Significance Essence

Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi

Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!

Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own

Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.

Main Pairing:
Kai x Aichi

Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)

WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.

DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!

Enjoy the fiction~

.

.

ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₉ Don't Ever Give Up

Sederet pemuda-pemudi berseragam militer memasuki aula besar dengan rapi. Bentuk barisan mereka sangat sempurna tanpa cacat. Juga tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara desas-desus. Begitu masuk, mereka langsung membentuk barisan menghadap ke panggung yang berada di depan aula.

Drap.

Mereka menghentikan langkahnya serempak. Suasana begitu hening. Raut wajah serius terpampang jelas di wajah semuanya. Sampai seorang pria berjalan menuju podium yang berada di atas panggung, semua pasang mata meliriknya tanpa suara sedikit pun.

Nging.

"Selamat pagi, murid-murid St. Poline."

"PAGI!"

Salam itu disahut serempak oleh seisi manusia berpakaian militer yang ada di sana. Pria tadi melirik sekilas ke arah murid-muridnya, kemudian mengangguk.

"Semangat yang bagus, murid-muridku. Tak perlu berbasa-basi, Saya memanggil kalian semua berkumpul kemari karena suatu perihal. Kalian semua tahu, kalau selama hampir satu setengah tahun ini, Silence Silk sudah menjadi terror untuk kehidupan kita. Negara-negara yang dahulu mengelilingi kita kini berubah menjadi tanah tandus, dipenuhi banyak Xaiphos hitam, dan kehidupan yang sengsara," pria itu berucap dengan suara lantang. Suara yang cukup tegas untuk orang seusia dirinya.

"Untuk itu, sekolah militer ini semakin memperketat jadwal dan melatih kalian semua, menjadi kuat sampai sekarang. Saya bisa merasakan betapa beratnya latihan yang kalian alami, tapi Saya juga tidak tahan melihat semakin banyak korban jiwa di luar sana. Saya akan membuat sekolah ini melahirkan kalian menjadi anggota militer yang tangguh, agar kalian bisa menjadi pahlawan di luar sana. Menegakkan keadilan, menjunjung tinggi kebenaran, yang dulu pernah dilakukan oleh Xaiphos-Xaiphos putih," ia kembali melanjutkan pidato otodidaknya. Tidak ada seorang siswa pun yang mengabaikan kata pentingnya. Ia terus berbicara hingga waktu berlalu dua puluh menit.

"―maka, aku akan mengutus The Beast of Poline untuk mengunjung Gereja Quillray di Gumirose ..."

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

TEEET.

TEEET.

TEEET.

Miwa menggeram kesal dan menatap malas ke arah alarm yang berkedap-kedip di sudut ruangannya. Ia merasa belakangan ini suasana tentram di lingkungan kerjanya semakin menipis saja. Entah sudah berapa kali ia mendengar bunyi cempreng alarm darurat itu. Sang wakil divisi memutuskan untuk cuek, ia kembali menyamankan sandarannya pada sofa untuk melanjutkan kegiatannya dalam memecah kode.

Nging.

"Hah?" ia menautkan alisnya dan menatap malas ke arah figur yang seenak jidat masuk ke dalam ruang pribadinya. Siapa lagi kalau bukan si ketua divisi, karena hanya dia yang mengetahui password untuk masuk ke dalam ruang pribadi Miwa.

"Miwa, kau tidak mendengar alarm darurat tadi?" pemuda bermata lentik itu menatap lurus ke arah Miwa. Sementara pemuda lainnya memutuskan untuk mematikan layar tablet miliknya, konsentrasinya terganggu sudah. Ia mengubah posisi menjadi duduk dan menatap malas ke arah ketua divisi Togami.

"Yah, beberapa detik yang lalu. Kenapa?"

Jun menghela nafas, ia berbalik keluar ruangan sebelum menjawab, "Aku mendapat kabar darurat dari pusat negara, ada sekumpulan Xaiphos hitam yang menerobos masuk dinding pelindung Inerbolg, di bagian timur," jawab Jun seadanya. Sebelum ia melesat keluar ruangan dengan kecepatan tinggi. Wakil divisi tadi langsung berubah ekspresinya menjadi syok.

'Bagaimana bisa!?' umpatnya penuh tanda tanya juga kepanikan yang melanda. Ini sama sekali bukan kabar baik, bahkan Miwa lebih memilih menerima kabar kalau ia kalah lotere berlibur ke negara tropis daripada ini.

"Jun, tunggu aku!" ia langsung melempar tablet-nya ke sofa lalu bergegas menyusul pemilik obsidian tadi.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

"Kyaaa!" beberapa orang menjerit ketakutan tatkala bertemu pandang dengan makhluk terhina yang pernah ada, di dunia ini. Masyarakat yang tadi sibuk beraktifitas pun panik bukan kepalang. Betapa terkejutnya mereka saat melewati daerah hutan untuk mencari sumber makanan, tapi pemandangan mengerikan yang justru mereka dapat.

Entah berapa ekor rusa yang sudah dicakar habis oleh sekumpulan kanibal hitam. Hutan indah yang tadi menjadi mata pencaharian mereka kini berganti menjadi hutan darah. Dan begitu Xaiphos hitam itu mulai berjalan keluar hutan, masyarakat panik berhamburan lari menuju rumah mereka. Entah ingin berlindung, atau mengajak anggota keluarga mereka kabur.

Teror yang selama ini menghantui Savhalon, akhirnya sampai pada negara ini juga.

"GRAAAH!"

Grep.

"Kyaaa! Tolong aku!" seorang gadis menjerit histeris tatkala tubuhnya tertangkap oleh salah satu Xaiphos hitam yang memiliki enam mata, juga rahangnya yang terbelah dua. Mata kanibal yang berlendir itu sungguh membuatnya ketakutan. Tubuhnya bergetar, sulit untuk melakukan perlawanan. Juga besar tubuh mereka yang berbeda derastis membuatnya tidak berani untuk melawannya.

"Elva! Aku akan menolongmu!" salah seorang pria yang tadi ikut berlari keluar hutan pun menghentikan langkahnya. Matanya menyorot amarah pada monster hitam yang menatap lapar ke arah gadisnya. Perempuan tadi menangis, ia menggeleng lemah ke arah pria yang berlari mendekatinya.

"Jangan ... Paul ..." ia berucap lemah, sama sekali tidak ingin orang terkasihnya ikut terseret menjadi korban.

"Tenanglah, Elva! Aku akan segera datang―"

HAP.

Gadis bernama Elva tadi membulatkan matanya syok. Ia tak bisa berkata apapun saat melihat seekor kanibal melahap bulat-bulat kepala pria tadi. Bibirnya bergetar, ingin rasanya ia melawan makhluk-makhluk hina itu. Tapi apa daya, perbedaan kekuatan mereka―

CRASH.

―berbeda jauh.

Elva menatap nanar ke arah tubuh pria tadi, yang sudah berbaring tanpa kepala. Sementara Xaiphos hitam yang tadi mematahkan kepala Paul tampak mengunyah makanannya, layaknya makanan itu garing dan nikmat. Air mata terbendung sesaat, kemudian tumpah membanjiri pipi sang gadis. Ia menangis sejadi-jadinya, sebelum―

KRAK.

"Hoek!"

Monster hitam yang tadi menggenggamnya mulai mematahkan tubuhnya, sehingga perut dan pinggangnya terpisah. Sebelum tubuh mengenaskan itu dilahap bulat-bulat.

Seorang bocah sepuluh tahun menonton jelas adegan itu, dari kejauhan. Ia menatap kosong ke arah mereka. Xaiphos hitam yang berburu mangsa mereka seenaknya, manusia-manusia yang menjerit dan melarikan diri, mereka yang menangis, juga darah daging yang berserakan. Tidak ada satu pun esensi perasaan yang melekat padanya setiap melihat adegan itu, berulang kali.

"Manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, mereka hanya akan dimakan, menyedihkan ..." ia berujar pelan. Tangan kanannya menarik-narik benang hitam yang terhubung dengan balon bulat besar di sampingnya. Gerakannya itu membuat balon bergerak turun, kemudian melayang ke atas lagi. Begitu seterusnya.

"Lee Shenlon, kau harus beruntung bisa tinggal di negara yang aman!"

"Bersyukurlah, Lee Shenlon! Memangnya kau mau dibuang ke negara yang banyak monster-nya!?"

Bocah bersurai hitam itu menengada kepalanya ke atas, menatap lurus ke arah langit, "Tanpa perlu membuangku ke sana, negara ini juga akan tenggelam menjadi lautan darah..." ia mengangkat tali balonnya tinggi-tinggi.

"―bersama diriku, juga beserta kalian."

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

BRAK.

Miwa mendobrak paksa pintu masuk menuju ruang khusus untuk menangkap signal, lengkap dengan pakaian wakil divisinya. Beberapa anak buah Togami sedikit terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba, "Ah, Tuan Miwa!"

"Bagaimana perkembangannya?!" ia bertanya to the point tatkala matanya melihat jelas layar berwarna kehijauan di depan ruangan. Disana terpampang gambar negara tempat mereka tinggal, dengan sedikit zoom di bagian timur. Ada titik merah di salah satu bagian perbatasan negara.

"Buruk, Miwa. Karena Kota Ghina di bagian timur adalah kota sederhana yang jauh dari pengawasan militer, jadi para tentara militer pusat tidak bisa datang ke sana dalam waktu cepat. Kemungkinan besar sudah ada korban jiwa di sana, dan yang memperburuk adalah ..." Jun menjedah ucapannya. Ia berdiri tepat di depan layar. Tangan kanannya mengetik sesuatu di keyboard hologram. Layar tadi pun kembali melakukan zoom-in pada kota Ghina.

"―kalau barrier yang ditembus tidak segera ditutup. Xaiphos-Xaiphos hitam dari negara Lamborgia akan membobol masuk dan menyerang Inerbolg." Miwa menggertak giginya menahan amarah. Ia mulai mondar-mandir di tempatnya berdiri, berusaha memikirkan suatu cara.

"Tapi bagaimana bisa?! Bagaimana bisa pelindung itu rusak!?" Miwa bertanya frustasi. Keadaan ini sungguh gawat. Sudah berapa kasus yang dilihatnya, dan inilah satu-satunya kasus yang tidak pernah terselesaikan jika hanya bermodal logika. Sudah berapa korban yang mati di depan matanya, tanpa Miwa bisa melakukan suatu perlawanan.

"Menurut prediksiku, ada dalang dari balik semua ini. Entah itu penyusup dari Silence Silk, atau manusia yang terinfeksi menjadi Xaiphos hitam, dan bisa juga pengkhianat. Kita tidak tahu pasti karena tidak memiliki bukti yang bisa dianalisa sekarang," Jun berucap dengan nada tenang. Sekalipun hatinya sama sekali tidak setenang nada bicaranya. Daerah tempatnya tinggal memang cukup jauh dari Ghina, tapi kemungkinan jika Xaiphos itu berhasil lari sampai kesini tidaklah mustahil.

Setelah virus Xaiphos hitam menghantui, Jun sudah banyak menganalisa mereka dari sumber buku ataupun kasus yang berkaitan dengan mereka. Ia tidak tahu pasti sususan partikel macam apa yang membuat tubuh mereka, tapi Xaiphos hitam memiliki bentuk yang bervariasi dan kemampuan yang berbeda-beda.

Entah mereka bisa berlari cepat, atau kekuatan lengan mereka melebihi baja, rahang lebih dari dua, perut yang bisa menampung inang, dan banyak macam lainnya. Bentuk mereka tak terbatas. Itulah yang menyulitkan Savhalon untuk mengetahui kelemahan mereka. Andai mereka hanya ada satu jenis, mungkin menyelidiki satu kelemahannya tidak mustahil.

"Oh, ya!" Miwa menjentik jarinya, baru teringat sesuatu, "Dimana Aichi dan Kai!? Mungkin mereka bisa―"

"Mereka sudah berangkat ke Ghina, pagi-pagi sekali, bahkan sebelum kita menerima kabar darurat ini," Jun memotong cepat sebelum sang wakil divisi menyelesaikan kata-katanya. Ya, harapan mereka sekarang hanya satu. Harapan yang bisa mengubah semuanya.

'Jewelic dan Xaiphos putih terkuat, aku menghandalkan kalian,' umpat pemilik obsidian itu dalam hatinya.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

SYAT.

Sesosok pemuda melesat tinggi di ketinggian sepuluh meter, kemudian kembali mendarat pada bangunan yang cukup tinggi. Dengan gesit, tubuhnya kembali melompat tinggi dan jauh, mendarat di gedung lainnya. Pergerakannya terhitung cepat sehingga tidak banyak warga yang mengetahuinya.

Mungkin mereka akan mengira bayangan burung yang sedang melesat kencang tadi. Tapi pada kenyataannya, yang sedang meloncat dengan kecepatan tinggi itu serupa dengan manusia. Tak terasa bangunan-bangunan yang digunakannya sebagai pijakan kini sudah habis. Sudah kota ketiga yang ia lalui menuju ke suatu tempat.

BSYAT.

Melihat sawah yang cukup luas membuatnya malas untuk berlari. Dikeluarkannya kedua sayap kristal besar miliknya, lalu melayang tinggi dan kembali melanjutkan perjalanan. Mungkin beberapa petani yang berada disana dibuat terkejut dengan sesuatu yang melesat cepat. Tapi hal itu sama sekali tidak dipedulikan pemuda tadi.

"Kai-kun, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai disana?" sesosok pemuda yang berbadan lebih kecil angkat bicara. Oh, jangan abaikan keberadaannya hanya karena ia didekap oleh pemuda bersayap tadi.

"Sedikit lagi, tapi signal yang kutangkap semakin kuat. Sepertinya jumlah mereka semakin banyak," pemuda dingin itu menyahut seadanya. Aichi yang notabene hanya diam di dalam dekapan Kai pun menelan liurnya susah payah.

Jantungnya berdetak tak beraturan, padahal dirinya belum sampai ke tempat tujuan. Sejujurnya hatinya belum siap untuk berhadapan dengan makhluk bernama Xaiphos hitam itu. Setiap mengingatnya, Xaiphos pertama yang ia kalahkan bersama Kai, hati dan pikirannya tertuju pada Kenji.

Aichi berusaha untuk melupakannya, karena Kenji kini sudah tiada. Tapi hatinya tetap tidak bisa melupakan semudah itu. Ia teman baiknya, selalu bersama dengannya suka dan duka, lalu tiba-tiba mati di tanganmu secara tidak langsung. Apa hatimu terlalu tega untuk melupakannya? Sekalipun kakeknya telah memberi gelar Jewelic padanya, Aichi tetaplah manusia biasa yang memiliki sebuah hati.

Esensi perasaan di hatinya beragam, dan Aichi bisa merasakan semuanya dengan baik. Termasuk kepedihan saat temannya tiada. Juga rasa takut karena berhadapan dengan makhluk yang ditakutinya.

"Aichi, lihat." pemuda bermanik shappire itu tersentak dari lamunannya. Ia menengada kepalanya, matanya memicing. Dari kejauhan ia sudah melihat beberapa kepulan asap. Asalnya dari sebuah kampung sederhana―mungkin, karena ia melihatnya dari kejauhan―, dan belum selesai Aichi memandangnya, satu kepulan asap pun kembali tercipta.

"Ja-Jangan-jangan itu ... kota yang diserang Xaiphos hitam?" ia bertanya pelan. Kai tidak menyahut, ia semakin mempercepat terbangnya. Bagaimana pun mereka tidak bisa tinggal duduk diam memandangi kehancuran. Satu tindakan bisa mengubah semuanya. Karena itu dari tindakan ini, mungkin saja ia bisa mendorong semua makhluk hidup―

KPAK.

―untuk tidak menyerah.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

DHUAR.

DHUAR.

"Tiga ... dua ... satu ... Tembak!" diikuti oleh komando ketua mereka, sederet tentara mulai mengarahkan bazoka di tangan ke arah makhluk-makhluk hitam yang keluar dari hutan. Mereka berupaya untuk mendekati kota Ghina.

DHUAR.

DHUAR.

Beberapa dari tembakan itu mengenai sasaran, tapi tidak sedikit yang meleset. Karena yang mereka tembak termasuk makhluk hidup, yang bisa bergerak dan menghindar jika ada serangan datang. Para tentara tadi berdecih, tapi mereka tidak bermaksud untuk menyerah. Peluru demi peluru yang ada di senjata mereka terus dilesatkan ke arah makhluk-makhluk hina itu.

DHUAR.

DHUAR.

"Kapten, ini tidak baik! Kita butuh pasukan yang lebih banyak!" salah satu dari tentara itu mengeluh. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Setiap ia menembak dengan bazokanya, tidak sedikit jumlah Xaiphos hitam berikutnya yang keluar dari hutan. Mereka sudah melancarkan serangan sejak sepuluh menit yang lalu, tapi jumlah kanibal itu tidak terminimalisir sama sekali.

"Jangan mengeluh dan lakukan saja tugasmu, Kar! Kita harus bertahan di posisi ini dan jangan sampai membuat mereka melewati garis menuju Kota Ghina! Pasukan tambahan dari pusat pasti akan segera tiba!" sang ketua membalas. Ia kembali memberi komando untuk mengisi peluru melihat Xaiphos hitam yang ada terdiam sejenak.

Sekarang hanya ada tentara seadanya dari Kota Ghina sendiri, yang bahkan jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang. Mereka memang masih tentara amatir, tapi setidaknya manfaatkan apa yang ada. Peralatan dari gudang senjata pun sangat membantu. Mereka bisa melakukan serangan tanpa berkontak fisik dengan makhluk itu―setidaknya untuk sekarang.

Tapi, ada sisi positif, ada pula sisi negatif.

Pertama, jumlah tentara yang ada tergolong sedikit. Mereka tidak bisa melindungi seluruh perbatasan dari hutan menuju kota Ghina. Jadi tidak memungkinkan jika mereka kelepasan satu dua ekor Xaiphos hitam yang bergerak memutar dari jalur aman dan masuk ke kota.

Kedua, Xaiphos hitam sangat sulit untuk dilumpuhkan makhluk hidup biasa. Walau dengan senjata besar macam bazoka. Sekalipun seekor dari mereka tertembak dan hanya bersisa tangan, jangan berpikir jika itu semua berakhir. Tangan itu masih bisa melakukan suatu pergerakan layaknya makhluk hidup. Begitu juga anggota tubuh lainnya. Intinya kau perlu menembak beberapa kali untuk satu ekornya agar mereka 'benar-benar' mati.

Ketiga, Xaiphos hitam ini berasal dari negara tetangga yang sudah berada di naungan kekuasaan Silence Silk. Kau tahu apa artinya? Xaiphos hitam dari negara seberang akan masuk ke dalam negara ini selama pelindung yang robek tidak segera ditutup. Sementara yang bertugas untuk membuat dan menutup barrier masih dalam perjalanan menuju Kota Ghina. Jadi ketiga puluh tentara yang ada harus mempertahankan wilayah mereka sementara monster hitam itu terus mengalir dari Lamborgia.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Krauk.

Entah untuk ke berapa kalinya sesosok figur asyik mengunyah biskuit coklat. Memang tidak banyak remahan di sekitarnya, sekalipun ia sudah mengunyah lebih dari dua bungkus biskuit coklat. Bibirnya mengesap jari-jari yang tadi digunakannya untuk mengambil biskuit, lalu matanya menatap malas ke dalam bungkusan.

Kosong.

Menghela nafas, ia langsung membuang bungkusan biksuit tadi tepat ke dalam tong sampah di samping kanannya. Kemudian mengambil bungkusan baru yang ada di meja di depannya. Padahal ada banyak makanan ringan lainnya yang berbahan coklat disana, tapi mungkin pemuda ini sedang mengidam biskuit?

Entahlah ...

"Tuan, ada berita bagus untuk Anda," salah satu bawahannya yang bersurai merah melangkah masuk menuju ruangannya. Pemuda tadi berhenti bemain-main dengan biskuit coklatnya, ia menoleh ke arah pemuda lainnya yang berkulit pucat. Ia menautkan alisnya malas.

"Apa itu?"

Grim, pemuda bersurai merah tadi menunduk patuh sebelum membuka dokumen berkas miliknya. Sampai di halaman ke sepuluh, mulutnya kembali berbicara.

"Barrier milik Negara Inerbolg bolong di bagian timur, Xaiphos-Xaiphos hitam dari Lamborgia pun masuk dan menyerang ke sana. Ini suatu keuntungan bagi Anda, karena Anda tidak perlu menyusun siasat dan strategi untuk merebut wilayah itu," Grim tersenyum kecil.

Krak.

Pemuda yang masih duduk rapi di sofa mewahnya mematahkan biskuit coklat, salah satu potongannya terjatuh ke lantai. Matanya menatap datar ke arah potongan yang jatuh. "Hanya itu?"

Grim sedikit bergidik mendengar suara dingin atasannya. Apa bosnya ini tidak senang dengan berita yang dibawakannya? Padahal berita ini suatu keuntungan bagi mereka yang berdiri di posisi lawan. Mereka tidak perlu bersusah payah menyusun siasat dan mengirim ribuan pasukan untuk menjajah Inerbolg.

"Y-Ya, Tuan," ia menjawab dengan hati-hati. Pemuda lainnya menghela nafas pendek, ia mengubah posisi yang tadi berbaring dan bertopang dagu menjadi duduk. Dengan ringannya ia melempar potongan biskuit coklat yang masih ada di tangannya ke sembarang arah.

Tuk.

Grim yang masih terdiam di belakang sofa pun bergidik ngeri. Ia mengakui kalau kelakuan atasannya agak aneh, atau bisa dibilang jauh dari kata normal. Tapi setidaknya, ia tahu saat-saat dimana bosnya sedang senang, maupun sedang―

JLEB.

―marah.

"Aargh!" pemuda berkulit pucat itu menggeram kesakitan. Dipegangi lengan kanannya yang sudah tertancap garpu, dengan kaki-kaki garpu yang sepenuhnya tenggelam di dalam daging dan uratnya. Memberanikan diri, ia menatap sang ketua yang tengah memunggunginya.

Tangan kiri bosnya, Grim yakin kalau atasannya melempar garpu tadi dengan tangan kiri. Betapa gilanya dia. Kalau dengan tangan kiri saja sudah membuat lengannya hampir robek, apalagi dengan tangan kanan?

'Dia sama gilanya dengan Xaiphos hitam!' pemuda yang lengannya tertancam garpu itu memekik dalam hati.

"Bagimu itu berita bagus? Jangan membodohiku, ya," sekarang disusul dengan suara berat pemuda bersurai coklat kental itu. Grim semakin yakin jika bosnya sedang tidak dalam mood yang baik. Ia meneguk air ludahnya bulat-bulat. Kepala sang atasan yang semula membelakanginya kini perlahan bergerak ke belakang, disertai suara tulang lehernya.

Krek.

Krek.

Krek.

Kedua mata sang atasan yang berkilat marah tertuju pada Grim, membuat pemuda itu semakin berkeringat dingin. Darah segar mengucur dari luka lengannya, tanpa niatan untuk melepas garpu yang sudah tertancap di sana.

"Bagiku, berita matinya Jewelic dan Xaiphos miliknya jauh lebih bagus," kemudian dari bibirnya terbentuk senyum lebar yang menyeramkan. Senyum seorang psikopat lebih tepatnya. Sang bawahan mengangguk patuh, sekaligus menahan sakit di lengannya. Grim berharap jika sendi-sendi di lengannya masih bisa berfungsi dengan baik setelah ini.

Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ

Tap.

Aichi mengeratkan pegangannya pada lengan Kai, akhirnya kedua kakinya bisa menyentuh daratan, setelah selang waktu tujuh belas menit melayang bersama Xaiphos. Kepalanya sedikit pening, mungkin lain kali ia akan meminta Kai untuk pelan-pelan. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk itu―

DHUAR.

DHUAR.

DHUAR.

DHUAR.

"Sepertinya tentara sudah bergerak," Kai berkomentar datar. Aichi mengangguk kecil. Akhirnya mereka sampai di perbatasan antara Kota Ghina dengan hutan, tempat dimana Kai merasakan signal Xaiphos hitam. Tentu saja Aichi tidak akan membiarkan makhluk itu leluasa bergerak dimana pun. Sekalipun ini bukan dunia miliknya.

Mereka berhenti tepat sepuluh meter di belakang para tentara yang tengah berkerja. Aichi menatap makhluk-makhluk hitam yang tengah berusaha mendekati daerah kota, dimana manusia-manusia yang mereka incar berada disana. Pasukan yang ada pun tampaknya sudah kewalahan. Bukannya maju, justru perlahan-lahan mereka mundur.

Sulit untuk membunuh satu saja dari kanibal menjijikan itu. Aichi tahu, karena ia pernah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Bagaimana monster itu mengacaukan festival sekolah miliknya, merengut nyawa orang-orang yang berarti baginya. Pemuda bersurai biru itu menggertakan giginya penuh amarah.

Seumur-umur, belum pernah ia merasa sekesal dan sedendam ini. Mungkin dirinya tak lagi berhati tulus dan suci.

"Kai-kun, ayo kita bantu mereka!" Kai mengangguk, keduanya pun berlari ke arah tentara-tentara amatir yang tengah berusaha memukul mundur Xaiphos hitam. Ketua dari pasukan yang ada berkeringat dingin, ia tidak tahu harus bagaimana lagi.

Mereka sudah mengusahakan apa yang mereka bisa. Tapi jumlah musuh tak terbatas. Sementara angka pasukan mereka berkurang karena sudah dimakan hidup-hidup oleh kanibal hitam, tak sedikit dari yang hilang justru berbalik menjadi musuh.

Apa maksudnya?

Beberapa dari yang hilang tidak dimakan, mungkin Xaiphos hitam itu sudah kenyang dengan daging rusa. Tapi sebagai gantinya, mereka memuntahkan cairan hitam ke tubuh manusia. Membuat manusia itu berubah wujud menjadi yang tidak seharusnya.

Xaiphos hitam.

"Komandan, jumlah peluru semakin menipis! Pasukan dari pusat pun belum tiba kesini! Apa yang harus kita lakukan!?" salah seorang sekretarisnya berlari tunggang langgang ke arah sang ketua. Raut wajahnya terlihat panik dan putus asa, tidak ada bedanya dengan pemuda lainnya.

"Ukh," orang yang disebut-sebut sebagai ketua mengepalkan tangannya erat. Kedua matanya terpejam, detak jantungnya sungguh tidak beraturan. Ia sendiri panik, dan di tengah kepanikannya ia tidak bisa berpikir jernih untuk memberi komando anak buahnya.

Akibatnya?

Tentara di bawah perintahnya mati karena ulahnya.

Apa ia masih bisa disebut kualifikasi seorang ketua? Atau komandan? Ia bahkan memandang jijik pada dirinya sendiri. Sekarang semua anak buahnya sedang berjuang mati-matian, dengan jantung mereka sebagai taruhannya. Lalu apa dirinya hanya tahu berteriak komando tak berarti?

"... ? Komandan?" sekretaris tadi kebingungan karena tak mendapat jawaban dari atasannya.

"Berhenti memanggilku komandan ..."

"Apa?" Sang ketua mengernyitkan dahinya, membuat kerutan samar di wajah keriputnya semakin terlihat jelas.

"BERHENTI MEMANGGILKU KOMANDAN, APA KAU TIDAK DENGAR!?"

DEG.

Semua anak buah yang masih sibuk menembakan peluru dengan bazoka mereka mendengar jelas ucapan sang ketua. Mereka tak berani menengok ke belakang, dimana ketuanya berdiri mengawasi kerja mereka. Tapi mereka bisa merasakan hawa yang tidak baik. Apa ketua mereka angkat tangan dengan usaha mereka?

"JANGAN PANGGIL AKU KOMANDAN, AKU SAMA SEKALI TIDAK PANTAS DENGAN SEBUTAN ITU! KALIAN JUGA, KALAU MASIH INGIN MENYELAMATKAN NYAWA KALIAN, SEBAIKNYA KALIAN LARI SAJA! BIARKAN AKU DISINI!" seruan itu tak ayal membuat beberapa tentara tersisa membelalak mata. Salah satu dari mereka berhenti menembak dengan bazoka-nya dan menengok ke arah orang yang selama ini dipanggilnya ketua.

"Apa-apaan maksudmu, Komandan!? Kami tidak mungkin lari dari tugas kami! Kota Ghina sedang dalam posisi terancam!" serunya dengan raut wajah tak percaya. Raut panik tercetak jelas disana. Sang ketua tak bisa menyahut apapun.

"Benar, dan kalau sampai kita gagal mempertahankan Kota Ghina, maka daerah Inerbolg lainnya juga akan diinvasi Silence Silk! Kami tidak akan membiarkannya!"

DHUAR.

DHUAR.

"Gyaaaah ..."

"Semuanya! Ada tiga ekor Xaiphos hitam dari timur hutan! Siapkan senjata!" mereka pun kembali mengisi peluru dan berkonsentrasi pada tugas mereka. Rasa lelah memang sudah melekat, tapi keadilan dan kebenaran yang berakar di hati tidak membuat mereka menyerah. Peluru demi peluru terus melesat menembus tubuh-tubuh hitam dan berlendir Xaiphos hitam.

"Benar, Komandan," sekretaris tadi memegang pundak sang komandan dengan erat, membuat pria itu menoleh, "Anda tidak boleh menyerah! Kami juga akan berusaha sebisa kami―"

DUM.

Perkataan pemuda itu terpotong oleh sebuah benda besar yang menutup sinar matahari dari kedua insan itu. Komandan tadi melotot ke arah benda besar yang berada tepat di depannya, dirinya terlalu syok untuk berkata-kata. Sementara pemuda lainnya yang terkejut langsung menoleh ke arah belakangnya dan―

GREP.

"HUWAAA!"

―Xaiphos hitam berlidah panjang di belakangnya langsung menggenggam tubuhnya. Sontak semua tentara yang tadi sibuk dengan musuh-musuh di hutan pun terkejut dan menengok. Beberapa diantaranya menganga mulut, tidak menyangka jika ada serangan dari belakang―dan sedekat ini.

"Bagaimana bisa dari arah Kota Ghina!?"

"Mereka pasti membelok dari sisi hutan yang tidak terjaga oleh kita! Mars dalam bahaya!"

Tentu saja kepanikan di hati mereka semakin membesar. Xaiphos hitam yang mengenggam tubuh teman mereka tergolong besar. Salah serang sedikit saja, nyawa teman mereka akan melayang. Sekretaris bernama Mars itu langsung menangis dan merontah-rontah minta lepas. Jantungnya berpacuh kencang, ia menatap pria yang dipanggilnya komandan dengan tatapan memohon.

"Ko-Komandan ... tolong aku!"

Pria itu hanya mampu ternganga tanpa bisa bergerak sedikit pun. Matanya menatap anak buah yang sebentar lagi meregang nyawa. Baru saja rasa percaya diri di hatinya pulih, sekarang merosot begitu saja. Ia ingin sekali memukul dan menendang makhluk yang selama ini menghantui kedamaian mereka. Tapi tenaganya sama sekali tidak mencukupi, cukup dengan melihat makhluk itu dari jarak dekat sudah membuat tenaganya merosot.

'Tidak, jangan anak buahku yang mati ... kenapa tidak aku saja ... komandan tidak berguna sepertiku ...'

"Kita harus menyelamatkan Mars segera!"

"Komandan, beri perintah!"

'Orang sepertiku ... tidak berguna ... tahunya hanya menyandang status sebagai komandan ... aku'

"Emneda Bioc!"

BHUAK.

Sang Komandan, juga anak-anak buahnya, langsung terperangah syok. Xaiphos hitam yang hampir saja melahap manusia di genggamannya tadi tiba-tiba terpukul oleh sebuah sinar. Tidak hanya itu, Xaiphos tadi bahkan menghilang seutuhnya, tanpa bersisa sedikit pun anggota tubuhnya yang hidup.

Mars, pemuda yang baru saja selamat dari maut pun tersenyum kaku, ia menatap kedua tangannya, masih utuh. Ia melihat ke sekitarnya, dimana semua orang memasang tatapan sama, yaitu kekaguman.

"Xaiphos tadi, lenyap ..."

"Hei, tidak hanya dia, bahkan Xaiphos hitam yang tadi mendekati kita juga ..." tidak melanjutkan ucapannya, ia menunjuk ke arah Xaiphos-Xaiphos hitam yang menggeram kesakitan tak jauh dari mereka. Semuanya menatap takjub tatkala Xaiphos hitam itu langsung lenyap setelah beberapa detik menggeram sakit.

"Kalian tidak apa-apa!?" seruan itu membuat semuanya tersentak. Belum sempat menghilang keterkejutan mereka, sekarang ada dua pemuda asing mendekat ke arah mereka. Yang pertama adalah pemuda berjubah putih, satunya lagi ber-blazzer hitam.

Tentu saja, pemandangan itu membuat semuanya menyimpulkan bahwa, perbuatan tadi disebabkan oleh kedua pemuda yang datang tiba-tiba. Aichi, figur yang mengenakan jubah putih segera menghampiri pemuda yang tadi hampir dimakan.

"K-Kau yang ... menyelamatkan hidupku?" pemuda itu bertanya pelan. Dan Aichi hanya tersenyum lembut dan mengulurkan tangan, bermaksud membantunya berdiri.

"Siapa kalian sebenarnya? Tadi itu ... kekuatan apa?" sang komandan pun ikut melempar pertanyaan. Siapa yang tidak takjub dengan kekuatan superanatural tadi? Ia pun menjadi salah satunya. Mungkinkan kedua pemuda ini akan membalikan keadaan?

Aichi menatap ke arah pemuda satunya lagi, Kai tak banyak komentar. Ia hanya memberi signal positif dengan mengangguk, membuat Aichi memasang raut wajah serius.

"Maaf, sekarang tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kami akan membantu kalian untuk melindungi Kota Ghina, dan aku mendapatkan sebuah ide. Jadi tolong dengar instruksiku," Aichi berujar dengan suara mantap. Sekalipun ia tidak menjamin idenya ini bagus, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Toh' ia sudah sering memenangkan permainan catur karena pintar berstrategi.

Ia tidak akan main-main pada keputusannya.

"Komandan, bagaimana?" salah satu dari tentara yang tersisa pun bertanya pelan. Semua saling bertukar pandang. Sejujurnya masih banyak pertanyaan atas aksi singkat tadi. Tapi memang benar apa yang diucapkan Aichi, sekarang bukan waktu untuk menjelaskan. Xaiphos hitam pastinya akan bertambah sehubung pelindung kota belum ditutup.

Kedua sosok misterius di hadapan mereka pun masih menyimpan banyak misteri, tapi tidak ada cara yang lebih realistis untuk bertahan―

"Baiklah, katakan idemu, Anak Muda."

―selain berkerja sama dengan mereka.

.

.

.

Significance Essense

"If you touch the second world, don't try to escape from them..."

To Be Continued...

.

.

Information Fiction:
- Karena serangan Silence Silk menghantui Savhalon, beberapa negara yang masih aman dari serangan pun membangun dinding pelindung (barrier) yang merupakan perbatasan antara negara aman dengan negara yang sudah diinvasi Silence Silk. Hanya beberapa penyihir yang bisa melapisi barrier. Dan setiap setengah tahun sekali, para penyihir itu akan diminta pemimpin negara untuk kembali melapisi barrier-nya agar tidak dibobol musuh.

Biodata Character:
-NONE FOR THIS CHAPTER-

A/N: Jangan marah, ya, karena update-nya lama. Kan chapter kemarin sudah di-wanti-wanti kalau sekarang kami bakal ngaret, hehehe. Di dunia nyata super sibuk. Dan kami juga sesekali mencoba menonton anime yang lainnya. Bagaimana dengan chapter ini? Kami tidak yakin deskripsi kami pada bagian aksinya sudah pas atau tidak, sungguh masih amatiran *ngaku*. Fufufu, masih pada muter otak sama kasus Rei, kah? Bersiaplah karena itu baru awal dari segalanya *diventung*

Reply Review:

Cece Lagi Galau: Fufufu, iya, KaiChi-nya angin-anginan tuh. Di sini Kamui memang lebih pendek dari Aichi, tapi umurnya lebih TUA *Kamui: nggak usah di-capslock, kampret!* Pasti semangat dong buatnya, terima kasih atas dukungannya.

AnimeLover and Dr. Tom: Hehehe, iya, di sini gantian Kamui yang lebih tua, fufufu, walau pendeknya tetap. Kai bersin nggak sama yang kayak di Mini Van, lho, kalau nggak genre fict ini plus humor, dong *peace* Senangnya kalau ini fic CFV kesukaanmu, kami semakin bersemangat!

Snowy Coyote: Hehehe, 'kan nggak setiap chapter Jun-nya muncul, tunggu situasi dan kondisi yang tepat. Wah, eclips chapter kemarin lupa diganti, maafkan kami, buatnya sambil ngantuk-ngantuk, sih *alasan-saja* Terima kasih atas dukungannya!

Yuichiiiiii: Iya, Lee di sini nggak barengan dengan dua anak SIT (Chris dan Ali) yang lain.

Red Dracokid: Oke, Vermillia. Disable? Maksud Vermillia discontinued, yah? Doain semoga kami tidak disangkut macam-macam kendala, ya, supaya kami bisa update terus untuk pembaca-pembaca tercinta *halah* Terima kasih.

Yumekawa: Covernya kenapa? Terlalu bling-bling? *dihajar* Hehehe, iya, nih, KaiAichi-nya makin mesem-mesem. Kamui lebih tua nggak apa-apa, dong, biar nggak dianggap anak kecil terus, hahahaha.

Yuu The Layangan: Komiknya ada, kok. Cek saja di album fb Gane. Fb Saki lagi sekarat soalnya, nggak ada apa pun. Makin ngefans sama JunMiwa? Asyik, dong. Semoga Kai nggak ngambekan lagi sama Aichi, hehehe. Pasti lanjut terus, dong.

Izumo Mikoto: Maaf jika update-nya ngaret, nggak secepat seminggu sekali seperti kemarin-kemarin. Soalnya Saki sedang menghadapi jadwal padat, sedangkan Gane mau ujian. Maaf banget, ya. Kalau penasaran ikuti terus ceritanya, nanti juga tahu, kami nggak mau spoil, hahahaha.

Kujo Kazusa: Masih ingat, dong. Kangen sama kamu. Mungkin Kujo orang pertama yang bilang cerita ini complicated, kami senang sekali bisa membuat gambaran seperti itu melalui tulisan kami. Jangan lempar Kai-nya, nanti kalau dia babak belur, fict-nya nggak lanjut-lanjut karena ada pemain yang luka *bah* Amin, cerita ini nggak bakal discontinued, selama kecelakaan dua fict lainnya tidak menimpa fict ini, hehe.

Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)

Sincerely,
3 Februari 2014
Hyucchi a.k.a Milkshake Kuroko Milkyland