Significance Essence
Cardfight! Vanguard fiction from © Hyucchi
Cover madeby © Hyucchi.
SO DON'T TRY TO STOLE AND MAKE IT YOURS!
Disclaimer:
Cardfight! Vanguard belong to Bushiroad, it's not our own
Genre(s):
Superanatural, Fantasy, Romance, Horror, Angst, Mistery, Adventure, Crime, Suspense.
Main Pairing:
Kai x Aichi
Rating:
T+ (for violence, horror, and angsty)
WARNING(!):
AU (alternative universe) story, karakter OOC, Half OC, cerita sesuka fantasi author, misstypo beredar seperti tawon tanpa sarang, penulisan tidak sesuai dengan EYD, shounen-ai, romansa bukan rating utama, ReverseKai mode later, beberapa karakter menggunakan kartu Vanguard (ex: Ezel, Beaumains, etcs), characters death, bloody scene, action-scene masih amatir, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
We're already told you before!
Enjoy the fiction~
.
.
ᴲᶳᶳᶟᶯᶜᶟ₁₀ A Miracle Essence
Tidak bosan-bosannya Miwa mondar-mandir di ruang pemancar signal. Entah panik, stress, depresi, bingung, semuanya bercampur aduk di dalam hatinya. Sesekali matanya melirik ke arah beberapa anak buahnya yang berkerja. Semuanya sibuk mengetik dan memantau layar monitor masing-masing, mereka berkerja secara profesional.
Seharusnya Miwa lebih tenang melihat itu, tapi sepertinya ia tidak akan berhenti mondar-mandir jika―
"Miwa, coba lihat."
―tidak ada perubahan.
Kedua manik peraknya langsung melotot ke arah layar, di mana Jun masih memantau signal-signal yang terkirim. Sementara pemilik obsidian itu mengukir sebuah senyum, "Kai dan Aichi sudah tiba disana. Posisi berbalik," ucapnya tak bisa menyembunyikan rasa senang di hati.
Tidak salah ia menaruh harapan pada kedua pemuda itu. Dan fakta bahwa Aichi adalah Jewelic sudah terbukti 100%. Titik-titik merah yang melambangkan Xaiphos hitam di layar kini jumlahnya semakin sedikit, padahal sebelumnya mereka sempat panik karena jumlah kanibal mengerikan itu membludak.
Miwa melongo tak percaya. Ia tidak punya satu dua kata untuk menyangkal fakta keberadaan Jewelic satu ini. Tidak lagi.
"Hebat ..." ia berkomentar pelan seraya melangkah mendekati Jun yang memunggunginya.
"Ya, tapi ini baru awal," Jun menyahut lalu tertawa kecil, "aku sudah pernah bilang, 'kan. Lambat cepat, esensi perasaan mereka pasti akan bersatu." dan Miwa tak menyahut sama sekali selain memandang layar kehijauan di depan matanya.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Satu Xaiphos hitam di bagian timur tengah! Tembak!" seru komandan, melentangkan tangan kanannya tinggi. Tentara yang bertugas di sebelah kanan pun mulai mengambil ancang-ancang dan―
DHUAR.
DHUAR.
―menembakan peluru-peluru panas ke arah kanibal hitam yang mulai mengambil langkah keluar hutan. Kepala dan anggota tubuh lain Xaiphos hitam itu hancur karena peluru yang menghantam mereka.
"GRUOOH!"
Tapi seperti yang dikatakan sebelumnya, hal itu tidak langsung membuatnya mati di tempat. Sekalipun hanya bersisa kaki, benda itu tetap berusaha berjalan keluar. Tentara yang bertugas menggeram kesal dan kembali melayangkan peluru berikutnya.
DHUAR.
"Lapor, Komandan! Kami sudah membuat perangkap di semua jalur menuju Kota Ghina!" salah seorang pemuda berpakaian militer berlari menghampiri sang ketua dari arah kota. Pria lainnya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kerja bagus, terus awasi kota. Jangan sampai ada seekor pun dari mereka bisa masuk ke dalam Ghina."
"BAIK!"
Ketua berkulit sedikit keriput itu memandang tajam ke arah hutan. Ia terkesima dengan kondisi mereka yang sekarang berbalik unggul untuk mempertahankan wilayah. Formasi dan strategi ini seutuhnya ide dari pemuda bersurai biru yang tadi datang menolongnya, dan sekarang figur itu sedang masuk ke dalam hutan untuk mencari pelaku dari semua ini.
Ya, tentu saja, sang komandan tahu jika anak itu tidak hanya masuk, tapi juga membasmi semua Xaiphos hitam yang mereka temui di sana. Hal itu menyebabkan sedikit sekali Xaiphos hitam yang keluar dari hutan, para anggota militer yang siap siaga di luar hutan pun menjadi ringan bebannya.
Ia tertunduk pelan, seiring angin dingin yang membelai punggungnya, teringat akan beberapa menit yang lalu.
"Baiklah, katakan idemu, Anak Muda."
Aichi berdehem kecil sebelum melanjutkan kalimatnya, "Boleh aku tahu berapa jumlah pasukan yang ada sekarang?" kemudian komandan itu mulai menghitung jumlah anak buahnya yang masih tersisa sekarang. Semuanya kembali disibukan dengan datangnya beberapa Xaiphos hitam yang baru keluar hutan.
"Dua puluh tiga orang." jawabnya singkat. Aichi manggut-manggut mengerti, ia memandang berapa panjangnya hutan dan jarak antara hutan dengan kota.
"Begini, aku ingin pasukan dibagi menjadi empat bagian. Satu kelompok berkisar empat sampai lima orang. Mereka menjaga setiap sisi hutan. Agar tidak ada Xaiphos hitam yang keluar dari sisi yang tidak terlihat oleh kalian kemudian mengendap dari jalan yang lebih jauh menuju kota," ketua pasukan mengernyitkan dahinya. Ia tahu jika kemungkinan adanya kanibal keluar dari sisi sepi tidaklah kecil, tapi berjaga jauh-jauh begitu, ditambah banyaknya jumlah musuh―
"Belum selesai disana, pasukan yang berjaga hanya tiga bagian. Satu bagiannya terlebih dahulu memasang perangkap jaring atau duri di perbatasan kota menuju hutan. Hal tersebut memang tidak bisa membuat Xaiphos hitam mati, tapi setidaknya kita bisa mengulur waktu sebelum warga diserang," Aichi kembali mengucapkan strategi yang terlintas di benaknya. Pasukan lainnya yang masih sibuk menembak atau mengisi peluru pun ikut mendengar. Ide Aichi memang lebih baik daripada mereka terus menembak-nembak di sisi yang sama seraya menunggu pasukan pusat datang.
"Setelah perangkap selesai dibuat, pasukan yang tadi tidak ikut menembak harus mengevakuasikan warga kota ke sisi yang jauh dari perbatasan menuju hutan. Dalam waktu itu, pasukan pusat pasti akan segera tiba. Sebaiknya pasukan yang masuk dalam bagian menembak adalah anggota yang gesit dan cepat," ketua pasukan terdiam. Ia sedikit terkejut dengan strategi yang dibuat anak muda di depannya. Masuk logika dan tidak buruk untuk dilakukan.
"Begini, aku mengerti strategimu. Tapi bagaimana dengan ... pasukan yang masuk dalam tiga bagian tadi? Jumlah mereka terlalu sedikit, bagaimana bisa―"
"Bisa." Aichi memotong cepat sebelum pria berwajah keriput itu menyelesaikan ucapannya. Dengan tangan kirinya Aichi menunjuk ke arah hutan, "Aku dan dia akan masuk ke dalam hutan, kami akan mencari biang keladinya. Di tengah perjalanan, kemungkinan kami bertemu puluhan Xaiphos hitam sangat tinggi, kami akan menghancurkannya dengan kekuatan tadi. Apa hal tersebut bisa meringankan beban pasukan yang berada di garis belakang?"
Deg.
Kini sang komandan tak bisa berucap apapun. Hampir saja ia lupa dengan kekuatan hebat yang dimiliki mereka, kekuatan yang membumihanguskan beberapa Xaiphos dalam hitungan detik, tanpa bersisa satu anggota pun dari monster itu. Rupanya inti dari strategi ini adalah membantu kedua pemuda itu untuk mencari biang keladi dari hancurnya dinding pelindung Negara Inerbolg.
"..."
"Baiklah." pemuda bermanik biru itu tak bisa menahan senyumnya tatkala ide darinya diterima dengan baik.
"SEMUANYA, KITA BAGI KELOMPOK MENJADI EMPAT BAGIAN!"
Kedua mata sipit miliknya terus mengawasi tiap kelompok yang berjaga berjauhan. Benar, jumlah Xaiphos hitam yang keluar hutan sekarang menjadi lebih sedikit. Bahkan lebih tepatnya menurun derastis. Paling-paling hanya satu dua ekor yang berhasil lolos dari hutan, dan tentu saja hal itu bisa dibereskan pasukan belakang tanpa halangan.
'Siapa sebenarnya mereka berdua?' pria paru baya itu menengada kepalanya, memandang langit yang sedikit mendung.
Di seumur hidupnya, ia tidak pernah menyaksikan kekuatan sebesar itu dengan mata kepalanya. Kalau ada Xaiphos hitam menyerang, mereka hanya bertahan dengan pasukan yang ada. Persentase kematian pun selalu ada. Tak pernah terbesit di pikirannya yang sudah memasuki usia tua ini, untuk melihat yang namanya keajaiban.
Ia terkesima, kagum, dan tak bisa berkata sepatah kata pun.
Keberadaan kedua pemuda tadi bagaikan sebutir cahaya yang menyinari kegelapan. Sungguh suatu anugerah yang luar biasa. Kalau yang dulu hanya bisa pasrah menerima kekalahan, apa sekarang belum terlambat untuk menaruh harapan pada mereka?
Mempertahankan satu-satunya harapan, agar kelak negeri mereka bisa kembali disinari mentari hangat setiap harinya. Tanpa sadar, pria itu mengukir sedikit senyum, air matanya menetes.
'Padahal tadi aku sudah menyerahkan hidupku, tapi kenapa ...'
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Emneda Bioc!"
Whoosh.
Whosh.
Beberapa monster hitam yang datang menerjang pun kembali bernasib malang, satu kata mantra itu langsung saja melenyapkan tubuh mereka tanpa ampun. Kai menelusuri hutan semakin dalam. Setitik hitam saja yang ditangkap matanya, ia akan langsung menghabisinya. Tanpa sisa.
Sayap putih miliknya kini berwarna kebiruan, karena adanya sang 'pasangan' yang sudah bersatu dengannya. Ini kedua kalinya ia dan Aichi bergabung menjadi satu dan saling melengkapi satu dengan lainnya.
Aichi yang tidak mempunyai skill bertarung sama sekali, bisa bersembunyi dengan aman di dalam tubuh Kai. Sementara pemuda bermata emerald itu bisa menghemat energinya dengan kekuatan dari Aichi.
Sudah berapa Xaiphos hitam yang tadi ia tebas, tapi Kai sama sekali tidak merasakan kelelahan. Mungkin inilah keunggulan bersatu dengan 'pasangan'nya. Kekuatan di dalam tubuhnya meluap-luap, sampai-sampai menghabisi seribu Xaiphos lebih pun rasanya bisa dilakukan dalam hitungan jari.
'Kai-kun, apa kita sudah semakin dekat dengan dinding perbatasan yang bocor itu?' suara Aichi dari sana bertanya. Kai langsung melirik ke arah sekitarnya. Lagi-lagi ada belasan Xaiphos hitam yang berhamburan ke arah berlawanan. Ia langsung melayangkan gumpalan angin kencang dari tangannya―lagi.
"Emneda Bioc!"
Byassh.
Whosh.
'Sepertinya iya, karena jumlah Xaiphos hitam semakin banyak. Kita semakin dekat dengan titik dimana mereka berasal,' Kai membalas dalam hati. Semacam telepati, dan tentu saja hanya sang Jewelic yang bisa mendengarnya. Ia terus berlari dengan kecepatan tinggi ke dalam hutan, semakin dalam sampai-sampai menemukan beberapa ekor Xaiphos hitam yang bertubuh sedikit besar.
Disisi lain, Aichi semakin penasaran dengan dalang di balik semua ini. Orang tega seperti apa yang mengumpan lainnya dengan membocorkan barrier milik negara lain? Ia kembali teringat dengan sekolahnya yang dimakan habis-habisan oleh kanibal menyeramkan itu. Mungkinkah orang yang sama?
Jika iya, Aichi bersumpah tak akan memaafkannya. Ia benci pada penderitaan dan dunia yang penuh dengan keputusasaan. Dunia miliknya pernah direngut, dan Aichi sama sekali tidak ingin dunia yang ini sepenuhnya jatuh dalam kegelapan.
Hah.
'Ada cahaya, Kai-kun!'
Pemuda bersurai brunet itu langsung melirik ke arah yang ditunjukan Aichi. Benar, ada setitik cahaya di sana, pasti jalan keluar sudah di depan mata. Terlihat jelas dari banyaknya Xaiphos-Xaiphos hitam yang masuk ke dalam hutan melalui celah tersebut. Kai menajamkan matanya. Dilebarkannya kedua sayap kebiruan miliknya lalu melesat kencang.
"Emneda Bioc ..."
Byash.
Byash.
Byash.
"Gyaaah!" rupanya pemuda ber-blazzer hitam itu sedikit meremehkan. Jumlah Xaiphos hitam kali ini lebih banyak, bunuh satu datang sepuluh. Ia sedikit menggertakan giginya. Kembari diarahkannya gumpalan angin yang sudah terkumpul di tangan.
Aichi memandang khawatir ke arah Kai, ia langsung memejamkan matanya dan―
"Emneda Bioc!"
BYASH.
BYASH.
Whoosh.
Whoosh.
Kai sedikit terperanga di tempat. Ia memandang ke arah tangannya. Padahal ia hanya mengeluarkan kekuatan dengan bobotan yang sama dengan sebelumnya, tapi semua Xaiphos hitam tadi langsung lenyap sampai ke ujung-ujung.
'Jangan-jangan ...'
'Ehehehe, sepertinya aku mulai mengerti bagaimana mengirim kekuatan untukmu, Kai-kun,' suara Aichi kembali menginterupsi. Dari nadanya, pasti anak itu sedang menggaruk-garuk punggung kepalanya yang tidak gatal. Pemuda bertubuh atletis itu langsung terdiam, rupanya ini perbuatan 'pasangan'nya.
Tanpa sadar, si brunet mengukir sedikit senyum. Aichi mengerti kondisinya dan menolong, kenapa hal kecil seperti terasa hangat di hatinya?
'Sedikit lagi!' ia berhasil keluar dari celah cahaya yang cukup besar itu.
Syut.
Deg.
Aichi melihatnya dengan jelas, banyak Xaiphos hitam yang berbondong-bondong masuk melalui sebuah celah. Barrier berwarna ungu pucat itu menampakan retakan di satu sisi, dan kanibal-kanibal hitam dari dalam sana tak henti-hentinya masuk.
Tapi, bukan hal itu yang membuatnya terkejut. Sebuah balon bulat besar yang bergerak tertiup angin, balon itu pernah digenggamnya. Hal yang sama pula pada Kai, ia merasa familiar pada benda bulat itu. Seharusnya masih ada di tangan Aichi―
'Anak itu ... Lee!' Aichi berseru pelan. Balon bulat itu digenggam oleh seorang bocah kecil. Rambut hitam dan pakaian anak itu membuat Aichi semakin yakin. Bocah yang kemarin diberikannya balon adalah dia.
'Lee? Siapa yang kau maksud Aichi? Kau memiliki kenalan disini?' Kai mengirim telepati. Keberadaan mereka berdua sementara tidak disadari bocah itu, karena dia sedang memunggungi Kai. Aichi terdiam, ia baru teringat kalau Kai tidak mengenalnya, ia pun baru menemuinya kemarin.
Tapi―
Nging.
Kai mengernyitkan dahinya. Bocah itu dengan beraninya berdiri di depan barrier yang bolong. Banyak Xaiphos hitam yang menyerobot masuk dari sana. Tapi kenapa bocah itu tidak takut―oh, bahkan pertanyaan yang lebih tepat adalah, kenapa monster menjijikan itu tidak memangsanya?
Semua Xaiphos hitam yang keluar melewati bocah itu dan berlari ke dalam hutan. Tidak satu pun dari mereka yang menatap lapar ke arah tubuh kecil itu lalu menyerangnya, 'Tapi bagaimana bisa?'
Jantung Aichi berdetak kuat, ingin rasanya ia menyangkal jika bocah manis itu adalah pelaku dari semua ini. Namun sang figur yang tidak diserang sama sekali oleh kanibal hitam, membuat Aichi semakin yakin bahwa anak itu adalah sekutu musuh.
'Aichi, mereka mendekat ke arah kita. Mau menyerangnya atau hanya menghindar?' Kai bertanya, lagi-lagi dengan telepati. Ia merasa harus berhati-hati dengan anak itu. Dia pasti bukan anak biasa. Karena itu ia memberi 'pasangan'nya pilihan, yang mungkin termasuk dalam bagian berstrategi.
'Serang, biarkan anak itu tahu.'
"Baiklah ..." Kai berujar kalem, tangan kirinya terangkat pelan ke atas, lalu ia mengayungkan gumpalan angin ke arah kanibal-kanibal itu.
"Emneda Bioc!"
"Hah!?" bocah berkacamata minus itu terbelalak kaget. Ia menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat semua makhluk hitam tadi hilang dalam sekejap. Matanya membulat kaget. Kini kedua matanya menangkap suatu sosok yang berjalan mendekat ke arahnya.
Kedua sayap besar itu, Lee langsung membulatkan matanya, "Xa ... Xaiphos ... putih?"
Tanpa diminta, pemuda satunya lagi kembali menciptakan gumpalan angin di tangan lalu menembaknya, tepat ke arah Xaiphos-Xaiphos hitam yang baru ingin memasuki lubang.
Bwosh.
"Wakh!" bocah itu mengarahkan kedua tangannya di depan wajah, ingin melindungi diri. Angin kencang tadi lewat begitu saja darinya. Menghantam sosok hitam yang paling ditakuti semua orang.
"Gyaah―"
Dan dengan kedua telinga kecilnya ia bisa mendengar, suara kesakitan monster itu. Lee mengangkat kepalanya lagi dan menoleh, benar saja, lubang tadi langsung kosong. Xaiphos hitam yang tadi menumpuk disana juga dihabisi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Kai bertanya pelan, matanya menghunus tajam amber milik anak itu. Lee tercekat seketika, pemandangan yang sama sekali tidak ia duga. Xaiphos putih berdiri di hadapannya, bahkan berbicara dengannya.
Tapi sesaat kemudian, Lee tersenyum sinis. "Tidak ada urusannya denganmu."
"Bagaimana bisa mereka tidak menyerangmu yang berdiri tepat di depan mata?" Kai kembali melempar pertanyaan berbeda. Sesekali matanya melirik ke dalam celah barrier, berjaga-jaga kalau ada Xaiphos hitam yang ingin masuk dari sana lagi.
Lee terdiam, tangan kanannya memegang balon, tangan kirinya memegang sebuah bola hitam. Dengan percaya dirinya ia menunjukan bola kecil itu ke hadapan Xaiphos putih di depan. "Dengan ini."
Nging.
"Ukh!" Kai menggeram pelan, bola itu mengeluarkan suatu gelombang aneh. Ia bisa merasakannya dengan jelas, gelombang yang membuat pendengarannya terganggu. Tetapi kesakitan itu hanya sementara, karena mendadak ia merasakan kekuatan dari dalam tubuhnya.
Mungkin Aichi yang melakukannya. Lagi-lagi ia ditolong sang Jewelic amatir.
"GRRRRH ..."
DUM.
DUM.
DUM.
Beberapa Xaiphos hitam dari arah luar barrier datang mendekat, mereka bergerak masuk ke dalam celah barrier yang masih belum tertutup, 'Kai-kun, bola itu punya pengaruh yang aneh, seperti bisa mengendalikan makhluk hitam itu. Kita harus bisa merebutnya!' suara Aichi berujar.
Kai berpikir sejenak, kemudian setuju dengan pendapat Aichi. Pemuda itu memang pandai mengira dan berstrategi, ia sangat menguntungkan Kai. Dugaannya cukup realistis karena begitu bola itu bereaksi, sekitar empat Xaiphos hitam langsung datang. Mereka bahkan tidak menyerang bocah bersurai hitam itu―lagi.
'Itu mudah.' Kai membalas pelan―melalui telepatinya.
'―tapi tolong jangan lukai anak itu, kumohon ...' suara Aichi terdengar memelas. Dan sekalipun tadi terlintas di benak Kai untuk menghabisi bocah itu, ia segera mengurungkan niatnya. Aichi sudah memohon baik-baik padanya, cukup masuk akal jika ia menyetujuinya.
'Tenang saja.' Aichi bernafas lega ketika Kai mau menuruti permintaannya. Ia merasa senang jika Kai bisa mengerti dirinya. Ia yakin, suatu hari dirinya akan benar-benar menjadi pasangan yang berguna untuk sang Xaiphos putih.
"Emneda Bioc!"
Whoosh.
Glek.
Lee meneguk liurnya susah payah. Padahal sudah empat ekor Xaiphos hitam yang dipanggilnya, bertubuh kekar dan besar pula. Tapi sekali lagi, mereka tak ada apa-apanya dibandingkan pemuda tampan berstatus Xaiphos putih di hadapannya.
"Ja-Jangan pikir semuanya selesai begini saja!" Lee kembali mengangkat bola hitam tadi. Aura gelap dan gelombang itu kembali memancar, bahkan lebih kuat dari yang tadi. Tapi beruntung bagi Kai, Aichi lagi-lagi melindungi dengan kekuatannya.
Sang Jewelic sudah paham sepenuhnya bagaimana mengirim kekuatan pada Xaiphos-nya dengan baik.
DUM.
DUM.
DUM.
"GRRRH ..."
"WAAH ..."
Lima ekor Xaiphos berbadan besar kembali masuk ke dalam Inerbolg, atas perintah dari bola hitam dalam genggaman Lee. Bahkan besarnya sekitar dua kali lipatnya Kai. Tapi melihat bentuk mereka, Kai tersenyum remeh, "Emneda Bioc ..."
Byash.
"Ukh!" bocah itu tampak terdesak. Percuma ia memanggil puluhan Xaiphos hitam bertubuh besar sekalipun, Xaiphos putih di depannya terlalu kuat untuk menjadi tandingannya. Perlahan ia melangkah mundur, sementara Kai maju mendekatinya.
"Berikan bola itu padaku, terlalu berbahaya jika terus begini," Kai meminta baik-baik sebelum ingin merebut paksa. Sekali lagi, ia masih memegang permohonan Aichi untuk tidak melukainya. Aichi mengenal nama anak ini, mungkin ada sesuatu diantara mereka berdua.
Lee menatap bola hitam di genggamannya, kemudian mengepalnya erat, "Ti―Tidak mau! Sampai mati pun tidak akan kuberikan! Pergi sana!" anak berkacamata minus itu mempertahankan apa yang ada di tangannya. Wajahnya menunjukan raut ketakutan, ia takut jika benda itu hilang darinya.
'Ke-Kenapa dia begitu mempertahankannya?' Aichi berujar tanpa sengaja, walau tidak didengar bocah itu sama sekali, 'Jangan-jangan dia juga yang merusak dinding pelindung? Tapi kenapa anak sekecil ini―?'
Tap.
"Kenapa kau melakukannya?" pemuda bertubuh tinggi itu kembali bertanya dengan suara bass beratnya. Lee―juga Aichi―bersamaan membulatkan matanya mendengar pertanyaan itu. Aichi memandang punggung Kai dengan senyum.
Lagi-lagi Kai mengerti dirinya.
"A ... Aku ..." suara pemuda manis itu terlihat bergetar, dirinya jatuh bersujud dengan masih mempertahankan bola itu dalam genggamannya, "Aku ... tidak punya siapa-siapa lagi. Aku benci dengan semuanya! Aku ingin ... Aku ..." ucapannya tersendat dan mulai terisak.
"―ingin semuanya mati dimakan Xaiphos hitam. Mereka sama sekali tidak menghargaiku!" suaranya menggelegar sampai ke langit yang mendung. Dan suara itu sampai pada hati Aichi, nada yang menyayat hati dan penuh dengan kepedihan. Ia terdiam, tidak menyangka jika semua ini berasal dari seorang anak kecil.
Padahal Aichi sudah siap menghujat siapa dalang dari semua ini. Tapi melihat bocah sekecil itu, menyerukan kepedihannya, kemarahan ini rasanya merosot begitu saja. Pasti ia melakukan semua ini karena suatu alasan.
Sejak bertemu pandang dengannya, Aichi begitu yakin jika ia bukanlah orang jahat. Mungkin Lee hanya kesepian, atau lebih dari itu?
'Kai-kun ...'
'Hng?' Kai menajamkan pendengarannya begitu sang Jewelic memanggil.
'Tadi saat perjalanan kesini, kau bilang memiliki kekuatan untuk menutup barrier, 'kan?' Kai mengangguk kecil tanpa suara sedikit pun.
Aichi menghela nafas, sebelum kembali bersuara, 'Jika tanpa aku, apa kau bisa melakukannya?' Kai mengernyitkan dahinya. Sang Jewelic meminta lepas darinya, apa maksudnya? Ia bisa saja melakukannya, tapi mungkin lebih cepat jika ditambah dengan kekuatan Aichi.
'Kenapa?'
'Begini, aku pernah bertemu dengan anak itu. Aku akan mencoba untuk meyakinkan dan membujuknya untuk menghentikan semua ini. Di saat itu, kau yang menutup barrier sebelum Xaiphos hitam lainnya masuk. Bagaimana?' Kai terdiam sejenak, lagi-lagi anak ini sudah berstrategi lebih dulu sebelum ia berpikir. Mungkin ide kali ini tidak akan membuang waktu. Tapi satu hal yang menganggu pikiran Kai.
Anak itu, bocah bersurai hitam disana sepertinya sangat keras kepala, 'Kau yakin bisa membujuknya?'
Sudah Aichi duga, pasti Kai meragukannya. Ia sendiri pun juga ragu, sebab tidak mengenal anak itu terlalu jauh. Mereka hanya bertemu sekali, balon beruang di tangan anak itulah buktinya. Tapi lebih baik ia bertindak daripada diam tanpa melakukan apa pun. Aichi akan berusaha memahami perasaan Lee dan membujuknya.
Tekadnya sudah kuat.
'Kai-kun, percayalah padaku ...' Aichi berujar pelan, ia berkata dengan ringan. Sementara Lee masih terdiam di tempat, ia sedikit bingung dengan ekspresi Kai yang seakan berkomunikasi dengan sesuatu.
Byash.
"Eh!?" bocah itu lagi-lagi melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Tiba-tiba muncul pancaran cahaya dari tubuh Xaiphos putih, sampai akhirnya kedua mata amber milik Lee bisa melihatnya.
Sesosok figur yang keluar dari tubuh Kai, seiring dengan berubahnya warna sayap sang Xaiphos menjadi putih keperakan. Sinar tadi mulai mengambil wujud, dari ujung kaki sampai rambut birunya. Lee mengerjap matanya tak percaya.
Sosok itu, wujud yang merupakan pasangan dari Xaiphos kuat tadi. Dia adalah―
Tap.
Aichi berdiri di hamparan rumput pendek, ia bertatap mata dengan Lee sekilas. Ia tahu persis jika anak itu terkejut melihatnya, sama halnya Aichi melihat Lee dari dalam Kai tadi. Ia mengulas senyum tipis.
"Kita bertemu lagi, Lee ..." Aichi berujar lembut, sama seperti parasnya. Kai pun langsung mengambil langkah ke arah dinding pelindung yang berlubang dan mulai melakukan proses penutupannya. Ia mempercayakan keberadaan bocah misterius itu kepada 'pasangan'nya.
'Aku percaya padamu, Aichi.'
"Ka ... Kakak, kenapa kakak bisa ... di sini?" kekuatan bocah itu melunak―entah kenapa, ia merenggangkan genggamannya pada bola hitam tadi. Sehingga mata amber-nya kembali melihat pancaran kegelapan di sana. Lee bahkan tidak ketakutan tatkala Aichi mendekatinya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa kamu disini, Lee? Tempat ini sangat berbahaya," Aichi berkata seraya meneruskan langkahnya, "apa yang kamu perbuat juga berbahaya, kamu harus mengerti itu."
Nyut.
Hati anak bersurai hitam itu terasa ngilu. Sosok di depannya mengatakan sesuatu yang benar. Ia tahu persis dengan apa yang dilakukannya, Lee melakukannya dalam keadaan sadar. Melihat semuanya dengan mata kepala sendiri.
"A-Aku ..."
Tep.
Aichi berhenti berjalan, tepat di depan Lee. Kemudian ia berjongkok agar tinggi mereka setara, "Orangtuamu pasti khawatir, jadi hentikan semua ini, ya?" Aichi memiringkan kepalanya, memandang Lee dengan tatapan yang dalam.
Nyut.
"Orangtua ... –ku, sudah tidak ada, Kak. Mereka sudah tidak ada," kini giliran Aichi yang menatap Lee dengan sorot mata tak percaya. Mata amber anak itu menampakan kepedihan, dan ini dia alasan kepedihan di hatinya. Ia menatap Lee dalam diam, menunggu anak itu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Aku, sejak orangtuaku tidak ada, hidup di panti asuhan. Ta-Tapi aku benci berada di sana, mereka sama sekali tidak menghargaiku," tangannya yang semula merenggang kini kembali terkepal erat, sekumpul emosi hatinya tertahan disana. Tak peduli jika kuku tangannya yang menancam di kulit akan melukai dirinya sendiri.
"Bersyukur kau masih bisa hidup di sini, Lee Shenlon!"
"Lakukan sesuatu yang berguna, Shenlon! Kau sungguh mengecewakan!"
"Kh ..." anak itu menundukan kepalanya, seiring dengan kuku-kuku jarinya yang tertancam di kepalan tangan dan mulai terasa perih. Aichi tercenggang seketika, ia ingin melakukan sesuatu, tapi sepertinya Lee masih menyesuaikan diri dengan emosinya.
'Untuk apa aku bersyukur, hidup di dunia yang tidak menghargai keberadaanku―'
"Apa karena itu ... kau melakukan ini?" Aichi bertanya pelan, takut menyinggung anak bermarga Shenlon itu. Lee terdiam, ia mengangkat kepalanya, menatap kedua manik Aichi dalam-dalam, "kau ingin membalas dendam, begitu?"
Lee menghela nafas panjang, hatinya berdenyut nyeri, tapi sekarang tatapannya jauh lebih tenang. "Ya."
Deg.
Aichi memandang miris ke arah Lee. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa anak sekecil ini bahkan memendam kepedihan yang dalam di lubuk hatinya? Seharusnya ia masih layak untuk mengukirkan sebuah tawa, sekalipun kedua orangtuanya sudah tidak ada. Aichi bisa memahami perih di hatinya, karena ia pun pernah kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya.
Kedua orangtuanya, sahabat baiknya, kakek yang dibanggakannya ...
"Lee ..." Aichi kembali memanggilnya, tapi kini dengan suara yang lebih lembut. Hati anak lainnya pun menjadi tenang seketika hanya mendengar suaranya. Tangan Aichi terulur untuk membelai helaian rambut hitamnya.
"Kau ingat, hari pertama kita bertemu?" Lee kemudian memandang balon beruang yang masih ada di genggamannya. Ia sangat menyukai benda itu sampai tidak ingin melepasnya. Ah, atau lebih tepatnya, ia mendapatkannya dari orang yang begitu baik sehingga tidak ingin melepasnya.
"Ya, Kak ..."
Aichi tersenyum manis, senyum yang begitu menenangkan. Pemuda bersurai biru itu menengada kepalanya ke atas, "Kau tahu, saat itu, aku pertama kalinya datang ke tempat ini. Sehingga aku tidak bisa berinteraksi dengan sekitarku dengan mudah," ujarnya pelan seraya memandang langit.
"Aku merasa asing dengan sekitar, karena orangtuaku juga tidak berada disini. Sama sepertimu," Lee membulatkan kedua matanya. Ia memang selalu bersedih tiap mengingat Ayah dan ibunya. Tapi sorot mata shappire Aichi memperlihatkan perasaan yang sama padanya―atau bahkan lebih pedih.
"Saat itu, aku sedang bertengkar dengan seseorang yang juga berarti bagiku. Rasanya memang menyakitkan, Lee. Aku sangat mengerti perasaanmu," kini tangan Aichi turun untuk mengelus pundak Lee. Bocah itu semakin melunak, perasaannya menjadi tidak menentu. Padahal tadinya ia diselimuti kebencian dan berniat membalas dendam.
'Tapi ... perasaan ini ...'
Grep.
Laki-laki yang lebih tinggi kemudian menggenggam kedua tangan anak itu, "Waktu bertemu denganmu ... Kau tahu? Kau orang pertama yang berbicara denganku di sana. Kau menanyakan namaku, mengajakku berbicara, aku sangat menghargai itu ..."
Tes.
Dan air mata bocah berkacamata itu langsung tumpah, tanpa Lee menyadarinya, "Berhenti berbuat seperti ini, Lee. Aku di sini, bersamamu. Kau tidak sendirian,"
Lee membulatkan kedua mata amber-nya. Hanya sepatah kalimat itu, belenggu di hatinya terasa lepas. Denyut di hatinya sudah tidak terasa apapun lagi. Tanpa sadar, air mata mengucur begitu saja. Ia langsung menjatuhkan bola hitam tadi, memeluk erat-erat sosok yang begitu menyentuh dirinya.
"―Kau tidak sendirian,"
"Hiks ... Huwaaaa!"
Aichi membalas memeluknya penuh kasih sayang, layaknya Lee adalah saudaranya sendiri. Berbagi kehangatan padanya yang selama ini kehilangan kasih sayang sebuah keluarga.
Sementara Kai yang sudah menyelesaikan tugasnya menyaksikan adegan itu. Ia terdiam, tanpa berniat untuk bergabung bersama mereka. Walau hatinya bisa merasakan sebuah esensi dari mereka. Tanpa sadar, dirinya memejamkan mata dan mengulas sebuah senyum.
Kasus ini ... selesai dengan damai.
Ṧᵢᵍᶮᶖᶠᵢᵓᵃᶮᵉ Ḛᶳᶳᶒᶮᵓᵋ
"Selamat datang, kalian berdua!" Miwa langsung menyapa ramah ke arah dua insan―ah, atau lebih tepatnya tiga insan yang berjalan menuju organisasinya. Tidak terasa kasus yang cukup berat langsung selesai di hari itu juga. Sekarang sudah menginjak sore menjelang malam.
"Kami pulang, Miwa-san!" Aichi―yang notabene salah satu dari tiga insan itu tersenyum dan melambai ke arah si rambut pirang. Di gandengannya, seorang bocah bernama Lee Shenlon hanya menatap diam ke arah Miwa. Sementara satunya lagi membuang muka.
"Kalian pasti lelah. Aku sangat kagum dengan hasil kerja kalian tadi, hehehe. Ayo masuk, ajak anak itu―" Miwa menghentikan ucapannya saat telunjuknya menunjuk ke arah sosok asing di samping Aichi. Ia sudah dikabari terlebih dahulu melalui e-mail dari Kota Ghina sebelumnya, "―kalau tidak salah, namanya Lee Shenlon, 'kan?"
Aichi mengangguk, lalu kedua matanya beralih menatap Lee yang sekarang mulai berada pada tanggung jawabnya. Saat ia berhasil membujuk Lee, Aichi pun mengajak Kai untuk kembali keluar hutan dan berbicara baik-baik pada pihak yang berwajib mengenai kasus ini. Karena pelakunya anak kecil, jadi hukuman untuknya tak lebih dari teguran dan nasehat. Dan karena korban dan kerugian tidak banyak, wali kota mengijinkan Aichi―salah satu penyelamat di kasus―untuk mengambil ahli anak ini.
Ia mengulas sebuah senyum kecil, "Lee, ayo perkenalkan dirimu," ajaknya dengan nada lembut. Bocah berusia sepuluh tahun itu menurut padanya.
"Lee Shenlon, senang bertemu dengan Kakak," dan Miwa serasa tertampar tatkala anak itu membungkukan badan dengan hormat ke arahnya. Benarkah anak ini pelaku dari masalah ruwet tadi? Kenapa sopan dan ayu sekali? Atau mungkin ini pengaruh dari Aichi? Begitu pikir Miwa.
.
.
.
HAP.
HAP.
HAP.
"Astaga, demi putri duyung mengesot, anggaran kita akan berkurang lagi, Jun!"
"Sudahlah, Miwa, kau tidak perlu panik begitu. Mungkin makanan di organisasi kita memang nikmat ..."
"Ta―Tapi, hah ... Sudahlah!"
Aichi memiringkan kepalanya tidak mengerti, sementara Kai hanya duduk di samping Aichi dengan posisi santainya. Pemuda bermarga Sendou itu tidak tanggap kenapa Miwa tampak stress seperti dikejar orang gila. Padahal yang lainnya tenang-tenang saja.
Posisi mereka kini dengan Jun dan Miwa yang duduk berhadapan dengan Aichi dan Kai―oh, atau jangan lupakan satu orang terakhir yang menyempil di samping kiri Aichi―Kai ada di samping kanan. Ternyata makan anak berkacamata minus itu hebat luar biasa. Begitu selesai berkenalan dengan Jun dan disuguhkan hidangan cemilan, tangannya tak henti mengambil ini-itu, mulutnya mengunyah bagaikan mesin dengan baterai unlimited.
De Javu.
Mungkin benar apa sang ketua divisi katakan, hidangan di organisasi mereka sebegini lezatnya. Sampai semua tamu yang datang langsung berubah menjadi piranha setiap disuguhkan makanan. Kemarin Aichi, sekarang Lee.
HAP.
HAP.
Jun, sih, tidak mempermasalahkan itu. Dia tipe pria pecinta damai dan fine-fine saja. Tapi bertolak belakang dengan Miwa, wakil divisinya. Raut wajahnya sudah seperti orang kesembelit yang tujuh hari keputar-putar urat nadinya. Jun memandang ke arah langit ruangan yang sama dengan kemarin digunakan untuk berbicara dengan Jewelic dan Xaiphos-nya.
"Ne, Aichi. Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan kasus tadi. Memang kami sudah dikirimi bagaimana kejadian berlangsung dari e-mail, tapi aku lebih suka mendengarnya langsung darimu," pemilik obsidian itu melipat kedua kakinya dan tersenyum formal ke arah Jewelic di hadapannya, merasa terhormat dengan keberadaannya. Aichi yang semula memperhatikan Miwa kesembelit pun memandang ke arah Jun.
"Eh? Maksud Jun-san seperti apa?" Aichi bertanya dengan tampang bodoh, sepertinya otaknya konslet setelah menghadapi masalah Lee tadi.
"Misalkan saja, darimana Lee mendapat bola misterius itu," tutur sang ketua divisi to the point. Miwa langsung berhenti menghitung uang anggaran tersisa, sementara Kai yang tadi cuek-cuek saja pun memasang tampang serius.
"Oh ..." Aichi tersenyum sedikit. Benar juga, ia belum menanyakan hal itu pada Lee. Tadi ia hanya sempat melihat wali kota dan ketua tentara membiarkan Lee membawa bola itu, agar bisa diberikan kepada Togami untuk dianalisa. Tapi tentu saja, ia akan bertanggung jawab sepenuhnya kalau bocah ini berbuat macam-macam dengan benda itu.
"Lee, dimana bola tadi?" Aichi memiringkan kepalanya di samping Lee, membuat anak itu menghentikan kegiatan makannya. Seperti anak bebek yang patuh pada induknya, ia pun merogoh saku celananya, memberikan bola hitam tadi pada Aichi. Tapi, begitu bola itu jatuh pada tangan Aichi, menyentuh kulit tangannya, Aichi langsung―
Bzit.
―merasakan aliran listrik tajam, ia refleks menarik tangannya lagi, "Uwa!"
Kai langsung menatap Aichi dengan tatapan kaget, "Ada apa?" tanyanya, akhirnya mengeluarkan suaranya di perbincangan mereka berlima. Aichi menggeleng dan menatap nanar ke arah bola hitam yang menggelinding di dekat kakinya.
'Apa tadi? Rasanya sakit, seperti ditusuk ribuan jarum ...'
"Lee ... kau tahu siapa yang memberikan benda ini padamu?" kemudian ia bertanya terlebih dahulu pada bocah di sampingnya. Bocah bermata amber itu pun berbalik menatapnya.
"Aku tidak tahu namanya, aku juga lupa dengan sosoknya," Lee berusaha berpikir, ini demi orang yang sudah menolongnya juga, bukan? Tapi bayangan di otaknya terasa samar-samar, "... seingatku, ia menggunakan seragam, dan aku bisa melihat lambang di seragam yang dikenakannya."
Jun mendengar dengan teliti, ia tidak menyangka kalau Lee benar-benar mendapatkan benda laknat itu dari seseorang. Figur yang seharusnya menjadi dalang sesungguhnya, "Seragam apa? Kau masih mengingatnya?"
"Ya, kalau tidak salah, ada tulisan St. Poline disana."
Dan saatnya untuk melakukan penyelidikan serius atas kasus ini.
.
.
.
Significance Essense
"If you touch the second world, don't try to escape from them..."
To Be Continued...
.
.
Information Fiction:
-NONE FOR THIS CHAPTER-
A/N: Haloo, Gane di sini. Ini namanya update nekad(?) karena berani meng-update fic di tengah-tengah ujian praktek. Seharusnya nggak update sampai bulan depan, tapi Saya kasihan sama pembaca-pembaca Saya yang ngaret nunggu *diventungpanci* *peace* Gane sedang belajar memperbaiki diksinya yang terkesan ringan, jadi bagaimana dengan chapter ini? Terima kasih sudah membaca, ya.
Reply Review:
Cece Lagi Galau: Maklumin kelamaan update-nya, ya. Bagaimana pun kami anak dewasa yang punya kesibukan di dunia nyata, orz. Anggota SIT yang baru muncul Lee. SIT memang unyu, bikin jiwa shotacon kumat /heh. Semoga nggak galau terus-terusan, ya.
Izumo Mikoto: Bacanya santai saja, jangan deg-degan, nanti jantungan lagi. Idenya sudah dikasih tahu di chapter ini. Semoga kamu juga menikmati chapter ini. Update terus, dong.
Snowy Coyote: JunMiwa-nya gregetan? Haha, itu belum seberapa, kok /plak. Iya, maafkan kesalahan typo di chapter kemarin, ya. Saki tuh males mengedit /woijangansalahinorang. Makasih sudah bersabar menunggu dengan update kami yang lama.
Yuiichiiiiii: Lee-nya jahat nggak, yaaa? Jawabannya ada di chapter ini dan seterusnya, hahaha. Iya, pasti keep update terus, dong.
URuRuBaek: Soal lama update karena ada ujian praktek, bukan kemauan kami, hehehe. Semoga chapter ini bisa mengobati rasa bosanmu karena keleletan kami, hehehe.
Red Dracokid: Penname kami 'Kuroko', bukan 'Kuroro' atau 'Keroro'. Dan 'Milkyland' sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'Milkyway'.
Kujo Kasuza: Wah, bahasanya santai, ya? Kami akan berlatih lagi kalau begitu, kami sangat senang Kujo berkomentar demikian. Lee anak baik atau jahat, jawabannya ada di chapter ini, kok. Walah, dia nggak nakal-nakal amat, tolong jangan culiik /plak.
Yuu The Layangan: Iya, maaf atau kengaretan update kami, hehehe. JunMiwa-nya belum seberapa, kok. Hahaha, padahal mereka terbang supaya bisa sampai dengan cepat, tapi jadi kelihatan romantis /aduh. Bos-nya lagi sensitif, makanya kejam, hahaha. Pasti update terus, dong.
Yumekawa: Cover-nya keren? Terima kasih banyak, kami juga suka yang nge-bling-bling /entarjadipenyanyidangdutlo. Yup, pasti lanjut terus, kok. :)
Thanks for reading!
Review, onegai?
Sorry for misstypo(s)
Sincerely,
27 Februari 2014
Hyucchi a.k.a Milkshake Kuroko Milkyland
