersuara. Tangan kanan sang androit―yang juga berwarna putih―pun meraih dagu Aichi, agar wajahnya bersejajar dengan sebuah layar hitam yang berada di perutnya. Tak lama kemudian layar hitam tadi menyala dan mulai meng-scan salah satu mata biru Aichi.

:Finish:

"Sekarang sebutkan nama lengkapmu di depan robot ini," Miwa memberi instruksi berikutnya. Aichi mengangguk paham, ia kembali menengok ke arah layar hitam yang menampilkan suatu baris untuk diisi text.

"Sendou Aichi."

:"Sendou Aichi":

Robot itu mengulang rekaman suara Aichi, sampai di baris text tadi terketik nama Aichi tanpa salah sedikit pun, membuat pemuda bermata biru tadi semakin terkagum-kagum. Miwa bertepuk tangan.

"Selamat, datamu selesai diregistrasi! Jadi, jika kau pulang kembali kesini, sebutkan namamu dan biarkan dia meng-scan matamu, itu data yang diperlukan agar bisa masuk kesini, semua anggota Togami melakukan itu~," Miwa mengacung-acungkan telunjuknya dengan senyum lebar khas-nya, "dan jangan pernah mencoba untuk melawannya seperti Kai, oke?"

Deg.

Ekspresi Aichi langsung membulat begitu mendengar nama itu, ia langsung memegang kedua bahu Miwa dengan erat, "E-Eh, apa Kai-kun sudah pulang?" ia bertanya penuh dengan rasa khawatir. Miwa tersenyum ringan lalu mengacak-ngacak rambut biru Aichi.

"Tenang saja, dia tidak mati, kok. Karena aku datang cepat sebelum ia meloncat kaget dan hampir menyerang Wally, hahahahahaha!" kemudian ia kembali tertawa lebar. Membuat Aichi cengo di tempatnya berdiri.

"Wa-Wally? Apa maksudnya―?"

"Nama robot ini adalah Wally. Tadi Kai pulang duluan, dan sepeti kau, datanya belum diregistrasi disini. Jadi saat Wally tiba-tiba mendatanginya seperti yang ia lakukan padamu, Kai langsung terlonjak kaget. Pff, ia mengira Wally adalah musuh dan hampir menyerangnya. Ekspresinya lucu sekali kau, tahu!? Huahahahahaha!" setelah menjelaskan panjang lebar, sang wakil divisi kembali tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin ekspresi stoic Kai yang tiba-tiba berubah menjadi tegang itu sesuatu lelucon baginya.

Aichi dan androit bernama Wally itu menatapnya dengan speechless, tidak tahu harus berkomentar apa. Dan mereka terus pada keadaan begitu selama beberapa menit, sampai akhirnya Jun turun tangan untuk membungkam Miwa.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Suasana pagi ini begitu cerah. Begitu matahari terbit saja, para burung-burung berwarna putih sudah mengajak kawannya untuk bermain di langit. Semilir angin pagi terus berhembus, membuat semua makhluk awam yang menikmatinya tak berkutik untuk beberapa saat, meresapi sejuknya angin dan hangatnya sang mentari.

Drap.

Drap.

Suasana damai yang sedari tadi mengalun langsung pecah karena indera pendengarannya mendengar suara langkah kaki. Dirinya sudah tahu langkah kaki siapa itu, ia menoleh dengan tidak niat. Dan ternyata benar saja, Aichi, orang yang diduganya berlari tadi, memang benar-benar berlari ke arahnya.

Tap.

"Hah... hah..."

"Mau apa?" Kai bertanya dengan nada datar, lalu kedua matanya kembali menatap langit yang tak berujung. Matanya menggali dalam pemandangan itu, berharap bisa mencari suatu tempat untuknya disana.

Pemuda yang lebih pendek terdiam sebentar, tapi kemudian ia tersenyum. Usai mengatur nafasnya yang terengah-engah, Aichi memberanikan diri untuk berdiri di samping Kai. Dan bagusnya, pemuda berambut brunet itu tidak memulai langkah untuk kabur―lagi. Sekali lagi, Aichi tersenyum penuh arti.

Semalaman suntuk ia terus memikirkan Xaiphos dingin ini sampai-sampai tidak bisa tidur, pasalnya pemilik sepasang emerald itu tak terlihat batang hidungnya sejak Aichi pulang ke Togami.

Dan sekarang, di atap gedung organisasi, akhirnya Aichi bisa bertemu dengannya lagi. Hatinya lega jika Kai tidak kenapa-kenapa, walau secara sifat, ia masih menjauhi sang 'pasangan'.

"Selamat pagi, Kai-kun," Aichi memberi ucapan selamat pagi sebagai permulaan percakapan mereka. Kai mencuri lirik ke arah 'pasangan'nya, yang tengah memandang sekitarnya dengan wajah tenang. Rambut birunya yang lembut tertiup angin, wajah polosnya yang mengukir senyum, hati Kai perlahan melunak melihatnya.

"Selamat pagi."

Aichi membulatkan kedua mata birunya, sedikit terkejut dan haru tersemat dalam hatinya. Padahal Kai hanya membalas sapaannya, tapi hati ini terasa hangat. Cukup dengan satu kalimat itu saja mampu mengubah suasana.

"Hei, Kai-kun," Aichi memanggil dengan nada senduh. Kai segera memalingkan mukanya sebelum tertangkap basah sedang mengamati anak itu.

"Hn?"

"Matahari pagi memang sangat cantik, tapi aku senang... bisa melihatnya bersamamu," Aichi berucap tulus, tak lupa mengukir senyum handalannya ke arah Kai. Tapi pemuda lainnya sok jual mahal, ia tak berniat sedikit pun untuk melihat Aichi kembali. Bahkan membalas kata Aichi saja tidak dilakukannya.

"Aku tak tahu apa yang nanti akan kuhadapi, banyak sekali hal yang tidak kuketahui tapi ingin kugali. Jadi sepertinya, tak akan mudah untuk bisa melihat setiap matahari pagi yang ada untuk berikutnya." sang Jewelic memejamkan matanya. Ia merenungkan seharian, kemarin ia bertindak terlalu santai. Padahal seharusnya ia lebih fokus dan serius.

Masa depan kedua dunia ada di tangannya. Ia sama sekali tidak berhak menikmati apa yang ada di kedua dunia itu jika tidak bisa menolongnya.

Kai terkesiap. Kini kedua manik tajamnya tak lagi takut untuk memandang Aichi. Ia bisa melihat sorot kesepian di wajah itu. Pemuda bersurai biru itu baru saja kehilangan banyak orang berharga di hidupnya. Biasanya manusia pasti akan terpuruk dalam waktu lama dan terus bersedih. Tapi kini Kai baru menyadarinya, bahwa jiwa Aichi begitu kuat.

Jika tidak, ia tidak mungkin tertawa kemarin. Aichi tidak mungkin berusaha menyesuaikan diri dengan sekitarnya, dan hanya mengurung diri dalam suatu ruangan lalu menangis. Terbakar emosi serta kehabisan tenaga untuk bangkit.

Tapi Aichi berbeda, ia berusaha untuk tersenyum sekalipun hatinya sedang berdenyut kesakitan. Ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya di dunia yang tidak pernah digandrunginya. Lalu apa yang kemarin Kai tanggap dari dirinya? Ia menuduh Aichi terlalu santai, ia menganggap sang Jewelic sama sekali tidak memahami kondisi dan bermaksud memusuhinya.

'Xaiphos macam apa aku?'

Mungkin Ogata yang melihat sinaran ini dari Aichi, beliau tak ragu lagi untuk memilih pemuda ini sebagai penerusnya. Sekalipun tanpa satu penjelasan pun yang Aichi dengar darinya.

"Hatchi..." Aichi mengernyit dahinya. Ia melirik ke arah sebelahnya, Kai baru saja bersin dan tengah menutup mulutnya beberapa detik.

"Kau kedinginan?" pemuda yang lebih pendek bertanya penuh rasa khawatir. Ia mendekat ke arah Kai untuk melihat kondisi Xaiphos miliknya. Walau Kai tampak menghindar, tapi ia tak bisa mengelak tatkala tangan Aichi menahan lengannya. Tatapan intens Aichi membuat pemuda lainnya salah tingkah.

'Apa maksudnya kedinginan? Kenapa dia menatapku seperti itu?' Kai berpikir tak tenang. Karena seumur-umur ia tidak pernah merasa sedingin ini. Persetan dengan udara pagi yang menusuk tulang rusuknya. Aichi melepaskan lengan Kai perlahan, kemudian melirik ke arah blazzer miliknya.

Blazzer panitia kebesaran yang masih melekat di tubuhnya. Selain kebesaran, blazzer itu terbuat dari bahan yang cukup tebal, pantas saja ia tak merasa kedinginan, 'Ini pasti muat untuk Kai-kun, sebaiknya'

Srek.

Kai tak berbicara sepatah kata pun tatkala melihat Aichi melepas blazzer hitam miliknya. Kini tersisa seragam berwarna putih yang melekat di tubuh sang Jewelic. Kedua ekor matanya memandang Kai lekat-lekat.

"Aku kepanasan dengan blazzer ini, jadi Kai-kun pakai saja supaya hangat," pintanya seraya melentangkan blazzer itu ke hadapan Kai. Sekilas memang pakaian itu terlihat pas jika Kai yang memakai. Tapi pemuda yang lebih tinggi tampak ragu, ia melirik ke arah sekitarnya sembari menggaruk tengkuk.

"Tidak perlu." tolaknya halus.

"Kai-kun tidak boleh begitu, kau masuk angin. Nanti kau bisa sakit! Aku tidak bisa memakainya karena kebesaran, jadi kau pakai, ya?" terlihat binaran memohon terpancar di mata Aichi. Ia sangat berharap jika Kai mau menerimanya, bahkan ia rela mencucinya tiga hari tiga malam kalau Kai mengeluh masalah bekas pakainya.

Sementara pemuda satunya lagi tengah berpikir. Apa sepantasnya ia menerima pemberian dari orang yang sudah ia sakiti hatinya kemarin? Disisi lain, Kai merasa tidak enak hati. Tapi disisi lain, ia mulai risih dengan tatapan memohon Aichi. Tatapan itu yang entah kenapa membuat perasaan bersalah di hatinya kian membesar.

"Kau akan senang kalau aku menerima?" dan Aichi mengangguk dengan polos.

Bats.

"Kuterima," Kai segera menyambar blazzer itu tanpa berani menatap Aichi. Tidak tahukah ia kalau kini ekspresi Aichi jauh lebih parah daripada yang tadi? Entah berapa efek yang bisa menggambarkan rasa senang si Jewelic sekarang, yang jelas ia menatap Kai dengan binaran haru.

'Huwaaa, Kai-kun terlihat cocok sekali dengan blazzer itu! Dia lebih gagah dan tampan!' Aichi berkomentar dalam hatinya tatkala melihat Kai selesai memakai blazzer-nya. Sangat pas di tubuh Kai. Karena proposinya cocok untuk orang tinggi, Aichi jadi sedikit iri.

NGING.

Deg.

Sebuah signal diterima oleh Kai. Menomor-duakan Aichi, ia pun menajamkan penglihatannya ke arah sekitarnya. Ini bukan signal baik. Sepasang mata tajamnya terus fokus dalam detik yang cukup lama. Aichi yang menyadari perubahan sikap Kai pun kebingungan. Ia menatap sekitarnya―atau lebih tepatnya arah yang sempat Kai pandang.

"A-Ada apa, Kai-kun?" ia bertanya hati-hati, ekspresi Kai yang begitu serius serasa menyampaikan sesuatu yang tidak mengenakan padanya. Kai mengumpat kecil, lalu menatap 'pasangan'nya.

"Tidak baik, walau Inerbolg adalah daerah yang bebas dari Silence Silk, tapi..." Kai menjedah ucapannya tatkala menerima beberapa signal berikutnya. Pelipisnya mulai tercipta berapa bulir keringat dingin, "...aku merasakan signal Xaiphos hitam, dari jauh."

Aichi membulatkan matanya syok.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

DRAG.

DRAG.

Beberapa kanibal hitam tampak berusaha menembus barrier kasat mata yang melindungi suatu wilayah. Jumlah mereka tak terhitung sedikit. Dengan ekspresi menyeramkan itu, mereka berupaya membobol pelindung tak terlihat yang menghalangi jalan mereka. Tidak jarang dari makhluk-makhluk hitam itu berusaha menonjok, mencakar, menendang, atau mendobrak―apapun itu agar dinding pelindungnya hancur.

Tapi sepertinya usaha itu sia-sia. Dinding yang tercipta terlalu kuat. Sekalipun kasat mata, tapi kekuatannya bisa ditandingkan dengan ribuan lapisan baja.

DRAG.

DRAG.

Dinding pelindung kasat mata itu juga yang membuat makhluk hidup di dalam dinding bisa melihatnya dengan jelas. Betapa mengerikannya makhluk-makhluk yang ingin memangsa mereka. Tatapan kelaparan mereka bisa membuat siapa saja bungkam. Termasuk sekumpulan anak rusa dan bebek yang kebetulan melewati pinggir barrier dari hutan.

Walau mereka binatang, tapi tentu saja mereka takut pada monster-monster berbadan kekar itu. Mereka menatap kanibal-kanibal yang masih berusaha membobol dinding tanpa suara sedikit pun.

DRAG.

DRAG.

Tap.

Dan suara sebuah langkah mampu membuat hewan-hewan tadi terkejut kaget. Mereka langsung menengok ke arah sumber suara, yang tak lain adalah anak kecil. Rusa-rusa dan bebek tadi pun berlari pergi. Sekalipun sosok itu tidak berbadan besar, tapi binatang-binatang tadi bisa merasakannya dengan jelas.

Aura anak itu sama mengerikannya dengan kanibal-kanibal berwajah seram di balik pelindung. Dengan kedua mata bulatnya, ia memandang ke arah sekawanan Xaiphos hitam di balik dinding dengan tatapan kosong. Makhluk hitam tadi melihat ada mangsa, mereka semakin beringas untuk melubangi dinding kasat mata yang menganggu.

DRAG.

DRAG.

DRAG.

Bocah tadi tersenyum kosong, ia sedikit terkekeh melihat tingkah bodoh monster-monster itu sebelum berucap, "Kalau kalian kulepas, kalian akan menghabisi negara ini,―"

HYUUUU.

"―kan?"

Dan angin kencang yang berhembus dari kedalaman hutan membuat balon yang ada di genggamannya melakukan pergerakan kecil.

.

.

.

Significance Essense

"If you touch the second world, don't try to escape from them..."

To Be Continued...

.

.

Information Fiction:
Secret Detective Organization, Togami, adalah organisasi detektif yang sangat rahasia. Ketua divisi, wakil divisi, berserta dua ratus anak buahnya bersumpah untuk tidak menunjukan identitas asli mereka di depan umum. Melakukan penyelidikan diam-diam (berkerja di malam hari, pura-pura memeriksa sebagai orang biasa), dan berani mempertaruhkan nyawa jika berhadapan dengan Silence Silk dan Xaiphos hitam. Gedung organisasi mereka pun direkayasa sebagai gedung kantoran biasa bernama B. CO Project. Sudah sejak lama penduduk lain curiga dengan bangunan itu, tapi mereka tak berniat berbuat banyak.

Biodata Character:
6. Suzugamori Ren
Umur: 20 tahun.
Kota Tinggal: Orphyserus.
Hobi: Menikmati berbagai aneka minuman, mengurus berkas-berkas negara.
Kelebihan: Bisa menghindari kritikan pedas dengan ekspresi seriusnya.
Kelemahan: Masalah yang berhubungan dengan kakaknya.

7. Katsuragi Kamui
Umur: 17 tahun.
Kota Tinggal: Orphyserus.
Hobi: Latihan berpedang.
Kelebihan: Bisa menghabisi Xaiphos hitam ukuran besar cukup sekali tebasan pedang.
Kelemahan: Masih dirahasiakan.

A/N: Update cepat. Hehehe, ada yang kangen, nggak? *belum-seminggu-juga* Sengaja update cepat sekarang, biar nanti pertengahan Februari, April, Maret, nggak dikatain PHP. Jangan heran kalau sekitar bulan itu update-nya bakal super ngareeeet. Soalnya Gane masa-masa-nya UN, nih. Persiapan UAS, UN, Ujian Praktek juga. Belum urusan lainnya, pokonya serba sibuuk!

Bagaimana chapter ini? Apa membosankan? Jangan kaget ya sama umur Kamui, sekali-sekali kami mau buat Kamui lebih dewasa dan sanggar XD *plak* Mungkin untuk kedepannya akan tambah membosankan, semoga kalian tidak melempar kami dengan panci, wkwkwkwk. Kadang author bingung mau bikin adegan loveley-dovey(?) KaiChi tapi tempatnya gak tepat melulu *dibantaiKai*

Reply Review:

Cece Lien: Kalau katanya nggak jleb ya bukan Kai, dong, fufufu. Iyap, kemarin kunti, sekarang ditemenin sama sadako, wkwkwkwk. Aichi nggak jaga jarak, doong. Semangat buat Aichi~

Ama: Yey, shotacon satu ini dateeng. Lee baru muncul di chapter ini, hehehe. Request-mu pasti berjalan sesuai alur cerita. Lho, baru tau Kenji itu pacar kamu, maaf ya Kenji-nya tewas, hahahaha.

Yuichiiiiiiiiii: Iya, jadi Kai harus tegaan. Ada yang suka JunMiwa nih, bagian mesra-mesraannya tunggu saja, yah. Lee baru muncul di chapter ini, nih.

Snowy Coyote: Hehehe, di mana-mana orang yang makannya kelaparan kan seseram Aichi nanti. Jun-nya manly? Hehehe, baguslah, dia memang cocok banget sama Miwa. Kai sebenarnya sedikit kesengsem cuma nggak mau ngaku.

Red Dracokid: Fict ini masih continue, dong, kalau nggak kami nggak mungkin update chapter baru. Selamat tahun baru juga untuk Red. Buat novel? Um, enggak kepikiran, sih. Kami menulis fiksi juga buat have fun saja, hehehe. Terima kasih dukungannya!

Yuu The Layangan: Iya, ada komik-komik random potongan scene dari fanfic SE. Coba cek saja, siapa tahu ada yang tahu adegannya yang mana, hehehe. Iya, di sini Miwa-nya sanggar dan nggak begitu patuh sama Jun, tapi Jun-nya fine-fine saja kok. *plak* Met tahun baru juga Yuu.

Yun Mei Ho: Ada fans Miwa, nih. Tapi di sini nggak ada Miwa reverse mode sayangnya, walau dia agak yandere sedikit sebenarnya. Waduh, apa tuh maksudnya Kai cinta-cinta sama Aichi, masuk rate M lagi *plak* Semoga Miwa-nya bisa dibanyakin, hehe.

Yumekawa: Eh, keren, yah? Makasih atas pujiannya, kirain ngebosenin, hehehe. Iya, nih Kenji-nya harus mati demi jalan cerita. Ini sudah dilanjut.

Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)

Sincerely,
12 Januari 2014
HYUCCHI